by admin | Feb 20, 2011 | Berita

Sabtu malam (19/2), wantilan Desa Sukawati dipadati masyarakat yang datang menonton rombongan ISI Denpasar ngayah serangkaian odalan di Pura Puseh Sukawati . Kegiatan ngayah kali ini memang terkesan istimewa. Selain mahasiswa Jurusan Tari dan Karawitan semester VIII, Asti Pertiwi dan Asti Kumara juga ikut tampil,hingga masyarakat tetap memenuhi gedunga wantilan hingga hampir jam 1 pagi.
Ni Ketut Suryatini, koordinator Asti Pertiwi (Penabuh wanita beranggotakan dosen,pegawai, mahasiswa dan alumni wanita) mengatakan bahwa Asti Pertiwi selalu aktif ngayah untuk memohon keselamatan bersama, selain untuk menghibur dan juga mendekatkan diri kepada masyarakat. “Selain tabuh Selisir, Selat Segara,Margapati, dan Arsa Wijaya, Asti pertiwi juga mempersembahkan Cita Pertiwi, paduan tabuh, vokal dan tarian, yang bermakna suatu keinginan dari kaum wanita yang diungkapkan melalui karya seni,dan merepresentasikan curahan hati wanita Bali,dan juga untuk menggerakkan para wanita agar mensejajarkan diri dengan pria, dengan terus belajar dan memahami seni budaya Bali,”ujar Suryatini.
Panggung wantilan desa Sukawati malam itu tampak indah dan mempesona. Penabuh Asti Pertiwi dengan kostum pink di sisi kiri berpadu manis dengan penabuh mahasiswa Karawitan dengan kostum hitam di sisi kanan. “Masyarakat sangat terhibur dengan pementasan ISI Denpasar. Terima kasih kami kepada ISI Denpasar, dan kami merasakan kehomatan yang luar biasa, ISI Denpasar hadir ngayah di Pura Puseh kami ini,” ucap Drs. I Nyoman Gamia, Bendesa Desa Pakraman Sukawati, didampingi I Made Sarjana, S.Pd., prajuru Desa Sukawati.
Rektor ISI Denpasar,Prof. Rai beserta jajarannya yang tampak hadir malam itu, mengucapkan terima kasih kepada pemuka Desa Sukawati yang telah mmberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ngayah di Pura Puseh tersebut. “Kami juga berterima kasih kepada seluruh dosen,mahasiswa dan pegawai yang selalu antusias dalam kegiatan ngayah. Dengan ngayah kita mengabdikan diri kepada masyarakat, dan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, untuk memohon keselamatan bersama, agar Tuhan selalu menuntun kita di jalanNya,”harap Rai.
Pementasan ISI Denpasar malam itu diawali dengan Tari Selat Segara, dan ditutup dengan Tari Satya Brasta. Selain itu, Tari Truna Jaya, Jauk Manis, Wiranjana juga ditampilkan oleh mahasiswa jurusan Tari dan Asti Kumara (anak-anak dosen dan pegawai ISI), serta tari Margapati yang ditarikan oleh mahasiswa asing ISI Denpasar asal Jepang.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Feb 20, 2011 | Artikel, Berita
Oleh Nyoman Kariasa, SSn., Dosen PS Seni Karawitan
1. Pendahuluan
Seni Teater sebagai salah satu seni pertunjukan, memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan dan kehidupan seni di Indonesia. Dunia Teater banyak melahirkan seniman-seniman berbakat dan sutradara terkenal. Diantaranya adalah Garin Nugroho. Seorang sutradara terkenal yang banyak menghasilkan karya-karya besar seperti; film feature, dokumenter, film pendek, iklan, video musik dan pertunjukan teater. Salah satu karya terbaik dalam pertunjukan teater adalah Tusuk Konde, dua dari tri logi Opera Jawa yang berbentuk Teater musical. Teater ini telah menunjukan keberhasilannya dengan mengadakan pentas keliling di beberapa negara Eropa dan Indonesia. Mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton maupun dari para pengamat seni. Kami berhasil menonton pertunjukan Opera Jawa di Teater Besar ISI Surakarta pada tanggal 25 Oktober 2010. Jiwa jaman dan semangat jaman kekinian seperti, cinta, perselingkuhan, amarah, kekuasaan dan perlawanan, sekiranya sangat relevan dan dijadikan isu utama yang diembuskan oleh seorang sutradara Garin Nugroho dalam Opera Jawa dengan Tusuk Kondenya.
Opera jawa telah mengalami transpormasi medium ekspresi sejak tahun 2005 hingga 2010. Dari film, teater rakyat, instalasi, dan yang terakhir dengan opera (teater musikal). Perubahan medium ini, bagi seorang Garin merupakan kelahiran kembali, yang menjadi perjalanan baru sekaligus perjalanan pulang ke masa remaja atau anak-anak. Tusuk Konde adalah bagian dua dari trilogy yang merupakan tafsir bebas dari Ramayana. Trilogi pertama bertajuk “ Ranjang Wesi”, sebuah teater rakyat. Sedangkan Tusuk Konde adalah sebuah teater musikal yang berupaya menghidupkan kembali tradisi penari-penari yang sekaligus menembang, karena tembang adalah filosofi dalam sebuah gerak tubuh. Tusuk Konde adalah sebuah kerja seni menggabungkan bentuk-bentuk ekspresi seni pertunjukan : wayang, ketoprak, teater modern, hingga upacara-upacara. Sehingga seni ini merupakan seni Jawa multikultural (Solo, Banyumas, Klaten). Jawa yang bertemu Sunda, Minang, Nias, Seni rupa modern hingga teater modern.
2. Sinopsis
Rama, Sinta dan Rahwana dilahirkan kembali di sebuah desa kecil di Jawa. Cinta segitiga pun berkembang diantara mereka bertiga. Kisah berawal ketika Sinta memilih Rama sebagai pendamping hidupnya. Sinta memberi Rama sebuah jepitan rambut dan Rama memberikan Sinta sehelai rambutnya sebagai sumpah setia pernikahan. Rahwana memiliki sebuah bakul-bakul padi yang terbuat dari bambu sebagai simbul pegunungan dan dominasi kehidupan. Rama harus pergi jauh untuk bekerja. Sinta tidak boleh pergi keluar rumah selama Rama pergi bekerja. Rama menggambarkan lingkaran ajaib di sekeliling Sinta untuk menjaga Sinta dari mara bahaya. Rahwana menghujani Sinta dengan cinta dan kasih sayang selama Rama pergi. Sinta yang kesepianpun mulai tergoda. Sinta bingung dan mulai mengalami dilema; Ia ingin setia terhadap Rama Ia juga tak kuasa menahan rayuan Rahwana. Sinta sempat mengindahkan Rahwana namun kemudian Sinta menuruti kehendak hatinya untuk bermain api dengan Rahwana. Rama yang mengetahui kejadian itu sangat marah dan menginginkan sinta kembali menjadi miliknya. Rama yang biasanya bijak dan tenang tidak dapat menahan amarahnya. Dikuasai oleh angkara murka, Rama membunuh Rahwana. Rama pun membunuh Sinta dengan menggunakan jepit rambut pemberian Sinta.
Tusuk Konde Dua dari Trilogi Opera Jawa Sebuah Teater Musikal Karya Garin Nugroho selengkapnya
by admin | Feb 20, 2011 | Berita

Jakarta – Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya dengan sumber alamya, ternyata juga negara yang paling banyak mengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Begitu banyak kisah sedih yang kita dengar tentang nasib penyumbang devisa negara tersebut. Terutama mereka yang bekerja di bidang nonformal seperti pembantu rumah tangga, pekerja kebun dan penjaga toko.
Mengapa Indonesia tidak mencoba mencari peluang lebih terbuka di bidang pendidikan untuk mendatangkan mahasiswa mahasiswa asing untuk menuntut ilmu di negara ini? Malaysia contohnya, negara tetangga terdekat Indonesia telah sukses meraup keuntungan besar di bisnis pendidikannya. Ribuan pelajar dari luar Malaysia, khususnya dari negara Arab seperti Jordan, Mesir, Irak, Libya, Yaman, Arab Saudi dan termasuk dari China, Thailand, Pakistan, Bangladesh dan dari Indonesia, datang setiap tahun berbondong-bondong ke Negeri Jiran ini untuk melanjutkan studi mereka.
Dari laporan terbaru terjadi peningkatan jumlah yang signifikan dari 54.474 orang pada tahun 2009 menjadi 75.819 orang pada tahun 2011 pelajar asing yang datang ke Malaysia. Bisa dibayangkan jutaan ringgit keuntungan yang didapatkan oleh pemerintah setiap tahunnya dari bisnis ini. Beberapa alasan mereka memilih Malaysia untuk melanjutkan studi adalah selain biaya pendidikan dan hidup yang terjangkau. Malaysia adalah negara dengan populasi Muslim yang besar dan kondisi politik negara yang stabil dan sehingga mereka dapat hidup dengan aman. Alasan lain adalah kondisi geografis, iklim, budaya dan keindahan alan Malaysia.
Apa yang salah dengan dengan Indonesia? Indonesia juga memiliki populasi muslim terbesar di dunia. Dari segi kondisi geografis, iklim, budaya dan keindahan alam, Indonesia jelas jauh lebih mempesona. Demikian juga dari kualitas individu pengajar dan grade universitas, Indonesia tidak kalah dari Malaysia. Dari hasil laporan terakhir 4International Colleges and Universities 2011 disebutkan bahwa Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia masuk dalam 200 besar universitas terbaik di dunia. Sementara tidak satu pun universitas di Malaysia yang berhasil dalam 200 besar tersebut.
Ternyata hal yang sangat bermasalah adalah sistim birokrasi yang rumit dan memerlukan waktu yang cukup lama. Di Malaysia, setiap pelajar asing yang baru datang, mereka langsung diminta untuk mendatangi internasional office (IO). Disini semua hal-hal yang berkaitan dengan dengan passport dan visa akan diurus oleh staff IO. Calon mahasiswa hanya menunggu selama 10 hari untuk mendapatkan visa pelajar sebelum memulai perkuliahan. Staf yang bekerja di international office inilah yang akan mengurus semua hal yang berhubungan dengan kementrian pendidikan tinggi dan pihak imigrasi Malaysia.
Lain halnya dengan negara kita tercinta, sebagai contoh ada teman dari Libya yang akan melanjutkan pendidikan ke Indonesia. Setelah menghubungi universitas yang bersangkutan dan dinyatakan diterima, maka harus ada hal-hal lain yang harus diurus sendiri oleh calon mahasiswa yang bersangkutan. Di antaranya izin dari Kementrian Pendidikan Nasional untuk izin kuliah dan Kementrian Hukum dan HAM untuk mengurus masalah visa. Di mana untuk urusan ini bisa memakan waktu selama dua bulan, sehingga mahasiswa yang bersangkutan ini jadi cape dan merasa dipersulit dengan birokrasi yang berbelit-belit, yang akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan studi di Malaysia dengan proses administrasi mudah.
Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis mengimbau agar pihak-pihak yang berwenang agar dapat lebih memberikan perhatian khusus untuk mempermudah dan mempercepat birokrasinya. Sehingga dengan potensi sumber daya dan infrastruktur yang cukup memadai, Indonesia juga dapat dijadikan tempat untuk menuntut ilmu bagi pelajar dari luar negeri yang berkeingan untuk melanjutkan studi mereka dan pada akhirnya juga dapat menjadikannya sebagai sumber pemasukan negara.
*) Nofrizal Syamsudin adalah mahasiswa Pogram Master University Sains Malaysia (USM) Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang Malaysia.
Sumber: Detiknews.com
by admin | Feb 19, 2011 | Berita, Prestasi
Karangasem, Kisah perjalanan hidup seorang gadis pemulung asal Bali bernama Ni Wayan Mertayani (16) yang menjuarai lomba foto internasional dari Museum Anne Frank, Belanda, dibukukan.
Pande Komang Suryanita, penulis buku berjudul “Potret Terindah dari Bali” itu saat dihubungi di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, mengatakan buku itu diterbitkan Kaifa (grup Penerbit Mizan) pada awal Februari ini.
Materi buku mengungkapkan sisi kehidupan gadis yang biasa dipanggil dengan Ni Wayan atau Sepi itu.
Penulis menguraikan secara detil bagaimana alur kehidupan Sepi yang begitu memilukan. Bermula dari kehilangan ayah dan rumah tinggal, Sepi bersama ibu dan adiknya, pindah ke sebuah gubuk di tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.
Di gubuk itu, Sepi menjalani hidup sebagai penjual makanan dan sesekali memulung barang bekas setelah pulang sekolah untuk dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih ibunya dalam kondisi sakit-sakitan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan turis asal Belanda bernama Dolly yang meminjami kamera untuk belajar memotret.
Hasil “jepretan” Sepi kemudian didaftarkan oleh Dolly pada lomba foto internasional yang diadakan Yayasan Anne Frank di Belanda, dengan tema “Apa Harapan Terbesarmu”.
Tak disangka, foto Sepi yang berobjek ayam yang sedang bertengger di pohon singkong karet berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan 200 peserta lain dari berbagai negara.
Menurut Pande Komang Suryanita, objek foto Sepi berupa ayam, merupakan representasi diri Sepi.
Bila hujan ia kehujanan begitu juga kala panas menyengat karena kondisi gubuk yang ditempatinya begitu memprihatinkan.
“Namun, cerita hidup Sepi bukan bermaksud mencari simpati dari pembaca tentang nasib kurang beruntung yang dialaminya. Justru, kisah itu kami angkat menjadi buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia agar tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup,” ujar Suryanita.
Kisah hidup Sepi, lanjut Suryanita, terbukti amat inspiratif karena dalam kondisi hidup serba kekurangan, Sepi tak pernah berhenti berupaya agar roda hidupnya bergulir menjadi lebih baik.
Tak berbeda dengan kisah hidup Anne Frank, yakni seorang gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi, yang menjadi tokoh idola bagi Sepi.
Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya kalau keadaan sudah aman.
Buku “Potret Terindah dari Bali” sekaligus ingin mengungkapkan bahwa mimpi atau cita-cita dapat menjadi kekuatan seorang anak agar dapat menjalani hidup, sesulit apapun, kata Suryanita.
“Seperti halnya yang dialami Sepi. Mimpi dan cita-citanya menjadi jurnalis, membuatnya tak pernah putus asa. Hidupnya yang sulit,bukan membuatnya tak bisa berkelit,” ujar penulis yang menetap di Denpasar itu.
Sumber: Antaranews.com
by admin | Feb 18, 2011 | Berita
Rombongan dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) serta mahasiswa asing ISI Denpasar yang dikomandoi langsung oleh Dekan FSP, I Ketut Garwa,S.Sn.,M.Sn.”ngaturang ayah” di Pura Dalem Setra Banjar Mentigi,Batu Nunggul Nusa Penida, 16-17 Februari yang lalu. Rombongan seni ini mempersembahkan tari Baris Gede, Satya Brasta, Selat Segara, Margapati, Tari Wali, Wiranjaya, Jauk Manis, dan Bondres, di wantilan Pura Dalem.
”Kami atas nama pimpinan, sangat bangga dan berterima kasih kepada seluruh mahasiswa dan dosen ISI Denpasar, yang selalu semangat dalam kegiatan”ngayah”. Terima kasih yang sangat dalam juga kami haturkan kepada masyarakat Nusa Penida yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ”ngayah”, serta sambutan yang begitu baik dari masyarakat,”ujar Garwa, didampingi PD I FSP, I Dewa Ketut Wicaksana, serta Sekjur Tari Rinto Widiarto.
Kegiatan “ngayah” yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dan bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi ini selalu mengundang decak kagum masyarakat. Menurut Ida Ayu Wimba Ruspawati dan Ni Ketut Yuliasih yang manangani ajang gelar, kegiatan “ngayah” yang rutin dilaksanakan, merupakan bukti nyata ISI Denpasar adalah milik masyarakat, bukan sebagai menara gading. Kelian Banjar, Wayan Supartawan serta Jero Bendesa, I Dewa Gede Rai Sudiarta, mengucapkan terima kasih dan selamat atas penampilan ISI Denpasar di Pura Dalem Batu Nunggul, dan masyarakat sangat terhibur, ujarnya.
Hari ini, ISI Denpasar juga akan “ngayah” di Pura Desa Sukawati. Selain melibatkan Fakultas Seni Pertunjukan yang akan mempersembahkan tari-tariannya, ISI Denpasar juga membawa serta Penabuh Asti Pertiwi serta Asti Kumara. “Dengan anugrah Tuhan berupa talenta seni, maka dengan seni pula kita memberi persembahan kepadaNya, untuk memohon keselamatan bagi kita semua, agar dapat melaksanakan darma bakti kita”ujar Prof Rai saat hadir di acara latihan Asti Pertiwi sore kemarin.
Rombongan ISI Denpasar juga melaksanakan kegiatan persembahyangan ke Pura Giri Putri dan Pura Dalem Ped, guna memohon keselamatan dan kelancaran khususnya bagi mahasiswa FSP semester VIII yang akan mengikuti ujian TA.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by dwigunawati | Feb 18, 2011 | Berita, pengumuman
Era globalisasi telah menciptakan gelombang persaingan yang ketat dan berdampak luar biasa. Dampak paling hebat bisa dirasakan pada aspek ekonomi dan teknologi. Bagi negara berkembang yang ingin mengikuti pentas persaingan, penguasaan terhadap teknologi merupakan prasyarat agar mampu tampil ke depan, berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Manusia dan teknologi tidak dapat dipisahkan. Teknologi terkandung dalam diri dan cara-cara hidup manusia dalam masyarakat. Sebaliknya teknologi tidak dapat terlepas dari manusia karena teknologi itu ada karena ciptaan manusia. Kemampuan berpikir manusia yang sistematis, analitis, dan mendalam mampu menghasilkan ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan lahir teknologi, yang mendorong nilai tambah terhadap hasil budi daya manusia.
Sejak BJ Habibie dilantik sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (1978), banyak terjadi perubahan fundamental pada kegiatan-kegiatan penelitian di Indonesia. Dia mengarahkan penelitian agar lebih terfokus untuk menghasilkan teknologi yang diterapkan bagi pembangunan. Awal tahun 1983, lahir gagasan Habibie tentang konsep transformasi industri nasional. Gagasan ini muncul pertama pada ceramah umum di Bandung, yang kemudian resmi dipublikasikan pada 14 juni 1983 di Bonn, Jerman, dengan judul “Beberapa Pemikiran Tentang Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang”.
Habibie mambangun konsep transformasi industri dengan “mulai dari akhir dan berakhir di awal”. Artinya, bahwa akhir berarti tahap akhir dari suatu proses penahapan secara evolutif pengembangan produk teknologi yang secara klasik telah ditempuh oleh industri negara-negara maju. Proses mulai dari tahap awal berupa penelitian dasar sampai dengan tahap akhir berupa perakitan dan pemasaran produk. Jadi, konsep Habibie berupa proses transformasi teknologi nasional dimulai dari perakitan dan pemasaran produk untuk dan kembali untuk pengembangan dan inovasi produk industri.
Dalam transformasi ini, Habibie membuat tahapan yang disebut satuan mikro-evolutif yang dipercepat atau micro-accelerated evolution unit (MAEU). Ia sering menggelorakan pembaharuan terhadap teknologi dengan slogannya, “kita tidak bisa membuat sebuah penemuan ulang suatu teknologi yang sudah lama ditemukan bangsa lain sebab kita akan tertinggal”.
Pemikiran dasar Habibie untuk membangun teknologi Indonesia terwujud dalam empat tahap penting. Pertama, pemasaran produk dengan pemasaran jaringan produk pendukung atau “purnajual” sampai jumlah tertentu yang memungkinkan memproduksi produk tersebut. Kedua, produksi dengan lisensi, dimulai dengan mengembangkan jaringan “pengendalian dan pengamanan mutu” atau quality control and quality assurance dengan penekanan biaya dan peningkatan kualitas produk.
Ketiga, pengembangan teknologi dengan memanfaatkan disiplin Ilmu Pengetahuan Terapan yang tepat dan berguna untuk menciptakan produk baru. Keempat, melaksanakan riset dalam Ilmu Dasar dan Ilmu Terapan yang biasanya dilaksanakan di universitas atau lembaga penelitian atas beban pemerintah.
Karya nyata dari proses yang digambarkan Habibie tepat dan dapat dibuktikan dengan “Proyek Pembangunan Industri Dirgantara IPTN dan Prasarananya di Puspiptek, ITB, dan IPTN. Proses tahap pertama dan kedua termanifestasi dalam CASA 212, CN-235. Tahap kedua, untuk N-250 dan N-2130. Tahap ketiga dilaksanakan di IPTN untuk N-250 dan N-2130. Terakhir, dilaksanakan di IPTN, Puspiptek, BPPT, LIPI, ITB, dan sebagainya. Meski memakan waktu seperempat abad, karya nyata dapat diberikan bangsa Indonesia dengan terbang perdananya N-250 pada 10 Agustus 1995.
Di antara pemikiran Habibie, yang menonjol adalah gagasan link & match. Sebuah usaha menciptakan sinergi antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan praktis dunia industri. Dari ide itu, ia berhasil menciptakan sinergi IPTN dengan ITB Bandung dalam teknologi dirgantara, PT PAL Surabaya bersinergi dengan ITS Surabaya dalam bidang perkapalan dan kelautan. Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong bersinergi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek). Semua ini adalah upaya agar lembaga penelitian dan perguruan tinggi sebagai mitra usaha dapat mempercepat difusi kemajuan teknologi dan kemampuan inovasi.
Salah satu pasal dalam hidup Habibie bahwa iptek pada gilirannya dapat selalu berada pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Habibie juga merealisasikan gagasan “kota berbasis ilmu pengetahuan atau science based city (SBC)” yang bertujuan untuk meningkatkan kemitraan antara Puspiptek dan lembaga iptek di luar Puspiptek. Begitu pula science based industrian park (SBIP), dirancang untuk meningkatkan kemitraan Puspiptek dengan sektor swasta (industri) guna mengatasi masalah industri dalam pengembangan inovasi.
Buku yang ditulis oleh seorang negarawan dan “paus” teknologi ini merupakan hasil refleksi, kajian dan gambaran mengenai potensi teknologi yang dapat digunakan bagi kemajuan, serta upaya kemandirian bangsa. Pembaca dapat lebih paham mengenai pemikiran dan kontribusi BJ Habibie terhadap peradaban teknologi di Indonesia. Sesungguhnya teknologi mempunyai posisi dan peran yang strategis bagi suatu bangsa apabila teknologi tersebut dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
Poin penting yang ditekankan Habibie, ia ingin mengembangkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Untuk mengembangkan keterampilan SDM, mereka tidak cukup hanya disosialisasikan ke dalam proses-proses padat karya, tetapi juga harus diperkenalkan dengan proses-proses produksi yang berteknologi tinggi.
*Peresensi adalah Fuad Hasan; pecinta buku, tinggal di Semarang.
Sumber: kompas.com