by admin | Dec 16, 2010 | Berita, pengumuman
Tawaran Beasiswa dari Pemerintah India untuk siswa/peneliti di Indonesia untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi di perguruan tinggi-perguruan tinggi di India. Beasiswa yang ditawarkan melalui skema General Cultural Scholarship Scheme (GCSS) yang dikelola oleh Indian Council for Cultural Relations (ICCR), New Delhi untuk tahun akademik 2011-2012.
Berikut ini dokumen-dokumen yang terkait dengan beasiswa ini
– Surat dari Embassy India Jakarta
– Dokumen tentang program Beasiswa Pemerintah India
Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1788:tawaran-beasiswa-dari-pemerintah-india&catid=68:berita-pengumuman&Itemid=160
by admin | Dec 13, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman I Wayan Arik Wirawan
Di Bali setiap peninggalan benda seni selalu menyimpan sejarah tersendiri. Begitu pula dengan sejarah keberadaan Gong Luang yang menurut Prasasti Purana Pura menyebutkan gamelan ini sudah ada sejak zaman kerajaan Udayana. Selain itu, Prasasti Pura Kedaton dan Prasasti Abasan, Bajarangkan Klungkung juga menyebutkan serta memaparkan detail dari gamelan Gong Luang.
Gong Luang atau biasa disebut Gong Saron oleh masyarakat Banjar Kedaton merupakan satu-satunya gamelan Gong Luang yang ada di Desa Kesiman Petilan Kecamatan Denpasar Timur. I Wayan Turun yang merupakan salah satu penabuh dan sesepuh gamelan Gong Luang di Banjar Kedaton menyebutkan bahwa keberadaan Gong Luang ini berawal dari adanya lomba desa tingkat provinsi pada tahun 1987. Banjar Kedaton pun ditunjuk untuk membuat prosesi upacara Pitra Yadnya atau Memukur, yang dimana upacara Memukur ini harus diiringi dengan gamelan Gong Luang. Sedangkan pada saat itu banjar Kedaton belum memiliki seperangkat barungan Gamelan Gong Luang. Warga banjar lalu mengadakan rapat dengan penglingsir Puri Pemayun Kesiman dan sepakat untuk meminjam Gambelan Timbung yang sekarang berada di rumah Bapak Ebuh di Gelogor. Gamelan Timbung yang terbuat dari bambu ini pun dimanfaatkan sebagai pengganti Gong Luang untuk mengiringi upacara memukur pada saat lomba desa tersebut.
Setelah perlombaan ini selesai, warga banjar dan penglingsir/ tetua puri kembali mengadakan rapat untuk merencanakan membeli satu barungan (barungan adalah untuk menyebutkan satu kelompok atau alat gamelan yang terdiri dari berbagai jenis-jenis instrumen dengan jumlah tertentu) Gamelan Gong Luang, mengingat dari fungsinya yang sangat penting dalam ritual dan upacara Agama Hindu. Hal ini pun mendapat dukungan dari penglingsir puri yang suatu saat pasti akan memerlukan gamelan Gong Luang. Setelah mengadakan penggalian dana, maka Banjar Kedaton membeli gamelan Gong Luang seharga Rp. 3.750.000 pada saat itu. Gamelan ini dibuat oleh Pande Sukerta di Desa Blahbatuh Gianyar dan mencari sikut atau contoh di rumah Pak Tedun di Sangsi Singapadu. Setelah Banjar Kedaton memiliki gamelan Gong Luang, warga banjar membentuk sekaa (sekaa adalah organisasi sosial di Bali yang mempunyai kegiatan-kegiatan dan tujuan tertentu) Gong Luang di Banjar Kedaton serta mencari pelatih untuk mengadakan pelatihan dan pembinaan gending-gending atau repertoire Gong Luang. Kemudian warga banjar sepakat untuk mencari pembina Gamelan Gong Luang di Singapadu yang bernama Pan Muji. Adapun gending-gending atau repertoire yang diberikan oleh Pan Muji adalah:
1. Gending Lilit Panji Alit
2. Gending Lilit Nyora
3. Gending Lilit Warga Sari
4. Gending Lilit Panji Cinada
5. Gending Lilit Panji Demung
6. Gending Sih Miring
Yang dimana gending – gending tersebut masih dipergunakan oleh sekaa Gong Luang banjar Kedaton Kesiman sampai sekarang. Sekaa ini sekarang beranggotakan 25 orang dan mempunyai sistem kepengurusan yang diganti setiap 2 tahun sekali.
Gamelan Gong Luang Di Banjar Kedaton Desa Kesiman Petilan Selengkapnya
by admin | Dec 11, 2010 | Berita
Kerja sosial (Kersos) mahasiswa FSRD ISI Denpasar dilaksanakan kemarin (10/12) di Pura Dalem Balingkang Desa Pinggan kecamatan Kintamani Bangli. Kersos ini merupakan sebuah bentuk aplikasi pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat untuk mewujudkan keseimbangan antara masyarakat dengan dunia kampus, sehingga kampus tidak menjadi menara gading. Menurut Dekan FSRD, Dra.Ni Made Rinu, M.Si., didampingi PD III FSRD, kersos merupakan kegiatan wajib mahasiswa yang diatur dalam SKKM. Pihaknya berharap, kegiatan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap situasi sosial, sehingga akan terjadi respon untuk memeperkuat posisi akademik, yang sangat bermakna untuk membangun karakter bangsa.
Kersos yang berlangsung selama satu hari dan melibatkan 175 mahasiswa dan dosen ini, dimaksudkan untuk membantu memberdayakan masyarakat setempat dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan program pemerintah Bali untuk menyukseskan “Program Clear and Green” dan juga wujud bakti masyarakat kampus terhadap TuhanYang Maha Kuasa. Terlebih lagi Kersos kali ini masih dalam suasana hari Raya Galungan dan Kuningan sehingga prajuru Desa Pinggan menyambut dengan positif kegiatan ini sebagai salah satu bentuk yadnya, sehingga Kersos ini juga dapat dikatakan sebagai wujud pelaksanaan masimakrama antara masyarakat Pinggan selaku pengempon Pura Dalem Balingkang dengan mahasiswa FSRD ISI Denpasar. Kegiatan ini meliputi persembahyangan bersama, penyerahan bantuan mesin pemotong rumput, melakukan kerja bakti membersihkan areal Pura, dan penataan taman pura.
”Kegiatan ini hendaknya menjadi ajang untuk menggali inspirasi bagi mahasiswa dan dosen, sehingga muncul vibrasi baru setelah kersos di pura tersebut.Kersos ini tentunya juga merupakan implementasi dari Tri Hita Karana,” ujar Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. dalam sambutannya saat melepas mahasiswa peserta Kersos. Hadir pula dalam acara ini ketua senat mahasiswa FSRD, R. Koen Adji Pratama yang juga turut berpartisipasi dalam Kersos tersebut.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Dec 10, 2010 | Berita
Suasana hidmat di Nusantara Room, The Westin hotel, Nusa Dua dalam acara pembukaan Bali Democracy Forum (BDF) III, kemarin (9/12) semakin sempurna dengan lantunan gamelan dari penabuh wanita ISI Denpasar yang tergabung dalam Asti Pertiwi di bawah komando Ni Ketut Suryatini, S.SKar., M.Sn. Suara tabuh yang mengiringi langkah Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono bersama pemimpin beberapa negara lainnya memasuki Nusantara Room, membuat ratusan pasang mata menoleh ke bagian kiri panggung kehormatan, tempat dimana para penabuh Asti Pertiwi unjuk kebolehan dalam menabuh. Tari Selat Segara yang diciptakan oleh koreograper I Gst Ayu Srinatih, S.ST., M.Si. dengan composer Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., ditarikan oleh lima orang mahasiswa Jurusan Tari sebagai tarian selamat datang diiringi para penabuh Asti Pertiwi.
Presiden SBY sangat menikmati penampilan seni para penari dan penabuh wanita ISI Denpasar ini. Riuh aplaus pejabat negara yang memenuhi ruangan tersebut bergema, sesaat setelah MC memperkenalkan para penabuh berseragam warna pink segar tersebut. Bali sudah sepantasnya berbangga hati. Selain dipilihnya Bali dalam perhelatan tingkat Internasional, seni budaya Bali pun sangat dicintai dan selalu mengundang decak kagum. Selain para penari dan penabuh, ISI Denpasar juga menampilkan Asti Kumara, anak-anak dosen/pegawai ISI Denpasar yang mahir memainkan instrument Gender Wayang. Presiden, para menteri dan juga delegasi lainnya sangat menikmati permainan anak-anak SD yang sangat lucu. Mendiknas juga berdialog dengan anak-anak, dan anak-anak Asti Kumara ini menjawab dengan senang dan sopan.
Rektor ISI, Prof. I Wayan Rai S.,M.A. yang juga hadir dalam acara tersebut tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan ucapan terima kasih kepada panitia, karena ISI Denpasar kembali diberi kepercayaan dalam acara BDF III yang mengusung tema “Democracy and Promotion of Peace and Stability”. “Saya sangat berterima kasih kepada para penabuh Asti Pertiwi dan juga penari, karena tetap semangat tampil, walau dalam suasana hari raya, sebagai wujud pengabdian pada nusa dan bangsa. Dan “fondasi maya” yang kita tanamkan pada anak-anak Asti Kumara, adalah sebuah strategi dalam pembentukan karakter anak. Dengan kerja keras seperti ini,mudah-mudahan ISI Denpasar terus mendapat kepercayaan, untuk kemajuan ISI Denpasar,”harap Prof. Rai.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Dec 9, 2010 | Berita, pengumuman
Tugas seniman sebagai pencipta seringkali tidak ditunjang oleh kemampuan financial untuk mementaskan karya mereka. Maka, tidak jarang mereka gagal mewujudkan gagasan ideal karyanya dalam sebuah pementasan.
Hibah Seni (HS) adalah program yang memberikan bantuan dana dalam jumlah terbatas untuk membantu terselenggaranya pementasan seni pertunjukan. Bantuan dana itu diberikan untuk mendukung dan mewujudkan keinginan seniman mementaskan karya mereka, membawa karya dari ruang latihan menuju ruang publik, dan mengkomunikasikan pesan dalam bentuk karya seni kepada khalayak luas.
Hingga saat ini HS memiliki dua jenis bantuan yaitu karya inovatif dan pentas keliling. Karya inovatif diberikan untuk karya seni pertunjukan baru yang mengedepankan unsur-unsur kebaruan dalam seni. Sedangkan pentas keliling untuk kesenian yang telah dipentaskan dan akan dicarikan penonton baru di kota-kota di luar komunitasnya. Dengan demikian, melalui pentas keliling diharapkan selain meluaskan cakupan penonton, juga terjadinya komunikasi antarkomunitas seni di berbagai kota, sehingga dapat memperkuat jaringan komunitas seni di Indonesia.
Setelah berjalan sejak tahun 2001, HS yang berharap tidak menjadi satu-satunya institusi pemberi bantuan untuk pertunjukan seni telah mendapatkan beberapa manfaat yang sangat berarti. Seniman muda di berbagai penjuru tanah air terus bermunculan. Mereka bukan saja yang bergelut dengan seni tradisi atau kontemporer belaka, melainkan mencari hubungan antara keduanya. Melalui karya yang ditampilkan, mereka merespon banyak hal yang terjadi dalam lingkungannya, sehingga dapat dikatakan seni pertunjukan menjadi ruang bagi penyampaian pendapat yang dilakukan oleh para seniman.
Hingga saat ini, peminat yang mengajukan proposal agar kegiatannya didukung oleh HS terus meningkat. Berbagai gagasan baru pun terus bermunculan. Hal ini terkadang membuat HS kesulitan melakukan seleksi karena kualitas yang hamper sama dan konteks pertunjukan yang sangat dekat dengan kenyataan. Untuk itu, HS selalu mengundang pakar dari luar untuk ikut dalam menentukan siapa saja yang akan mendapatkan bantuan dari HS.
Sumber: http://www.kelola.or.id/Program.asp?bhs=I
Formulir HS
by admin | Dec 8, 2010 | Berita

BANDUNG – Kebiasaan dosen atau guru melakukan pembelajaran secara manual menjadi salah satu kendala penerapan e-learning.Hal tersebut karena faktor kebiasaan yang dilakukan di sekolah atau universitas.
“Ini hanya soal kebiasaan, dosen terbiasa untuk mengajar dengan mencatat di depan papan tulis, sehingga kesadaran menggunakan metode e-learning masih kurang,” ungkap praktisi e-learning dan dosen Universitas Widyatama Jadja Achmad Sardjana usai seminar nasional “Peran E-learning Dalam Mengembangkan Kualitas Pendidikan Indonesia”di Aula Timur ITB, Jalan Ganeca,kemarin. Dia mengatakan,di Widyatama sendiri baru sekitar 40–50% mata kuliah yang sudah menerapkan elearning.“
Untuk mata kuliah dasar e-learning banyak diterapkan untuk efisiensi dan efektivitas.Namun, pada mata kuliah tertentu belum banyak digunakan. Untuk itu, perlu ada peningkatan penggunaannya,” jelasnya. Untuk lebih memperbanyak pengguna e-learning,kata dia,perlu adanya penyediaan infrastruktur yang murah. Selain ini, Dinas Pendidikan memberikan alokasi dana kepada tiap sekolah, namun jumlahnya masih kurang.
Praktisi e-leraning ITB Arief Bachtiar mengatakan, ITB telah memulai program e-learning sejak 2009 lalu dengan infrastruktur seperti komputer dan internet. Namun, dosen sebagai digital imigrant belum begitu akrab dengan dunia digital. Berbeda dengan mahasiswa yang merupakan digital natif. “Dari 120 dosen, baru sekitar 20% dosen yang memanfaatkan aplikasi e-learning,”jelas Arief. Dari 600 mata kuliah, kata dia, baru 130 mata kuliah dilakukan dengan tatap muka dan e-learning, dan 400 mata kuliah dengan e-learning.
Arief mengatakan perlunya sosialisasi semua stakeholder tentang pentingnya e-learning. Penggunaan e-learning, menurut Arief,justru banyak digunakan di luar jam kuliah. Hal ini karena mahasiswa bisa mengaksesnya kapan saja sehingga tidak terpaku pada jam kuliah. Penggunaan elearning memiliki banyak keuntungan, antara lain bisa mempunyai standar pembelajaran, meningkatkan akses,feedbacklebih cepat, arsip kuliah lebih mudah terekam dan jangkauannya lebih luas. (masita ulfah)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/368546/