M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar

Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar

Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si. (Ketua) I Nyoman Pasek, SSKar ., M.Si (Anggota)

Makalah Seminar Imhere 2009

Derasnya pengaruh modernisasi dan globalisasi dewasa ini mengancam keberadaan dan sendi-sendi kearifan lokal yang telah mengakar dalam tradisi dan budaya masyarakat Bali. Selama ini kearifan lokal masyarakat Bali diyakini memiliki nilai-nilai yang penting dalam menjaga kelangsungan tradisi dan budaya masyarakat Bali. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat di era modern, terjadi transformasi kehidupan masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang mana hal ini menyebabkan terjadinya penyusutan dalam memahami serta penerapan nilai-nilai kearifan tersebut dalam kehidupan masyarakat. Orientasi menuju kehidupan masyarakat modern mendominasi prilaku setiap individu sehingga nilai-nilai kearifan yang sebelumnya kental dalam sikap dan prilakunya mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup modern.

Perubahan masyarakat seperti ini sangat sulit untuk dihindari karena sebagaimana dikatakan Huntington, dalam tahapan menuju masyarakat modern, modernisasi sebagai sebuah proses transformasi, dalam mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai modern. Apa yang dikatakan sebagai tradisional tidak memiliki peran yang berarti dan bahkan dalam banyak hal tidak berguna sama sekali dan karena itu harus diganti (dalam Suwarsono, 1994:23).

Demikian pula halnya dengan arus globalisasi yang semakin mendesak merambah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dampak negatif dari adanya perubahan ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap nilai-nilai kearifan yang sebelumnya sangat mengakar di masyarakat. Proses modernisasi di era global, dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini upaya mempertahankan nilai-nilai kearifan tradisional menjadi sebuah tantangan bagi kelestarian kebudayaan Bali karena dampak era globalisasi tidak akan dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikatakan Titib (dalam Triguna, 2007:171), globalisasi ditandai dengan hilangnya batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Dalam situasi seperti ini budaya barat yang sekuler dan modern akan mudah diserap oleh bangsa-bangsa di Timur yang sedang berkembang menuju tahapan modernisasi. Bila tidak memiliki sistem proteksi dan kendali budaya yang baik, ditenggarai akan menghancurkan budaya dan peradaban bangsa-bangsa di Timur dimana sentuhan budaya global menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan atau kehilangan orientasi (disorientasi) dan dislokasi hampir di setiap aspek kehidupan. Masyarakat cenderung bersifat sekuler dan komersil karena uang dijadikan sebagai tolok ukur kehidupan.

Makalah Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar selengkapnya

80% Masyarakat Buta IT

80% Masyarakat Buta IT

GANESHA,(GM)- Masyarakat Indonesia yang melek teknologi informasi (TI) saat ini masih rendah. Hingga April 2010, masyarakat yang melek TI hanya berkisar 20% atau sisanya 80% masih buta TI. Karena itu, pemerintah akan terus membangun infrastruktur IT di sejumlah daerah, termasuk daerah terpencil.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, pada Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indonesia di Aula Barat ITB, Jln. Ganesha, Kamis (6/5). Menurutnya, kesenjangan TI antara masyarakat yang satu dan yang lainnya masih banyak.
“Mereka yang memiliki kemampuan untuk memiliki sarana dan mengakses infrastruktur dan konten TI yang bisa kita sebut melek TI, hingga April 2010 jumlahnya 20% warga negara Indonesia,” ujar Tifatul kemarin.
Diakuinya, kesenjangan masyarakat yang melek TI di Indonesia sangat mencolok. Karena itulah, pemerintah terus mengembangkan inftrastruktur TI, termasuk optik fiber dan cyber city. “Perbedaan sangat mencolok antara daerah pusat dan terpencil, kita akan terus membangun infrastruktur TI,” tandas Tifatul sambil menambahkan, selain sektor infrastruktur dan kontennya, pemerintah juga berupaya mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat melalui TI.
Meski orang yang melek TI minin, namun di sisi lain perkembangan TI di Indonesia sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan telepon seluler yang berdasarkan Wireless Intelligent Indonesia (WII), Indonesia berada di peringkat 6 pengguna telepon dengan jumlah pengguna telepon seluler hingga akhir 2009 mencapai lebih dari 135 juta.
“Meskipun diyakini penyebarannya tidak merata, namun jumlah ini cukup revolusioner dibandingkan dengan data tahun 2006 yang baru berkisar 63 juta jiwa,” ujar Tifatul.
Rektor ITB, Akhmaloka mengatakan, dalam perkembangan Information and Communication Technology (ICT), ITB diminta melakukan dua hal, menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan memproduksi sesuatu yang baru. Produk baru ini tidak hanya untuk dipasarkan di negara lain, tapi juga di negeri sendiri agar menjadi tuan rumah di negara sendiri. “ITB siap menyongsong ICT dengan menghasilkan sumber daya manusia yang baik. Saat ini diperlukan banyak. Kita punya pusat penelitian bidang ICT dan juga terus menggalakkan konferensi atau seminar untuk melihat kemajuan ICT,” ujar Akhmaloka.
UU KIP
Terkait UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Memkominfo mengatakan, pada tahun pertama diberlakukannya UU KIP ini lebih ke sosialisasi dan edukasi, jangan dulu menerapkan sanksi. Karena KIP ini merupakan barang baru, sehingga orang pun masih rancu antara Komisi Informasi Publik (KIP), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau istilah IPK. Dengan diberlakukannya KIP, tidak hanya pemerintah tapi lembaga legislatif dan yudikatif pun harus terbuka pada publik. “Semua terkena Undang-undang KIP, lembaga swasta ataupun lembaga swasdaya masyarakat. Tapi untuk tahun pertama, sosialisasi dan edukasi dulu,’ tandasnya. (B.95)**

Sumber: http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?idkolom=opinipendidikan

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II

Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan

Totalitas Gusmiati Suid dalam berolah kreativitas seni, mendapat apresiasi dan pujian dari berbagai kalangan. Ratna Sarumpaet, dalam acara Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 mengemukakan,  bahawa Gusmiati Suid adalah seorang seniman Indonesia yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar tradisi budaya Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, Gusmiti Suid telah mengukirkan kreativitasnya melalui karya-karya pertunjukan tari dan musik, yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang Maestro Tari Indonesia yang mendapat penghargaan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Gusmiati tidak banyak bicara apalagi berwacana. Wacana Gusmiati adalah gerak dan perjalanannya. Seorang perempuan Minang yang berani melangkah untuk mewujudkan kemauannya, meski di era itu adat dan tradisi yang berlaku dapat mengecam dan menjadikan sika dan pendiriannya sebagai pergunjingan kurang menyenangkan. Misteri Gusmiati tersimpan dalam suaranya yang tidak terlalu diperdengarkan. Karena dian itulah yang membuat orang tersentak begitu melihat panggung pergelarannnya. Pergelaran yang mengucapkan banyak hal, yang berbicara tentang banyak hal, yang memperdulikan dan prihatin pada banyak hal (Sarumpaet, 2004:2-3).

Pujian serupa juga dikemukan Edi Sedyawati kepada Gusmiati Suid, “sebuah hidup penuh karya; sebuah teladan mengenai keberanian hidup”. Sebagai wanita yang berperasaan halus ia adalah siganjua lalai, samuik tapijak indak mati (si cantik gemulai, semut terinjak tidak mati). Namun dalam berkarya tari dan dalam menghadapi permasalahan hidup, ia adalah representasi sisi lain dari gambaran perempuan Minang, yaitu alu tataruang patah tigo (alu tertabrak patah jadi tiga). Karya-karya Gusmiati Suid bahkan lebih ‘gegap gempita’, baik dalam penggarapan susunan gerak yang memerlukan banyak energi, maupun dalam tata rupa pentas yang ‘bergerak’ dan difungsikan sebagai penunjang perlambangan, dan bukan semata-mata dekoratif (Sedyawati, 2004:2).

Terhadap karya-karya tari yang telah dihasilkan oleh Gusmiati Suid, Sal Murgiyanto (kritikus tari) dalam pidato sambutanya pada Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 memberikan ulasan dan penilaian sebagai berikut:

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II Selengkapnya

Degradasi moral, 2005

Degradasi moral, 2005

Oleh: Bendi Yudha

Pengantar Seni Lukis

Akrilik pada kanvas

130 cm x 130 cm

Manusia dalam kehidupannya di dunia memiliki dua sifat yaitu sifat materiel dan spiritual. Keinginan manusia yang berlebihan dalam memenuhi dan mengumbar hawa nafsunya dengan mengabaikan nilai-nilai moral, akhirnya menyebabkan dirinya terjerumus ke lembah kehidupan yang gelap. Karena ingin menuruti segala keinginannya ia  mengorbankan seluruh kehidupan bahkan sampai harga dirinya. Kenyataan tersebut sebagai cerminan bahwa jiwa manusia kini sudah semakin diperbudak oleh keinginan duniawi berupa materi, yang tanpa disadari hal itu akan menghancurkan serta menyengsarakan dirinya pada kehidupan di dunia maupun akherat.

Dalam karya ini figur yang ditonjolkan adalah sosok wanita yang sedang mengalami siksaan di atas tebing bebatuan  serta dilatari oleh warna merah sebagai simbol kehidupan manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu. Pada bagian bawah figur wanita tersebut nampak seperti bongkahan-bongkahan tebing bebatuan sebagai simbol runtuhnya moralitas manusia akibat dorongan hawa nafsu. Sedangkan visualisasi langit berawan  yang  tekesan bergerak, diharapkan dapat mewakili simbol dunia atas yang selalu memberikan energi  kehidupan yang dinamis bagi semesta alam.

Pencemaran lingkungan, 2005 Karya Bendi Yudha

Akrilik pada kanvas

120 cm x 120 cm

Kemajuan  peradaban manusia yang disertai dengan  penguasaan  ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan manusia menjadi lebih optimis akan kemampuannya untuk dapat menundukkan alam, beserta sumber daya yang dimilikinya. Melalui  penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya, segala sumber kekayaan alam dapat diekplorasi dan bahkan diekploitasi untuk memenuhi segala kepentingannya. Akibat dari sifat rakusnya itu, manusia sering menjadi kehilangan kontrol, sehingga segala sumber daya alam dieksplorasi dan dieksploitasi secara  besar-besaran tanpa mengenal batas-batas kemanusiaan serta berakibat terjadinya banjir, tanah longsor pencemaran lingkungan dan sebagainya, akhirnya merusak tatanan kehidupan sehingga menyebabkan putusnya jaringan ekosistem yang telah ada. Oleh karena itu manusia hendaknya jangan bertindak sewenang-wenang terhadap alam, karena antara manusia alam dan lingkungan  memiliki hak hidup yang sama di mata Tuhan, yaitu berada dalam satu lingkaran kehidupan yang saling ketergantungan antara yang satu dengan lainnya.

Visualisasi karya diwujudkan dengan dua figur perempuan dalam kondisi tubuhnya yang hancur dan meleleh serta ditusuk-tusuk oleh senjata tombak. Sosok perempuan dengan kondisi tubuh yang rapuh dan meleleh sebagai simbol, bahwa alam sebagai ibu pertiwi yang merupakan sumber kehidupan dunia materi sampai saat selalu diburu, disakiti dan dikuliti sumber daya alamnya oleh manusia, padahal dunia materi adalah dunia yang maya, dunia yang penuh kepalsuan dan tidak abadi, digambarkan dengan motif-motif lelehan pada sosok perempuan tersebut.

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Karangasem

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Karangasem

Oleh: I Made Suparta

Makalah Seminar IMHERE 2009

Secara geografis Kabupaten Karangasem berada pada posisi 80, 00, 00 – 80, 41,37,8 Lintang Selatan dan 1150, 35.9,8- 1150, 54, 9,8 Bujur Timur, memiliki daerah pantai dan pegunungan dengan batas wilayah bagian utara berbatasan dengan laut Bali, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Klungkung, bagian timur dibatasi oleh selat Lombok. Kabupaten dengan  luas wilayah 839,54 Km2., dimana 76,070 Km 2 (91,63%) merupakan tanah kering (pegunungan), sekaligus tantangan tersendiri untuk mengembangkan sumber daya masyarakatnya. Selain seni tradisi dan adat yang  unik, Kabupaten Karangasem juga mempunyai  potensi yang cukup  dibidang seni kerajinan. Karakterisasi masyarakat Karangasem dapat dikatakan dua sisi yang sangat ”kontradiksi” dimana satu sisi mempunyai bahasa ujar yang amat halus,  sopan, dan santun, disisi lainnya mempunyai temperamen yang keras. Keunggulan maupun keunikan-keunikan lain yang dimiliki Kabupaten Karangasem seperti megeret pandan, megibung, megebug ende, dan tradisi seni sastra (nyastra). Yang lebih membanggakan, semua seni dan tradisi tersebut terpelihara dengan baik sampai saat ini.

Masyarakat Karangasem selain mempunyai potensi sebagai petani, nelayan, seniman, pedagang, pegawai negeri sipil, juga aktif menekuni profesinya sebagai perajin. Kabupaten Karangasem yang identik dengan gudangnya para seniman sastra, desa-desa tua, dan ”gudangnya”  para Sulinggih/Pedanda. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, secara umum jenis kerajinan yang ada Kabupaten Karangasem seperti anyaman ate, bambu, pandan,  kain tenun, prasi, gerabah dan cetak beton.  Keberadaan seni kerajinan tersebut secara kuantitas mengalami pasang surut seiring perkembangan pasar. Tidak dipungkiri pula, ledakan bom Bali I maupun II membuat para perajin Kelimpungan. Kiat-kiat  untuk  menstabilkan keaadan  pasar dari pihak terkait belum dapat mengatasi kendala secara baik dan maksimal. Kegiatan tahunan seperti pelaksanaan PKB di taman budaya Bali belum dapat menampung secara keseluruhan para perajin dan seniman Bali untuk memperlihatkan hasil produksinya.

Selama kami melakukan penelusuran di beberapa desa/kecamatan di daerah  Karangasem masih ada jenis kerajinan dan tempat yang belum teridentivikasi oleh Disperindagkop dan  dulu berkembang pesat kini tinggal kenangan. Pada sisi lainnya, perajin yang ada dibeberapa desa seperti Tenganan dan sidemen   tempat produksinya  dikunjungi  langsung oleh konsumen dan para wisatawan. Dalam data kumelatif potensi komoditi Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kabupaten Karangasem menggambarkan jenis industri dan unit usaha belum banyak memberikan informasi data yang dapat dijadikan dasar dalam penelitian ini. Data industri dan  jenis kerajinan Kabupaten Karangasem tahun 2008 secara formal berjumlah 13.464 unit usaha. Kabupaten Karangasem yang terdiri dari delapan  Kecamatan seperti Kecamatan Rendang, Sidemen, Manggis, Karangasem, Abang, Bebandem, Selat dan  Kecamatan  Kubu memiliki potensi kerajinan yang berbeda-beda, baik dari segi material dan keunikannya.

Makalah Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Karangasem selengkapnya:

Dari Seminar Program I-MHERE ISI Denpasar

Dari Seminar Program I-MHERE ISI Denpasar

Tumbuhkembangkan Pikiran Kritis Terhadap Temuan Hasil Penelitian

Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hibah penelitian pada program I-MHERE ISI Denpasar, para pemenang hibah penelitian pada program I-MHERE Sub. Component B.I Batch III ISI Denpasar tahun anggaran 2008/2009 menyelenggarakan seminar hasil penelitian. Selain itu seminar ini sebagai salah satu bentuk akuntabilitas publik. Lewat seminar yang dilaksanakan secara terbuka, akan dapat ditumbuhkembangkan pikiran-pikiran kritis ilmiah terhadap temuan hasil penelitian yang memang sudah seharusnya untuk selalu diwacanakan dan didiskusikan. Hasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Seminar yang diselenggarakan oleh panitia khusus dari LPIU-I-MHERE berlangsung pada hari Rabu s/d Jum’at tanggal 5-7 Mei 2010. Ketua pelaksana, atas nama Direktur Eksekutif, Sekretaris Akademis, I Made Berata, S.Sn., M.Sn. mengungkapkan, seminar akan diikuti oleh para dosen dan mahasiswa Jurusan Karawitan dan Prodi Kriya Seni ISI Denpasar. Seminar yang seharusnya diikuti oleh 14 pemenang hibah penelitian, pada kesempatan ini diikuti oleh 12 pemenang Hibah karena dua judul penelitian sudah dipresentasikan di Surabaya atas undangan dari Direktur I-MHERE Pusat Jakarta. Dari keduabelas judul penelitian tersebut adalah Drs. I Ketut Muka, M.Si dengan penelitian ’Penelitian macam dan jenis kerajinan di kabupaten Gianyar’, Drs. I Made Suparta, M.Hum dengan penelitian ’Penelitian macam dan jenis kerajinan di kabupaten Karangasem’, I Made Berata, S.Sn., M.Sn dengan penelitian ’Penelitian macam dan jenis kerajinan di kabupaten Klungkung’, I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn dengan penelitian ’Penelitian macam dan jenis kerajinan di kabupaten Buleleng’, Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn judul penelitian ’Gender Wayang Style Kayu Mas Denpasar: Analisis Struktur  Musikal’, I Nyoman Sudiana, SSKar., M.Si judul penelitian ’Analisis Saih Gambang Desa Tambak Buyuh Mungu Kabupaten Badung’, I Wayan Suharta, SSKar., M.Si dengan penelitian ’Sekularisasi Gamelan Selonding: Analisis Repertoar dan Konsep  Musikal’, Kadek Suartaya, SSKar., M.Si dengan judul penelitian ’Cak: Perintis Seni Pertunjukan Wisata Bali: Analisis Konsep Musikal’, Pande Gede Mustika, SSKar., M.Si dengan judul penelitian ’Gamelan Gong Gede di Pura Ponjok Batu, Singaraja: Kajian Nilai-Nilai Ritual’, I Made Kartawan, S.Sn., M.Si judul penelitian ’Reformulasi Sitem Patutan Pada Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu’, I Ketut Gawa, S.Sn., M.Sn dengan judul penelitian ’Gending-Gending Iringan Tari Legong (Sebuah Dokumentasi dalam Bentuk Studi Komparatif)’, serta I Gede Yudarta, SSKar., M.Si dengan judul penelitian ’Gamelan Gambang dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar’. I Made Berata menambahkan dari 14 judul penelitian, dapat dijabarkan bahwa terdapat 9 judul berkaitan dengan Karawaitan dan 5 judul berkaitan dengan kriya seni.

Sementera Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. saat membuka seminar mengungkapkan rasa bangga atas kerjakeras semua pihak sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Kegiatan ini sangat baik untuk memotivasi baik dosen ataupun mahasiswa yang lain untuk menjalankan kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam hal ini penelitian. Dengan keseimbangan ini maka atmosfir akademis di ISI Denpasar akan semakin hidup. Dengan menularkan kegiatan yang positif tentunya mampu mengangkat citra positif ISI Denpasar dari kaca mata publik. Ini tentunya akan mendukung program pemerintah yaitu pembentukan karakter bangsa.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Loading...