M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Pengembangan Warna Bali Dengan Teknik Modern Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Nilai Jual Produk Lokal

Pengembangan Warna Bali Dengan Teknik Modern Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Nilai Jual Produk Lokal

Oleh: Drs. A.A.Gede Rai Remawa, MSn., Drs. I Nyoman Wiwana, MSi., dan Drs. I Wayan Sukarya, A.A. Bawa Putra, SSi.,MSi.

Abstraks Penelitian Hibah Bersaing 2009

Revitalisasi kearifan lokal menjadi isu strategis pada lima tahun terakhir ini, untuk memperkenalkan berbagai khasanah daerah yang dapat diangkat ke arena global. Berbagai kekayaan kearifan lokal dalam bidang seni rupa seperti; seni lukis, patung, arsitektur, interior, kriya kayu dan lain sebagainya masih banyak yang dapat diangkat ke permukaan agar kekayaan lokal Bali semakin dikenal.

Interior dan Arsitektur tradisional Bali lebih banyak memanfaatkan bahan alamiah seperti; batu, cadas, dan bata pada bagian dasar dan sebagian dindingnya, sedangkan bahan kayu, daun kelapa, alang-alang, dan ijuk dimanfatkan untuk rangka dan atapnya. Perkembangan teknologi dan desain tidak memungkinkan material ini tepat dimanfaatkan untuk keperluan interior dan arsitektur bangunan, karena bahan-bahan cadas dan bata memiliki kekurangan pada ketahanan dan debu yang dihasilkan. Perkembangan teknologi dan bahan menyebabkan masyarakat memiliki pilihan untuk menggunakan bahan lain seperti beton dan plesteran yang difinishing dengan cat tembok. Pilihan cat tembok ini cukup baik untuk finishing ruang dalam (interior), arsitektur dan bahkan ruang luarnya (ekterior) karena sifatnya yang  tidak berdebu dan tahan terhadap cuaca, serta mudah merawatnya. Untuk memperkaya khasanah finishing akhir ini, maka dilakukan penelitian terhadap warnabali yang sebelumnya banyak dimanfaatkan pada dunia kerajinan seperti; lukis, patung, arca dan topeng serta arsitektur yang menggunakan material kayu khususnya pada ornamen pintu, tiang dan hiasan lainnya.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan laboratorium dan meneliti berbagai unsur bahan yang digunakan untuk membuat warnabali pada masa lalu. Berdasarkan eksperimen dan studi lapangan diperoleh bahwa warnabali terdiri dari 7 (tujuh) warna dasar seperti; hitam, biru, merah, jingga, coklat, kuning dan putih yang berasal dari tujuh bahan dasarnya seperti; mangsi, taum, kencu, deluge, pere, atal dan tulang.

Kesimpulan penelitian ini, warnabali memiliki intensitas visual yang tidak mencolok, lebih lembut apabila dibandingkan dengan warna Newton. Intensitas visual warnabali berbeda dengan warna modern. Hitam dan putih pada konsep warnabali adalah termasuk warna dan bukan sebagai shade dan tint. Hijau dan biru memiliki panjang gelombang maksimum 610 nm., Pelung; 600nm, kuning, coklat, merah, dadu dan brumbun; 520 dan 560 nm., sedangkan warnabali seperti; jingga, putih, abu dan hitam tidak menyerap warna.

Keyword: warnabali, nawa sanggha dan mancawarna

Kemdiknas Dorong Wirausahawan Sukses Berbagi Pengalaman

Kemdiknas Dorong Wirausahawan Sukses Berbagi Pengalaman

JAKARTA — Arah kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional di antaranya adalah melakukan kajian dan revisi kurikulum pendidikan, dan pelatihan yang berorientasi pada pembentukan kreativitas dan kewirausahaan. Kebijakan ini kemudian kemudian diimplementasikan kepada anak didik sedini mungkin.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiknas Djoko Santoso yang mewakili Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan lagi hal ini pada Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2010, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (24/06/2010).

Pada konvensi yang dipandu Jaya Suprana itu, menghadirkan pula Menteri Perdagangan Mari Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Deputi Bidang Pendayagunaan IPTEK Kementerian Negara Riset dan Teknologi Idwan Suhardi, sebagai pembicara.

Djoko menyampaikan, Kemdiknas mendukung industri kreatif. Dia menjelaskan, salah satu komponen kurikulum pendidikan adalah memasukkan hal-hal yang bersifat inovatif. Misalnya, dengan melakukan kegiatan di bidang penelitian untuk menumbuhkan ide-ide. “Akan ada restrukturisasi dalam kurikulum kita,” katanya.

Di jenjang pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional mengadakan program wirausaha muda. Para mahasiswa, kata Djoko, didukung agar ke depan dapat menjadi pengusaha yang berbasis pada industri kreatif dan inovasi. “Kemudian ada program inkubator bisnis. Di situ kira-kira secara formal kita mencoba mengembangkan,” katanya.

Djoko menambahkan, perlu dikembangkan terobosan kreatif dalam mendidik anak. Dia mengatakan, sebagian besar waktu anak adalah di rumah. Oleh karena itu, orang tua dapat mengarahkan anaknya menjadi anak yang kreatif. “Peran keluarga sebetulnya jauh lebih penting ketimbang sekolah,” katanya.

Djoko menyampaikan, arah kebijakan Kemdiknas lainnya adalah menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan ekonomi kreatif antar penyelenggara pendidikan. Selain itu, meningkatkan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan formal dan informal, yang mendukung penciptaan insan kreatif dalam pengembangan ekonomi kreatif.  “Arah kebijakan berikutnya adalah menciptakan keterhubungan dan keterpaduan antara lulusan perguruan tinggi, dan sekolah menengah kejuruan,” katanya.

Kemdiknas, kata Djoko, mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. “Tidak kalah penting adalah memfasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama antar insan kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri,” katanya.

Adapun Menteri Mari menyampaikan, ada enam faktor penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Faktor itu meliputi kontribusi kepada ekonomi, iklim bisnis, citra dan identitas bangsa, sumber daya terbarukan, inovasi dan kreativitas, serta dampak sosial. Setiap tahun, kata dia, digelar berbagai macam kegiatan ekonomi kreatif di antaranya Inacraft, Trade Expo Indonesia, pameran ekonomi kreatif di dalam negeri maupun luar negeri.

Mari melanjutkan, kegiatan lainnya adalah fasilitasi kegiatan kreatif di daerah, rapid mapping data, dan melakukan prototipe dari produk UKM lalu membantunya mengakses pasar. “Selain itu sosialisasi ke daerah dan pembuatan film untuk membangkitkan rasa bangga masyarakat,” katanya.

Acara konvensi dirangkai Pameran Produk Kreatif Indonesia 2010 berlangsung mulai 23-27 Juni 2010. Pada anjungan pendidikan berpartisipasi delapan perguruan tinggi, 23 SMK, dan Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia Kartini untuk jenis pendidikan nonformal dan informal. (aline)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/6/24/kreatif-%281%29.aspx

Hey, Dosen Bukan Lagi Sosok “Maha Tahu”!

Hey, Dosen Bukan Lagi Sosok “Maha Tahu”!

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Pembelajaran berbasis mahasiswa perlu diterapkan dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi, karena mahasiswa dituntut aktif dalam memperdalam ilmu. Melalui sistem pembelajaran ini dosen tidak lagi menjadi yang “maha tahu”.

Pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Shanti Wardaningsih mengatakan, pembelajaran berbasis mahasiswa perlu dikembangkan sebagai salah satu sistem pembelajaran di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Menurutnya, melalui sistem pembelajaran tersebut dosen tidak lagi menjadi yang maha tahu karena mahasiswa bisa mendapatkan pengetahuan tidak hanya dari dosen, tetapi juga sumber-sumber lain seperti jurnal dan internet.

“Sistem pembelajaran tersebut juga menuntut dosen untuk selalu menambah ilmu pengetahuan, jika tidak mau ketinggalan dari mahasiswanya,” kata Shanti dalam diskusi Student Learning Center di Yogyakarta, Kamis (24/6/2010).

Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini mengatakan, sistem pembelajaran tersebut bukan hanya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan mahasiswa, tetapi juga menciptakan mahasiswa yang berpikir kritis. Seperti contoh, kata dia, sistem pembelajaran itu juga tepat diterapkan pada mahasiswa keperawatan.

Menurut dia, mahasiswa keperawatan juga harus berpikir kritis dan mampu menganalisis suatu kasus sampai tuntas dan menyeluruh sehingga bisa dihasilkan pemecahan masalah yang tepat. “Seorang perawat bukan hanya tahu bagaimana cara menyuntik, tetapi juga harus tahu kenapa dia harus menyuntik, apa isi dari yang disuntikkan, dan apa efek dari suntikan tersebut. Hal itu untuk menghindari eksekusi yang salah,” ujarnya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/24/15341148/Hey..Dosen.Bukan.Lagi.Sosok..quot.Maha.Tahu.quot..

Mahasiswa ISI Denpasar Lolos Program Pengembangan Wawasan Internasional ke Turki

Mahasiswa ISI Denpasar Lolos Program Pengembangan Wawasan Internasional ke Turki

Denpasar – Salah satu mahasiswa ISI Denpasar, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Pedalangan, I Gede Wirawan lolos seleksi dalam Program Pengembangan Wawasan Internasional ke Turki, bagi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat perguruan tinggi, Direktorat Kelembagaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Menurut Gede Wirawan, dirinya lolos setelah sebelumnya berkompetisi lewat penyerahan makalah dan interview dengan peserta dari PTN, PTS se-Indonesia. Dari sekian banyak PT, yang lolos seleksi hanya 14 PT termasuk diantaranya ISI Denpasar, dan ISI Denpasar sebagai satu-satunya PT seni yang lolos dalam program tersebut. Program pengembangan wawasan internasional ini akan merambah wilayah Turki, dan rencananya terselenggara pada tanggal 18-24 Juli 2010. Sebelum berangkat, peserta akan mengikuti kegiatan pre-departure yang antara lain guna mendapatkan pengarahan dan pengembangan wawasan dari pejabat Kemendiknas, praktisi dan wakil dari Kedutaan Besar Turki di Jakarta.

Pembantu Rektor III ISI Denpasar, Drs. I Made Subrata, M.Sn., tidak bisa menyembunyikan rasa bangga atas keberhasilan mahasiswanya dalam mencitrakan lembaganya. Dirinya menambahkan bahwa I Gede Wirawan adalah tergolong mahasiswa berprestasi, dimana selain memiliki keahlian dibidang menari, tabuh dan mendalang, Gede juga mampu menunjukkan kemampuannya di bidang bahasa. Baru-baru ini Gede mewaliki ISI Denpasar mengikuti Lomba Debat Bahasa Inggris tinggat Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta. Selain itu pada Pimnas yang akan berlangsung di Bali, Gede turut berkompetisi dalam pidato Bahasa Jepang, sebagai materi pendukung. Gede juga terpilih sebagai Juara I Mahasiswa Berprestasi ISI Denpasar.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn. menyambut baik dan bersyukur atas keberhasilan mahasiswa FSP ini. Besar harapan prestasi ini dapat menjadi cerminan dan motivasi bagi yang lainnya. Ini pun sebagai bukti bahwa mahasiswa ISI Denpasar tidak hanya memiliki skill seni tapi juga memiliki nalar ilmiah yang patut diperhitungkan. Semoga Gede mampu terus mengibarkan bendera ISI ditingkat internasional.

Sementara Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., dengan mengumbar senyum kebahagiaan menyambut bangga. Prof. Rai mengungkapkan bahwa inilah model mahasiswa yang menjadi impian untuk ISI Denpasar bahkan untuk Indonesia. Dengan menunjukkan prestasinya mampu mengangkat citra ISI ditinggkat internasional. Dirinya tentu akan terus mendukung kerja keras dari segala kegiatan kampus yang positif.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Sambutan Dekan FSRD Dalam Ujian TA tahun 2009/2010

Sambutan Dekan FSRD Dalam Ujian TA tahun 2009/2010

Om Swastyastu

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa-Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar berhasil melaksanakan pameran Tugas Akhir (TA) semester Genap tahun 2009/2010. Tugas Akhir (TA) merupakan proses final mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di ISI Denpasar. Pameran yang digelar saat ini merupakan hasil kreativitas mahasiswa yang memiliki nilai sangat spesifik karena menampilkan karya-karya sesuai dengan perkembangan estetika sebagai sebuah ilmu keindahan yang selalu bergerak sealur perkembangan zaman, yang terefleksi dalam gaya hidup, trend, serta kolaborasi budaya lingkungannya.

Pameran ini juga diharapkan mampu membawa kipah dan kontribusi terutama dalam meningkatkan wacana, evaluasi, apresiasi seni terhadap masyarakat, serta merupakan penjelajahan mahasiswa dalam mengembangkan bakat alamiah yang kemudian berproses maju dan berkelanjutan. Proses penempaan diri ini dilakukan melalui penempaan di bangku kuliah yang hasilnya dapat melahirkan praktisi dan pengkaji seni, yang profesional dan berkepribadian.

Semoga pameran ini dapat membangun dialog apresiatif serta mampu meningkatkan kesadaran budaya bagi para seniman, pencinta seni, pengamat seni , dan masyarakat pada umumnya. Melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Museum Bali yang telah berkenan memberikan tempat berpameran dan dorongan moral bagi mahasiswa kami.

Sekian dan selamat berpameran.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om

Dekan FSRD ISI Denpasar,

Dra. Ni Made Rinu M.Si

Mendiknas: Dana Pendidikan Masih Terlalu Kecil

Mendiknas: Dana Pendidikan Masih Terlalu Kecil

JAKARTA-MI: Sekitar 70% anggaran pendidikan habis dipergunakan untuk alokasi peningkatan gaji dan tunjangan bagi guru dan dosen.
Faktor ini yang menjadi penyebab biaya pendidikan di negara ini masih mahal kendati pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Atau senilai Rp214 triliun pada tahun ini.
Demikian Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh mengemukakan hal itu, usai membuka International Conference on Best Practice II, Selasa (22/6) sore, di Jakarta.
Alokasi dana bagi gaji dan tunjangan guru bakal lebih menggelembung dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin banyaknya tenaga pengajar yang memperoleh sertifikat kompetensi. Nuh mengatakan, sesuai ketentuan, guru yang memperoleh sertifikat tersebut, berhak mendapat tunjangan senilai gaji pokok.
Dia memberi gambaran, terdapat kurang lebih 2,6 juta guru di Indonesia. Jika semua guru sudah memperoleh sertifikasi, maka pemerintah wajib menggelontorkan dana tunjangan bagi mereka sekitar Rp62 triliun.
“Ini yang menyebabkan dari tahun ke tahun, anggaran pendidikan makin kurang dan otomatis biaya pendidikan tetap tinggi,” imbuhnya.
Di samping dipotong untuk alokasi tunjangan, alokasi 30% dana pendidikan yang tersisa, masih dipotong lagi untuk alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebanyak 10% atau jumlahnya berkisar antara Rp15-20 triliun.
Kemudian dipotong lagi untuk beasiswa sekitar 3,5% dan kewajiban memasukan ke kas negara dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNPB) di tingkat perguruan tinggi.
Praktis, lanjut Nuh, dana pendidikan yang tersisa dari tahun ke tahun hanya berkisar sekitar 15% atau kurang lebih jumlahnya tidak jauh dari Rp100 triliun.
Padahal, lanjut Nuh, jumlah itu tidak semuanya dipegang Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi masih dibagi lagi dengan Kementerian Agama dan sejumlah instansi lain.
“Inilah yang menyebabkan kita tidak punya dana untuk hal sekedar unttuk memperbaiki sekolah-sekolah yang bangunannya hampir ambruk,” sebutnya. (Tlc/OL-9).

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/06/23/150888/88/14/Mendiknas-Dana-Pendidikan-Masih-Terlalu-Kecil

Loading...