M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Rangkain Sesaji Dan Flora Bali

Rangkain Sesaji Dan Flora Bali

Kiriman: I Made Sumantra, SSn., Dosen PS. Kriya Seni ISI Denpasar.

Sejak dulu apa yang dikerjakan orang Bali itu serba indah bahkan memukau, tetapi baru pada sekitar dasawarsa 1930-an dikenal sebagai karya seni. Selama berabad-abad sebelumnya, orang Bali tidak menyadari bahwa kegiatan mereka dalam memahat, mengukir, melukis, menari, olah kerawitan, merangkai sesaji dan sebagainya, itu merupakan kegiatan-kegiatan berkesenian yang menghasilkan karya-karya seni. berlandaskan ajaran agama Hindu dan falsafah Bali, mereka hanya merasa wajib untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan tersebut sebagai penunjang perwujudan persembahan kepada para dewa. Oleh karena itu segalanya dibuat seindah dan sesempurna mungkin untuk menyenangkan dewa-dewa itu.

Kehidupan berkesenian orang Bali bertumpu kepada keyakinan Hindu-Bali, sehingga dalam bentuk perwujudannya yang mana tersirat tema-tema maupun penyimbolan keyakinan itu. Dengan demikian seni rupa, seni tari dan seni kerawitan, seni sastra dan lain-lain secara umum bercorak pemujaan. Satu di antara karya dalam kesenirupaan yang sangat populer ialah pembuatan penjor. Dalam bentuk yang sekecil apapun kreativitas ini menyiratkan nilai-nilai artistik-estetik yang menarik, yang menurut pengistilahan  barat  sangat layak untuk dikatagorikan sebagai seni tersendiri yaitu seni sesaji (the art of offering arrangement). Penjor dinilai sebagai ”rangkaian sesaji” yang tidak saja indah tetapi juga sangat baik dengan nilai-nilai keagamaan maupun falsafah hidup, dan berciri khas Bali. Karena itu lebih dikatagorikan sebagai desain floral (floral design).

Sebagai rangkaian sesaji sudah tentu punya pakem yang baku, baik dalam konsep maupun tekniknya. Pakem ini sudah dipatuhi turun-temurun secara luas, sehingga sampai kini hampir tidak mengalami sentuhan perubahan yang signifikan. Karena itu kemudian disebut sebagai rangkaian tradisional Bali, berwujud rangkaian sesaji (Penjor).

Pada sekitar tahun 1970-an, sebagai konsekuensi kontak kebudayaan dengan budaya dari luar Bali maupun mancanegara, muncul bentuk-bentuk rangkaian bunga yang sama sekali berbeda dengan rangkaian  tradisional itu. Rangkaian corak baru ini sama sekali tidak berdasarkan konsep apapun kecuali semata-mata hanya sebagai kreasi tata-indah bunga (flower arrangement) yang dibuat guna memuaskan kebutuhan bathiniah yang merindukan keindahan. Mula-mula hanya ibu-ibu rumah tangga dari kalangan ”menengah ke atas” sebagai pengisi waktu luang sambil menantikan suami pulang kantor. Kegiatan ”iseng” ini kemudian makin populer dan serius, sehingga sejak dasawarsa terakhir abad yang lalu bermunculan kursus-kursus merangkai bunga, disusul dengan seminar-seminar dan demo di hotel-hotel berbintang. Menjelang pergantian melinium yang baru lalu timbul usaha peningkatan derajat perangkai bunga, dari sekedar flower arragement menuju floral design, sebagai yang terlihat dalam acara-acara perkawinan sekarang.

Sebagai karya desain, desain floral dilandasi konsep yang jelas. Kerana desain floral bukan lagi sekedar tata-indah bunga melainkan merupakan suatu karya yang mengungkapkan tema atau makna tertentu. Dengan kata lain, merupakan karya yang mengekspresikan sesuatu, apakah keharuan estetis, ataukah makna agamawi/filsafati. Jadi, karya yang ”berbicara” seperti halnya karya cipta seni. bedanya dengan rangkaian sesaji ialah bahwa floral design yang baru ini cenderung merupakan bentuk ekspresi bebas dan begitu pula bentuk strukturnya tidak terkekang oleh pakem-pakem tertentu. Sekedar untuk membedakan penggolongannya, penulis menggunakan istilah ”rangkain sesaji” untuk yang tradisional, dan ”desain floral Bali” untuk kreasi-kreasi baru itu. Dalam hal ini, ”Bali ” tidak selalu mengacu kepengertian gaya (paling tidak untuk sementara ini). Maksudnya, ada karya yang dikemas dalam bentuk tradisional berversi baru, ada yang hanya semata-mata elemen-elemen floral Bali dan produk aksesoris Bali.

Rangkain Sesaji Dan Flora Bali, selengkapnya

Biography of Colin McPhee (Part II)

Biography of Colin McPhee (Part II)

Post By. I Wayan Sudirana, Ph.D Candidate, ISI Denpasar Alumni

            After McPhee’s year of composing Tabuh-Tabuhan in Mexico, he continued to write several articles about Indonesia as well as working as a jazz critic. Around 1937, he returned to Bali to continue his research on Balinese music and culture. He was eager to begin further study of the older music of the island, especially the music that is related to a ritual context. Together with I Made Lebah, he had a plan to form a group in sayan for the sole of purpose of reviving the gamelan Semara Pegulingan (McPhee 1979 : 187). This music was very rare in the island, because of the influence of kebyar style, a style that was becoming the most popular, causing villages to upgrade their old ensembles into kebyar instruments. It was McPhee’s desire to help encourage the Balinese to maintain the old styles of their own music that were in danger of extinction. The result of this idea was the formation of a children’s music association in Sayan village. He gathered all of talented children from sayan, and provides a teacher from outside of the village to teach them as a group, as well as facilitating them with a set of instruments to learn one particular old style of music that was rare in the island.

            By the time he went back to New York at the end of 1938, (because of the prediction of World War II), his “pocket” was already full with research data on music and culture of Bali. He met Benjamin Britten in New York in 1940, and after exposing him to Balinese music, McPhee’s transcription for two pianos of Balinese gamelan music have been published through Schirmer’s Library of Recorded Music. Under the title of Balinese ceremonial music, this album includes the music of shadow play, arja flute melodies, and the ceremonial music, which open the temple festival.  He also arranged Britten’s Variations on a Theme of Frank Bridge for two pianos. The particular aspect of Britten’s music under consideration is because of the effect of his exposure to the music and theater of Bali and Japan, the former thanks to McPhee.

            In 1947, “A House in Bali” was published, an autobiography of McPhee’s life during his time in Bali. This book told the story of how McPhee became interested in Balinese music for the first time by listening to a recordings, how he decided to sail to Bali, how he became fascinated with the culture, music, and the fresh and friendly environment of the village, and primarily what he was doing during five years in Bali. This book is mainly concern about giving the idea or the picture of the Balinese as well as their customs. In the explanation on that idea, he described how dancers, singers, and musicians were trained to be a performer, how they organized performances, how they should obligate to perform at the village temple and how the music related to the culture and religion.

            A year after “A House in Bali” was published, “A Club of Small Men”, McPhee’s other book, was published as well. In this book, McPhee described a group of Balinese children from the mountain village of sayan, five to eight years old, who wanted to make music as well as adults. They looked on when their fathers played gamelan and wished that later on they could also play like that (McPhee 1948: 11). By looking at this situation and how the children has a strong desire to have their own group, McPhee helped them to obtain an orchestra as well as find a master teacher, who knew a many repertoire, from other side of the island. They were to become very well known because they were often asked to play in the temple festival. McPhee also provides great photographs and drawings that illustrate the story.

            During the 1950s and until 1962, McPhee was busy composing many different pieces for western ensembles, such as Transition for Orchestra, first performed by the Vancouver Symphony Orchestra under the conductor of Irwin Hoffman in 1955, and three scores for documentary films commissioned by the United Nations. His Nocturne for Small Orchestra, premiered by Leopold Stokowski at the Metropolitan Museum of Art, New York in 1958 was a small and delicate work of great diversity, which showed that McPhee did indeed find his style of his own. This work was followed by the Concerto for Wind Orchestra, which was performed for the first time by The American Wind Symphony under the general direction of Robert Austin Boudreau. In this piece, McPhee used pentatonic scales that he learned about through Balinese music. It was a difficult task to adapt the characteristic sound of gamelan for western wind instruments, but Concerto for Wind Orchestra was widely held as a successful piece.

            In 1960, Colin McPhee became a professor at the University of California Los Angeles, specializing in composition, orchestration, Indonesian music, and Balinese compositional technique. He shared his great experience with Balinese music as well as his great knowledge in western music with his students at UCLA, until he resigned from in 1963 to complete work on his book on Balinese music.

            McPhee’s life ended in both triumph and tragedy in 1964, only a few weeks after finishing his magnum opus “Music in Bali” (Tenzer 1998 : 17). This book was an exhaustive attempt to explore all aspects of Balinese music. It was published two years after his death with the help of Dr. Mantle Hood, a professor of the University of California Los Angeles.  He had begun writing it in 1930, and had worked on it consistently since then. This is an important and useful book that provides a lot of great musical and pictorial illustrations of Balinese musicians and dancers, giving an obvious picture of the customs of Bali. The way that McPhee gives a description about many different types of ensemble that are appear in Bali is really clear and supplemented by transcriptions and photographs documentation. He also gives useful selective list of musical transcriptions of the music of Bali, made before 1930s until the time of its publication, available at the University of California Los Angeles. Generally, this book gives a better idea and insight about the scene of Balinese society, the music, dance, and religion as well as the custom of Bali.

            William P. Malm review McPhee’s book in The Journal of Ethnomusicology (Malm 1967 : 719-720). In his review, he said that this is a major result of McPhee’s effort. He worked with great diligence and talent at forming some permanent record of the traditions in order to preserve many different older forms of Balinese music, which he thought, soon would be extinct. Malm continued to say that this book also provides wide information with an impressive synthesis of the music of Bali, musical performance practice, and the place of music in Balinese life some thirty years ago. On the other hand, Richard A. Waterman said in his review for this book, that the remainder of the central portion of the book is musicology and perhaps too technical in spots for non-musicologist. It was hard for anyone to understand the explanation of the music by only looking at the musical scores provided in the book. However, Waterman was amazed at what McPhee had been done with his field technique in the days before recording equipment was available. This book also provide an old and new music of Bali, which are presented, described, and analyzed with all respect to Jaap Kunst’s 1925 pioneer study (Waterman 1967 : 766).

            As Mantle Hood says in his foreword to the book, “the achievement of such magnum opus did not come about casually” (McPhee 1966 : v). This work represents a great and strong desire of a young composer who wanted to find the source of the sound that he was dreamed of. The exotic sound of Balinese music becomes aesthetic sounds that attracted him and completely change his life. This book has an interesting subject matter, the physical of the book is large because it provides a lot of detail information about the subject that was arrange in a tasteful, impressive, and beautiful way.

            Colin McPhee was a talented pianist and composer who had a deep musicological interest in exploring another musical language. Only a few composers in the western world would have afforded themselves the chance to do exactly the same thing that McPhee did. His life was completely changed by the influence of Balinese music. He published books about music and culture of Bali as well as the aspect of human life in Balinese society. In fact, McPhee’s works engaging in and focusing on Balinese culture are a great contribution to the Balinese and a good way of introducing Balinese culture to the world. For the present and future generations of Balinese musicians, Mcphee’s works of Balinese music will be standing as an important piece of heritage.

Biography of Colin McPhee (Part II), and more

Katalog dan Pembatas Buku Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Katalog dan Pembatas Buku Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Kiriman: Gd Lingga Ananta Kusuma Putra, SSn., Alumni PS. DKV ISI Denpasar

Katalog

Penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media katalog.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

Bentuk fisik dari katalog ini adalah berbentuk daun dengan ukuran 10.5 cm x 14.85 cm.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan mediakatalog ini, untuk cover depan adalah  ilustrasi logo SD Saraswati 2 dan dua murid. Sedangkan pada halaman 1 berisi kata pengantar dari penulis, dan berikutnya berisi desain-desain beserta penjelasan perwujudan mulai ukuran, teknik cetak dan bahan. Desain-desain tersebut antara lain poster, animasi, CD Interaktif, stiker, X-banner, pin, brosur, papan nama, pembatas buku dan halaman terahkir ucapan terimakasih dari penulis.

3. Teks

Pada katalog ini, cover menggunakan teks diataranya nama: Gede Lingga Ananta Kusuma Putra, nim: 2006.06.015, program studi: DesainKomunikasi Visual yang merupakan identitas penulis. Serta teks judul tugas akhir yang diambil yaitu Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar. Selain itu teks lembaga yakni jurusan desain fakultas seni rupa dan desain Institut Indonesia Denpasar 2011.

4. Huruf / Typografi

Perancangan media promosi ini menggunakan 2 jenis huruf atau typografi, yaitu:

–    Huruf jenis Times New Roman dihampir digunakan pada keseluruhan teks, huruf ini dipilih  karena bentuknya yang sederhana serta mudah dibaca.

–    Huruf Freestyle digunakan pada nama di cover katalog.

Keseluruhan jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis pada sebuah katalog.

5. Warna

Dalam perancangan katalog ini menggunakan warna sebagai berikut :

– Untuk background menggunakan warna hijau, kuning dan putih pada halaman pertama dan biru pada halaman berikutnya.

– Sedangkan warna teks menggunakan warna hijau tua.

Warna tersebut digunakan agar huruf/teks mudah dilihat dan dibaca, karena kontras dengan warna background lebih soft.

6. Bahan

Perancangan media katalog ini menggunakan bahan art paper 210 gsm yang finishingnya diberi lapisan doff agar lebih kuat dan tahan lama.Kertas art paper 210 gsm dipilih karena memiliki kualitas dan ketebalan yang bagus, sehingga lebih awet serta tidak mudah rusak.

7.Teknik Cetak.

Untuk mewujudkan media ini menggunakan teknik cetak digital.Digunakan teknik cetak ini karena lebih cepat, praktis dan efisien.

Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilaian desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif perancangan desain katalog ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain katalog ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “ceria dan informatif”. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran)

Pembatas Buku

Penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media pembatas buku yang digunakan sebagai salah satu media promosi SD Saraswati 2 Denpasar.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

Bentuk fisik dari media promosi pembatas buku ini adalah persegi panjang dan mempunyai ukuran 15 x 3,5 cm.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan media pembatas buku ini, ilustrasi yang digunakan adalah seekor gajah yang menggunakan mahkota, yang merupakan simbolisasi Dewa Ganesha (logo SD Saraswati 2 Denpasar).

3. Teks

Bagian depan pembatas buku ini hanya berisikan nama SD Saraswatiu 2 Denpasar, dan dibelakangnya berisi mengenai informasi lokasi SD ini.

4. Huruf / Typografi

Menggunakan 2 jenis huruf, yaitu Jokerman dan Times New Roman. Huruf jenis ini digunakan karena bentuknya yang sesuai konsep. Keseluruhan jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis.

5. Warna

– Untuk background bagian depan menggunakan Hijau dan kuning.

– Untuk ilustrasi  menggunakan warna merah pada baju, abu pada kulit dan kuning pada mahkota. Pewarnaan dilakukan dengan teknik digital painting, dengan penambahan shadow pada setiap pewarnaan illustrasi.

– Tulisan menggunakan warna putih, hijau, kuning dan hitam.

Warna-warna ini khususnya wrna hijau dan kuning dipilih karena merupakan warna ciri khas dari SD Saraswati 2 Denpasar.

6. Bahan

Perancangan media pembatas buku ini menggunakan bahan art paper 210 gsm. Kertas art paper 210 gsm dipilih karena memiliki kualitas dan ketebalan yang bagus, sehingga pembatas buku lebih awet dan tidak mudah rusak.

7. Teknik Cetak

Untuk mewujudkan media promosi pembatas buku ini menggunakan teknik cetak digital.

Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilain desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif perancangan desain pembatas buku ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain pembatas buku ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dan ilustrasi dalam desain ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “ceria dan informatif”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa nama dan lokasi sekolah. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran)

Katalog dan Pembatas Buku Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar, selengkapnya

Ciaaattt…….15  Tahun,  Menebar Seni Bali  di Eropa, (Bagian II)

Ciaaattt…….15 Tahun, Menebar Seni Bali di Eropa, (Bagian II)

Kiriman Made Agus Wardana, S.Sn., alumni PS. Seni Karawitan, STSI/ISI Denpasar

Disampaikan pada seminar dalam rangka diesnatalis dan wisuda tahun 2011

Festival Ogoh Ogoh terbesar di Luar Indonesia.

Sorak sorai pengusung ogoh ogoh, alunan lembut kidung warga sari, hentakan keras gamelan bleganjur luar biasa mengugah perhatian ratusan pengunjung yang berkerumun memadati Taman Indonesia seluas 6  hektar di Taman  Wisata  Parc Pairi Daiza Brugellette Belgia pada hari Sabtu tgl 11 Juni 2011. Sebuah promosi seni budaya Indonesia dengan bertema Festival Ogoh Ogoh berlangsung semarak dan meriah. Ditengah suasana dingin berawan, rintik-tintik hujan, tidak menyurutkan semangat peserta festival melakukan parade mengelilingi hamparan sawah  berundag undag tanpa merasa letih sedikitpun. Mereka berbaur larut dalam kegembiraan bahwa festival Ogoh-Ogoh yang baru pertama kalinya dilakukan di Eropa merupakan ogoh ogoh terbesar dan termegah di luar Indonesia.

Festival Ogoh-Ogoh ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI Brussel bekerjasama dengan Parc Pairi Daiza dan Banjar Shanti Dharma Belgia (Perkumpulan Masyarakat Hindu Bali – Indonesia). Festival ini merupakan  rangkaian promosi budaya Indonesia sekaligus menyambut perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Tiga Ogoh-Ogoh yang langsung didatangkan dari Bali ini antara lain : Raksasa/Detya Niwatakawaca dengan tinggi 4 meter, Arjuna Menunggang Kuda (3,5 meter) dan Dewi Saraswati (3,5 meter) yang dibuat oleh I Wayan Candra dari Sanggar Seni GASES, Sesetan Denpasar-Bali.

Hadir dalam festival tersebut adalah Bapak Arif Havas Oegroseno Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia dan Keharyapatihan Luxembourg dan Uni Eropa beserta Staf KBRI Brussel, CEO Parc Pairi Daiza Mr. Eric Domb/Pemilik Parc Pairi Daiza,  Masyarakat Hindu Bali se-Eropa, Masyarakat Indonesia,  friends of Indonesia, Pecinta Indonesia, Pelajar Indonesia serta Pengunjung dari masyarakat Belgia dan sekitarnya.

Walaupun tidak seramai bila diselenggarakan di tempat asalnya, Bali, akan tetapi  adanya Festival ini mengobati kerinduan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Eropa. Paling tidak juga sebagai tempat silaturahmi, karena bertemu dengan sesama masyarakat Bali-Indonesia yang tidak dapat ditemui setiap saat karena kesibukan masing-masing.

Acara ini dimulai pada pukul 10.00 dengan doa bersama di Pura Agung Shanti Bhuwana yang dihadiri oleh ratusan umat hindu Bali yang berdomisili di Belgia, Luxembourg, Jerman, Perancis, Swiss dan Belanda. Pada pukul 14.00 ditampilkan kesenian Bali seperti Genjek, tari Baris, tari Pendet serta penampilan perdana penabuh dan penari cilik binaan KBRI brussel. Sedangkan Parade festival Ogoh-Ogoh dimulai pada pukul 14.00, diawali dengan barisan penari cilik, penabuh cilik, busana adat bali, gebogan, tedung, layangan, ogoh-ogoh dan terakhir diiringi gamelan bleganjur oleh Penabuh grup Saling Asah Belgia.

Dokumentasi Janger Pegok 1937

Berawal dari rasa penasaran, mendengar nasehat seniman Janger Pegok, I Wayan Randug bersama istrinya Ni Wayan Kondri yang mengatakan  ”pidan janger pegok metaksu, misi kerahuan lan pepes keupah teken Tuan Mayeur/Mayor ”. (Tuan Mayeur/Le Mayeur seorang pelukis Belgia yang menikah dengan Ni Polok/Penari Kedaton). Nasehat tersebut menggugah niat kami untuk mencari dokumentasi Janger Pegok melalui internet, buku-buku seni dsbnya. Pada tahun 2010 seorang warga Jerman posting video kesenian Bali kuno di Facebook.  Betapa terkejutnya kami, bahwa Janger Pegok terlihat di video tersebut. Dengan penuh kehati-hatian kami mengamati setiap wajah, gerak tari, kostum dan tempat dimana video itu direkam.

Menurut dokumentasi ini, Pelukis asal Basel-Swiss, Theo Meier melihat tari Sanghyang Janger yang mengalami unsur kerauhan/trance hanya terdapat di Pegok.  Ceritanya bersumber dari  Calonarang, dimana penari Janger menggantikan peran sisya. Janger ini merupakan pertunjukan sakral, dalam perkembangannya berfungsi sebagai hiburan untuk pernikahan, odalan, pemelaspasan serta untuk tontonan para wisatawan.

Pada tanggal 9 Juli 2011 Video Janger Pegok yang berdurasi 10 menit tersebut dipertontonkan di Banjar Pegok  Sesetan. Ratusan masyarakat Pegok yang terdiri dari Sesepuh Janger, Prajuru Banjar, Tokoh Seni, Sekehe Teruna Teruni hadir berdesakan dengan penuh antusias.

Kesimpulan

            15 tahun adalah waktu yang sangat panjang dan lama. Menebar seni selama periode itu memberi kontribusi positif terhadap perkembangan kebudayaan Bali, Indonesia di Eropa. Perbedaan kultur masyarakat Eropa dengan budaya Indonesia tidaklah menjadi persoalan penting, malahan menjadi cambuk untuk saling menghargai satu sama lain. Perbedaan itu melahirkan kolaborasi seni. Seniman Bali dan seniman Eropa berpadu dalam ritme, dalam gerak dan membangun bingkai harmonisasi. Bingkai ini dipoles dengan unsur-unsur  indah dengan gaya kreatif, adaptif dan inovatif.

            Sementara itu, pemanfaatan kecanggihan masa kini seperti penggunaan website, video sharing youtube, jejaring sosial facebook dan twitter adalah sangat diperlukan. Hasil dari karya seni itu bisa dengan mudah diakses oleh pengguna internet diseluruh dunia. Disamping itu berbagai kesenian bali kuno dapat dengan mudah untuk diketahui, diamati, dibandingkan, dipelajari kembali sebagai sebuah dokumentasi berharga seperti dokumentasi Janger Pegok yang dapat dilihat oleh generasi muda kini.

Kesenian Bali sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia merupakan salah satu dari ribuan wajah unik Indonesia. Keunikan ini menjadi sumber inspirasi untuk memotivasi masyarakat Bali, Indonesia agar tetap mengajegkan budaya Bali, mengembangkannya, menjaga keasliannya,  melestarikan keunikannya dan tentunya menebarkannya kepada seluruh lapisan masyarakat di Eropa.

Sekian

Made ’Agus’ Wardana, S.Sn

Email : [email protected]

Facebook : made agus wardana

Twitter : made agus wardana

www.salingasah.be

phone +32 476 52 92 17

KBRI Brussel

Staf Pensosbud/Diplomasi Publik

Boulevard de la woluwe, 38

1200 Brussels Belgium

Phone +32 2 779 09 15

www.embassyofindonesia.eu

Ciaaattt…….15  Tahun,  Menebar Seni Bali  di Eropa, selengkapnya

Fakultas Seni Pertunjukan Ngayah Di Pura Dalem Srongga

Fakultas Seni Pertunjukan Ngayah Di Pura Dalem Srongga

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar pada hari Rabu, 10/8 yang lalu melaksanakan kegiatan ‘ngayah’ pada acara Karya Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Ngenteg Linggih, Dirgayusa Bumi, Padudusan Agung lan Ngusaba Dalem ring Pura Dalem, Desa Pekraman Serongga. ‘Kami sangat berterima kasih kepada kampus ISI Denpasar yang telah berkenan ngaturang ayah pada karya yang  puncaknya akan jatuh pada hari Saniscara pon pahang 13 Agustus 2011,” ujar bendesa adat serongga: Ida Bgs Nym Bajera, didampingi mengala karya: Ida Bgs Agung Manuaba serta pemangku Dalem: mangku kadek mertanadi.

Adapun tari-tarian yang dipersembahkan adalah Tari Rejang, Baris Gede, Topeng, serta Wayang, yang dibawakan oleh Dosen dan Mahasiswa Jurusan Tari, Karawitan, serta Pedalangan. Rombongan “pengayah” ini dipimpin langsung oleh Pembantu Rektor IV, bidang kerjasama I Wayan Suweca,S.Skar.,M.Mus. “Kegiatan ngayah ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian masyarakat. Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Serongga yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ikut serta dalam karya agung di Pura Dalem Serongga,”ucap Suweca didampingi PD I FSP, serta beberapa dosen FSP lainnya yang turut serta dalam acara ngayah tersebut.

Rombongan mulai ngayah sejak pagi hari hingga siang hari. Masyarakat sangat antusias menyambut “ayah-ayahan” seniman akademisi ini. Talenta seni yang dikaruniakan Tuhan, dipersembahkan kembali kepada Tuhan berupa ayah-ayahan tari dan tetabuhan.

Desain Kemasan Produk

Desain Kemasan Produk

Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn. Puslit Seni Kreasi Baru LP2M ISI Denpasar.

Disampaikan pada Pelatihan Pembuatan Kemasan  pada Kegiatan Pembinaan Kemampuan Teknologi Industri di Kota Denpasar. 19 s/d 23 April 2010.

PENDAHULUAN

Pada dunia pemasaran persaingan merupakan hal yang lumrah dan wajar. Maka dari itu berbagai usaha dilakukan dalam upaya memenangkan persaingan ini. Salah satu diantaranya adalah membuat desain kemasan produk yang  menarik sehingga dapat mengundang konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan. Menurut Christine Suharto Cenadi, daya tarik suatu produk tidak dapat terlepas dari kemasannya. Kemasan merupakan “pemicu” karena ia langsung berhadapan dengan konsumen. Karena itu kemasan harus dapat mempengaruhi konsumen untuk memberikan respon positif.

Desain kemasan di Bali belum begitu populer, karena pemahaman tentang manfaatnya belum dirasakan. Disamping itu untuk usaha-usaha mikro dan idustri kecil rumahan, kemasan masih dipandang hanya sebagai pembungkus semata bukan sebagai media pemikat konsumen. Demikian juga kemasan masih dianggap penyebab ongkos produksi tinggi.

DEFINISI KEMASAN

Kemasan/packaging berasal dari kata package yang artinya sepadan dengan kata kerja ‘membungkus’ atau ‘mengemas’ dalam bahasa Indonesia, sehingga secara harfiah pengertian packaging dapat diartikan sebagai pembungkus atau kemasan. Maka secara sederhana kemasan dapat diartikan sebagai suatu benda yang berfungsi untuk melindungi, mengamankan produk tertentu yang berada di dalamnya serta dapat memberikan citra tertentu pula untuk membujuk penggunanya. Secara fungsi wujudnya harus merupakan kemasan yang mudah dimengerti sebagai sesuatu yang dapat dibawa, melindungi dan mudah dibuka untuk benda atau produk apapun. Terpenting ia harus berhasil dalam uji kelayakan sebagai fungsi pengemas, dapatkah ia menjaga produknya secara keseluruhan, dapatkah ia menjaga untuk mengkondisikan produk tersebut dalam jangka waktu tertentu dan karena perpindahan tempat.2.

Ada tiga alasan utama untuk melakukan pembungkusan, yaitu:

  1. Untuk keamanan produk yang dipasarkan.

Kemasan dapat melindungi produk dalam perjalanannya dari produsen ke konsumen. Produk-produk yang dikemas biasanya lebih bersih, menarik dan tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cuaca.

  1. Untuk membedakan dengan produk pesaing.

Kemasan dapat melaksanakan program pemasaran. Melalui kemasan identifikasi produk menjadi lebih efektif dan dengan sendirinya mencegah pertukaran oleh produk pesaing. Kemasan merupakan satu-satunya cara perusahaan membedakan produknya.

  1. Untuk meningkatkan penjualan.

Karena itu kemasan harus dibuat menarik dan unik, dengan demikian diharapkan dapat memikat dan menarik perhatian konsumen.3.      SEJARAH KEMASAN

Menurut Christine Suharto Cenadi, kemasan telah dikenal sejak jaman manusia purba. Orang- orang primitive menggunakan kulit binatang dan keranjang rumput untuk mewadahi buah-buahan yang dipungut dari hutan. Kemudian 8.000 tahun yang lalu, bangsa Cina membuat aneka ragam keramik untuk mewadahi benda padat ataupun cair. Orang-orang Indonesia kuno membuat wadah dari bambu untuk menyimpan benda cair. Menjelang abad pertengahan, bahan-bahan kemasan terbuat dari kulit, kain, kayu, batu, keramik dan kaca. Tetapi pada jaman itu, kemasan masih terkesan seadanya dan lebih berfungsi untuk melindungi barang terhadap pengaruh cuaca atau proses alam lainnya yang dapat merusak barang. Selain itu, kemasan juga berfungsi sebagai wadah agar barang mudah dibawa selama dalam perjalanan.

Sebenarnya peranan kemasan baru dirasakan pada tahun 1950-an, saat banyak munculnya supermarket atau pasar swalayan, di mana kemasan harus “dapat menjual” produk-produk di rak-rak toko. Tetapi pada saat itupun kemasan hanya berfungsi memberikan informasi- memberitahu kepada konsumen tentang apa isi atau kandungan di dalam kemasan tersebut.

FUNGSI KEMASAN

Hermawan Kartajaya, seorang pakar di bidang pemasaran mengatakan bahwa teknologi telah membuat packaging berubah fungsi, dulu orang bilang “Packaging protects what it sells (Kemasan melindungi apa yang dijual).” Sekarang, “Packaging sells what it protects (Kemasan menjual apa yang dilindungi).” 3 Dengan kata lain, kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah tetapi harus dapat menjual produk yang dikemasnya.

Perkembangan fungsional kemasan tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sekarang ini kemasan sudah berfungsi sebagai media komunikasi. Misalnya pada kemasan susu atau makanan bayi seringkali dibubuhi nomor telepon toll-free atau bebas pulsa. Nomor ini bisa dihubungi oleh konsumen tidak hanya untuk complain, tetapi juga sebagai pusat informasi untuk bertanya tentang segala hal yang berhubungan dengan produk tersebut. Kemasan juga dapat berfungsi untuk mengkomunikasikan suatu citra tertentu. Contohnya, produk-produk makanan Jepang. Orang Jepang dikenal paling pintar membuat kemasan yang bagus. Permen Jepang seringkali lebih enak dilihat daripada rasanya. Mereka berani menggunakan bahan-bahan mahal untuk membungkus produk yang dijual. Walaupun tidak ada pesan apa-apa yang ditulis pada bungkus tersebut, tapi kemasannya mengkomunikasikan suatu citra yang baik.

Desain Kemasan Produk, selengkapnya

Loading...