M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Konsep Desain Interior I

Konsep Desain Interior I

Oleh: Olih Solihat Karso Dosen PS Desain Interior

Konsep desain interior adalah dasar pemikiran desainer didalam memecahkan permasalahan atau problem desain.Pengertian konsepm,enurut Peorwadarminta; bersal dari bahasa latin yaitu Conseptus yang berarti tangkapan. Secara subyektif; pencaharian konsep adalah kegiatan intelek untuk menangkap sesuatu, dan secara obyektif pencaharian konsep adalah sesuatu yang ditangkap oleh kegiatan intelek. Jadi konsep adalah hasil dari tangkapan manusia. Di dalam konsepterdapat tanda-tanda umum dari suatu benda atau hal.

Menurut Tatang M Amirin konsep adalah rancangan, pengertian, pendapat, paham,dan cita-cita yang telah ada dalam pikiran. Jadi konsep sebagai suatu sistem –yang terdiri dari sehimpunan unsur yang melakukan suatu kegiatan menyusun skema atau tata cara melakukan suatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai tujuan dan dilakukan dengan mengolah data guna menghasilkan informasi. Dari dua pendapat di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa konsep adalah gagasan yang memadukan berbagai unsur kedalam suatu kesatuan. unsur-unsur ini mungkin berupa gagasan, pendapat dan pengamatan.

Hambatam pembuatan konsep, sedikitnya ada tiga yaitu masalah komunikasi, kurangnya pengalaman, dan pembangkitan hirarki dari konespdasar ke proses pengertian tahap awal sampai aplikasi konsep.

Jenis-jenis Konsep

Konsep dapat mengacu pada beberapa pendekatan , seperti yang dikatakan Snyder, J.C dalam buku Introduction to Architecture, yaitu      :

  1. Analogi

Analogi; berasal dari bahasa yunani analogia yang berarti kiasan yang diperluas dalam arti logatnya adalah persesuaian. Bentuk penalaran dengan pengambilan kesimpulan. Seandainya dua hal sama dengan beberapa hal yang penting. Kedua hal itu juga akan sama dalam hal-hal tgertentu lainnya (Komarudin, 1993).

Konsep Desain Interior I Selengkapnya

Pemberian Penghargaan Harus Jadi Tradisi

Pemberian Penghargaan Harus Jadi Tradisi

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Nasional kembali memberikan penghargaan kepada para guru berprestasi, guru pendidikan luar biasa berdedikasi, guru daerah terpencil khusus berdedikasi. Penghargaan diberikan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, pada peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-65,  dan juga puncak acara Hari Pendidikan Nasional 2010, di Plaza Insani Kemdiknas, Jakarta, Rabu (18/08).

Hadir pada acara itu Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto, dan Direktur Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Hamid Muhamad, dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Menteri Nuh menyebutkan, ada satu pertanyaan apakah penghargaan-penghargaan seperti ini tidak menimbulkan diskriminasi/kastanisasi? “Tidak… tidak, tidak ada rasa diskriminasi dalam pemberian penghargaan, malah harus dijadikan tradisi di Kemdiknas. Kita ingin membangun budaya apresiasi positif kepada siapa pun yang berprestasi,” ucapnya.

Menurut Nuh, tanpa adanya pemberian penghargaan terhadap para peraih prestasi dalam menciptakan kreasi dan inovasi, dikhawatirkan akan mengurangi motivasi guru dan siswa. Kemampuan  guru dan siswa tidak selalu sama tetapi akan mempunyai nilai berbeda. “Untuk dapat mencapai prestasi memerlukan berbagai tantangan yang melalui seleksi, hingga memperoleh nilai terbaik dalam meningkatkan mutu pendidikan,” kata Nuh.

Mendiknas mengatakan, ada tiga hal yang dilakukan untuk membangun apresiasi positif. Ketiganya adalah budaya kerja keras, kompetitif, dan pola pikir positif (positive mindset).

Para peraih prestasi dari berbagai provinsi meliputi guru dan siswa prestasi tingkat nasional TK serta SD, SMP,SMA/SMK, guru pendidikan luar biasa, guru daerah khusus, peraih olimpiade, hasil ujian nasional tertinggi, karya tulis ilmiah, dan kursus.  Mereka semua memperoleh hadiah dari Kemdiknas. Insan berprestasi yang hadir adalah siswa berprestasi 95 orang, pendidik dan tenaga kependidikan 550 orang, mahasiswa dan dosen 42 orang, lembaga kursus 20 orang, unit kesehatan sekolah yang berprestasi 60 orang, para pemenang karya tulis ilmiah media swara 20 orang, arsiparis 12 orang, pelayan publik terbaik di Kemdiknas 10 orang, dan karya jurnalistik 29 orang. (ali)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/19/penghargaan.aspx

Pendidikan Karakter Dikembangkan Melalui Tindakan

Pendidikan Karakter Dikembangkan Melalui Tindakan

Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menjelaskan bahwa permasalahan yang hadir di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, tindak anarkis dan lainnya, menjadi latar belakang mengapa pendidikan karakter perlu dilaksanakan.

Pada dasarnya,  pendidikan karakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan yang tercantum pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini menyebutkan, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

” Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan,” ujar Fasli, seminar bertajuk “Tadarus Kebangsaan Ramadhan 1431 H. Reorientasi Nasionalisme Kita: Berharap Pada Pendidikan Karakter, Mungkinkah ?”  yang selenggarakan Maarief Institute, pada 18 Agustus lalu.

Fasli menekankan, pendidikan karakter pada implementasinya, tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku, melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam proses belajar. Karena itu, dia menghimbau agar setiap lembaga pendidikan membiasakan pendidikan karakter dalam kesehehariannya, sehingga dapat menciptakan budaya sekolah yang berkarakter.

Peserta seminar memang banyak menanyakan arah yang akan digapai dari pendidikan karakter. Acara yang diadakan menjelang buka puasa ini, bertempat di Ruang Aula Besar PP Muhammadiyah Jakarta. Selain Fasli, turut hadir sebagai pembicara pemerhati pendidikan karakter, Ratna Megawangi dan pakar psikologi sosial Yahya Khisbiyah.

Pada akhir paparannya, Fasli menjelaskan bahwa pendidikan karakter telah ada dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. Nilai-nilai sportivitas dan kreativitas dapat tercermin dalam mata pelajaran olah raga, sedangkan nilai keuletan dan ketelitian dapat diperhatikan pada mata pelajaran matematika. “Mengenai moral tentunya sudah menjadi domain pendidikan agama. Apabila aktualisasi mata pelajaran ini benar, maka sudah berhasillah pendidikan karakter tersebut,” ujar  mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Sumber Daya Pendidikan ini.

Adapun Ratna Megawangi menyatakan, diperlukan pengetahuan tambahan bagi para pendidik dan tenaga pendidik mengenai teori-teori pendidikan, untuk menjalankan pendidikan karakter. Hal ini menurut Ratna akan menjadikan para pelaku pendidikan memahami proses pendidikan melalui tahapan watak peserta pendidik.

Selebihnya, Ratna pun menegaskan bahwa inti dari pendidikan karakter adalah, mengajarkan bagaimana para peserta didik memahami nuraninya sendiri.

Sedangkan Yayah Khisbiyah mengatakan, pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. Pendidikan karakter ini perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta Tanah Air. Karena itu, Yayah menyarankan agar pendidikan karakter ini disinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan. (yogi)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/19/karakter.aspx

Kemerdekaan Melalui Pendidikan Karakter

Kemerdekaan Melalui Pendidikan Karakter

Kira-kira demikianlah kesimpulan yang dapat diambil dari sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada saat memimpin pelaksanaan upacara peringatan bendera 17 Agustus 2010, bertempat di halaman Kantor Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) kemarin. Mendiknas, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh mengatakan, “merebut kemerdekaan memang harus dengan pengorbanan. Demikian juga dengan upaya mengisi kemerdekaan yang menjadi tugas kita bersama, juga perlu dan butuh pengorbanan.”

Pada kesempatan hari itu Mendiknas mengajak kepada keluarga besar Kemdiknas untuk menjadikan cermin dari apa yang telah dilakukan para pejuang dan pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, agar dapat bersama-sama mengisi nikmat kemerdekaan yang telah diperoleh dengan lebih baik dan sungguh-sungguh. “Hal itu dapat tercermin dari hasil kerja kita masing-masing”, ujarnya.

Mendiknas mengingatkan kembali tentang peran dan tanggung jawab Kemdiknas di dalam pembangunan dan pendidikan karakter. “Mengapa karakter itu penting ? Karena karakter itu ibarat “ruh” dari manusia. Jika karakternya tidak benar, maka perilakunya juga tidak benar. Jasad tidak punya arti apa-apa jika tidak ada ruhnya, tidak ada jiwanya. Pendidikan karakter itu adalah ruhnya”, tegasnya.

Dalam penjelasannya Mendiknas mengakui pembangunan karakter tentu bukan hanya tugas dunia pendidikan, melainkan tugas bangsa secara keseluruhan. “Saya ingin menegaskan, bahwa pendidikan karakter yang ingin dikembangkan bukan hanya diterjemahkan sebagai sopan santun. Tapi lebih dari itu, kita ingin membentuk karakter budaya yang menumbuhkan kepenasaranan intelektual (intellectual curiosity) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya yang inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan”, ucapnya. Selain itu menekankan ingin membangun school culture atau university culture. Dalam acara yang khidmat ini, Mendiknas berkesempatan menyematkan satya lencana kepada para pegawai yang telah berdedikasi untuk Kemdiknas.

Terkait dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-65 dan puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional, maka pada hari ini (18/8), Mendiknas beserta beberapa pejabat Eselon I dan Eselon II berkenan menerima dan memberi penghargaan bagi para insan pendidikan yang berprestasi dengan mengambil tajuk “Acara Penghargaan Peraih Prestasi Pendidikan”. Diantaranya yang diundang adalah Kepala Sekolah dan Pengawas berprestasi, pemegang hasil Ujian Nasional tertinggi dari tiap daerah dan beberapa stakeholders pendidikan yang dianggap berprestasi dan memacu orang lain untuk termotivasi dalam mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia.

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1637:kemerdekaan-melalui-pendidikan-karakter&catid=143:berita-harian

PTS Jangan Hanya Jualan Ijazah

PTS Jangan Hanya Jualan Ijazah

SEMARANG- Institusi pendidikan, dalam hal ini perguruan tinggi (PT) swasta di Indonesia, secara massal terus berkembang nyaris tanpa kendali.
Mereka memperlakukan murid sebagai bahan mentah yang diproses secara mekanistik untuk menghasilkan produk akhir yang bisa dijual. Selama ini aspek intelektualitas dan profesionalisme lebih ditekankan, ketimbang aspek moralitas dan etika.
Staf ahli Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) Prof Ir Eko Budihardjo MSc menilai, lembaga pendidikan lebih banyak berkutat tentang pemenuhan pasar dan industri daripada pengembangan karakter, kepribadian serta kearifan. Lebih disibukkan pula dengan urusan pencarian dana daripada mengembangkan ilmu yang autentik.
”Perguruan tinggi swasta menjamur luar biasa dalam empat tahun terakhir. Dari hanya 400 PT, kini sudah 3.000 lebih. Sementara PTN sekitar 84. Bayangkan berapa kali lipatnya. Belum lagi, masih banyak yang membuka PTS di ruko-ruko sederhana tanpa konsep jelas. Mereka sekadar jualan ijazah dan tidak ada bedanya dari proses yang berlangsung dalam pabrik,” jelas mantan rektor Undip tersebut, saat ditemui Suara Merdeka, kemarin.
Perubahan Paradigma Prof Eko mengungkapkan, perlu adanya perubahan paradigma pendidikan nasional yang pada hakikatnya adalah proses penemuan diri secara penuh. Sejak dua abad pertama dari revolusi industri, lanjut dia, pendidikan cenderung diarahkan pada peningkatan kemampuan baca-tulis dan berhitung untuk menghasilkan tenaga kerja terampil dalam menjalankan roda industri.
Ia mengungkapkan, pengembangan paradigma pendidikan nasional semestinya dikaitkan dengan falsafah pendidikan progresif yang ditekankan pada pentingnya peran serta aktif para pembelajar.
Dari lima aspek pengembangan pendidikan (sains, teknologi, ekonomi, etika, dan estetika) menurut Prof Eko, tiga aspek pertama lebih diutamakan. Padahal aspek etika yang menyangkut perilaku, kesantunan, dan keadaban sangat penting. Demikian pula estetika yang bertautan dengan keindahan sebagai produk dari aktivitas kreatif dan interaktif kurang memeroleh perhatian.
Akibatnya, lingkungan alam dan binaan yang semula selaras penuh keseimbangan menjadi rusak dan membahayakan kehidupan manusia. (J14,K3-75).

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/18/120815/PTS-Jangan-Hanya-Jualan-Ijazah

Kemendiknas Canangkan Prioritas Pendidikan

Kemendiknas Canangkan Prioritas Pendidikan

JAKARTA- Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengemukakan empat prioritas bidang pendidikan pada 2011.
Keempat prioritas itu terkait dengan urusan pendidikan dasar, pendidikan vokasi dan politeknik, percepatan doktor serta pendidikan anak usia dini (PAUD).
’’Pendidikan dasar menjadi prioritas utama pada 2011, termasuk urusan perbukuan dan lembar kerja siswa (LKS). Kita harapkan lunas pada 2011. Selanjutnya, pendidikan vokasi yaitu sekolah menengah kejuruan (SMK) dan politeknik diprioritaskan untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan,’’katanya dalam siaran persnya, Selasa (17/8).
Dengan pendidikan vokasi dan politeknik, lanjutnya, maka tenaga-tenaga kerja yang punya keterampilan dan keahlian telah siap. Mendiknas mengatakan, percepatan kualifikasi doktor di perguruan tinggi menjadi prioritas berikutnya. ’’Saat ini terdapat 23 ribu dosen yang berlatar belakang pendidikan doktor (S3) dari 270 ribu dosen. Jumlah tersebut hanya sekitar delapan persennya. Karena itu, sampai dengan 2014-2015 dapat ditingkatkan menjadi 20% atau 30 ribu,’’tandasnya.
Dia mengungkapkan, setiap tahun harus ada tambahan doktor baru di perguruan tinggi sekitar 5-6 ribu. Prioritas berikutnya, yaitu PAUD. Mendiknas menyebutkan, saat ini angka partisipasi kasar (APK) PAUD secara nasional mencapai 54%.
’’Pada daerah tertentu ada yang mencapai 70%. Karena itu, mulai 2011 PAUD juga kita genjot. Sesegera mungkin bisa kita antarkan mereka masuk sekolah dengan baik,’’ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mendiknas juga menyampaikan dua agenda utama yang harus segera diselesaikan. Yaitu implementasi pendidikan karakter secara utuh terintegrasi dan menyeluruh di seluruh jenjang pendidikan dan pemenuhan standar pelayanan minimum, terutama pendidikan dasar.
’’Hal itu sekaligus menyiratkan tentang pemerataan dan aksesibilitas,’’ tukasnya. (H28-75).

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/18/120813/Kemendiknas-Canangkan-Prioritas-Pendidikan

Loading...