by dwigunawati | Sep 13, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Gusti Ngurah Nyoman Wagista
NIM : 2004 01 03 1 003
Program Studi : Seni Pedalangan
Sinopsis :
Menceritakan tentang diutusnya Ki Pasung Grigis, seorang Maha Patih Bali Aga yang merupakan tawanan kerajaan Wilatikta untuk menundukkan Kerajaan Sumbawa dibawah pimpinan Raja Dedela Nata. Karena menjalankan Dharmaning Kesatria, beliaupun bersedia diangkat menjadi panglima perang. Dengan gagah berani karena mengemban tugas mulia untuk menyatukan Nusantara dan mewujudkan Sumpah Amukti Palapa, Ki Pasung Grigis menuju Sumbawa dan berperang melawan Dedela Natha yang akhirnya kedua kesatria ini gugur dalam medan perang.
Pendukung Pedalangan : Mahasiswa Semester II Jurusan Pedalangan FSP ISI Denpasar.
Penata Karawitan : I Made Subandi, SSn
Pendukung Karawitan : Sanggar Genta Semara Murti



by admin | Sep 12, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ayu Herliana, PS. Seni Tari ISI Denpasar
Sebelum awal mula dari Tari Telek Anak-Anak dijelaskan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai Desa Jumpai itu sendiri. Menurut informasi yang diberikan oleh Bapak I Wayan Marpa, selaku Bendesa Adat Desa Jumpai Klungkung, menjelaskan tentang sejarah Desa Jumpai secara singkat, sebagai berikut.
Pada zaman kerajaan dahulu, terdapatlah salah satu kerajaan bernama kerajaan Majapahit. Kerajaan tersebut mempunyai seorang patih, ia bernama maha patih Gajah Mada. Suatu hari, Patih Gajah Mada meminta Mpu Kresna Kepakisan untuk datang ke Bali untuk menjadi Raja di Bali. Alasannya, karena Mpu Kresna Kepakisan memiliki hubungan yang baik dan memiliki kesaktian yang sama dengan dirinya (Patih Gajah Mada). Mpu Kresna Kepakisan mempunyai empat (4) anak, yaitu:
- Dalem Dirum menjadi Raja Blangbangan
- Delem Made Pasuruhan menjadi Raja Pasuruhan
- Dalem Watu Muter menjadi Raja Sumbawa
- Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi Raja Majalangu
Salah satu anak beliau, yaitu Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang menjadi Raja Majalangu menikah dengan Ni Gayatri. Kemudian mempunyai anak yang bernama I Pasek Bon Dalem Samanjaya. Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan oleh Patih Gajah Mada didaulat menjadi Raja Bali dengan para pengikut Arya Makabehan juga disertai dengan anak beliau I Pasek Bon Dalem Samanjaya yang menjadi juragan. Pertama kali beliau datang ke Bali turun di pasisir Desa Langkung (Lebih). Disana beliau pergi ke Utara, tiba di Samprangan dan menjadi Raja Samprangan. I Pasek Bon Dalem Samanjaya adalah bermata pencaharian sebagai nelayan. Ia lalu meminta kepada Raja Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan (ayahnya) untuk mencari tempat di dekat pantai, karena tempat ia tinggal jauh dari samudra. Mulai sejak itu, anak dari Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan, yaitu I Pasek Bon Dalem diberi gelar I Pasek Bendega Dalem Samanjaya. Beliau mencari tempat di dekat pasisir pantai menemukan tempat yang bernama Cedokan Boga. Di sana para leluhur pertama tinggal. Akan tetapi, sekian lama tinggal di Cedokan Boga, I Pasek Bendega Dalem Samanjaya mencari tempat lagi bergeser ke Timur menemukan tempat yang bernama Njung Pahit (Jumpai). Kemudian bergeser ke sebelah Timur sesuai dengan posisi Desa Jumpai sekarang yang terdiri dari lima banjar (Dusun), antara lain: (1) Banjar Jumpai Gunung, (2) Banjar Jumpai Kanginan, (3) Banjar Jumpai Tengah, (4) Banjar Jumpai Kawanan, dan (5) Banjar Jumpai Kekeran. Dikarenakan berbagai musibah, pada suatu masa itu di Desa Jumpai mengalami wabah penyakit hingga menyebabkan rakyat yang berjumlah 800 orang menjadi 300 orang. Karena banyak yang meninggal, beberapa dari warga Desa Jumpai meninggalkan desa dan beralih ke Badung, Cemagi, Seseh, dan Semawang. Banjar pun menciut dari lima banjar menjadi dua banjar, sampai sekarang bernama Desa Jumpai.
Demikian ulasan singkat tentang sejarah terjadinya Desa Jumpai, Klungkung.
Desa Jumpai, Klungkung merupakan salah satu desa dari sekian banyak desa yang ada di wilayah Kabupaten Klungkung, dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Gelgel
Sebelah Barat : Subak Pegatepan
Sebelah Timur : Tukad Unda
Sebelah Selatan : Segara/ Laut
Potensi Desa Jumpai
Luas wilayah Desa Jumpai kira-kira 213.306 Ha/Km2 dengan keadaan tanah yang sangat subur yang terdiri dari tanah perumahaan, persawahan, perkebunan sebagian lainnya pantai. Iklim Desa Jumpai cukup sedang dan keadaan tanah cukup subur.
Kehidupan penduduk Desa Jumpai pada umumnya ditopang oleh mata pencaharian secara mayoritas dalam bidang pertanian, selebihnya adalah jasa pertukangan, pegawai negeri, dan karyawan swasta serta wiraswasta.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memacu masyarakat di Desa Jumpai untuk meningkatkan pengetahuan baik lewat jalur formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal di Desa Jumpai telah berdiri sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), sebuah Sekolah Dasar (SD), dan sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
Lewat pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah dimaksudkan untuk mengajari siswa-siswa keterampilan lain di luar jam sekolah. Maka dari itu telah berdiri sebuah pesraman yang menampung anak-anak yang ingin mengetahui hal-hal baru yang berkaitan dengan segala macam pelajaran mulai dari pendidikan ilmu pengetahuan, bahasa, etika, dan sopan santun, keterampilan putra dan putri dan agama.
Dalam bidang kesenian, di Desa Jumpai juga memiliki potensi dalam bidang tersebut. Kesenian merupakan suatu khas tradisi suatu desa dimana setiap tahunnya mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan jamannya dengan tanpa menghilangkan unsur-unsur keasliannya. Kesenian juga merupakan media masa baik itu dipergunakan untuk keagamaan maupun dalam kegiatan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah harus mendapatkan perhatian. Pembinaan secara rutin itu harus mendapatkan perhatian pembinaan itu datang dari pihak pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.
Kelembagaan Desa Jumpai sudah berjalan dengan baik, hal ini dapat ditinjau dengan adanya koordinasi yang baik diantara lembaga-lembaga yang ada, baik lembaga formal maupun non formal. Di Desa Jumpai banyak terdapat Organisasi Kemasyarakatan yang keseluruhannya adalah untuk menunjang pembangunan secara umum sesuai dengan bentuk organisasi tersebut. Dalam hal ini organisasi yang terdapat di Desa Jumpai meliputi: kelompok kesenian Gong Kebyar 2 sekaha untuk 1 desa dan sanggar tari 1 buah. Selain di bidang kesenian, Desa Jumpai juga perpotensi di bidang olahraga. Banjar Kanginan pernah berhasil mendapatkan juara I turnamen voly untuk tingkat sekabupaten dan Banjar Kawan berhasil mendapatkan juara I dibidang olahraga bulutangkis untuk tingkat sekabupaten.
Dari uraian diatas mengenai sejarah Desa Jumpai, maka dapat disimpulkan Desa Jumpai sekarang menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kawan dan Banjar Kangin. Walaupun kedua banjar tersebut berdampingan, namun saat mementaskan Tari Telek Anak-Anak tersebut mereka memiliki penari, tapel Telek, dan pemangku sendiri-sendiri. Hanya saja di Desa Jumpai memiliki satu sesuhunan, yaitu Ida Bhatara Jero Gede (berbentuk Barong) dan kedua banjar tersebut sebagai pengemponnya. Ida Bhatara Jero Gede, Ida Bhatara Lingsir (Rangda), tapel Telek, Jauk, dan Penamprat mempunyai tempat khusus jika tidak mesolah, yaitu disineb di Pura Dalem Penyimpenan.
Tari Telek yang merupakan kesenian tradisional, asal usulnya tidak diketahui secara pasti, hal ini disebabkan oleh kurangnya data yang mengungkapkan asal mula tarian ini. Di dalam mengungkapkan awal mula timbulnya Tari Telek Anak-Anak di Desa Jumpai, akan berpedoman kepada informasi yang diberikan oleh beberapa nara sumber yang berasal dari daerah lingkungan objek penelitian ini. Di samping itu, informasi yang didapat di lapangan juga akan dibandingkan dengan sumber-sumber literatur yang ada kaitannya dengan Tari Telek di Bali. Meskipun demikian, Tari Telek di Desa Jumpai diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 1935 sampai sekarang. Tarian ini dijadikan pelengkap upacara keagamaan di pura-pura di lingkungan masyarakat Jumpai, dan juga Tari Telek ini mempunyai hubungan erat dengan Barong Ket dalam pementasannya yang juga merupakan sesuhunan Desa Jumpai tersebut.
Awal Mula Tari Telek Anak Anak Di Desa Jumpai Klungkung selengkapnya
by admin | Sep 12, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Ni Luh Lisa Susanti Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar
Karya tari kreasi Palegongan Kembang Ratna memiliki elemen penting sebagai materi pokok yang patut dianalisa, yaitu gerak, karena dalam penampilannya gerak tersebut yang menjadi media ungkapnya sehingga mudah dicerna oleh penikmatnya. Perbendaharaan gerak pada tari kreasi Palegongan Kembang Ratna sudah terdapat pengembangan sesuai kebutuhan garapan sebagai hasil adanya rangsangan kreatif yang muncul dari dalam diri penata. Perbendaharaan gerak dalam garapan ini diharapkan dapat menjadi satu kesatuan yang utuh agar garapan dapat terlihat menarik.
Adapun pengembangan gerak terdapat pada gerak murni, yaitu gerak tari yang mempunyai bentuk artistik dan tidak mengandung arti. Gerak murni dalam garapan ini dominan dapat dilihat pada bagian pengawit, pengawak, serta pekaad, seperti gerakan ngukel, ngotag, ngelo, dan miles. Sedangkan gerak maknawi, yang merupakan gerakan yang sudah diolah menjadi bentuk artistik dan mengandung arti, dominan dapat dilihat pada bagian pepeson, pengecet, dan pengetog. Beberapa motif gerak maknawi yang digunakan pada garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut :
- Gerak yang menggambarkan keagungan bunga ratna
- Nabdab gelung : gerakan tangan seperti memperbaiki gelungan (posisi satu tangan menyentuh gelungan), yang didukung dengan ekspresi mata dibuka dan tersenyum (manis rengu).
- Agem ratna : sikap pokok yang digunakan pada garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna yaitu posisi kaki seperti agem kanan pada umumnya, posisi tangan kiri ngelung ke atas sejajar dengan kepala, posisi tangan kanan mahpah biu dengan kipas menghadap atas.
- Gerak yang menggambarkan keindahan bunga ratna
- Ngembang tangan : gerakan tangan yang diawali dengan posisi tangan ngiluk di depan dada, kemudian tangan diputar silih berganti diikuti dengan kaki melangkah ke depan.
- Hempas tangan mengalun ke atas : gerakan tangan yang diawali dengan posisi tangan di bahu kemudian dihempaskan ke atas.
- Gerak yang menggambarkan kelayuan dan kerapuhan bunga ratna
a. Gerakan kenser sambil berputar ke kanan dengan posisi kipas ngiluk naik turun.
b. Gerakan matimpuh, diikuti liukan badan dan agem mentang tangan bawah dengan ekspresi sedih.
c. Gerakan bangun silih berganti dengan kipas ngeliput dan ngiluk (ruang gerak agak tertutup).
Gerakan-gerakan di atas menunjukkan adanya pengembangan dari gerak-gerak tari Legong yang telah ada, dan disesuaikan dengan kebutuhan garapan. Perbendaharaan gerak ini juga didukung dengan desain koreografi untuk dapat mewujudkan keutuhan dalam garapan.
Desain Koreografi
Mewujudkan suatu garapan tari yang berkualitas, tidak hanya menggunakan dan memikirkan gerakan, namun juga perlu dipikirkan mengenai desain koreografi yang digunakan. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna termasuk dalam komposisi tari kelompok, dengan fondasi pokoknya yaitu desain lantai. Adapun motif-motif desain yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut :
- Desain serempak (unison)
Desain serempak atau unison merupakan desain yang mengutamakan kekompakan, kebersamaan atau keseragaman. Desain ini dipergunakan pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna.
- Desain bergantian (canon)
Desain bergantian atau canon merupakan desain yang dilakukan secara bergantian antara penari satu dengan penari lain secara susul-menyusul. Desain ini ada pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna.
- Desain terpecah (broken)
Desain terpecah atau broken merupakan desain yang memberikan kesan ketidakberaturan. Desain ini digunakan pada bagian pengecet.
- Desain berimbang (balanced)
Desain yang membagi penari menjadi dua kelompok yang simetris, dengan motif dan daerah yang berimbang. Desain ini dilakukan pada bagian pengawak.
Analisa Estetis
Keindahan merupakan sesuatu hal yang membuat seseorang menjadi senang, enak dipandang, dan menimbulkan rasa bahagia bagi penikmatnya. Penilaian terhadap keindahan tergantung bagaimana perkembangan pola pikir masyarakat yang menikmati karena masing-masing orang mempunyai cara pandang atau persepsi yang berbeda. Pada dasarnya, seseorang yang menikmati sebuah karya biasanya lebih mengutamakan nilai keindahan, sehingga penata harus dapat menampilkan unsur-unsur keindahan. Adapun tiga unsur keindahan pada karya seni yang harus diperhatikan, yaitu wujud, bobot, dan penampilan. Wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur, bobot dapat diamati melalui tiga aspek yaitu suasana, gagasan, dan pesan, sedangkan dalam penampilan ada tiga unsur yang berperan, yaitu bakat, keterampilan, dan sarana atau media.
1. Wujud
Wujud adalah sesuatu hal yang dapat dilihat dan dapat didengar. Wujud dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata dan telinga. Dalam hal ini wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur sebuah karya seni.
Garapan Kembang Ratna berbentuk tari kreasi Palegongan, yang ditarikan secara berkelompok oleh 7 (tujuh) orang penari putri. Struktur garapannya terdiri dari 6 (enam) bagian, yaitu pengawit, pepeson, pengawak, pengecet, pengetog, dan pekaad. Struktur garapan tentu disesuaikan dengan konsep garapannya sehingga antara bagian satu dengan lainnya saling berhubungan (koheren).
2. Bobot
Bobot dalam hal ini merupakan isi yang terkandung dalam karya seni. Bobot tidak hanya saja sekedar melihat, namun penikmat juga perlu mendapat sesuatu setelah menonton karya seni tersebut. Bobot terdiri dari tiga aspek, yaitu gagasan, suasana, dan pesan. Dalam karya seni, bobot sangat penting adanya agar karya seni yang dipertunjukkan memiliki nilai dan kualitas yang baik. Karya seni berbobot tentu harus memperhatikan bagaimana penyampaiannya kepada penikmat, sehingga antara karya seni dengan penikmat terdapat adanya jalinan komunikasi.
Gagasan dalam hal ini sama halnya dengan ide. Gagasan menyangkut hasil pemikiran dan inspirasi yang didapat oleh penatanya. Gagasan atau ide garapan tari Kembang Ratna adalah membuat sebuah garapan tari kreasi Palegongan yang terinspirasi pada gerakan luwes dalam Legong klasik, dan tidak masih terikat pada pakem Legong yang ada. Penata berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan yang penata miliki dengan adanya alternatif baru dalam tari kreasi Palegongan yang digarap.
Suasana yang ingin disampaikan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna bervariasi. Hal ini bertujuan agar suasana pada setiap bagiannya tidak terkesan monoton dan penikmat tidak merasakan jenuh jika suasana garapan tari Kembang Ratna dapat berbeda. Suasana ini tentunya disesuaikan dengan ide, konsep, dan kebutuhan garapan. Pada bagian pengawit, suasana yang ditampilkan adalah suasana tenang yang menggambarkan bunga ratna tumbuh dari bibitnya dan hidup subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya. Pada bagian pepeson, suasana yang ingin ditampilkan adalah suasana agung, yang menggambarkan keagungan dari bunga ratna karena digunakan sebagai sarana upacara. Suasana tenang ditampilkan pada bagian pengawak, yang menggambarkan kesederhanaan bunga ratna karena bunga ratna memiliki bentuk yang kecil. Suasana gembira ditampilkan pada bagian pengecet, yang menggambarkan keindahan bunga ratna. Bagian pengetog yang menggambarkan kelayuan dan kerapuhan bunga ratna akibat dipetik setelah digunakan sebagai sarana upacara divisualisasikan dengan gerakan pelan dan hempasan badan yang dominan dilakukan pada level bawah dengan suasana sedih (sayu). Pada bagian terakhir yaitu pekaad, suasana yang ditampilkan adalah suasana gembira, yang menggambarkan bunga ratna tumbuh kembali dari biji bunga ratna yang berserakan menjadi bunga ratna baru.
Pesan yang ingin disampaikan kepada penikmat melalui garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah dalam kehidupan ini, makhluk hidup semua sama di hadapan Tuhan karena semua diciptakan dan melalui proses yang sama yaitu lahir, hidup, dan mati. Begitulah seterusnya dan selalu berulang-ulang, demikian pula halnya dengan bunga ratna. Maka dari itu, kita sebagai sesama makhluk hidup jangan melakukan tindakan semena-mena terhadap makhluk hidup lainnya, karena setiap mahluk hidup saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, seperti halnya bunga ratna yang dibutuhkan sebagai sarana upacara.
Analisa Materi Garapan Kembang Ratna, selengkapnya
by admin | Sep 12, 2011 | Berita, pengumuman
UPT Puskom ISI Denpasar menerima berbagai naskah artikel seni budaya untuk di muat di web ISI Denpasar dengan alamat http://www.isi-dps.ac.id. Adapun persyaratan naskah artikel terdapat dalam lampiran. Demikianlah surat permohonan ini dimuat, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
PERSYARATAN NASKAH UNTUK ARTIKEL WEB
1. Artikel merupakan/diangkat dari hasil penelitian, book review, review seni budaya atau yang setara dengan hasil penelitian di bidang seni budaya.
2. Artikel ditulis dengan bahasa Indonesia, minimal 2 halaman, 1 spasi, dengan bentuk huruf Times New Roman dan Font 12 pada Program Microsoft Word.
3. Artikel memuat:
– Judul
– Nama Penulis
– Kata-kata kunci
– Jika ada kutipan dibuat di Catatan Akhir ( End Note).
4. Gambar, tabel, grafik, peta, foto, video, audio dan ilustrasi disajikan dengan ketentuan:
– Foto untuk gambar harus tajam.
– Ukuran Gambar, tabel, grafik, peta, foto, video, audio dan ilustrasi dan sebagainya maksimal berukuran 600 pixle dan atau dengan besar file maximum 200 Mb (file audio dalam format wav, sedangkan file video dalam format avi)
– Gambar dan keterangannya diletakkan dalam file terpisah.
5. Artikel belum pernah dipublikasikan atau dimuat dalam media online. Atau belum pernah dimuat di terbitkan dalam berbagai jurnal di ISI Denpasar.
7. Artikel diserahkan ke Puskom ISI Denpasar Lt. 2 berupa CD atau dikirim ke alamat email [email protected] dengan judul “Artikel Web”, dengan melengkapi data diri berupa:
– Nama Lengkap
– Alamat Email
– Nomer Rekening
– Surat Pernyataan Keaslian Artikel , dan belum pernah dimuat di media online serta di berbagai Jurna ISI Denpasar.
8. Kepastian pemuatan atau penolakan akan diberitahukan secara tertulis melalui email. Penulis yang artikelnya dimuat akan mendapat imbalan berupa uang.
Surat pernyataan
by admin | Sep 11, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Ni Wayan Ekaliani, Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar
Tata rias dan busana dalam seni pertunjukan selain berfungsi memperindah, memperkuat karakter juga menunjang nilai-nilai filosofis, nilai simbolik dari tari tersebut. Dalam buku Ensiklopedi Tari Bali, telah dijelaskan bahwa busana adalah faktor yang sangat penting dalam tari Bali, karena melalui busana penonton akan dapat mengetahui identitas dari suatu tarian atau penonton dapat membedakan tokoh atau karakter yang ditampilkan.
Dalam suatu pementasan seni tari, khususnya seni tari Bali, elemen tata rias kostum sangat diperlukan dan juga sangat penting guna memperindah suatu pertunjukan seni tari. Tata rias dan busana juga bisa digunakan untuk membedakan atau mencirikan jenis tarian tersebut. Misalnya dengan melihat tata rias dan busananya kita bisa menggolongkan apakah tarian tersebut termasuk ke dalam kategori tari putri, tari putra, ataupun tari bebancihan. Melalui tata rias dan kostum juga bisa menentukan sebuah karakter yang dibawakan. Di dalam sebuah pertun-jukan, tata rias dan busana juga bisa membantu untuk merubah karakternya baik menjadi cantik, tampan, jelek, ataupun lucu sesuai keinginan dari si pelakunya. Oleh karena itu elemen kostum memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah pertunjukan.
Dari wawancara dengan I Wayan Jejel, pada tgl 3 Januari 2011 di rumahnya, salah satu informan tari Legong Sambeh Bintang menjelaskan bahwa :
“…dahulu Tarian ini hanya menggunakan tata rias seadanya hanya menggunakan gecek putih di dahi. Namun sekarang para penari mempergunakan pensil alis, bedak, merah pipi, dan lain-lainnya”.
Dari pernyataan tersebut tampak bahwa tata rias tari Legong Sambeh Bintang telah mengalami perkembangan sesuai dengan zaman sekarang, yakni menggunakan alat-alat tata rias masa kini, antara lain : memakai bedak warna terang, memasang rouge di pipi, membentuk kedua alis karakter halus, memasang bayangan mata/eye shadow biru, memakai lipstik warna merah.
Melalui busana yang digunakan suatu tarian dapat diketahui karakter tarian yang ditampilkan. Busana yang digunakan dalamTari Legong Sambeh Bintang ini, di antaranya adalah gelungan, gelang tangan, kain kancan (tutup dada), selendang kuning diikat ujungnya di kelingking, sabuk dalam (stagen), selendang warna-warni.
- Gelungan atau hiasan kepala tari Legong Sambeh Bintang terbuat dari ron/janur berhiaskan bunga dan daun puring (dedaunan) yang ditata membentuk gelungan yang dihiasi plendo (batang ketela pohon yang dikuliti) dipotong-potong ber-bentuk uang kepeng, diberi warna merah, hijau, putih kemudian dipadukan dengan bunga-bungaan sebagai hiasan kepala penari, sebagaimana tampak dalam foto di bawah ini.
Gambar tersebut di atas adalah hiasan kepala dari tari Legong Sambeh Bintang jika dilihat dari arah depan. Tampak hiasan, kepala yang digunakan tarian ini sangat unik karena selain bahan yang digunakan juga tampak dari cara penyusunan bahan-bahan tersebut yang mengandung nilai filosofis keseimbangan dengan alam lingkungan dari tempat mereka berada. Begitu pula jika hiasan kepala tari Legong Sambeh Bintang ini diamati dari arah belakang. Selain bentuknya unik, juga tampak susunan plendo yang dipasang tersebut sangat indah, sebagaimana tampak dalam foto di bawah ini.
- 2. Kain songket adalah nama jenis kain tenunan tradisional Bali yang ditenun dengan menggunakan benang warna, benang emas, atau benang perak. Kain ini dililitkan di pinggul penari kemudian diikat stagen agar tidak lepas. Berikut di bawah ini adalah foto kain yang digunakan dalam tari Legong Sambeh Bintang.
3. Kain selendang kuning yang digunakan untuk membungkus pinggang penari hingga di atas lutut disebut dengan kain kancan. Kain Kancan adalah sebuah kain tenunan tradisional Bali yang terbuat dari benang warna kuning ditenun seperti songket. Lihat gambar 10 penari menggunakan kain kancan.
4. Selendang warna-warni sebagai hiasan selendang yang dililitkan di pinggang penari yang terbuat dari kain satin berwarna-warni digunakan untuk menari secara bergantian dengan selendang kuning. Pada gambar 11 adalah gambar penari mempergunakan selendang warna-warni.
5. Gelang sebagai hiasan tangan terbuat dari perak bewarna putih dengan bentuk bulat berhiaskan ukiran tradisional Bali dengan berat 25 gram. Gelang ini digunakan sebagai hiasan pada tangan kanan dan kiri penari. Lihat Pada gambar 12 adalah foto gelang yang digunakan oleh tari Legong Sambeh Bintang.
6. Stagen atau penutup pinggang yang digunakan penari dari pinggang hingga ke dada adalah sabuk tradisional Bali. Sabuk berwarna merah atau pink ini panjangnya kurang lebih 9 meter. Mereka menggunakan warna pink atau merah agar kelihatan seragam dan indah. Berikut di bawah ini adalah foto stagen tari Legong Sambeh Bintang.
7. Kain penutup dada yang berhiaskan prada digunakan untuk menutup bagian dada penari. Kain ini berukuran 2 meter x 0,5 meter. Berikut di bawah ini adalah foto kain penutup dada yang digunakan oleh tari Legong Sambeh Bintang.
Tata Rias dan Busana Tari Legong Sambeh Bintang selengkapnya
by dwigunawati | Sep 11, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Wayan Sudana
Nim : 2007 02 005
Program Studi : Seni Karawitam
Sinopsis :
Damai, aman dan sejahtera, merupakan suatu hal yang sulit dicapai pada saat ini. Hal itu tak lepas dari sifat manusia yang kurang berpikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga hanya pertikainlah yang selalu menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan.
Dari realita itulah karya seni music Cymbran Show ini tercipta. Dengan mempergunakan media music cymbal dan membrane, penata mencoba untuk mengolah berbagai instrumen seperti kendang, bedug, drum dan cymbal sebagai ungkapan dari realita di atas. Karya ini juga sarat akan makna perdamain dan memberi pesan untuk selalu menjunjung tinggi rasa perdaamain agar semua elemen masyarakat dapat merasakan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera.
Pendukung Karawitan : ST. Dwi Tunggal Ubung.


