by admin | Sep 5, 2011 | Berita
Deretan kaos oranye, dengan kain madya Bali dan sumpangan bunga jepun di kuping yang dikenakan anak-anak sanggar Jepun Putih berderet penuh senyum saat pamerannya dibuka Rektor ISI Dps, Prof. Dr. I Wayan Rai.,S.MA. Senin (5/9). Saya mencium semerbak harum bunga jepun di kampus seni “ungkap Rai, saat menyampaikan sambutan yang sekaligus membuka pameran dengan memberikan torehan di atas kanvas yang disiapkan panitia.” Kampus seni ini merupakan milik masyarakat yang selalu terbuka untuk membangun seni”,imbuh Rai. Terasa lain kampus ISI yang penuh dinamika sore ini, setelah menyelesaikan tugas-tugas yang padat Rektor ISI menyempatkan diri membuka pameran sanggar Jepun Putih yang dibimbing oleh alumni FSRD ISI Dps I Wayan Adnyana,S.Sn. Pembukaan juga disambut dengan tari pendet oleh dua gadis cantik anggota sanggar, yang menarik para undangan.
Undangan yang hadir saat pembukaan diantaranya, PR I, Drs. I Ketut Murdana,M.Sn, Dekan FSRD Ni Made Rinu,M.Si, PD II, Drs. I Made Bendi Ydha,M.Sn, Kejur Seni Lukis, Drs. I Wayan Kondra,M.Si, Ketua Program Studi Fotografi, I Komang Arba Wirawan,S.Sn,M.Si, dan Ketua Ajang Gelar Drs. Anak Agung TY,M.Si, piminan jurnal Mudra Drs. I Wayan Setem,M.Sn dan dosen, mahasiswa serta ibu-ibu anggota sanggar jepun putih dan masyarakat umum.
Sanggar Jepun Putih merupakan wadah bagi anak-anak penerus bangsa ini untuk mengembangkan bakat, minat unbtuk memberikan mereka ruang berapresiasi dan berkreasi sesuai dengan bakat dan potensi yang miliki. “Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Rektor ISI atas perhatian dan bimbingannya kepada anak-anak sanggaer ini”, ungkap Adnyana. Sanggar yang berdiri Sembilan tahun yang lalu, telah melaksanakan pameran di berbagai tempat seperti di HUT Pemkot Kota Denpasar, Art Centre, dan lain-lain sebanyak enam kali. “Pameran kali ini merupakan kebanggaan bagi anak anak Jepun Putih dapat berpameran di kampus pusat seni di Denpasar dan Bali pada umumnya, yang telah go Internasional”ungkap Adnyana. Kebanggaan anak-anak kami ini juga disampaikan oleh para ibu orang tua yang dengan berpakaian adat Bali yang indah dan cantik mengiringi anak-anak mereka. “Pameran membawa kebahagiaan bagi kami semua dari sanggar”imbuh Adnyana. Sebagai alumnus, ketua sanggar merasa terhormat diberikan ruang dan waktu Bapak Rektor untuk memajangkan karya.
Pameran yang diikuti anak dari tingkat TK, SD, sampai SMP, menampilkan 35 peserta dengan jumlah 60 karya, dengan gaya naïf, dan penuh warna. “Saya sangat tertarik dengan lukisan anak-anak ini” ungkap A/Prof. Paul Trinidad, professor kolega kerjasama ISI Dps dengan ALVA-UWA Australia.
Pameran yang direncanakan sampai Minggu (11/9) akan diselenggarakan lomba mewarnai dan menggambar dari Tingkat TK, SD dan SMP yang memperebutkan piala Rektor ISI Dps. Segala saran dan masukan dan kritikan juga diharapkan untuk kemajuan sanggar Jepun Putih. (arba wirawan-dosen ISI Dps).
by admin | Sep 5, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan
Bahasa merupakan alat komunikasi. Pada pertunjukan wayang bahasa memegang peranan yang sangat penting, dapat dibayangkan betapa tidak mungkinnya sebuah pertunjukan wayang tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Penggunaan bahasa sebagai bentuk bahasa dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali adalah hal yang tidak asing lagi, karena bahasa sebagai mata rantai jalannya ceritera. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa adalah: Bahasa Kawi, Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Bali, Bahasa Indonesia dan sebagainya, yang sesuai dengan kebutuhan tokoh tertentu. Bahasa Kawi yang dipergunakan oleh tokoh (raja, dewa, ksatria) yang kemudian diterjemahkan oleh punakawan. Gaya bahasa dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa sangat variatif. Ada yang bersifat sindiran (ironi), ada yang bersifat perumpamaan (personifikasi), ada yang bersifat perbandingan (metafora) dan ada pula dialog yang mengagung-agungkan sesuatu secara berlebihan (hiperbolisme). Dari bahasa-bahasa yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Calonarang oleh dalang Ida Bagus Sudiksa ada yang berbahasa alus (singgih), ada yang biasa (pepadan), ada pula yang estetik sehingga membuat penonton menjadi teringat terus. Bahasa seperti itu biasanya berupa tutur, tidak terlepas dari kemampuan seorang dalang selaku orator yang ulung. Menurut Marajaya, pengelompokan bahasa tersebut antara lain ; (1) berbentuk prosa atau gancaran (bahasa Kawi dan bahasa Bali); (2) berbentuk tembang atau puisi (kekawin, tandak, bebaturan); dan (3) berbentuk prosa liris atau palawakya (penyacah dan pengelengkara).
1). Gaya Alternasi
Menurut Rota teknik penyampaian tutur secara berselang-seling disebut gaya alternasi. Gaya alternasi merupakan jenis gaya tutur yang paling banyak digunakan oleh dalang dalam pertunjukan wayang kulit Bali, baik dari bentuk tut tutur antara bahasa Bali dengan bahasa Kawi, maupun berbentuk tembang maupun gancaran.
a) Gaya Alternasi Bahasa Kawi dengan Bahasa Bali
Gaya bahasa seperti ini paling banyak ditemukan jenisnya dalam pertunjukan wayang kulit Bali. Pada Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung banyak sekali dipergunakan, adapun contoh-contoh gaya ini dapat dilihat dari kutipan-kutipan dialog sebagai berikut:
Twalen : (dalam bahasa Bali)
sawirira cerakanira..! (tembang). Aratu.. sang amurbeng
Jagat Kediri, sugra titiang sugra, aksi sembah pangubak- tin titiang aratu, sapunika taler gusti patih mamitang lugra, pinaka pengabih linggih ida. Ring tepenganemangkin presangga purun titiang ngojah maka kawit atur palungguh gusti ring ida, Ida Dewa Agung. Inggih aratu sang anyakra werti Jagat Kediri palungguh iratu, aksi ratu sembah pangu baktin titiang pina ka pengabil linggih iratu, saha tan keni kecakra bawa, presangga puruntitiang ngeriinin mapaungu atur, napi te awinan asapunika.., riantukan iratu sampun malinggih iriki ring singasanane. Napi awinan nadak sara ngutus sikian titiang mangda tangkil iriki ring ajeng?, yan kapinih kangkat,durusangtelin pawecana mangda galang apadang titiang nampanyuwun pakinkin, panglelaca druwene, asapunika daging atur dane gusti patih.
Arti bebasnya adalah:
menjawablah seorang abdi, wahai paduka Raja Kediri, hamba mohon ampun, terimalah sembah hamba ini paduka,begitu pula sang maha Patih sebagai abdi baginda raja. Di
saat seperti ini hamba memberanikan diri menyampaikan, apa yang maha patih katakan kepada baginda raja. Maafkan hamba yang mulia sebagai Raja Kediri, terimalah sembah
hambamu sebagai abdi, agar tidak terkena kutuk, karena hamba terlalu berani mengawali berbicara, apa sebabnya demikian ? Karena paduka telah duduk di singgasana. Apa sebabnya paduka mendadak menyuruh hamba agar menghadap, kalau ada sesuatu, silahkan katakan agar hamba jelas menerimanya, apa tujuan baginda memerintahkan hambaini. Demikian kata-kata maha patih.
Penggunaan Bahasa Dalam Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa, selengkapnya
by admin | Sep 5, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Besama ini kami sampaikan jadual kuliah semester ganjil tahun akademik 2011/2012, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar.
Jadual kuliah Seni Rupa Murni dapat di download disini
Jadual kuliah Kriya Seni dapat di download disini
Jadual kuliah Desain Komunikasi Visual dapat di download disini
Jadual kuliah Desain Interior dapat di download disini
Jadual kuliah Fotografi dapat di download disini
Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Denpasar, 5 September 2011
Kasubag Akademik dan Kemahasiswaan
TTD
I Ketut Suwitra, SE
NIP. 197904272001121003
by admin | Sep 5, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Nomor: 1194/IT5.1/DT/2011
Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar bahwa:
1. Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) yang sedianya dilakukan sampai dengan tanggal 26 Agustus 2011 diperpanjang sampai dengan tanggal 8 September 2011
- Masa Perubahan Kartu Rencana Studi (KRS) dilaksanakan mulai tanggal 12 – 16 September 2011;
- Pendaftaran Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2011/2012 diperpanjang sampai dengan tanggal 8 September 2011.
- Pengarahan Tugas Akhir (TA) dari PD I tanggal 15 September 2011, jam 10.00 Wita di Gedung PUSDOK ISI Denpasar;
- Masa Perkuliahan Semester Ganjil 2011/2012 dimulai tanggal 12 September 2011;
Demikian kami sampaikan untuk dapat dilaksanakan. Terimakasih.
Denpasar, 5 September 2011
A.n. Dekan
Pembantu Dekan I,
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by dwigunawati | Sep 5, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Ketut Jully Artawan
Nim : 200701014
Program Studi : Seni Tari
Sinopsis :
Menceritakan tentang seekor kera yang dipelihara oleh sepasang suami istri, dimana sang istri sangat menyayangi peliharaannya. Karena rasa sayang yang diberikan begitu besar sehingga menimbulkan rasa cinta dan keinginan untuk menjadi manusia dengan harapan bisa memiliki istri dari majikannya. Amarah si kera muncul ketika melihat majikannya bercinta dan kemudian terjadi penyerangan dari kera terhadap majikan laki-lakinya dan akhirnya si kera kalah dan menyadari bahwa dia tidak dapat melawan kodratnya sebagai kera.
Pendukung Tari : Mahasiswa Institut SeniIndonesiaDenpasar
- I Gusti Ngurah Bagus Suryaningrat
- Ni Wayan Ari Cintia Dewi
Penata Karawitan : I Wayan Ari Wijaya, S.Sn
Pendukung Karawitan : Palawara Music Company
Pendukung Vokal : Mahasiswa Universitas Udayana dan SMKN 5 Denpasar


by admin | Sep 5, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS. Seni Karawitan, ISI Denpasar
Pada masa lampu, tari Legong atau Legong Kraton identik dengan desa Sukawati. Keberadaan tari klasik Bali yang keindahannya dikagumi masyarakat dunia ini, diduga kuat lahir dan berkembang dari desa ini. Adalah tiga orang seniman setempat, Anak Agung Rai Perit, I Made Duaja, dan Dewa Blacing dikenal sebagai pelatih Legong yang termasyur hingga ke seluruh Bali. Pada tahun 1920-an, para penari dari Buleleng, Karangasem, dan Badung banyak yang datang belajar Legong Kraton di Sukawati. Namun kini, setelah sekian lama berlalu, jejak-jejak kejayaan Legong tak meninggalkan bekas di desa tersebut. Sukawati kehilangan kerling Legong-nya. Sukawati kini kesohor dengan gemerincing industri budaya, pasar seni.
Legong tak termasuk menjadi komoditi estetik di tengah riuh penjajaan industri budaya hampir di setiap lekuk desa Sukawati. Legong Kraton mungkin hanya masih menjadi romantisme masa lalu. Rabu (20/7) malam lalu misalnya, beberapa meter dari pasar seni Sukawati, di sebuah pura yang menyelenggarakan ritual keagamaan, ditampilkan aneka tarian dengan aksentuasi tari Legong yaitu Legong Lasem dan Legong Kuntul. Legong Lasem yang bertema cinta asmara dan Legong Kuntul yang bertutur tentang canda ria sekawanan burung bangau tersebut dibawakan begitu apik oleh para mahasiswi ISI Denpasar. Kendati mampu menebar decak kagum, akan tetapi penonton–masyarakat Sukawati generasi masa kini–terasa tak memiliki ikatan batin lagi dengan masterpiece tari Bali ini.
Pada tahun 1950-an, sebuah pementasan tari Legong sangat dielu-elukan masyarakat penonton desa Sukawati. Seluruh detail estetik dan rona artistik dalam pementasan legong dinikmati cermat oleh segenap penonton. Dari gelungan hingga kain yang dikenakan penari disimak rinci. Bahkan bagaimana aroma bedak dan keringat para penarinya juga diendus penonton. Kepiawaian para penari Legong dipuja-puji. Bagaimana energik dan lincahnya pemeran Condong ketika berloncat-loncat di atas kursi jadi burung garuda dalam Legong Lasem disaksikan sarat perhatian. Legong pemeran Condong, Desak Putu Gabrig, begitu tenar pada saat itu.
Binar Legong Sukawati kini memang telah redup. Ketenaran Desak Putu Gabrig yang kini telah uzur–malam itu turut menyaksikan tari Legong yang disuguhkan ISI Denpasar–tak begitu dikenali lagi oleh masyarakat Sukawati generasi berumur 50 tahun ke bawah. Masyarakat Sukawati generasi usia produktif masa kini mungkin lebih mengenal para selebriti seni pentas hiburan populer layar kaca, seperti masyarakat Indonesia pada umumnya yang tak hirau lagi dengan ekspresi artistik komunal tradisinya. Desa Sukawati dengan pasar seninya yang kini menjadi pusat perbelanjaan industri budaya turis domestik dan mancanergara, lebih sibuk dengan pragmatisme transaksi komoditi estetik tetapi di sisi lain kehilangan ikon seni adi luhungnya, Legong Kraton, yang, merintih.
Sejatinya, desa Sukawati sangat wajar mengusung tari Legong sebagai maskotnya. Kendati perlu kajian yang lebih mendalam, sejarah lahirnya dan berkembangnya tari yang banyak disebut-sebut dalam terminologi seni pertunjukan dunia ini, adalah berputar-putar di Sukawati. Babad Sukawati menyodorkan kisah seorang raja Sukawati, Anak Agung Made Karna, pada akhir abad ke 19, yang bersemadi khusuk di sebuah taman yang sejuk di Ketewel, Sukawati. Dalam yoga semadinya itu ia melihat para bidadari menari gemulai. Dari semadi beliau inilah konon diterjemahkan oleh para seniman kraton Sukawati menjadi karya seni topeng berparis cantik yang kemudian ditarikan oleh para penari gadis belia. Tari yang memakai topeng canggem ini—mengenakan dengan cara menggigit—hingga kini disakralkan di Pura Payogan Agung Ketewel. Masyarakat setempat dengan takzim menyebut Topeng Legong.
Hingga kini belum jelas, sejak kapan tari legong yang tanpa topeng muncul dan berkembang. Ada yang menyebut melalui evolusi Gandrung, sejenis tari pergaulan yang dibawakan para seniman pria. Tapi yang jelas pada tahun 1920-an, Sukawati dikenal sebagai pusat pengembangan Legong yang dibina oleh Anak Agung Perit, Made Duaja, dan Dewa Blacing. Namun sejak berpulangnya ketiga tokoh legong Sukawati tersebut, pamor seni pertunjukan ini di Sukawati kian pudar. Lebih-lebih setelah munculnya trend seni kebyar yang menyerang dari Bali Utara, tari legong sebagai genre seni pentas masyarakat Bali Selatan kian tenggelam. Sukawati sebagai persemaian Legong pun kemudian hanya tinggal mewarisi nama saja.
Ketika kini beragam pilihan seni dan hiburam meruyak ke rumah-rumah lewat televisi dan media audio-visual sejenisnya, membuat Legong kian tergusur, seperti juga dialami kesenian Bali lainnya. Kendati demikian, respek dan mengakuan terhadap keadiluhungan tari ini masih ada. Pesta Kesenian Bali (PKB) masih berusaha menampilkannya. ISI Denpasar, selain merekonstruksi dan mensosialisasikan Legong Kraton di tengah masyarakat Bali, juga menjadikannya sumber inspirasi dalam pengembangan seni pentas yang disebut tari Palegongan. Diharapkan, Desa Sukawati sebagai ibu kandung Legong, semestinya tak hanya mengenang tari ini dalam wujud patung beton yang di pajang di pintu masuk desa sebelah selatan. Sebagai desa yang dulu pernah menjadi kantong Legong yang berwibawa, diharapkan, Legong Kraton tidak hanya dikomoditifikasi dalam kemasan lukisan, baju kaos, relief kayu, dan patung, melainkan direaktualisasikan dan diinternalisasikan secara kongkret di tengah masyarakatnya, khususnya pada generasi muda. Bukan hanya dijadikan media romantisme semu.
Legong Kraton Merintih Di Tengah Pasar Seni, selengkapnya