M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Jadwal Pementasan Penyajian Karya Seni Hari Ke Tiga

Ujian Sarjana Seni Fakultas Seni Pertunjukan

Institut Seni Indonesia Denpasar Tahun 2009/2010

Hari/Tanggal : Rabu,26 Mei 2010

No Judul Karya Penata Nim/Jurusan Waktu
1 Swakanapati I Nyoman Kandera 200603006/P 19.00-19.45
2 “Satya Jayanthi” Komang Ari Wisa Kendraniati 200601003/T 19.50-20.05
3 Melodi Simbal I Ketut Adi Wirahasa 200602014/K 20.10-20.25
4 “Nyari” Ni Putu Sri Desy Ekayanthi 200601021/T 20.30-20.45
5 Kembang Ratna Ni Luh Lisa Susanti 200601009/T 20.50-21.05
6 Kletak-Kletok I Gusti Putu Suka Arsana 200602009/K 21.10-21.25
7 Hasrat Ni Luh Gede Sari Wulan Dewi 200601001/T 21.30-21.45
ISTIRAHAT 15 MENIT
8 Candra Brata I Made Nadi 200602009/P 22.00-22.15
9 Patriot I Putu Agus Pranata Giantika 200601017/T 22.20.22.35
10 Moksa I Wayan Putra Jaya Semara 04010210011/K 22.40-22.55
11 Ken Arok Kadek Sulendri 200601008/T 23.00-23.15

Dekan,

I Ketut Garwa, SSn.,M.Sn

NIP. 19681231 199603 1 007

Jadwal Pementasan Penyajian Karya Seni Hari Ke Dua

Ujian Sarjana Seni Fakultas Seni Pertunjukan

Institut Seni Indonesia Denpasar Tahun 2009/2010

Hari/Tanggal : Selasa, 25 Mei 2010

No Judul Karya Penata Nim/Jurusan Waktu
1 Sedah Wong I Putu Adi Sujana 200603011/P 19.00-19.45
2 Candali Putu Dian Tristiana Dewi 200501008/T 19.50-20.05
3 Freedom Of Style Komang Dharma Santhika 200602035/K 20.10-20.25
4 Pamiket Tresna Ni Putu Novia Anggreni 200601024/T 20.30-20.45
5 Sûryaraŝmi Ni Nyoman Sumariasih 200601018/T 20.50-21.05
6 Pakideh Sang Kompiang Widya Satrawan 200602001/K 21.10-21.25
7 “Sang Anggut” I Ketut Gede Agus Adi Saputra 200601016/T 21.30-21.45
ISTIRAHAT 15 MENIT
8 Lampah Sya I Komang Harianto Ardiantha 200602003/K 22.00-22.15
9 Erlangga Duta Ni Putu Indah Yuniari 200601010/T 22.20.22.35
10 Tresna Lampus Ni Kadek Indrawati 200601022/T 22.40-22.55
11 Jangga Kasturi I ketut Sudiana 200602046/K 23.00-23.15
12 Sinatria Gatotkaca I Gede Riko Raharja 031111980/T 23.20-23.35

Dekan,

I Ketut Garwa, SSn.,M.Sn

NIP. 19681231 199603 1 007

Jadwal Pementasan Penyajian Karya Seni Hari Pertama

Jadwal Pementasan Penyajian Karya Seni

Ujian Sarjana Seni Fakultas Seni Pertunjukan

Institut Seni Indonesia Denpasar Tahun 2009/2010

Hari/Tanggal : Senin, 24 Mei 2010

No Judul Karya Penata Nim/Jur Waktu
1 Genta Uter I Gede Anom Ranuara 200603002/P 19.00-19.45
2 Nara Simha I Gusti Agung Ayu Savitri 200601015/T 19.50-20.05
3 Awidyasmara Ni Nyoman Damayanti

I Made Putra Wantara

200601025/T

200602011/K

20.10-20.25
4 Santhining Bhuana I Nyoman Budiyasa 200601007/K 20.30-20.45
5 Gunastri Ni Putu Ayuk Agustini 200601002/T 20.50-21.05
6 KUNG I Ketut Suarjana 200602017/K 21.10-21.25
7 Sumpah Ni Wayan Megawati 200601030/T 21.30-21.45
ISTIRAHAT 15 MENIT
8 Ngunye I Putu Gede Suardika 200602004/K 22.00-22.15
9 Mithya Ida Ayu Diah Setiari 200601005/T 22.20.22.35
10 Abhimãna Ni Made Ayu Riyanti 200601026/T 22.40-22.55
11 Pipe Sound I Gede Nadiarta 200502036/K 23.00-23.15
12 Jalan Nirwana I Nyoman Anom Adnya Arimbawa 200601010/T 23.20-23.35

Dekan,

I Ketut Garwa, SSn.,M.Sn

NIP. 19681231 199603 1 007

Desain Ornamen Dan Seni Lukis Tradisional Dalam Mendukung Kriya Kreatif

Desain Ornamen Dan Seni Lukis Tradisional Dalam Mendukung Kriya Kreatif

Oleh A.A. Yugus, A.A. Ayu Kusuma Arini dan A.A. Gde Ngurah TY

Fakultas Seni Rupa Dan Desain Isi Denpasar

Abstrak Penelitian

Desain Ornamen dan Seni Lukis Tradisional merupakan salah satu bagian seni rupa, perkembangannya mengalami perubahan di Bali sejak tahun 1920-1930. Masa lalu desain dan seni lukis tradisional disebut seni klasik tradisional Bali, bentuknya menekankan ungkapan mitologi pewayangan, mengandung nilai simbolis dan juga nilai estetis, berfungsi sebagai penghias pura-pura, penghias alat-alat perlengkapan upacara agama, penghias peralatan kebutuhan istana, sehingga bersifat pengabdian baik untuk kepentingan spiritual maupun sosial.

Tahun 2009 Pemerintah Republik Indonesia melancarkan kegiatan Indonesia Kreatif dengan Implementasi Pengembangan Ekonomi Kreatif, Berbasis Industri Kreatif, Kriya Kreatif dan Seni Kreatif 2009-2025. Industri kreatif, kriya kreatif dan seni kreatif adalah wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas serta iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki sumber daya yang terbarukan, sehingga terbentuk transformasi fungsi kegiatan seni ke arah intelektual, kreativitas, pengembangan ekonomi dan daya saing. Bertumpu pada perubahan fungsi, menampakkan persepsi baru serta menampilkan masalah baru; belum menguatnya dan terapresiasi konsep industri kreatif, kriya kreatif berbasis seni, desain kreatif. Bagaimana konsep tersebut dikemukakan secara formal, teoritik maupun emperik; kurang tersusunnya data eksistensi dan sebaran unsur desain dan seni kreatif, identitas, narasi bentuk, makna seni, desain kreatif.

Tujuan penelitian desain ornamen dan seni lukis tradisional mendukung kriya kreatif ini untuk mendata dan merumuskan penerapan desain ornamen dan seni lukis tradisional mendukung produk kriya kreatif.

Metode penelitian mengambil lokasi tersebar pada wilayah di Bali yang diwakili oleh Kabupaten dan Kotamadya di Bali. Besar sampel 105 produk karya kreatif, khusus pada kriya ukir 35 (33,33%), kriya patung 22 (20,95%), kriya seni lukis 30 (28,57%), kriya tekstil 12 (11,42%), dan kriya keramik 6 (5,71%). Jumlah sampel penyebaran pengembangan kriya kabupaten Gianyar jumlah produk kegiatan paling tinggi, sebanyak 35 (33,33%), Badung dan Kodya Denpasar masing-masing 14 (13,33%), Tabanan 13 (12,38%), Buleleng dan Klungkung masing-masing 8 (7,62%), Bangli 7 (6,67%), dan Karangasem 6 (5,71%).

Tingkat keberhasilan penerapan desain ornamen dan seni lukis tradisional kriya kreatif berdasarkan hasil pengukuran total jumlah nilai sampel kriya ukir, kriya patung, kriya seni lukis, kriya tekstil, dan kriya keramik diperoleh sebesar 1714 poin (81,62%) lebih besar dari nilai hitung rata-rata sampel sebesar 1050 (50%) sehingga dapat dipandang bahwa pengembangan dan penerapan desain ornamen dan seni lukis tradisional mendukung pengembangan kriya kreatif yang berkembang.

Kata Kunci : Ornamen, Seni Lukis, Kriya Kreatif

Minangkabau

Minangkabau

Oleh: Wardizal (dosen PS Seni Karawitan)

Minangkabau, sering dikenal sebagai bentuk kebudayaan dari pada sebagai bentuk negara yang perah ada dalam sejarah (Navis, 1984:1). Secara umum, perkataan Minangkabau mempunyai dua pengertian, pertama Minangkabau sebagai tempat berdirinya kerajaan Pagaruyung. Kedua, Minangkabau sebagai salah satu kelompok etnis yang mendiami daerah tersebut (Mansoer, 1970:58). Kerajaan Pagaruyung yang pada masa dahulu pernah menguasai daerah budaya Minangkabau, tampaknya tidak banyak memberikan atau meninggalkan pengaruh yang nyata terhadap budaya rakyat Minangkabau sampai sekarang. Dewasa ini, kharisma kerajaan Pagaruyung telah terlupakan begitu saja oleh masyarakat Minangkabau. Istilah Minangkabau tidak lagi mempunyai konotasi sebuah daerah kerajaan, akan tetapi lebih mengandung pengertian sebuah kelompok etnis atau kebudayaan yang didukung oleh suku bangsa Minangkabau (Hajizar, 1988:31).

Realias yang berkembang di tengah masyarakat (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat pada hal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Perkembangan sejarah menunjukkan, bahwa daerah geografis Minangkabau tidak merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat (Mansoer, 1970:1). Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi (Hakimy, 1994:18).

Secara administratif, propinsi Sumetara Barat mempunyai 14 daerah tingkat II, terdiri dari 8 daerah tingkat II yang tercakup dalam kapupaten, dan 6 daerah yang tercakup dalam Kota Madya. Delapan (8) kabupaten terdiri dari kabupaten Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Pasaman, Solok, Pariaman, Sawah Lunto Sijunjung, 50 Kota, dan Padang Pariaman. Enam (6) Kota Madya terdiri dari Kota Madya Padang, Solok, Sawah Lunto, Payakumbuh, Padang Panjang dan Bukittinggi. Batas-batas propinsi yang berbatasan dengan Sumatera Barat Adalah: sebelah barat berbatasan dengan Samudra Indonesia; bahagian utara berbatasan dengan Sumatera Utara; sebelah selatan berbatasan dengan propinsi Bengkulu dan propinsi Jambi; dan sebelah timur berbatasan dengan propinsi Riau.

Minangkabau dalam pengertian sosial budaya merupakan suatu daerah kelompok etnis yang mendiami daerah Sumatera Barat sekarang, ditambah dengan daerah kawasan pengaruh kebudayaan Minangkabau seperti: daerah utara dan timur Sumatera Barat, yaitu Riau daratan, Negeri Sembilan Malaysia; daerah selatan dan timur yaitu; daerah pedalaman Jambi, daerah pesisir pantai sampai ke Bengkulu, dan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia (Couto dalam Arisman, 2001:56). Tidak ada yang dinamakan suku bangsa Sumatera Barat atau kebudayaan Sumatera Barat. Namun secara praktis pemerintah Daerah Tingkat I propinsi Sumatera Barat-lah yang menggerakkan kebudayaan Minangkabau. Boestanoel Arifin Adam mengatakan:

Pengertian Minangkabau selengkapnya

Faktor Pendorong Wanita Bekerja Pada Usaha Kerajinan Gerabah Di Desa Binoh

Faktor Pendorong Wanita Bekerja Pada Usaha Kerajinan Gerabah Di Desa Binoh

Oleh: Ida Ayu Gede Artayani, S.Sn, M.Sn., Dosen PS Kriya Seni

Usaha kerajina gerabah di Desa Binoh merupakan usaha industri rumah tangga yang sifatnya sudah turun-temurun. Pembuatan kerajinan ini merupakan mata pencaharian yang cukup mendapat perhatian dari para kaum wanita di desa ini. Usaha kerajinan ini ditekuni oleh mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang masih lajang. Sesuai dengan hasil surve yang diperoleh dilapangan, ada beberapa faktor pendorong dari kaum wanita untuk bekerja pada usaha kerajinan gerabah antara lain:

  1. Faktor Ekonomi

Pembangunan pertanian di Indonesia mampu meningkatkan pendapatan petani khususnya dan penduduk pedesaan pada umumnya. Ini terbukti dengan semakin kecilnya jumlah penduduk miskin di pedesaan. Disamping itu perlu diperhatikan masih banyaknya penduduk yang memusatkan bekerja di sektor pertanian.

Hal ini menyebabkan tambahan tenaga kerja disektor pertanian lebih besar dari kepemilikan lahan.

Lahan pertanian yang kian hari semakin sempit tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga petani yang bersangkutan. Hal ini berarti rumah tangga petani harus meningkatkan pendapatan mereka melalui kegiatan  diluar sektor pertanian.

Pekerjaan-pekerjaan di luar sektor pertanian, seperti misalnya pekerjaan dalam industri rumah tangga atau industri kecil, sudah dikenal di daerah pedesaan sejak lama. Keberadaan pekerjaan di luar sektor pertanian ini penting artinya bagi rumah tangga petani. Hal ini berkaitan dengan sifat musim kegiatan di bidang pertanian. Pada umumnya keluarga petani membutuhkan pekerjaan di luar sektor pertanian untuk menambah penghasialannya. ( Mubyanto, 1985: 45).

Demikian pula halnya keadaan penduduk di Desa Binoh, kepemilikan lahan pertanian semakin sempit, berubah menjadi kawasan perumahan. Kepemilikan lahan rata-rata 0,16 Ha per kepala keluarga. Melihat kenyataan yang demikian, pendapatan dari sektor pertanian tidak memungkinkan lagi sebagai penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu bukan saja kaum laki-lakinya, kaum wanitanya pun dituntut untuk mencari nafkah di sektor lain. Menurut informasi yang diterima, kerajinan gerabah yang ada di desa ini sudah ada sejak dulu, mereka tidak bisa menyebutkan angka dan tahunnya, karena mereka mewarisi kerajinan ini sejak lahir. Hal ini memungkinkan para wanita di desa ini tidak banyak terlibat dalam pekerjaan pertanian sehingga mereka banyak mempunyai waktu luang setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hanya saja waktu itu pekerjaan mereka bersifat kecil-kecilan. Peralatan yang dipergunakan dalam pembuatan gerabah masih sangat sederhana, begitu pula bentuk-bentuk barang yang dibuat tidak banyak variasi dan pemasaarannya masih bersifat lokal.

Faktor – faktor Yang Mendorong Wanita Bekerja pada Usaha Kerajinan Gerabah Di Desa Binoh Kelurahan Ubung Kaja Denpasar selengkapnya

Loading...