M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Puri Karangasem Menjalin Kekerabatan Dengan Masyarakat Islam Dan Sebagai Pengayom Kesenian

Puri Karangasem Menjalin Kekerabatan Dengan Masyarakat Islam Dan Sebagai Pengayom Kesenian

Kiriman AAA Kusuma Arini, SST., MS.i., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar

I. Menjalin kekerabatan dgn masyarakat Islam

a.   Sejarah asal mula meluaskan daerah kekuasaan ke P.Lombok, (Lombok Barat  sebagian besar beragama Hindu), ada dua versi menurut babad Sasak, Babad Karangasem dan cerita dari orang2 tua.

– 3 raja bersaudara memerintah bersama dan seorang diantaranya yi A.A.Anglurah Kt.Karangasem akan memimpin pasukan ke Lombok pd  tahun 1692.

– Versi I sbg petunjuk keponakan raja seorang yg sakti, lihatlah diseberang timur lautan tanahnya subur, jangan ke Barat, berarti berani pd raja yg lebih perkasa

– Versi II atas permohonan Arya Banjar Getas yg mengutus adiknya Arya Kertawaksa menghdp raja Karangasem mohon bantuan untuk mengalahkan raja Selaparang.

– Saat berangkat pagi-pagi dari pantai Jasri dgn empat buah perahu dan empat puluh prajurit kebal dari desa Seraya dibawah pimpinan A.A Anglurah Kt.Karangasem dan Arya Kertawaksa, daun2 pohon kepel yg ada di pura Bukit jatuh berguguran menjelma menjadi ribuan kupu2 kuning.  Gerombolan kupu2 kuning terbang memenuhi angkasa sebagai pemandu dan pelindung perahu2 yg menyeberangi Selat Lombok yg terkenal deras arusnya.

–  Prajurit Selaparang yg siaga dipantai lari berhamburan karena mengira yg datang ribuan prajurit, namun hal itu dikelabui oleh kilauan cahaya kupu2 kuning tsb

Setelah laskar Karangasem tiba dipantai Lombok,  gerombolan kupu2 kuning itupun menghilang diangkasa.

–  Dalam perang selama 117 hr tsb, dikala para prajurit istirahat makan dengan pola magibung, mereka membuat atraksi dengan menyanyikan tembang2 Sasak diiringi  tarian sambil duduk. Atraksi tsb akhirnya menjadi sebuah suguhan yg menarik yg kemudian disebut Cakepung, berasal dari kata Jag Kepung yg artinya ayo kejar.

–          Demikian pula selama istirahat mereka latihan perang dgn mengenakan penangkis badan yg disebut tamiang atau ende dan sebuah tongkat dari rotan. Latihan ini selanjutnya menjadi tari Gebug Ende yg sekarang masih dilestarikan di desa Seraya sbg peninggalan leluhur mereka

b.   Setelah raja Selaparang mengakui kekalahan maka sekitar tahun 1720an berdiri kerajaan yg berlokasi di Cakranegara dgn raja pertama A.A.Anglurah Kt.Karangasem yg memimpin peperangan itu. Beliau merupakan 6 generasi diatas raja Karangasem terakhir yg memiliki nama yg sama. Beberapa tahun kemudian muncul kerajaan Mataram.

–          Semenjak itulah secara evolusi terjadi akulturasi kebudayaan Sasak dan Bali, antara lain cara2 berpakaian, nama2 makanan, jenis2 tembang, kesenian dsbnya yg dilestarikan sampai sekarang. Demikian pula bila raja pulang ke Bali membawa serta pengiring orang Sasak dan kembali ke Lombok diikuti pengiring orang2 Bali.

Puri Karangasem Menjalin Kekerabatan Dengan Masyarakat Islam Dan Sebagai Pengayom Kesenian selengkapnya

Mahasiswa Tampilkan Bondres Pada Piodalan Pura ISI Denpasar

Mahasiswa Tampilkan Bondres Pada Piodalan Pura ISI Denpasar

Walau hujan mengguyur kampus ISI Denpasar, namun pelaksanaan piodalan pada hari Sabtu (2/4) kemaren yang bertepatan dengan Tumpek Wayang tetap berlangsung dengan hidmat dan kusuk. Upacara yang dipuput oeh Ida Pedanda tersebut dihadiri oleh Rektor dan jajarannya serta dosen, karyawan dan mahasiswa ISI Denpasar.

Mahasiswa jurusan Tari, serta Pedalangan  mempersembahkan wayang, tari Rejang Dewa,  Baris Gede, Topeng, yang diiringi oleh penabuh dari mahasiswa jurusan Karawitan serta para dosen. Dosen yang tergabung dalam Asti Pertiwi mempersembahkan kidung. Bondres yang ngaturang ayah malam kemaren sangat menghibur pemedek yang menonton di bawah tenda di jaba pura. Kedua penari bondres menyoal tentang pentingnya berbagi ilmu pengetahuan, layaknya seperti air sumur, semakin dibagi dan digali, maka makin dalam pulalah sumur tersebut. Oleh karena itu, diharapkan setiap insane manusia, tidak pelit akan ilmu pengetahuan yang dimiliki, hendakanya saling berbagi, demi kecerdasan bersama.

Malam ini, mahasiswa dari Songkhla Rajhabat University Thailand akan menghibur pemedek di kampus ISI Denpasar dengan 10 tarian yang akan ditarikan oleh 30 penari kolaborasi mahasiswa dan siswa Seni di Thailand, serangkain kunjungan kampus seni Thailand tersebut ke ISI Denpasar 1 april yang lalu.

Rektor ISI Denpasar, prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., mengucapkan terima kasih dan syukur kepada Tuhan YME, atas segala lindunganNya, setiap kegiatan di kampus ISI Denpasar dapat berjalan baik dan lancar. Terima kasih pula kepada seluruh keluarga besar ISI Denpasar yang selalu bekerja keras demi kesuksesan setiap kegiatan, termasuk acara piodalan kali ini.”Panitia sudah bekerja keras untuk piodalan ini, sehingga semua berjalan lancar,”tutur Prof. Rai saat turut menyaksikan Bondres yang dibawakan mahasiswanya.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Tari Saman Pukau Masyarakat Newcastle Inggris

Tari Saman Pukau Masyarakat Newcastle Inggris

London  – Pertunjukan Tari Saman dari Aceh yang ditampilkan mahasiswa Indonesia tergabung dalam Indonesian Society (IndoSoc) berhasil menyihir sekitar 200 penonton memadati gedung Northern Stage, Newcastle University, di kota Newcastle, sekitar tiga jam dari London.
Pentas seni ini merupakan bagian dari International Festival of Arts and Music “IFAM” diselenggarakan Union Society, Newcastle University, ujar Ketua PPI UK, Tara Hardika, dalam keterangannya yang diterima Antara London, Rabu.
Dikatakannya tari saman dibawakan 12 mahasiswa Indonesia yang memamerkan kekompakan gerak tangan dan tubuh itu berhasil memukau mahasiswa dan masyarakat Newcastle, yang terletak di wilayah Midland Inggris.
Atase Pendidikan KBRI London, Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman, khusus berkunjung ke Newcastle untuk memberikan dukungan kepada para mahasiswa Indonesia, ujarnya.
Dalam kesempatan itu Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman, menyatakan rasa bangganya melihat kegiatan IndoSoc yang melakukan promosi kegiatan budaya Indonesia di kota Newcastle.
Pertunjukan seni dalam Festival of Arts and Music yang merupakan acara tahunan, mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam IndoSoc menampilkan pertunjukkan “The Adventure of Jacky Jones”.
Petualangan Jacky Jones, mengisahkan petualangan lelaki Inggris yang terpesona dengan keindahan alam Indonesia dan kemudian jatuh cinta dengan seorang penari Belibis.
“The Adventure of Jacky Jones” dibuka dengan adegan pesta pernikahan adat Indonesia yang diiringi alunan lagu Manuk Dadali oleh tim angklung IndoSoc yang dipimpin Yandri Krisanto.
Suara angklung yang unik berhasil memukau penonton yang rata-rata belum pernah mengenal alat musik dari Jawa Barat ini.
Pertunjukan seni ini dilanjutkan dengan tari Belibis yang dibawakan Putri Sari Suci, Cicillia Purnajaya dan Lavena dan diakhir dengan Tari Ngibing dari Betawi menutup keseluruhan penampilan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Newcastle.
Ketua PPI UK, Tara Hardika, mengakui kerja sama mahasiswa-mahasiswi Indonesia dalam berlatih dan mempertunjukkan angklung dan tarian merupakan kegiatan melatih soft skill yang sangat dibutuhkan selain hard skill yang diperoleh di Universitas.
Tara Hardika, yang juga memerankan Jacky Jones dalam pertunjukan ini, merasa bangga dapat memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia ke masyarakat internasional di Newcastle.
Sementara itu Ketua PPI Newcastle, Grari Garisetya, mengatakan tujuan keikutsertaan Indosoc dalam kegiatan ini adalah untuk memberi citra positif tentang Indonesia di mata dunia internasional khususnya para mahasiswa dan masyarakat Newcastle.
Pentas seni ini merupakan bagian dari International Festival of Arts and Music (IFAM) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Union Society, Newcastle University. Acara ini bertujuan menampilkan bakat seni dari para anggota perhimpunan mahasiswa yang ada di Newcastle University.

Sumber: antaranews.com

PNS Bolos 46 Hari Langsung Dipecat

PNS Bolos 46 Hari Langsung Dipecat

JAKARTA--Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang selama ini suka bolos, jangan lagi kebiasaan itu diteruskan. Kecuali, jika memang sudah bosan menjadi PNS. Pemerintah bertekad menerapkan ketentuan PP 53 Tahun 2010 secara tegas. PNS yang nekad bolos 46 hari dalam setahun, langsung dipecat.

Kepala Biro Humas dan Protokol Badan Kepegawaian Negara (BKN) Budi Hartono mewanti-wanti seluruh PNS untuk memahami isi PP 53 Tahun 2010. Dia khawatir, bila tidak paham PP yang mengatur tentang disiplin pegawai tersebut, akan merugikan PNS tersebut.

“Dengan PP 53 tidak ada lagi budaya santai. Kalau dicermati dan dipahami betul, baik oleh pegawai maupun pejabat struktural, saya yakin PNS tidak akan berani bolos lagi. Karena sanksinya berat loh,” kata Budi di Jakarta, Kamis (31/3)

Dia menyebut, setidaknya ada lima hal penting dari PP 53 yang harus diketahui seluruh PNS. Yaitu, absensi PNS, pejabat yang berhak menjatuhkan sanksi, tanggung jawab atasan terhadap disiplin stafnya, ketidakhadiran tanpa keterangan, dan penyalahgunaan jabatan.

“Ketidakhadiran PNS tanpa keterangan yang sah dihitung secara kumulatif. Jika mencapai 46 hari kerja dalam satu tahun, dijatuhi hukuman disiplin berat yaitu diberhentikan sebagai PNS. Sedangkan keterlambatan 7,5 jam secara kumulatif dihitung tidak masuk satu hari kerja,” tutur Budi.

Lantas siapa yang memberikan sanksi? Pejabat struktural yang berwenang menjatuhkan sanksi. Bila sebagai atasan langsung tidak menindak atau menjatuhi hukuman kepada stafnya, maka akan dikenakan hukuman disiplin yang sama jenisnya dengan hukuman bagi PNS bersangkutan.

“Atasan bertanggung jawab penuh terhadap kedisiplinan seluruh stafnya. Itu sebabnya bila didapati stafnya melanggar disiplin, harus segera ditindak,” tegasnya.

PP 53 juga melarang keras pegawai yang tidak masuk kerja tanpa keterangan sah. Bila yang bersangkutan tidak masuk selama lima hari kerja (dihitung kumulatif dalam satu tahun) dijatuhi hukuman disiplin. Dan bagi PNS yang menyalahgunakan tugas jabatannya dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pemecatan dengan tidak hormat.

“Seharusnya dengan ditetapkan PP tentang Disiplin PNS, otomatis tidak ada lagi pelanggaran. Kalau sampai sekarang masih ditemui PNS yang masih suka bolos, masyarakat bisa ikut memantau dan melaporkannya,” sarannya.

Sumber: jpnn.com

Konsep Interior Tropis Pada Arsitektur Landhuis Di Kota Singaraja

Konsep Interior Tropis Pada Arsitektur Landhuis Di Kota Singaraja

Oleh: Pande Artadi, Dosen PS Desain Interior ISI Denpasar

Kolonisasi yang terjadi di Indonesia oleh Belanda  kurang lebih tiga setengah abad,  meninggalkan  jejak-jejak sejarah yang amat penting bagi bangsa Indonesia.  Salah satu terwujud dalam bentuk karya-karya arsitektur sebagai bangunan penunjang pemerintahan kolonial. Masa penjajahan di Bali khususnya di Buleleng mulai dari tahun 1849 dan berakhir 1945, ini berarti lama penjajahan mendekati satu abad, namun waktu satu abad adalah rentang masa yang relatif singkat bila di bandingkan dengan masa penjajahan daerah lain di Indonesia yang berlangsung tiga setengah abad.  Oleh karena itu  peninggalan arsitektur kolonial di daerah Buleleng tidak sebanyak daerah lain seperti: di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya  dan beberapa kota di Pulau Sumatra.  Arsitektur kolonial di kabupaten Buleleng tersebar di beberapa kawasan bersejarah di kota Singaraja, seperti:  bangunan sarana perkantoran dan perumahan di Jalan Vetran, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Ngurah Rai, serta beberapa bangunan kantor dan pabrik di sekitar waterfront /pelabuhan Pabean.

Berdasarakan periodisasi perkembangan arsitektur kolonial di Indonesia yang diungkapkan oleh Hellen Jessup, tahun 1849 (awal Belanda menundukan Bali) merupakan masa periode kedua  perkembangan arsitektur kolonial di Indonesia (tahun 1800-an sampai tahun 1902). Dalam periode ini kekuasaan VOC di Hindia Belanda diambil alih oleh pemerintah Belanda. Periode ini juga menjelaskan tentang  kemampuan bangsa Belanda dalam setiap karya arsitekturnya untuk beradaptasi dengan keadaan iklim tropis di Indonesia. Ungkapan ini juga ditegaskan oleh Sumintardja dalam ‘Kompendium Sejarah Arsitektur’ yang mengatakan bahwa pada periode ini banyak arsitektur kolonial Belanda  mencoba  untuk mengadopsi pola ruang  rumah tinggal tradisional di daerah pesisir pantai utara Sumatra dan Jawa. Hadirnya bentuk arsitektur rumah tinggal seperti ini merupakan bagian dari sikap orang Belanda  untuk menyesuaikan arsitekturnya dengan kebutuhan dan kondisi iklim tropis basah di Indonesia.

Salah satu karya arsitektur kolonial yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis di Indonesia adalah  arsitektur Ladhuis.  Jeni Arsitektur ini tersebar di sepanjang Jalan Gajah Mada  di Singaraja, Buleleng Bali. Beberapa bangunan yang ada di jalan Gajah Mada adalah rumah dinas yang dibangun pada tahun 1914-an untuk para pegawai Belanda yang ditugaskan di Bali, namun tidak diketahui siapa yang menjadi arsiteknya. Ini disebabkan karena bangunan yang didirikan adalah bangunan sederhana jenis rumah tinggal sebagai program pemerintah kolonial, sehingga tidak harus dirancang oleh seorang arsitek. Proses perancangannya hanya dilakukan oleh pegawai dari Departemen Pekerjaan Umum Pemerintah Belanda  BOW (Bugerlijke Openbare Werken) melalui gambar atau model yang telah disediakan.

Konsep Interior Tropis Pada Arsitektur Landhuis Di Kota Singaraja Selengkapnya

Loading...