by admin | May 2, 2011 | Berita
Jakarta — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, selaku Bapak Perintis Pendidikan Nasional, namun lebih merupakan sebuah momentum untuk makin memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa.
“Tidak sekadar memperingati tokoh, itu sekadar pijakan awal, tetapi lebih penting upaya kita mengingatkan pentingnya pendidikan bermutu bagi bangsa,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Dodi Nandika saat memberikan keterangan pers tentang di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (29/4/2011).
Dodi menyampaikan, tema peringatan Hardiknas tahun ini adalah Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa. Adapun subtema adalah Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti.
Adapun tujuan peringatan adalah memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan tentang pentingnya/strategisnya pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa. Selain itu, sebagai pencanangan pendidikan karakter dan Gerakan Pendidikan Anak Usia Dini dalam rangka mempersiapkan 100 Tahun Indonesia Merdeka (2045). “Tujuan lainnya adalah mengomunikasikan atau menyosialisasikan kebijakan dan hasil-hasil pembangunan pendidikan nasional,” kata Dodi.
Dodi menjelaskan, peringatan Hardiknas di lingkungan Kemdiknas dilangsungkan pada 2 Mei 2011 pukul 7.30-9.00 WIB. Kegiatan dirangkai dengan pemberian Satya Lencana Karya Satya kepada 84 pegawai di lingkungan Kemdiknas, yang berdedikasi mengabdikan diri dengan masa kerja 10,20, dan 30 tahun.
Seusai upacara, ada penyerahan Arsip Kemdiknas ke Arsip Nasional, pengukuhan duta-duta pendidikan, MoU Kemdiknas dengan Microsoft dan Intel, penyerahan bantuan PT Proton Edar Indonesia ke SMK, dan penyerahan beasiswa PT Jamsostek. “Jumlahnya ada 2.000 beasiswa,” katanya.
Rangkaian kegiatan lainnya adalah penyerahan Ensiklopedia Penerbangan PT Garuda Indonesia, peluncuran Sabak Elektronik PT Balai Pustaka, dan hiburan paduan suara Universitas Padjajaran, band tuna netra, dan kelompok musik Klanting dari Surabaya. Memeriahkan acara penyanyi Dewi Yul dan presenter Dewi Huges.
Puncak peringatan Hardiknas akan dirangkai dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei 2011 di Arena Pekan Raya Jakarta. Pada acara, direncanakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akan mencanangkan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter.
Sumber: kemdiknas.go.id
Sambutan mendiknas
by admin | May 1, 2011 | Berita
Kiriman: I Nyoman Kariasa,S.Sn., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Saat ini gamelan Gong Kebyar menjadi salah satu jenis karawitan Bali yang paling popular. Di Bali sendiri hampir setiap desa memiliki gamelan Gong Kebyar. Gamelan ini memakai laras pelog lima nada. Kata kebyar dapat diasosiasikan dengan sesuatu yang datang atau meledak dengan tiba-tiba, seperti kembang api. Gamelan Gong Kebyar sangat mengutamakan dinamika, selain kekompakan suara, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi merupakan ciri khas gamelan ini, yang membedakan gaya pemainan gamelan Gong Kebyar antara satu daerah dengan daerah lainnya. Menurut bentuknya gamelan Gong Kebyar didominasi oleh intrumen berbentuk bilah dan instrument berpencon, di samping instrument-instrumen lain yang mendukung dan melengkapi barungan gamelan ini.
Laras
Menurut Wayan Rai (1986b: 20) laras gamelan Gong Kebyar bervariasi sehingga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Frekwensi nada-nada gamelan Gong Kebyar tersebar dalam empat oktaf. Selisih frekwensi antara pengumbang dan pengisep menyebabkan timbulnya ombak. Selain itu juga terdapat variasi interval dalam satu barung gamelan, baik masing masing instrument maupun gamelan secara keseluruhan. Perbedaan interval dalam satu barung gamelan menyebabkan adanya perbedaan jenis/model laras Gong Kebyar. Ada empat jenis laras, yaitu bebeg, sedeng, memecut dan nirus. Adanya keempat jenis laras Gong Kebyar ini adalah sebagai pertimbangan kegunaan yang bersifat estetik, yaitu laras bebeg dan sedeng biasanya dirasakan lebih enak untuk menyajikan gending-gending lelambatan. Sedangkan laras memecut dan nirus dirasakan enak untuk jenis gending-gending kekebyaran.
Demikian halnya Gong Kebyar di Bajar Tegaltamu. Gong Kebyar ini termasuk ke dalam jenis laras sedeng, dengan interval nada dari nada ding sampai deng jaraknya hampir sama. Sedang dari nada deng dengan dung jarak membesar, nada dung dan dang kecil jaraknya agak dekat, dan nada dang dengan ding kecil jaraknya juga membesar. Sebagai pertimbangan dalam memilih jenis laras ini disamping kegunaannya untuk membawakan gending-gending lelambatan, juga pada saat-saat tertentu digunakan untuk membawakan gending-gending kekebyaran. Pemilihan penggunaan laras ini disamping sebagai kebutuhan estetik juga sebagai identitas dari grup gamelan Banjar Tegaltamu.
Instrumentasi
Menurut Pande Made Sukerta dalam bukunya Gong Kebyar Buleleng, Gong Kebyar terdiri dari enam jenis tungguhan. Pengelompokan ini berdasarkan fungsi dari jenis tungguhan yang terkait dengan garap atau teknik permainannya dalam menyajikan gending-gending dalam Gong Kebyar. Adapun pengelompokan jenis tunguhan dipakai untuk menganalisis estetika lelambatan yang ada di Banjar Tegaltamu. Secara garis besarnya jenis jenis instrument yang terdapat dalam Gong Kebyar adalah adalah; kelompok instrument bantang gending, penandan, pepayasan, pesu mulih, pemanis dan pengramen .
1).Instrument Bantang Gending
Yang termasuk jenis bantang gending adalah kenyur/penyacah, dan jublag. Instrument ini dalam kaitannya dalam membawakan tabuh lelambatan berfungsi sebagai pembawa bantang gending/kerangka lagu. Teknik pukulannya adalah neliti yang polos tanpa variasi apapun.
2). Kelompok Penandan
Instrument kelompok penandan adalah trompong, kendang, ugal, kethuk, dan bebende. Penandan artinya menuntun atau memimpin. Jadi masing masing instrument ini menuntun dalam wilayahnya masing-masing. Trompong dalam memainkan gending lelambatan mempunyai peran yang sangat penting untuk memimpin membawakan melodi gending dan memberikan variasi pukulan untuk memperindah gending yang sedang dimainkan. Kendang sebagai salah satu instrument penuntun juga memiliki peran yang sangat penting. Yaitu, menentukan tempo jalananya gending, memulai dan menyelesaikan gending, memberikan aba-aba keras lirihnya gending dan dan mengatur cepat-lambatnya gending. Ugal, instrument ini dalam membawakan tabuh lelambatan berfungsi membawakan melodi bersama trompong, serta memberikan aba-aba keras lirih dan motif pukulan kolompok pemade dan kantil. Instrument kethuk dalam menyajikan lelambatan bertugas meneruskan tempo yang sudah ditentukan oleh kendang dan ugal yang menjadi pedoman bagi seluruh instrument. Sedangkan bebende dalam menyajikan lelambatan mempunyai tugas memberikan penekanan ritme yang pukulannya jatuh disela-sela peniti gending.
Gamelan Gong Kebyar di Banjar Tegaltamu selengkapnya
by admin | May 1, 2011 | Berita
Kiprah Institut Seni Indonesia Denpasar dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi tak pernah surut. Kampus Seni satu-satunya di Bali ini, tidak hanya melaksanakan pengabdian masyarakat sebagai salah satu bentuk implementasi Tri Dharma di tingkat daerah, namun juga di tingkat nasiona dan internasional. Selasa malam (26/4) yang lalu ISI Denpasar yang diwakili oleh 5 mahasiswa Jurusan Tari yaitu Kadek Diah Pramanasari, Ni Wayan Ayu Lestari, I Gst Sri Ayu Widyaningsih, Lia Candra Dewi, dan I.A. Gede Sasrani Widyastuti mempersembahkan Tari Pendet dalam acara The 8th SOCA (Senior Official Committee for ASCC-Asean Socio Cultural Community- Meeting di Hotel Borobudur Jakarta.
Acara tingkat internasional ini diselenggarakan dari tanggal 25-27 April 2011. Penampilan ISI Denpasar pada acara bertajuk Dinner with Cultural Performance tersebut disaksikan oleh Sekretaris Jeneral Kementrian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Doddy Nandika yang dalam sambutannya memaparkan tentang peranan seni dalam memupuk kebersamaan dalam konteks ASEAN.
Selain penari cantik ISI Denpasar yang menuai decak kagum seluruh anggota SOCA yang hadir malam itu, pemain Angklung asal Jawa Barat yang tergabung dalam kelompok bernama Udjo juga memberi warna acara budaya tingkat ASEAN tersebut. Seluruh undangan dilibatkan langsung dalam memainkan gamelan terbuat dari bambu ini.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. yang hadir pula dalam acara tersebut, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya atas pementasana mahasiswanya dalam acara budaya tingkat ASEAN tersebut. “Terima kasih kami haturkan pada Kementrian Pendidikan Nasional, yang sudah member kepercayaan kepada ISI Denpasar untuk tampil dalam acara tingkat ASEAN. Terima kasih juga kepada mahasiswa yang selalu semangat dan memberi yang terbaik demi pencitraan lembaga,”papar Prof.Rai.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Apr 30, 2011 | Berita
Kegiatan yang diadakan pada hari senin tanggal 25 April 2011 bertempat di Gedung Latha Mahosadhi ISI Denpasar yang dimulai tepat pukul 9 pagi diikuti oleh mahasiswa dari jurusan DKV, para dosen serta pejabat struktural di lingkungan FSRD-ISI Denpasar. Acara dibuka dengan sambutan singkat oleh ketua panitia yang menjelaskan persiapan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Dra. Ni Made Rinu, M.Si, dalam kesempatan ini beliau mengungkapkan bahwa kegiatan kreatif ini sangat baik untuk menunjang kegiatan kemahasiswaan khususnya dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi serta pencipataan produk barang dan jasa, selain itu beliau mengungkapkan juga bahwa dalam setiap berkegiatan perlu diingat bahwa knowledge is power, hendaknya kekuatan ilmu pengetahuan selalu mendasari berbagai hal yang akan diwujudkan.
Roadshow Design Competition 2011 ini memaparkan mengenai kegiatan lomba yang akan diadakan oleh Quicksilver dan Roxy ditahun 2011 yang akan diikuti oleh seluruh negara di Asia Tenggara dengan imbalan hadiah bagi para pemenangnya yang cukup mengesankan berupa uang tunai, paket tour mengunjungi Australia selama 2 minggu, hingga beasiswa pendidikan master di Sydney-Australia selama 2 tahun. Kegiatan yang membutuhkan kreatifitas ini tidak hanya terbatas diikuti oleh mahasiswa namun kalangan umum juga dibuka kesempatan yang sama, hal ini merupakan salah satu dukungan yang luar biasa terhadap perkembangan kreatifitas bagi mahasiswa khususnya jurusan DKV dalam mengeluarkan potensi yang mereka miliki dalam mendesain T-shirt.
Presentasi oleh Quicksilver dan Roxy ini terdiri dari penjelasan mengenai criteria lomba, kemudian cara-cara atau tips mendesain t-shirt yang dijelaskan langsung oleh graphic designer dari perusahaan tersebut, kemudian yang terakhir adalah kegiatan tanya-jawab yang disertai dengan pemberian goody bag yang berisi souvenir atau kenang-kenangan dari pihak penyelenggara. Kegiatan ini cukup menyita perhatian mahasiswa dan dosen karena merupakan salah satu kegiatan yang bertaraf international, dan dari pihak penyelenggara pun mengharapkan bahwa salah satu pemenangnya berasal dari kampus ISI Denpasar, dan hal senada pun disampaikan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar yang mengharapkan salah satu pemenangnya berasal dari kalangan ISI Denpasar. Harapan ini pun disambut tepukan meriah dari para peserta.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Apr 30, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.
Seni Kerajinan adalah komponen produk seni yang dibuat melalui ketrampilan tangan untuk tujuan sebagai kebutuhan hidup manuasia. Berdasarkan pengertian itu, kerajinan merupakan hasil suatu produk ketrampilan seni yang dibuat oleh manusia. Bentuk-bentuk produksi kerajinan memiliki fungsi untuk memperindah ruangan atau barang penghias ruang. Benda produk kerajinan tersebut diharapkan menjadikan ruangan semakin indah. Barang-barang produk kerajinan kayu tersebut memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Fungsi Estetis
Fungsi estetis merupakan fungsi murni untuk memperindah atau mempercantik suasana ruang. Fungsi yang demikian itu nampak jelas pada produk-produk kerajinan relief dan kerajinan patung yang diproduksi di daerah Singakerta, dan menggunakan media kayu yang banyak menekankan nilai estetisnya. Estetis yang dimaksud adalah keindahan yang tampak secara pisik dapat dinikmati oleh indria pengelihatan secara nyata.
Dalam buku Pengantar Dasar Ilmu Estetika, dijelaskan bahwa estetika adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, semua aspek dari yang disebut ke-indahan.
Misalnya apakah artinya indah?, apakah yang menumbuhkan rasa indah itu?, Dari mana datangnya rasa indah itu?, Apa yang menyebabkan barang yang satu indah dan yang lain tidak?, Dan apa sebabnya yang dirasakan oleh orang yang satu indah dan tidak dirasakan keindahannya oleh orang yang lain? (Djelantik, 1990: 6).
Selanjutnya Djelantik juga menyatakan, benda seni yang menjadi sasaran analisis estetika atau keindahan setidak-tidaknya mengandung tiga aspek dasar seperti wujud atau rupa yang mempunyai dua unsur utama ; bentuk/form, dan susunan/structure, bobot atau isi yaitu aspek utamanya suasana/mood, gagasan/idea, ibarat, pesan/message, dan penampilan (hasil dari tiga unsure; bakat/talent, ketrampilan/skill, sarana/medium (1990: 14).
Sedangkan Murdana (2001: 19) menjelaskan, estetik menyangkut persoalan-persoalan keindahan yang dapat menimbulkan pengalaman tertentu dan dapat memuaskan jiwa penikmatnya.
Dalam Hermeneutika, Estetika, Dan Religius Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa juga dijelaskan, estetika membicarakan objek-objek estetik, kualitas karya seni serta pengaruhnya terhadap jiwa manusia yaitu perasaan, imajinasi, alam pikiran dan intuisi. Apabila karya seni dikaitkan dengan spiritual dan agama tertentu, pencipta mestilah memahami dan menghayati spiritual dan agama tersebut (Hadi, 2004: 227). Dalam konteks tersebut, Melvin Rader menjelaskan, bahwa keindahan itu dihasilkan oleh hakikat yang diungkapkan atau berhasilnya cara pengungkapan. Cara pengungkapan itu yang harus indah, seni (dalam Somardjo, Jakob 2000: 26).
Djelantik (1990: 2) menjelaskan, indah dapat menimbulkan pada jiwa manusia rasa senang, rasa bahagia, rasa tenang, rasa nyaman, dan bila kesannya lebih kuat akan membuat terpaku, terharu, dan timbul keinginan untuk menikmati kembali.
Terkait dengan pernyataan tersebut, pengalaman estetis itu mencakup di dalamnya nilai-nilai keindahan yang dapat memberikan pengertian bahwa cakupan estetik bisa beraneka ragam nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah suatu ciri yang melekat pada sesuatu yang dapat menimbulkan perasaan tergugah. Apabila sebuah benda disebut indah, hal itu berarti ciri suatu nilai yang dapat melekat padanya. Teori estetika di atas dalam konteks penelitian ini digunakan untuk mengkaji keindahan hasil produksi seni kerajinan di desa Singakerta. Karena kerajinan kayu merupakan bentuk ungkapan keindahan dan ketrampilan tangan, maka dalam menganalisisnya juga menyangkut keindahannya dari aspek ilmiah (misalnya hubungan antar elemen atau unsur yang ada untuk membangun struktur kerajinan kayu tersebut).
Fungsi Kerajinan kayu di Desa Singakertaselengkapnya
by admin | Apr 29, 2011 | Berita
Sejumlah 52 orang mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan 14 orang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD)ISI Denpasar mengikuti studi ekskursi di kota Palu selama empat hari. Rombongan bertolak ke kota Palu, Sulawesi Tengah Senin, (11/4), dan akan tiba di Denpasar pada Kamis (14/4), setelah mengikuti serangkaian kegiatan, diantaranya “workshop”, ngayah di pura Wanna Kerta Jagatnata, temu umat hindu dan diskusi, serta pentas seni di pura dan Taman Budaya.
Kegiatan diawali dengan workshop di Taman Budaya yang dibawakan oleh nara sumber dari Sulawesi Tengah, yaitu Tjajo Tuan Saihu, Drs. Sofyan Tadurante, M.Si, Dra. Hj.Intje Mawar Lasasi Abdulah, Amin Abdullah, S.Sn, M.Sn, Zulkifly Pagesa, Dr.Gazali Lembah, M.Pd, Dra.Nurhayati Ponulele, M.Si. yang membahas tentang kebudayaan Sulawesi Tengah tentang musik, sastra, bahasa, dan seni rupa, yang dihadiri oleh mahasiswa ISI Denpasar dan juga STAH Dharma Sentana Sulteng.Sebelum pentas seni antara mahasiswa ISI Denpasar dan Sanggar Seni Dharma Gita Murti Palu di Pura Jagatnatha, rombongan mengadakan sembahyang bersama dan juga diskusi tentang peranan seni dalam kehidupan beragama yang dibawakan oleh PR I,Dekan FSP, PD III FSRD, dan dipandu oleh I Nyoman Slamet warga Palu asal Bali yang juga menjabat sebagai anggota DPR Sulteng.
Pentas Seni malam itu diawali dengan pementasan tari Puspanjali dan Topeng oleh Sanggar Seni Dharma Gita Murti Palu, lalu dilanjutkan dengan tari Selat Segara, Jauk Manis, Oleg Tamulilingan, Trunajaya, dan Satya Brasta. WHDI Palu menampilkan tari Pamontex yang menggambarkan tentang panen raya pada zaman dahulu yang dilakukan secara gotong royong oleh gadis-gadis Palu asal Bali dengan pakaian tradisional Kaili.
Ketua PHDI Palu, Ir. Putu Surya yang hadir malam itu, mengungkapkan terima kasih kepada ISI Denpasar yang telah bersedia hadir di kota Palu, dan menari untuk umat di Pura. “Kami atas nama warga mohon maaf bila ada kekurangan dalam penyambutan,”ujarnya.
Rabu sore (13/4) diadakan pameran oleh ISI Denpasar yang dibuka oleh Gubernur Sulteng, dan dilanjutkan dengan pementasan tari di Taman Budaya.
Humas ISI Denpasar melaporkan