M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Resensi Buku: Pragina

Resensi Buku: Pragina

Penulis I Wayan Dibia, Tahun 2004, Sava Media, XIX., 152 halaman

Kiriman: I Gede Suwidya, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

I Wayan Dibia adalah seorang penari, aktor, dan pelaku Seni Pertunjukan Bali yang aktif melestarikan,mengembangkan, serta memperkenalkan seni pertunjukan Bali ke berbagai belahan dunia. Beliau juga merupakan salah seorang dosen di Institut Seni Indonesia Denpasar. Dalam buku ini disebutkan bahwa, seni pertunjukan pada dasarnya adalah suatu kesenian yang lahir dari interaksi dan kerjasama sejumlah orang. Mereka yang terlibat dalam sebuah pagelaran seni dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : penyaji atau pelaksana dan penikmat atau penonton. Kelompok pertama, yaitu : penonton atau penikmat, yaitu orang yang menyaksikan pertunjukan dari luar arena pementasan. Mereka terdiri atas sejumlah orang yang berasal dari berbagai status sosial, kepentingan, dan tingkat apresiasi seni yang berbeda beda. Kelompok ke dua mencakup penyelenggara, perancang atau penata, dan para pemain yang melakukan peragaan serta yang mengaktualisasikan kesenian itu diatas pentas. Salah satu elemen penting dari pemain adalah penari atau aktor yang di kalangan masyarakat Bali secara kolektif disebut pragina.

Di mata masyarakat umum, pregina cenderung dilihat hanya pemain yang secara langsung beraksi diatas pentas. Sesungguhnya di luar pentas, pregina juga menjadi penentu terhadap keberlangsungan hidup sebuah seni pertunjukan. Di beberapa daerah di Bali ada sejumlah kesenian yang hingga kini belum bisa diaktifkan karena krisis pragina walaupun perlengkapan perangkat dan perlengkapan pertunjukannya seperti topeng-topeng (tapel) hiasan kepala (gelungan), dan lain-lainnya masih tersimpan dengan baik dan dikeramatkan atau disakralkan oleh masyarakat pemiliknya.

Seni Pertunjukan dan Senimannya

Seni pertunjukan pada dasarnya adalah presentasi ide, gagasan atau pesan kepada penonton oleh pelakunyamelalui peragaan. Kesenian pada umumnya memadukan tiga substansi utama, yaitu : gerak, suara, dan drama. Seni pertunjukan adalah sebuah karya seni yang memadukan hampir semua unsur seni. Seni rupa sangat dominan dalam tata rias, busana, dan dekorasi. Seni sastra yang menghasilkan lakon-lakon yang dipentaskan termasuk unsur narasi lainnya, baik yang diucapkan antar wacana maupun yang dilagukan. Seni gerak diwujudkan melalui tari-tarian  yang dibawakan oleh para penari atau yang disajikan dengan menggerak-gerakkan boneka seperti wayang. Seni suaranya mencakup iringan musik baik yang berupa vokal maupun instrumental. Seni pertunjukan (musik,tari,teater) adalah kesenian yang sangat tergantung kepada kehadiran seniman-seniwati pelakunya. Kesenian ini tidak akan pernah ada jika tidak ada pelakunya, yaitu : penari, pemusik, dan aktor yang secara langsung memperagakan dan menyajikan pertunjukan kepada penonton. Meminjam ungkapan seorang ahli teater Barat, Oscar Brockett, pemain (penari/aktor) inilah yang dilihat secara langsung oleh penonton diatas pentas.

Berdasarkan elemen-elemen seni yang dominan, seni pertunjukan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : seni pertunjukan tari, seni pertunjukan musik, dan seni pertunjukan drama (teater). Secara umum dapat dikatakan bahwa seni pertunjukan tari atau drama tari adalah sajian seni pentas yang lebih menonjolkan sajian seni gerak. Sedangkan, seni pertunjukan musik adalah yang sajian seni pentas yang lebih mengutamakan sajian seni suara, baik suara vokal maupun instrumental, dan seni pertunjukan drama (teater) adalah sajian yang lebih mengutamakan penyajian kisah dramatik melalui akting dan dialog verbal. Adanya perpadun berbagai elemen seni seperti itu juga menunjukkan bahwa seni pertunjukan adalah kesenian yang lahir dari kolaborasi sejumlah seniman dan pelaku seperti : penyusun naskah atau lakon, sutradara pemain musik, penari, aktor dan aktris. Dalam menghasilkan sebuah pementasan dan menata muatan-muatan artistik sebuah pertunjukan, mereka ini bekerjasama sesuai bakat dan keterampilan seni yang dimiliki oleh masing-masing individu. Di antara semua pekerja dan pelaku seni pertunjukan ini, pragina dan pemain musik inilah yang menjadi pelaku langsung diatas pentas. Pregina mempersonifikasikan ruang pentas di hadapan para penonton.

Seniman dan Kreativitasnya

Seniman dan karya seninya adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menentukan dan saling membutuhkan. Seniman, dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan sebagai manusia biasa yang memiliki kemampuan “luar biasa”. Dalam kehidupan sehari-hari seniman adalah bagian dan anggota masyarakat. Dengan bakat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, seniman menciptakan karya seni dengan menggunakan berbagai media, yang dapat menggugah rasa estetis, membangkitkan rasa ulangun bagi dirinya dan penikmat karyanya. Manusia menciptakan seni bukan secara kebetulan, melainkan dengan tujuan-tujuan tertentu. Ini berarti bahwa seni diciptakan bukan karna kebetulan melainkan secara sengaja melalui perenungan, perencanaan, dan olah rasa yang panjang. Pada tujuan terakhir para seniman menciptakan karya seni dengan maksud untuk memperoleh kenikmatan sepiritual atau sebagai ibadah dewa keindahan, Sang Pencipta, Sang Kawi. Para seniman Bali sering menyebutkan aktivitas berkeseniannya dengan ngayah yang dapat diartikan sebagai suatu pengabdian kepada manusia, masyarakat, dan Tuhan.

Dalam mewujudkan karya-karya mereka banyak seniman yang ingin menyentuh hati penikmat karyanya dengan keindahan ragawi melalui fisik dan tidak sedikit berkomunikasi dengan kedalaman maknawi. Berbicara masalah karya seni, Virgil Aldrich mengatakan bahwa seni itu adalah suatu tertium kuid ; yang tidak bersifat fisikal dan tidak juga bersifat mental, melainkan diantaranya. Terkesan oleh kehidupan berkesenian masyarakat Bali yang dilihatnya di tahun 1930-an, dalam buku Island of Bali, Miguel Covarrubias antara lain mengatakan bahwa tampaknya, setiap orang Bali adalah seniman. Buruh-buruh dan bangsawan, pendeta dan petani, laki dan wanita, bisa menari, bermain alat musik, melukis atau memahat kayu atau batu. Ungkapan ini mengisyaratkan dua hal mendasar bagi aktivitas seni dan budaya di bali : pertama, memasyarakatnya aktivitas berkesenian di kalangan masyarakat, dan kedua, adanya keterlibatan dari berbagai lapisan sosial yang ada.

Pengertian Pragina

Secara umum dapat dikatakan bahwa pragina adalah sebuah “gelar” profesional kesenimanan yang diberikan oleh masyarakat Bali kepada seniman panggung, khususnya kepada penari dan aktor (actor-dancer). Namun, menurut pendapat beberapa ahli kesenian Bali, sebutan ini hanya tepat diberikan kepada penari-penari dan aktor yang masih aktif dan yang memang benar-benar telah menjadikan seni pentas sebagai geginaan (profesi) dan gagunan (alat daya tarik). Ada dua pengertian pragina yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat Bali pertama, pragina adalah seniman/seniwati pelaku seni pentas (penari/aktor). Di dalam Kamus Bali-Indonesia yang disusun oleh Panitia Penyusun Kamus Bali-Indonesia disebutkan bahwa pragina berasal dari kata gina yang berarti indah atau baik. Dalam bahasa Bali awalan pra atau kadang-kadang per, antara lain dipakai untuk menyatakan suatu jabatan atau suatu golongan. Sesuai dengan hal ini, istilah pragina dipakai untuk menyebutkan seniman tari. Kedua, sebagaimana yang dituturkn oleh I Made Sija, seorang seniman asal Bona/Gianyar, pragina berasal dari kata “para” yang berarti banyak dan “gina” yang berarti profesi. Paragina yang kemudian menjadi pragina berarti orang yang memiliki berbagai macam keahlian seni. Kedua pengertian ini tampaknya memang saling mendukung dan bisa terjadi pada seorang pragina.

Pragina Bali

Berikut adalah pragina yang pernah dan atau masih cukup dikenal oleh kalangan pencinta seni pertunjukan di Bali : Cokorda Oka Tublen, I Nyoman Kakul, I Wayan Geria, I Made Kredek, I Nyoman Pugra, I Gusti Gede Raka, Ni Nyoman Rindi, I Made Monog, Ida Bagus Made Raka, I Ketut Renteg, Ni Jero Puspawati, Ni Ketut Ribuwati, I Gusti Ngurah Windia, Ni Gusti Ayu Raka Rasmi, Ni Luh Menek, I Made Liges, Anak Agung Raka Payadnya, I Made Jimat, Ni Nyoman Candri, I Nyoman Catra, I Made Widastra, I Nyoman Durpa.

Pragina Luar Daerah

Apa yang dialami oleh pragina Bali, terutama dalam proses berkesenian, tampaknya tidak jauh beda dengan yang dialami oleh para “pragina” di daerah lain seperti : Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta.

Adapun tokoh-tokoh atau pragina tersebut seperti : Ibu Sawitri (Jawa Barat), Bagong Kussudiardja (Yogyakarta), K. R. T Sasmintadipura (Yogyakarta), Retno Maruti (Jakarta), Boi G. Sakti (Jakarta)

Menurut pendapat saya bahwa, buku yang berjudul “pragina” ini sangat bagus dijadikan sebagai media pembelajaran, khususnya dalam belajar berkesenian. Sehingga kita dapat mengetahui pengertian, bagian-bagian,serta keseluruhan yang mencakup tentang istilah pragina.

Resensi Buku: Pragina selengkapnya

Poleng Kesiman: Tari Keprajuritan Sakral Pada Upacara Ngerebong Di Desa Kesiman

Poleng Kesiman: Tari Keprajuritan Sakral Pada Upacara Ngerebong Di Desa Kesiman

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, SSn., Alumni ISI Denpasar

Desa Kesiman merupakan sebuah desa yang terletak di bagian timur Kota Denpasar. Meskipun masih bernaung di wilayah perkotaan, namun desa ini ternyata memiliki khasanah seni budaya yang pantas untuk diteliti lebih lanjut. Contohnya adalah Upacara Ngerebong yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa budaya yang menarik dan khas. Salah satunya adalah keberadaan tari Poleng Kesiman.

Menurut buku “Sejarah Pura” hasil penelitian IHD (sekarang Unhi) tahun 2006, upacara Ngerebong termasuk ke dalam kategori Bhuta Yadnya atau pecaruan. Kata Caru berarti cantik atau harmonis. Jadi, prosesi ini bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam., serta manusia dengan Tuhan. Prosesi “Ngerebong” ini dilangsungkan setiap Redite Pon Medangsia atau 18 hari setelah hari raya Galungan.

Tari Poleng Kesiman ini merupakan suatu bentuk tari wali yang pada masa lalu dipercaya sebagai prajurit andalan Raja Kesiman. Tari ditarikan secara kelompok berjumlah 5 orang penari. Adapun properti yang dibawa oleh para penari yaitu berbagai jenis senjata seperti Gada, Tombak, Parang, Perisai dan Keris. Kondisi penari pada saat menari adalah dalam kondisi trance atau dikendalikan oleh kekuatan tertentu di luar nalar manusia. Uniknya, dalam keadaan seperti itu, mereka tidak berteriak-teriak seecara histeris seperti trance pada umumnya, namun bergerak menari dengan penuh kharisma.

Dalam pementasannya, para penari Poleng Kesiman mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam yang terbuat dari kain bludru, memakai kain putih, saput berwana poleng, dan selendang berwarna poleng yang dililitkan di badannya. Serta mengenakan destar ( sejenis hiasan kepala berupa lembaran kain yang dilipat-lipat sedemikian rupa )  berwarna poleng juga. Di telinganya diselipkan bunga kembang sepatu berwarna merah dan di pinggangnya diselipkan sebilah keris. Di sini kita dapat melihat adanya suatu kemiripan penggunaan dan jenis kostum dengan tari Baris pada umumnya yang sangat khas terutama pada hiasan kepalanya yang berbentuk kerucut dan dihiasi dengan kulit kerang. Salah satu dari 6 ciri-ciri seni pertunjukan ritual oleh Prof. Soedarsono adalah diperlukan busana yang khas (Soedarsono, 2002:135). Pada tari Baris Poleng Kesiman, hiasan kepalanya hanya berupa lembaran kain hitam-putih (poleng) yang dilipat-lipat sedemikian rupa hingga menyerupai destar ( hiasan kepala untuk bersembahyang umat Hindu pada umumnya ). Hal inilah yang menunjukkan salah satu kekhasan yang dimiliki tari Poleng Kesiman datri segi tata busananya.

Alur pementasannya dimulai ketika para pemangku perempuan yang disebut Sutri keluar dari pintu utama pura. Mereka menari dalam keadaan trance namun tidak  sehisteris prosesi pertama tadi. Dengan menggunakan busana serba putih dan dihiasi busana sejenis rompi berwarna hijau dan biru. Setelah itu, Dilanjutkan dengan mengusung benda sakral pusaka desa Kesiman berupa sabuk berwarna hitam putih (poleng) sepanjang 18 depa atau kurang lebih 15 meter. Sabuk ini diusung oleh beberapa orang pemangku perempuan yang mengenakan busana serba putih. Selanjutnya, diikuti oleh pemangku perempuan yang berjalan membawa genta sebanyak 4 orang. Di belakangnya lalu diikuti oleh para pemangku yang menari dengan mengenakan pakaian serba loreng dan membawa berbagai jenis senjata. Mereka inilah yang disebut rerencangan Poleng Kesiman. Terakhir, keluarlah Mangku Pura Dalem Kesiman, Mangku Gede Puri Kesiman, para Manca dan Prasanak menyaksikan jalannya prosesi yang mengitari wantilan sebanyak tiga kali berlawanan arah jarum jam. Setelah itu, para pemangku yang menari ini kembali ke jeroan pura.

Salah satu ciri daripada tari wali adalah tidak terlalu mementingkan estetika gerakan dan koreografi. Hal itu pun berlaku pada tarian Poleng Kesiman ini, dimana para penari kebanyakan menggunakan level rendah (ngaed). Dan, jenis gerakannya mirip seperti gerakan pencak silat. Hal ini dapat dilihat ketika penari begitu tangkas dalam memainkan properti senjata yang mereka bawa. Sesekali para penari harus memerlukan bantuan orang lain untuk menenangkan dirinya saat mereka tidak lagi bisa mengendalikan keadaan dirinya. Banyak gerakan maknawi yang terdapat pada tarian ini yang dilakukan oleh penari dalam keadaan trance, seperti mengacungkan senjata ke atas dan ke hadapan Pemangku Dalem ( yang mengawasi jalannya pementasan tarian dari pintu halaman utama mandala pura dan juga dalam keadaan trance ). Gerakan tersebut menandakan kesiapan para penari untuk berperang dan menjaga keamanan desa Kesiman secara niskala. Hal ini mirip dengan makna tari baris sakral yang terdapat di Bali pada umumnya.

Tradisi seni tari di Bali memiliki lebih dari 40 jenis tari Baris sakral Tari Baris. Tari berasal dari kata baris yang berarti deret atau leret yang menggambarkan kegagahan prajurit perang yang siap berangkat ke medan perang. Hal itu dilukiskan pada gerakannya yang tangkas nan enerjik serta penggunaan senjata sebagi properti pementasannya sekaligus menambah kesan gagah bagi penarinya. Tak jarang pula, setelah menunjukkan gerakan yang sangat tangkas dan energik, para penari baris sakral akan melakukan gerakan memendet yang lemah gemulai dan lebih bersifat kontemplatif. I Made Bandem dalam bukunya Kaja dan Kelod Tarian Bali Dalam Transisi mengungkapkan bahwa tarian memendet adalah tarian yang dilaksanakan oleh pria dewasa dari jemaah pura atau kadang-kadang oleh pemangku sendiri. Setelah selesai menghaturkan sesajen, para pemangku lalu memberi persembahan berupa arak berem kepada roh jahat. Selanjutnya, Soedarsono menyatakan bahwa Baris merupakan tari putra yang dibawakan oleh kelompok pria dewasa yang berfungsi sebagai tari penyambutan kepada para dewa yang diundang pada saat odalan.

Berpijak dari dua pernyataan tersebut, penulis berasumsi bahwa tari Poleng Kesiman ini termasuk kategori tari Bebarisan tepatnya tari Baris Pependetan. Sebab, jika dianalisa melalui aspek bentuk tari dan fungsinya, Tari Poleng Kesiman merupakan sebuah bentuk tari keprajuritan yang secara umum berfungsi sebagai pasukan atau para prajurit pengawal dewa yang turun dari kahyangan.

Poleng Kesiman: Tari Keprajuritan Sakral Pada Upacara Ngerebong Di Desa Kesiman, selengkapnya

Indonesia Cetak Rekor Dunia Permainan Angklung di Amerika

Indonesia Cetak Rekor Dunia Permainan Angklung di Amerika

New York  – Indonesia berhasil menggalang pembuatan rekor dunia “Guinness World Records” permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak setelah lebih dari 5.000 orang mampu memainkan lagu “We Are the World” di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu petang (9/7).
Lagu ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richie itu berhasil dimainkan para peserta di bawah panduan yang diberikan oleh Daeng Udjo dari Saung Angklung “Udjo” di Bandung, Jawa Barat.
Pencetakan rekor dunia itu berlangsung di taman National Mall-Washington Monument, yang lokasinya antara lain menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) serta berseberangan dengan Gedung Putih, yaitu kantor dan kediaman resmi Presiden AS.
Para peserta yang masing-masing mendapatkan sebuah angklung serta syal batik atau ikat kepala khas Bali saat memasuki arena, mengikuti panduan Daeng Udjo dengan membunyikan angklung berdasarkan salah satu nama pulau di Indonesia yang tercantum pada angklung mereka.
Nama-nama pulau tersebut –Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Lombok, Maluku, Flores, Papua, Halmahera– secara berurutan menggambarkan not do-re-mi-fa-so-la-ti-do-re (atas)-mi (atas).
Peserta membunyikan angklung masing-masing saat Daeng Udjo memberikan tanda not-not tersebut dengan menggunakan berbagai bentuk tangan.
Dari atas panggung, Daeng melatih para peserta memainkan beberapa lagu termasuk “Take Me Home, Country Roads” ciptaan John Denver, Taffy Nivert, dan Bill Danoff, sebelum akhirnya masuk ke lagu resmi pencetakan rekor, “We Are the World“.
Sebelum pengumuman, juri dari pihak “Guinness World Records” mengaku terkesima dengan kenyataan bahwa banyak peserta sebelumnya sama sekali tidak pernah memegang angklung namun pada Sabtu sore di National Mall bisa bersama-sama memainkan “We Are the World“.
“Ini di luar dugaan. Saya tadi di panggung hampir menangis,” kata Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patti Djalal, kepada ANTARA, tentang kepastian yang diumumkan pihak “Guinness World Records” dari atas panggung bahwa rekor angklung berhasil dicetak dengan peserta mencapai 5.182 orang.
Sebelumnya pada Sabtu siang, Dino mengaku tidak dapat memprediksi berapa –dari target 5.000 orang– yang akan hadir memainkan angklung untuk mencetak rekor.
“Hanya 1.000 orang pun bisa mencetak rekor kalau bisa memainkan lagu,” tuturnya.
Hingga Jumat (7/7), calon peserta yang terdaftar baru mencapai 1.600 orang.
Pembuatan rekor dunia permainan angklung itu juga diikuti dari atas panggung oleh sejumlah tokoh, termasuk Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York Hasan Kleib, Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani serta pengusaha dan promotor musik Peter Gontha.
Selain pencetakan rekor dunia permainan angklung, hari Sabtu di tempat yang sama juga dijadikan sebagai Festival Indonesia dan hari perayaan multikulturalisme.
Festival menghadirkan sejumlah artis Indonesia, seperti Sherina, Elfa`s Singers, Denada, Balawan serta artis mancanegara termasuk Brazilian Percussion, Interfaith Concert hingga kelompok musik kondang dari Australia, Air Supply.

Sumber: antaranews.com

Aji Amertha  Sanjiwani

Aji Amertha Sanjiwani

Penata 

 Nama                   : I Made Sukarsa

Nim                       : 200703003

Program Studi  : Seni Pedalangan

Sinopsis       :

Tersebutlah Sisya di perguruan Loka Asura Asrama, dibawah bimbingan Bhegawan Sukra. Yakni Detya Wersaparwa dan para Asura lainnya dengan Sang Kaca tengah menimba Aji Amertha Sanjiwani/ilmu pengurip-urip yang telah mati. Dalam persaingan belajar Sang Kaca harus kehilangan nyawanya berkali-kali dibunuh dijadikan makanan yang di hidangkan oleh para dDetya kepada Bhegawan Sukra. Alangkah kagetnya Bhegawan Sukra karena Sang Kaca di hidupkan berada dalam perutnya. Untuk keduanya selamat maka diturunkanlah Aji Amertha Sanjiwani kepada Sang Kaca saat dalam perutnya Bhegawan Sukra.

Setelah Aji Amertha Sanjiwani telah dikuasai, Sang Kaca keluar dengan membelah perut Bhegawan Sukra. Bhegawan Sukra pun mati,lalu dihidupkan oleh Sang Kaca dengan Aji Amertha Sanjiwani.

Pendukung    : Sanggar Wayang Kilayumanedeng Cemagi.

 

 

Seniman Bali Menerima Penghargaan Pemerintah RI

Seniman Bali Menerima Penghargaan Pemerintah RI

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha SSn., Alumni ISI Denpasar

Pada tanggal 5-7 Juli 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, mengadakan sebuah acara penghargaan tahunan yang diberikan kepada mereka yang tekun dan sungguh-sungguh mengabdi di dunia seni budaya.  Ada empat kategori yang disediakan oleh Kemenbudpar RI kali ini yauti : 1. Bidang Maestro Seni Budaya, 2. Bidang Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya, 3. Anugerah Seni dan 4. Anak/Remaja/Pelajar yang Berprestasi di Bidang Seni Budaya.

Masyarakat Bali saat ini pantas berbangga diri, karena salah satu putra-putri terbaiknya di bidang seni tari kembali mendapat penghargaan bergengsi tingkat nasional oleh pemerintah pusat di Jakarta. Acara bertajuk “Penghargaan Maestro Seni Tradisi dan Anugerah Kebudayaan Tahun 2011” ini diberikan kepada mereka yang telah berjasa dan mendedikasikan dirinya di bidang seni budaya. Setelah tahun lalu (2010) seniman Bali I Made Sija menerima penghargaan dari pemerintah pusat, kali ini adalah (alm.) Jero Puspawati, seniwati dramatari Arja, dari Geriya Bongkasa, Abiansemal, Kab. Badung, Bali. Beliau mendapat penghargaan di bidang Maestro Seni Tradisi. Penghargaan Kali ini diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang diwakili oleh Wakil Presiden Boediono beserta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik kepada perwakilan (alm.) Jero Puspawati yaitu Ida Ayu Wimba Ruspawati selaku putri sulung beliau.

Jero Puspawati adalah seorang seniman yang bergelut khusus di bidang seni tradisi Dramatari Arja. Dilahirkan sekitar 77 tahun yang lalu di Desa Pejeng, Kab. Gianyar, beliau terlahir dengan nama Ni Wayan Sembo. Sejak umur 7 tahun, beliau memulai karir berkesenian secara otodidak. Hal ini dipelajari langsung dari ayahnya yang bernama I Raos yang pada jamannya dikenal sebagai pemeran tokoh Pandung dalam dramatari Calonarang yang cukup populer karena penguasaan teknik serta penjiwaannya. Beliau sangat rajin mengikuti kiprah ayahnya pentas kesana-kemari demi sebuah pengalaman sekaligus menjalankan kegemarannya menyaksikan orang menari. Dari berbagai pengalaman-pengalaman menonton tersebutlah, secara tidak disadari ketajaman intuisinya akan seni tradisi menjadi terasah. Tak heran, ia pun dengan mudah menghafal urutan pementasan karakter-karakter yang terdapat dalam dramatari Arja.

Bakat emas ini ternyata cepat disadari oleh ayahnya kala itu. I Raos kemudian mengajarinya tembang-tembang Sekar Alit sebagai modal utama dalam memerankan tokoh dalam opera tradisional tersebut. Karena memang sudah memiliki potensi unggul, Ni Sembo tak membutuhkan waktu lama untuk menguasai berbagai pupuh yang diajarkan ayahnya. Selanjutnya, perjalanan karir keseniannya di dramatari Arja pun dimulai. Pelatihannya dimulai dari belajar tari Condong, lalu beralih ke Mantri Manis, Mantri Buduh, lalu berakhir di tokoh Limbur. Seiring dengan meningkatnya jam terbang pementasan beliau, maka semakin matanglah pengalaman di bidangnya. Pun demikian dengan kematangan penokohan karakter yang mulai mengarah secara spesifik. Setelah demikian lama berlatih dan pentas, akhirnya beliau dikenal cocok membawakan tokoh Mantri Buduh dan Limbur. Identitas pun disematkan oleh masyarakat kepada beliau sebagai Mantri Buduh Pejeng atau Limbur Pejeng, karena memang berasal dari Pejeng, Gianyar.

Karena kemampuan serta pengalamannya itulah, beliau sempat tergabung dengan berbagai seniman dramatari Arja yang terkenal dan pentas di seluruh Bali. Beliau sempat bergabung dalam grup Arja Singapadu yang disesaki oleh seniman-seniman besar seperti (alm.) Tjokorda Oka Tublen, (alm.) I Wayan Geria, (alm.) I Made Keredek, serta sering pentas bersama seniman besar (alm.) I Ketut Rindha dari Blahbatuh, Gianyar, (alm.) Jero Suli dari Denpasar serta pasangan punakawan (alm.) I Sadru dan (alm.) I Monjong dari Keramas, Gianyar. Dengan seniman-seniman tersebutlah, Ni Sembo sering bertukar pikiran, berdialog dan tanpa sungkan-sungkan menggali ilmu pada siapapun. Oleh karenanya, interaksi yang intensif dengan seniman berbagai karakter di luar desanya membuat Ni Sembo semakin diperhitungkan di jagat dramatari Arja pada jamannya.

Pada tahun 1952, Ni Sembo sempat mengadakan pentas tari Arja ke Lombok bersama grup ayahnya. Beliau kesana atas undangan komunitas Bali yang rindu akan seni tradisional di tanah leluhurnya. Di tempat inilah beliau bertemu dengan Ida Bagus Made Raka, seniman besar Bali yang berasal dari desa Bongkasa, kec. Abiansemal, Kab Badung. Mereka pun saling jatuh hati dan tak lama kemudian melangsungkan proses pernikahan. Ni Sembo resmi menikah ke Geriya Gede Bongkasa dan berganti nama menjadi Jero Puspawati. Karir keseniannya di bidang dramatari Arja bukannya terganjal karena menikah dan mengurusi rumah tangga, namun sebaliknya, justru semakin berkibar berkat dukungan sang suami. Ida Bagus Made Raka yang tak hanya dikenal tangguh sebagai Baris atau Jauk Bongkasa, juga dikenal sebagai juru kendang tari Arja yang sangat mahir. Atas prakarsa mereka berdua bersama Ida Pedanda Gede Putra Singarsa (alm.) yang juga dikenal sebagai Dalang Bongkasa pada masa lalu, terbentuklah grup kesenian Parwa Agung yang berbasis di desa Blahkiuh, Kec. Abiansemal, Kab. Badung. Grup ini sangat terkenal pada masanya dan hingga kini masih tetap eksis. Selain itu, mereka pun secara berpasangan mengabdikan diri memenuhi permintaan masyarakat di berbagai desa di Bali untuk mengajar dramatari Arja. Berdua, mereka merasakan indahnya kebersamaan tak hanya sebagai pasangan hidup, namun juga sebagai pasangan seniman yang sangat serasi dan bermental pengabdian yang sangat tulus.

Pada tahun 2002, sang suami yaitu Ida Bagus Made Raka berpulang menghadap Sang Pencipta karena sakit yang dideritanya. Tentu, kesedihan yang mendalam menghinggapi Jero Puspawati selaku pasangannya. Namun hal ini tak menyurutkan niat beliau untuk terus mengabdi di bidangnya secara professional. Hidup harus terus berlanjut dan tiada henti mengabdi. Setidaknya prinsip itulah yang menguatkan mental Jero Puspawati dalam melanjutkan sisa hidupnya. Terbukti, beliau didaulat oleh para anggota sekaa santi Gita Keheningan Banjar Kehen Kesiman untuk membina pesantian ini di bidang Sekar Alit. Senyum girang kembali menghiasi bibir beliau ketika mengingat sisa hidupnya yang masih memiliki guna dan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Kepercayaan masyarakat di desa Kesiman (tempat domisili sementara beliau sepeninggal sang suami) kepada beliau semakin tebal ketika beliau didaulat menjadi duta Br. Kehen sebagai penari Joged Bumbung dalam parade pentas tari Joged Lansia yang digelar oleh Pemerintah Desa Kesiman Petilan pada tanggal 6 Februari 2011 yang lalu. Keceriaan beliau nampak jelas menghiasi hari tuanya. Menari seolah sebagai terapi kesehatan bagi beliau. Sesakit apapun tubuhnya, dapat dilupakan sejenak bilamana beliau mendengarkan lantunan pupuh Sekar Alit yang dikumandangkan oleh orang di sekitarnya maupun lewat siaran radio. Pun demikian ketika suatu waktu ada beberapa orang datang ke tempat beliau mendiskusikan masalah pakem tari Arja.

Akhirnya, Sabtu, 21 Mei 2011 beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit lever yang dideritanya dan sekaligus sebagai pertanda perpisahan beliau pada pengabdiannya di jagat seni tradisi Bali. Beliau meninggalkan dua orang putri yaitu Ida Ayu Wimba Ruspawati (51 th) dan Ida Ayu Mas Yuniari (47), serta enam orang cucu. Dua di antaranya merupakan tunas muda yang diharapkan dapat meneruskan pengabdian beliau di jagat seni, sesuai bidangnya masing-masing. Mereka adalah Ida Bagus Gede Surya Peradantha S.Sn., serta Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti. Ida Ayu Wimba Ruspawati selaku putri almarhum mengucapkan terima kasih kepada perhatian pemerintah pusat kepada seniman-seniman di Bali khususnya yang telah berjasa di bidangnya masing-masing. Ia berharap agar pemerintah tak henti-hentinya membangun usaha untuk memperhatikan keberadaan para seniman yang telah mengharumkan nama daerah dan bahkan negara di dunia internasional. Tak hanya TKI yang merupakan pahlawan devisa, namun seniman melakukan hal yang lebih sebagai media promosi potensi seni dan budaya seuatu negara.

Seniman Bali Menerima Penghargaan Pemerintah RI, selengkapnya

Loading...