M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Poster dan X-banner Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Poster dan X-banner Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Kiriman: Gd Lingga Ananta Kusuma Putra, SSn., Alumni PS. DKV ISI Denpasar

Poster

Penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media promosi poster yang digunakan sebagai salah satu media komunikasi visual sebagai sarana promosi SD Saraswati 2 Denpasar.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

Bentuk fisik dari promosi poster ini persegi panjang dan mempunyai ukuran 42 cmx 59,4 cm. Ukuran dibuat dalam ukuran kertas A2 agar poster lebih jelas terlihat, walaupun jika dilihat dari jarak yang agak jauh.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan media promosi poster ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah gambar seorang guru yang mendampingi murid-muridnya.

Digunakan ilustrasi guru dan murid yang berada dalam suasana yang menyenangkan/ceria, tujuannya agar sasaran mengetahui poster ini mempromosikan sebuah sekolah yang memiliki suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

3. Teks

Perancangan media promosi ini menggunakan teks yang isinya berupa informasi mengenai syarat pendaftaran di SD Saraswati 2 Denpasar. Sedangkan closing word menampilkan ajakan tentang promosi ini.

4. Huruf / Typografi

Perancangan media promosi ini menggunakan dominan jenis huruf atau typografi yang bersifat formal/sedikit menggunakan variasi agar mudah terbaca, yaitu: Arial, Impact dan freestyle. Jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat.

5. Warna

Dalam perancangan media poster ini menggunakan warna sebagai berikut :

–       Dalam poster ini menggunakan illustrasi yang berfungsi sekaligus sebagai background. Dimana pewarnaan pada objek menggunakan warna cerah (lightness dan saturation yang tinggi) dengan menggunakan ekspresi ceria (sesuai konsep) dan warna soft pada background langitnya. Sehingga nantinya pada warna tersebut mengesankan suasana yang menyenangkan.

–       Logo Saraswati menggunakan warna putih dan hitam. Agar tidak menyatu dengan background sehihngga dapat terlihat jelas.

–       Tulisan menggunakan warna hijau.

Warna tulisan ini digunakan agar terlihat lebih jelas dan sesuai dengan warna SD Saraswati 2.

6. Bahan

Perancangan media poster ini menggunakan bahan art paper 210 gsm. Kertas art paper 210 gsm dipilih karena memiliki kualitas dan ketebalan yang bagus, sehingga poster lebih awet dan tidak mudah rusak.

7. Teknik Cetak

            Untuk mewujudkan poster dalam jumlah banyak, cetak offset dipilih karena harganya relatif lebih murah dan lebih bagus daripada teknik cetak lainnya.

Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilain desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif perancangan desain poster ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain poster ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain poster ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “ceria dan informatif”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa informasi mengenai SD Saraswati 2 Denpasar. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran)

X-banner

Pada sub ini penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media X-banner yang digunakan sebagai salah satu media promosi SD Saraswati 2 Denpasar.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

 Bentuk fisik dari X-banner ini adalah poly poster dengan ukuran 60 x 160 cm.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan media X-banner ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah ilustrasi seorang guru dan murid-muridnya. Digambarkan dalam suasana yang nyaman dan ceria.

3. Teks

Pada media X-banner ini, menggunakan teks yang isinya berupa syarat dan tempat pendaftaran murid baru di SD Saraswati 2 Denpasar.

4. Huruf / Typografi

            Menggunakan jenis huruf Arial. Huruf jenis ini digunakan karena bentuknya yang simpel/sederhana juga mudah dibaca. Keseluruhan jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis.

5. Warna

–       Dalam X-banner ini menggunakan illustrasi yang berfungsi sekaligus sebagai background. Dimana pewarnaan pada objek menggunakan warna cerah (lightness dan saturation yang tinggi) dengan menggunakan ekspresi ceria (sesuai konsep) dan warna soft pada background langitnya. Sehingga nantinya pada warna tersebut mengesankan suasana yang menyenangkan.

–       Logo Saraswati menggunakan warna putih dan hitam. Agar tidak menyatu dengan background sehihngga dapat terlihat jelas.

–       Tulisan menggunakan warna hijau.

Warna tulisan ini digunakan agar terlihat lebih jelas dan sesuai dengan warna SD Saraswati 2.

6. Bahan

Perancangan media X -banner ini menggunakan bahan poly poster.

7. Teknik Cetak

            Teknik cetak yang digunakan adalah teknik cetak digital.

Kreatif Desain

Pada proses kreatif desain media poster dibuat 3 alternatif desain yang selanjutnya dipilih salah satu sebagai desain terpilih. Desain poster ini dipilih karena memiliki lebih nilai estetis dibandingkan dengan 2 alternatif desain lainnya yang sedikit kurang menarik. Ilustrasi yang ditampilkan desain terpilih lebih dinamis dengan warna dan pencahayaan yang memiliki nilai keserasian terhadap latar belakangnya.

Poster dan X-banner Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar, selengkapnya

DUHKA BHĀRA

DUHKA BHĀRA

Penata

Nama                     : Ni Putu Widhi Yuliasih

Nim                       : 200701010

Program Studi       : Seni Tari

Sinopsis :

Dikisahkan Dewi Kunti dengan tidak sengaja mengucapkan mantra yang pernah diajarkan oleh Rsi Druwasa yang mengakibatkan dia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Karena rasa malu memiliki anak di luar nikah untuk menghindarinya ia pun membuang bayinya ke sungai. Setelah beberapa tahun kemudian anak tersebut menjadi dewasa dan menjadi ksatria gagah berani dalam asuhan Korawa. Suatu ketika didalam perang Bratayuda Dewi Kunti teringat pada anaknya Karna yang berada di pihak Korawa. Secara diam-diam Dewi Kunti menemui Karna dengan cara membujuk dan merayunya untuk memihak Pandawa, namun usahanya sia-sia Karna tetap bersikukuh memihak Korawa dengan alasan balas budi. Akhirnya dengan berat hati, sedih dan kecewa Dewi Kunti menerima semua itu walaupun dia tahu akan kehilangan anaknya dalam perang “Bratayuda”.

Pendukung Tari      :

1. Ni Wayan Okta Ningsih                   ( Mahasiswa ISI DPS Smtr IV)

2. Kadek Diah Pramanasari         (Mahasiswa ISI Dps Smtr VI)

3. Ni Made Indari Dwi Eka Sari (Mahasiswa IKIP PGRI Smtr VI)

4. Ni Made Natalina                  (Mahasiswa IKIP PGRI Smtr VI)

Penata Iringan       : I Ketut Suarjana, S.Sn

Pendukung Karawitan : Mahasiswa Institut Hindu Darma Denpasar

Tahap Pembentukan dan Pembersihan Bilah

Tahap Pembentukan dan Pembersihan Bilah

Kiriman I Putu Arya Sumarsika, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

            Dalam membangun atau membentuk bilah untuk mengubah dari bentuk asalnya menjadi bentuk yang baru, dengan mengalami proses-proses pemanasan dan penempaan yang bertahap sesuai cara kerja pande gamelan yang ada di Blahbatuh. Adapun urut yang dikerjakan pande gamelan adalah sebagai berikut :

  1. Natap adalah proses meratakan sisi laklakan yang pada awal pengambilan dari penyangkan tidak begitu bagus bentuknya, pada proses natap ini pande mempergunakan palu berat 3 kg dan ditempa pada landesan penguadan.
  2. Ngeteb adalah suatu proses penempaan pada bagian sisi panjang bilah, proses ngeteb  ini merapikan bentuk yang didapat dari laklakan. Tahap ngeteb menggunakan palu seberat 3 kg dan ditempa pada landesan Penguadan.
  3. Nguad adalah suatu proses meratakan semua sisi bilah sekaligus memperpanjang ukurannya dari ukuran yang didapat dari bentuk laklakan. Dalam proses nguad ini pande mengambil beberapa bilah laklakan yang akan dijadikan bilah yang ukurannya sama, dan ke empat bilah tersebut dimasukkan ke dalam perapen yang apinya sudah dipersiapkan. Semua laklakan harus ditutupi oleh arang sehingga tidak sedikitpun terlihat, bilamana ada bagian laklakan yang tidak tertutup oleh api pada proses nguad akan memakan waktu lama. Kalau laklakan sudah cukup merah, diangkat dan ditempa di atas lendasan penguadan. Dalam pengerjaan ini pande memukul bagian atas bilah tempaan tahap awal ini bertujuan membuat rata kedua bilah sisi laklakan dan memperpanjang ukurannya hingga mencapai panjang ukuran bilah yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan ini beberapa bilah laklakan akan naik–turun dari perapen sampai 8 (delapan) kali. Yang dimaksud dengan “naik turun api”, berarti dibakar di dalam api ; naik berarti ditempa di atas landesan sehingga mendapat bentuk yang diinginkan.
  4. Ngedonin  adalah suatu proses pembentukan “usuk” dari bilah yang menyerupai limas persegi panjang. Dalam pekerjaan membuat usuk pande mengunakan landesan penguadan. Pengerjaan ini menggunakan palu penguadan dan jatuh pukulan palu di pinggir sebelah kiri dan kanan dan dapat menegaskan bentuk awal laklakan dan tahap ini menggunakan landesan paron. Pada waktu pengerjaan usuk, berarti memperlebar ukuran muka bilah itu sendiri. Dalam proses ini bilah akan mengalami naik turun api selama empat kali.
  5. Ngesongin adalam proses pembuatan lubang/gegorok yang nantinya berfungsi sebagai tempat tali untuk menggantung bilah di pelawah gamelan itu sendiri. Pada pembuatan lubang bilah ini pande telah memperhitungkan jarak yang tepat, kelainan jarak dalam pembuatan lubang akan mempengeruhi bunyi dan dari segi bentuk sesudah jadi nantinya. Ukuran yang tepat untuk pembuatan gamelan berbilah adalah dengan mengukur panjang bilah : 4 di dapatlah lobang untuk bilah. Pembuatan lubang gegorok dilakukan pada waktu bilah sedang berwarna merah ini dimaksudkan agar dapat mempermudah dalam pengeboran. Dalam hal ini masih menggunakan bor manual yang bertujuan, jika pada proses ini menggunakan bor listrik alat ini akan mengalami kerusakan.
  6. Nyepuh suatu proses dimana pada tahap ini bilah sudah bisa dibilang selesai dalam tahap penempaan. Tahap penyepuhan dilakukan dengan menurunkan kembali bilah yang sudah mengalami tahap nguad, ngedonin, dan ngesongin dan dipanaskan sampai bilah berwarna merah kemudian diangkat dari perapen langsung dimasukkan ke dalam bak yang sudah berisi air yang sudah dipersiapkan. Tahap penyepuhan ini bertujuan agar krawang cepat mengeras. Bilamana pada tahap penyepuhan ini sudah selesai, maka selesailah sementara untuk  penggunaan perapen.
  7. Narik adalah proses dimana bilah yang sudah mengalami penyepuhan ditempa kembali untuk merapikan bekas-bekas pukulan palu pada proses pembentukan serta merapikan bentuk bilah. Dalam hal ini bilah tidak mengalami pemanasan ini dikarenakan melihat sifat krawang jika dipanaskan akan menjadi lunak jika ditempa, maka bilah tidak dipanaskan hanya ditempa dengan palu berat 3 kg dengan menggunakan landesan penguadan.

Tahap Pembentukan dan Pembersihan Bilah Selengkapnya

Struktur Estetika Pertunjukan Wayang Calonarang

Struktur Estetika Pertunjukan Wayang Calonarang

Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan

            Nilai estetis yang dimaksud dalam hal ini adalah mengandung norma-norma yang dapat digunakan untuk mengatur pertunjukan Wayang kulit, sehingga dapat dipahami sebagai sesuatu yang berharga. Makna estetis adalah karakter, sikap, pola-pola prilaku wayang yang dapat dijadikan pedoman-pedoman didalam bertingkah laku yang dikemas secara estetik. Seni dikatakan sebagai persembahan untuk kegiatan ritual artinya seni mempunyai makna menghubungkan antara buana alit dengan buana agung. Nilai estetis dalam suatu sajian seni pertunjukan Wayang Kulit Bali dapat ditelusuri melalui penampilan pisik atau penataan panggung pertunjukan wayang, pengungkapan bahasa, sikap, struktur ceritera dan keseluruhan isi yang terkandung di dalamnya. Keindahan yang bersifat indrawi adalah keindahan yang dapat menyenangkan atau memuaskan indera manusia baik indera pengelihatan maupun indera pendengaran, sedangkan keindahan yang bersifat rohani adalah keindahan yang dapat menyenangkan atau memuaskan bathin manusia.

Nilai keindahan atau nilai estetis yang dapat dinikmati indera pengelihatan pada pertunjukan Wayang Calonarang, terletak pada penampilan pisik yang terdiri dari; wayang, gerak wayang, kelir, blencong. Elemen-elemen tersebut disajikan dalam bentuk satu-kesatuan yang dinikmati dari segi keindahan melalui tampilannya, seperti: simping atau penataan wayang pada kelir yang disusun sangat rapi di pinggir kanan dan kiri oleh katengkong; gerak wayang akan kelihatan dari karakter tokoh wayang antara keras dan lembutnya tokoh wayang yang dimainkan oleh dalang, yang akan membangkitkan kesan indah (pangus); kelir akan kelihatan indah apabila sepenuhnya dapat disinari oleh lampu (blencong), blencong kelihatan indah apabila sesuai dengan fungsinya pada setiap adegan, antara terang dengan redupnya cahaya yang diperlukan untuk mendukung suasana, karena pencahayaan sangat mendukung jalannya pertunjukan wayang kulit. Keindahan yang dapat dinikmati dengan indera pendengaran adalah: suara gamelan yang ditata sedemikian rupa, agar dapat merubah suasana pada pertunjukan wayang, seperti gamelan pada penyacah, pada angkat-angkatantetangisan, begitu pula pada klimak (siat). Penataan instrumen gamelan akan dapat memberikan kesan indah kepada penonton.

Djelantik, dalam bukunya yang berjudul Falsafah Keindahan dan Kesenian menjelaskan, bahwa unsure-unsur estetika meliputi wujud, bobot, dan penampilan. Wujud melipiti yang kasat mata (bias dilihat dengan mata) dan yang tidak kasat mata (bisa didengar oleh telinga dan bisa diteliti dengan analisa). Bobot mempunyai tiga (3) aspek yaitu suasana (mood);  gagasan (ideal);  ibarat atau pesan (message). Dalam penampilan kesenian ada tiga unsur yang berperan yaitu bakat (talent), ketrampilan (skill); sarana (media).

Penampilan merupakan keindahan yang bersifat indrawi dimana keindahan mampu memberikan kesenangan pada mata dalam melihat dan telinga dalam mendengar. Pada keindahan yang bersifat indrawi yang dilihat adalah penampilan pisik, hal ini dapat dilihat pada salah satu penampilan yang ada, misalnya pada tabuh iringannya terbuat bahan pilihan, berukir dan dicat prada sehingga sangat indah dipandang mata. Dari segi rasa estetik tabuh iringan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung dimainkan oleh penabuh yang mempunyai ketrampilan/skill dibidangny masing-masing, sehingga tabuh yang dihasilkan bagus. Dari pakaian (costume) penabuh yang dilihat dari bentuk dan warnanya sangat harmonis. Dari penjelasan di atas dapat dipastikan pada pertunjukan Wayang Calonarang Kautus Rarung terdapat nilai estetis yang mampu memberikan kepuasan secara indrawi.

Pengertian wujud mengacu pada kenyataan yang tampak secara kongkrit (dapat dipersepsi dengan mata dan teling) maupun kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit, yang abstrak, yang hanya bisa dibayangkan, seperti sesuatu yang bisa dibayangkan dalam buku. Berdasarkan uraian di atas pertujukan Wayang Calinarang lakon Kautus Rarung diwujudkan ke dalam pertunjukan wayang tradisi, dimana dalam pertunjukan tersebut ditemukan wujud-wujud yang kongkrit/nyata. Yang dimaksud dengan bentuk (form) adalah totalitas dari karya seni. Ada dua macam bentuk : pertama visual form, yaitu bentuk pisik dari sebuah karya seni atau satu-kesatuan dari unsur-unsur pendukung karya seni tersebut; kedua special form, yaitu bentuk yang tercipta karena adanya hubungan timbal balik yang dipancarkan oleh fenomena bentuk pisiknya terhadap tanggapan emosionalnya.

Bentuk visual dari pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung persembahan Ida Bagus Sudiksa merupakan garapan pakeliran tradisi, dengan alasan karena melihat aparatus pertunjukan yang digunakan masih berkonsep tradisi, mulai dari kelir yang digunakan, tata cahaya (lighting), tabuh iringan tergolong musik tradisi meski pada tabuh iringannya ada sentuhan inovasi, ukuran wayang, struktur garapan, tata panggung, retorika dan sebagainya.

Penataan panggung pada wayang tradisi dan inovatif tidak jauh berbeda, ini disesuaikan dengan tempat digelarnya pertunjukan. Dalam wujud secara kongkrit akan banyak ditemukan keindahan yng memiliki nilai estetis yang bersifat indrawi. Sedangkan wujud yang tidak nampak atau abstrak dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung  terdapat pada antawecana (retorika), ide, makna, tema dan dialog pada pertunjukan tersebut. Untuk mengetahui pesan yang abstrak tersebut hanya bisa dibayangkan melalui pemikiran, menonton, mendengarkan dan merasakan dari pertunjukan tersebut yang disusun secara satu-kesatuan. Pada wujud abstrak pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung terdapat banyak nilai estetis yang bersifat rohani. Dapat kita lihat pada lakon pertunjukan yang begitu menyentuh perasaan, ketika Diah Ratna Menggali diutus oleh ibunya (Walu Nata) untuk menemui ayahnya (Prabu Erlangga) di Kerajaan Kediri, akan tetapi tidak diijinkan oleh Patih Madri bertemu dengan raja, dan teganya Patih Madri menyiksa Diah Ratna Menggali hingga babak belur diajar habis-habisan. Diah Ratna Menggalipun kembali pada ibunya, karena merasa sakit hati kemudian bersama-sama pergi ke Pemuwunan Setra untuk memohon waranugraha Hyang Nini Bagawati. Setelah mendapat anugrah, kemudian Walu Nata dan Diah Ratna Menggali menebar wabah yang melanda Kerajaan Kediri. Akhirnya sadar Prabu Erlangga bahwa itu perbuatan mantan istrinya (Diah Padma Yoni). Saat itu Prabu Erlangga mengutus Mpu Beradah untuk menghentikan perbuatan Walu Nata, Walu Nata pun tak bisa berkutik disaat dihadapi oleh Mpu Beradah, yang menyadarkan dirinya insyap dan bertobat akan berbuat kebajikan, itulah Calon Arang, Calon artinya gelap dan Arang artinya terang, setelah Diah Padma Yoni sadar dengan kekurangannya, kemudian diberikan pengeruwatan oleh Mpu Beradah dan siraman rohani, yang menyebabkan Diah Padma Yoni menemukan jalan terang menuju nirwana. Ajaran Pengiwa dan Penengen adalah tujuannya satu yaitu kedyatmikan, seperti halnya piramid yang pada akhirnya akan bertemu di satu titik yakni Aji Kalepasan. Nilai estetis yang bersifat rohani terletak pada garapan lakon yang meliputi: narasi dalang, gerak wayang (tetikesan), bahasa bertembang, karakterisasi, dialog wayang dan vokal dalang.

Bobot yang dimaksud dalam karya seni adalah isi atau makna dari apa yang disajikan pada sang pengamat. Untuk mengetahui bobot pertunjukan tersebut penulis mengamati melalui tiga hal yaitu : suasana, gagasan atau ide, dan ibarat atau anjuran. Mengamati pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, salah satunya adalah tabuh pengiring, suasana yang bangun dalam tabuh, baik pategak maupun pamungkah adalah tidak kasat mata. Suara gambelan tidak dapat dilihat dengan mata akan tetapi bisa didengarkan (dirasakan indahnya) bisa diteliti dengan analisa, dibahas kompenen-kompenen penyusunannya dan dari segi struktur atau susunan. Pesan yang disampaikan adalah penonton diajak agar datang menonton pertunjukan wayang yang akan segera digelar. Jadi sangat jelas dalam petunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung bagaimana suasana yang dibangun, gagasan maupun pesan yang disampaikan kepada penonton.

Struktur Estetika Pertunjukan Wayang Calonarang, Selengkapnya

Loading...