by admin | Sep 28, 2010 | Berita
Di tengah-tengah kesibukan kampus dalam melakukan latihan persiapan “ngayah” sebagai implementasi pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi yang ketiga yaitu pengabdian masyarakat, upaya untuk mencapai visi ISI Denpasar untuk go internasional juga tetap dilakukan secara intensif. Sebelumnya rombongan kesenian ISI Denpasar telah diundang untuk pementasan tarian di Moscow, Senin, 27 September kemarin Fakultas Seni Pertunjukan jurusan Karawitan, menggelar kembali Seminar dan “Workshop” internasional yang bertajuk “ Surinamese-Javanese Music (Unfinished Gamelanmusic Transfer ) & Gambelan Gong Kebyar” dengan pembicara Harrie Djojowikromo, seorang Imigran asal Jawa generasi ketiga yang lahir dan menetap di Suriname, serta I Wayan Suharta, S.Skar., M.Si. dari Jurusan Karawitan ISI Denpasar. Seminar sehari yang dihadiri oleh sekitar 90 orang terdiri dari dosen, mahasiswa Jurusan Karawitan dan Pedalangan ini, sangat menarik sehingga mengundang demikian banyak pertanyaan dari mahasiswa.
Harrie mengatakan bahwa kehadirannya di kampus ISI Denpasar adalah untuk yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya pada tanggal 3 September 2008 dan tanggal 24 September 2009, Harrie yang sangat tertarik dan antusias melakukan penelitian Surinamese-Javanese Music ini juga menjadi pemakalah di kampus ISI Denpasar. Di sela-sela pemaparan makalahnya, Harrie menghimbau mahasiswa ISI Denpasar untuk tetap semangat dalam mempelajari serta melestarikan kebudayaan yang dimiliki Bali khususnya, Indonesia pada umumnya. Harrie sangat menyayangkan pudarnya eksisitensi Surinamese-Javanese music ini yang disebabkan kurangnya pengetahuan generasi muda di sana tentang musik, sehingga muncul kesan “suka-suka” dalam mempelajari gambelan tersebut. Jika kita tidak tahu budaya kita sendiri, bagaimana kita bisa ikut melestarikannya, tanyanya retoris. Pemakalah kedua, I Wayan Suharta membawakan paper yang merupakan hasil penelitiannya yang berjudul Signifikansi Bahasa Inggris dalam Proses Belajar Mengajar Gong Kebyar bagi Mahasiswa Asing dalam Upaya ISI Go Internasional.
Sebagai moderator sekaligus interpreter Ni Ketut Dewi Yulianti,S.S., M.Hum. menghimbau semua mahasiswa untuk bertanya dalam Bahasa Inggris, karena hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mencapai visi ISI Denpasar untuk go internasional, ujarnya. Antusiasme mahasiswa dan dosen dalam mengikuti seminar sehari ini tercermin dari pertanyaan dan masukan yang sangat qualified bagi kedua pemakalah, diantaranya muncul kekaguman salah satu mahasiswa akan upaya Harrie dalam melestarikan budaya masyarakat Jawa yang ada di Suriname, Amerika Selatan. Mahasiswa juga sangat antusias dengan pertanyaan tentang parameter untuk ISI Denpasar go internasional.
Pembantu Rektor IV, I Wayan Suweca, SSKar., M.Mus. yang membuka seminar dan workshop ini menyampaikan terima kasih kepada Harrie Djojowikromo yang telah membawakan makalahnya, serta kekagumannya pada semua mahasiswa yang telah mengikuti seminar dengan antusias dan menyampaikan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris. Atmosfir seperti ini hendaknya dipertahankan, bahkan ditingkatkan demi kemajuan serta kesuksesan kita bersama, ujarnya memaparkan.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Sep 27, 2010 | Berita
SEBAGAI perguruan tinggi seni berbasis keunggulan lokal (local genius) dengan kualitas bertaraf internasional, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar makin memantapkan komitmennya menggali potensi local genius Bali. Di bidang seni rupa/lukis, misalnya, salah satu potensi yang dinilai sangat layak untuk diangkat ke percaturan seni rupa dunia adalah lukisan wayang Kamasan, Klungkung yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan seni rupa Bali.
Untuk itu, ISI Denpasar menggelar Pelatihan Menggambar Wayang Kamasan mulai 22 September hingga 5 Oktober 2010. Pelatihan dengan instruktur Ni Wayan Sri Wedari, S.Sn. itu diikuti 20 orang peserta yang meliputi 15 orang dosen FSRD dan lima orang mahasiswa FSRD ISI Denpasar.
Ditemui seusai membuka pelatihan, Rabu (22/9) kemarin, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A. menegaskan lukisan wayang stil Kamasan sangat layak dijadikan salah satu unggulan termasuk dimasukkan sebagai salah satu materi kurikulum di FSRD ISI Denpasar. Pertimbangannya, lukisan wayang Kamasan merupakan salah satu khasanah kekayaan seni lukis Bali yang unik dan khas serta mencuatkan identitas ke-Bali-an yang sangat kental. ”Saya sangat berterimakasih kepada teman-teman di FSRD yang punya komitmen kuat untuk menjadikan lukisan wayang Kamasan sebagai salah satu program unggulan di FSRD dalam upaya terus meningkatkan diri menggali nilai-nilai kearifan lokal Bali,” katanya dan menambahkan, sejatinya banyak sekali ragam seni rupa khas Bali yang sangat berpeluang untuk digali, dilestarikan dan dikembangkan di FSRD ISI Denpasar.
Hal senada dilontarkan Dekan FSRD ISI Denpasar Dra. I Made Rinu, M. Si. Ditegaskan, FSRD ISI Denpasar punya kewajiban untuk melestarikan dan mengembangkan khasanah kekayaan seni rupa Bali yang dikemas dalam kurikulum pendidikan. Khusus lukisan wayang Kamasan, kata dia, sangat terkait dengan sejarah perkembangan seni rupa Bali sehingga seluruh mahasiswa FSRD wajib mengetahui dan memahami termasuk menguasai teknik seni lukis wayang Kamasan secara baik. ”Tak bisa dipungkiri, sejarah seni lukis Bali diawali dengan lukisan wayang klasik Kamasan, kemudian berkembang ke Ubud dengan seni lukisan gaya Ubud dilanjutkan dengan gaya Batuan, young artist dan terakhir seni lukis kontemporer,” katanya.
Dalam konteks pendidikan budi pekerti, kata dia, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita wayang yang merupakan intisari seni lukis wayang Kamasan juga sangat perlu untuk dilestarikan dan ditumbuhkembangkan kepada generasi muda Bali. ”Secara estetika dan artistik, lukisan wayang Kamasan memiliki nilai yang sangat tinggi. Melalui kegiatan pelatihan ini, kami berharap akan muncul generasi-generasi penerus yang melanjutkan kejayaan seni lukis wayang Kamasan,”ujarnya. (ian)
Sumber: http://www.balipost.com
by admin | Sep 27, 2010 | Berita, pengumuman
Pengumuman
Bersama ini kami sampaikan daftar nama mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang mengambil Tugas Akhir semester ganjil 2010/2011 beserta nama dosen pembimbing. Daftar dapat di download disini.
Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan. Terimakasih
Denpasar, 27 September 2010
Pembantu Dekan I
ttd
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP.19610706 199003 1 005
by admin | Sep 26, 2010 | Berita
Di bawah guyuran hujan yang membuat udara Desa Kramas, Blahbatuh, Gianyar semakin dingin , pada hari Jumat malam, tanggal 24 September kemarin Bondres Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang terdiri dari dosen jurusan Pedalangan I Gusti Sudarta dan Ni Wayan Suratni, serta seorang mahasiswa Pedalangan Dewa Putra Yadnya mengisahkan tentang pemerintahan Udayana Warmadewa, di Kerajaan Singamandawa, serta hasil pertemuan Mpu Kuturan tentang Pesamuan Tiga. Selain Bondress, Rombongan ISI Denpasar yang dipimpin ketua jurusan Karawitan I Wayan Suharta,S.Skar.,M.Si. ini juga mempersembahkan tari Selat Segara, Jauk Manis, Satya Brasta, serta Legong Kuntul.
Kegiatan “ngaturang ayah” yang merupakan kegiatan rutin sebagai wujud implementasi dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian Masyarakat ini melibatkan 25 orang penabuh dari jurusan karawitan, 18 orang penari dari jurusan Tari dan Pedalangan serta beberapa orang dosen dan pegawai. Para penari dan penabuh dengan antusias mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat Kramas. Hujan yang mengguyur saat pertunjukan, membuat para pemedek yang menonton merapat ke panggung indah yang bernuansa biru dan putih tersebut. Ni Ketut Yuliasih, SST., M.Hum., salah seorang dosen yang ikut serta dalam kegiatan ini mengatakan bahwa menurut panitia karya, minimnya masyarakat yang hadir saat itu disebabkan oleh kegiatan yang demikian padatnya sejak pagi hari, diantaranya “ngewaliang Ida Bhatara Pengrajeg Karya ke Besakih” hingga sore hari. Sebagian besar anggota masyarakat pasti kelelahan disamping juga cuaca yang sangat tidak bersahabat malam itu. Namun minimnya penonton dan hujan deras yang menyertai sepanjang pertunjukan tidak mempengaruhi semangat dan antusiasme mahasiwa dan dosen dalam “ngaturang ayah”, ujarnya.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen, pegawai, dan mahasiswa yang telah terlibat dalam kegiatan “ngayah” tersebut. Dalam beberapa hari mendatang, ISI Denpasar jug akan “ngaturang ayah” di beberapa daerah, seperti Ubud, Bangli, dan Nusa Dua. Mahasiswa dan dosen telah berlatih sejak beberapa minggu yang lalu. Di samping itu ISI Denpasar juga sedang mempersiapkan pentas seni spektakuler untuk HUT TNI ke-65 Oktober mendatang, kata Rai menjelaskan.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Sep 26, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Nyoman Wiwana, dosen PS Seni Rupa Murni
Seni Lukis Prasi Map of Bali (karya : Komang Joni Arta)
Seni lukis prasi karya Komang Joni Arta, mempunyai obyek yang lebih bebas lagi. Peta Pulau Bali yang di beri judul Map of Bali, benar-benar merupakan bentuk di luar seni pewayangan. Tetapi bila di lihat sepintas, peta gambar pulau Bali yang dibuatnya sepertinya bukan obyek yang baru, karena secara keseluruhan masih kelihatan Bali. Memang si seniman pada dasarnya membuat seni lukis yang mengesankan tradisi dengan memadukan obyek utama yakni Pulau Bali bersama ornamen khas Bali. Secara kesaluruhan terlihat kesenian Bali atau lukisan Bali.
Bentuk yang berbeda, tidak seperti seni lukis prasi pada umumnya, membuat kesenian ini menjadi kelihatan berkembang mengikuti perubahan zaman. Namun di sisi lain masih kelihatan tetap eksis, terbukti sangat digemari oleh tamu Mancanegara. Demikian, bila tanpa kita ketahui sebelumnya sudah tentu kita menganggap bukan bentuk baru. Lihat foto di bawah ini.
Bentuk peta pulau Bali yang ditampilkan kelihatan serasi dengan ornamen dan tulisan sebagai pendukungnya. Dan yang istemewa lagi ukuran dibuat 20 x 20 cm, dapat dilipat karena pakai tali, sehingg sangat mudah dibawa. Peta pulau Bali disenangi oleh turis Mancanegara karena mempunyai fungsi ganda, yaitu disatu sisi berfungsi sebagai peta, dan disisi lain bisa digunakan sebagai hiasan. Para tamu biasa membeli lebih dari satu untuk dibawa pulang kenegaranya sebagai soupenir.
Seni Lukis Prasi Arjuna Wiwaha (karya : I Nyoman Kanta)
Karya seni luklisa prasi yang dibuat oleh I Nyoman Kanta, menampilkan cerita Arjuna Wiwaha. Arjuna Wiwaha merupakan cerita yang populer di dalam kehidupan berkesenian di Bali. Bentuk seni pewayangan yang ditampilkan merupakan bentuk yang sudah umum dalam tema lukisan tradisional Bali. Menjadi berbeda karena diterapkan di atas daun lontar.
Bentuk Seni Lukis Prasi II Selengkapnya
by admin | Sep 25, 2010 | Berita
JAKARTA — Metode pendidikan Indonesia yang mengutamakan pemberian nilai buruk pada siswa sebagai salah satu bentuk hukuman menjadikan anak-anak Indonesia yang cerdas menjadi tidak percaya diri. Padahal, seharusnya sistem pemberian nilai yang tepat ialah memberikan nilai sebagai wujud memberi semangat, seperti yang dilakukan di negara maju.
Hal itu diungkapkan Prof Rhenald Kasali, PhD, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), di sela-sela acara Education Fair SMA Kanisius, Jakarta, Kamis (23/9/2010).
Menurut Rhenald, keadaan ini masih terus berlaku di Indonesia. “Sampai hari ini dosen atau guru masih melakukan seperti itu. Jadi, kalau orang enggak bisa, enggak dibantu cari jalan keluarnya, tapi malah dibikin jadi panik, dibuat makin tidak mengerti dengan dikasih nilai jelek. Rasanya ada kebanggaan jadi dosen killer,” katanya.
Rhenald melanjutkan, di luar negeri justru kebalikannya. “Di negara maju (Amerika), anak saya bahasa Inggrisnya jelek justru dikasih nilai exellent. Tujuannya mendorong memberikan kesempatan sehingga akhirnya dia menjadi lebih percaya diri. Metode mereka (sekolah luar negeri) ialah orang di-encourage supaya bersemangat dan akhirnya mau menjadi exellent,” katanya.
Apabila Indonesia menerapkan metode ini, dampaknya sangat besar bagi murid karena mereka akan menjadi lebih percaya diri. “Sebenarnya anak-anak kita pintar, cuma tidak punya rasa percaya diri karena yang nilainya A kan hanya 5 sampai 6 persen, sementara yang 90 persen nilainya rata-rata,” kata Rhenald.
Kondisi ini tidak terlepas dari perilaku dosen atau guru di Indonesia yang menerapkan metode model penjajah. “Perilaku dosen atau guru-guru di Indonesia terjadi karena belajar dari dosen-dosen sebelumnya, model penjajah bahwa anak itu bodoh, anak itu tertindas,” katanya.
Selain itu, banyak orang menjadi guru atau dosen bukan karena panggilan diri, melainkan karena tidak punya pilihan dalam hidup. “Dengan begitu, ketika mereka menjadi guru atau dosen, mereka menjadi cenderung sangat berkuasa. Karena juga dibayar rendah, mereka merasa dirinya berkuasa. Ketika muridnya ternyata kurang cerdas, mereka cenderung ingin menghukum dan menendang ke luar kelas. Mereka hanya bangga pada mereka yang mendapat nilai A,” papar Rhenald.
Menurut Rhenald, keadaan itu bisa diubah dengan seleksi ulang bagi para guru. “Harus ada seleksi ulang bagi para guru, jadi ada penataran atau pelatihan sehingga modal menjadi guru tidak hanya mengacu pada hard skill, tetapi soft skill-nya juga,” ujarnya.
Yang dimaksud soft skill, lanjut Rhenald, adalah motivasi, penggilan hidup sebagai tenaga pendidik, dan keinginan untuk mengembangkan orang lain. “Tidak hanya memandang dari segi akademisnya. Jadi, harus ada penilaian pada behavioral competencies,” tambah Rhenald.
Sumber: http://edukasi.kompas.com