by admin | Jul 19, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar
Agar dapat mengenal lebih dekat dan mendetail budaya Bali yang beragam , perlu juga mengetahui budaya yang berlaku secara umum baik dari segi tingkah laku (kelakuan) maupun benda-benda (tanda budaya) lainnya untuk memperoleh gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga terjadi suatu perbedaaan. (T.O. Ihromi, 1996: xxiii). Konsep desa,kala,patra, dan kuna dresta, maupun desa/drsta mawa cara, adalah prinsip yang sampai saat ini masih berlaku bahkan oleh komunitas maupun lembaga-lembaga terkait cenderung untuk dipertahankan. Keragaman budaya yang ada/ dimiliki oleh masing-masing komunitis desa pekraman telah memperkaya dan memberi keindahan tersendiri bagi masyarakat Bali. Bentukan budaya “baru” dari keragaman komunitas terhadap penggunaan sarana keagamaan seperti; umbul-umbul, kober, bandrangan, tumbak, mamas, payung pagut, payung robrob, Penawesange, dan Dwaja
tidak terlepas dari adanya interaksi dan internalisasi pendukungnya. Secara kultur keragaman budaya berada dalam ruang interaksi dan internalisasi nilai-nilai yang memiliki pandangan berbeda, bahwa kolektivitas atau komunitas menentukan anggotanya, pandangan lainnya adalah anggota menentukan kebersamaan. (Mudji Sutrisno, 2009:140). Sejalan dengan pendapatnya Mudji Sutrisno, tentang timbulnya budaya baru dalam kehidupan masyarakat khususnya tentang keseragaman dalam keragaman sarana upacara keagamaan tidak lepas dari keinginan dan rasa tanggung jawab untuk melestarikan tradisi yang sesuai dengan jiwa jamannya. Sudah tentu pula dalam upaya pelestarian nilai-nilai sakral religius magis tersebut dibarengi dengan kondisi perkembangan jaman yang ada.
Adanya kemajuan teknologi, dominasi budaya, serta dinamika terpadu telah membentuk komunitas yang terwujud bukan oleh lingkungan tempat lingkungan itu berada. (David Kaplan dan Albert A. Manners, 1999: 241-242). Jadi budaya itu memang tidaklah statis, dapat bertahan dan berkembang sesuai dengan jamannya. Bali yang sarat dengan prosesi ritual religius keagamaan sekaligus sebagai daerah tujuan wisata secara tidak langsung telah bersentuhan dengan budaya baru sesuai adat kebiasaan daerah/negaranya masing-masing. Atau atas kemauan masyarakat/komunitas pramuwisata yang dengan “sengaja” memanjakan para wisatawan dengan menyajikan seni budaya yang mengandung nilai sakral sebagai daya tariknya. Tidak jarang belakangan ini dijumpai sarana upacara keagamaan yang lengkap dengan atributnya berada di tempat-tempat umum.
Dalam transformasi kebudayaan Bali, I Wayan Geriya mengungkapkan, perubahan bentuk kebudayaan berimplikasikan dan mempunyai aspek yang sangat besar dan luas. Cakupan itu tidak saja berupa dimensi, cara, jaringan relasi fungsional, juga struktur yang terkait dengan pembesaran skala secara horizontal dan vertikal, tanpa meninggalkan esensi jati diri kebudayaan yang berkelanjutan. Lebih lanjut dianalogikan seperti kupu-kupu dengan proses transformasi biologisnya, dari perubahan telur menjadi ulat, kepompong hingga menjadi kupu-kupu yang dapat terbang bebas karena ada perubahan bentuk dan fungsi, namun tetap dalam esensi spesiesnya, tidak berubah ke spesies burung maupun yang lainnya. (I Wayan Geriya, 2000 : 109). Apa yang diungkapkan dalam tronspormasi budaya memang sulit dihindari, namun dalam penelitian ini adanya simbol-simbol/atribut keagamaan yang digunakan ditempat ibadah dan disakralkan digunakan ditempat lainnya/diluar pura.
Kronologis kebudayaan Bali, kalau ditinjau dari persepektif historis, dapat dirunut menjadi tiga tradisi pokok, yaitu tradisi kecil, tradisi besar, dan modern. Tradisi kecil yang dimaksud adalah kebudayaan yang berorientasikan Bali lokal dengan ciri-ciri tertatanya sistem pengairan oleh kelompok-kelompok organisasi nonformal yang disebut subak dan berternak dengan tujuan untuk keperluan upacara maupun memenuhi kebutuhan keluarga serta membuat barang-barang/peralatan rumah dan sarana keagamaan. Dalam tradisi besar telah terjadinya akulturasi antara kebudayaan Bali lokal dengan kebudayaan Hindu Jawa yang melahirkan kebudayaan Bali tradisi. Ciri-cirinya adalah adanya kekuasaan terpusat lewat konsep Dewa Raja. Raja dianggap sebagai inkarnasi Dewa dengan segala kelebihannya dibandingkan rakyat kebanyakan. (I Wayan Geriya, 2000 : 2).
Terbentuknya Budaya Bali Tradisi diikuti pula terjadinya sistem penanggalan (kalender Hindu-Jawa) arsitek dan kesenian yang bermotif Hindu dan Budha. Kebudayaan Bali tradisi ini sebuah refleksi dari budaya ekpresif, dominannya nilai religius, nilai estetis dan solidaritas, sebagai inti kebudayaan Bali. Perbedaan antara bagian inti suatu kebudayaan dengan bagian perwujudan lahirnya, dapat dilihat dari beberapa ciri seperti yang ada pada inti kebudayaan misalnya: 1). Sistem nilai, 2). Keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, 3). Adat yang sudah dipelajari sangat dini dalam proses sosialisasi individu warga masyarakat, 4). Adat mempunyai fungsi yang terjaring dalam masyarakat, sedangkan bagian akhir dari suatu kebudayaan fisik, alat-alat, benda-benda yang berguna, ilmu pengetahuan, tata cara dengan segala tekniknya, untuk memberi kenyamanan. (Koentjaraningrat, 1990: 97). Bagian akhir dari terbentuknya kebudayaan yaitu kebudayaan fisik, oleh masyarakat Bali masih terpelihara dan dirawat dengan baik. Kiat-kiat perawatan dan pelestarian warisan tersebut dilakukan dalam bentuk upacara ritual yang disebut dengan otonan atau odalan yang datangnya enam bulan sekali / 210 hari sekali. Khusus bagi masyarakat Hindu di Bali, selain diwariskan kebudayaan berbentuk fisik, yang lebih berharga dan bermanfaat adalah adanya suatu tatanan dan tuntunan “wajib” cara-cara atau alokasi waktu perawatan/pemeliharaan secara berkelanjutan.
Budaya Bali selengkapnya
by admin | Jul 19, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Ketut Baskara Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Desain ISI Denpasar
I Poster
Pada sub ini mahasiswa akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media promosi Poster yang digunakan sebagai salah satu media komunikasi visual sebagai sarana promosi Aromas Café di Jalan Legian Kuta-Bali.
Unsur Visual Desain
1. Bentuk Fisik
Bentuk fisik dari promosi poster ini persegi panjang dan mempunyai ukuran 42 x 30 cm. Ukuran dibuat dalam ukuran kertas A3 agar poster lebih jelas terlihat, walaupun jika dilihat dari jarak yang agak jauh.
2. Ilustrasi
Dalam desain media poster ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah gambar brokoli sebagai background, gambar dari salah satu menu di Aromas Café, serta logo dari Aromas Café itu sendiri.
Menggunakan background brokoli agar memberi kesan hijau yang merupakan cirri khas warna sayuran. Gambar salah satu menu di Aromas Café yaitu Aromas Pizza karena merupakan salah satu menu andalan di Aromas Café. Menggunakan gambar logo Aromas Café agar masyarakat mengetahui identitas dari Aromas Café itu sendiri. Selain itu juga digunakan gambar dari tampak depan Aromas Café agar masyarakat mengetahui seperti apa rupa bangunan Aromas Café.
3. Teks
Pada media poster ini, menggunakan teks berupa slogan “healthy vegetarian cuisine“, dimana memberikan informasi kepada masyarakat bahwa di Aromas Café menyediakan masakann vegetarian yang menyehatkan. Sedangkan copy text menampilkan sedikit informasi tentang Aromas Cafe. Serta teks “Enjoy The Sight of a Comfortable Romantic Garden Restaurant” dimana menunjukan bahwa lingkungan di Aromas Café sangatlah asri karena terdapat banyak tanaman.
4. Huruf / Typografi
Desain media promosi ini menggunakan dua jenis huruf atau typografi, yaitu: Vivaldi, serta Arial. Jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis.
5. Warna
– Untuk background menggunakan warna hijau kekuningan.
Penggunaan warna hijau kekuningan pada background disesuaikan dengan tema yang diangkat, yaitu tentang vegetarian yang sangat terkait dengan sayuran.
– Untuk kotak tempat tulisan memakai warna orange dari wortel dan juga agar lebih atraktif
– Logo Aromas Café menggunakan warna kuning serta biru.
Warna kuning merupakan warna yang menarik mata dibanding dengan warna lainnya serta membangkitkan nafsu makan, kemudian warna biru lebih berhubungan dengan ketenangan dan meditasi yang selalu dikaitkan dengan iman dimana yang menjadi salah satu alasan seseorang untuk menjadi seorang vegetarian adalad untuk melatih kesabaran iman. Sehingga kedua warna tersebut diharapkan mampu menunjukan bahwa Aromas Café adalah sebuah restoran vegetarian.
– Tulisan menggunakan warna putih dan coklat tua.
Warna putih pada tulisan ini digunakan karena merupakan warna netral sehingga tidak terpengaruh oleh warna lain. Begitu juga warna coklat yang merupakan salah satu warna tanah. Merupakan salah satu warna alam selain warna hijau.
6. Bahan
Desain media poster ini menggunakan bahan art paper 150 gsm. Kertas art paper 150 gsm dipilih karena memiliki kualitas yang bagus.
7.Teknik Cetak.
Untuk mewujudkan poster dalam jumlah banyak, cetak offset dipilih karena harganya relatif lebih murah dan lebih bagus daripada teknik cetak lainnya.
Kreatif Desain
Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilain desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif desain poster ini, dibuat 3 alternatif desain.
Desain poster ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “natural”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa slogan promosi yang singkat, jelas dan informatif. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran).
Poster, X-Baner, Dan Flyer Sebagai Sarana Promosi Aromas Café Di Legian Kuta Bali, selengkapnya
by dwigunawati | Jul 18, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : Ni Komang Septri Ariarti
Nim : 200701002
Program Studi : Seni Tari
Sinopsis :
Untuk menguji kesetiaan Dewi Uma, Dewa Siwa memberikan titah kepada Dewi Uma untuk turun ke marcepada (bumi) untuk mencari empehan lembu (susu). Namun dalam perjalanannya Dewi Uma bertemu dengan pengembala lembu, banyak syarat yang diberikan pengembala lembu kepada Dewi Uma, sehingga terjadilah percintaan diantara mereka.
Namun dibalik semua itu yang mana Dewa Siwa sebenarnya adalah nyuti rupa menjadi pengembala lembu itu sendiri, marah dan murka terhadap Dewi Uma . Dengan kemurkaannya itu Dewa Siwa pun mengutuk Dewi Uma menjadi durga yang disimbulkan dengan Rangda.
Pendukung Tari :
- A.A. Indah Kusuma Dewi
- Sayuri Kanisia
- Ni Putu Devita Oktaviari
- Komang Regi Kusuma Astuti
- Ni Putu Riyan Mayuni
Penata Karawitan : I Nyoman Sudarna, BA
Pendukung Karawitan : Sekaa Gong Sanggar Gita Bandana Praja Denpasar



by admin | Jul 18, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Arik Wirawan, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
JUDUL BUKU : Inkulturasi Gamelan Jawa Studi Kasus Di Gereja Katolik Yogyakarta
PENULIS : Sukatmi Susantina
PENGANTAR : Prof.Dr. Timbul Haryono, M.Sc.
EDITOR : Purwadi
CETAKAN : I, 2001
PENERBIT : MedPrint Offset
TEBAL : XIV.,112 Halaman
Buku Inkulturasi Gamelan Jawa Studi Kasus Di Gereja Katolik Yogyakarta, karya Sukatmi Susantina menyajikan berbagai gambaran tentang proses inkulturasi di Gereja-gereja Katolik Yogyakarta yang mengadopsi Gamelan Jawa sebagai musik Gerejani. Inkulturasi dalam arti luas berarti sejenis penyesuaian dan adaptasi kepada masyarakat, kelompok umat, adat, kebiasaan, perilaku pada suatu tempat.
Pada kasus Inkulturasi ini adalah proses umat setempat menghayati Injil Yesus Kristus dalam situasi dan kebudayaan setempat, jadi mereka tidak merasa asing dari kebudayaannya sendiri. Sumbangan seperti ini tidak akan merusak hakikat Gamelan Jawa, malahan akan menempatpatkannya pada status dan fungsi keagamaan yang lebih tinggi. Inkulturasi yang terjadi di gereja Katolik kiranya dapat kita pelajari sebagai salah satu model perjalan kehidupan berbudaya dan membudaya, jika kita tidak ingin kehilangan budaya yang pernah kita miliki. Budaya kita yang dibangun oleh leluhur kita dengan melibatkan seluruh potensi kemampuan yang ada seharusnya tidak begitu saja kita singkirkan karena kita telah merasa mendapat budaya lain hasil pergaulan yang semakin luas ini. Inkulturasi bukanlah suatu tujuan, melainkan suatu proses, atau menempatkan dan mengadopsi budaya setempat dan dapat terekspresikan dalam bermacam-macam penghayatan agama. Sebagai suatu proses, inkulturasi tidak pernah mandeg, sejalan dengan kebudayaan selalu berkembang.
Buku yang memuat V BAB ini juga mengungkapkan langkah-langkah inkulturasi di Indonesia, khususnya di Jawa, inkulturasi gending didalam ibadat sudah dirintis tahun 1925 di sekolah pendidikian guru Muntilan oleh C. Hardjosoebroto, atas dorongan Br.Clementius ia memberanikan diri mengarang beberapa gending Gereja dalam bahasa Jawa dengan tangga nada pelog yang dinyanyikan tanpa iringan. Pada tahun 1956, usaha inkulturasi gamelan pertama kali diadakan dan didemontrasikan gending Gereja dengan iringan Gamelan, karangan Atmodarsono dan C. Hardjoesoebroto. Baru setelah Konsili Vatikan II tahun 1962 orkes gamelan dipakai secara utuh dalam mengiringi gending Gereja,
Dalam buku karya Ibu Sukatmi Susantina ini disimpulkan bahwa penggunaan Gamelan Jawa dalam ibadat keagamaan dapat mengungkapkan kepercayaan dan penghargaan umat terhadap Tuhan secara tepat. Buku ini patut dianjurkan untuk dibaca dan menjadi sumber referensi utama bagi para mahasiswa, dosen, seniman kontemporer atau tradisi, kaum terpelajar, pustakawan, wartawan, dan mereka yang yang tertarik kepada masalah-masalah seni dan budaya. Penyajian buku ini cukup sederhana, mudah diikuti, namun tetap bertumpu pada realita dan para pembaca diajak untuk menemukan nilai-nilai adi luhung dari budaya setempat, dipertemukan dengan nilai-nilai religious, untuk saling memperkokoh dan menguatkan.
Resensi Buku: Inkulturasi Gamelan Jawa Studi Kasus Di Gereja Katolik Yogyakarta, selengkapnya
by admin | Jul 18, 2011 | Berita, pengumuman
Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa Jurusan Desain FSRD ISI Denpasar agar berkumpul pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 21 Juli 2011
Jam : 11 Wita
Tempat : Kampus ISI Denpasar
Acara : Pengarahan dari Ketua Jurusan Desain mengenai Dies Natalis
yang ke-8.
Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.
Denpasar, 17 Juli 2011
Sekretaris Jurusan Desain
A.A. Gde Bgs. Udayana, S.Sn, M.Si
by admin | Jul 18, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Ida Bagus Gede Surya Peradantha, SSn., Alumni ISI Denpasar
Tari Legong Legod Bawa adalah salah satu jenis tari klasik yang tetap berpijak pada pakem Palegongan. Tarian ini dibawakan oleh dua orang penari wanita, tanpa adanya penari Condong sebagaimana yang terdapat pada Legong Keraton Lasem. Sesuai dengan yang penulis sampaikan di atas, bahwa perkembangan suatu tarian di suatu tempat merupakan adaptasi yang sangat terkait dengan daerah tempat tarian itu berkembang. Hal ini pun berlaku pada tari-tari Palegongan di Desa Saba dimana tariannya tetap bersumber pada kaidah Palegongan dengan menambahkan beberapa gerakan-gerakan yang khas dan unsur cerita yang disesuaikan dengan keinginan penciptanya dahul. Dalam tarian ini akan dijumpai bebrapa gerakan khas yang dimiliki oleh style Saba, diantaranya Ngengsogang pinggul, Ngubit sebanyak dua kali dan Maserod.
Unsur cerita bukanlah hal yang paling penting dalam tari Legong, karena cara pendramaannya cukup sederhana dan abstrak. Untuk menyampaikan maksud atau inti cerita kepada para penoton, diperlukanlah adanya peran seorang juru tandak. Juru tandak inilah yang nantinya mentransfer cerita melalui nyanyian mengikuti irama musik pengiring tarian. Hal ini pun terjadi pada pementasan tari Legong Legod Bawa, dimana cerita yang diambil bersumber pada mitologi Hindu.
Dikisahkan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sedang bercengkrama di Sorga. Mereka saling membanggakan kesaktian masing-masing yang tiada tandingannya. Percakapan mereka pun terdengar oleh Dewa Siwa. Oleh karena keduanya tidak ada yang mengalah dan mengaku lebih sakti, maka Dewa Siwa menjadi penengah bagi mereka berdua dengan cara berubah menjadi Lingga sembari mengajukan syarat barang siapa yang mampu menemukan ujung ataupun pangkal Lingga tersebut, maka dialah yang lebih sakti. Dewa Brahma dan Dewa Wisnu merasa tertantang untuk menunjukkan kesaktian masing-masing. Dewa Brahma memutuskan untuk berubah menjadi burung api yang akan mencari puncak Lingga tersebut. Dewa Wisnu pun tak mau kalah dengan mengubah wujud menjadi Warak (Babi hutan besar) yang akan mencari pangkaldari Lingga Dewa Siwa. Kedua Dewa tersebut terus berusaha sekuatnya mencari ujung maupun pangkal dari Lingga tersebut. Semakin tinggi Dewa Brahma terbang, semakin tinggi pula ujung Lingga. Demikian halnya Dewa Wisnu yang semakin ke bawah mencari pangkal Lingga, semakin jauh ke bawah pula pangkal Lingga tersebut. Akhirnya, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tak kuasa lagi berusaha menemukan ujung dan pangkal Lingga Dewa Siwa. Keduanya pun menyerah dan akhirnya sadar bahwa di atas kekuatan yang mereka miliki, masih ada kekuatan lain yang jauh melebihi dan tak terkira sampai mana batas kekuatannya yaitu Siwa sebagai Yang Maha Kuasa.
Agar pengetahuan kita semakin lengkap dalam memahami dan memudahkan untuk belajar tarian ini, maka dipandang perlu untuk mencatatkan ragam geraknya, berikut pola lantai yang terdapat dalam tarian ini. Adapun struktur dan ragam gerak yang dimiliki antara lain sebagai berikut : Pengawit, Pepeson, Pengawak, Pengrangrang I, Pesiat, Pengrangrang II, Pemurtian, Pesiat, Pekaad. Sebagai catatan, pada saat masuk bagian pemurtian, para penari menggunakan kostum dan properti masing-masing (sayap dan panah) sesuai karakternya.
Kostum tari Legong Legod Bawa tidak berbeda dengan tari Legong lainnya. Namun sebagai pembeda, tiap tari legong memiliki warna kostum masing-masing agar memudahkan dalam identifikasinya oleh para penonton. Misalnya Legong Goak Macok memakai warna dominan ungu,, berwarna merah untuk Legong Kuntir, untuk Legong Jobog menggunakan warna pink tua, sedangkan Legong Keraton Lasem dominan hijau. Untuk tari Condong Legong, menggunakan warna merah tua. Pada tari Legong Legod Bawa, kostumnya dominan warna hijau, dengan tambahan kostum berupa sayap garuda dan panah. Sayap garuda digunakan untuk karakter Dewa Brahma, sedangkan Panah untuk menandakan karakter Dewa Wisnu. Hal ini penting untuk diketahui oleh para seniman generasi muda khususnya, agar identitas tari Legong tetap terjaga dengan baik sesuai dengan pakem serta kaidah-kaidahnya.
Dengan menyimak pemaparan dari tari Legong Legod Bawa di atas, harus semakin disadari bahwa sesungguhnya Bali memiliki ragam kesenian yang sangat kaya. Khusus di bidang seni tari, jenis kesenian yang dimiliki sangat banyak. Sebagai contoh, dari tari Palegongan saja sudah memiliki belasan ragam tari seperti Lasem, Legod Bawa, Kuntir, Jobog, Semarandana dan lainnya. Daerah persebarannya pun yang bermula dari lingkungan istana tersebar ke beberapa desa seperti Saba, Peliatan, Binoh, Kelandis, Bedulu dan lainnya lagi. Dari beberapa daerah tersebut, tidak banyak yang dapt mempertahankan ciri khasnya lagi.
Dalam perjalanannya, perkembangan tari Palegongan di Desa Saba telah mengalami peningkatan yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari lahirnya beberapa jenis tarian yang asli berasal dari sana seperti Bapang Saba yang cukup dikenal luas. Ragam gerakannya pun sangat khas mencirikan style Saba dan mampu memberikan pengayaan dalam perbendaharaan gerak-gerak tari Bali.
Tari Legod Bawa merupakan salah satu jenis tari klasik yang tetap bersumber pada pakem-pakem Palegongan yang telah lama tercipta di Bali yang berkembang di Desa Saba, Kec. Blahbatuh, Gianyar. Sumber ceritanya berasal dari mitologi Hindu yang mengisahkan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu yang bersaing mencari ujung dan pangkal Linga Dewa Siwa. Tarian ini dibawakan oleh dua orang penari wanita tanpa adanya peran Condong seperti yang biasa kita jumpai dalam pementasan tari Legong Keraton Lasem.
Tari Legong Legod Bawa, selengkapnya