M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Rakorbang ISI Denpasar Di Jemberana

Rakorbang ISI Denpasar Di Jemberana

Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha,SSKar.,M.Hum. selaku ketua panitia Rapat Koordinasi Pengembangan (Rakorbang) ISI Denpasar menghimbau seluruh pejabat struktural ISI Denpasar di masing-masing unit  untuk bersinergi dalam melaksanakan kegiatan demi kemajuan ISI Denpasar di tahun 2011. Rakorbang yang didakan selama tiga hari, dari Jumat (3/12) s/d Minggu (5/12) ini diselenggarakan di hotel Jimbarwana Jemberana, diikuti oleh seluruh pejabat struktural ISI Denpasar, dan dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor I, Drs. I Ketut Murdana,M.Si.

Agenda rapat diawali dengan pemaparan uraian kegiatan dari para Pembantu Rektor, yang masing-masing membidangi bidang akademik, keuangan, kemahasiswaan, dan kerjasama. Kegiatan masing-masing bagian tersebut untuk tahun 2011 adalah: untuk bidang akademik, diantaranya penyempurnaan kurikulum, akreditasi, Diesnetalis dan Wisuda Sarjana. Hal baru yang sangat  menarik dalam bidang akademik  tahun 2011, ISI Denpasar akan menyelenggarakan program studi baru, yaitu Program Studi Musik dan Pendidikan Seni, serta Program Studi S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni. Dalam bidang kemahasiswaan, program kewirausahaan, Debat Bahasa Inggris, PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa), LKMM (Latihan Kegiatan Manajemen Mahasiswa), POMNAS(Pekan Olah raga Mahasiswa Nasional), PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) masih mendapat prioritas seperti tahun sebelumnya. Sedangkan dalam bidang kerja sama, tahun 2011 ISI Denpasar akan mengadakan muhibah seni ke University of Western Australia, Perth dan juga ke Thailand. Kegiatan ”ngayah” dan partisipasi dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan kegiatan rutin tahunan ISI Denpasar. Dalam hal penelitian, Ketua LP2M ISI Denpasar memaparkan kegiatan penelitian yang dapat direbut oleh para dosen baik dalam bidang pengkajian maupun penciptaan.

Rektor ISI, Prof.Dr. I Wayan Rai S.,M.A. dalam pengarahannya sesaat sebelum menutup secara resmi Rakorbang tersebut, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pejabat struktural ISI Denpasar yang telah bekerja keras untuk menyusun program, dengan ide-ide yang sangat konstruktif. ”Dengan mengevaluasi semua kegiatan di tahun 2010, kiranya kita mampu melakukan yang terbaik di tahun 2011, untuk kemajuan kita bersama, dengan selalu berupaya meningkatkan Knowledge, Skill, dan Attitude untuk membangun ISI Denpasar ke arah yang semakin baik,”harap Prof. Rai.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Segera Dibuat Data Prodi di Seluruh PT

Segera Dibuat Data Prodi di Seluruh PT

Bisa Diketahui Prodi Favorit dan Prodi yang Sepi Peminat

JAKARTA –Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Djoko Santoso mengatakan, hingga sat ini pihaknya tidak memiliki data-data penyebaran mahasiswa di seluruh Indonesia termasuk data program studi (prodi). Menurutnya, hal ini disebabkan karena panita pelaksana seleksi nasional tidak tetap dan tidak memiliki sekretariat.
“Salah satu penyebabnya adalah panitia seleksi sejak dulu hingga saat ini tidak tetap. Oleh karena itu, kami (Kemdiknas) akan mulai menyusun panitia pelaksana seleksi tetap. Sehingga, nantinya diharapkan ada data yang akurat mengenai mahasiswa dan juga akan mempermudah dalam proses evaluasinya,” ungkap Djoko kepada wartawan di Jakarta, Minggu (5/12).
Mantan Rektor ITB ini menjelaskan,  ke depannya data yang diperoleh setiap tahunnya akan dimasukan dalam Pengakalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) dan bisa diakses seluruh masyarakat. Dengan begitu, lanjut Djoko, akan dapat  terlihat Prodi terbanyak peminatnya dan Prodi yang terancam ditutup karena sepi pendaftar. “Prodi yang terancam ditutup itu ada. Tapi datanya tunggu tahun depan. Setelah seleksi nasional pasti kelihatan penyebaran dimana saja dan Prodi apa saja,” ujarnya.
Selain itu, terang Djoko, Pendidikan Dasar Perguruan Tinggi (PDPT) akan menyediakan data-data yang baik bagiyang memerlukan. Data-data itu berisi tentang seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta. Program tersebut merupakan salah satu bentuk pelayanan yang cepat dan akurat bagi masyarakat, khususnya kalangan pendidikan tinggi. Data tersebut terkait dengan segala hal mengenai infrakstruktur dan orang di pendidkan tinggi. “Sehingga melalui PDPT, masyarakat yang membutuhkan bisa dengan cepat mengaksesnya,” paparnya.
Lebih jauh Djoko menambahkan, hingga kini hanya sekitar 200 perguruan tinggi yang websitenya tergolong bagus dari seluruh perguruan tinggi yang mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Kenyataannya banyak perguruan tinggi swasta yang belum menyadari pentingnya ketersediaan data di website. “PDPT ini secara resmi di luncurkan pada Januari 2011 dan bisa diakses di www.dikti.go.id. Persiapan Pangkalan Data sudah dilakukan dalam satu tahun,” bebernya. (cha/jpnn).

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/12/05/78842/Segera-Dibuat-Data-Prodi-di-Seluruh-PT-

Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

MEDAN – Kasus penjiplakan (plagiat) yang saat ini tengah mencuat di kalangan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) mendapat respons dari seorang profesor asal Indonesia yang bekerja di Universty Teknologi Malaysia (UTM), Prof Hadi Nur.
Hadi Nur yang merupakan insinyur jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan aksi plagiat merupakan bentuk tindakan bodoh dan tak bisa ditolerir. “Apalagi untuk saat ini, di mana teknologi informasi (information technology/IT) sudah sangat berperan. Saya kira kalau ada yang melakukan plagiat adalah tindakan bodoh,” ujarnya saat dihubungi lewat seluler, kemarin.
Hadi menegaskan untuk mendeteksi tindakan plagiat ini,sebenarnya cukup mudah, apalagi untuk ilmu-ilmu sosial. Berbeda dengan ilmu eksakta (pasti), yang biasanya beraksi dengan memberikan data palsu. “Saya kira akan sangat mudah untuk mengungkapnya.Tapi, menurut saya plagiat ini tidak lebih dari persoalan mental pada orang yang bersangkutan, tergantung orangnya.
Atau juga tekanan karier, di mana untuk melancarkan karier, seseorang terpaksa melakukan penipuan,”tukasnya. Untuk mengantisipasi plagiat ini, Prof Hadi Nur menyarankan kalangan perguruan tinggi di Indonesia mulai menggunakan teknologi, seperti program turnitin (turnitin.com), sebuah perangkat lunak yang mampu mendeteksi apakah sebuah karya ilmiah itu hasil plagiat atau tidak.
“Kami di UTM sudah berlangganan, dan terbukti efektif. Kalau bisa, langganan ini saja,”sebutnya. Lebih jauh dalam artikelnya di www.hadinur.com, Hadi Nur menyimpulkan tindak plagiat menyangkut etika. Dia merasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek pendidikan (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung memberikan knowledge kepada mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai pengajaran.
“Aspek pendidikan yang saya maksud termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Saya berpikir dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa, dapat membantu membentuk kepribadian,” sebutnya. Namun terlepas dari itu semua, menurutnya pengajaran etika sains kepada mahasiswa sarjana, magister dan doktoral diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa untuk menjunjung tinggi kejujuran.
Sebelumnya diberitakan, Irwansyah, staf pengajar di Fakultas Sastra USU menggugat mantan dekannya di Fakultas Sastra USU, Wan Syaifuddin. Tesis S2 Wan Syaifuddin berjudul “Syair Lisan Melayu Deli,Tumpuan Khusus Terhadap Syair Puteri Hijau”, yang dipertahankannya pada Mei 1994 di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK-USM), diduga plagiat dari tesis Irwansyah berjudul “Syair Puteri Hijau: Telaah Sejarah Teks dan Resepsi” yang dipertahankan dalam ujian tanggal 30 Agustus 1989 di Universitas Gadjah Mada.
Kasus plagiat yang melibatkan staf pengajar USU ini sudah mendapat respons dari para akademisi Sumut. Rektor IAIN Sumut, Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis menegaskan jika akademisi melakukan plagiat, maka itu merupakan kesalahan sangat fatal. Fadhil menyebutkan, di masyarakat kecenderungan plagiat disebabkan ingin instant dan mempermudah simbol. Jadi, bukan ilmunya yang dinilai penting.“Ini juga gejala dari komersialisasi pendidikan,”terang Fadhil.
Di IAIN Sumut sendiri, kata Fadhil, ada beberapa lapis pengawasan terhadap karya ilmiah sehingga tidak terjadi plagiat, terutama dalam memilih judul. “Ketika mahasiswa memilih judul, kita ingin judul diseleksi betul. Sesama IAIN di 36 daerah sudah memiliki data online karya ilmiah yang di-update setiap semester. Jadi tidak boleh pada semester yang sama ada judul yang sama. Ini saja tidak boleh, apalagi bila beda semester,” jelas Fadhil. (fakhrur rozi/lia anggia nst)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/368074/

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Di tanah air kita, bambu sebagai media musikal setidaknya telah dicatat keberadaanya pada abad ke-12. Sastra kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh (1130 – 1160) dalam salah satu baitnya menulis: pering bungbang muni kanginan manguluwang yeaken tudungan nyangiring yang terjemahan bebasnya adalah bambu berlubang tertiup angin suaranya merdu meraung-raung bagaikan suara suling. Musik bambu yang dimaksud dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno itu adalah sunari yang hingga kini masih ditemukan di Bali, mengalun sendu di tengah persawahan atau berdesah magis dalam ritual keagamaan besar di pura.

Gambang sebagai salah satu gamelan bambu tua Bali juga telah dilukiskan dalam Candi Penataran di Jawa Timur (abad ke-14 Masehi). Prasasti yang dibuat pada zaman pemerintahan  Anak Wungsu di Bali (1045 Masehi) menyinggung pula tentang  anuling (peniup seruling), yang kemungkinan besar serulingnya terbuat dari bambu. Dua lontar tua tentang gamelan Bali, Aji Gurnita dan Prakempa memposisikan gamelan Gambang  dan Petangyan (gamelan Joged Pingitan) sebagai barungan (set gamelan) bambu yang menjadi representasi budaya dan presentasi estetik masyarakat Bali zaman kerajaan tempo dulu.

Selain memiliki martabat sebagai media ekspresi musikal, bambu di tengah masyarakat Bali, sejak dulu hingga sekarang, menempati posisi sakral-simbolik disamping tentu juga praktis multi fungsi. Dalam konteks sakral religius, ketika hari raya Galungan, sebatang bambu yang dihias janur ditancapkan di depan rumah setiap penduduk sebagai ungkapan syukur kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kezaliman).  Tiying gading (bambu kuning) secara khusus dipakai properti benda-benda suci keagamaan, dari upacara persembahan kepada Tuhan hingga upacara pembakaran mayat.

Kendati diupacarai begitu takzim, di tengah dinamika kehidupan yang dahsyat dalam era kesejagatan ini, kini seni tradisi pada umumnya mengalami guncangan hebat. Termasuk, beberapa bentuk gamelan bambu seperti Gambang dan Tingklik (gamelan Joged Pingitan) yang semakin langka. Bahkan Terompong Beruk, gamelan yang dulu menjadi bagian dari budaya agraris tradisional itu kini hampir punah. Namun demikian, di sisi lain, hak hidup tumbuhan bambu dan kesanggupannya sebagai wadah berkesenian masih tampak menunjukkan geliatnya.

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Work Shop  Finishing Batik Kayu Dan Bambu

Work Shop Finishing Batik Kayu Dan Bambu

Setelah menggelar workshop patung beberapa hari sebelumnya, hari ini Rabu (1/12), bertempat di Gedung Latha Mahosadi, ISI Denpasar melalui  Community Development  (Comdev)  I-MHERE  Sub- Compenent B1. Batch III menggandeng  Bali Indonesia Sculptor Association (B.I.A.S.A) menggelar workshop finishing batik kayu dan bambu yang menghadirkan I Dewa Gede Saputra, seorang pengusaha kerajinan batik kayu dan bambu dari Bangli sebagai pembina.

“Workshop” ini  dibuka secara resmi oleh Rektor ISI, didampingi para Pembantu Rektor, Dekan serta Ketua Jurusan dari kedua fakultas. Hadiri sebagai peserta para dosen, seniman B.I.A.S.A, alumni, dan mahasiswa. Workshop ini digelar untuk mendidik  para seniman dan kriyawan dalam proses pengerjaan  batik kayu dan bambu, agar mampu membatik sendiri apabila menerima pesanan dari wisatawan, serta dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk menciptakan lapangan kerja baru yaitu membatik kayu dan bambu pada seni kerajinan.

Ketua panitia Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. dalam laporannya mengatakan, sungguh sangat ironis, banyak seni kerajinan kayu dan bambu Bali yang difinishing dengan teknik batik, namun finishing dilakukan di Yogyakarta. Pengusaha kerajinan batik kayu yang ada di Yogyakarta memesan seni kerajinan Bali yang masih mentah dikirim ke Yogyakarta untuk dibatik, dan setelah selesai, dikirim kembali untuk dipasarkan pada para wisatawan dalam skala kecil maupun besar. Karena biayanya tinggi, belakangan ini banyak model seni kerajinan Bali yang mentahnya diproduksi langsung di Yogyakarta dan setelah selesai dibatik lalu dipasarkan kembali ke Bali, sehingga dipandang perlu untuk  mempelajari teknik batik di Bali.

Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada kelompok seniman BIASA, Pembina workshop, I Dewa Saputra, ketua panitia, dan semua elemen yang terlibat dalam workshop tersebut. ” Saya sangat bangga program I-MHERE sudah dilaksanakan dengan baik oleh kedua jurusan, yaitu Jurusan Karawitan FSP serta Jurusan Kriya FSRD. Pelatihan ini akan sangat bermanfaat bagi para seniman dan kriyawan  terutama dalam menyelesaikan sebuah karya seni, sehingga para seniman dan kriyawan  akan lebih mandiri dan percaya diri dalam menghadapi persaingan pasar, karena telah mempunyai kemampuan untuk berkreasi dalam menciptakan finishing baru. Para seniman dan kriyawan tidak lagi menciptakan karya setengah jadi, tetapi sudah sampai pada finishing.Semua kegiatan Tri Darma yang demikian padat pada akhir tahun ini, akan berjalan lancar dengan semangat dan kerjasama kita bersama,” harap Prof Rai.

Dalam work shop ini para seniman dan kriyawan akan dibekali berbagai materi, baik teori maupun praktek. Selain proses juga akan dibekali berbagai  motif,  serta wawasan berkreasi dalam membatik pada karya yang mereka ciptakan. Seniman dan kriyawan juga diberi kebebasan dalam berkreasi menciptakan motif dan pola baru dalam karyanya.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Loading...