by admin | Apr 23, 2010 | Agenda, Berita
Pembukaan
Pameran Fotografi & Penayangan Karya Video
FSMR ISI Yogyakarta Bekerjasama Dengan ISI Denpasar
Tanggal 27 April 2010 Jam: 17.00 Wita.
Di Ruang Pameran Fsrd Isi Denpasar
Pembukaan (Pengantar MC)
Sambutan Dekan FSRD ISI Denpasar (Dra. Ni Made Rinu, M.Si.)
Sambutan Dekan FSMR ISI Yogyakarta (Drs. Alexandri Luthfi R., MS.)
Sambutan Rektor ISI Denpasar (Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA.)
Sambutan Rektor ISI Yogyakarta (Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., P.hD.)
Penandatanganan MoU dan Penandatangan Prasasti oleh Rektor ISI Denpasar dan Rektor ISI Yogyakarta
Pertunjukan Tari Kontemporer (Jurusan Tari FSP ISI Denpasar)
Pembukaan pameran dengan tema Jalan Menuju Kreatif 2 oleh Rektor ISI Denpasar dan Rektor ISI Yogyakarta
Peninjauan Karya ke Ruang pameran dipandu oleh ketua panitia
Welcome Party
Penutup
Pembukaan Seminar Akademik
Pendidikan Multimedia Menuju Industri Kreatif
FSMR ISI Yogyakarta Bekerjasama Dengan ISI Denpasar
Tanggal 28 April 2010 Jam: 09.00 Wita.
Di Ruang Pusdok Isi Denpasar
Pembukaan (MC)
Laporan Ketua Panitia (Drs. Anusapati, MFA.)
Sambutan Dekan FSRD ISI Denpasar (Dra. Ni Made Rinu, M.Si.)
Sambutan Pembantu Rektor I sekaligus membuka kegiatan Seminar Akademik dengan tema Pendidikan Multimedia Menuju Industri Kreatif
Pelaksanaan seminar dipandu moderator (Endang Mulyaningsih, SIP., M.Hum)
Key Note Speaker oleh Dekan FSMR ISI Yk. (Drs. Alexandri Luthfi R., MS.)
Presentasi Makalah Televisi (Deddy Setyawan, S.Sn., M.Sn./Ketua jurusan televisi FSMR ISI Yogyakarta)
Istirahat (Makan siang)
Presentasi Makalah Fotografi (I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si./Ketua program studi Fotografi FSRD ISI Denpasar)
Penutup
Pemotretan Model
Pembukaan Workshop Old Print Photograpic Process
FSMR ISI Yogyakarta Bekerjasama Dengan Isi Denpasar
Tanggal 29 April 2010 Jam: 09.00 Wita.
Di Ruang Pameran FSRD ISI Denpasar
Pembukaan (MC)
Sambutan Ketua Prodi Fotografi FSRD ISI Denpasar (I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si.)
Sambutan Dekan FSMR ISI Yogyakarta (Drs. Alexandri Luthfi R., MS.), dilanjutkan membuka pelaksanaan workshop Old Print Photograpic Process
Pelaksanaan Workshop oleh narasumber Irwandi, M.Sn. (Staf pengajar program studi Fotografi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta)
Penutup
by admin | Apr 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Bendi Yudha
Pengantar Karya seni Lukis
Akrilik pada kanvas, 120 cm x 120 cm
Ketika jabang bayi masih ada dalam kandungan telah terjadi adanya dua kekuatan yang saling tarik-menarik berupa kekuatan materi dengan roh. Dua kekuatan ini selalu bergerak sehingga pada saat kelahirannya ia telah memasuki alam kegelapan (awidya) yang dalam proses perjalanan akan berpengaruh terhadap tingkat kesadarannya dalam menentukan sifat baik atau buruk untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan kenyataan ini manusia seyogyanya menghayati kembali nilai-nilai moral dan spiritual sebagai tuntunan hidup sehingga dalam kehidupan ini tetap terjaga keseimbangan hidup jasmani dan rohani dalam upaya menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, antara manusia dengan Tuhan.
Gagasan ini diwujudkan melalui figur bayi berwarna kuning sebagai simbol benih kehidupan dan sosok bayi berwarna putih dengan latar belakang warna merah sebagai simbol kehidupan yang telah dipengaruhi oleh unsur-unsur keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan materi atau kebendaan. Bentuk-bentuk yang menyerupai batu disimbulkan sebagai lima unsur alam yang memberikan energi terhadap kehidupan ini, sedangkan latar belakang yang berwarna kuning menggambarkan arah terbitnya matahari sebagai simbul dari alam spiritual yang penuh keheningan. Di balik latar yang berwarna kuning muncul bentuk abstraktif yang berwarna-warni disimbulkan sebagai suatu kekuatan-kekuatan yang selalu datang menggoda dan menyelimuti jiwa manusia.
by admin | Apr 22, 2010 | Artikel, Berita
Peranan Bakat Kinestetik dalam meningkatkan Prestasi Belajar Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar
Oleh: Drs. I Nengah Sarwa
Abstrak Penelitian Dosen Muda/Kajian Wanita
Pada era globalisasi dewasa ini, intelegensi (IQ) bukanlah segala-galanya. Gardner menyatakan manusia memiliki Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences) yaitu Kecerdasan Matematis-Logis (Logical Mathematical Intelligence), Kecerdasan Linguistik/verbal (Linguistic/verbal = Word Smart), Kecerdasan Ruang Visual (Visual Spatial Intelligence), Kecerdasan Gerakan Fisik (Bodily-kinesthetic Intelligence), Kecerdasan Musik (Musical Intelligence), Kecerdasan Hubungan Sosial (Interpesonal Intelligence), Kecerdasan Diri (Intrapersonal Intelligence), Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence), dan Kecerdasan Natural (Existence Intellegence). Goleman menambahkan satu lagi yaitu Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence). Dalam hal inilah dunia pendidikan ditantang untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki anak didik, agar dapat menghasilkan manusia-manusia yang memiliki keterampilan hidup (life skill), mempunyai kompetensi pada bidangnya, sehingga dapat sukses menjalani kehidupan di masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi korelasi dan besarnya kontribusi: antara Bakat Kinestetik terhadap Prestasi Belajar, sehingga dapat diketahui seberapa jauh peranan Bakat Kinestetik di dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian Deskriptif Expost Fakto. Sebagai populasi adalah semua mahasiswa yang mengikuti perkuliahan baik teori maupun praktek program S1 Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar pada semester genap tahun 2008/2009. Sampel diambil secara purposive sampling, sebanyak 35 mahasiswa yang berada pada jurusan/program studi Karawitan Semester 4. Kegiatan penelitian dilakukan dengan langkah-langkah (1) penyusunan instrumen penelitian yang divalidasi, sesuai dengan jenis data yang digali, (2) menggali data dari sumber data yang terdiri dari mahasiswa dengan menggunakan instrumen yang telah disusun, dan (3) melakukan tabulasi, deskripsi, analisis data, dan pemaknaan hasil analisis data, dengan menggunakan Metode Statistik “Uji Korelasi Product Moment Pearson”.
Adapun data yang dikorelasikan adalah skor Bakat Kinestetik dengan skor Prestasi Belajar mahasiswa pada mata kuliah Karawitan, dan hasil analisis data membuktikan bahwa:
(1) Terdapat hubungan yang linear positif dan signifikan antara Bakat Kinestetik dengan Prestasi Belajar mahasiswa, dengan kontribusi 44 %,
(2) Dalam upaya meningkatkan Prestasi Belajar mahasiswa, bakat kinestetik ternyata mempunyai peranan sebesar 44 % dan sisanya 56 % disebabkan oleh faktor yang lain.
Dengan hasil yang diperoleh tentang peranan Bakat Kinestetik dalam pembelajaran, maka diharapkan dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat dijadikan pertimbangan dalam; tes penerimaan mahasiswa baru, maupun dalam pembinaan mahasiswa untuk memilih minat kajian atau minat penciptaan, sehingga pencapaian prestasi belajar mahasiswa dapat diupayakan secara maksimal.
Kata kunci: Pembelajaran, Bakat Kinestetik, Gerak dan Prestasi Belajar
by admin | Apr 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Ketut Kodi, SSP. M.Si
Ringkasan Hasil Penciptaan Dana DIPA 2009
Wayang Betel adalah sebuah garapan pewayangan yang ter inspirasi dari Wayang Lemah/Wayang Gedog, garapan ini tecipta karena penggarap melihat kehidupan wayang lemah pada masyarakat Bali hanya dikaitkan dengan upacara keagamaan. Penanggap pertunjukkan ini kurang memperhatikan baik tempat pentas maupun sarana-sarana pendukung lainnya. Hal ini membuat para dalang malas untuk menggarap bagian artistiknya, hiburan dan konteksnya. Wayang Lemah yang berfungsi ritual menjadi kemasan baru berbentuk hiburan seni yang segar, sehat dan bermutu.
Dalam masalah ini akan dicoba menyiasati agar seniman Dalang dan musisinya tidak hanya duduk sebagaimana pagelaran wayang lemah biasa, melainkan juga berinteraksi aktif membangun suasana dramatik. Jelasnya, dalang yang biasanya hanya duduk memainkan wayang kini ditampilkan dengan berakting di atas panggung didukung oleh penataan lampu dan musik pengiring inovatif berintikan Gender Rambat.
Beberapa wayang kiranya perlu dibuat dengan ukuran yang lebih besar sehingga suasana wayang lemah yang semula hanya ritus akan dikembangkan menjadi suatu bentuk hiburan/entertainmen yang mengintegrasikan kritik dan komentar sosial sesuai dengan perkebangan Zaman Kaliyuga dewasa ini. Sesuai dengan namanya, Betel berarti tembus pandang. Garapan wayang Betel ini berbentuk Wayang Lemah sehingga dapat dilihat tembus betel oleh penonton tanpa terhalang kelir/screen putih. Musik iringan yang berintikan instrumen Gender Rambat juga akan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga garapan wayang ini juga menyajikan komponen musikal teater atau teater musik. Dalam garapan “Wayang Betel” ini penggarap akan menggunakan konsep menimalis dengan tidak mengerungangi keunggulan – keunggulan yang telah ada. Karena berkesenian itu tidak harus selalu mewah, seni pun bisa muncul dari sesuatu yang sederhana.Garapan ini merupakan bagian dari epos Mahabharata yakni kehidupan Pandawa di hutan setelah lepas dari bencana kebakaran Gua gala-gala sampai gugurnya Detya Adimba.
Kata Kunci : Wayang Betel, Gender Rambat, Mahabharata
by admin | Apr 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh I Wayan Suharta Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Palegongan merupakan salah satu barungan klasik yang mampu bertahan dan masih terpelihara sampai sekarang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah “klasik” diartikan mempunyai nilai atau posisi yang diakui dan tidak diragukan, yang bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolak ukur, bersifat sederhana, serasi dan tidak berlebihan (Tim Penyusun Kamus, 1988 : 445).
Istilah klasik tidak sekedar menggolongkan sekelompok bentuk seni menurut tempat atau kelompok orang, akan tetapi sebagai sebutan bentuk kesenian yang mengandung konotasi penting tentang sifat bentuk-bentuk kesenian karena keindahan dan standarnya yang tinggi, dipeliharan sampai ke anak cucu, mengacu kepada suatu gaya dari suatu masa khusus, suatu gaya karena ciri-ciri bentuk yang dapat digambarkan secara jelas. Lebih lanjut istilah klasik menunjukan sifat antik atau tua, sifat mapan dari bentuk-bentuk kesenian yang sudah mencapai suatu keadaan ideal (Jennifer Lindsay, 1989 : 50).
Berbicara tentang Palegongan sebagai bentuk kesenian yang tergolong klasik punya konotasi yang sama dengan kerumitan, bentuk dan standar yang tinggi. Bagaimanapun juga, istilah klasik masih mempunyai hubungan etimologis khusus, jika digunakan utnuk menggambarkan kesenian tradisional. istilah klasik tidak mempunyai petunjuk acuan yang dapat dibandingkan dengan perkembangan selanjutnya. Jika istilah tersebut dipakai untuk mengacu kepada salah satu kesenian yang mencapai puncaknya, sehingga berkaitan dengan gagasan tentang identitas, masa lalu, dan suatu pandangan tentang bentuk yang ideal atau yang optimal, maka istilah klasik selalu menunjuk kepada bentuk terbaru yang dicapai pada masa sebelumnya.
Suatu gagasan bahwa tahap perkembangan yang dicapai oleh Palegongan sebagai kesenian klasik, merupakan tahap yang ideal atau “puncak” dan bukan tahap menengah atau paling rendah, menunjukkan bahwa artistik masa lalu itu sendiri sekarang lebih dihargai. Tetapi implikasi pandangan semacam itu adalah bahwa bentuk kesenian klasik yang telah mencapai puncaknya tidak dapat dikembangkan lebih lanjut, kecuali dilepaskan dari keadaan optimum tersebut, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa setiap perubahan dan bentuk yang ideal dapat berarti kemunduran atau penurunan.
Dalam pendekatan klasik kesenian merupakan pernyataan dari pada idealisme intelektual, didasari oleh seperangkat sistem perlambangan yang menetap, yang dapat berbeda-beda menurut kemampuan setiap seniman dalam cara menyatakan dan cara menyajikannya, serta identitas penghayatannya (Jennifer Lindsay, 1989: 52).
Melalui acuannya kepada sifat mapan dari kesenian klasik, dan gagasan tentang suatu puncak yang telah dicapai, berarti bahwa bentuk-bentuk kesenian yang telah mencapai puncaknya harus dapat dikenali, dan bahwa bentuk puncak juga harus tidak hanya dapat dikenali, tetapi paling tidak dalam teori harus dapat direproduksi. Menekankan identifikasi batasan-batasan formal sebagai ciri pokok kesenian klasik punya implikasi penting bagi cara bagaimana bentuk-bentuk kesenian semacam itu dihargai, dan bagi keputusan-keputusan yang dibuat sebagai usaha mempertahankan bahkan menyelamatkan bentuk-bentuk kesenian tersebut.
by admin | Apr 21, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Bendi Yudha
Pengantar Karya seni Lukis
Bahan Akrilik pada Kanvas
Ukuran: 100 X 100 Cm
Fenomena yang terjadi sekarang ini bahwa dunia materi mengungguli dan bahkan menguasai dunia spiritual, sehingga carut marutnya tatanan kehidupan ini muncul di mana-mana. Nampaknya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan ini sudah mulai luntur yang mendasari pikiran dan prilaku manusia, sehingga segala sesuatunya selalu diukur berdasar atas materi, membuat manusia terninabobokan olehnya bahkan ia menjadi bingung serta lupa akan jati dirinya sebagai manusia. Di sinilah manusia harus menyadari bahwa kunci dari kebingungan tersebut adalah; ia hendaknya insaf serta kembali ke jalan yang benar yaitu menghayati nilai-nilai sastra yang mengajarkan kebenaran untuk menuju jalan keabadian.
Hal tersebut di atas divisualisasikan lewat bentuk uang kepeng dengan ukuran besar sebagai simbol akan besarnya pengaruh kekuatan duniawi terhadap kehidupan manusia, yang seyogyanya harus diimbangi dengan ajaran ajaran spiritual sebagai penyucian diri yang bersumber dari sastra aji merupakan kunci agar tidak terjerumus ke lembah nista. Dalam konteks ini hal tersebut disimbolkan dengan berbagai bentuk dan jenis lontar serta bentuk kunci beralaskan kain putih pada sudut kanan yang mengandung arti bahwa hanya nilai-nilai kesucianlah yang mampu mengantarkan manusia ke alam keabadian.