Jadwal Tugas Akhir (TA) Sem. Ganjil 2011/2012
Jadwal TA Semester Ganjil 2011/2012 dapat di download di sini.
Friska,
Administrasi Akademik
Jadwal TA Semester Ganjil 2011/2012 dapat di download di sini.
Friska,
Administrasi Akademik
Penata
Nama : I Made Putra Wijaya
Nim : 200701031
Program Studi : Seni Tari
Sinopsis :
Jnapaka berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti memberi tahu dan mengajari. Harmonisasi antara guru dan murid harus terjalin layaknya bunga dan kumbang yang saling membutuhkan satu sama lain. Ketulusan dan kesungguhan , merupakan modal utama untuk melahirkan sebuah keharmonisan. Hal ini diungkapkan kedalam sebuah garapan tari kreasi yang diambil dari cerita penyamaran Arjuna dengan nama Werhatnala ,menjadi seorang guru kesenian di kerajaan Wirata.
Pendukung Tari :
1. I Made Nova Antara (Mahasiswa Smtr IV/T ISI Dps)
2. NI Wayan Sumantari (Mahasiswi Smtr II/T ISI Dps)
3. Gusti Ayu Indra Mahyurani (Mahasiswi Smt IV IKIP PGRIBali)
4. Ida Bagus Adi Prawira Utama (Siswa SMA Negeri 1 Ubud)
5. Dewa Ayu Eka Rismayanti (Siswi SMK Negeri 4 Denpasar)
Penata Iringan : I Wayan Sudiarsa, S.Sn
Pendukung Iringan : Sanggar ARMA Kumara Sari, Pengosekan, Ubud
Kiriman Ni Wayan Ekaliani, Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar
Untuk menyatakan ukuran bentuk baik besar maupun kecil dalam seni pertunjukan, pada umumnya dilihat dari jumlah penari yang ditampilkan ketika tarian tersebut dipentaskan, seperti misalnya antara lain sebagai berikut.
Tari Legong Sambeh Bintang adalah sebuah tari putri halus yang dipentaskan dalam bentuk tari massal oleh 50 orang penari di setiap penyajiannya. Tari sakral yang menggambarkan para bidadari dari kahyangan ini ditarikan oleh para gadis yang masih suci (belum mengalami akil balik). Mereka dipilih dengan kriteria tertentu yakni gadis tersebut masih suci, namun mereka diyakini bukan kanak-kanak lagi. Sebagaimana tampak dalam foto di bawah ini.
Jika diamati dari wujudnya, tari Legong Sambeh Bintang ini mirip seperti tari Rejang yang umum dipentaskan sebagian besar masyarakat Hindu-Bali untuk persembahan dalam konteks upacara keagamaan di pura-pura. Hal itu dapat dilihat dari busana, ragam gerak serta iringan yang digunakan tarian ini.
Dalam lontar Usana Bali disebutkan bahwa tari Rejang merupakan simbol widyadari yang turun ke dunia untuk menuntun Ida Bhatara ketika suatu upacara piodalan dilangsungkan. Oleh sebab itu, untuk kesucian tarian ini maka tari Rejang ini harus ditarikan oleh gadis yang belum mengalami akil-balik (datang bulan). Sebagaimana tari Legong Sambeh Bintang yang muncul dan berkembang di Desa Bangle Karangasem seperti gambar berikut ini.
Pada hakekatnya seni pertunjukan adalah wadah dari ekspresi perasaan manusia yang terdalam untuk lingkungannya, artinya bahwa perasaan manusia diwujudkan dengan perantara simbol menjadi sebuah karya seni, yang meng-ekspresikan nilai-nilai atau pola budaya masyarakatnya.
Ragam Gerak Tari Legong Sambeh Bintang
Ragam gerak Tari Legong Sambeh Bintang sangat sederhana dan tergolong gerak tari yakni gerakan tari yang dilakukan tanpa mengingisyaratkan sesuatu (murni gerakan tari) seperti gerakan ngelo, nyalud.
Ragam gerak tari adalah suatu motif, jenis gerakan tari. Ragam gerakan tari ini jika disusun menjadi satu kalimat gerak akan dapat memberikan arti atau makna bahkan mengandung sebuah maksud tertentu. Dalam tari Bali, gerakan tari dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : gerak tari maknawi adalah sebuah gerakan tari yang dilakukan tanpa diperindah, namun dapat memberikan sebuah tanda atau simbol tertentu. Contohnya : gerakan menunjuk, gerakan sedih, dan lain sebagainya. Sedangkan gerak tari murni adalah suatu gerakan tari yang tidak mengandung arti apa-apa/murni ungkapan seni.
Terkait dengan hal tersebut di atas, dari hasil pengamatan terhadap tari Legong Sambeh Bintang tampak ragam gerak yang membangun tarian ini lebih banyak terdiri tari gerakan tari murni, yang dilakukan secara sederhana dan berulang-ulang. Beberapa ragam gerak yang membangun tari Legong Sambeh Bintang antara lain adalah sebagai berikut.
a). Agem adalah sikap atau cara pokok berdiri dalam tari Bali, yang disesuai-kan dengan perwatakan karakter dari masing-masing tokoh keras maupun manis (Bandem, 1982 : 3). Dalam tari Legong Sambeh Bintang digunakan dua agem yakni:
– Agem kanan, posisi tangan kanan setinggi daun telinga kiri, posisi tangan kiri setinggi susu.
– Agem kiri, posisi tangan kiri setinggi daun telinga kiri, posisi tangan kanan setinggi susu.
– Posisi tangan, tinggi rendah sesuai dengan berat badan.
– Posisi kaki, jarak dan arah kedua ujung kaki.
– Berat badan, sesuai dengan agem, agem kanan berat badan di kaki kanan, begitupula sebaliknya.
b). Tandang adalah gaya yang merupakan gerakan-gerakan dalam tari Bali sesuai dengan perwatakan tari atau tokoh yang dibawakan. Adapun ragam gerak tandang yang dilakukan dalam tari Legong Sambeh Bintang antara lain sebagaimana tampak dalam gambar di bawah ini.
Beberapa gerakan tandang yang dalam tari Legong Sambeh Bintang, antara lain sebagai berikut.
– Ngegol adalah gerakan pinggul yang digoyangkan ke kiri dan ke kanan.
– Ngumbang adalah gerakan berjalan yang dilakukan dengan badan sedikit merendah (ngeed), levelnya tidak berubah dan disertai dengan gerakan kepala ke kiri dan ke kanan sesuai sesuai dengan gerakan hentakan kaki. Gerakan ngumbang dilakukan dengan membentuk lintasan-lintas-an pola lantai seperti ngumbang melingkar yaitu ngumbang dengan membentuk garis melingkar.
– Ngelikas adalah gerakan kaki ke arah samping, menyilang disertai gerakan tangan memanjang ke samping sesuai dengan kaki yang di-gerakkan.
c). Tangkep. Tangkep adalah penghayatan karakter yang dilakukan penari dengan mengubah-ubah ekspresi muka, disertai dengan pandangan mata pada suatu arah. Dalam tari Legong Sambeh Bintang hal ini dilakukan dengan ekspresi manis (tersenyum).
d). Tangkis. Tangkis adalah gerak-gerak peralihan yang di lakukan dalam transisi tari Bali. Agar gerak yang satu dengan gerak berikutnya tetap menyatu.
Sejumlah 57 calon mahasiswa Pasca Sarjana ISI Denpasar, mengikuti test yang diselenggarakan pada hari Selasa dan Rabu, 23-24 Agustus 2011 bertempat di kampus setempat. Pada hari pertama, calon mahasiswa tersebut mengikuti test tulis, dan pada hari kedua calon mahasiswa mengikuti test wawancara. “Kami sebagai seniman sangat bangga dan menyambut baik dibukanya program Pasca Sarjana ISI Denpasar. Kami sebagai alumni, sudah lama menantikan program S2 jurusan seni di kampus almamater kami,” ujar salah seorang calon mahasiswa, Agus Teja Sentosa composer muda dan kreatif alumni jurusan Karawitan ISI Denpasar yang ditemui seusai test.
Calon Mahasiswa lainnya berasal dari jurusan yang berbeda,diantaranya Desain Interior (6), DKV (14), Seni Karawitan (6), Fotografi (3), Kriya Seni (2), Seni Rupa Murni (8), Seni Pedalangan (2), Seni Tari (13), Ilmu agama (1), Seni Grafis (1), dan Textile Design (1),yang mana 24 memilih Penciptaan Seni, dan 33 Pengkajian Seni.
Rektor ISI Denpasar,Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. yang hadir memantau pelaksanaan test tersebut didampingi Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kerjasama, Drs. I Gusti Bagus Priatmaka, M.M, tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya karena ISI Denpasar telah memiliki program pasca sarjana.”Dream comes true. Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras kita bersama,”ujarnya kalem. Disinggung tentang Program Pasca Sarjana ISI Denpasar yang terkesan mundur bila dibandingkan kampus lain, Rai menjawab dengan senyum.”Tidak selalu mundur berarti kalah. Ibarat pemain tarik tambang, justru yang mundur malah menjadi pemenang. Dan untuk melompat, kita juga harus mundur untuk ancang-ancang menghasilkan lompatan yang maksimal. ISI Denpasar mundur untuk program Pasca Sarjana, karena kami ambil ancang-ancang untuk melompat going international,”pungkasnya.
Going international bukan hanya wacana bagi kampus seni ini, karena saat ini sejumlah dosen dan mahasiswa ISI Denpasar sedang berada di Thailand untuk pentas seni, workshop dan juga seminar. Selain itu, tiga mahasiswanya juga sedang belajar di Thamasat University Thailand, untuk program MIT Student Mobility Program selama 6 bulan. Maju terus ISI Denpasar.
Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn, LP2M ISI Denpasar.
Bertepatan dengan Hari Purnama, Jumat Wage tanggal 15 Juli 2011 lalu, sehari sebelum Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali diadakan “nuasen” pembinaan kesenian leko di Banjar Adat Tinungan Desa Apuan Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan Bali. Nuasen dalam acara ini adalah memilih hari baik untuk memulai kegiatan tersebut dengan harapan pelaksanaannya lancar dan hasilnya baik. Kegiatan pembinaan ini adalah implementasi dari Program Rekonstruksi Seni LP2M ISI Denpasar Tahun 2011. Pada acara “nuasen”/pembukaan tersebut di hadiri staf LP2M ISI Denpasar, Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan, tokoh dan anggota masyarakat setempat. Sambutan Bupati Tabanan yang dibacakan Kadis Kebudayaan setempat menyambut baik peran ISI Denpasar dalam pengabdiaannya menghidupkan kembali kesenian langka yang pernah ada di banjar tersebut. Kegiatan tersebut diawali dengan acara mendak tirta dari kayangan tiga dan memingit calon penari yang akan dilatih. Tahapan ini penting karena keberadaan kesenian tari leko yang pernah ada sampai tahun enampuluhan di desa tersebut sangat disakralkan. Pelaksanaan program LP2M ini merupakan pengabdian lembaga ISI Denpasar kepada masyarakat secara nyata. Tidak semua permintaan masyarakat dapat dipenuhi melalui surat-surat yang dilayangkan ke LP2M, karena berbagai keterbatasan yang ada, namun lembaga berkomitmen untuk dapat berbuat maksimal terhadap masyarakat. Pada implementasi program ini LP2M ISI Denpasar membentuk panitia yang membidangi tari, karawitan dan perlengkapan tari (revitalisasi gelungan).
Sebelum pelaksanaan program secara efektif dilaksanakan dilapangan, tim dari LP2M ISI Denpasar mengadakan survey pendahuluan untuk memastikan peninggalan-peninggalan yang masih diwariskan oleh pelaku-pelaku seni terdahulu di desa tersebut baik berupa perangkat gambelan, model tari maupun perlengakapan tarinya (busana dan gelungan). Tim mendapat beberapa hasil survey termasuk sejarah kesenian leko yang ada di desa tersebut dari para tokoh tua yang masih ingat dengan keberadaan kesenian tersebut. Hasil survey awal tersebut antara lain :
Kesenian tersebut masih meninggalkan perangkat gambelan hanya berupa daun gambelan yang terbuat dari bambu (di desa setempat disebut tingklik ) tanpa alas (plawah). Daun tingklik tersebut berjumlah sembelan ikat masing-masing terdiri dari 9-12 bilah dengan kondisi masih utuh, namun warnanya hitam karena sejak kesenian tersebut tidak aktif ditempatkan/disimpan di atas perapian. Setelah terjadi kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kesakralan yang dialami oleh penyimpan gambelan ini, maka gambelan tersebut ditempatkan di mrajan (tempat suci keluarga).
Data lain yang didapatkan tim survey adalah perlengkapan tari berupa gelungan (hiasan kepala pada penari) sebanyak 6 buah yang jenisnya beberapa ada yang sama dan ada yang berbeda dan sepasang perlengkapan tari seperti sayap yang terbuat dari kulit. Kondisi gelungan tidak layak untuk digunakan dan harus diperbaiki untuk bisa dipergunakan kembali. Kondisi yang usang karena umurnya sudah tua serta penyimpanan yang kurang terawat dengan baik. Ornamen hiasan gelungan yang terbuat dari kulit masih utuh, bekas-bekas tempelan prada masih kelihatan walaupun kondisinya sudah kusam. Bagian dari gelungan yang terbuat dari rotan dan bambu beberapa masih ada yang utuh dan beberapa yang lainnya sudah rusak. Gelungan tersebut ditemukan tim tersimpan di mrajan warga lainnya. Jadi warga menyimpan peninggalan kesenian tersebut pada dua tempat yang berbeda, yang dulunya diperkirakan sebagai pelaku aktif dalam kesenian tersebut. Karena sampai saat ini warga yang menyimpan benda-benda tersebut tidak tahu secara pasti asal-asul keberadaan benda tersebut. Justru informasi didapatkan dari tokoh-tokoh tua warga lainnya. Dari data gelungan yang ditemukan beberapa dosen yang membidangi seni tari memprediksi didesa tersebut pernah aktif kesenian gandrung. Tim tidak menemukan kontum tari/busana yang masih tertinggal dari kesenian tersebut.
Menurut beberapa sepuh desa yang masih ada dan pernah melihat langsung keberadaan kesenian tersebut walaupun tidak terlibat langsung sebagai penari atau seke tari, mengatakan kesenian leko yang ada di banjar tersebut merupakan warisan, telah ada dan aktif sebelum tahun lima puluhan dan tidak aktif lagi sejak tahun enam puluhan. Keturunan warga yang menjadi seke leko jaman dulu masih dapat disebutkan. Hal ini terbukti pada pertemuan kedua tim survey dengan warga seke tersebut sudah terbentuk yang merupakan keturunan seke leko jaman dulu pernah ada dan hadir pada pertemuan tersebut. Demikian juga penarinya masih bisa disebutkan walaupun penari aktif jaman dulu sudah tidak ada lagi. Mereka sangat antosias dalam usaha membangun kesenian ini karena sangat terkait dengan piodalan di pura banjar adat setempat.
Joged Leko
Untuk lebih mengetahui tentang kesenian yang terkait dengan Leko, tim menelusuri beberapa sumber diantaranya artikel yang ditulis oleh Agung Bawantara pada media on line 5 Oktober 2010. Pada tulisan tersebut kesenian leko dimasukkan dalam katagori kesenian joged yaitu disebut joged leko. Lebih lanjut ditulis jenis joged ini nyaris sama langkanya dengan Joged Pingitan. Joged yang diduga muncul pada tahun 1930-an itu kini hanya terdapat di tiga desa yakni Desa Sibang Gede (Badung), Desa Tunjuk (Tabanan) dan Desa Pedem (Jembrana).
Joged jenis ini menampilkan gerak tarian menyerupai gerak tari Legong Keraton sebagai pembuka, lalu dilanjutkan dengan gerak bebas saat bagian pengibing-ibingan.Dalam sebuah pementasan, penampilan Joged Leko diawali dengan Condong yang dibawakan oleh seorang penari dengan gerak-gerak abstrak, lalu dilanjutkan dengan Kupu-kupu Tarumyang dibawakan oleh sepasang penari untuk menggambarkan kemesraan sepasang kupu-kupu yang bercengkerama di sebuah taman bunga.
Usai Kupu-kupu Tarum, penampilan dilanjutkan dengan Onte yang juga dibawakan secara berpasangan. Bagian ini mengisahkan sepasang muda-mudi sedang asyik memadu kasih. Disusul kemudian dengan Goak Manjus yang menggambarkan sepasang burung gagak sedang mandi dengan riang di sebuah telaga.Terakhir, tampillah Joged yang dibawakan beberapa penari yang tampil secara bergiliran. Setiap penari, menunjuk (nyawat) seorang laki-laki dari kerumunan penonton yang diajaknya sebagai pasangan menari dalam beberapa putaran. Setiap penari Joged biasanya melakukan tiga sampai lima putaran paibig-ibingan, sebelum digantikan oleh penari Joged yang lain.
Pada saat tertentu Penari Joged tiba-tiba trance dan mengamuk. Biasanya hal tersebut terjadi jika Joged Leko menampilkan kisah Calonarang sebagai inti pertunjukannya. Tranceumumnya terjadi saat adegan perkelahian ditampilkan.
Pada tulisan Dr. Ni Made Ruastiti, SST. Msi “Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali”, di Desa Tunjuk Kabupaten Tabanan juga terdapat tari Leko. kesenian tersebut merupakan merupakan warisan dari nenek moyang setempat, kehadirannya merupakan tarian pergaulan yang masih tetap dikeramatkan dalam penampilannya menggunakan upakara dan upacara yang bersesaji. Tujuannya untuk memohan keselamatan, dan mendatangkan taksu sesuai dengan yang diinginkannya. Tari Leko adalah tarian Legong yang berkembang sebagai tarian rakyat dan diiringi oleh instrument bamboo serta terdapat peibing – ibingan dalam suatu pertunjukannya. Perkembangan Tari Leko terdapat unsur – unsur pelegongan dalam gerak tarinya, tata busana,gending-gending pengiring , maupun cerita – cerita yang di pakai dalam suatu pementasan , yang semula adalah instrumen bamboo diganti dengan instrument besi ( Pelegongan ) .
Kesenian leko dikelompokkan pada seni bebali yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-pura ataupun di luar pura pada umumnya memakai lakon. Seni tari dan seni tabuh/karawitan yang dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan di Bali, misalnya Topeng, Gambuh, Leko, Wayang Kulit, Angklung, Semar Pegulingan, dan Baleganjur
Pelaksanaan efektif rekonstruksi seni di Kabupaten Tabanan ini dimulai 5 Agustus 2011 selam tiga bulan. Mudahan-mudahan pengabdian ini dapat berjalan lacar dan berhasil baik sehingga dapat enjadi cerminan lembaga ISI Denpasar sebagai lembaga yang ikut menjaga kelestarian seni tradisi sebagai modal membangun karakter bangsa.
Rekonstruksi Kesenian Leko Di Banjar Adat Tinungan, selengkapnya
Penata
Nama : I Gusti Putu Adi Putra
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
Gehgehan merupakan semacam penyakit yang mempunyai respon reflektif berupa perkataan dan perbuatan yang tidak terkendali yang terjadi ketika sesorang merasa kaget. Gehgean yang diderita oleh seseorang terkadang menjadi penghias dalam bergaul, dikarenakan gehgean mampu menghibur dan menimbulkan canda gurau yang membuat persahabtan menjadi semakin erat.
Suka cita serta canda gurau yang diakibatkan dari gehgean ini, kemudian dituangkan kedalam sebuah garapan tabuh kreasi dengan media ungkap gamelan Gong Kebyar yang berjudul “Gehgean”. Penataan komposisinya dikemas sesuai dengan perkembangan serta tanpa meninggalkan unsur-unsur music seperti melodi, ritme, dinamika, tempo, harmoni dan aksentuasi-aksentuasinya dikembangkan secara subyektif untuk menunjang nilai estetisnya.
Pendukung Karawitan : Sekaa Gong Sanggar Candra Wiguna Bebalang, Bangli