by admin | Sep 23, 2011 | Berita
Jakarta, 20 September 2011–Penjurian Lomba Desain Motif Batik Indonesia 2011 digelar hari ini di Gedung D Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional.
Batik merupakan salah satu hasil karya bangsa Indonesia yang dikagumi oleh berbagai bangsa di dunia. Produk budaya Indonesia yang sangat unik ini merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan dibudidayakan. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan memperkenalkan batik kepada generasi muda dan menjadikannya sasaran dalam kegiatan lomba desain motif batik.
Perlombaan ini bertujuan menggali ide kreatif dari mahasiswa dalam merancang motif batik. Selain itu, ajang ini juga di9harapkan meningkatkan kecintaan dan kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian budaya batik. pada jangka panjang, kompetisi ini diharapkan dapat meningkatkan promosi batik khususnya batik bernuasa kearifan lokal yang semakin luas dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kriteria Penilaian ajang ini meliputi motif (keunikan, artistik) (20%), komposisi warna (20%), kreatifitas (proses pembuatan, pewarnaan) (30%), keharmonisan antara judul, sumber ide dan motif (30%). “Batik yang dihargai UNESCO adalah batik yang memiliki filosofi kehidupan bangsanya,” ujar Duta Besar Indonesia untuk UNESCO Tresna Darmawan Kunaefi yang juga menjadi juri ajang ini. Ia berharap perlombaan ini akan memperkaya khasanah budaya batik Indonesia.
Nominasi Pemenang (10 orang) ajang bertajuk “Batik Nusantara Warisan Budaya Indonesia untuk Dunia” ini akan diundang untuk menghadiri “World Batik Summit 2011” tanggal 28 sampai dengan 30 September 2011 di JHCC Jakarta. “Karya Nominator akan dipamerkan pada acara “World Batik Summit 2011” untuk dipilih tiga terbaik oleh peserta seminar,” ujar Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti Illah Sailah.
Pengumuman Pemenang dilaksanakan pada Malam Budaya tanggal 29 September 2011. Pemenang akan memperoleh sertifikat dan dana pembinaan sebesar Rp. 10.000.000 untuk Juara 1. Juara 2 mendapatkan Rp. 7.500.000 dan Juara 3 Rp. 5.000.000. sedangkan Juara Harapan (7 orang) masing-masing mendapatkan Rp. 3.000.000.
Sumber: dikti.go.id
by admin | Sep 22, 2011 | Berita
Jakarta – Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian Pendidikan Nasional menggelar uji publik terhadap rancangan peraturan menteri mengenai tata kelola informasi di Kemdiknas.
Uji publik rancangan peraturan menteri ini mengumpulkan perwakilan eselon satu dan dua di Kemdiknas untuk mendengarkan masukan-masukan dari semua unit utama. Acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemdiknas, Ainun Na’im.
Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemdiknas, Ibnu Hamad, mengatakan, peraturan menteri ini akan menjadi dasar bagi Pusat Informasi dan Humas (PIH) selaku Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID) Kemdiknas untuk mengelola informasi dari dan kepada publik. PIH menjadi PPID di Kemdiknas berdasarkan Keputusan Mendiknas No. 094/P/2010 tentang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di Lingkungan Kemdiknas.
Ibnu mengatakan, selama ini PIH hanya menguasai informasi secara umum dari setiap unit di kementerian. Informasi detail ada di masing-masing unit utama. “Dengan permen ini diharapkan kerjasama antar unit makin baik, hingga pelayanan juga makin baik,” katanya usai memimpin sidang uji publik rancangan peraturan menteri ini di Gedung A Kemdiknas, Senin (19/09).
Ibnu menyampaikan, rancangan peraturan menteri ini telah melalui beberapa tahap hingga bisa sampai ke tahap uji publik. Rancangan pertama masih mencari dimana tata kelola ini akan dituangkan. Rancangan kedua, memberi isi dalam batang tubuh yaitu pasal-pasal dan ayat-ayatnya. Dan beberapa tahap lain yang telah dilalui. “Tahap-tahapnya semakin maju sampai hari ini,” katanya.
Rancangan peraturan menteri yang telah melalui uji publik ini akan disusun kembali oleh PIH dan biro hukum Kemdiknas. Selanjutnya akan diserahkan ke Menteri Pendidikan Nasional untuk diperiksa dan disetujui. Ibnu berharap peraturan tersebut bisa selesai secepatnya, dan tahun depan sudah bisa dijalankan.
Sumber: kemdiknas.go.id
by dwigunawati | Sep 22, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Putu Agustana
Nim : 2006 02 008
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
Semua mahluk hidup diciptakan untuk hidup saling berdampingan, harmonis satu sama lain. Namun tidak jarang keharmonisan itu sendiri bisa ternodai oleh rasa individualisme yang timbul dari adanya perbedaan pendapat. Disharmoni sering digambarkan dengan tingkah laku hidup tikus dan kucing yang dalam edisi film kartun ditokohkan sebagai Tom and Jerry. Terinspirasi dari kehidupan tokoh tersebut timbullah sebuah ide untuk menuangkannya ke dalam garapan komposisi karawitan inovatif yang berjudul ” SATRU MITRA”, dengan mengolah unsur-unsur musikal seperti melodi, ritme, dan tempo yang diintegrasikan ke dalam media gamelan Beleganjur yang menggunakan dua buah saih reong.
Pendukung Karawitan : Sanggar Kumara Muda, Br. Dajan Ten-ten. Kederi Tabanan


by admin | Sep 21, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Lintang Arzia Nur Rachim, Siswa SMAN 1 Kuta Utara
a. Pengertian Norma Sosial
Norma – norma kelompok dan norma – norma sosial tidak akan timbul dengan sendirinya tetapi terbentuk di dalam interaksi sosial antar individu di dalam kelompok sosial. Nilai sosial senantiasa terjadi bersamaan dengan adanya interaksi manusia di dalam kelompok. Dengan kata lain, norma sosial adalah hasil dari interaksi sosial antaranggota suatu kelompok. Oleh karena norma sosial merupakan interaksi dari kelompok, maka nilai sosial sebenarnya sama dengan norma kelompok. Pengertian norma sosial dirumuskan oleh Sherif dalam sebagai pengertian umum yang seragam mengenai cara – cara tingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok apabila mereka dihadapkan dengan situasi yang bersangkut – paut dengan kehidupan kelompok.
Norma sosial merupakan pengertian yang meliputi bermacam-macam hasil interaksi kelompok, baik hasil – hasil interaksi dari kelompok – kelompok yang telah lampau maupun hasil interaksi kelompok yang sedang berlangsung. Termasuk semua nilai sosial, adat istiadat, tradisi, kebiasaan, konvensi, dan lain-lain. Norma sosial adalah patokan-patokan umum mengenai tingkah laku dan sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap mengenai segala situasi yang dihadapi oleh anggota-anggota kelompok.
Soetandyo Wignjosoebroto dalam menyatakan bahwa norma tidak lain adalah konstruksi-konstruksi imajinasi. Artinya, suatu konstruksi yang hanya ada karena dibayangkan di dalam pikiran-pikiran dan banyak dipengaruhi oleh daya kreatif mental, namun norma-norma sebagai keharusan, yang bertujuan merealisasikan imajinasi mental kewujud konkrit di alam kenyataan haruslah memahami betul alam realita dan fakta. Sedangkan Soerjono Soekanto menyatakan bahwa supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka dirumuskan norma-norma masyarakat. Mula-mula norma-norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja. Namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Norma-norma yang ada di dalam masyarakat, mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang lemah, yang sedang sampai yang terkuat daya ikatnya.
Norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Norma disebut pula peraturan sosial menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam manjalani interaksi sosialnya. Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk sejak lama. Norma tidak boleh dilanggar. Siapa yang melanggar norma atau tidak bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam norma, akan memperoleh hukuman. Norma merupakan hasil buatan manusia sebagai makhluk sosial. Pada awalnya, aturan dibentuk secara tidak sengaja. Lamakelamaan norma-norma disusun atau dibentuk secara sadar. Norma dalam masyarakatberisi tata tertib, aturan, petunjuk standar perilaku yang pantas atau wajar. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan. Misalnya, cara makan, bergaul, berpakaian merupakan norma-norma yang menjadi acuan dalam berinteraksi.
b. Tingkat Norma Sosial
Berdasarkan tingkatannya, norma di dalam masyarakat dibedakan menjadi empat.
- Cara (usage)
Cara adalah suatu bentuk perbuatan yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus menerus.
- Kebiasaan (folkways)
Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar.
- Tata kelakuan (mores)
Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan lain. Fungsinya sebagai alat agar para anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.
Fungsi tata kelakuan dalam masyarakat adalah sebagai berikut.
a) Memberikan batasan pada perilaku individu dalam masyarakat tertentu.
b) Mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan tata kelakuan yang berlaku di dalam kelompoknya.
c) Membentuk solidaritas antara anggota-anggota masyarakat dan sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerjasama antara anggotaanggota yang bergaul dalam masyarakat.
d) Memberikan seperangkat alat untuk menetapkan harga social dari suatu kelompok.
e) Mengarahkan masyarakat dalam berfikir dan bertingkahlaku.
f) Merupakan penentu akhir bagi manusia dalam memenuhi peranan sosialnya.
g) Sebagai alat solidaritas bagi kelompok.
h) Sebagai alat kontrol perilaku manusia
Norma Sosial selengkapnya
by dwigunawati | Sep 21, 2011 | Berita, pengumuman
Bogor – Minggu, 18 September 2011 02:15 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pada masa depan Indonesia dapat dikenal oleh dunia melalui keunikan atau kekhasannya yang sekaligus menjadi pertanda keunggulannya di antara bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam sambutannya pada Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional 2011 di Istana Bogor, Sabtu, Presiden Yudhoyono mengatakan keunikan atau kekhasan bangsa itu bisa juga menjadi kekuatan dalam dunia diplomasi.
“Saya ingin dunia di masa depan semakin mengenal Indonesia dan Indonesia semakin bisa memperkenalkan dirinya yang tidak kalah dalam keunikan, kekhasan, dan keunggulannya,” ujarnya.
Indonesia, lanjut Presiden, dapat dikenali oleh dunia melalui beragam kebudayaan yang kini telah diakui menjadi warisan dunia yaitu batik dan angklung.
Menurut Kepala Negara, masih banyak lagi produk Indonesia yang bisa dikenalkan oleh dunia dan akhirnya melekat dengan Indonesia seperti kopi luwak yang digemari oleh banyak masyarakat internasional dan kini menjadi salah satu kopi termahal di dunia.
“Indonesia memiliki banyak keunggulan, kekhasan, yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain. Dalam kehidupan antar-bangsa, sering sebuah bangsa dikenal karena kekhasan dan keunggulannya,” tuturnya.
Presiden mencontohkan seperti orang yang langsung mengingat Amerika Serikat apabila mendengar Coca-Cola atau Hollywood, atau teringat India apabila mengdengar Bollywood, maka Indonesia juga bisa langsung diingat oleh dunia melalui produk-produk unggulannya.
Kepala negara dalam sambutannya juga menyatakan pentingnya pendidikan seni dan budaya sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa. Seni, menurut dia, adalah salah satu cara untuk membentuk hati dan pikiran manusia guna membangun watak dan perilaku yang cinta damai, berkasih sayang, serta saling toleransi.
“Hakikat pendidikan sesungguhnya adalah mendidik hati dan pikiran kita. Sejak dini kita tanamkan dalam hati sanubari anak-anak kita dan pikiran anak-anak kita itu untuk benar-benar menjadi manusia yang utuh,” tuturnya.
Untuk itu, Presiden Yudhoyono tetap mendukung kegiatan seni dan budaya seperti Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional yang akan rutin digelar setiap tahun.
Bahkan, Kepala Negara yang hadir didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono berencana untuk mengumpulkan semua peserta Lomba Cipta Seni Pelajar yang telah diselenggarakan sejak 2006 itu untuk memamerkan karya-karya mereka pada 2014.
Lomba yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia itu terbagi atas lomba cipta lukis, cipta puisi, cipta lagu, untuk pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta desain motif batik untuk pelajar SMP yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia.
Untuk lomba cipta puisi dengan salah satu dewan juri Jose Rizal Manua, pemenang tingkat SD adalah Ade Sifa Azzahra dari SD 132405 Sumatera Utara, dan tingkat SMP adalah Regina Maura dari SMPN 1 Tembilahan Hulu, Riau.
Sedangkan untuk lomba cipta lagu dengan salah satu dewan juri Purwacaraka, pemenang tingkat SD adalah Ega Indriani dari Sulawesi Selatan dengan lagunya berjudul ?Gunakan Ilmu Padi?, dan pemenang tingkat SMP adalah Ratih Putri Apriliani dari SMP 22 Bandung, Jawa Barat, dengan lagunya berjudul ?Untukmu Ibu.?
Sementara itu untuk lomba cipta lukis yang dinilai berdasarkan kriteria relevansi tema, kreativitas, dan originalitas, pemenangnya adalah Juan Edwin dari SD Damai, DKI Jakarta, untuk tingkat SD, dan untuk tingkat SMP adalah Mutiara Islami dari SMP 01 Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.
Untuk lomba cipta desain motif batik tingkat SMP dengan salah satu dewan jurinya adalah Sendy Dede Yusuf, pemenangnya adalah Albertus Jonathan Sukardi dari SMP Tunas Bangsa, Provinsi Kalimantan Barat.
Para pemenang Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional 2011 bertema “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh” itu mendapatkan Piala Presiden, hadiah uang, serta piagam dari Ani Yudhoyono.
sumber : antaranew.com
by admin | Sep 21, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Agus Ary Andhika, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Berbagai karya seni yang diciptakan oleh manusia dapat memberikan kita kesenangan dan kepuasan dengan penikmatan rasa indah, merupakan sebuah ungkapan yang timbul saat kita menikmatinya.
Ada tiga unsur keindahan yang berperan dalam struktur atau pengoranisasian karya seni, anatara lain :
A. Unsur keutuhan atau kebersatuan (Unity).
Dengan keutuhan yang dimaksud bahwa karya yang indah menunjukan keseluruhannya sesuatu yang utuh tidak ada cacatnya atau tidak ada yang kurang tidak ada yang berkelebihan. Semua bagian-bagian yang ada dalam garapan komposisi ini sambung-menyambung melalui yang telah tersusun dan saling mengisi antara bagian yang satu dengan bagian yang lain.. Keutuhan instrument yang satu dengan insrumen yang lainnya tercemin dari harmonisnya jalinan-jalinan seperti melodi, ritme, tempo, dan dinamika. Rasa keutuhan kemudian diperkuat dengan hadirnya tiga sifat yang memperkuat rasa keutuhan diantaranya :
Simetri
Simetri menuntut sebuah karya yang memang menpuyai keutuhan, tidak cacat atau dengan kata lain setiap bagian maupun secara keseluruhan dari karya seni ini terlihat atau dirasakan enak dan dapat membangkitkan rasa keseimbangan dan ketenangan kepada penikmatnya.
Simetri dalam karya ini, mencoba ditransformasikan lewat keseimbangan garap musikal yang mempermudah si penikmat musik untuk mengetahui garap musikal yang dimaksud, sesuai dengan garapan musik prosesi melalui gamelan Babonangan. Dalam pola garap musikalnya, untuk mewujudkan kesimetrian tersebut penata mencoba mentranspormasi pola ketukan genap.
Ritme
Dalam sebuah karya seni, ritme menunjukkan hadirnya sesuatu yang berulang-ulang secara teratur, seperti ada jarak yang sama atau jangka waktu yang sama. Begitu juga dalam garapan komposisi “Baladhika” ini, ritme sangat berperan sebagai “bumbu” yang dapat menambah rasa dalam menikmatinya. Ritme dalam komposisi ini tidak saja dimainkan oleh satu instrumen, tetapi ritme juga timbul akibat ransangan yang diberikan oleh pola melodi yang dimainkan oleh intrumen reyong. Hal ini dilakukan untuk menjaga rasa keutuhan dari pola garapnya.
Dalam komposisi musik “Baladhika” ini, ritme dimainkan oleh beberapa instrumen yang saling mendukung menjadi garapan komposisi yang seimbang dan menyatu menjadi ciri khas rasa musikal yang ditimbulkan. Kombinasi antara ritme dengan pola melodi diupayakan untuk mewujudkan rasa musikal baru dalam motif gending Baleganjur.
Harmoni
Harmoni yang dimaksud adalah keselarasan antara bagian-bagian atau komponen-komponen yang tersusun menjadi kesatuan. Keharmonisan memperkuat rasa keutuhan karena memberikan rasa tenang, nyaman, enak dan tidak mengganggu panca indera para penikmatnya.
Harmoni timbul akibat adanya perpaduan atau bertemunya beberapa nada yang tidak sama atau istilahnya ngempyung yang bisa saja terjadi baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam komposisi ini yang dapat memperkuat rasa keutuhan karya.
Permainan dengan keanekaragaman motif yang terlalu banyak akan memperlemah kesatuan, dan ketiga sifat-sifat keindahan ini akan memperkuat kesatuan dan keutuhan sehingga menghasilkan kerumitan atau Complexity, yang dapat memberikan mutu estetik yang tinggi pada karya seni.
2. Unsur penonjolan atau penekanan (Dominance).
Dalam karya seni penonjolan merupakan sesuatu yang dapat memberikan identitas dari barungannya. Begitu juga dalam komposisi ini, penekanan dan penonjolan instrumen dilakukan untuk menemukan balance (keseimbangan).
3. Unsur keseimbangan (Balance).
Mempertahankan keutuhan dalam perpaduan dapat menimbulkan rasa keseimbangan, dan karenannya keseimbangan garap musikal sangat perlu diperhatikan. Dalam komposisi ini, penata mencoba menyeimbangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tata garap musikal, setting dan lain-lain. Oleh sebab itu keutuhan, sifat-sifat penonjolan dan keseimbangan merupakan aspek-aspek yang mendasar yang menentukan nilai estetika.
Sesuatu yang indah tidak saja timbul dari karya seni itu tetapi juga timbul dari ornamentasi dekoratif. Dalam komposisi “Baladhika” ini, untuk menunjang rasa estetis dan kesan yang ditimbulkan penata menggunakan ornamentasi yang mendukung suasana ritual seperti umbul-umbul dan tedung.
Lighting sebagai unsur pencahayaan sangat menentukan keindahan garapan dalam suatu pertunjukan. Penataan laighting dalam karya “Baladhika” ditata sesuai dengan alur tema garapan Baladhika yang disajikan dalam bentuk gamelan baleganjur. Dilihat dari penggunaan lighting susunannya adalah sebagai berikut :
Bagian I. Lampu yang digunakan yaitu cahaya terang,untuk menggambarkan suasana ketenangan.
Bagian II. Lampu yang digunakan yaitu cahaya redup yang bersamaan dengan lampu kelap-kelip yang disebut sportligh,dengan penataan cahaya lampu pelan-pelan secara bergantian, yang dimana menggambarkan suasana ketegangan.
Bagian III. Lampu yang digunakan adalah cahaya redup yang bersamaan dengan lampu kelap-kelip yang disebut sportligh,dengan penataan cahaya lampu yang cepat secara bergantian,untuk mendukung suasana sengit dalam peperangan.
Bagian IV. Lampu yang digunakan adalah cahaya redup,akan tetapi setelah vokal menggunakan cahaya terang kembali yang disebut dengan cahaya general,untuk mendukung suasana semangat perang puputan.
Hal tersebut dilakukan tidak lain hanya untuk memperindah dan memperkaya penyajiannya. Aspek estetik biasanya timbul dari kemampuan seseorang untuk menikamati sebuah karya seni yang disajikan. Dengan kata lain, bila karya seni yang dinikmatati mampu memuaskan dirinya sebagai penikamat seni, maka rasa estetika yang terbentuk dalam karya tersebut telah sampai pada si penikmat itu sendiri. Begitu juga sebaliknya.
Analisis Garapan Baladhika selengkapnya