M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Sejarah Tari Legong di Bali

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, SSn., Alumni ISI Denpasar

Tari Legong dalam khasanah budaya Bali termasuk ke dalam jenis tari klasik karena awal mula perkembangannya bermula dari istana kerajaan di Bali. Tarian ini dahulu hanya dapat dinikmati oleh keluarga bangsawan di lingkungan tempat tinggal mereka yaitu di dalam istana sebagai sebuah tari hiburan. Para penari yang telah didaulat menarikan tarian ini di hadapan seorang raja tentu akan merasakan suatu kesenangan yang luar biasa, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam istana.

Mengenai tentang awal mula diciptakannya tari Legong di Bali adalah melalui proses yang sangat panjang. Menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel ( wilayah Sukawati ), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.

Ketika beliau sadar dari semedinya, segeralah beliau menitahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang wajahnya tampak dalam mimpi beliau ketika melakukan semedi di Pura Jogan Agung dan memerintahkan pula agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Akhirnya Bendesa Ketewel pun mampu menyelesaikan sembilan buah topeng sakral sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan tari Sang Hyang Legong pun dapat dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua orang penari perempuan.

Tak lama setelah tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik melakukan sebuah pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Beliau sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong ini, seraya menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali dengan mempergunakan dua orang penari wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta tari Legong klasik yang kita saksikan sekarang ini.

Bila ditinjau dari akar katanya, Legong berasal dari kata “ leg “ yang berarti luwes atau elastis dan kata “gong” yang berarti gamelan. Kedua akar kata tersebut bila digabungkan akan berarti gerakan yang sangat diikat ( terutama aksentuasinya ) oleh gamelan yang mengiringinya (Dibia, 1999:37).

Sebagai sebuah tari klasik, tari Legong sangat mengedepankan unsur artistik yang tinggi, gerakan yang sangat dinamis, simetris dan teratur. Penarinya pun adalah orang-orang yang berasal dari luar istana yang merupakan penari pilihan oleh raja ketika itu. Maka, tidaklah mengherankan jika para penari merasakan kebanggaan yang luar biasa jika menarikan tari Legong di istana. Begitu pula sang pencipta tari. Akan menjadi suatu kehormatan besar apabila dipercaya untuk menciptakan suatu tarian oleh seorang pengusa jaman itu. Walaupun nama mereka tidak pernah disebutkan mencipta suatu tarian kepada khalayak ramai, mereka tidak mempersoalkan itu asalkan didaulat mencipta berdasarkan hati yang tulus dan penuh rasa persembahan kepada sang raja. Ini dapat dilihat dari hampir seluruh tari-tari klasik maupun tari tradisi lain yang berkembang di luar istana seperti tari Legong, Baris, Jauk dan Topeng.

Kini di jaman yang tidak lagi menganut paham feodalisme, keseian Legong telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dari segi kuantitas maupun kualitas. Disebutkan bahwa tari Legong Keraton ( karena berkembang di istana ) keluar dari lingkungan istana pada awal abad ke-19. Para penari wanita yang dahulunya berlatih dan menari Legong di istana kini kembali ke desa masing-masing untuk mengajarkan jenis tarian ini kepada masyarakat. Sebagaimana diketahui, orang Bali adalah orang yang sangat kreatif sehingga gaya tari masing-masing pun sedikit berbeda sesuai dengan kemampuan membawakannya. Oleh karena itu, timbul style-style Palegongan yang tersebar di berbagai daerah seperti di desa Saba, Peliatan, Bedulu, Binoh, Kelandis dan beberapa tempat lainnya. Dari sekian daerah perkembangan tari Legong, hanya desa Saba dan Peliatan yang masih kuat mempertahankan ciri khasnya dan mampu melahirkan jenis-jenis tari Palegongan dengan berbagai nama.

Tari-tari legong yang ada di Bali pada awalnya diiringi oleh gamelan yang disebut Gamelan Pelegongan. Perangkat gamelan ini terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, gentorang. Sebagai tambahan, terdapat seorang juru tandak untuk mempertegas karakter maupun sebagai narrator cerita melalui tembang. Namun, seiring populernya gamelan gong kebyar di Bali, akhirnya tari-tari palegongan ini pun bisa diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, karena tingkat fleksibilitasnya.

Rektor Lantik Senat Dan Badan Perwakilan Mahasiswa

Rektor Lantik Senat Dan Badan Perwakilan Mahasiswa

Pengembangan kehidupan kemahasiswaan Instutut Seni Indonesia (ISI) Denpasar adalah bagian integral dari Sistem Pendidikan Nasional, dan  kedudukan Organisasi Kemahasiswaan intra Perguruan Tinggi merupakan kelengkapan non struktural pada organisasi ISI Denpasar yang perlu ditingkatkan peranannya. Organisasi Senat Mahasiswa ( SEMA ) sebagai badan normatif non kurikuler yang merencanakan, mengatur dan melaksanakan kegiatan kemahasiswaan sangat signifikan peranannya dalam pelaksanaan kegiatan kampus..

Rektor ISI Denpasar, Prof. Rai, didampingi Pembantu Rektor III, Bidang Kemahasiswaan Drs. I Made Suberatha,M.Si., kemarin (Rabu,13/7) telah melantik Pengurus Senat Mahasiswa serta Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa ISI Denpasar periode tahun 2011/2012 di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. ”Dalam melaksanakan tugas, hendaknya mahasiswa mengutamakan etika dan kerjasama seluruh civitas, jangan bercerai berai, tingkatkan persatuan, dan dalam  pengembangan akademis hendaknya selalu mengacu pada aturan dan panduan yang berlaku,” Papar Prof Rai dalam sambutannya.

Selain itu, Prof Rai juga berharap kepercayaan yang telah diberikan kepada mahasiswa sebagai pengurus dalam Organisasi Kemahasiswaan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Senat yang dilantik,  I Kadek Egi Saputra, bahwa pengurus yang baru akan selalu berupaya untuk lebih giat dan aktif dalam melaksanakn tugas, serta selalu mendukung kegiatan kampus yg bersifat ilmiah dan akademis, dan lebih berorientasi pada penalaran.

Egi Saputra didampingi wakil ketua senat  G. A. G Pacung Abdiningrat, sekretaris I Gusti Putu Agus Adi Yustika, serta pengurus lainnya dalam bidang UKM Penalaran, UKM Kesenian, UKM Olah Raga, Bidang PMI  dan MENWA. Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa, dengan ketua I Wayan Semara Putra, I Wayan Eta Purnawan sebagai wakil ketua, serta pengurus lainnya, menerima ucapan selamat dari Rektor, PR III, serta pejabat struktural lainnya seusai acara pelantikan yang juga menampilkan paduan suara ISI Denpasar.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Spanduk sebagai Sarana Promosi Aromas Café Di Legian Kuta Bali

Spanduk sebagai Sarana Promosi Aromas Café Di Legian Kuta Bali

Kiriman: I Ketut Baskara Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Desain ISI Denpasar

Spanduk

Pada sub ini mahasiswa akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media promosi spanduk yang digunakan sebagai salah satu media komunikasi visual sebagai sarana promosi Aromas Café di Jalan Legian Kuta-Bali.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

Bentuk fisik dari spanduk ini persegi panjang dan mempunyai ukuran 300 x 80 cm agar telihat jelas bila dilihat dari jarak jauh.

2. Ilustrasi

Dalam desain media spanduk ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah gambar brokoli sebagai background, gambar dari salah satu menu di Aromas Café, serta logo dari Aromas Café itu sendiri.

Menggunakan background brokoli agar memberi kesan hijau yang merupakan cirri khas warna sayuran. Gambar salah satu menu di Aromas Café yaitu Aromas Pizza karena merupakan salah satu menu andalan di Aromas Café. Menggunakan gambar logo Aromas Café agar masyarakat mengetahui identitas dari Aromas Café itu sendiri.

3. Teks

Desain media spanduk ini menggunakan teks berupa slogan “healthy vegetarian cuisine“, dimana memberikan informasi kepada masyarakat bahwa di Aromas Café menyediakan masakann vegetarian yang menyehatkan. Sedangkan copy text menampilkan sedikit informasi tentang Aromas Cafe.

4. Huruf / Typografi

Desain media promosi ini menggunakan dua jenis huruf atau typografi, yaitu: Vivaldi, serta Arial. Jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis.

5. Warna

Dalam desain media poster ini menggunakan warna sebagai berikut :

–  Untuk background menggunakan warna hijau kekuningan.

Penggunaan warna hijau kekuningan pada background disesuaikan dengan tema yang diangkat, yaitu tentang vegetarian yang sangat terkait dengan sayuran.

–  Untuk kotak tempat tulisan memakai warna orange dari wortel dan juga agar lebih atraktif

Logo Aromas Café menggunakan warna kuning serta biru.

Warna kuning merupakan warna yang menarik mata dibanding dengan warna lainnya serta membangkitkan nafsu makan, kemudian warna biru lebih berhubungan dengan ketenangan dan meditasi yang selalu dikaitkan dengan iman dimana yang menjadi salah satu alasan seseorang untuk menjadi seorang vegetarian adalah untuk melatih kesabaran iman. Sehingga kedua warna tersebut diharapkan mampu menunjukan bahwa Aromas Café adalah sebuah restoran vegetarian.

– Tulisan menggunakan warna putih dan coklat tua.

Warna putih pada tulisan ini digunakan karena merupakan warna netral sehingga tidak terpengaruh oleh warna lain. Begitu juga warna coklat yang merupakan salah satu warna tanah. Merupakan salah satu warna alam selain warna hijau.

6. Bahan

Desain media spanduk ini menggunakan bahan vinyl dipilih karena memiliki kualitas dan ketebalan yang bagus serta tidak mudah robek, sehingga spanduk lebih tahan lama.

7. Teknik Cetak

Untuk mewujudkan spanduk, cetak digital dipilih karena lebih menghemat waktu dan biaya.

 Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilain desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif desain spanduk ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain spanduk ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain spanduk ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “natural”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa slogan promosi yang singkat, jelas dan informatif. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran).

Spanduk sebagai Sarana Promosi Aromas Café Di Legian Kuta Bali, selengkapnya

Serah Terima Pengelolaan Sisten Informasi Akademik (SIA)

PENGUMUM A N

No. 033/IT.5.7/TP/2011

 

Berdasarakan surat serah terima Sistem Informasi Akademik (SIA) ISI Denpasar  dengan nomor : 031/IT.5.7/TP/2011 antara UPT. Puskom ISI Denpasar dan Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAKK), maka terhitung tanggal 1 Juli 2011 Sistem Infomasi Akademik (SIA) sepenuhnya dikelola oleh BAAKK. Hal-hal yang berhubungan dengan Sistem Informasi Akademik (SIA) seperti permintaan username dan password pada Portal Akademik dilaksanakan di BAAKK

Demikian pengumuman ini , atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

 

Denpasar, 13 Juli 2011

Kepala UPT Puskom,

 

Hendra Santosa, S.Skar., M.Hum

NIP. 196710311992031001

 

Surat serah terima Sistem Informasi Akademik (SIA) bisa diunduh disini

Satyaning Amba

Satyaning Amba

Penata

Nama                     : Ni Nyoman Wahyu Adi Gotama

Nim                        : 200701001

Program Studi  : Seni Tari

Sinopsis :

Sosok Dewi Amba sebagai putri raja, dengan kesetiaan dan ambisinya terus menuntut agar Bhisma mempersunting dirinya. Tetapi Bhisma menolak karena ia adalah seorang Sukla Bramacari. Dewi Amba tidak menyerah dan terus berusaha mengejar Bhisma. Kebencian dan dendam Dewi Amba kepada Bhisma semakin memuncak, Bhisma dianggap sebagai sumber kehancuran hidupnya.

Penata Karawitan   : Uda Pramesti, S.Sn

Pendukung Tari      :

  1. Ida Ayu Ratih Wagiswari          (Mahasiswi Jur.Tari, smtr IV   ISI Dps)
  2. Ida Ayu Made Dwita Sugiantini ( SMK Negeri 3 Sukawati )
  3. Kadek Ayu Era Pinatih               ( SMK Negeri 3 Sukawati )
  4. Ni Nyoman Andra Kristina Susanti ( SMK Negeri 3 Sukawati )

Pendukung Karawitan       : Sanggar Sunari, Denpasar

 

Kemdiknas Upayakan Penurunan Biaya Orang Tua Mahasiswa

Kemdiknas Upayakan Penurunan Biaya Orang Tua Mahasiswa

Jakarta — Kementerian Pendidikan Nasional mengusulkan komposisi anggaran pendidikan tinggi yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diturunkan menjadi 20 persen. Cara ini ditempuh untuk mengurangi pendanaan yang berasal dari orang tua mahasiswa.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso, komposisi pembiayaan meliputi pembiayaan yang bersifat mengikat, tidak mengikat, dan PNBP. Saat ini komposisi anggaran bersumber dari PNBP sebanyak 37,20 persen. “Kami usulkan PNBP 20 persen, sehingga jumlah SPP yang ditarik dari mahasiswa otomatis turun,” katanya
saat menyampaikan simulasi pembiayaan pendidikan tinggi didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiknas Harris Iskandar, di Kemdiknas, Jakarta, Selasa (12/07)..

Sedangkan pembiayaan yang bersifat mengikat diusulkan naik dari 25,62 persen menjadi 48 persen dan tidak mengikat dari 37,18 persen menjadi 32 persen. “Kami sudah ketahui cara menghitungnya, sehingga bisa dilakukan berbagai perubahan jika diperlukan,” katanya .

Djoko menyebutkan, isu pembiayaan pendidikan meliputi sistem pembiayaan berkeadilan, ketergantungan pada kontribusi orang tua/mahasiswa yang tinggi, pembedaan menurut kelompok bidang ilmu, upah minimum regional, standar pelayanan minimum, rumusan satuan biaya (unit cost), dan bantuan biaya pendidikan.

Adapun satuan biaya pendidikan meliputi tiga komponen. Pertama, biaya operasional yang mencakup biaya tetap, biaya variabel seperti pegawai, bahan ajar, operasional dan pemeliharaan, dan utilitas. Kedua, biaya tiap komponen mencakup geografi dan ketersediaan sarana. Ketiga, kurikulum dan metode mencakup biaya mutu.

Djoko menyebutkan, saat ini kebutuhan anggaran di 83 perguruan tinggi negeri (PTN) termasuk Universitas terbuka setiap tahunnya mencapai Rp 38,86 triliun. Sebanyak Rp 30,9 triliun dari anggaran ini dibebankan kepada pemerintah, sedangkan sisanya Rp 7,9 triliun atau maksimal 30 persen dari biaya operasional ditanggung oleh masyarakat.

“Kita memang belum menerapkan batas atas dari biaya SPP. Ke depan, kita hitung terus untuk menetapkan . Itu memang harus dikendalikan, tetapi yang penting kalau sudah ditetapkan ada usaha memperbesar biaya untuk mereka yang ekonominya lemah. Itu yang harus terus kita kampanyekan, tetapi yang menyumbang jangan dilarang. Akan digunakan untuk memberikan bantuan kepada ekonomi lemah,” katanya. (agung)

Sumber: kemdiknas.go.id

Loading...