by admin | Dec 1, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Puluhan orang gadis Rusia tampak begitu antusias belajar tari Bali. Akhir Agustus lalu, para penari ballet itu mengikuti pelatihan tari Bali yang diarahkan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Bertempat di Tartarstan State Choreography Theater, beberapa sikap pokok tari Bali seperti agem dan gerakan mata seledet, tampak sangat mengesan para peserta workshop itu. Sepenggal tari Pendet itu, rupanya mereka selami lekuk-lekuk keunikan dan keindahannya. Sensasi dari karakter estetik bahasa tubuh tari Bali tersebut agaknya mereka nikmati dengan suka cita. Tari Pendet tak hanya populer di Malaysia namun juga disukai gadis-gadis Rusia.
Adalah sekelompok seniman dari Pulau Dewata, pada pertengahan Agustus hingga awal September lalu melawat ke salah satu negeri pecahan Uni Soviet itu. Workshop tari Bali adalah salah satu program memperkenalkan kesenian Indonesia di belahan Eropa Timur itu. Kota Kazan, ibu kota Tartarstan—sekitar 18 jam perjalanan darat arah selatan Moscow–adalah tempat yang sempat disinggahi oleh tim kesenian ISI Denpasar tersebut. Selain memperkenalkan tari Pendet, dalam workshop yang bergulir sekitar satu jam itu, para peballet pria Kazan juga diberikan gerak-gerak tajam dan lugas tari Baris.
Kesenian Bali memang telah tampil di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, Rusia mungkin salah satu negeri yang belum begitu banyak disambangi oleh para seniman Pulau Dewata. Tahun ini, untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, seperti sudah disinggung tadi, sekelompok penari dan penabuh gamelan Bali melanglang Rusia pada 24 Agustus-3 September lalu, “Melalui kesenian, kita berharap dapat membuka jalan untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia,“ ujar Duta Besar Republik Indonesia, Hamid Awaludin, saat menyambut kedatangan 22 orang seniman Bali di KBRI Moscow.
Kesenian sebagai pembuka jalan memang banyak dipergunakan sebagai alat diplomasi budaya. Soft diplomacy yakni diplomasi dengan cara damai kini banyak dilancarkan dalam pergaulan antar bangsa dan diplomasi antar negara. Untuk kepentingan itulah, Pemerintah Indonesia, sejak Juni lalu mengutus para seniman Indonesia, salah satunya, ke Rusia. Para seniman Bali yang terdiri dari para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ditampilkan sebagai puncak penampilan kesenian Indonesia. Para insan seni dari Pulau Dewata bukan hanya menyajikan tari dan gamelan Bali saja namun sajian seni pentas yang merepresentasikan keindahan kesenian Nusantara.
Penampilan tari Nusantara sebagai ekspresi estetik dari keberagam budaya Indonesia itu ditutup dengan pementasan Kecak atau Cak. Seluruh penari dan penabuh bergabung menyajikan Cak Ramayana berdurasi 25-30 menit. Keunikan suara dan jalinan vokal dari 22 orang seniman Bali ini mengundang decak penonton. Seusai pementasan di kota tua Tula–sekitar 4 jam perjalanan darat dari Moscow–misalnya, penonton seakan histeris dan secara kompak memekikkan ocen ichorosho (bagus sekali) berkali-kali sembari mencoba mengocehkan cak cak cak dengan amat girang. Rangkain bunga dibawa penonton ke atas panggung sebagai ungkapan suka cita mereka. “Syukur, mereka kagum dengan penampilan kita,“ ujar Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar dengan wajah berseri-seri sumeringah yang bertugas mengkomandoi Cak.
Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet selengkapnya
by admin | Nov 30, 2010 | Berita, Prestasi

Sejumlah 34 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak 29/11 untuk mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk membangkitkan paduan suara yang ada pada Perguruan Tinggi di Bali.
“Choir of ISI Denpasar” yang merupakan kegiatan kemahasiswaan dibawah pembinaan Pembantu Rektor III, dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si, Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si, I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto,S.Ag.
Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di ruang Auditorium Kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. berhasil merebut juara II, dengan Gita Pati/dirigent terbaik, UNUD dan Undiksa masing-masing sebagai juara I dan III. Festival paduan suara ini diikuti oleh perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA, dan Dyana Pura. Masing-masing pemenang mendapatkan piala,sertifikat dan uang pembinaan.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III, I Made Suberata, M.Si., Dekan FSP beserta jajarannya yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. Mahasiswa ISI Denpasar yang mengikuti lomba ini, sebagian besar adalah mahasiswa semester I, yang baru pertama kali pentas dengan 17 kali latihan.”Saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta dan Undiksa sebagai panitia. Kemenangan ISI Denpasar adalah kemenangan kita bersama, dan ISI Denpasar siap mengadakan pentas bersama semua team berbakat dari semua Perguruan Tinggi di Bali dalam kolaborasi seni yang indah, sehingga seni dapat merekatkan kita semua”harap Prof Rai.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Nov 30, 2010 | Berita
Kampus ISI Denpasar memang tidak pernah surut aktifitas. Setelah Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) melaksanakan studi exkursi dari 26-29/11, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) mengadakan kolaborasi dengan Saint Louis Artists’ Guild Amerika, sejumlah 34 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak 29/11 untuk mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk membangkitkan paduan suara yang ada pada perguruan tinggi di Bali.
Rombongan “Choir of ISI Denpasar” dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si, Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si, I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto.
Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona ini, arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. Festival paduan suara ini diikuti oleh 7 perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA, IHDN, dan Dyana Pura.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. “
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Nov 30, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.
Permasalahan dari penelitian ini adalah beberapa sentra kerajinan gerabah di Bali dari waktu kewaktu semakin berkurang. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu dicari penyebabnya untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Kami sebagai peneliti dan sekaligus memiliki disiplin ilmu yang terkait dengan bidang ini merasa khawatir suatu saat kerajinan gerabah hanya tinggal kenangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriftif kualitatif, bertujuan menjelaskan eksistensi gerabah tradisional sebagai warisan budaya di Bali. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi melalui pemotretan. Sumber data penelitian adalah perajin gerabah dan produk gerbah Bali. Penentuan sumber data perajin sebagai informan kunci dan produk dari masing-masing sentra dilakukan dengan metode sampel dengan mempertimbangkan tingkat kompetensinya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa pembuatan kerajinan gerabah tradisional Bali masih tetap eksis dan beberapa sentra tetap eksis namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sentra-sentra kerajinan gerabah yang masih eksis saat ini di Bali antara lain :
1. Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang.Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.
Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang masih tetap eksis dengan produk yang dibuat beragam antara lain untuk kebutuhan upakara Agama Hindu, kebutuhan rumah tangga, maupun untuk benda-benda hias. Produk-produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat umum dan kebutuhan hotel. Teknik pembentukan yang diterapkan perajin adalah teknik putar “ngenyun” dengan alat yang disebut “pengenyunan/lilidan” dan teknik cetak menggunakan bahan kayu. Pembakaran gerabah dilakukan dengan tungku bak pada ruang tertutup. Di banjar ini sebagian besar penduduknya hidup sebagai perajin gerabah. Eksisnya kerajinan gerabah di tempat ini terkait dengan mitos yang dipercaya masyarakat setempat.
2. Kerajinan gerabah di Desa Pejaten Kabupaten Tabanan.
Kerajinan gerabah ini justru berkurang membuat produk-produk untuk kepentingan upacara keagamaan. Perajin saat ini lebih fokus membuat produk-produk untuk kebutuhan hotel dan konsumen luar negeri. Perajin berproduksi dengan menggunakan teknik cetak dengan bahan gift. Hasilnya produk dapat dibuat sama dan ukurannya dapat dibuat lebih besar dibandingkan menggunakan teknik putar. Perajin menggunakan tungku keramik api berbalik untuk proses pembakaran. Di desa ini hanya ada satu keluarga yang menekuni kerajinan gerabah sejak lama, memliki sifat lebih terbuka menerima masukan dari berbagai pihak. Wujud karya lebih banyak berwujud patung, salah satu patung inovasi yang menjadi ikon perajin ini disebut dengan “Patung Kuturan”. Patung ini menjadi ciri khas produk patung gerabah di Desa Pejaten.
3. Kerajinan gerabah Banjar Binoh Kelurahan Ubung Kecamatan Denpasar Barat.
Kerajinan gerabah di Banjar Binoh ditekuni oleh para wanita yang rata-rata sudah berusia lanjut. Perajin ini bergabung dalam satu kelompok usaha gerabah disebut Kriya Amerta. Mereka bekerja dan menjual hasil produknya dalam kelompok tersebut. Perajin Binoh lebih banyak mengerjakan benda-benda benbentuk gentong berbagai ukuran dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Perajin memasarkan produknya untuk kebutuhan untuk masyarakat umum dan kebutuhan hotel.
4. Kerajinan gerabah Desa Banyuning Kabupaten Buleleng.
Kerajinan gerabah di desa ini lebih berkembang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perajin yang menekuni kegiatan pembuatan gerabah ini semakin bertambah. Pada awal perkembangannya kerajinan gerabah di desa ini ditekuni oleh satu keluarga. Produk-produk yang dibuat adalah untuk kepentingan upacara keagamaan, perlengkapan rumah tangga dan benda-benda hias. Padagang memasarkan produk-produk gerabah di wilayah Buleleng, Badung dan Denpasar. Produk gerabah Buleleng tidak memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan produk perajin lain di Bali. Perajin menggunakan mesin untuk membantu mengolah bahan baku, sehingga proses produksi bahan lebih cepat. Teknik pembentukan dilakukan dengan teknik putar. Perajin menggunakan tungku dengan bahan plat baja dan besi dalam pembakaran gerabah dengan bahan bakar jerami dan kayu bakar.
5. Kerajinan gerabah Desa Tojan Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung.
Saat ini kerajinan gerabah di Desa Tojan masih eksis, namun kedepan dikhawatirkan tidak generasi yang meneruskan, sehingga kemungkinan akan hilang. Perajin yang masih menekuni kerajinan di desa ini hanya satu keluarga yang terdiri dari tiga orang perempuan tua. Perajin menekuni usaha kerajinan ini merupakan warisan para orang tua mereka. Perajin menghasilkan produk-produk ukuran kecil untuk kepentingan upacara keagamaan seperti pulu, caratan, senden, dan lain-lain. Menurut perajin tidak banyak hasl yang didapat dari usahanya ini. Pada bulan-bulan terakhir ini, perajin membuat alat peleburan perak pesanan perajin perak. Teknik pembentukan barang dilakukan dengan teknik putar. Pembakaran menggunakan tungku ladang pada halaman terbuka dengan bahan bakar jerami, kayu dan bahan sejenis lainnya. Pedagang memasarkan produknya di pasar Klungkung.
Umumnya perajin gerabah Bali tidak menerapkan finishing warna pada produknya. Perajin menggunakan lapisan pere pada permukaan gerabah sebelum dibakar, untuk menghasilkan warna merah bata yang lebih cerah. Pere bias berupa tanah dan batuan batuan yang dihaluskan. Bahan ini juga dimanfaatkan dalam pewarnaan lukisan tradisi sepert wayang Kamasan.
Tetap eksis dan berkembangnya kerajinan gerabah di Bali, dapat disebabkan oleh tiga faktor antara lain faktor mitos yang berkembang pada perajin tersebut, faktor umat Hindu di Bali masih tatap menggunakan benda-benda gerabah sebagai perlengkapan upakara agama dan berkembangnya kepariwisataan di Bali.
Kata Kunci : eksistensi, gerabah tradisional Bali.
Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali, selengkapnya
by admin | Nov 29, 2010 | Berita
Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar kemarin (29/11) menggelar kolaborasi dengan Saint Louis Artists’s Guild Amerika dengan agenda workshop dan pameran seni lukis yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa jurusan Seni Rupa ISI Denpasar. Rombongan Saint Louis Artists’Guild ini dipimpin oleh executive director, Davide Weaver didampingi oleh Maestro ternama Mario Blanco, diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar beserta jajarannya.
Setelah acara ramah-tamah, rombongan mendapatkan suguhan tari Selat Segara dan Satya Brasta yang dipentaskan oleh mahasiswa Seni Pertunjukan ISI Denpasar yang membuat rombongan yang hampir semua baru pertama kali berkunjung ke Pulau Bali ini, terkesima dan kagum akan kesenian Bali. Tak kalah menariknya, pameran lukisan yang disuguhkanpun membuat para seniman lukis Amerika ini terkagum-kagum, yang membuat acara workshop semakin akrab dan penuh nuansa kebebasan berekspresi. “Saya sangat kagum melihat kampus seni ISI Denpasar, terutama networking ISI yang dijelaskan oleh Rektor tadi. Saya bangga bisa melihat seni-budaya Bali dan lukisan Bali yang begitu memukau,”ujar Davide Weaver.
Rektor ISI,Prof. I Wayan Rai S.,M.A. dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang sangat dalam kepada Mario Blanco dan Saint Louis Artists’ Guild yang telah bekerjasama dengan ISI Denpasar. “Kerjasama ini berawal dari tawaran Sherrly Marlinton, Kepala Bagian Informasi KBRI di Chicago kepada saya untuk mengadakan pameran di Chicago dan juga kerjasama bidang seni antara Presiden SBY dan Presiden Obama. Seni lukis Bali harus digalakkan agar dikenal dunia karena dari segi kualitas lukisan Bali tidak kalah dengan perupa Amerika. Agustus 2011 seniman Bali akan mengadakan workshop di USA baik seniman tari, lukis, patung, dan sastra” ujar Mario Blangko, yang juga alumnus FSRD. Rombongan hari ini akan bertolak ke Jakarta untuk mengadakan pameran di Museum Nasional dengan lukisan hasil kolaborasi dengan ISI Denpasar. Pada saat yang sama Dekan FSRD Dra. Ni Made Rinu, M.Si., juga menerima kunjungan dari University of Western Ausatralia (UWA) dengan agenda konfirmasi pengiriman mahasiswa UWA ke ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Nov 28, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman I Gde Made Indra Sadguna
Pendahuluan
Kulkul atau kentongan (Jawa) merupakan instrumen musik yang bisa dibuat dari kayu ataupun bambu. Secara spesifik, kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah: kayu ketewel (nangka), kayu teges (jati), kayu camplung, dan kayu intaran gading (batang pohon pandan yang sudah tua). Untuk mendapatkan kulkul yang baik, maka dipilihlah kayu atau bahan yang baik pula, karena dengan bahan yang baik dapat memberikan kualitas suara yang baik pula. Kayu terbaik untuk dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah kayu nangka (artocarpus heterophyllus). Hal ini disebabkan karena serat kayu nangka lebih padat dibandingkan dengan kayu yang lainnya, sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih padat dan bagus.
Kulkul berbentuk bulat memanjang, di mana pada bagian tengah tubuhnya terdapat rongga suara yang berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dikelompokkan ke dalam golongan idiophone sebab sumber suaranya berasal dari getaran tubuhnya sendiri. Ukuranya bervariatif, ada yang panjangnya hanya ½ meter dengan lebar lingkaran 10 cm, tapi ada juga yang lebih dari 1 meter dengan lebar lingkaran 100 cm. Biasanya kulkul yang berukuran besar ditempatkan (digantung) di pos-pos siskamling, banjar-banjar atau pura-pura.
Sesungguhnya budaya kentongan terdapat di seluruh daerah di Nusantara sebagai sarana komunikasi. Sebut saja di Pulau Jawa misalnya, instrumen kentongan biasa difungsikan untuk sarana siskamling atau dijadikan sarana membangunkan orang puasa ketika bulan Ramadhan. Namun hal ini kiranya tidak terjadi di Bali. Keberadaan kulkul di Pulau Dewata secara umum diposisikan sesuai kegunaannya di dalam kehidupan masyarakat.
Lalu pertanyaannya, berapakah jenis kulkul yang terdapat di Bali? Mengapa keberadaan instrumen kulkul begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali ? Apakah karena faktor sejarah, politik, sosial, agama atau faktor lain, sehingga kalau di daerah lain kulkul dipandang sebagai alat musik biasa, tapi di Bali kulkul sangat bermakna? Penjelasan mengenai permasalahan tersebut akan dibahas penulis sebagai berikut.
Kulkul Sakral
Di Bali terdapat tiga jenis kulkul. Pertama, ada kulkul sakral yang keberadaannya selalu ditempatkan di pura-pura dan disakralkan oleh masyarakat. Sebagai instrumen perkusi, keberadaan kulkul sakral tersebut tidak bisa dilepaskan dari odalan, karena selalu difungsikan sebagai sarana upacara. Dalam tata upacara di Bali disebutkan bahwa yang harus ada dalam suatu odalan adalah Panca Gita. Panca berarti lima sedangkan gita berarti suara atau nyanyian. Pembagian Panca Gita tersebut adalah suara kulkul, suara genta dari orang suci atau pendeta, suara kidung atau nyanyian berisi pujian kepada Tuhan, suara sunari dan suara gamelan. Jadi berdasarkan uraian tersebut, kehadiran kulkul sifatnya wajib dan harus ada pada saat upacara berlangsung.
Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali, selengkapnya