by admin | Sep 10, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan
Pengertian Simbol
Peursen, C.A Van ornentasi di dalam filsafat mengatakan, bahwa semiotik adalah ilmu tanda yang mempelajari tentang fenomena sosial. Zamzamah menjelaskan, bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari fenomena sosial budaya, dalam kontek semiotik mempunyai dua aspek, yakni aspek penanda dan aspek petanda. Penanda adalah bentuk format itu, sedangkan petanda adalah arti/acuannya. Berdasarkan hubungan antara penanda dengan petanda, maka tanda dapat dipilih ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah penanda dengan petandanya, hubungan ini adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda (penanda), menandai kuda (petanda); indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal atau sebab akibat antara penanda dengan petandanya, asap menandai api; simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara pananda dengan petandanya, misalnya “ibu” adalah simbol yang ditentukan oleh konvensi masyarakat Indonesia, orang Inggris “mother”, orang Prancis “la mere” dan sebagainya. Dari ke dua pendapat filsuf di atas mengindikasikan, bahwa simbolisme itu merupakan lambang-lambang yang dijadikan alat atau sarana pada suatu aktifitas tertentu, yang merupakan miniatur dari alam semesta, seperti kayonan lambang gunung, blencong akan mengindikasikan siang dan malam sesuai dengan cahaya yang dimunculkan, pihak kiri dan kanan simbol kejahatan dan kebajikan, dan lain sebagainya.
Nama, Simbol, dan Fungsi Sarana Pementasan
Nama-nama dari simbol pada pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung adalah:
1). Gedebong merupakan simbol dari tanah (pertiwi) fungsinya untuk menancap kan tangkai wayang sesuai keinginan dalang.
2). Kelir merupakan simbol dari langit (embang) fungsinya untuk menampilkan bayangan wayang.
3). Jelujuh (posisinya vertikal di pinggir kelir), gegilig (posisinya horisontal diatas dan di bawah kelir) simbol dari tapak dara fungsinya untuk mengkencangkan kelir.
4). Reracik simbol dari jari tangan dan jari kaki sang dalang fungsinya untuk menguatkan posisi kelir.
5). Blencong merupakan simbol dari Sanghyang Triodasa Saksi (matahari, bulan, dan bintang) fungsinya untuk penerangan saat pertunjukan wayang.
6). Kropak merupakan simbol dari Tri Bhuana (bhuh loka, bwah loka, dan swah loka) fungsinya untuk tempat menyimpan wayang.
7). Wayang merupakan simbol dari penghuni Tri Bhuana atau isi alam semesta,yangterdiri dari berbagai karakter (tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, buta kala, raksasa, dewa) fungsinya untuk memerankan cerita sesuai dengan karakternya masing-masing.
8). Gamelan merupakan simbol dari saudara sang dalang (nyama catur) fungsinya untuk pengiring mengiringi pertunjukan wayang.
9). Katengkong merupakan kedua orang tua sang dalang (di sebelah kanan ayah, di sebelah kiri ibu) fungsinya untuk membantu kelancaran pertunjukan wayang.
10). Upakara merupakan suguhan sebagai ucapan terima kasih sang dalang kepada Tuhan, segehan diperuntukkan kepada para buta kala fungsinya nyomya agar ikut mendukung pertunjukan wayang.
11. Wayang Calonarang merupakan simbol dari Rwa-Bhineda (siang-malam, kiri- kanan, fositif-negatif, dan lain sebagainya) fungsinya untuk mengungkapkan di dalam buana agung dan buana alit tidak pernah luput dari hal dua yang berbeda, maka dari itu ilmu hitam dan ilmu putih selalu muncul di jagad raya ini.
12. Dalang merupakan simbol dari Sanghyang Kawiswara fungsinya untuk mengerakkan Rwa-Bhineda (siang-malam, baik-buruk, kiri-kanan, fositif-negatif dan lain sebagainya) yang akhirnya menjadi suatu keseimbangan.
Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang
1. Pengertian Mistik
Pembahasan unsur-unsur mistik pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa, terlebih dahulu kita ungkap pengertian mistik dari sumber tertulis sebagai berikut:
a). Perbedaan Ilmu Filsafat dengan Mistik adalah: ilmu filsafat sifatnya terbuka dan dapat berkomunikasi, sedangkan mistik sering bersifat rahasia ”sinengker” atau esoteris. Kesadaran yang didapat dari filsafat adalah ”kesadaran intelek”, dan “ratio”, sedangkan kesadaran yang didapat dari mistik adalah ”kesadaran rasa (mistik)” dan berada di luar atau di atas lingkup ”ratio”.
b). Adiputra mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Dunia Gaib orang Bali bahwa, nilai magis suatu tempat selalu berhubungan dengan makna niskala tempat itu, bukan tergantung pada penampakan fisiknya. Suatu lokasi yang dinilai angker dalam dunia sekala selalu dipercaya ada penghuninya berupa makhluk halus dunia niskala.
c). Mircea Elliade mengutip pendahuluan Rudolf Otto mengatakan, mengenai batasan sakral adalah Otto melukiskan semua pengalaman ini berasal dari Tuhan karena dibangkitkan dari energi ke-Tuhanan. Pengalaman Illahi ini menghadirkan dirinya sesuatu yang sepenuhnya berbeda, sesuatu yang secara total berbeda. Dia menemukan perasaan terteror oleh alam sakral, alam misterius, dan terharu terhadap energi yang superior. Ia menemukan ketakutan religius dalam misteri yang menakjubkan hati, dimana kesempurnaan penuh kehidupan itu berkembang. Manusia dihadapkan oleh pengalaman ini merasakan dirinya dalam ketiadaan, seolah-olah hanya seekor makhluk kecil, tak ubahnya sebagai debu dan arang.
d). Perbedaan dua tempat yaitu Kaja dan Kelod, Kaja adalah gunung sebagai simbolis kesucian yaitu kesenian yang bersifat sakral, Kelod adalah simbolis laut yang merupakan simbolis profan atau sekuler. Dalam buku tersebut juga menyinggung tentang katagori kesenian Bali yaitu : seni wali, bebali dan balih-balihan. Dua tempat yang berbeda tentunya ada suatu pembatas yang menyebabkan kondisi menjadi berbeda pula, seperti kaja (utama mandala) merupakan tempat yang sakral sebagai tempat wali, tengah (madya mandala) merupakan tempat biasa, sebagai tempat pementasan bebali, dan kelod (nista mandala) merupakan tempat luar biasa atau bebas, biasanya tempat balih-balihan atau hiburan.
Ke-empat pendapat di atas, sudah sangat paten untuk penulis jadikan pedoman membahas unsur-unsur mistik yang terkandung di dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kaurus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa. Adapun unsur-unsur mistik tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:
2). Unsur Mistik Pada Upakara Pengaradan
Upakara (bebantenan) kalau dilihat dari bentuk sudah jelas merupakan lambang, akan tetapi kalau ditinjau dari segi fungsinya adalah mistik, karena upakara merupakan sarana untuk memanggil (pengaradan), maka berbeda dari bentuk upakara, berbeda pula fungsinya. Unsur mistik yang terkandung pada upakara (bebantenan) pada pementasan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, merupakan sarana untuk memanggil (ngarad) guna diberikan suguhan atau upah. Upakara atau bebantenan yang diperlukan sudah jelas jauh lebih besar dari pementasan wayang biasa (selain Wayang Calonarang). Seperti halnya dalam rangka kegiatan upacara agama, kemudian mengundang beberapa pemuka beserta jajarannya, maka patut dipersiapka segala sesuatu untuk menyambut para undangan. Bukan hanya pemuka tertentu saja yang disuguhkan hidangan, melainkan jajarannyapun mesti ikut serta dapat menikmati menu (hidangan yang perlu dipersiapkan) oleh tuan rumah. Begitu pula halnya dengan pertunjukan Wayang Calonarang sajian ida Bagus Sudiksa, karena begitu banyaknya para undangan merupakan rencang-rencang (pengikut) Betari Dalem yang diundang oleh sang dalang, untuk ikut serta menyaksikan pertunjukan, bahkan ikut ambil bagian di dalam pertunjukan tersebut, maka dari itu harus disediakan makanan, minuman kesukaan para undangan. Adapun upakara yang disajikan sebagai berikut.
Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang, selengkapnya
by admin | Sep 9, 2011 | Berita
Pada 1 Agustus yang lalu ISI Denpasar, terbangkan tiga mahasisawanya :Sri Wahyuningsih (FSP), AAN.Gde Dhamata A.,dan Ilutfiatun (FSRD) ke Thailand untuk belajar Bahasa dan Budaya di Thamasat University Thailand selama satu semester, Jumat (9/9) kembali kampus seni ini terbangkan dua mahasiswanya ke Malaysia dalam Program yang sama yaitu “Student Mobility Credit Transfer- MIT’. Mereka adalah Aryo Agung Wibowo dari Jurusan Fotografi (FSRD) yang telah lulus seleksi pada Jurusan Media Faculty of Art and Social, dan I Gede Suwidnya (FSP) pada Jurusan Cultural Center Faculty of Department of Music di University of Malaya.
“Ini adalah program kerjasama pendidikan cetusan SEAMEO-RIHED yang dilaksanakan oleh 3 negara di Asia Tenggara; Malaysia-Indonesia-Thailand (MIT) sejak 2010 yang melibatkan perguruan tinggi masing-masing negara, dengan arah program meningkatkan mutu dan kualitas peserta didik melalui program pengiriman peserta didik ke perguruan tinggi di tiga negara tersebut diatas, di bawah arahan DITJEN DIKTI, dan diikuti 11 universitas yaitu ISI Denpasar, ISI Surakarta, UI, UAD,UK Maranatha, UBINUS, UNS, UNSRI, IPB, UGM,dan UPI,”papar Dewi Yulianti pengurus program yang akan mengikuti MIT Review Meeting akhir bulan ini. Hal senada juga disampaikan Komang Artini, Koordinator International Office ISI Denpasar.
Seperti diberitakan sebelumnya, tahun 2010 ISI Denpasar mendapatkan 2 quota untuk Thailand: Diana Putra serta Eka Laksana yang menjadi lulusan terbaik MIT tahun 2010. Tahun ini,ISI Denpasar mendapatkan 5 quota; 3 untuk Thailand dan 2 untuk Malaysia. Diterima Rektor di ruang kerjanya Aryo dan Suwidnya mengaku sangat bangga mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. “ISI Denpasar merasa sangat bangga telah berhasil merebut 5 quota dari 80 beasiswa untuk MIT 2011, yang sudah tentu berkat bimbingan Tuhan dan kerja keras kita bersama, ”ujar Prof Rai didampingi PR I, serta Dekan dari kedua Fakultas.
Sementara rombongan muhibah seni ISI Denpasar hari Jumat (9/9) mulai pementasan perdana di Palace of Arts, San Fransisco. Semoga dengan kerja keras dan ketulusan, hands in work, heart in God semua kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi ISI Denpasar terlaksana dengan baik untuk mengibarkan kampus seni ini sebegai center of excellent. Semoga.
by admin | Sep 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ni Made Wiryani, Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar.
Prosesi Upacara Ngerebeg
Sebelum upacara Ngerebeg dimulai, terlebih dahulu diadakan upacara titi mamah dengan menggunakan kebo yus brana, yaitu seekor kerbau betina (gadis) yang berwarna hitam. Warga yang ikut bersaksi diadakan upacara semacam upacara ritual itu dipercikan air suci yang merupakan hasil rendaman keris-keris yang sudah dipasupati, dengan tujuan agar warga/rakyat yang bersaksi apabila kena goresan atau tusukan senjata tajam, tidak terluka dan sehat walafiat.
Prosesi mepeed mulai dari Kraton Puri Agung di Munggu yang sekarang bernama Griya Agung Mandera atau Griya Bancingeh yang paling pertama adalah pengasepan (api, dupa) eteh-eteh Ida Betara, wastra, umbul-umbul, tedung betari, bendrangan, tombak dan seluruh duwe/milik pura dikeluarkan dalam prosesi upakara ini mengelilingi Desa Munggu yang berakhir di Jaba Pura Luhur Sapuh Jagat, yang diberi upacara sebagaimana mestinya.
Setelah upacara selesai kira-kira pukul 13.00 siang, dimulailah upacara ”Ngerebeg”, yaitu perang-perangan. 11 banjar yang ada di desa Munggu pada setiap banjar wajib mengeluarkan 30 sampai 35 orang untuk ikut sebagai pendukung tari Mekotekan. Terbentuklah segerombolan rakyat yang masing-masing membawa kayu pulet yang panjangnya ± 4 m dengan bentuk menyerupai tombak. Lebih kurang 800 orang warga yang terlibat dalam upacara Ngerebeg mengelilingi Desa Munggu dan pada setiap prapatan banjar yang dianggap tempat-tempat bersejarah dipentaskan tari Mekotekan dengan durasi ± 6 menit.
Dalam kondisi kerawuhan (trance) mereka semua melakukan Mekotekan dan menari-nari dengan gerakan bebas, kemudian dengan spontan mereka mendekatkan ujung dari properti yang mereka bawa, sehingga terbentuk bangun menyerupai kerucut. Beberapa orang warga ± 6 – 9 orang berlari menaiki punggung dan kepala warga yang sedang menari-nari, sehingga sampai pada ujung kotekan kayu-kayu tersebut, sambil menari-nari di atas kotekan kayu lebih kurang 5-6 menit mereka menari di ujung kayu-kayu kotekan itu, dan beberapa orang pemangku pura melakukan ritual ngaturang segehan agung dan tetabuhan, tuak, arak dan berem serta mohon kepada sesuhunan betara agar upacara mekotekan berakhir dengan selamat, dan akhirnya semua penari Mekotekan sudah sadarkan diri. Serta semuanya melakukan tetabuhan, dan upacara selesai. Selanjutnya semua pusaka keris dan tombak disimpan kembali di kraton Puri Agung Munggu.
Seluruh rangkaian prosesi ini secara tidak langsung merupakan fragmentasi tari untuk mengenang sejarah berdirinya Pura Luhur Sapuh Jagat, dimana pada saat itu ada seorang warga (yang akhirnya menjadi pemangku di sana) kesurupan dan naik ke atas sebuah payung (tedung) setinggi 5 meter yang diambil dari Pura Puseh dan ditancapkan di tempat yang selanjutnya menjadi tempat berdirinya Pura Luhur Sapuh Jagat, untuk meyakinkan warga masyarakat akan adanya kekuatan ilahi yang akan melindunginya.
Perbendaharaan Gerak Tari Mekotekan
Adapun simbol gerakannya diambil dari ilustrasi sebuah keris yang ditancapkan pada sebuah tugu yang berarti kemenangan. Dominan gerakannya adalah olah tubuh pada level tinggi, yang melambangkan kegagahan, kewibawaan dan keagungan seorang raja gerakannya yang kompak dan penuh kegembiraan menandakan kebahagiaan yang meraih suatu kemenangan melawan penjajahan. Namun semua gerak-gerak yang dilakukan tidak lepas dari ciri khas gerak-gerak tari seperti gerak ngeraja singa, yaitu gerakan yang dilakukan pada saat penarinya berada di ujung tatanan kayu (di puncak kerucut), dan juga gerakan malpal dilakukan pada saat membentuk lingkaran sambil menata properti yang dibawa, berupa kayu-kayu yang diujungnya dipasang pada berupa keris dari tamiang yang merupakan simbol-simbol dari pusaka-pusaka Pura Luhur Sapuh Jagat di Desa Munggu Kabupaten Badung.
Setelah tatanan kayu-kayu itu dibentuk berupa krucut, dengan spontan ada beberapa warga yang kesurupan dan naik ke atas tatanan kayu-kayu tersebut, sambil menari-nari dan diarak oleh warga. Dengan ekspresi dari rasa suka, bahagia dan gembira melakukan gerakan ngraja singa yang diulang-ulang yang merupakan kekuatan dari alam (niskala) sehingga penari itu nampaknya seperti ada unsur ekspresi jiwa yang memiliki kekuatan gaib dan mempunyai daya pancar yang kuat, yang sering disebut metaksu. Tari Mekotekan ini memiliki keunikan tersendiri.
Sebagai gerakan penutup, tatanan kayu-kayu yang berbentuk kerucut direbahkan, sehingga penarinya pun turun dan langsung membubarkan diri.
Busana dan Tata Rias
Busana yang dipergunakan masih berpolakan busana kuno yang sangat sederhana, yaitu :
- Menggunakan udeng batik
- Kain batik bulet linting
- Saput poleng
- Bunga pucuk bang (kembang sepatu warna merah)
Properti yang Digunakan
Properti yang dipergunakan dalam tarian ini adalah sebatang tongkat kayu berukuran panjang + 4 meter, terbuat dari kayu pulet yang kulit batang kayunya sudah dibersihkan sehingga terlihat putih dan halus. Sebelum dipergunakan seluruh kayu pulet di pasupati secara massal.
Instrumen Pengiring Tari Mekotekan
Iringan musik dimainkan oleh para penabuh memakai kostum yang seragam. Sebelum dipergunakan untuk mengiringi tarian, alat musik iringan dihaturkan sesajen yang terdiri dari : tipat gong, banten peras, banten sodan, banten daksina dan canang sesari. Alat musik yang dipakai untuk mengiringi tari Mekotekan ini adalah seperangkat gambelan baleganjur yang terdiri dari :
- Kendang 2 buah lanang-wadon
- Cengceng 9 cakep
- Tawa-tawa (ponggang)
- Reyong (4 buah)
- Suling
- Gong
Masyarakat Pendukung
Suatu seni pertunjukan akan dapat tetap lestari apabila ada komunitas masyarakat yang mendukungnya. Sebagaimana halnya tari Mekotekan ini, sebagai sebuah tarian sakral yang dianggap memiliki kekuatan-kekuatan magis yang mampu menghindarkan dari wabah dan malapetaka, maka tari Mekotekan ini didukung secara penuh oleh lembaga tradisional masyarakat Desa Munggu yang merupakan gabungan dari 11 banjar.
Bentuk, Perkembangan, dan Fungsi Tari Mekotekan, selengkapnya
by admin | Sep 9, 2011 | Berita, pengumuman
Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Kompetensi Mahasiswa dalam Bidang Desain Digital, Program Studi Desain Komunikasi Visual Bekerja sama dengan WACOM Corporation Singapura dan Datascrip Indonesia, Mengadakan Seminar dan Workshop selama dua hari yakni dari tgl. 8-9 September 2011 di Gd. Latha Mahosadi dan di Laboratorium Komputer FSRD ISI Denpasar.

Pembukaan Seminar dan Workshop


Suasana Seminar /Pembicara : KC Leong


Pembicara : Erfian Asafat Suasana Workshop Coloring Digital
Seminar dan workshop Mengambil Tema : “DIGITAL COLORING AND CHARACTER DESIGN” Dengan Pembicara : KC Leong dari Wacom Singapore dan Ervian Asafat dari Caravan Studio.

Sesi Tanya Jawab antara Peserta Workshop dg Pembicara
Pembukaan seminar dibuka oleh Dekan FSRD ISI Denpasar, Kamis, 9 September 2011. Dalam Seminar tersebut dikuti oleh Seluruh Mahasiswa PS. Desain Komunikasi Visual, dan bagi pemenang sebagai karya terbaik akan diberikan door price berupa seperangkat Think Pad sebagai perangkat untuk menggambar secara digital.
by admin | Sep 9, 2011 | Berita, pengumuman

Menyambut Tahun Ajaran Baru Semester Ganjil 2011/2012 Seluruh Dosen FSRD ISI Denpasar Mengadakan Rapat Umum untuk berkoordinasi dalam Mensukseskan proses Belajar Mengajar. Dalam Rapat Umum tersebut di Pimpin Oleh Pembantu Dekan I Drs. Olih Solihat Karso,M.Sn., Pembantu Dekan II Drs. I Made Bendy Yudha, M.Sn dan Pembantu Dekan III Drs. D.A Tirta Ray, M.Si.


Sesi Tanya Jawab Rapat Umum Dosen FSRD
by dwigunawati | Sep 9, 2011 | Berita, pengumuman

PENGUMUMAN
No. 044/IT.5.7/TP/2011
Kepada seluruh Mahasiswa Baru Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, yang ingin mendapatkan layanan internet/intranet ISI Denpasar secara gratis dapat mendaftar langsung di UPT. Puskom ISI Denpasar Lantai II, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
- Mengisi form registrasi akses internet/intranet ISI Denpasar
- Menunjukkan KTM yang sudah disahkan untuk tahun ajaran 2011/2012
- Menyerahkan fotocopy KTM yang sudah disahkan untuk tahun ajaran 2011/2012
Pengisian dan penyerahan formulir dilakukan setiap hari kerja mulai pk. 10.00 – 14.00 Wita kecuali hari libur.
Demikian pengumuman ini untuk dilaksanakan dan atas perhatiannya disampaikan terimakasih.
Denpasar, 8 September 2011
Kepala UPT. Puskom,
Hendra Santosa, S.Skar., M.Hum
NIP. 196710311992031001
Form Pendaftaran juga bisa di unduh di form Hotspot