by admin | Aug 4, 2010 | Berita
ISI Denpasar ikut ambil bagian dalam ajang bergengsi SIPA (Solo International Performing Art) 2010 yang berlangsung selama tiga malam (16 – 18 Juli 2010). Menurut Penanggung Jawab Kegiatan sekaligus Dekan FSP, I Ketut Garwa, SSn., M.Sn, tujuan dari kegiatan ini adalah menyatukan semangat dari keberagaman seni pertunjukan yang ada dengan Solo International Performing Arts (SIPA) 2010 sebagai ruang pertemuannya. Dengan SIPA 2010, Solo akan menjadi jembatan bertemunya berbagai ragam dan jenis yang ada dalam wilayah seni pertunjukan. Sebutan Kota Budaya pun akan semakin terteguhkan di dalamnya, sekaligus berharap munculnya multi efek dari kegiatan tersebut. Baik itu sosial, ekonomi atau pun politik terkait dengan ketahanan budaya.
Solo International Performing Art (SIPA) 2010 diselenggarakan di Pamedan Pura Mangkunegaran. Pamedan Pura Mangkunegaran. Kawasan ini memiliki nilai heritage yang tinggi seiring dengan sejarah perkembangan kadipaten Mangkunegaran. Istana yang didirikan oleh Pangeran Sambernyawa (KGPAA Mangkunagoro I) pada 14 Maret 1757 ini letaknya juga strategis karena berada di tengah kota. Selain itu mengingat Pura Mangkunegaran sebagai salah satu tempat bersejarah maka diharapkan dapat sekaligus mempromosikan Pura Mangkunegaran kepada dunia. Tentu saja melalui partisipasi para delegasi yang menjadi peserta SIPA 2010.
Para peserta SIPA selain dari komunitas seniman lokal juga akan melibatkan seniman-seniman dari dalam dan luar negeri. Mereka yang terlibat sudah melalui proses seleksi yang ketat, sehingga telah memenuhi kriteria. Adapun peserta yang akan terlibat dalam ajang ini yaitu dari 9 delegasi dari dalam negeri termasuk ISI Denpasar, sementara dari luar negeri melibatkan 7 negara yaitu Austria, Malaysia, Jerman, Timor leste, Mexico, India dan Jepang.
Ketua Pelaksana, I Dewa Ketut Wicaksana, S.SP., M.Hum menyampaikan bahwa ISI Denpasar menampilkan Karya Pertunjukan berjudul `Sasih Kenem`. Karya seni pertunjukan `Sasih Kenem` mengangkat fenomena mistis yang menjadi kepercayaan masyarakat Bali secara umum. Setiap bulan Desember atau pada bulan ke dua belas (sasih kenem) dianggap sebagai datangnya petaka alam yakni, gering, gerubug (wabah penyakit) yang membuat masyarakat Bali cemas dan ketakutan karena disebabkan oleh sesuatu yang gaib/mistis. Agar terhindar dari bahaya ini, dikalangan desa-desa tertentu di Bali melakukan ritual doa dengan sarana sesajen (banten), nyolahang Sanghyang (menarikan tari Sanghyang) mohon kekuatan dan berkah Tuhan yang turun melalui tari Sanghyang. Disamping itu masyarakat juga menabuh alat-alat yang bunyinya keras dan gaduh.
Suasana mistis ini yang digarap menjadi sajian karya seni pertunjukan dengan memadukan unsur-unsur yang ada dalam ritual `sasih kenem`. Chorus Vocal Chant merupakan materi dasar yang dikomposisikan secara kontekstual sebagai bentuk ritual mistis. Alat-alat bunyi yang sederhana digarap dan dieksplorasi seluas-luasnya yang dipadukan dengan beberapa instrumen dalam karawitan Bali. Berikut nama-nama delegasi dari ISI Denpasar: I Ketut Garwa, SSn., M.Sn. (Penanggung-jawab), I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum (Ketua Pelaksana), Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn. (Oficial), I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn (Penata Pedalangan), A. A. Mayun Artati, SST., M.Sn (Penata Tari), I Gede Mawan, SSn (Penata Karawitan), I Nyoman Kariasa, SSn (Penata Karawitan), Ni Komang Sekar Marhaeni, SSP (Penata Pedalangan), I Kadek Rudi Astawa (Penabuh), I Kadek Junianta (Penabuh), I Made Trisna (Penabuh), I Made Gede Kariyasa (Vokal Pedalangan), Ni Nyoman Wahyu Adi Gotama (Penari), Ni Made Liza Anggara Dewi (Penari), I Wayan Wisnaya (Penari) dan I Kadek Sumiarta (Penari).
by admin | Aug 4, 2010 | Berita
Mataram- ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan seni terus berbenah untuk dapat melakukan pencitraan demi kemajuan lembaga. Salah satu fondasi untuk mewujudkan hal tersebut adalah memberdayakan Humas. Guna mengetahui perkembangan terkini terkait kebijakan-kebijakan pemerintah, Humas ISI Denpasar untuk yang kesekian kalinya telah mengikuti Pertemuan Tahunan Tingkat Nasional Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) Pemerintah Tahun 2010. Pada tahun ini pertemuan kehumasan tersebut dilaksanakan di The Santosa Villas & Resort Senggigi Lombok, Mataram, pada 28-29 Juli 2010. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan layanan informasi humas pemerintah kepada masyarakat, bertemakan “Penguatan Kelembagaan Humas Pemerintah dalam rangka Implementasi Layanan Informasi kepada Masyarakat di Era Keterbukaan Informasi”. Pertemuan ini dibuka oleh Menkominfo dalam hal ini diwakili oleh Dirjen SKDI Kemkominfo (Bambang Subijantoro), yang diawali dengan sambutan Gubernur NTB, KH. M. Zainul. Serta dihadiri dengan beberapa nara sumber a.l: Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Kepala Pusat Pelaporan & Analisis Transaksi Keuangan, Anggota Komisi Informasi Pusat Ketua Bakohumas serta beberapa pejabat lainnya. Selain itu juga kegiatan ini juga untuk meningkatkan koordinasi humas-humas pemerintah untuk mensinergikan program-program kerja dan pelancaran arus informasi antar pusat dan daerah atau sebaliknya.
Peserta pertemuan tahunan tersebut diikuti oleh 160 instansi dengan jumlah peserta hingga 600 orang, yang terdiri dari Praktisi/Pejabat Humas, Kementerian/Instansi Tingkat Pusat/BUMN dan Pemerintah Daerah Seluruh Indonesia, Humas Perguruan Tinggi Negeri Seluruh Indonesia, serta Anggota Bakohumas Pusat.
Pada pertemuan tersbut diakhiri dengan malam keakraban serta pengumuman dan penganugrahan media humas. Adapun kategori media yang dilombakan adalah Penerbitan Internal, Profile Lembaga Cetak, Profile Audio Visual, Laporan Tahunan Cetak, Merchandise Utama serta Website. Dari kategori tersebut ISI Denpasar mengikuti 2 kategori yaitu Profile Lembaga Cetak serta Website. ISI Denpasar yang bersaing dengan 23 Perguruan Tinggi di Indonesia mampu masuk nominasi (lima Besar) sebagai nominator kategori website. Pemenang pertama diraih oleh Universitas Indonesia, kedua Universitas Brawijaya, ketiga Universitas Jember, dan nominatornya yaitu Universitas Negeri Malang serta Institut Seni Indonesia Denpasar. Dari keikut sertaan ini ISI Denpasar adalah satu-satunya Perguruan Tinggi Seni yang lolos dan mengikuti ajang bergengsi ini.
by admin | Jul 30, 2010 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Nomor : 1482/I5.12.1/DT/2010
tentang
Pembayaran SPP, Registrasi dan Perkuliahan Mahasiswa
Semester Ganjil Tahun Akademik 2010/2011
Diumumkan kepada seluruh mahasiswa ISI Denpasar, sebagai berikut .
A. Pembayaran SPP
1. Pembayaran SPP untuk semester GANJIL tahun akademik 2010/2011 mulai tanggal 9 ~ 20 Agustus Tahun 2010 melalui BRI di seluruh Bali pada setiap hari kerja.
2. Slip/Kwitansi Pembayaran SPP dapat diambil di bagian keuangan ISI Denpasar
3. Rincian dan besarnya SPP persemester sebagai berikut:
a) Mahasiswa sebelum angkatan 2003/2004, sebesar Rp. 300.00,- (tiga ratus ribu rupiah);
b) Mahasiswa angkatan 2003/2004, sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah);
c) Mahasiswa angkatan 2004/2005 dan 2005/2006, sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah);
d) Mahasiswa angkatan 2006/2007 dan 2007/2008, sebesar Rp. 700.000,- (tujuh ratus ribu rupiah);
e) Mahasiswa angkatan 2008/2009 dan 2009/2010, sebesar Rp. 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah).
f). Mahasiswa Mutasi Program Studi/Pindahan besarnya SPP disesuaikan dengan tahun ankatan pada saat diterima sebagai mahasiswa Pindah Program Studi /Pindahan dari Perguruan Tinggi Lain.
4. Mahasiswa yang membayar SPP lewat dari batas ketentuan point 1 di atas (yang membayar dari tanggal 23 ~ 31 Agustus 2010), dikenakan denda 25% dari jumlah SPP yang dibayar.
5. Apabila telah lewat dari ketentuan point 4 di atas belum membayar SPP tanpa alasan yang jelas, mahasiswa bersangkutan tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan dan yang bersangkutan dinyatakan mengundurkan diri.
B. Pengambilan KRS dan Registrasi Mahasiswa
Pengambilan KRS dapat dilakukan setelah melakukan Registrasi semester GANJIL 2010/2011 yang dilakukan mulai tanggal 9 ~ 20 Agustus 2010 pada Sub. Bagian Akademik BAAKK ISI Denpasar dengan ketentuan :
1. Menyerahkan Bukti Pembayaran SPP sebagai berikut:
- 1 (satu) lembar di sub bagian akademik BAAKK;
- 1 (satu) lembar di sub bagian keuangan BAUK;
- 1 (satu) lembar pada Tata Usaha Fakults masing-masing.
C. Pengisian KRS dan Perkuliahan
1. Pengisian KRS dilakukan sejak tanggal pengambilan KRS dengan konsultasi melalui PA masing-masing;
2. Perkuliahan mulai 6 September 2010
D. Kartu Tanda Mahasiswa
- Mahasiswa yang telah membayar SPP dinyatakan terdaftar sebagai mahasiswa dan berhak memperpanjang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dengan menyerahkan KTM di Sub. Bagian Akademik BAAKK pada saat registrasi akademik/pengambilan KRS;
- KTM berlaku selama delapan semester dan atau dapat diperpanjang selama mahasiswa terdaftar sebagai Mahasiswa ISI Denpasar dan registrasi KTM dilakukan setiap semester dengan menyerahkan KTM untuk diberi tanda legalitas.
- Bagi Mahasiswa yang belum memiliki KTM dapat mengajukan permohonan pada Sub. Bagian Kemahasiswaan BAAKK dengan mengisi blanko permohonan KTM dilengkapi Foto warna ukuran 2×3 cm dan biaya administrasi Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah)
Demikian untuk maklum
Denpasar 29 Juli 2010
an. Rektor
Pembantu Rektor I,
Drs. I Ketut Murdana, M.Sn.
NIP. 195712311985031009
Tembusan:
1. Rektor ISI Denpasar sebagai Laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain
4. Biro Administrasi Umum dan Keuangan
5. Kepala BRI Cabang Renon Denpasar
by admin | Jul 29, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Dr. Yasraf Amir Piliang MA
Om Swastiastu
Salam Sejahtera untuk Kita Semua
Bapak Rektor yang saya muliakan, Bapak/ibu Anggota Senat dan Guru Besar yang saya hormati, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari, para wisudawan dan para hadirin semuanya yang saya cintai. Pada kesempatan yang berbahagia ini, dalam rangka acara Dies Natalis dan pelepasan para wisudawan Institut Seni Indonesia tahun 2010 ini, izinkanlah saya menyampaikan sebuah pidato ilmiah yang berjudul “Pendidikan Tinggi Seni dalam Dinamika Industri Kreatif serta Perannya dalam Membangun Karakter Bangsa”.
Dalam dekade terakhir ini ‘industri kreatif’ (creative industry) dan ‘ekonomi kreatif’ (creative economy) menjadi isyu yang hangat dibicarakan di dalam berbagai acara seminar, simposium, dan diskusi-diskusi, baik dalam skala nasional maupun internasional. Isyu ini menjadi perhatian tidak saja di kalangan pemerintah, para pelaku ekonomi dan industri, para seniman dan desainer, akan tetapi juga kalangan pendidikan tinggi, khususnya pendidikan tinggi seni. Ada spirit bersama yang ingin dibangun, yaitu spirit untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam kancah persaingan global melalui kekuatan industri kreatif. Industri kreatif menjadi sebuah tumpuan baru dalam pembangunan nasional.
Dalam rangka pengembangan industri kreatif dan ekonomi kreatif nasional, pemerintah diwakili Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian telah melakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan industri kreatif, melalui berbagai seminar, konferensi, pelatihan, workshop, dsb. Pemerintah juga berinisiatif membentuk Komisi Inovasi Nasional, sebagai bagian dari langkah untuk meningkatkan daya kreativitas dan inovasi nasional. Industri kreatif kini dianggap sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, dan sebuah strategi untuk bersaing dalam kancah persaingan global.
Berkaitan dengan pembangunan kekuatan industri kreatif itu, pendidikan tinggi seni memiliki peran yang sangat sentral di dalamnya, karena kreativitas dan inovasi merupakan ‘ruh’ dari seni itu sendiri, dan cara kerja kreatif merupakan cara kerja utama dalam aktivitas seni. Akan tetapi, peran sebagai ‘motor’ kreativitas dan inovasi ini hanya dapat direalisasikan bila pendidikan tinggi mampu mengelola sumberdaya dan modal yang ada secara optimum. Pendidikan tinggi seni harus mampu membangun sebuah lingkungan akademis yang sehat agar dapat mendorong tumbuhnya karya-karya kreatif dan produk-produk inovatif, untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Kreativitas dan Budaya Inovatif
Kreativitas merupakan kapasitas khusus individu atau kelompok, yang mampu mengekspresikan bentuk tak biasa, ide segar, gagasan baru, karya orisinil, terobosan dan pikiran-pikiran mencerahkan. ‘Inovasi’ adalah ‘produk’ kreativitas, berupa ide baru, pengenalan ide baru, penemuan, pengenalan penemuan, ide yang berbeda dari bentuk-bentuk yang ada, pengenalan sebuah ide yang mengganggu kebiasaan umum. Inovasi dapat berupa inovasi bentuk, fungsi, teknik, material, bahasa, manajemen atau pasar. Industri kreatif berarti industri yang mampu menghasilkan bentuk tak biasa, ide segar, gagasan baru atau karya orisinil untuk kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Tinggi Seni dalam Dinamika Industri Kreatif dan Perannya dalam Membangun Karakter Bangsa Selengkapnya
by admin | Jul 28, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun*
A PENDAHULUAN
Awal pembicaraan naskah ini, izinkan penulis mengawali dengan ucapan terimakasih kepada lembaga ISI Denpasar yang telah memberikan kesempatan sebagai pembicara pada seminar dalam rangka diesnatalis VII. Selanjutnya, awal pembicaraan mengenai tema tentang “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui industry kreatif kita membangun karakter bangsa”. Pada zaman gelobal dengan media komunikasi yang serba canggih membongkar pikiran setiap manusia, gaya hidup, dan perilaku masyarakat. Orang begitu cepat terpengaruh media komunikasi dunia maya menyebabkan prilaku dan pola pemikiran masyarakat menjadi berubah. Hal inilah yang secara nyata terjadi di kehidupan sosial masyarakat saat ini. Pendidikan karakter bangsa sudah waktunya dianalisa kembali agar selaras dengan perkembangan dunia global sehingga mampu menumbuhkan industri kreatif yang dapat menghantar semua insan di dunia untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kreatif .Kreatif dalam pengertian selalu ingin mencoba dan berbuat yang baru dalam semangat modivikasi sesuatu yang berguna. Industri kreatif salah satu aktivitas yang kaya akan kemunculan ide-ide dan inovasi baru dalam berbagai bidang. Topik ini dikemukakan untuk mengetahui nilai-nilai budaya lokal yang berkembang menjadi produk-produk industri kreatif di Bali serta proses transformasi yang mengiringnya. Masyarakat Bali dalam kenyataannya berbasis nilai budaya adiluhung, yang mewujud dalam berbagai komponen dalam sektor industri kreatif. Untuk konteks Bali, keberadaan modal budaya ini didukung oleh keberhasilan industrialisasi pariwisata dalam beberapa dasawarsa terakhir yang menjadi tata perekonomian baru masyarakatnya. Hubungan antara nilai budaya lokal dan industri kreatif di Bali mendapat tempat dan momentupnya dengan dicanangkannya Tahun Indonesia kreatif 2009.
Kini muncul fenomena ekonomi baru “gelombang keempat” dalam peradaban manusia yang ditandai oleh keberadaan kebudayaan sebagai modal yang harus dikelola, diciptakan dan menjadikannya sumber kesejahteraan baru bagi manusia. Dalam Draft Pokok-pokok Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 disebutkan, dalam upaya menanggapi arus deras gelombang ekonomi keempat ini, Pemerintah RI telah meluncurkan cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia, yakni konsep ekonomi baru berorientasi pada kreativitas budaya serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia sampai tahun 2030. Landasan utama industri kreatif adalah sumber daya manusia Indonesia yang akan dikembangkan sehingga mempunyai peran sentral dibanding faktor-faktor produksi lainnya. Penggerak industri kreatif adalah dikenal sebagai sistem tripel helix, yakni cendekiawan (intellectual), dunia usaha (business), dan pemerintah (government). Dalam cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia tersebut dicatat 14 cakupan bidang ekonomi kreatif, yakni (1) jasa periklanan, (2) arsitektur, (3) seni rupa, (4) kerajinan, (5) desain, (6) mode, (7) film, (8) musik, (9) seni pertunjukan, (10) penerbitan, (12) software, (13) TV dan radio, dan (14) video game. Tentu saja cakupan penelitian ini terkait dengan beberapa bidang ekonomi kreatif tersebut.
Mengacu pada fenomena di atas, maka Masalah yang mesti didiskusikan yakni Bagaimana menyikapi pendidikan karakter bangsa dalam menumbuhkan industri kreatif ? Bagaimana menumbuhkan industri kreatif tersebut? Apa langkah yang tepat sebagai insan bangsa yang beretika dan bermartabat? Apa peran sebagai insan seni dalam menumbuhkan industri kreatif? Upaya-upaya pengembangan industri kreatif ? Bagaimana peran lembaga ISI Denpasar dalam menumbuhkan industtri kreatif.
Begitu banyak masalah yang teridentivikasi, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang dapat disampaikan dan selebihnya tentu menurut penulis memerlukan suatu pengkajian lebih mengkhusus agar terkait dengan tema seminar ini, yang dapat nantinya terealisasikan dan memberikan sumbangan kepada bangsa, agar dapat memberikan daya kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan karakter bangsa dan terciptanya industri kreatif. Terkait dengan hal tesebut lebih mengkhusus akan dibahas sebagai berikut dalam naskah ini.
*Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun adalah dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Disain, Jurusan Seni Rupa Murni, Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia ISI Denpasar. Naskah ini dibacakan hari Kamis tanggal 22 Juli 2010 pada forum seminar akademik dalam rangka Diesnatalis VII ISI Denpasar, bertema “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui industry kreatif kita membangun karakter bangsa”.
Pendidikan Karakter Bangsa Dalam Menumbuhkan Industri Kreatif selengkapnya
by admin | Jul 27, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi.
I. Pendahuluan
Industri kreatif merupakan bagian dari ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif adalah wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumberdaya terbarukan. Ekonomi kreatif merupakan ekonomi evolusi tahap IV pasca ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi (Deperindag, 2008).
Konsep industri kreatif jika dikaitkan dengan seni pertunjukan pariwisata akan memperlihatkan adanya kesinambungan pembangunan dalam bidang kesenian. Seni pertunjukan yang ditampilkan masyarakat Bali untuk pariwisata adalah wujud industri kreatif masyarakat setempat dalam mengembangkan kehidupan berkeseniannya yang telah dilakukannya secara berkelanjutan. Hal itu dapat diamati dari keberadaan seni pertunjukan pariwisata daerah ini yang sesungguhnya sebagian besar merupakan kemasan, pengembangan dari bentuk-bentuk kesenian Bali (Bandem, 1996; Soedarsono, 1999; Dibia; 2000; Picard, 2006; Ruastiti, 2008).
II. Sekilas Tentang Perkembangan Seni Pertunjukan Pariwisata di Bali
Bali selain di kenal sebagai pulau dewata juga terkenal karena memiliki berbagai jenis kesenian dalam kebudayaannya. Salah satu unsur kebudayaan Bali yang sering dipergunakan sebagai daya tarik pariwisata adalah seni pertunjukan.
Pulau Bali telah dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1920-an (Nielsen, 1928 : 9-18). Bali yang ketika itu masih di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda dianggap kurang memiliki potensi ekonomi, namun Bali memiliki kebudayaan yang sangat unik yang kemudian mereka kembangkan sebagai daya tarik wisata Bali. Pemerintah kolonial Belanda ketika itu mempergunakan Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) mempromosikan Bali ke negara-negara Eropa (Tantri, 1965: 60-80).
Sejak dibukanya Bali sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan masyarakatnya mulai mengalami perubahan. Pendidikan yang diperoleh bagi sebagian warga masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda tampaknya secara perlahan-lahan telah memperluas wawasan mereka tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan. Dengan diberikannya peluang untuk mengenyam pendidikan membuat sebagian warga masyarakat Bali ketika itu mulai mengubah pola pikirnya, dari cara berfikir irasional menjadi rasional (Gde Agung, 1989: 313).
Sebagaimana dikatakan Piet (1933: 86-87), bahwa sejak datangnya wisatawan ke daerah ini, orang Bali mulai berfikir tentang “waktu adalah uang”. Itu artinya bahwa orang Bali ketika itu sudah mulai berfikir rasional. Meningkatnya pendidikan kiranya telah dapat mengubah cara berfikir seseorang dari irasional menjadi rasional, dan hal itu juga tampak pada kehidupan masyarakat Bali dalam berkesenian. Mereka mulai mempunyai gagasan untuk menyikapi peluang atas ramainya kunjungan wisatawan datang ke Bali.
Ramainya wisatawan berkunjung ke Bali mendorong masyarakat setempat kreatif menciptakan sesuatu yang dapat “bernilai tukar”. Giddens (1986) menyatakan bahwa “nilai tukar” berkaitan erat dengan “komoditi”. Komoditi mempunyai nilai ganda, di satu pihak mempunyai “nilai pakai” (use value), dan di pihak lainnya mempunyai “nilai tukar” (exchange value). Sedangkan masyarakat Bali dalam kaitan dengan pariwisata lebih menekankan pada nilai ekonomis. Hal itu dapat dilihat dari sikap masyarakatnya yang semenjak ramainya wisatawan berkunjung ke daerah ini mereka tampak lebih banyak memilih profesi yang terkait dengan industri pariwisata seperti menjadi pemandu wisata, membuka usaha biro perjalanan wisata, membuka penyewaan mobil, penyewaan rumah tinggal/hotel, menjual makanan, menjual cendramata, menyekolahkan putra-putrinya ke jalur profesi terkait dengan pariwisata, dan lain sebagainya.
Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali selengkapnya