M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI Denpasar ”Hapus Dahaga” Masyarakat Bangli

ISI Denpasar ”Hapus Dahaga” Masyarakat Bangli

Kecintaan dan kerinduan masyarakat Bangli pada kampus ISI Denpasar dipaparkan dengan penuah antusiasme oleh Bupati Bangli, I Made Gianyar, S.H.,M.Hum. dalam sambutannya pada acara pembukaan ”OutReach Program” sosialisasi ke masyarakat Bangli melalui pameran seni rupa dan pagelaran tari – karawitan, Sabtu malam (20/11) di Lapangan Mudita, Bangli. ”Animo masyarakat Bangli untuk mendapatkan kunjungan berupa pementasan seni maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus ISI Denpasar sangat tinggi. Saya berharap dengan pendidikan seni, generasi penerus bangsa memiliki kecerdasan emosional dan intelektual yang seimbang, sehingga tidak melahirkan generasi yang arogan,”paparnya disambut applause para kepala sekolah SMA dan SMK se-Kabupaten Bangli, serta undangan lainnya.

Penandatanganan MoU

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr.I Wayan Rai S.,M.A., didampingi dekan Fakultas Seni Pertunjukan dan FSRD, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati  dan seluruh masyarakat Bangli yang telah memberi kesempatan dan sambutan hangat bagi kampus ISI Denpasar. Rai juga menyambut baik rencana penandatangan MoU yang disampaikan Bupati guna kerjasama permanen ISI dan Pemda Bangli.“Sebagai satu-satunya PT Seni di Bali, kami ingin selalu dekat di hati masyarakat, dan berkewajiban membangun suasana berkesenian yang kreatif dan kondusif, peduli terhadap alam, budaya, dan agama serta lingkungan akademik,”ujar Prof Rai.

OutReach Activity program hibah I-MHERE (IndonesianManaging Higher Education for Relevancy and Efficiency) ini mencakup 3 kegiatan yaitu; promosi lembaga, Student Fund/bantuan tugas akhir mahasiswa, dan bantuan beasiswa ekonomi lemah/kurang mampu. Untuk tahun ajaran 2010/2011, dari 48 mahasiswa ISI yang menerima beasiswa Bidik Misi, 10 orang diantaranya berasal dari Bangli. Acara yang dikemas dengan pameran seni lukis, seni patung, seni kriya, desain komunikasi visual, desain interior dan fotografi, serta pertunjukan tari Selat segara, Oleg Tamulilingan, Legong Kuntul, Satya brasta, Kebyar Wiranjaya, dan bondres. Masyarakat Bangli yang hadir memenuhi lapangan Mudita, sangat terhibur dengan pameran dan seni pertunjukan malam itu, sehingga mereka tetap antusias menyaksikan malam kesenian tersebut hingga hampir tengah malam.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Angklung Ditetapkan Warisan Budaya Dunia

Angklung Ditetapkan Warisan Budaya Dunia

JAKARTA – Sidang kelima UNESCO di Nairobi, Kenya, Afrika, telah mengukuhkan alat musik tradisional angklung ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

Direktur Jenderal Nilai Budaya, Senin, dan Film,Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman menjelaskan, pengukuhan angklung merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya Indonesia. “Kami yakin bahwa pengukuhan angklung akan memberikan dampak positif terhadap usaha perlindungan warisan budaya Indonesia di tingkat regional dan nasional,” ujar Tjejep dalam keterangan persnya yang diterima SINDO kemarin.
Tjetjep mengatakan, masyarakat Indonesia dan negara-negara tetangga akan memahami bahwa perlindungan warisan budaya merupakan suatu hal yang memungkinkan. Untuk mengukurnya bisa dilihat dari dukungan UNESCO melalui pelaksanaan konferensi ini. Tjetjep menjelaskan, pengesahan angklung dilaksanakan pada hari kedua setelah melalui proses evaluasi atau pembahasan usulan nominasi yang masuk dalam kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritageof Humanity (Budaya Tak Benda Warisan Manusia).
Menurut dia, pengesahan angklung tentu akan menarik minat para generasi muda untuk mempelajari dan memainkan angklung, terutama di institusi yang secara khusus mengajarkan cara memainkan angklung baik di Indonesia maupun di mancanegara. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman mengatakan, dengan pengukuhan angklung sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia ini diharapkan,tidak ada lagi negara lain yang mengaku angklung sebagai budaya negara lain seperti Malaysia.”Kalau negara lain ingin memiliki angklung,ya silakan saja.
Tapi, setidaknya dengan pengukuhan ini telah memperjelas jika angklung berasal dari Indonesia,” tegasnya. Selain angklung,tegas Arief,pihaknya juga sedang mengupayakan agar budaya lainnya di Indonesia, seperti kain tenun, tari saman, bisa dikukuhkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. “Masih banyak lagi warisan budaya Indonesia yang kami usulkan ke UNESCO. Sekarang ini beberapa warisan budaya yang sudah diakui dunia di antaranya,wayang, batik, dan keris.
Harusnya, ribuan warisan budaya kita yang sudah diakui dunia. Karenanya, kita terus berupaya agar warisan budaya kita ini diakui dunia,”harapnya. Sementara itu,Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyambut gembira ditetapkannya angklung sebagai warisan budaya dunia. “Saya mendapat kabar dari Kedutaan besar RI untuk UNESCO pada hari Selasa lalu pukul 16.20 waktu Kenya (pukul 20.20 WIB) bahwa dalam sidang itu angklung resmi diputuskan sebagai warisan budaya dunia.
Kita semua warga Jabar merasa sangat bangga dan bersyukur atas anugerah ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Herdiwan Iing Suranta kemarin.Menurut dia, ke depannya, angklung wajib masuk pada agenda kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa sekolah. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, untuk lebih menyosialisasikan angklung kepada masyarakat internasional, pihaknya akan memboyong para seniman angklung untuk tampil pada sebuah kegiatan kesenian di Amerika Serikat,Mei 2011 mendatang.
Dalam pentas itu akan dimainkan orkestra angklung,di mana setiap penonton yang hadir akan dilibatkan sebagai pemain. “Akan segera dibentuk pula persatuan angklung tingkat internasional agar angklung bisa tersosialisasikan kepada dunia, how to play angklung. Langkah ini merupakan bentuk transformasi budaya dari Jawa Barat untuk dunia,”ungkap Heryawan. (inda s/atep abdillah kurniawan/tantan sulthon)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/365042/38/

Indonesia Dapat Hibah US$165 Juta untuk Pendidikan

Indonesia Dapat Hibah US$165 Juta untuk Pendidikan

Jakarta – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mendapatkan hibah dari Amerika Serikat sebesar US$165 juta dolar untuk periode 2010-2014. Hibah pendidikan ini untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang belajar di Amerika Serikat. Pasalnya, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Amerika Serikat semakin menurun. Pada 1970-1980an jumlah mahasiswa belajar ke negeri pimpinan Barrack Obama ini hampir 20 ribu orang. Kini, jumlahnya hanya 7.000 orang mahasiwa. Hibah ini akan dibahas lebih lanjut tahun depan.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, hibah sebesar US$165 juta itu berasal dari beberapa sumber antara lain USAID sebesar US$88 juta yang diberikan selama lima tahun untuk peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. “Sedangkan US$15 juta dialokasikan melalui Fulbright Indonesia Research Science Technology programme (FIRST) yaitu beasiswa bagi Warga Negara Indonesia untuk belajar dan melakukan penelitian di Amerika Serikat di bidang sains dan teknologi. Dan juga beasiswa bagi Warga Negara Amerika Serikat untuk belajar mengajar dan penelitian di Indonesia,” katanya di ruang sidang DSS, gedung A, Kemdiknas, Jumat (19/11).

Menteri Nuh menambahkan,  ada juga hibah US$2,5 juta per tahun bagi pelajar Indonesia yang belajar di Amerika Serikat, juga untuk 50 guru dan tenaga administrasi guna mengikuti community college sebagai jembatan dari SMK ke politeknik. Dan berikutnya lagi yang US$4,5 juta per tahun untuk English language trainning student advising service dan sebagainya.”

“Ini (bahasa) juga penting karena salah satu kelemahan bagi adik kita kalau mau ke Amerika Serikat adalah urusan bahasa. Dengan memanfaatkan US$4,5 juta ini dapat belajar bahasa dengan harapan bisa lebih mantap,” tutur Menteri Nuh.

Di samping itu, Indonesia juga menawarkan darma siswa dengan memberikan status untuk orang Amerika Serikat yang belajar di Indonesia. “Jadi kita juga memberikan beasiswa tidak hanya ke Amerika Serikat, tetapi kita juga memberikan beasiswa kepada negara-negara lain untuk belajar di Indonesia,” kata Nuh.

Mendiknas juga mengungkapkan, Indonesia mendapatkan hibah pula dari Uni Eropa sebesar 200 juta Euro atau Rp2,4 triliun untuk kerja sama di bidang pendidikan periode 2010-2015. Hibah ini dibagi dalam dua komponen yaitu sector budget support (APBN) sejumlah 180 juta euro untuk 2010-2012. Kemudian yang kedua untuk analytical dan capacity development partnership (ACDP) sebesar 20 juta euro.

Melalui AUSAID, Australia juga memberikan hibah Rp4 triliun yang terdiri dari beberapa komponen yaitu, pembangunan dan perluasan 2000 SMP dan MTs senilai A$220 juta, peningkatan manajemen staf di tingkat kabupaten dan sekolah senilai A$182 juta. Lalu, akreditasi madrasah A$47 juta, dan untuk ACDP senilai A$25 juta, serta untuk pemantauan independen senilai A$24 juta. (nasrul)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/10/hibah.aspx

Wamendiknas: Satu Juta Lulusan PT Menganggur

Wamendiknas: Satu Juta Lulusan PT Menganggur

Pangkalpinang (ANTARA News) – Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Prof Dr Fasli Jalal, mengemukan, lebih dari satu juta orang lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran karena mutu pendidikan masih kurang.
“Lebih dari satu juta orang lulusan perguruan tinggi baik program Diploma dan Strata 1 tidak bekerja atau menganggur, karena cenderung memperhatikan kuantitas dibanding kualitas atau mutu pendidikan,” katanya di Pangkalpinang, Sabtu.
Justeru itu, kata dia, pendidikan ke depan tidak hanya memperhatikan kuantitas saja tetapi juga harus memperhatikan kualitas dan mutunya.
“Di sejumlah negara di dunia, kesejahteraan dan pendapatan per kapita masyarakatnya meningkatkan karena pendidikan berorientasi kepada kualitas dan mutu,” ujarnya.
Menurut dia, rata-rata masa pendidikan di Indonesia cukup tinggi dibanding dengan sejumlah negara di dunia namun pendapatan dan kesejahteraannya relatif rendah.
“Artinya, relevansi, inovasi dan kreativitas pendidikan itu sangat menentukan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi pengangguran di negara ini,” ujarnya.
Wakil Mendiknas memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang yang saat ini menjalankan program wajib belajar 15 tahun, namun harus memperhatikan kualitas dan mutu.
“Angka dan lama bersekolah bukan jaminan untuk menghasilkan pendidikan berkualitas dan bermutu, maka silahkan perhatikan kuantitas tetapi jangan abaikan kualitas,” ujarnya.
Menurut dia, program wajib belajar 15 tahun yang diterapkan Pemkot Pangkalpinang dapat meningkatkan angka masuk perguruan tinggi (APK) yang bisa mencapai 95 persen.
“Apalagi di Babel ada tiga perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Bangka Belitung, Politeknik Manufaktur Timah dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri serta sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya yang dapat menyerap ribuan calon mahasiswa,” ujarnya.(*)

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1290286457/wamendiknas-satu-juta-lulusan-pt-menganggur

Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Dibandingkan dua jirannya, Malaysia dan Singapura, keterpurukan itu terlihat jelas. Beberapa universitas Malaysia dan Singapura pernah menduduki posisi puncak Asia. National University Singapura, misalnya, di ranking ketiga Asia tahun 2009, Universiti Malaya di ranking ke-4 Asia (2004), dan Universitas Kebangsaan Malaysia masuk 200 dunia pada 2006.

Tahun ini, dari ranking versi QS (London), Indonesia secara keseluruhan belum mencatat capaian impresif, betapapun banyak komentar subyektif mengagulkan diri dari pejabat perguruan tinggi. Ketika Malaysia menempatkan lima universitasnya dalam 100 terbaik Asia, Indonesia hanya menempatkan dua universitas.

Universiti Malaya (Malaysia) di ranking 42 Asia, turun setingkat dari 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77) dan Universiti Teknologi Malaysia (90). Sementara Indonesia, posisi terbaik dicapai Universitas Indonesia (UI) yang masuk 50 besar Asia dan Universitas Gajah Mada (UGM, 85). Selebihnya di luar angka 100.

Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar ke peringkat 113 Asia, kalah dari Universitas Airlangga (Unair, 109). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 119 dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta Universitas Diponegoro (Undip) di ranking 161.

Universitas luar Jawa yang tertua, Universitas Andalas Padang dan Universitas Makassar tidak masuk 200 Asia. Apa sebenarnya kunci di balik sukses dan ”sukses” para universitas di atas? Perbandingan bisa menjadi salah satu ilustrasi.

Lemah basis pustaka

Adalah kenyataan, di Indonesia universitas yang masuk peringkat 200 besar Asia adalah universitas yang ada di Pulau Jawa. Maknanya, pembangunan pendidikan tinggi ternyata masih berfokus di pusat-pusat kekuasaan. Satu warisan sentralisme sejak awal republik, bahkan sejak kolonial. Di luar itu, universitas-universitas di Indonesia juga belum memiliki satu kebijakan pendidikan yang progresif dan reformatif untuk—katakanlah—membangun sistem dan fasilitas pendidikan berkelas dunia.

Di Malaysia, fasilitas dunia segera tampak hampir di semua fasilitasnya, mulai laboratorium, ruang kuliah, perpustakaan, sampai anggaran operasionalnya. Sementara di Indonesia, dari segi perpustakaan saja, Universitas Indonesia (kini masuk 50 Asia) hanya bisa meminjamkan lima buku ke tiap mahasiswa, durasi 15 hari, dengan perpanjangan 45 hari. Sistem peminjaman dan pengadaannya juga umumnya bersifat lokal, bahkan manual.

Di Malaysia, semua mahasiswa bisa meminjam 20 buku per kartu, masa pinjam 40 hari dan bisa diperpanjang sampai 140 hari. Semua dilengkapi sistem jejaring elektronik dan dapat bertukar akses dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

Perguruan tinggi di Malaysia amat sadar akan pentingnya buku. Itu terlihat dari upaya keras mereka meningkatkan kuantitas koleksi tiap tahun. Mereka punya tim pemburu buku dan jaringan pemesanan buku di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Tidak salah jika berbagai terbitan dan kliping Indonesia disimpan di sejumlah universitas Malaysia. Kita dengan mudah menemukan koleksi lengkap majalah Editor, Tempo, Pandji Masyarakat, Suara Mesjid, Horison, dan majalah yang (mungkin) dianggap tak penting di Indonesia seperti Aneka Minang—terbit tahun 1970-an. Kita pun bisa mendapat majalah terbitan Hindia Belanda seperti Indische Verslag, Koloniale Studien, De journalistiek van Indie, dan Kroniek Oostkust van Sumatra Instituut, sekadar contoh.

Semua majalah itu disimpan bersama ribuan jurnal lama dan terbaru dari berbagai disiplin ilmu yang terbit dari berbagai sudut dunia, dari berbagai universitas terkemuka dunia. Perpustakaan mereka dilengkapi ruang audio visual, yang menyimpan dokumen mikrofilm, CD-DVD, kaset, dan film. Juga disediakan ruangan untuk mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan ruang laboratorium komputer-cyber, serta bioskop mini untuk memutar film.

Tidak salah jika mahasiswa Muslim Asia berbondong-bondong ke Malaysia untuk melanjutkan studi, termasuk dari Indonesia. Semua bisa mendapat beasiswa dan menjadi asisten riset. Gajinya jelas lebih besar dari gaji dosen golongan IVa di Indonesia.

Di Indonesia

Indonesia dengan kebijakan hebat meningkatkan porsi anggaran pendidikan hingga 20 persen, ternyata malah cenderung menswastakan universitas negeri. Artinya, memindahkan beban yang harus dipikul negara ke rakyat banyak. Dengan PDB tertinggi di ASEAN, sekitar 5.000 triliun rupiah, porsi 20 persen dari APBN tentu sangat signifikan. Namun, mengapa justru perguruan tinggi makin menguatkan diri sebagai komoditas mewah yang bisa diakses hanya oleh sebagian kecil penduduk?

Sebenarnya Indonesia hingga saat ini—walau diam-diam—masih jadi acuan utama bagi Malaysia, dan mungkin bagi sebagian negara ASEAN. Bangsa Indonesia disukai karena dianggap lebih dinamis, kreatif, dan egaliter—ini sangat disenangi dosen-dosen Malaysia.

Bangsa Indonesia memiliki dasar historis dan basis budaya pendidikan yang kuat dibandingkan Malaysia atau negara lain. Gairah intelektualnya lebih dahulu muncul dibandingkan Malaysia. Kondisi geografis, politis, historis, hingga kultural Indonesia menempati posisi tersendiri karena kekayaan, kebesaran, dan kematangannya.

Namun, sayang, semua itu tidak dijadikan dasar kuat membuat perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan terbaik. Kita ingat, di abad ke-7, di masa Sriwijaya, kita sudah punya universitas yang jadi acuan banyak negara. Mungkin itu salah satu universitas tertua di dunia.

Sayang sekali, kita seperti tertidur dalam kemewahan warisan hebat di atas. Adakah karena kebijakan dan sistem yang tidak cerdas atau manusianya yang tidak cerdas. Jawabannya harus kita dapatkan bersama. Bersama-sama.

Oleh: Wannofri Samry

Penulis adalah Dosen Universitas Andalas, Mahasiswa Doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/20/09451919/Universitas.yang.Tidur.dalam.Kemewahan

Loading...