M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kementrian Luar Negeri Kunjungi ISI Denpasar

Kementrian Luar Negeri Kunjungi ISI Denpasar

Kementrian Luar Negeri RI kembali akan melaksanakan “Bali Democratic Forum” (BDF) yang ke-3 pada bulan Desember 2010 mendatang. Seperti tahun sebelumnya, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar  kembali mendapat undangan untuk berpartisipasi dalam acara kenegaraan tersebut dengan pementasan tari-tarian, paduan suara, seni lukis, dan juga kriya. Direktur Kerjasama Teknik Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik , Siti N. Mauludiah hari ini, Rabu 13 Oktober 2010 mengunjungi kampus ISI Denpasar guna membahas rangkaian acara pada BDF ke-3 mendatang. Siti beserta rombongan diterima langsung oleh Rektor didampingi para Pembantu Rektor ISI Denpasar. Usai perbincangan tentang program studi yang ada di kampus ISI Denpasar, rombongan menyempatkan diri menyaksikan secara langsung Penabuh Asti Pertiwi yang sedang melaksanakan latihan persiapan untuk pentas mengiringi siswa SLB pada acara pembukaan Nusa Dua Fiesta tanggal 15 Oktober lusa. Selain itu rombongan juga mengunjungi pameran seni lukis, dan kriya serta menyaksikan langsung mahasiswa ISI Denpasar maupun mahasiswa asing yang sedang memahat.

Siti dengan tulus mengungkapkan kekagumannya akan kampus ISI Denpasar. Beberapa lukisan, foto, patung dan karya seni mahasiswa lainnya sangat menarik perhatiannya. “Saya sangat kagum dan bangga dengan semua aktifitas kampus ini. Semua yang ada sangat menarik dan mempunyai nilai seni yang sangat tinggi. Saya juga sangat berterima kasih atas kerjasama yang telah terjalin baik selama ini, dan saya yakin ISI Denpasar akan menampilkan yang terbaik pada BDF ke-3, Desember mendatang,”paparnya. BDF ke-3 yang merupakan senior official meeting yang rencananya akan dilaksankan dari tanggal 9-10 Desember 2010 di hotel Westin Nusa Dua akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono,  para Menteri serta undangan dari 30 Negara dari seluruh dunia. Dalam acara tersebut ISI Denpasar diminta untuk menampilkan beberapa tarian dengan penabuh Asti Pertiwi, paduan suara, pameran seni lukis dan juga patung.

Rektor ISI Denpasar, Prof.I Wayan Rai S.,M.A. mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas kepercayaan yang diberikan Kementrian Luar Negeri khusunya dari Kerjasama Teknik Direktorat Jendral Informasi dan Diplomasi Publik kepada ISI Denpasar untuk menampilkan karya seni dalam acara Bali Democratic Forum ke-3 mendatang. Kesempatan emas tersebut merupakan penghargaan yang sangat tinggi bagi ISI Denpasar. Rai berjanji akan mempersiapkan semuanya dengan seksama sesuai dengan tema acara dan permintaan dari Kementrian Luar Negeri. Event tersebut juga merupakan ajang implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Masyarakat. ”Kesempatan emas ini adalah ajang dosen dan mahasiswa ISI Denpasar untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan negara, sebagai upaya meningkatkan apresiasi terhadap seni dan budaya yang menjadi kekayaan Bangsa Indonesia,”harapnya.

***dy*** Humas ISI Denpasar melaporkan

Karajinan Pigura Kaca dan Cendera Mata di Desa Pengosekan

Karajinan Pigura Kaca dan Cendera Mata di Desa Pengosekan

Oleh: Gusti Agung Jaya CK, Dosen PS Kriya Seni

Berbarengan dengan meroketnya kerajinan ayaman rontal (basket) pada tahun 1980-an berkembang kerajinan pigura kaca. Seni kerajinan pigura kaca merupakan transformasi seni lukis fauna-flora gaya pengosekan pada media kayu. Munculnya kerajinan ini berawal dari seorang antropologi asal Amerika bernama Joose adalah teman I Dewa Nyoman Batuan yang menginap dirumahnya. Selagi melukis  Batuan didatangi oleh temannya, oleh karena di dalam kamarnya tidak ada kaca cermin. Joose minta agar kamarnya dilengkapi kaca cermin dengan bingkai dari kayu berukir.

Sebagai seorang seniman yang kreatif dan kaya akan ide-ide baru,Batuan mendesain bingkai kaca untuk temannya. Desain tersebut memakai hiasan flora-fauna  mirip lukisan gaya pengosekan yang dicetuskan oleh Dewa Made Kawan. Dalam mewujudkan bingkai kaca ini Batuan dibantu  oleh 2 (dua) orang tukang togog (pematung) bersaudara. Meraka  adalah I Wayan Meja dan I Made Meji tukang togog yang khusus membuat togog bedahulu. Setelah pigura kaca itu jadi, Batuan memperlihatkan dengan Joose sembari memasangkan dikamarnya. Ternyata Joose sangat senang dengan pigura kaca cermin yang bermotifkan flora-fauna itu.

Semenjak itu, Batuan manyuruh tukangnya membuat 20 samapai 30 pice untuk di pajang di studio lukisnya. Setiap tamu yang datang mengunjungi studionya, disamping menikmati lukisan, mereka sangat tertarik dan membeli 2 sampai 3 pice pigura kaca yang bermotif hiasan alam flora-fauna itu, usai mengapresiasi karya-karyanya. Model pigura kaca yang dicetuskan  Batuan bentuknya dapat dilihat pada gambar di bawah, yang mempresentasikan kehidupan pada alam fauna-flora. Burung kakak tua hadir bercanda hinggap pada dahan  nyiur seolah merayakan pertemuan yang berbahagia. Daun nyiur yang berwana hajau serta kembang sepatu yang sedang mekar di bawahnya isyarat kesuburan alam memberika kesan kedamaian, dan ketenangan. Dilahat dari bentuknya  yang terpola dalam segi empat nampak teresan kaku, tetapi imbangi dangan permainan garis pada bagian sisi atas menjadikan bentuk itu enak dipandang dan tidak kaku ketika dipasang pada dinding.

Karajinan Pigura Kaca di Desa Pengosekan, selengkapnya

PP 66 Diberlakukan Awal Tahun

PP 66 Diberlakukan Awal Tahun

BALIKPAPAN – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menegaskan,seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) wajib menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) 66 pada Januari 2011.
Mendiknas mengatakan, bulan ini hingga Desember 2010,Kemendiknas akan terus melakukan sosialisasi kepada PTN di Indonesia. Bentuknya, bisa dalam diskusi ataupun penjelasan langsung mengenai substansi PP 66 tahun 2010 mengenai Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan tersebut. Seperti diberitakan, pemerintah melalui Kemendiknas telah menerbitkan PP 66 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan. PP ini merupakan aturan pengganti atas ditolaknya Undang-Undang (UU) BHMN oleh Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu.
Selain sosialisasi, Kemendiknas sedang menyusun peraturan menteri (permen) yang berisi petunjuk teknis atas PP 66 yang ditandatangani presiden pada 28 September 2010 tersebut. Setelah perguruan tinggi membaca permen tersebut,maka tidak akan ada lagi perbedaan pendapat maupun penolakan. ”Umur PP ini masih baru, jadi wajar kalau ada penolakan. Kami akan terus sosialisasi dan memberikan pemahaman,”tegas Nuh seusai menghadiri seminar pendidikan karakter di Balikpapan kemarin. Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika ini mengatakan, isi permen tersebut akan mengatur mengenai bagaimana sistem penerimaan mahasiswa sebesar 60% melalui seleksi nasional.
Permen tersebut, jelasnya, masih memberikan kuota kemandirian bagi perguruan tinggi untuk membuka seleksi penerimaan sendiri. Menurut Mendiknas, sebenarnya penerimaan mahasiswa sebesar 60% itu akan menghapus kesenjangan ekonomi dan membuka lebar pintu kesempatan bagi mahasiswa miskin agar dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Nuh menyatakan, permen tersebut juga akan mengatur mengenai mekanisme pemberian beasiswa miskin sebesar 20%. Sebelumnya, sejumlah PTN BHMN menolak keberadaan PP 66 tahun 2010 tersebut.Ketua Satuan Tugas dari Sekretariat Gabungan Tujuh PTN BHMN Ari Purbayanto mengatakan, penolakan ini didasari karena terlalu mencampuri otonomi penuh kampus.
Perguruan tinggi tidak akan dapat mandiri lagi karena segala petunjuk teknis operasional diatur langsung oleh pemerintah. Dua poin yang ditentang oleh PTN BHMN ini,ungkapnya,adalah kewajiban perguruan tinggi negeri menerima sebanyak 60% mahasiswa baru melalui penjaringan secara nasional.Menurut dia,aturan tersebut dinilai tidak sinkron dengan kenyataan saat ini. Sebab, banyak perguruan tinggi negeri yang menerima mahasiswa baru melebihi kuota itu. Dia mencontohkan, Institut Pertanian Bogor (IPB), saat ini sudah menerima 80% mahasiswa lewat Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).
Selain itu,ketujuh PTN BHMN yang terdiri atas IPB, Universitas Indonesia (UI),Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Sumatera Utara (USU), dan Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR) juga menolak tata cara pengelolaan keuangan dengan sistem Badan Layanan Umum (BLU). Menurut dia, perguruan tinggi tidak bisa dipaksakan untuk menerima BLU seperti yang berlaku di lembaga lain seperti rumah sakit. (neneng zubaidah)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/356432/

RAPAT PERSIAPAN WORKSHOP NASIONAL SPESIALISASI

RAPAT PERSIAPAN WORKSHOP NASIONAL SPESIALISASI

Rapat persiapan Pelaksanaan Workshop Spesiaslisasi Bertarap Nasional Selasa, 12 Oktober 2010 di ruang sidang FSRD ISI Denpasar di hadiri oleh staf panitia pelaksana Workshop dalam rangka mempersiapkan dan pembagian Tugas dari masing-masing staf panitia.

Dari Hasil Rapat, Workshop Spesialisasi akan dilaksanakan di Kampus ISI Denpasar selama 4 hari mulai dari tanggal 21, 22, 25 dan 26 Oktober 2010 yang dilaksanakan oleh civitas akademika Dosen dan Mahasiswa semester V dari 5 Program Studi FSRD ISI Denpasar.

Tema Dari Masing – Masing Program Studi dalam Workshop tersebut adalah :

1. PS. Fotografi                              : Membedah Foto Juara

2. PS DKV                                         : Teknik Presentasi Grafis

3. PS. Interior                                 : Eksistensi Interior Tradisional Bali Pada Dunia Global

4. PS. Lukis dan Patung               : Drawing Model

5. PS. Kriya Seni                             : Cindera Mata Dalam Pariwisata

Semiotika, bagian I

Semiotika, bagian I

Oleh: Alit Kumala Dewi, S.Sn, Dosen PS DKV

Semiotika berasal dari kata Yunani : semeion, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. la mampu menggantikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian berkembang pula dalam bidang seni rupa dan desain komunikasi visual. (Tinarbuko, 2008:16) . Zoest (1993:1) berpendapat bahwa semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda

C.S Peirce

Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant. Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.

Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.

Contoh: Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian. Begitu pula ketika Nadia Saphira muncul di film Coklat Strowberi dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai icon wanita muda cantik dan menggairahkan.

Ferdinand De Saussure

Teori Semiotik ini dikemukakan oleh Ferdinand De Saussure (1857-1913). Dalam teori ini semiotik dibagi menjadi dua bagian (dikotomi) yaitu penanda (signifier) dan pertanda (signified). Penanda dilihat sebagai bentuk/wujud fisik dapat dikenal melalui wujud karya arsitektur, sedang pertanda dilihat sebagai makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nlai yang terkandung didalam karya arsitektur. Eksistensi semiotika Saussure adalah relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi, biasa disebut dengan signifikasi. Semiotika signifikasi adalah sistem tanda yang mempelajari relasi elemen tanda dalam sebuah sistem berdasarkan aturan atau konvensi tertentu. Kesepakatan sosial diperlukan untuk dapat memaknai tanda tersebut.

Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.

Semiotika, bagian I Selengkapnya

Mendiknas: PTN Harus Proaktif Cari Mahasiswa tak Mampu

Mendiknas: PTN Harus Proaktif Cari Mahasiswa tak Mampu

SAMARINDA — Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, menginstruksikan perguruan tinggi negeri (PTN) agar jemput bola dalam penerimaan 20 persen rasio akses calon mahasiswa yang mempunyai kekurangan finansial.
“Kalau tak ada intervensi, akan ada pemiskinan baru. Sudah saatnya siapapun bisa masuk PTN, asal punya kemampuan intelektual,” jelas Nuh usai pelantikan Rektor Universitas Mulawarman, Senin (11/10).
Menurutnya, tak ada rinsip inklusifitas pendidikan atau tak boleh dikhususkan pada pertimbangan latar belakang sosial. Diakui Nuh, fakta di lapangan,mayoritas mahasiswa berlatar belakang ekonomi menengah atas. Bahkan dari data Kemendiknas tahun 2008, anak miskin yang berkuliah ada empat persen.
Di tahun 2009 naik menjadi 6 persen. “Kalau kondisi ini diteruskan ada persoalan besar dan bentuk pemiskinan baru,”imbuh Mendiknas. Pasalnya perguruan tinggi bisa menjadi elevator sosial untuk mendekati sumber ekonomi peningkatan hidup.
Kemendiknas pun menindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Di dalamnya mengatur jika setiap rekrutmen mahasiswa baru,disediakan 20 persen kursi dari kalangan mahasiswa kelas ekonomi menengah kebawah.
Lalu,Kemendiknas akan memberi bantuan biaya pendidikan bagi 10 persen jumlah keseluruhan mahasiswa itu. Sementara 10 persen sisanya dibantu oleh PTN yang menerimanya. Untuk tahun 2010 ini,Kemendiknas telah memproses 20 ribu mahasiswa dari kalangan tersebut. Pada lima tahun mendatang,ditargetkan 100 ribu mahasiswa diterima dari jalur serupa. “Aneh alasannya kalau PTN menolak melakukan ketentuan ini karena secara politis diselenggarakan pemerintah,”cetus Nuh.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/10/11/139381-mendiknas-ptn-harus-proaktif-cari-mahasiswa-tak-mampu

Loading...