by admin | Mar 16, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Saptono, Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar
1. Pendahuluan
Dalam arti yang sangat luas, kebudayaan dapat dinyatakan sebagai keseluruhan masalah-masalah sepiritual, material, segi-segi intelektual dan emosional yang beragam, dan memberi watak kepada suatu masyarakat atau kelompok sosial.
Kebudayaan juga dapat pula diartikan sebagai segenap perwujudan dan keseluruhan hasil pikiran (logika), kemauan (etika), serta perasaan (estetika) manusia dalam rangka perkembangan pribadi manusia; hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Tuhan (Bandem, 1995). Para ahli kebudayaan menekankan pentingnya aspek kebudayaan diperhitungkan dalam pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1990), adalah kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dirinya dengan belajar. Selanjutnya menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan secara universal, yaitu; (1). Bahasa, (2). Sistem teknologi, (3). Sitem mata pencaharian atau ekonomi, (4). Organisasi sosial, (5). Sitem pengetahuan, (6). Religi, dan (7). Kesenian.
Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau besar dan kecil, dan pendukungnya terdiri dari kelompok-kelompok suku bangsa yang sangat beragam wujudnya. Jika dipandang dari sudut budaya, di Indonesia terdapat budaya-budaya yang sangat beragam (pluralistik), mulai dari adanya budaya lokal, suatu kebudayaan yang berlaku dalam lingkungan keluarga; kebudayaan daerah, suatu kebudayaan yang disepakati oleh daerah atau suku bangsa tertentu seperti kebudayaan Jawa, Bali, Minang, Sunda, Bugis, Sasak, Dayak, Papua, Madura, dan sebagainya. Wawasan aneka budaya (multikultural) dalam dasawarsa terakhir ini banyak sekali ditampilkan dan dianjurkan dalam berbagai forum (Edi Sedyawati 2002), namun sebenarnya perlu disadari bahwa situasi aneka budaya itu tidak sama di semua negara, meskipun sama-sama mempunyai keanekaragaman budaya. Lebih lanjut Edi Sedyawati, mengemukakan adanya tiga tipe negara dalam hubungannya dengan keanekaragaman budaya yang dikelolanya. Pertama, dengan upaya pembangunan imperium (atas sejumlah negara), umumnya kerajaan-kerajaan yang mulanya merupakan negara bebas, namun berada dibawah kekuasaan dan pemantauan kaisar dan pemerintahannya. Mereka mempunyai kebudayaannya masing-masing dan berbeda-beda dengan kebudayaan yang dianut kaisar (contoh kekaisaran di Romawi). Meskipun memiliki kebudayaan-kebudayaan lokal, mereka tidak diberi pengakuan yang nyata. Kedua, adalah negara yang terjadi melalui suatu proses kolonisasi dan pendudukan. Negara tipe sepert ini keanekaragaman budaya dapat berkembang secara rumit. (contoh: The United States America, Kanada, dan Australia). Walaupun isu multikulturalisme iitu sendiri berasal dari negara-negara tersebut, yang rupanya sangat menyadari akan problematik yang ditimbulkan. Ketiga, adalah negara tempat keanekaragaman budaya itu terdapat berdasarkan prinsip penyatuan dan persatuan. Keputusan tersebut dilandasi oleh pengakuan akan adanya cita-cita bersama untuk masa depan, kesamaan latar belakang sejarah, dan kedekatan budaya. (contoh: Indonesia, India, dan Thailand).
Indonesia sebagai suatu negara yang merdeka dan berdaulat juga memiliki kebudayaan nasional yang disebut “Kebudayaan Nasional Idonesia” seperti yang tertuang dalam pasal 32 UUD 1945.
Yang menjadi pertanyaan dalam makalah ini adalah, “Mungkinkah kita melakukan pembangunan pariwisata yang berwawasan budaya berbasis komunitas? didalam situasi krisis nasional yang sedang kita alami sekarang ini”.
Di dalam tulisan ini akan dimulai dengan pembahasan singkat tentang masyarakat Bali Sekarang dan peran pembangunan, pariwisata yang berwawasan budaya, keragaman dan komunitas budaya.
Budaya Pluralistik Dalam Prespektif Pembangunan Pariwisata Berbasis Komunitas selengkapnya
by admin | Mar 16, 2011 | Berita, Lain Lain
Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar) sebagai salah satu Universitas seni merupakan bagian strategis bagi perkembangan pendidikan khususnya seni di Indonesia. Kekhususan pada bidang seni terutama seni bali, merupakan salah satu asset strategis bagi seni Indonesia bahkan dunia.
ISI Denpasar mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan, mengembangkan, dan meningkatkan mutu seni, serta nilai- nilai budaya bangsa Indonesia. Institut Seni Indonesia Denpasar meyakini seni dapat berfungsi menjaga keseimbangan hidup dan memperkokoh jati diri untuk menghadapi dampak globalisasi yang semata – mata berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi
Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, universitas telah mencanangkan visi, misi dan sasaran jangka panjang yang dituangkan dalam sebuah dokumen Rencana Strategis ISI Denpasar. Untuk mendukung visi universitas menjadi universitas kelas dunia dibutuhkan dukungan suatu sistem yang dapat mengintegrasikan keseluruhan sistem yang telah dan akan dikembangkan dimasa mendatang.
ISI Denpasar melalui Puskom Membangun sebuah sistem informasi terpusat dan terpadu yang mampu mengakomodir keseluruhan fungsi yang ada di universitas yang memiliki struktur organisasi yang kompleks serta jumlah stakeholder yang besar, baik dari sisi pengelola maupun pelanggan, dimana kondisi setiap unit berbeda-beda dengan berbagai proses bisnis yang beragam menuntut adanya pengelolaan dan pengembangan yang spesifik untuk masing-masing kepentingan. Pengembangan dan implementasi teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan akses informasi universitas dari mana saja, kapan saja serta dengan ragam piranti akses yang senantiasi berkembang dengan cepat berimplikasi munculnya tatanan baru dengan nilai, tradisi dan budaya yang berbeda dengan tatanan tradisional.
Sistem Informasi yang dikembangkan ISI denpasar adalah suatu sistem informasi (SI) atau information system (IS) yang merupakan aransemen dari orang, data, proses-proses, dan antar-muka yang berinteraksi mendukung dan memperbaiki beberapa operasi sehari-hari dalam suatu bisnis termasuk mendukung memecahkan soal dan kebutuhan pembuat-keputusan manejemen dan para pengguna
Sistem Informasi ISI Denpasar tersusun dari sekumpulan hardware, software, brainware, prosedur dan atau aturan yang diorganisasikan secara integral untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat guna memecahkan masalah dan pengambilan keputusan.
Dalam penerapannya Sistem Informasi ISI Denpasar mengalami kendala yang fundamental selain kendala lain yang biasa ditemukan di berbagai penerapan Sistem Informasi yaitu budaya tradisional yang melekat pada seni itu sendiri. Pemamfaatan tik sangatlah sulit diterapkan pada level pengguna karena adanya anggapan dimana teknologi tidak dapat berjalan bersama dengan perkembangan seni. Bagi beberapa pihak penyerapan teknologi dalam bidang seni ditenggarai akan merusak kemurnian seni itu sendiri.
Masalah lain dalam penerapan TIK ditemukan pula dalam level management dan pengambil keputusan, dimana sulitnya merubah tradisi dan budaya kerja yang sudah berjalan sejak lama. Bagi sebagain pihak penerapan TIK khususnya SI dalam level managerial akan merusak tatanan budaya, etos kerja dan system pengambilan keputusan yang mengunakan system terpusat yang selama ini diterapkan dalam pengelolaan manajemen kampus. SI dianggap tidak cukup flexible untuk menjawab masalah yang ada pada tingkat management.
Dengan melihat berbagai masalah serta factor kekhsusan tersebut Sistem Informasi ISI Denpasar disusun berdasarkan 3 bagian utama yaitu interaksi, proses, dan penampil yang menjadi bagian dari proses utama sebuah system informasi, dimana akan terjadi Proses yang menjalankan fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk kepentingan tertentu.
by admin | Mar 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Sariada, SST., MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar
1. Bentuk gerak tari
Bentuk gerak tari kreasi baru Siwa Nataraja sangat variatif. Bentuk geraknya di samping gerak dasar dari petopengan, mudra banyak juga diambil dari tari kekebyaran (gerak tari Bali). Gerak-gerak tersebut meliputi, gerak agem kanan, agem kiri, Nyambir (gerakan mengambil saput), malpal, nyeledet (gerakan mata), ngegol oleg (gerakan pantat), ngumbang (gerakan berjalan), ngeliput (gerak kipas), gegirahan (gerak jari-jari tangan keras), jeriring, ngrajeg, nelik (gerakan mata mendelik), dan berputar. Namun pada sisi lain khusus untuk gerak berjalan dan berputar banyak mengalami perubahan baik dari teknik maupun penjiwaannya. Gerak berjalan meniru gerak berjalan tari Jawa yang disebut dengan gerak lumaksono yaitu berjalan dengan meluruskan lutut kemudian ditaruh dilantai kemudian posisi agem (posisi berdiri). Gerak berputar menurut aturan yang baku dalam tari Bali secara teknik adalah digerakkan berputar ke kanan atau ke kiri hanya satu kali, tetapi tekniknya dirubah menjadi gerakan berputar sebanyak-banyaknya antara lima sampai enam kali putaran sampai dengan tariannya selesai. Gerakan berputar ini mengambil ide gerakan berputar yang ada pada tarian sufi dari Turki. Tariannya dari awal sampai akhir gerakannya hanya berputar. Gerakan ini mencerminkan adanya nilai lokal yang dipengaruhi oleh globalisasi. Menyitir pendapat Piliang (2005:157), globalisasi itu ada wujud tradisi dikembangkan karena adanya globalisasi. Bentuk gerakan berputar itu adalah sebuah bentuk inovasi dalam gerakan tari kreasi baru Siwa Nataraja yang mencirikan perpaduan antara budaya lokal dan budaya global itu, akan menghindari globalisasi yang homogen.
2. Tempat pentas
Pada umumnya bentuk tempat pertunjukan tradisi yang dikenal di Indonesia menurut Pramordarmaya (1983: 12, 73) antara lain: (1) arena; (2) prosenium; dan (3) campuran.
1. Arena, merupakan bentuk pentas yang paling sederhana dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang lainnya. Bentuk pertunjukan arena tidak ada pembatas antara pemeran dengan penonton. Selain itu tidak memerlukan dekorasi khusus.
2. Prosenium, adalah tempat pertunjukan yang menggunakan panggung dengan ketinggian tertentu untuk mengangkat pertunjukan itu agar mendapat cukup perhatian penonton. Tempat pertunjukan ini dibagi dua, antara tempat penonton dengan yang ditonton. Tempat penonton disebut auditorium, sedangkan tempat untuk yang ditonton disebut pentas.
3. Campuran, adalah pentas yang merupakan campuran atau kombinasi dari dua atau lebih tipe pentas, digabungkan dan meniadakan beberapa sifatnya.
Di Bali tempat pementasan yang berupa areal para seniman atau pelaku, baik pelaku penari maupun gamelan untuk memamerkan dan mempertunjukkan ketrampilan seni mereka pada umumnya disebut kalangan. Bentuk dan ukuran kalangan biasanya disesuikan dengan jenis jenis kesenian yang mencirikan kerakyatan pada umumnya mengambil tempat di lapangan, di halaman rumah atau di perempatan jalan. Kalangan dibentuk oleh empat ruang, yaitu ruang tempat pemain mengadakan persiapan pentas (tempat berhias), ruang pentas, ruang gamelan dan ruang penonton.
Kebutuhan kalangan untuk pertunjukan tari-tarian kreasi baru diselenggarakan dalam kepentingan “ditanggap” seseorang karena akan melangsungkan suatu prosesi upacara maupun untuk memeriahkan suatu upacara ulang tahun desa biasanya mengambil tempat di lapangan atau di halaman rumah atau bisa juga di perempatan jalan umum. Luasnya tempat biasanya disesuaikan dengan peristiwa atau bentuk pertunjukannya, misalnya kalangan untuk pertunjukan tari-tarian kreasi baru diperlukan lahan yang tidak terlalu luas disesuaikan dengan jumlah penari yang dipentaskan. Tempat pentas pertunjukan tari kreasi baru Siwa Nataraja sifat sangat fleksibel, jadi dapat melakukan pentas dimana saja baik dipanggung terbuka (arena, lapangan), dan panggung tertutup (prosenium). Semua ini tergantung kebutuhan pertunjukan (lihat gambar 4).
Elemen-Elemen Pertunjukan Tari Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha selengkapnya
by admin | Mar 14, 2011 | Berita, pengumuman
Pengumuman dan persyaratan : Klik disini
Form beasiswa Supersemar : Klik disini
PENGUMUMAN
Nomor : 635/I5.12.1/KM/2011
TENTANG
PENERIMAAN BEASISWA SUPERSEMAR
TAHUN AKADEMIK 2011
Diumumkan kepada Mahasiswa ISI Denpasar, bahwa pada tahun akademik 2011 ISI Denpasar mendapatkan alokasi beasiswa Supersemar sebanyak 60 orang mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang berminat memperoleh beasiswa Supesemar agar mengajukan lamaran permohonan baeasiswa ke masing-masing Fakultas, lamaran paling lambat telah diterima akhir bulan Maret 2011, dengan persyaratan terlampir.
Demikian untuk diperhatikan.
Denpasar, 10 Maret 2011
a.n. Rektor
Pembantu Rektor III
ttd
Drs. I Made Subrata, M.Si.
NIP. 195202111980031002
Tembusan :
1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar sebagai laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan untuk diketahui
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain untuk diketahui
by admin | Mar 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, dosen PS Seni Karawitan
Ketika matahari telah condong ke barat, adu ayam pun dimulai di sudut Desa Singapadu, Gianyar. Para babotoh berkerumun mengitari sisi-sisi kalangan 4X 4 meter itu. Dua ayam, bertaji segera akan ditarungkan oleh dua pakembar. Suasana riuh membumbung bersautan, cok, gasal, telude dan sebagainya–menyebut nama sistem taruhan dalam sabung ayam di Bali. Mong, mong, mong–kemong dipukul oleh saya (juri)–pertarungan ayam putih versus ayam merah pun dimulai. Suasana terasa tegang. Teriakan-teriakan bergemuruh menyertai perkelahian hidup mati dua ayam jantan itu. Ayam putih mengerang bersimbah darah terjerembab sekarat dan dinyatakan kalah. Ekspresi girang tampak pada wajah babotoh yang menang dan sebaliknya rona kuyu terbersit pada babotoh yang kalah.
Mamasuki pertarungan berikutnya suasana kembali gegap. Namun sesaat setelah dua ayam petarung dilepas, tiba-tiba terdengar suara sirine yang meraung-raung. Ada yang beteriak: polisi, polisi! Para babotoh itu bubar dan lari tunggang langgang. Banyak yang ambil langkah seribu menyuruk ke persawahan dan semak-semak. Senyap sejenak, seorang yang mengaku bendesa setempat, memanggil beberapa para babotoh yang bersembunyi ketakutan. Jero Bendesa menasehati orang-orang yang masih diliputi rasa was-was itu untuk tidak memanfaatkan ritual tabuh rah sebagai ajang judi. “Tabuh rah itu korban suci untuk menjaga harmoni alam dan kehidupan,” ujar bendesa berambut panjang memakai udeng putih tersebut.
Adalah sabungan ayam dalam ritual tabuh rah menjadi sumber inspirasi seorang seniman Bali, I Wayan Sutirtha, dalam sebuah karya seninya bertajuk “Tabuh Rah, Antara Ritual dan Judi”. Kendatipun ditampilkan secara sesungguhnya, sabungan ayam yang membaurkan penari terlatih, babotoh, polisi dan masyarakat umum itu adalah sebuah simulakra dari sebuah penciptaan karya seni pertunjukan. Beberapa turis asing yang menyaksikan “pertunjukan” sabungan ayam di jaba Pura Baban, Singapadu, itu pun secara tak sengaja ikut menjadi pemain. Sepasang turis asing tampak kebingungan ketika adu ayam itu bubar berantakan.
Pengejawantahan estetik dari tabuh rah yang disertai taruhan uang itu terajut di Bale Banjar Seseh, Singapadu, tak jauh dari arena sabungan ayam. Dibawakan oleh 40 orang penari pria bertelanjang dada memakai selembar kain dan udeng yang diikatkan sekenanya. Sebuah komposisi seni pentas yang memadukan elemen-elemen gerak dan musik mengalir dinamik sepanjang 15 menit. Eksplorasi gerak-gerak bebas improvisatoris tampak dicuatkan. Derak musikal dari hentakan tubuh para penari penimpali dengan ritmis. Pekik cok, gasal, dapang, apit, buik, bihing, serawah, sangkur dijalin bak simponi. Kumandang dendang lagu-lagu rakyat Bali yang bertema ayam aduan dan sabung ayam, menggarisbawahi keseluruhan karya seni pentas ini.
Kendati disaksikan begitu antusias oleh masyarakat setempat, sejatinya, garapan seni tari Wayan Sutirtha itu digarap dan disajikan sebagai karya tugas akhir untuk menyelesaikan jenjang akademik S2 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Siang itu, sebuah tim penguji dari ISI Surakarta secara khusus didatangkan berbaur dengan masyarakat penonton bersama-bersama menyimak karya salah seorang dosen tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar tersebut. Atas garapannya yang memikat itu, sore itu juga, Sutirtha dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar magister seni (M.Sn).
Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali selengkapnya
by admin | Mar 14, 2011 | Berita

DENPASAR— Dosen jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan SSn, MSi, tetap berangkat ke Jepang sebagai pembicara dalam kegiatan Simposium seni bertaraf internasional di Negeri Sakura, 14-15 Maret 2011.
“Kartawan setelah berkoordinasi dengan pihak panitia penyelenggara memperoleh informasi bahwa kegiatan seni bertaraf internasional itu tetap berlangsung di Jepang bagian selatan. Sementara bencana alam itu terjadi di Jepang utara,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S, Minggu (13/3/2011).
Ia mengatakan, Made Kartawan bertolak ke Jepang sesuai jadwal, yakni Sabtu (12/3/2011) malam, sehingga tidak terpengaruh oleh bencana alam yang melanda negeri tersebut.
Menurut General Manager PT (Persero) Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Bali Purwanto, aktivitas penerbangan dari dan ke Jepang kini kembali normal.
Meskipun demikian, Jumat siang, penerbangan dari Bandara Internasional Ngurah Rai ke Jepang sempat ditunda. Namun, pukul 21.00 Wita, penerbangan sudah kembali dibuka.
Pada Jumat malam, Garuda Indonesia melayani penerbangan ke Jepang menggunakan tiga pesawat.
“Maskapai PT Garuda Indonesia itu melayani tujuan Osaka, Nagoya, dan Narita, pergi-pulang. Pada Sabtu, aktivitas penerbangan itu telah normal,” katanya.
Prof Rai menambahkan, I Made Kartawan mendapat kepercayaan tampil menjadi pembicara dalam simposium internasional bertajuk “Audiovisual Ethnography of Gongs in Southeast Asia” yang berlangsung di Museum Nasional Ethology, Osaka.
Kartawan dalam kegiatan internasional itu akan memaparkan gong bali, mulai dari proses produksi, peranan, dan fungsinya hingga penyebaran ke berbagai negara.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah seniman dari beberapa negara yang memiliki perangkat gamelan gong, antara lain Kamboja, Malaysia, Filipina, dan tuan rumah Jepang.
Made Kartawan selama berada di negeri Matahari Terbit juga akan mengikuti lokakarya tentang teknik penyelarasan gong, bertempat di Okinawa Prefectural University of Arts.
Dalam kegiatan itu, ia tampil sebagai pembicara dengan kertas kerja tentang teknis penyelarasan gong, baik lewat rekaman kaset pandang dengar (video) maupun mempraktikkannya secara langsung.
Gamelan Bali naik gengsi, bahkan gong kebyar menjadi kehormatan dalam menyambut tamu-tamu penting pada acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Masyarakat setempat sangat menikmati konser gamelan Bali yang disajikan seniman dan mahasiswa setempat yang piawai memainkan aneka jenis alat musik Bali.
Ke-17 jenis alat musik tradisional Bali yang berkembang di mancanegara antara lain gong kebyar, angklung, semarandanu, gambang suling, dan kebyar ding.
Suara suling, yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963, berkembang di berbagai kampus seni dan komoditas masyarakat di mancanegara.
Musik tradisional Bali kini telah mendunia. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan sejak komponis Perancis, Claude Debussy (1862-1918), menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Perancis.
Masyarakat Eropa, menurut Prof Rai, semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Perancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah kolonial Belanda.
Sumber: kompas.com