M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Membaca Jejak “Paus” Teknologi Indonesia

Membaca Jejak “Paus” Teknologi Indonesia

Era globalisasi telah menciptakan gelombang persaingan yang ketat dan berdampak luar biasa. Dampak paling hebat bisa dirasakan pada aspek ekonomi dan teknologi. Bagi negara berkembang yang ingin mengikuti pentas persaingan, penguasaan terhadap teknologi merupakan prasyarat agar mampu tampil ke depan, berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Manusia dan teknologi tidak dapat dipisahkan. Teknologi terkandung dalam diri dan cara-cara hidup manusia dalam masyarakat. Sebaliknya teknologi tidak dapat terlepas dari manusia karena teknologi itu ada karena ciptaan manusia. Kemampuan berpikir manusia yang sistematis, analitis, dan mendalam mampu menghasilkan ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan lahir teknologi, yang mendorong nilai tambah terhadap hasil budi daya manusia.

Sejak BJ Habibie dilantik sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (1978), banyak terjadi perubahan fundamental pada kegiatan-kegiatan penelitian di Indonesia. Dia mengarahkan penelitian agar lebih terfokus untuk menghasilkan teknologi yang diterapkan bagi pembangunan. Awal tahun 1983, lahir gagasan Habibie tentang konsep transformasi industri nasional. Gagasan ini muncul pertama pada ceramah umum di Bandung, yang kemudian resmi dipublikasikan pada 14 juni 1983 di Bonn, Jerman, dengan judul “Beberapa Pemikiran Tentang Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang”.

Habibie mambangun konsep transformasi industri dengan “mulai dari akhir dan berakhir di awal”. Artinya, bahwa akhir berarti tahap akhir dari suatu proses penahapan secara evolutif pengembangan produk teknologi yang secara klasik telah ditempuh oleh industri negara-negara maju. Proses mulai dari tahap awal berupa penelitian dasar sampai dengan tahap akhir berupa perakitan dan pemasaran produk. Jadi, konsep Habibie berupa proses transformasi teknologi nasional dimulai dari perakitan dan pemasaran produk untuk dan kembali untuk pengembangan dan inovasi produk industri.

Dalam transformasi ini, Habibie membuat tahapan yang disebut satuan mikro-evolutif yang dipercepat atau micro-accelerated evolution unit (MAEU). Ia sering menggelorakan pembaharuan terhadap teknologi dengan slogannya, “kita tidak bisa membuat sebuah penemuan ulang suatu teknologi yang sudah lama ditemukan bangsa lain sebab kita akan tertinggal”.

Pemikiran dasar Habibie untuk membangun teknologi Indonesia terwujud dalam empat tahap penting. Pertama, pemasaran produk dengan pemasaran jaringan produk pendukung atau “purnajual” sampai jumlah tertentu yang memungkinkan memproduksi produk tersebut. Kedua, produksi dengan lisensi, dimulai dengan mengembangkan jaringan “pengendalian dan pengamanan mutu” atau quality control and quality assurance dengan penekanan biaya dan peningkatan kualitas produk.

Ketiga, pengembangan teknologi dengan memanfaatkan disiplin Ilmu Pengetahuan Terapan yang tepat dan berguna untuk menciptakan produk baru. Keempat, melaksanakan riset dalam Ilmu Dasar dan Ilmu Terapan yang biasanya dilaksanakan di universitas atau lembaga penelitian atas beban pemerintah.

Karya nyata dari proses yang digambarkan Habibie tepat dan dapat dibuktikan dengan “Proyek Pembangunan Industri Dirgantara IPTN dan Prasarananya di Puspiptek, ITB, dan IPTN. Proses tahap pertama dan kedua termanifestasi dalam CASA 212, CN-235. Tahap kedua, untuk N-250 dan N-2130. Tahap ketiga dilaksanakan di IPTN untuk N-250 dan N-2130. Terakhir, dilaksanakan di IPTN, Puspiptek, BPPT, LIPI, ITB, dan sebagainya. Meski memakan waktu seperempat abad, karya nyata dapat diberikan bangsa Indonesia dengan terbang perdananya N-250 pada 10 Agustus 1995.

Di antara pemikiran Habibie, yang menonjol adalah gagasan link & match. Sebuah usaha menciptakan sinergi antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan praktis dunia industri. Dari ide itu, ia berhasil menciptakan sinergi IPTN dengan ITB Bandung dalam teknologi dirgantara, PT PAL Surabaya bersinergi dengan ITS Surabaya dalam bidang perkapalan dan kelautan. Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong bersinergi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek). Semua ini adalah upaya agar lembaga penelitian dan perguruan tinggi sebagai mitra usaha dapat mempercepat difusi kemajuan teknologi dan kemampuan inovasi.

Salah satu pasal dalam hidup Habibie bahwa iptek pada gilirannya dapat selalu berada pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Habibie juga merealisasikan gagasan “kota berbasis ilmu pengetahuan atau science based city (SBC)” yang bertujuan untuk meningkatkan kemitraan antara Puspiptek dan lembaga iptek di luar Puspiptek. Begitu pula science based industrian park (SBIP), dirancang untuk meningkatkan kemitraan Puspiptek dengan sektor swasta (industri) guna mengatasi masalah industri dalam pengembangan inovasi.

Buku yang ditulis oleh seorang negarawan dan “paus” teknologi ini merupakan hasil refleksi, kajian dan gambaran mengenai potensi teknologi yang dapat digunakan bagi kemajuan, serta upaya kemandirian bangsa. Pembaca dapat lebih paham mengenai pemikiran dan kontribusi BJ Habibie terhadap peradaban teknologi di Indonesia. Sesungguhnya teknologi mempunyai posisi dan peran yang strategis bagi suatu bangsa apabila teknologi tersebut dimanfaatkan secara efektif dan efisien.

Poin penting yang ditekankan Habibie, ia ingin mengembangkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Untuk mengembangkan keterampilan SDM, mereka tidak cukup hanya disosialisasikan ke dalam proses-proses padat karya, tetapi juga harus diperkenalkan dengan proses-proses produksi yang berteknologi tinggi.

*Peresensi adalah Fuad Hasan; pecinta buku, tinggal di Semarang.

Sumber: kompas.com

ISI Denpasar –Pemda Sulteng Tandatangani Mou

ISI Denpasar –Pemda Sulteng Tandatangani Mou

Rabu, (16/2) yang lalu, Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A.berada di Palu, Sulawesi Tengah untuk menghadiri Rapat Koordinasi Teknis Bidang Perencanaan Program Kebudayaan dan Pariwisata se-Sulteng, serta Penandatanganan nota kesepahaman penyelenggaraan ISI Denpasar di Sulteng. Hadir dalam acara tersebut Gubernur Sulawesi Tengah, Pejabat Kementrian BUDPAR RI (Dirjen Pariwisata, Dirjen Destinasi, Dirjen Sejarah Purbakala, Dirjen NBSF dan Biro Perencanaan dan Hukum, ketua dan anggota Komisi IV DPRD   Propinsi Sulawesi Tengah, para Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten / Kota se Sulawesi Tengah, pengurus Asosiasi Industri Pariwisata Sulawesi Tengah, Seniman, Budayawan dan Pemerhati Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Sulawesi Tengah.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Sulteng,  Drs. H. Suaib Djafar, M.Si. dalam sambutannya mengatakan bahwa  dalam membangun SDM khususnya pada peningkatan pendidikan seni  Sulawesi Tengah, dilaksanakan penandatanganan nota kesepakatan bersama Gubernur Sulawesi Tengah dengan Rektor ISI Denpasar dalam penyelenggaraan program study Starta Satu (S1) di luar domisili ISI Denpasar di Palu.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemda Sulteng yang telah ikut meningkatkan mutu pendidikan tinggi, SDM, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan lokal dan nusantara melalui penyelenggaraan PS S1 Seni Tari, Karawitan, serta Kriya, diluar domisili ISI Denpasar di Palu,”ujar Prof Rai seusai penandatanganan tersebut. Rektor yang didampingi PR I, PR II, Kepala Biro Akademik, serta Humas ISI Denpasar, juga meninjau Taman Budaya Palu, yang akan menjadi tempat pelaksanaan perkuliahan nantinya. Rombongan kemudian tangkil ke Pura Agung Jagatnatha, untuk sembahyang dan bertemu dengan masyarakat Bali yang sedang membuat persiapan upacara Hari Purnama.

Acara dialog antara ISI Denpasar dan Kadis Budpar Kabupaten/Kota se-Sulteng, budayawan, seniman, serta akademisi yang disaksikan oleh Pejabat Kementrian BUDPAR RI digelar pada 16/2 malam. Dialog tersebut berlangsung hangat dan peserta sangat antusias menyambut  kehadiran program study Starta Satu (S1) di luar domisili ISI Denpasar di Palu Sulawesi Tengah.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Pendidikan Harus Ramah Sosial

Pendidikan Harus Ramah Sosial

Jakarta — Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyatakan pendidikan harus ramah sosial. Untuk mendukung kebijakan pendidikan yang ramah sosial, pemerintah membuat program beasiswa BIDIK MISI bagi mahasiswa tidak mampu.

“Tahun ini Kemdiknas menargetkan pemberian 50 ribu beasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia,” ujar Menteri Nuh ketika berceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1432 H di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Selasa (15/2).

Menteri Nuh menjelaskan, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66/2010 yang mengatur antara lain keharusan perguruan tinggi negeri menyediakan kuota 20 persen bagi siswa miskin. Ada pula kebijakan pendidikan bagi yang berkebutuhan khusus, serta kucuran dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk pendidikan dasar pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Kegiatan yang bertemakan “Meneladani Sifat Amanah Rasululloh SAW” tersebut diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor Jakarta Utara dan Jakarta Islamic Center. Acara dihadiri pelajar dan  Jamaah Majelis Ta’lim di daerah Jakarta Utara. Ikut mendampingi Menteri Nuh adalah Staf Ahli Bidang Kajian Sistem Pendidikan A. Hanief Saha Ghafur, dan Plt. Kepala Pusat Informasi dan Humas Ibnu Hamad.

Dalam ceramahnya, Menteri Nuh mengingatkan bahwa belajar tidak hanya dari teks atau seorang guru. Belajar bisa juga dari ilmu-ilmu kehidupan, dan gurunya adalah ahli-ahli hikmah. “Sehingga kita harus bisa belajar pada siapa pun yang mampu memberikan pencerahan, mampu memberikan pengajaran, dan mampu menjadikan sumber keteladanan,” tuturnya. (arief)

Sumber: kemdiknas.go.id

Yudisium FSRD ISI Denpasar Meluluskan 42 Mahasiswa

Yudisium FSRD ISI Denpasar Meluluskan 42 Mahasiswa

Sebanyak 42 orang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar telah diyudisium pada hari kamis (17 Februari 2011), yang bertempat di gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Acara tersebut merupakan Runtutan dari acara Ujian Akhir Mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang sebelumnya pameran Tugas akhir yang bertempat Sika Gallery Ubud 8 Januari s/d 1 Februari 2011, Ujian Akhir dilaksanakan dari tanggal 24-28 Januari 2011 dan terakhir Yudisium yang merupakan pengumuman kelulusan para mahasiswa yang dilaksanakan pada hari Kamis (17/2) ini. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa yang telah mengikuti Ujian Tugas Akhir, seluruh dosen Penguji, Pembantu Rektor, jajaran struktural FSRD, seluruh Dosen dari FSRD, staf dan panitia.

Dalam kesempatan itu ketua Panitia sekaligus pembantu Dekan I ISI Denpasar Drs. Olih Solihat Karso,M.Sn. menerangkan bahwa dari 42 orang para lulusan tersebut terdiri dari 11 mahasiswa dari jurusan Seni Rupa Murni, 9 mahasiswa program studi Desain Interior, 19 mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual, 1 mahasiswa jurusan Fotografi, serta 2 mahasiswa jurusan Kriya Seni. Pada acara yudisium kali ini, Fakultas Seni Rupa dan Desain memberikan penghargaan kepada 10 orang mahasiswa terbaiknya dengan kategori 5 mahasiswa peraih predikat Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi dan 5 mahasiswa peraih predikat karya terbaik. Drs. Olih Solihat Karso,M.Sn. tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya terhadap hasil yang diraih dari para lulusan yudisium sekarang ini, setelah beberapa kendala yang dihadapi namun mereka dapat menunjukan karya terbaiknya. Terbukti dari nilai yang diperoleh dari para mahasiswa yang mengikuti yudisium yang rata-rata memuaskan.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Dekan FSRD ISI Denpasar Dra. Ni Made Rinu, M.Si dalam sambutannya pada acara tersebut. “Saya sangat bangga terhadap hasil yang telah dicapai oleh para lulusan dan diharapkan dapat dipertahankan” ujar Dra. Ni Made Rinu, M.Si. Sehingga ketika memasuki dunia kerja karyanya dapat diterima oleh stake holder atau masyarakat yang membutuhkan karya seni dan desainnya. Pada kesempatan itu pula Rinu menerangkan bahwa secara kuantitas lulusan sekarang ini cukup banyak untuk ukuran Fakultas Seni Rupa dan Desain, nah yang menjadi pertanyaan bagaimana menjaga kualitasnya sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan dunia seni dan desain baik lokal maupun internasional. “Tentu ini tugas bersama seluruh civitas akademika ISI Denpasar untuk mencapai hal tersebut” ungkap Dra. Ni Made Rinu, M.Si Dekan FSRD. Sebagai caranya Rinu menggaris bawahi beberapa point penting yang dijadikan pijakan di dalam mencapai lulusan seni rupa yang berkualitas yaitu yang pertama pentingnya lembaga penjamin mutu pendidikan di dalam menjamin jalannya pendidikan yang jelas, terarah dan terpadu sehingga berpengaruh terhadap kualitas lulusan itu sendiri. Kedua peningkatan SDM  seluruh dosen sebagai tenaga pendidik dengan melanjutkan pendidikannya baik S2 maupun S3 di dalam negeri maupun luar negeri sehingga perkembangan wawasannya dapat dipakai mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya. Apalagi peluang untuk itu sangat terbuka berkat dukungan dari DIKTI maupun rektor yang tidak henti-hentinya mendorong dengan jalan mencarikan jaringan kerjasama dengan universitas baik dalam maupun luar negeri. Peningkatan SDM juga ditunjang dengan kedisiplinan para staf dan dosen sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan maksimal. Ketiga kreatifitas yang didukung oleh sarana infrastruktur dan fasilitas yang dapat menunjang kegiatan tersebut. Terakhir hubungan kerjasama atau networking yang terus dikembangkan baik dalam maupun luar negeri. Sehingga kita harus membenahi kinerja kita di institusi sendiri dan jaringan keluar yang harus dikembangkan dengan kontinyu.

Pada kesempatan tersebut pembantu Rektor III ISI Denpasar Drs. I Made Subrata, M.Si

yang mewakili Rektor menyampaikan agar mahasiswa nantinya kelak harus bersikap dewasa, bertanggung jawab serta penuh kontrol dalam mengambil langkah-langkah ke depan karena dewasa ini tantangan yang harus dihadapi oleh sarjana lebih beragam dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, bahkan beliau menambahkan Rektor ISI Denpasar sempat berpesan sebelum bertolak ke Palu dalam rangka persiapan pembukaan cabang ISI Denpasar di kota palu, bahwa saat ini perlunya penambahan status pendidikan, dimana tidak hanya cukup menyelesaikan studi strata satu namun perlu juga meningkatkan pendidikan hingga strata dua maupun stara tiga.

Disela-sela padatnya acara yudisium, Indri Koesmawan, selaku peraih Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi serta peraih Tugas Akhir terbaik memberikan pesan untuk selalu bersemangat kepada teman-temannya dalam memasuki tahap selanjutnya.  Acara diakhiri dengan jabat tangan antar mahasiwa dan dosen, sebagai ucapan perpisahan dan terima kasih atas bimbingannya selama ini. Sungguh mengharukan sekaligus membanggakan dan harapan untuk kelangsungan masa depan dunia kesenirupaan dan desain di Bali maupun secara mengglobal.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Kemdiknas Tanda Tangani Pakta Integritas Antikorupsi

Kemdiknas Tanda Tangani Pakta Integritas Antikorupsi

Jakarta — Inspektorat jenderal (Itjen) sebuah kementrian merupakan lembaga yang rawan bersentuhan dengan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Fungsinya sebagai lembaga audit internal di instansi pemerintah, membuat lembaga ini senantiasa didekati sejumlah pihak, baik eksternal maupun internal, yang menawarkan imbalan atau supaya hasil auditnya bersih.

Tidak mau terjebak dalam perangkap itu, Itjen Kementerian Pendidikan Nasional menandatangani Pakta Integritas. Penandatanganan dilakukan pejabat struktural dan auditor di saksikan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, pemimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan sejumlah pejabat lainnya di lingkungan Kemdiknas, Rabu, 16 Februari 2011, di Gedung Kemdiknas, Jakarta.

Menteri Nuh pada kesempatan tersebut menyatakan, penandatanganan Pakta Integritas ini adalah wujud dari komitmen bersama atas dasar keikhlasan, dan kesadaran untuk mendukung program pemerintah dalam pemberantasan KKN.

“Saya sangat mendukung Inspektorat untuk menandatangani Pakta Integritas bagi semua pejabat struktural dan fungsional,” ujarnya. “Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan inspirasi bagi unit utama lain, sehingga semua pejabat Kementerian Pendidikan Nasional melakukan penandatanganan Pakta Integritas secara berjenjang dengan pemimpin di unit kerja masing-masing.”

Menurut Menteri, Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional memiliki tugas dan tanggung jawab untuk selalu bertindak jujur (honest), dapat dipercaya, menghindarkan diri dari benturan kepentingan (conflict of interest), anti-KKN, serta antisuap.

Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemdiknas, Wukir Ragil, menyampaikan, jumlah pejabat yang menandatangani Pakta Integritas sebanyak 299 orang, terdiri dari 1 orang pejabat eselon I (Inspektur Jenderal), 6 orang pejabat eselon II (Sekretaris dan lima orang Inspektur), 4 orang Kepala Bagian, 13 orang Kasubbag, dan 275 orang auditor.

Kemdiknas adalah salah satu di antara 12 instansi pemerintah yang diprogramkan untuk merintis dan melaksanakan reformasi birokrasi pada 2010-2011. Penandatanganan Pakta Integritas ini, dilakukan dalam rangka  Reformasi Birokrasi Internal guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

“Penandatanganan pakta integritas menjadi momen penting dan langkah awal bagi kami menunjukkan niat yang tulus dan ikhlas guna melakukan perubahan moral dan integritas dalam menjalankan tugas dan fungsi pengawasan,”  ujar Wukir. (Set)

Sumber: kemdiknas.go.id

Sosial – Arsitektur Thailand

Sosial – Arsitektur Thailand

Kiriman: I Wayan Eka Laksana Satiaguna, Prodi. Desain Interior

Sebagai negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain tidak menyebabkan Thailand terhindar dari pengaruh yang dapat merubah sosial-kultural negara ini, pengalaman masa lalu dan kebijakan pemerintahan yang terdahulu menyebabkan Thailand secara sadar ikut membuka diri terhadap perubahan terutama dalam memodernisasikan aspek arsitekturnya. Pada artikel sebelumnya tentang Arsitektur Tradisional Thailand penulis menyimpulkan bahwa yang menjadi fokus perhatian orang-orang Thailand pada jaman sebelum moderenisasi adalah rasa keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahiran serta rumah sebagai tempat tinggal, sosialisasi, bahkan sebagai tempat pengungsian jika diperlukan pada musim banjir karena iklim tropis yang memberikan hujan yang berlimpah pada musimnya. Namun sekarang kita tidak bisa banyak melihat rumah tradisional Thailand seperti dulu terutama di Bangkok. Masyarakat Bangkok banyak mendapat pengaruh modernisme serta cara mereka menggunakan rumah telah berubah, rumah hanya sebagai tempat untuk beristirahat setelah melakukan aktivitas sehari-hari. Perubahan ini tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Thailand IV dan setelahnya, karena kebijakan tersebut mendatangkan pengaruh modernisme pada bidang arsitekturnya, selain itu kehadiran orang-orang asing ke Thailand dan akhirnya menetap sebagai warga negara juga ikut memberi sumbangsih perubahan, sebut saja Silva Bhirasri dan Jim Thompson yang datang setelah Perang Dunia II. Pada pemerintahan Raja Rama IV ditandatangani perjanjian Bowring pada 18 April 1855 antara Inggris dan Siam (sebelum berubah menjadi Thailand) yang isinya tentang pembebasan pedagang asing di Siam dan ditandatangani oleh Sir John Bowring (Gubernur Hong Kong pada masa itu dan utusan dari Inggris) dan Raja Mongkut (Rama IV). Perjanjian ini memberikan keuntungan berupa kebebasan dan pembebasan pajak bagi pedagang asing serta mengijinkan penempatan Konsulat Inggris di Bangkok dan menjamin perluasan wilayah territorial secara penuh. Berdirinya Mandarin Oriental Hotel atau The Oriental yang merupakan hotel pertama di Thailand karena ditandatanganinya perjanjian Bowring sehingga para pedagang dan utusan yang datang ke Bangkok memerlukan akomodasi yang terletak di tepi laut. Oleh Karena itu kapten Dyers seorang Amerika dan temannya J.E. Barnes mendirikan The Oriental tahun 1879, pendirian hotel ini juga mendapat dukungan dari Pangeran Prisdang Jumsai (Duta Besar I Thailand untuk Amerika masa jabatan 1881-1884). Pendirian hotel ini berdampak secara langsung pada masyarakat yang direkrut sebagai karyawan sehingga mereka mengenal pola hidup yang baru yang modern. Pada masa pemerintahan Raja Rama V banyak ruko (rumah toko) yaitu bangunan berlantai dua yang dapat difungsikan sebagai toko pada bagian bawah dan tempat tinggal pada lantai atasnya yang didirikan seperti :

Sosial – Arsitektur Thailand selengkapnya

Loading...