by admin | May 17, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., MSi., Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.
Bhinneka Tunggal Ika adalah sasanti negara Indonesia yang telah menyalakan api kesadaran masyarakatnya sebagai sebuah bangsa yang dirajut dari keberagaman. Sejak cikal bakal negeri yang disatukan dalam bentangan jambrut khatulistiwa ini bertumbuh, benih-benih perbedaan itu telah dikelola secara bijaksana. Perbedaan bukan dipandang dan ditakuti akan melahirkan perpecahan, namun sebaliknya menjadi dorongan yang bertenaga untuk bertemu, mengenal dan saling menerima. Namun, masih menyejukkankah rekatan Bhineka Tunggal Ika itu di tengah kecenderungan prilaku kekerasan yang mengusik kemajemukan masyarakat Indonesia belakangan ini?
Sebuah karya seni pertunjukan mencoba menggugah masyarakat Indonesia tentang pentingnya makna sloka bhineka tunggal ika yang terpampang di kaki Garuda Pancasila lambang negara kita. Sebuah sendratari atau oratorium yang kisahnya diangkat dari zaman keemasan Majapahit disajikan di Jakarta pada Senin (21/3) malam lalu berkaitan dengan Dharma Santhi Nasional perayaan hari raya Nyepi tahun Saka 1933. Bertempat di Gor Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar didaulat menyuguhkan seni pentas bertajuk “Purusadsantha”. Undangan kehormatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wakil Presiden Budiono, beberapa menteri, Ketua MPR Taupik Keimas, para duta besar, dan para tokoh agama tampak menyimak dengan tekun gelar seni yang berdurasi sekitar 45 menit itu. Demikian pula ribuan umat Hindu yang datang dari seluruh penjuru Jakarta menunjukkan antusiasisme sarat gairah menikmati dari menit ke menit sendratari yang menggunakan narasi bahasa Indonesia itu.
Oratorium “Purusadasantha” berkisah tentang keangkaramurkaan raksasa Purusada yang berhasil disadarkan atau diinsafkan (santha) oleh ketulusan budi dan kasih damai penegak keberanan tanpa kekerasan, Sutasoma. Sutasoma adalah Putra Raja Hastina, Sri Mahaketu, yang tidak mau hidup dalam gelimang kemewahan keraton melainkan memilih menjadi pertapa di hutan untuk mencari kehidupan sejati. Sementara itu, Purusada, seorang raja raksasa, memburu Sutasoma untuk dipersembahkan sebagai tumbal kaulnya kepada Betara Kala. Sutasoma berserah diri untuk dimangsa Batara Kala tetapi dengan permohonan 100 raja yang ditawan Purusada agar dibebaskan. Batara Kala dan purusada terharu dengan keiklasan Sutasoma. Napsu Batara Kala untuk menelan Sutasoma sirna. Keangkaramurkaan Purusada pun padam dan kemudian bertobat.
Dibawakan oleh lebih dari 100 orang pelaku seni. Tuturan kearifan dan kebeningan nurani Sutasoma itu merupakan cuplikan lontar “Purusadha” gubahan Mpu Tantular, pujangga keraton Maajapahit. Lontar yang ditulis pada abad ke-14 zaman pemerintahan Rajasanegara atau lebih dikenal dengan nama kecil Hayam Huruk ini, di tengah masyarakat Bali lebih populer dengan sebutan kakawin Sutasoma yang sejatinya memang disusun dalam bentuk puisi lirik. Dari kakawin Sutasoma, pupuh 139 bait 5, sasanti bhinneka tungga ika pada awal larik tan hana dharma mangrwa, kemudian disyukuri oleh Raja Hayam Wuruk sebagai pemersatu keberagaman Nusantara sebagai buah dari Sumpah Amukti Palapa Patih Gajah Mada.
Seperti dikisahkan pada awal oratorium “Purusadasantha” itu, sebelum munculnya susastra Sutasoma, Hayam Wuruk resah akan keberagaman Nusantara yang ditenun lewat penaklukan. Raja Hayam Wuruk menyadari api dalam sekam mengancam kesatuan Nusantara. Disadarinya bahwa, kemajemukan suku, agama, golongan dan budaya Nusantara memerlukan perekat yang menyejukkan. Hadirlah kemudian Mpu Tantular, memercikkan tirta kearifan lewat karya sastra yang menonjolkan figur Sutasoma yang teguh dan bijaksana menghadapi kebatilan serta rela berkorban untuk kepentingan rakyat. Larik bhinneka tungga ika tan hana dharma mangrwa dalam kakawin itu menjadi penyejuk Nusantara di bawah panji-panji Majapahit.
Ajaran kasih Sutasoma terasa kontekstual dalam pluralisme bangsa kita. Adegan saat Sutasoma memberikan ajaran kasih kepada Purusada disambut haru penonton. Ujar Sutasoma, “Semailah selalu kasih damai, di hati dan di bumi. Kasih kepada Hyang Widhi, kasih kepada bumi pertiwi dan kasih kepada sesama insan kehidupan. Mari, mari bersama menyucikan nurani memajukan bangsa. Mari berkasih damai menegakkan kebenaran tanpa amuk kekerasan. Mari berkasih mesyukuri keindahan pelangi keberagaman kita,” penonton bertepuk tangan berkali-kali menyambut pesan-pesan kasih damai Sutasoma.
Pelangi Seni Budaya Di Tengah Badai Kekerasan, selengkapnya
by admin | May 17, 2011 | Berita
London – Musik angklung dari Jawa Barat yang melantunkan lagu “Laskar Pelangi” oleh grup band Nidji dan dilanjutkan dengan lagu “The Blue Danube” dari Johann Strauss serta “I Have a Dream” dari kelompok ABBA berhasil memukau undangan yang memadati gedung pertunjukan kota Schweich, Jerman.
Alunan musik angklung itu dibawakan oleh kelompok kesenian KJRI Frankfurt, pimpinan Wisnu Trihantoro.
Pelaksana fungsi Pensosbud KJRI Frankfurt kepada koresponden Antara London mengatakan bahwa keseluruhan kegiatan merupakan kerjasama dengan kantor walikota Schweich dan organisasi kebudayaan kota.
Setiap penampilan lagu yang dibawakan disambut tepukan penonton yang tidak henti-henti dan tepuk tangan sambil berdiri di akhir pertunjukan.
Pementasan di kota Schweich ini dilaksankan dalam rangka pembukaan kegiatan Indonesische Wochenende di kota Schweich sekaligus pembukaan pameran batik koleksi Rudolph Smend, pemilik galeri Smend di kota Koln dan wayang golek milik pemerintah kota Schweich.
Turut ditampilkan pula lagu-lagu daerah Indonesia di antaranya “Yamko Rambe Yamko” dari Papua, “Padang Bulan” dari Jawa Tengah, “Kincir-Kincir” dari Jakarta, dan “Pileuleuyan” dari Jawa Barat. Disamping penampilan musik angklung, turut disuguhkan pula tari Cenderawasih dari Bali.
Acara seni diawali dengan sambutan ketua perhimpunan kota Schweich dan kota sekitarnya, Berthold Biwer, yang menyampaikan apresiasi kepada KJRI Frankfurt atas kerjasamanya dalam mewujudkan kegiatan tersebut serta menjelaskan mengenai potensi seni budaya dan pariwisata yang dimilki oleh Indonesia.
Sambutan juga disampaikan walikota Schweich, Otmar Roler, yang menyampaikan harapan agar kerjasama dan antara kota Schweich dengan KJRI Frankfurt dapat berlanjut terus pada masa mendatang.
Konsul Jenderal RI, Damos Agusman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa angklung sangat berbeda dengan alat musik lainnya karena tidak dapat dimainkan secara individual dan harus dimainkan secara bersama-sama.
Hal tersebut mencirikan sifat dan tradisi masyarakat Indonesia, yaitu gotong royong dan kebersamaan.
“Pada saat Anda menyaksikan penampilan musik angklung, Anda akan melihat bagaimana kebersamaan dan prinsip integrasi itu diwujudkan di Indonesia yang sangat multikultural,” katanya.
Jangan lupa pula, menurut buku “Eat, Pray and Love”, hanya di Indonesia-lah Anda dapat menemukan cinta, oleh karena itu, berkunjunglah ke Indonesia dan temukan cinta Anda disana”, kata Damos Agusman yang disambut dengan tepuk tangan dari para tamu yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Konjen RI Frankfurt menandatangani buku emas kota Schweich dan menyerahkan buku mengenai batik kepada Berthold Biwer dan Otmar Roler.
Usai acara, beberapa tamu berkesempatan mencoba langsung memainkan alat musik angklung dan menyampaikan kekaguman bagaimana bambu dapat menjadi sebuah alat musik yang luar biasa di Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang juga membawa pulang berbagai informasi dan peta pariwisata mengenai Indonesia. (ZG)
Sumber: antaranews.com
by admin | May 16, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Putu Juliartha, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Prapen adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat melakukan aktivitas khususnya melakukan pekerjaan mengolah bahan logam yang menghasilkan barang bernilai seni yaitu keris dan gamelan. Di desa Tihingan khususnya, prapen hanya digunakan untuk membuat gamelan, tempat ini juga dianggap sebuah tempat suci karena di dalam prapen terdapat sebuah pelinggih yang dipercayai sebagai tempat memuja Dewa Brahma, maka dari itu wanita yang sedang mengalami menstruasi tidak diperbolehkan masuk ke areal prapen serta alat-alat yang terdapat di dalam prapen jika dipakai dan dibawa ke luar areal prapen mesti disucikan kembali dengan dipratista.
Pada jaman dulu prapen hanya boleh dibangun pada bagian Selatan dalam pekarangan rumah pande, dengan perkembangan jaman prapen tidak lagi dibuat dengan berpatokan pada arah Selatan, melainkan prapen pada masa sekarang dibuat dengan mengikuti situsi tempat yaitu bisa dibuat di bagian manapun asalkan tempatnya memungkinkan, pande gamelan di Tihingan yang memiliki prapen biasanya mempekerjakan kurang lebih tiga sampai tujuh orang tenaga kerja. Tiap orang pekerja memiliki fungsi dan tanggung jawab yang berbeda dalam membuat trompong maupun jenis gamelan lainnya. Tenaga kerja yang terlibat adalah pemilik prapen dan biasanya bersama orang-orang yang merupakan keluarga atau masih kerabat dekat dan juga mempekerjakan orang berasal dari luar Desa Tihingan.
Di Desa Tihingan sampai saat ini hampir terdapat 60 buah prapen yang tersebar di masing-masing rumah penduduk, dari semua prapen tersebut ada yang dipakai sebagai tempat membuat gamelan atau hanya membuat krawang. Ada tiga jenis prapen yang ada di desa Tihingan yaitu:
(1) Prapen pengeleburan : prapen yang memiliki luas sekitar 8 x 8 m2 hingga 8 x 10 m2, dalam prapen ini terdapat 1 atau 2 buah tungku perapian yang disebut jalikan prapen dengan ukuran 50 x 100 cm. Prapen pengeleburan berfungsi hanya sebagai tempat pembuatan krawang.
(2) Prapen pengegongan memiliki luas 6 x 8 m2 hingga 8 x 8 m2. Terdapat 2 buah tungku, masing-masing tungku memiliki fungsi yang berbeda yaitu tungku yang pertama disebut jalikan pengeleburan dengan ukuran 40 x 50 cm yang berfungsi sebagai tungku peleburan krawang. Tungku kedua disebut jalikan penguadan dengan ukuran 1 x 1 m yang berfungsi sebagai tempat pemanasan dalam proses pembentukan. Prapen pengegongan dipakai dalam membuat gamelan berpencon yang berukuran besar seperti gong, bende, dan kempur.
(3) Prapen penguadan memiliki luas yang sama dengan luas prapen pengegongan, dalam prapen ini juga terdapat 2 buah tungku masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, yaitu tungku yang pertama dengan ukuran 40 x 50 cm yang berfungsi sebagai tungku peleburan krawang. Tungku kedua dengan ukuran 40 x 40 cm yang berfungsi sebagai tempat pemanasan dalam proses pembentukan. Dalam prapen ini dibuat gamelan dari semua jenis gamelan bilah dan berpencon seperti trompong, reyong kajar, kempli, dan ceng-ceng.
Perapen Tempat Pembuatan Trompong, Selengkapnya
by dwigunawati | May 15, 2011 | Berita, pengumuman
Hari libur dan cuti bersama untuk 2011 dipandang perlu ditata kembali pelaksanaannya agar lebih efisien dan efektif. Berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, SKB No 2/2011/Kep.120/Men/V/2011 dan SKB/01/M.Pan-RB/05/2011, tertanggal 13 Mei 2011, maka Senin, tanggal 16 Mei 2011 dinyatakan sebagai cuti bersama. Demikian rilis yang dikeluarkan oleh Biro Informasi dan Persidangan Kementerian Koordinator bidang Kesra, Jumat (13/5) sore, di Jakarta
Sumber : menkokesra
by admin | May 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Surya Peredantha, SSn., MSn.
Dramatari Gambuh sebagaimana kita ketahui merupakan sumber dari segala jenis kesenian yang ada di Bali sekarang. Kesenian yang pada jaman dahulu di Jawa dikenal dengan nama Raket ini diperkirakan masuk ke Bali pada abad ke- 14, seiring dengan eksodus orang-orang Majapahit yang melarikan diri karena terhimpit oleh masuknya paham baru (agama) dalam kehidupan di Jawa. Gambuh sangat dikagumi karena keindahan bentuk dan penyajiannya yang akhirnya menjadi inspirasi lahirnya bentuk-bentuk tari selanjutnya. Dramatari Topeng, Arja, Wayang Wong dan bahkan Legong merupakan generasi lanjutan dari Gambuh yang mencirikan gagasan struktur pementaan, karakter, alur dramatik serta komposisi hingga perbendaharaan gerak.
Dalam tulisan ini, penulis secara khusus ingin mengupas lebih jauh tentang penampilan tokoh Panji dalam Gambuh saat pementasan berlangsung. Adapun berbagai aspek yang dimaksud antara lain :
Karakter
Dalam pementasan dramatari, yang dipentingkan adalah pemahaman setiap pelaku terhadap alur cerita yang dibawakan yang akan berdampak pada pengenalan karakter tokoh yang ditarikan oleh pelaku pementasan. Bila tidak demikian, dapat dipastikan pementasan yang dibawakan kurang memiliki penjiwaan dan bahkan mungkin pesan ataupun amanat yang terkandung dalam cerita tersebut tidak sampai pada penonton yang menunjukkan pementasan tersebut boleh jadi dikatakan gagal.
Dalam Gambuh tokoh Panji mempunyai peran yang sangat vital, mengingat ia merupakan tokoh utama yang menentukan alur cerita. Panji merupakan tokoh putra halus yang memiliki watak tenang dan manis. Dalam melantunkan wawankata, tokoh Panji memiliki kemiripan dengan tokoh Putri yaitu suaranya bernada tinggi datar, terkadang memperpanjang silabus kata dan gaya jalannya luwes. Namun demikian, penulis selalu menekankan sisi maskulinitas dari tokoh Panji tetap dikedepankan dalam setiap ragam gerak dan wawankatanya karena memang sebenarnya ia adalah seorang laki-laki.
Rias dan Busana
Rias dan busana dalam sebuah tarian merupakan hal yang sangat penting dan segera menarik perhatian karena dari sanalah penonton dapat menafsirkan apa dan bagaimana karakter seorang tokoh pementasan di atas panggung. Sebagai tokoh yang memiliki karakter halus dan manis, rias dan busana tokoh Panji harus disesuaikan untuk mendukung karakter yang diinginkan. Dimulai dari rias wajah, Panji memiliki alis yang ramping dan pada bagian ujung dibentuk agak sedikit naik untuk tetap memperlihatkan sisi maskulinnya. Panji dalam rias wajahnya tidak memakai kumis buatan.
Sementara busana tariannya memakai jenis sesaputan, dengan lelancingan yang dibuat agak panjang dibiarkan terseret. Bila diperkirakan, panjang kain untuk lelancingan ini kurang lebih 4 meter. Tokoh Panji menggunakan baju lengan panjang putih, badong manis, stewel hijau, celana panjang putih dan saput berwarna hijau. Warna hijau di sini dimaksudkan untuk memberi kesan kesejukan dan kedamaian sehingga dapat menunjuang karakter yang diinginkan. Lanjut pada hiasan kepala atau yang bisa disebut gelungan, Panji menggunakan hiasan kepala berbentuk Keklopingan dengan menggunakan bancangan / onggar ( susunan bunga berwarna putih atau kuning ) yang ditempatkan di kedua sisi gelungannya diletakkan lurus ke atas. Pada sisi kiri dan kanan gelungan tepat berada di atas telinga, terdapat perekapat dengan gelenternya yang berupa susunan pernik-pernik mote berwarna kuning emas. Terakhir, pada kedua telinga dipasangkan sepasang rumbing.
Ragam Gerak
Tokoh Panji dalam pementasannya memiliki ragam gerak yang secara kuantitas tidak begitu banyak, namun tetap memerlukan teknik yang baik utnuk melakukannya. Semisal, ngungkab langse dan berjalan milpil, nyalud, ngembat pajeng, matetanganan, nyambir dan ngerajeg. Pada bagian penglembar, gerak tersebutlah yang dilakukan. Sedangkan pada bagian penagkilan maupun peangkat tidak banyak melakukan gerak, karena yang difokuskan adalah wawankata pada para Arya atau Kade-kadean serta pembantu terdekatnya yaitu Turas.
Lakon
Pada pementasan ini, lakon yang diambil masih bersumber pada kisah Malat yang menceritakan penyamaran Panji untuk menculik kekasihnya Dyah Ratna Merta.
Tersebutlah Raden Panji dari kerajaan Jenggala putra mahkota dari Raja Jenggala. Beliau memiliki seorang kekasih yang sangat ayu rupanya bernama Dyah Ratna Merta. Oleh karena tidak disetujui oleh ayahnya, Raden Panji berupaya untuk melarikan diri bersama sang kekasih. Namun untuk menyamarkan tindakannya, Raden Panji berganti nama dan busana agar tidak diketahui orang. Selama dalam penyamaran, nama beliau adalah Kelana Carang Naga Puspa. Dengan dibantu para Arya, dibakarlah pasar kerajaan agar memperoleh kesempatan untuk melarikan diri di tengah kepanikan. Taktik ini berhasil, dimana Raden Panji berhasil mengajak lari kekasihnya.
Tak lama diceritakan bagaimana galau hati sang raja mendengar putranya melarikan diri. Lalu diutuslah Patih Kebo Angun-angun untuk mencari dimana putra mahkotanya berada. Tugas berat itu sanggup diemban sang patih dengan dibantu oleh dua orang bawahannya yaitu Demang dan Tumenggung. Setelah lama pencarian, bertemulah patih dengan Kelana Carang Naga Puspa. Keduanya berdialog dengan tegang dan pecahlah pertempuran diantara patih Kebo Angun-Angun dengan Kelana Carang Naga Puspa. Disanalah penyamaran beliau terbongkar. Patih Kebo Angun-Angun tidak menyangka bahwa lawan yang ia hadapi adalah tuannya sendiri. Kebo Angun-Angun hanya bisa berlutut keheranan dan menyampaikan maksud dan tujuannya agar bisa kembali pulang ke kerajaan karena sang ayah sedang gelisah menunggu. Akhirnya, Raden Panji beserta kekasihnya kembali ke negaranya yaitu Kerajaan Jenggala.
Mengenal Tokoh Panji Dalam Dramatari Gambuh di Bali, Selengkapnya
by admin | May 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Kesenian merupakan salah satu sub unsur kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan masyarakat Bali. Ada berbagai alasan mengapa kesenian senatiasa dekat dengan masyarakat Bali, diantaranya: bagi senimannya sendiri di samping sebagai ungkapan estetik, berkesenian juga merupakan wujud persembahan baik kepada masyarakat maupun kepada sang penciptanya. Sedangkan bagi masyarakat kesenian di samping sebagai sarana hiburan, kesenian juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam kehidupan beragama. Dari kedua alasan inilah akhirnya muncul berbagai fungsi seni. Bandem dan Dibia (dalam Suandewi, 2001:124) secara khusus mengklasifikasikan tari Bali berdasarkan sifat dan fungsinya menjadi tari wali (sacral), tari bebali (untuk upacara keagamaan) dan tari balih-balihan (untuk tontonan atau hiburan).
Melihat kompleksnya fungsi seni dalam kehidupan masyarakat, bagi masyarakat Bali khususnya dimanapun berada akan senantiasa dekat dengan keseniannya. Sebagaimana dikatakan Suyadnya (2006:9) pada bagian lain dari catatan budayanya,
“bila bertandang pada kampung-kampung tua pada sore menjelang malam. Pada beberapa banjar yang memiliki perangkat gamelan, sayup-sayup akan terdengar suara gamelan yang dimilikinya dimainkan warga setempat, baik gong, angklung maupun rindik. Begitu juga disejumlah bale banjar, bisa dilihat adanya sekelompok teruna-teruni yang sedang belajar menari”.
Kenyataan tersebut menandakan bahwa walaupun berada jauh dari induk budayanya, kesenian Bali masih dilakoni oleh masyarakat pendukungnya. Untuk melihat lebih jauh kehidupan berkesenian di kalangan masyarakat Bali di Kota Mataram, ada beberapa poin yang dapat dijabarkan, diantaranya:
1) Seni Dalam Kehidupan Keagamaan
Masyarakat Bali di Lombok Barat dan khususnya di Kota Mataram secara mayoritas memeluk agama Hindu dan sangat taat melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Dalam melaksanakan kehidupan beragama, berbagai jenis upacara keagamaan tercakup dalam Panca Yadnya masih tetap dilaksanakan sebagaimana halnya di Bali. Dalam setiap pelaksanaan masing-masing dari yadnya tersebut masyarakat Bali masih menyertakan kesenian sebagai bagian yang penting. Gamelan, tari-tarian dan wayang masih merupakan bagian dari setiap pelaksanaan upacara keagamaan masyarakat di Kota Mataram. Keberadaan beberapa sekaa Gong Kebyar, Gong Gede, Angklung, Gender Wayang, Smar Pagulingan memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai upacara yang dilaksanakan. Sebagaimana yang terjadi di lapangan, pada upacara ngaben yang dilaksanakan oleh seorang warga di Karang Kecicang terdapat beberapa jenis gamelan yang dipergunakan dalam rangkaian upacara tersebut. Terdapat gamelan Gong Gede yang sudah dimainkan hingga upacara selesai, gamelan Angklung yang memainkan tabuh-tabuh petegak (instrumental) serta mengiringi prosesi ke kuburan, serta Gender Wayang yang digunakan untuk mengiringi pesantian dan pada saat ngajum.
Demikian pula dalam pelaksanaan upacara keagamaan lainnya. Kesenian merupakan bagian yang dianggap penting dalam rangkaian upacara keagamaan tersebut. Gamelan contohnya, dari berbagai macam jenisnya, merupakan alat musik tradisional yang sangat penting dalam upacara keagamaan. Sebagaimana dikatakan Johan (2003), disebutkan bahwa gamelan yang dipergunakan dalam prosesi ritual Hindu memiliki andil yang sangat besar dalam menciptakan suasana hati, fikiran dan perasaan umat Hindu dalam keadaan mantap secara psikologis, sehingga memungkinkan untuk melaksanakan prosesi ritual secara sempurna (dalam Donder, 2005:14-15).
Demikian pula dengan tari dan wayang. Sebagaimana dikatakan Suandewi (2001:127), Tari Baris Batek yang dipentaskan pada saat pujawali (upacara) di Pura Lingsar, pada saat purnama ke enem memiliki fungsi khusus atau fungsi utama yang wajib dan harus dilaksanakan. Tarian ini dianggap sacral karena merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun, sehingga melanggar kebiasaan atau tradisi ini merupakan hal yang tabu bagi masyarakat pendukungnya. Bagi masyarakat Bali dan masyarakat Sasak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Perang Topat, seni sacral di samping merupakan keharusan bagi masyarakat pendukungnya, dari aspek kehidupan sosial kesenian ini merupakan salah satu bentuk toleransi dan harmonisasi dalam kehidupan antar umat beragama. Tingginya nilai religious dalam kesenian ini membuktikan bahwa seni atau kesenian dalam berbagai perwujudannya sebagai hasil karya cipta budaya, memiliki fungsi ritual, yang mana dalam hal ini merupakan fungsi primer atau fungsi utama (Gie,2004; Soedarsono,1999).
Kehidupan Berkesenian di Kota Mataram Selengkapnya