M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Perkembangan Kerajinan Keramik Tradisional Di Desa Binoh

Perkembangan Kerajinan Keramik Tradisional Di Desa Binoh

Kiriman: Ni Putu Yuda Jayanthi, Mahasiswa PS. Kriya Seni/Keramik, ISI Denpasar

Seni kerajinan keramik tradisional merupakan kerajinan yang sudah ada dari jaman pra-sejarah, dengan bukti adanya peninggalan-peninggalan benda-benda keramik yang ditemukan di Bali  baik dalam keadaan utuh maupun pecahan-pecahan periuk. Tumbuhnya kerajinan keramik tradisional Bali didasari oleh suatu landasan kepercayaan bahwa kehidupan sebagai pengerajin keramik tradisional merupakan anugrah dari para Dewa yang selalu mereka hormati. Sistem kepercayaan seperti itu sangat membantu sekali kehidupan seni keramik tradisional yang berkembang dimasyarakat pengerajin Bali.

Disamping itu dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan selalu memerlukan peralatan dari tanah liat seperti kendi, paso, dan lainnya. Dalam pembuatan keramik tradisional untuk alat-alat rumah tangga, dari masing-masing daerah mempunyai ciri khas atau kekhususan. Adanya kekhususan ini didasari atas pendapat bahwa pembuatan barang-barang tersebut semata-mata karena warisan dan ada pula yang bertitik tolak dari faktor ekonomi karena melayani pesanan. (Mulyawati, 1992: 37). Dalam hubungan kerja adat (masak-memasak), alat perlengkapan keramik tradisional seperti periuk, cobek, paso, dan lainnya, terdapat kecendrungan untuk tetap mempertahankan pemakaian alat ini yang dirasa sulit untuk diganti dengan barang-barang yang  dibuat dengan bahan lain yang lebih modern karena ini menyangkut rasa masakan yang dihasilkan. Ini membuktikan jika keramik tradisional Bali masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Bali yang idealis dengan makanan khas Bali.

Keberadaan keramik tradisional yang dihasilkan oleh masyarakat pengerajin merupakan dorongan yang kuat untuk mencipta suatu kerajinan yang bernilai dan berguna bagi masyarakat. Dilihat dari hasil-hasil kerajinan keramik yang sudah ada, keramik tradisional merupakan kerajinan yang masih berkualitas rendah karena dipengaruhi oleh bahan baku yang dipakai dan peralatannya serta faktor-faktor lain yang kurang mendukung, sehingga perkembangan keramik tradisional agak lambat dan berjalan secara kecil-kecilan. Begitu halnya dengan jumlah para pengerajin keramik tradisional semakin lama semakin berkurang karena generasi penerus mereka jarang yang mau berkecimpung dalam membuat kerajinan keramik tradisional, mereka kebanyakan mencari pekerjaan lain yang dirasa membawa keuntungan yang lebih besar.

Hal ini juga terlihat pada kerajinan keramik tradisional di desa Benoh, namun dengan berkembangnya pariwisata Bali saat ini, seakan-akan membawa angin segar bagi masyarakat pengerajin keramik tradisional desa Benoh. Hal itu dapat terlihat dari hasil kerajinan yang dihasilkannya yang tidak lagi berkutat pada bentuk-bentuk tradisional yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan keagamaan semata, namun sudah berkembang jauh dengan terciptanya desain-desain dan bentuk-bentuk baru yang sesuai dengan selera pasar domestik dan internasional. Dilihat dari keanekaragaman bentuk yang dihasilkan memang sangat menarik wisatawan yang dating ke Bali. Kemajuan dalam bidang kreasi seni sejalan pula dengan kemajuan kebudayaan yang selalu mengikuti perkembangan jaman. Keadaan ini menimbulkan kreasi untuk mengubah fungsi dari beberapa jenis barang kerajinan rumah tangga menjadi alat hias, seperti pemakaian gentong yang lazim dipakai sebagai tempat air atau beras kini fungsinya diubah menjadi pot bunga dengan pengembangan suatu dekorasi atau hiasan. Akibat dari pemanfaatan hasil keramik tradisional yang bersifat multifungsi, menyebabkan produksi barang–barang kerajinan keramik tradisional di desa Benoh dapat memenuhi alat hias masyarakat pedesaan dan masyarakat kota.

Dalam pembuatan keramik gerabah di desa Benoh lebih banyak dilakoni oleh pengerajin kaum wanita dan yang paling aktif kebanyakan wanita yang sudah usia lanjut. Keadaan ini didukung karena, untuk melakukan pekerjaan lainnya yang lebih berat sudah tidak memungkinkan lagi dan di usia mereka yang seperti itu, mereka hanya memiliki skill sebagai pembuat gerabah saja. Ada berbagai karakter orang yang mau melakoni pekerjaan membuat keramik gerabah di desa Benoh. Ada yang melakoni pekerjaan tersebut hanya sebagai pengisi waktu luang disaat mereka tidak punya pekerjaan lain ada juga yang memang bener-bener fokus melakoni pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan sehari-hari mereka. Di samping itu ada juga yang melakoni pekerjaan ini sebagai usaha bisnis yang sangat menjanjikan mengingat perkembangan pariwisata dewasa ini yang mulai menggeliat.

Untuk kebutuhan bahan baku gerabah, para pengerajin keramik tradisional di desa Benoh mendatangkan dari desa Dharma Saba. Hal itu dikarenakan semakin sempitnya lahan yang tersedia sehingga semakin sedikitnya bahan yang bisa dimanfaatkan. Proses pembuatannya masih menggunakan alat-alat yang masih sederhana, namun dengan berkembangnya teknologi saat ini pengerajin disana sudah ada yang menggabungkannya dengan alat-alat yang modern. Namun alat-alat modern yang digunakan hanya sebatas dalam pengolahan bahannya saja, untuk proses pengerjaan benda gerabah masih menggunakan teknik dan alat-alat yang sangat sederhana yaitu menggunakan alat yang didapat langsung dari alam lingkungan sekitarnya. Pengerajin keramik tradisional Benoh memiliki beberapa teknik yang masih sangat sederhana yang dikenal dengan istilah cacalan. Ini dilakukan dengan cara tanah yang akan dibentuk dipilin dahulu lalu ditumpuk dan dipijit dengan tangan, ditekan-tekan hingga sesuai dengan keinginan. Selain cacalan, juga dikenal dengan teknik tatap batu, dengan pertolongan alat tatap yaitu kayu yang dibuat agak cembung serta batu yang digunakan untuk memukul-mukul dari kedua sisi. Dikenal juga teknik pengenyunan, pembentukan ini menggunakan alat putar yang disebut pengenyunan. Tanah yang sudah siap dipakai atau diulet dibentuk diatas pengenyunan yang dikendalikan dengan tangan dan yang terakhir adalah tehnik cetak, seperti dalam pembuatan bata dan genteng. Teknik ini dipakai jika membuat keramik tradisional dalam jumlah yang banyak atau diproduksi secara masal.

Perkembangan Kerajinan Keramik Tradisional Di Desa Binoh, selengkapnya

Mantapkan Kerja Sama Mancanegara

Mantapkan Kerja Sama Mancanegara

Denpasar  – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memantapkan jalinan kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi seni dan berbagai pihak di mancanegara, sebagai upaya menjadikan lembaga pendidikan tinggi seni itu “go internasional“.

“Melalui pengembangan seni budaya Nusantara dan jalinan kerja sama antarnegara diharapkan mampu meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai. S, di Denpasar Senin.
Ketika menyambut kedatangan 19 mahasiswa University of Western Australia (UWA) yang didampingi Prof Paul Trinidad untuk mengikuti proses belajar mengajar di ISI Denpasar selama tiga minggu, ia mengatakan, pihaknya sudah berhasil menandatangani naskah kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan tinggi seni di mancanegara, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri dan lembaga internasional lainnya.
Penandatangan naskah kerja sama terakhir dilakukan dengan University of Western Australia (UWA) pada akhir Februari 2011 yang sepakat untuk saling mengisi guna menyempurnakan proses belajar mengajar bagi masing-masing lembaga pendidikan tinggi itu.
“Semua itu diharapkan menjadi kunci sukses dalam mengembangkan seni budaya Nusantara, sekaligus menjadikan ISI Denpasar mendunia,” harap Prof Rai.
Kerja sama yang dirintis ISI Denpasar selama ini selain dengan UWA juga dengan Tokyo University of the Arts (TUA) Jepang, tiga lembaga pendidikan tinggi di Thailand, Malaysia dan sejumlah lembaga pendidikan tinggi di kawasan ASEAN lainnya.
Dari kerja sama perguruan tinggi antarnegara itu, termasuk diantaranya menyangkut program pertukaran mahasiswa, di mana ISI Denpasar menerima mahasiswa dari mancanegara dan sebaliknya mahasiswa ISI Denpasar belajar ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri selama dua hingga empat semester.
Dengan demikian menurut Prof Rai, mahasiswa ISI Denpasar yang ikut ambil bagian dalam program pertukaran mahasiswa dengan sejumlah perguruan tinggi seni di mancanegara akan memperoleh dua ijasah, setelah menyelesaikan pendidikan di lembaga pendidikan tinggi seni tersebut.
Satu izasah dari ISI Denpasar dan satunya lagi dari perguruan tinggi yang menjadi mitra kerja sama, tempat mahasiswa tersebut mengikuti kuliah pertukaran mahasiswa di luar negeri.
Prof Rai menjelaskan, alumnus ISI Denpasar yang memiliki ijazah ganda diharapkan mampu memenangkan persaingan dalam merebut peluang kerja di dalam dan luar negeri.
“Kalau bekerja di Indonesia, izasah ISI Denpasar yang digunakan, dan kalau bekerja di luar negeri ijasah dari lembaga pendidikan tinggi seni tempatnya kuliah dapat dipergunakan,” ujar Prof Rai.

Ratna Wighna

Ratna Wighna

TARI KREASI

Penata

Nama                     : Luh Gde Candra Pratiwi

Nim                       : 200701023

Program Studi       : Seni Tari

Sinopsis :

Cinta kasih, kebersamaan, kedamaian dan saling menghargai terkoyak oleh sebuah cupu manik yang tidak pantas mereka miliki. Serakah, angkuh, iri hati dan kedengkian meluluh lantakan sebuah keharmonisan.

Penata Iringan       : I Made Subandi, S.Sn

Pendukung Tari      :

1.  I Gede Radiana Putra            (Siswa SMA Negeri 3 Denpasar)

2. Dewa Putu Selamat Raharja   (Siswa SMK Negeri 3 Sukawati)

Pendukung Iringan : Sanggar Ceraken Batubulan, Gianyar

Ujian Tugas Akhir FSP Gelombang I Tahun 2011

Bhisma Dewabharata

Bhisma Dewabharata

Sinopsis

Dewabharata lahir dari buah cinta antara Maharaja Sentanu dengan wanita penjelmaan bidadari, Dewi Gangga. Sebagai putra mahkota Kerajaan Hastina, Dewabharata yang tampan dan perkasa diharapkan menjadi pemimpin agung yang akan menurunkan sumber insani masa depan bangsa Bharata. Setelah dinobatkan menjadi Yowanaraja, Dewabharata  memperoleh mandat menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai raja muda, sedangkan ayahnya, Sentanu, bertindak selaku pendamping dan penasihat.

Suatu ketika, Dewabharata begitu masgul dengan keberadaan ayahnya yang senantiasa bemuram durja. Melalui kusir kerajaan, Dewabharata mengetahui bahwa sumber kemurungan raja Sentanu adalah Satyawati, gadis cantik putri seorang nelayan di tepi sungai Yamuna. Dikisahkan, perjumpaan Sentanu dengan gadis molek beraroma harum semerbak itu, membuat sang raja jatuh cinta dan berhasrat menjadikannya permaisuri  tetapi sangat terpukul dengan persyaratan yang diajukan oleh ayah Satyawati. Persyaratan yang mahaberat itu adalah anak yang dilahirkan Satyawati harus menjadi raja pengganti maharaja Sentanu.

Di dorong oleh rasa hormat dan kasih sayangnya pada sang ayah, menuntun Dewabharata menjumpai ayah Satyawati. Dewabharata berjanji tidak akan menjadi raja Hastina dan akan memberikan kepada putra yang dilahirkan Satyawati. Dewabharata memboyong Satyawati ke istana dan menghaturkan kepada ayahnya. Setibanya di istana, sebuah persyaratan diajukan lagi ayah Satyawati agar kelak keturunan Dewabharata tidak menuntut haknya untuk menjadi raja Hastina. Demi kebahagiaan sang ayah, Dewabharata bersumpah akan hidup membujang selama hayatnya. Ikrar Dewabharata disambut hujan bunga dari angkasa dan gaung suara bhisma…bhisma…bhisma!( Bhisma berarti kesatria sejati yang menepati sumpah suci).. Maharaja Sentanu sangat terharu dengan ketulusan, jiwa besar, pengorbanan putra kebanggaannya, Bhisma Dewabharata.

Minat Mahasiswa Asing Belajar di RI Kian Besar

Minat Mahasiswa Asing Belajar di RI Kian Besar

Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menyampaikan keingingan agar pemerintah Australia melihat kemungkinan-kemungkinan agar warganya bisa belajar di Indonesia. “Kami sudah kembangkan double degree, credit transfer, dan program internasional, untuk menarik minat pelajar dari luar supaya belajar di Indonesia,” ujarnya seusai berbicara pada simposium Australia-Indonesia International Education, di Hotel Mandarin, Jakarta, Senin (13/06)..

Menurut Fasli, saat ini minat mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia semakin besar. Kendala-kendala yang sering muncul seperti kurangnya program yang berbahasa Inggris maupun masalah travel banned telah diatasi. Bahkan, variasi program pun ditawarkan kepada mereka.

“Program studi kita sudah bervariasi, ada yang bisa melayani dua minggu, ada yang tiga bulan, ada yang khusus untuk summer course, bahkan full degree. Variasi-variasi tersebut memudahkan mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia,” tuturnya.

Pada simposium tersebut diutarakan bahwa kedekatan kedua negara secara geografis membuat Australia menjadi pilihan utama mahasiswa Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri. Kedekatan tersebut juga didukung oleh kualifikasi yang diakui secara internasional, dan lingkungan multikultural yang dimilikinya.

Pada 2010, tercatat 18 ribu orang pelajar Indonesia menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Australia. Jumlah ini termasuk 740 orang yang mengikuti program beasiswa pemerintah Indonesia.

Fasli mengatakan, usaha untuk meningkatkan kerja sama pendidikan ini juga harus terus diupayakan dengan memberi  kemudahan-kemudahan bagi mereka dalam mengurus visa dan izin kunjungan bagi orang tua.

“Kami ingin pelayanan makin baik, soal visa, kedatangan orang tua, juga waktu yang tepat bagi anak-anak belajar agar tidak terlalu lama di sana, serta relevansi ilmu yang mereka pelajari, agar bermanfaat untuk diterapkan di Indonesia maupun di Australia,” ucapnya.

Hubungan kedua negara di bidang pendidikan ini diharapkan bisa membangun peluang kerja sama ekonomi , dan merapatkan hubungan orang ke orang. Karena menurutnya, hubungan orang ke orang jauh lebih penting dari hubungan diplomasi.
“Biasanya hubungan pendidikan yang baik akan berpengaruh pada meningkatnya hubungan ekonomi yang berakibat pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Fasli.

Sumber: kemdiknas.go.id

Presiden Saksikan Sendratari Bhisma Dewabharata

Presiden Saksikan Sendratari Bhisma Dewabharata

Denpasar – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono tampak menyaksikan pementasan sendratari “Bhisma Dewabharata” usai pembukaan Pesta Kesenian Bali, di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar, Jumat malam.

Pementasan kolosal yang melibatkan sekitar 250 mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu digelar setelah Kepala Negara membuka Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33, sekaligus sebagai awal dimulainya Utsawa Dharma Gita (lomba pembacaan ayat-ayat suci agama Hindu) XI tingkat nasional dan “Bali World Culture Forum”.
Presiden yang mengenakan busana adat Bali lengkap dengan destar atau ikat kepala khas adat di Pulau Dewata, terlihat didampingi sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, antara lain Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Agama Suryadharma Ali serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.
Di tengah ribuan masyarakat yang memadati panggung terbuka berkapasitas 10.000 tempat duduk itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyaksikan pagelaran yang berdurasi 50 menit.
Pagelaran itu mengisahkan seputar kelahiran Dewabharata dari buah cinta antara Maharaja Sentanu dengan wanita penjelmaan bidadari, Dewi Gangga.
Sebagai putra mahkota Kerajaan Hastina, Dewabharata yang tampan dan perkasa diharapkan menjadi pemimpin agung yang akan menurunkan sumber insani masa depan bangsa Bharata.
Setelah dinobatkan menjadi “yowanaraja”, Dewabharata memperoleh mandat menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai raja muda, sedangkan ayahnya, Sentanu, bertindak selaku pendamping dan penasihat.
Suatu ketika, Dewabharata begitu masgul dengan keberadaan ayahnya yang senantiasa bermuram durja. Melalui kusir kerajaan, Dewabharata mengetahui bahwa sumber kemurungan Raja Sentanu adalah Satyawati, gadis cantik putri seorang nelayan di tepi Sungai Yamuna.
Dikisahkan, perjumpaan Sentanu dengan gadis molek yang harum semerbak itu, membuat sang raja jatuh cinta dan berhasrat menjadikannya permaisuri, tetapi sangat terpukul dengan persyaratan yang diajukan oleh ayah Satyawati.
Persyaratan yang mahaberat itu, adalah anak yang dilahirkan Satyawati harus menjadi raja pengganti Maharaja Sentanu.
Didorong oleh rasa hormat dan kasih sayangnya pada sang ayah, menuntun Dewabharata menjumpai ayah Satyawati. Dewabharata berjanji tidak akan menjadi raja Hastina dan akan memberikan kepada putra yang dilahirkan Satyawati.
Ketika sebuah persyaratan diajukan lagi oleh ayah Satyawati agar kelak keturunan Dewabharta tidak menuntut haknya untuk menjadi raja Hastina, juga disetujui Putra Gangga.
Demi kebahagian sang ayah, Dewabharata bersumpah akan hidup membujang selama hayatnya. Ikrar Dewabharata disambut hujan bunga dari angkasa dan gaung suara “Bhisma…..bhisma…..bhisma!”. Bhisma berarti kesatria sejati yang menepati sumpah suci.
Dewabharata memboyong Satyawati ke istana dan menghaturkan kepada ayahnya. Maharaja Sentanu sangat terharu dengan ketulusan, jiwa besar, pengorbanan putra kebanggaannya, Bhisma Dewabharata.
Kisah cinta tersebut dikemas secara unik dan apik melalui alunan musik dan irama tembang sebagai sebuah apresiasi keindahan. Pementasan seni itu sarat dengan petuah-petuah dalam mengendalikan sebuah kerajaan.
Pagelaran pembuka pesta seni tahunan seniman di Pulau Dewata itu berlangsung aman, terbit dan lancar

Sumber: antaranews.com

Loading...