M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kerajinan Logam Kuningan di Kabupaten Klungkung

Kerajinan Logam Kuningan di Kabupaten Klungkung

Oleh I Made Berata (Dosen PS Kriya Seni)

Aktitivitas membuat kerajinan dengan bahan logam/logam kuningan tidak hanya digeluti oleh masyarakat desa Kamasan, namun juga ditekuni oleh masyarakat desa Budaga. Secara geografis desa Budaga terletak di bagian barat Kecamatan Klungkung berimpitan dengan kota Semarapura. Dari segi fisik kondisi alamnya yang datar dan terjal nampak keindahan laskap persawahan dari kejauhan, tengarai kesejukan dan kedamain. Desa yang sunyi terasa jauh dari kebisingan aktivitas kota, tetapi kebisingan melantun dari entakan-entakan palu/hamer sebagai petanda kesibukan masyarakatnya membuat kerajinan logam.

Desa Budaga merupakan salah satu desa sentra seni kerajinan, yang telah mengembangkan seni kerajinan  logam kuningan secara turun temurun. hampir sebagian besar masyarakat di desa ini bermatapencaharian sebagai perajin,  untuk memenuhi kebutuhan  perekonominya.  Beraneka bentuk  produk telah dihasilkan baik produk untuk sarana upacara agama, maupun bentuk produk yang berfungsi sebagai hiasan. Awal perkembangan kerajinan logam kuningan ini, membuat peralatan untuk sarana upacara keagamaan seperti Genta, tempat bija (tempat beras suci), tempat tirta (air Suci) dan bermacam senjata nawasanga sebagai perlengkapan upacara yang disesuaikan dengan tempatnya dalam pengider buana, dipergunakan di pura atau pemerajan.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pariwisata di Bali, perajin didesa Budaga sangat kreatif dalam mengembangkan bentuk-bentuk produk baru yang lebih inovatif. Sekarang ini di desa Budaga berkembang bentuk produk berupa bola mimpi (Dream Ball). Bola mimpi dimaksud adalah produk yang bentuknya menyerupai bola berbunyi nyaring terdengar  dari gesekan butir-butir pelor timah yang ada didalamnya. Terciptanya bentuk produk dream ball, berawal dari adanya pesanan seorang pengusaha dari Perancis kepada seorang perajin bernama Pande I Nengah Patra. Produk ini  digunakan sebagai pernak pernik pohon natal.  Saat ini telah terjadi pengembangan bentuk dan fungsi produk. Produk ini dibuat disamping berfungsi sebagai hiasan, juga dibuat sebagai asesoris seperti anting-anting, leontin, gelang dan gantungan kunci. Selain itu, pergeseran fungsipun tidak dapat di pungkiri terhadap benda-benda pelengkap sarana upacara dalam agama Hindu seperti genta, berubah fungsi menjadi bel di Gereja, bel pintu perumahan, dan alat musik.

Kerajinan Logam Kuningan di Kabupaten Klungkung selengkapnya

Jepang Tawarkan Kuliah Gratis

Jepang Tawarkan Kuliah Gratis

MEDAN, KOMPAS.com – Kedubes Jepang menawarkan beasiswa pemerintah Jepang (Monbukagakusho) kepada para pelajar Indonesia lulusan SMA sederajat untuk melanjutkan pendidikan ke negeri matahari terbit.
“Beasiswa tersebut berupa melanjutkan pendidikan ke universitas di Jepang baik program S-1. D-III an D-II. Pendaftaran mulai dibuka 10 Mei dan ditutup 10 Juni 2010,” kata Kabag humas Konsulat Jendral Jepang di Medan, Aya Kumakura, Kamis (13/5/2010).
Ia mengatakan, bagi yang berminat dapat mengambil formulir pendaftaran Kedubes Jepang bagian pendidikan di Jakarta, Konsulat Jepang di Surabaya dan Medan serta di Konsuler Jepang Makassar.
Sementara bagi siswa tinggal diluar wilayah Jabodetabek, Surabaya, Medan dan Makasar dapat mengirimkan surat lamaran ke Kedubes Jepang engan alamat Jalan MH Thamrin No 24 Jakarta Pusat kode pos 103550.
“Surat lamaran harus berisi nama, alamat, nomor telepon, prodi pilihan, dan juga melampirkan fotocopy rapor, ijazah, serta nilai ijazah. kami akan menganggap sah walau tanpa formulir pendaftaran,” katanya.
Syarat lainnya, calon penerima beasiswa harus lahir antara 2 April 1989 hingga 1 April 1994, memiliki nilai ijazah atau rapor kelas tiga semester terakhir minimal 8,4 untuk program S-1, 8,0 untuk program D-III dan D-II.
“Jika pada saat penutupan tanggal 10 Juni 2010 nilai ijazah asli belum keluar maka nilai ijazah sementara dari kepala sekolah akan tetap diterima. Berkas yang masuk akan diseleksi berdasarkan nilai ijazah dan rapor,” katanya.
Bagi yang sudah mendaftar nanti akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis pada Juli 2010 dan bagi yang lulus ujian tertulis selanjutnya akan dipanggil untuk tes wawancara dalam bahasa Indonesia pada bulan Agustus.
Bagi yang lulus tes wawancara akan direkomendasikan ke Monbukagukusho dan jika lulus tes di Monbukagukusho akan jadi penerima beasiswa yang akan ditetapkan pada Januari 2011.
Bagi siswa yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut akan diberikan fasilitas bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah, tiket Indonesia-Jepang (pulang pergi) serta juga akan diberikan tunjangan sebesar 125 ribu yen perbulan.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/13/13523910/Jepang.Tawarkan.Kuliah.Gratis

Instrumen dan Teknik Instrumentasi Gamelan Pegongan

Instrumen dan Teknik Instrumentasi Gamelan Pegongan

Oleh: I Gede Yudartha (dosen PS Seni Karawitan)

Gong Gede menurut Pande Made Sukerta (1998:57) adalah salah satu perangkat gamelan yang terbesar diantara perangkat gamelan Bali yang ada, baik dilihat dari jumlah tungguhannya, Larasan maupun ukuran ukuran masing-masing tungguhannya. Sebagai sebuah orkestrasi, gamelan Gong Gede memiliki karakteristik yang agung, hidmat dan kokoh yang mana hal tersebut ditambah dengan adanya dominasi instrumen perkusi didalamnya.

Secara fisik gamelan ini didominasi oleh instrumen berbilah dan berpencon dengan ukuran yang terbesar sampai instrumen kecil. Dari instrumen-instrumen yang terdapat didalamnya dilihat dari fungsinya masing-masing dapat dikelompokan sebagai instrumen melodis, instrumen garap, pemurba irama dan instrumen pengatur matra. Yang dapat dikelompokkan sebagai instrumen melodis adalah terompong ageng dan terompong barangan, gangse jongkok, jublag, penyacah dan jegogan. Instrumen yang tergolong instrumen garap adalah riyong, bonang, dan ceng-ceng kopyak. Sebagai pemurba irama adalah kendang sedangkan instrumen pengatur matra atau struktur adalah bebende, kempur, kempli dan gong.

Dari berbagai instrumen melodis yang terdapat dalam barungan Gong Gede, terdapat pula berberapa teknik yang dipakai dalam memainkan instrumen. Gangse Jongkok sebagai ciri khas gamelan ini terdiri dari tiga bagian yaitu Gangse Jongkok Penunggal. Gangse Jongkok Pengangkep Ageng dan Gangse Jongkok Pengangkep Alit. Pada instrumen Gangsa Jongkok Penunggal dan Pengangkep Ageng teknik yang dipergunakan adalah teknik keklenyongan yaitu sebuah teknik permainan instrumen dengan memainkan melodi-melodi pokoknya saja. Walaupun terdapat persamaan dalam teknik pukulan, namun dari kedua instrumen terdapat perbedaan dimana perbandingan pukulannya adalah dalam 1 pukulan Penunggal terdapat 2 pukulan Pengangkep Ageng. Adapun teknik yang dimainkan dalam pengangkep alit disebut dengan intil-intil. Disamping instrumen tersebut di atas, yang termasuk dalam kelompok ini adalah berupa instrumen yang bilahnya tergantung diantaranya penyacah, jublag dan jegogan dimana masing-masing instrumen tersebut juga dimainkan secara bertingkat dimana terdapat perbandingan 1 pukulan jegogan sama dengan 4 pukulan Jublag, sedangkan 1 pukulan jublag sama dengan 4 pukulan penyacah.

Instrumen dan Teknik Instrumentasi Gamelan Pegongan selengkapnya

Kerajinan Logam di Kabupaten Klungkung

Kerajinan Logam di Kabupaten Klungkung

Oleh: I Made Berata (dosen PS Kriya Seni)

Seni kerajinan logam merupakan salah satu ekspresi budaya masyarakat Bali yang telah ditekuni sejak  zaman Bali kuna. Aktivitas rutinitas membuat kerajinan logam ini termuat dalam prasasti Bulian yang tersimpan di Desa Banu Bwah, mencatat beberapa peralatan yang terbuat diri bahan logam seperti  kris (keris), wadung (kapak), linggis (alat pencongkel), lukai (sabit), sasap (semacam tajak), dan zirah (Kurug). Bahkan dalam prasasti juga dimuat  pande mas, pande besi, dan pande tembaga. (Tista, 1986: 99). Keterampilan membuat kerajinan logam ini, adalah warisan leluhur yang  pada saat ini masih ditekuni oleh perajin yang keberadaannya tersebar di daerah pedesaan atau kecamatan yang ada di Bali. Salah satunya adalah Kabupaten Klungkung terabadikan perajin-perajin yang memiliki keterampilan membuat kerajinan dari bahan logam.

Secara garis besar seni kerajinan logam di daerah Klungkung terdiri dari kerajinan pande besi, kerajinan kuningan serta kerajinan mas dan perak. Kerajinan pande besi  lebih banyak memproduksi produk perlengkapan peralatan rumah tangga. Namun ada juga beberapa pande besi di daerah Kusamba kecamatan Dawan Klungkung yang khusus memproduksi keris. Sementara untuk kerajinan kuningan, mas dan perak lebih banyak berkembang di daerah Kamasan, dan desa Budaga.  Macam dan jenis produk yang dihasilkan beraneka ragam.  Khususnya di lingkungan  Banjar Pande desa Kamasan, perajin lebih banyak memproduksi produk kerajinan perak berupa peralatan upacara keagamaan seperti, bokor, sangku, wanci, payung pagut, dan lain-lain.

Daerah-daerah yang merupakan sentra seni kerajinan logam dan industri-industri kecil lainnya, telah memberikan sumbangan  esensial bagi pengayaan dan pelestarian identitas budaya bangsa. Seni kerajinan logam sebagai ungkapan kreativitas budaya masyarakat telah memberikan  peluang bagi masyarakat di daerah Klungkung untuk bergerak, mencipta, memelihara, menularkan, dan mengembangkan keahliannya, dengan menciptakan bentuk-bentuk produk baru. Produk-produk kerajinan yang diproduksi sebagian besar diperuntukkan untuk sarana upacara adat  keagamaan.

Kerajinan Logam di Kabupaten Klungkung selengkapnya

Anggaran Pendidikan 20 Persen Belum Tepat Sasaran

Anggaran Pendidikan 20 Persen Belum Tepat Sasaran

TEMPO Interaktif, Jakarta – Direktur Eksekutif Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Ilham Cendekia Srimarga menyayangkan anggaran pendidikan di Indonesia yang mencapai 20 persen tidak tepat sasaran dalam penggunaannya.

Ketika berbicara dalam seminar akuntabilitas sekolah di Hotel Century, Rabu (12/5), Ilham mengatakan anggaran yang besar tersebut kenyataannya sulit diakeses oleh masyarakat miskin. “Kenyataannya akses sekolah bermutu bagi rakyat miskin sangat kecil,” ujarnya

Kebutuhan spesifik kaum miskin, seperti dana operasional, dana transport yang seharusnya dibiayai oleh dana pendidikan belum tercover. Sementara di sebagian besar daerah di Indonesia, 1/3 anggaran pendidikan dibelanjakan untuk pos gaji.

Selain itu, masih sering terjadi kebocoran anggaran, alokasi yang tidak tepat, mark up, serta dibelanjakan tidak sesuai peruntukan. “Persoalan lainnya adalah probelm akuntabilitas,” kata Ilham pula.

Hal senada diungkapkan Ade Irawan dari Indonesia Corruption Watch. Dia menyebutkan bahwa anggaran pendidikan 20 persen hanya dari presentasenya yang naik, tapi nominal tidak berubah. “Karena 20 porsen itu dengan memasukkan anggaran sebelumnya. Jadi ini hanya dipakai sebagai alat politik saja,” ucapnya. Ade juga mempersoalkan masalah akuntabilitas, yang menurutnya tidak bisa dipisahkan dari transparansi. ROSALINA.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/05/12/brk,20100512-247584,id.html

M Nuh: Penghapusan PMPTK Untuk Efisiensi Anggaran

M Nuh: Penghapusan PMPTK Untuk Efisiensi Anggaran

Jakarta – Menteri Pendidikan Nasional M Nuh membantah penghapusan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) akan berdampak pada penurunan mutu dan kualitas para guru. Sebaliknya, penghapusan PMPTK dilakukan untuk efisiensi anggaran, memudahkan kordinasi dan lebih meningkatkan kualitas guru dan tenaga pendidik.
“Ini kan keluarga Diknas juga kan mereka guru intinya, tidak mungkin Diknas tidak memperhatikan karir, nasib guru dan lainnya itu tidak mungkin kan itu sudah ada dalam Undang-undang dan peraturan-peraturan yang lainnya,” ujar Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, di gedung Kementrian Pendidikan Nasional, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Rabu (12/5/2010).
Menurut M Nuh, dengan penerapan sistem ini (dihapuskannya Ditjen PMPTK), justru nantinya akan lebih fokus untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru karena nantinya akan ada penanggung jawab masing-masing. “Nah, sekarang justru kita distribusi beban yang tadinya bertumpu di satu titik kita bagi dan diintegrasikan karena yang direkstrukturisasi bukan hanya PMPTK tapi juga MPDM (Manajemen Pendidkan Dasar Menengah). Ditjen Pendidikan menengah yang untuk SMK dan SMA nah guru-guru ini yang nanti akan terintegrasi, karena untuk yang saat ini untuk peningkatan fasilitaskita harus mengkoordinasikan dua Ditjen,” ungkapnya.
Lebih lanjut menurutnya, hal ini diambil karena jumlah tenaga pengajar di Indonesia mencapai 2,6 juta sehingga pihak Kemendiknas merasa perlu memilah-milah untuk menaungi para tenaga pengajar sesuai dengan jenjang pendidikan dan sekolah tempat mereka mengajar.
“Karena kan guru kita 2,6 juta kita akan bagi-bagi mana yang sudah selesai kualifikasinya dan yang belum (ya) diselesaikan dan ke depannya kita akan bentuk pengawas kepala sekolah dan nanti akan ada Ditjen sendiri,” paparnya.
Jika hal ini diterapkan nantinya tidak ada penumpukan tanggung jawab hanya pada Ditjen PMPTK melainkan sekarang sudah didistribusikan sesuai dengan spesialisasi masing-masing sekolah dan tenaga pengajar.
“Ibarat jalan tol dulu hanya dibuka satu pintu sehingga jalurnya menumpuk (di Ditjen PMPTK), sekarang kan dibuat banyak pintu sehinga jalurnya tidak menumpuk,” jelasnya.
Selain itu program ini juga masih harus disosialisasikan kepada masyarakat karena hal ini juga diperuntukan untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru di Indonesia. “Misalnya tugas di Kementrian masalah sertifikasi pembinaan peningkatan profesi, percepatan kualifikasi karena banyak guru kita yang belum D4 atau S1, karena kan Undang-undangnya masih baru yang mensyaratkan mesti S1,” pungkasnya.
Sebelumnya, ribuan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berunjuk rasa di Gedung DPR dan Kementrian Pendidikan Nasional. Mereka menuntut agar Ditjen PPMTK tidak dihapuskan karena akan menurunkan mutu pendidik. Mereka mengancam akan melakukan mogok nasional dan berunjuk rasa di depan istana presiden.(mpr/ape)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/05/13/020013/1356382/10/m-nuh-penghapusan-pmptk-untuk-efisiensi-anggaran?n991102605

Loading...