M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung

Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Tari Gandrung mungkin sudah identik dengan kawasan ujung timur pulau Jawa, khususnya Banyuwangi. Namun jika ditelusuri, seni pentas yang digolongkan sebagai tari pergaulan ini sebenarnya juga dapat dijumpai di pulau Lombok dan Bali. Keberadaaan kesenian ini di tengah budaya Jawa Timur, Bali, dan Sasak, hadir dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing. Hanya, jika di Banyuwangi tari Gandrung hingga kini masih bergelinjang mesra dan di Lombok  tetap berlenggok riang, di Bali kesenian ini hampir punah.

Seni pertunjukan sejenis Gandrung banyak dijumpai di Nusantara. Kesenian ini masih satu genre dengan  Ketuktilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Penampilannya senantiasa disertai unsur-unsur erotisme  seperti tampak dalam tari Ronggeng di Jawa Barat dan juga Joged Bumbung di Bali.

Dalam bahasa Jawa, ’gandrung’ berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’. Pada masa lalu,  penari Gandrung memang banyak mengundang debur asmara kaum pria, padahal para penari Gandrung itu sendiri adalah laki-laki. Di Banyuwangi kesenian Gandrung pada awalnya dilakoni oleh kaum pria, setidaknya hingga tahun 1890-an. Baru pada tahun 1914 penari wanita dihadirkan setelah kematian penari pria terakhir, Marsam. Gandrung wanita pertama Banyuwangi bernama Semi, seorang gadis kecil yang sakit-sakitan yang berkaul jika sembuh akan menjadi penari Gandrung.

Berbeda dengan di Banyuwangi, di Bali hingga kini tari Gandrung masih dibawakan penari laki-laki. Salah satu grup seni pertunjukan Gandrung yang masih bertahan adalah Sekaa Gandrung Banjar Ketapian Kelod, Denpasar, masih mempertahankan penari pria. Kesenian Gandrung yang disakralkan oleh komunitasnya itu lebih menampilkan diri sebagai presentasi estetik. Melalui iringan musik bambu yang disebut gandrangan, Gandrung Bali menyuguhkan raga keindahan tari yang lazim dijumpai dalam tari klasik Legong Keraton.

Seperti di Banyuwangi, diduga kuat tari Gandrung di Lombok pada awalnya juga dibawakan oleh kaum pria. Gandrung Lombok yang kini lazim dibawakan kaum wanita itu masih eksis sebagai sajian profan, menampakkan karakter Bali dan Banyuwangi. Nuansa Bali tampak kental pada tata tarinya yang sebagaian besar memakai perbendaharaan gerak tari tradisional Bali. Unsur Banyuwangi dihadirkan dalam balutan busananya khususnya pada gelungan atau tutup kepalanya. Struktur penyajian Gandrung Lombok adalah bapangan, tangis, penepekan, dan  pengibingan. Pada bagian pengibingan, penonton pria masuk ke arena pentas berpasangan dengan sang penari. Urut-urutan penampilan Gandrung Lombok tersebut hampir sama dengan tari Joged Bumbung di Bali dimana bagian terakhir, pengibingan, yang paling ditunggu-tunggu partisipan pria dan penonton pada  umumnya.

Interaksi fisik antara penari Gandrung dengan partisipan pria juga menjadi bagian utama pementasan Gandrung Banyuwangi. Struktur penyajian konvensional Gandrung Banyuwangi memang diurut menjadi tiga yaitu jejer, maju, dan seblang subuh. Jejer adalah bagian yang merupakan pembuka seluruh pertunjukan Gandrung dimana penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan dengan tenang. Maju atau ngibing adalah bagian terheboh yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai menjelang subuh. Dalam perkembangannya belakangan, bagian seblang subuh yang merupakan semacam ritual magis sering tak ditampilkan.

Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung selengkapnya

Mahasiswa ISI Jadi ”Model” Dalam  MIT Review Meeting Di Thailand

Mahasiswa ISI Jadi ”Model” Dalam MIT Review Meeting Di Thailand

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ISI Denpasar masing-masing dibawah komando I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn., dan Dra. Ni Made Rinu, M.Si. semakin melaju untuk meraih cita-cita untuk  go international. Di sela-sela pelaksanaan kegiatan Tri Darma, kedua Dekan ini sangat bangga menerima dua mahasiswa ISI Denpasar, yaitu I Wayan Diana Putra dari Jurusan Karawitan FSP, serta I Wayan Eka Laksana Satiaguna dari Jurusan  Desain Interior FSRD yang baru saja menyelesaikan tugas belajar selama enam bulan dalam program ‘Student Mobility MIT Program (Malaysia-Indonesia-Thailand)” di Thammasat University Thailand. Kedua mahasiswa mahir berbahasa Inggris ini tampak sangat bangga dan bahagia saat menceritakan pengalaman mereka.

“Kami tinggal di Amarin Mansion bersama mahasiswa dari berbagai negara yang juga belajar di Thammasat University, dan persahabatan kami menjadi sarana  memperdalam Bahasa Inggris dan Bahasa Thai.”ujar Diana bangga. “Kami juga terkabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Thailand (Permitha) yang terpusat di Athen Apartement dekat lokasi Kedutaan Besar RI di Bangkok. Selama bergabung dengan “Permitha” kami pernah mengikuti Seminar Internasional di Eastin Makasan Hotel Bangkok dengan tema “The Role of Indonsian Student on Scientific Development” kerja sama antara Atase Pendidikan RI untuk Kerajaan Thailand dengan Permitha,”Eka menambahkan.

Dihubungi terpisah, Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. memberi apresiasi dan penghargaan kepada kedua mahasiswa tersebut.”Kami  sangat berterima kasih kepada Direktur Akademik Dirjen Dikti serta SEAMEO RIHED, yang telah memberi kesempatan dan motivasi kepada ISI Denpasar untuk mengikuti program MIT ini, sehingga dua mahasiswa ISI Denpasar mendapat kesempatan berharga untuk belajar di Universitas terbesar di Thailand. Hal yang sangat membanggakan lagi, dalam acara “MIT Review Meeting” di Thailand, Senin (31/1) kemarin, Diana dan Eka dijadikan “model” dan ditayangkan di depan Perdana Menteri Thailand, saat laporan kegiatan MIT tersebut oleh Ketua SEAMEO RIHED,” ujar Prof. Rai bangga.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Banjar Batannyuh Belayu

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Banjar Batannyuh Belayu

Kiriman Sudiatmika, mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Sebelum penulis menguraikan mengenai sejarah Gamelan Gong Kebyar yang ada di Br.Batannyuh Belayu, penulis akan sedikit mengulas kemunculan Gamelan Gong Kebyar. Gamelan – gamelan Bali khususnya tentang Gong Kebyar sudah banyak ada yang melakukan untuk diteliti, baik oleh para penulis dalam negeri ataupun penulis asing. Namu masalah asal mula Gamelan Gong Kebyar belum dapat terungkap secara jelas dan lengkap. Untuk mengungkap dan menguraikan asal mula Gamelan ini memang merupakan tugas yang tidak begitu mudah. Penulis menyadari begitu sulitnya menelusuri asal mula daripada gamelan ini, yang mana disebabkan sangat sedikitnya terdapat data – data mengenai asal mula gamelan ini, terutama data – data tertulis yang dapat dijadikan pegangan menelusuri asal mula gamelan ini lebih lanjut. Data – data yang berhasil dikumpulkan hanyalah besifat informasi.

Gamelan Gong Kebyar yan apabila dilihat berdasarkan skema semua dari pada semua jenis gamelan Bali yang ada di Bali dimana di dalam skema itu terdapat gamelan golongan tua, golongan madya dan golongan baru/muda. Nampak secara jelas bahwa Gamelan Gong Kebyar adalah tergolong gamelan Bali yang sangat muda usianya, temasuk kelompok gamelan Bali baru. Disini sedikit lebih tua dari gamelan jejangeran jejogedan dan lain sebagainya yang sama – sama tergolong kolompok gamelan Bali Baru.

Sejarah Gamelan Gong Kebyar di Br. Batannyuh

Pada awal adanya atau terbelinya Gamelan Gong Kebyar di Br. Batannyuh yaitu pada tahun 1996. Sumber – sumber yang didapatkan oleh penuli yaitu dari I Wayan Windia, beliu juga adalah seorang seniman karawitan Bali, sekarang umur beliau sudah hamper menginjak kepala 7.

Beliau menceritakan bahwa alasan dibelinya gamelan ini yaitu tidak lain karena sangat pentingnya peranan gamelan di Bali dan khususnya di Br. Batannyuh sebagai sarana Upacara Yadnya dan sarana hiburan bagi masyarakat sekitar.Dan beliau juga mengatakan gamelan yang ad di Br. Batannyuh ini sudah banyak masa – masa perkembangan dan perbaikan. Pada tahun 1996 gamelan tidak berisi ugal dan penyahcah yang sering disebut dengan istilah gong mini, namu seiring berjalannya waktu satu persatu instrument gamelan ini ditambahkan atau dilengkapi sehingga sampai saat ini terdapatlah barungan Gamelan Gong Kebyar yang lengkap di Br. Batannyuh saai ini. Gamelan ini biasanya dimainkan hanya pada hari – hari tertentu saja, misalnya pada saat Upacara Yadnya, untuk pementasan dan latihan – latihan bagi generasi penerus.

Berdasarkan uraian – uraian di atas beserta argumentasi sebagaimana dikemukakan di atas kiranya telah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keberadaan atau di belinya barungan gamelan Gong Kebyar di banjar batannyuh yaitu sekitar tahun 1996 dan bentuk – bentuk tabuh kekebyaran sudah diciptakan pada tahun tersebut yang juga di pelopori oleh I Wayan Windia.

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Banjar Batannyuh Belayu selengkapnya

INPUT NILAI MK DAN PERUBAHAN KRS

PENGUMUMAN

Berhubung tidak semua nilai matakuliah yang ditawarkan pada semester ganjil 2010/2011 masuk pada system informasi akademik (SIA) maka :

1.      Kami akan menutup sementara sesi semester genap 2010/2011 pada program SIA dan membuka sesi semester ganjil 2010/2011 pada tanggal 5-8 Pebruari 2011.

2.      Kepada dosen pengampu matakuliah yang belum memasukan nilai kami mohon memasukan nilai melalui portal masing-masing pada tangal 5-8 Pebruari 2011.

3.      Mahasiswa di harapkan melihat kembali portalnya dan melakukan perubahan KRS pada sesi perubahan KRS pada tanggal 14 – 18 Pebruari 2011.

4.      Pelaksanaan perubahan KRS sama seperti pelaksanaan pengisian KRS sebelumnya dan kembali menyerahkan KRS yang sudah disahkan PA masing-masing kebagian akademik.

5.      Absensi kuliah akan dikeluarkan setelah perubahan KRS dan merupakan peserta kuliah yang sah sesuai pengambilan pada KRS masing-masing mahasiswa.

Demikian pengumuman ini dibuat untuk dilaksanakan. Terimakasih.

Denpasar, 1 Pebruari 2011

Kasubag Akademik dan Kemahasiswaan

ttd

I Ketut Suwitra, SE

NIP. 197904272001121003

Kemdiknas Siapkan Rp 100 Miliar untuk Pendidikan Kewirausahaan

Kemdiknas Siapkan Rp 100 Miliar untuk Pendidikan Kewirausahaan

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Indonesia (Kemendiknas) terus berupaya menggenjot pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi. Tahun ini, disiapkan anggaran Rp 100 miliar untuk mempermulus program tersebut. Anggaran itu disiapkan untuk membiayai proposal atau blockgrant wirausaha mahasiswa dan beasiswa dosen khusus ilmu kewirausahaan.
Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalan menjelaskan, secara keseluruhan anggaran tersebut akan dikucurkan di pusat-pusat enterpreneur. Pusat-pusat enterpreneur ini didirikan di kampus-kampus negeri di masing-masing provensi. “Yang jelas program ini terus berlanjut,” papar mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) itu di Jakarta, Minggu (30/1).
Fasli menjabarkan, tahun lalu minat mahasiswa untuk mengajukan proposal wirausaha cukup tinggi. Kemendiknas mencatat tahun lalau ada seratus ribu lebih mahasiswa yang mengajukan proposal tersebut. Masing-masing mahasiswa yang mengajukan proposal wirausaha tersebut, mendapatkan bantuan pembiayaan rata-rata Rp 8 juta. Tahun ini, nilai bantuan diperkirakan tetap.
Sementara pendidikan kewirausahaan juga dilakukan di tingkat pendidikan menengah. Fasli menjelaskan pihak sekolah harus memberikan kredit poin khusus bagi siswa yang menjalankan usaha. “Baik itu usaha sendiri atau ikut orang lain,” kata dia.
Sehingga, dengan pemberian kredit poin tambahan tersebut, bisa memacu siswa-siswa lainnya untuk berwirausaha.

Di bagian lain, Dirjen Dikti Kemendiknas Djoko Santoso menjelaskan, pihaknya sudah mengkomunikasikan program kewirausahaan ini kepada perguruan tinggi negeri, maupun perguruan tinggi swasta di bawah koordinasi peguruan tinggi swasta (kopertis). “Secara teknis akan berjalan seperti tahun lalu,” kata dia. Yaitu, pemberian anggaran untuk pelatihan dan program kewirausahaan. Keduanya, masih kata Djoko, harus berjalan beriringan.
Djoko menjelaskan, melalui program ini bisa ikut menekan angka pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi di negeri ini. Kemendiknas mencatat, tahun lalu jumlah penganggruan tersebut tidak kurang dari 8,7 juta jiwa. Melalui program kewirausahaan ini, lulusan perguruan tinggi bisa bekerja untuk dirinya sendiri dan memberi pekerjaan kepada orang lain.
Kemendiknas belum mengevaluasi secara rinci program wirausahan ini. Namun, hasil pantauan di lapangan, program kewirausahaan di lingkungan pendidikan tinggi ini mampu menggerakkan mahasiswa untuk melakukan kegiatan kewirausahaan.
Dalam waktu dua tahun setelah mengajukan proposal dan mendapatkan kucuran bantuan tersebut, beberapa mahasiswa yang menjalankan usahanya bisa mengakses bantuan kredit usaha rakyat (KUR). “Bantuan dari kami (Kemendiknas, red) bisa dijadikan pancingan,” pungkas Djoko. (wan)

Sumber: http://www.jpnn.com

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Desa Petang

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Desa Petang

Kiriman I Kadek Ari Irawan, Mahasiswa PS  Seni Karawitan.

Asal Mula

Untuk mengungkap sejarah asal mula suatu kesenian seperti seni gong kebyar di Desa Petang, sungguh tidak mudah. Kesulitan-kesulitan yang menyebabkannya adalah kurangnya data-data mengenai gamelan tersebut dan hampir tidak ada data-data tertulis yang memuat tentang gamelan gong kebyar tersebut.

Namun demikian dari beberapa informasi yang penulis hubungi, telah berhasil penulis kumpulkan sejumlah informasi baik dari anggota sekaa maupun informan-informan luar yang mampu memberikan keterangan mengenai data-data tentang asal mula dari gamelan gong kebyar ini.

Misalnya : I Gusti Made Ardana yang menjadi anggota sekaa gong di Desa Petang (wawancara pada tanggal 20 September 2010 di rumahnya banjar Petang Tengah) menerangkan bahwa gamelan gong kebyar yang ada di Desa Petang sekarang merupakan due pura Pucak Manik di Desa Petang. Karena Gamelan Gong Kebyar tersebut memang ada sejak dulu tetapi hanya ada beberapa tungguh gamelan yaitu yang sayatau kantil yang bentuk bilahannya yang istilah balinya metundu klipes, kekurangannya di buatkan di tiyingan klungkung sekitar tahun 1985, gong kebyar yang ada di Desa Petang, dulunya yang pernah dipinjam-pinjam oleh Puri Petang jadinya waktu itu belum tau siapa yang mempunyai gong tersebut, antara due Pura dan Puri Petang. Semenjak I Gusti Dipta menjadi kelian Desa, bingung menentukan gong kebyar tersebut, dan akhirnya ditetapkanlah gong tersebut due Pura Pucak Manik Petang dan dimintakan nama di Geria Kemenuh gong dan sekaanya dinamakan sekha gong Citra Gopta Petang dan kelian gong pertama pada waktu itu Anak Agung Gede Santaka, pelawah gong tersebut pada waktu itu masih polos belum diukir maupun di prada dan diprakarsai oleh I Gusti Dipta, pada ktu itu gong tersebut mengalami perkembangan dicarikanlah tukang ukir dari Blayu Tabanan yang bernama bapak Gunawan, akhirnya sekha gong tersebut benar-benar menjaga gong tersebut di bawah naungan Desa Adat Petang sampai sekarang, karena dulu sekaa tersebut belum melembaga dan sekarang gamelan tersebut di prada pada tahun 1996, dananya diperoleh dari sumbangan-sumbangan dan sekarang Desa Petang terjadi pemekaran pada tahun 2001 karena jumlah penduduknya sudah meningkat, sekarang Desa Petang tersebut menjadi 3 banjar yaitu : banjar Petang Kaja, banjar Petang Tengah, banjar Petang Kelod dan gong kebyar tersebut dimiliki ketiga banjar tersebut boleh dipakai oleh ketiga banjar tersebut. Disaat ada upacara agama atau piodalan di desa petang

Demikianlah secara singkat dapat diungkapkan tentang sejarah gamelan gong kebyar di Desa Petang.

Fungsi Dalam Upacara Agama

Kesenian Bali seni karawitan (gamelan) seni tari dan seni vocal (tembang) kesemuanya tidak bisa lepas dari upacara keagamaan (Agama Hindu) dalam uraian buku seni sacral dalam hubungannya dengan agama hindu di jelaskan sebagai berikut :

Seni Wali (Socred, relijius yaitu seni yang dilakukan di Pura-Pura dan di tempat-tempat yang ada hubungannya dengan upacara keagamaan sebagai pelaksana upacara dan upakara agama.

Bentuk Alat

Gamelan gong kebyar merupakan seperangkat gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi upacara keagamaan khususnya agama Hindu dan mengiringi tari-tarian. Instrumen-instrumen gamelan gong kebyar di Desa Petang terdiri dari sebuah terompong, satu buah riong, dua buah ugal, empat buah ganse, empat buah kantil, dua buah jegog, dua buah jublag, dua buah kendang, satu buah ceng-ceng, satu buah kajar, satu buah kempli, dua buah gong, satu buah kempur, satu buah klemong, dan satu buah bende.

Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Desa Petang selengkapnya

Loading...