M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Jadwal Pelaksanaan UTS & UAS Semester Ganjil 2011/2012

PENGUMUMAN

Nomor: 1281/IT5.1/DT/2011

Diberitahukan kepada Dosen dan Mahasiswa FSRD ISI Denpasar bahwa Pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil 2011/2012 adalah sbb:

1.  Ujian Tengah Semester (UTS)      : 14 – 18 November 2011

2.  Minggu Tenang (UAS)                  : 2 – 6 Januari 2012

3.  Ujian Teori (UAS)                          : 9 – 13 Januari 2012

4.  Ujian Praktek (UAS)                    : 16 – 20 Januari 2012

5.  Input Nilai ke Portal dan Penyerahan Berkas adalah

(1) satu minggu setelah ujian baik teori maupun praktek.                                                                                    

 Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.

 

Denpasar, 26 September 2011

a.n. Dekan,

Pembantu Dekan I,

 

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn.

NIP.  196107061990031005

 

Penyajian Garapan Kembang Ratna

Penyajian Garapan Kembang Ratna

Kiriman Ni Luh Lisa Susanti Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar

Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna disajikan ke dalam bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari putri, yang bertemakan perputaran hidup, karena bunga ratna juga melalui suatu proses dalam kehidupannya sebagai tumbuhan. Garapan tari Kembang Ratna menampilkan wujud dan karakter bunga ratna. Karakter dari bunga ratna yang agung, sederhana, dan indah. Sedangkan wujud bunga ratna, yaitu bunga ratna memiliki bentuk yang kecil, namun dapat tumbuh subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya, serta dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu. Durasi yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah kurang lebih 12 menit, dengan struktur garapan terdiri dari 6 bagian, yang diharapkan mampu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat terwujud karya seni yang berkualitas.

Tempat Pertunjukan

Ujian Tugas Akhir Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar diadakan di stage prosenium, gedung Natya Mandala, ISI Denpasar. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna dipentaskan pada tanggal 26 Mei 2010. Penataan pola lantai biasanya disesuaikan dengan keadaan stage yang berbentuk prosenium tersebut, dan penikmat karya seni hanya dapat menyaksikan pertunjukan dari arah depan saja. Suasana yang ditampilkan pada garapan Kembang Ratna didukung dengan tata lampu (lighting), serta penggunaan layar yang memang sesuai dengan kostum dan kebutuhan garapan. Berikut adalah gambar stage prosenium gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, yang dilengkapi dengan pembagian ruang lantai dan arah hadap penari.

Kostum/Tata Busana

Kostum atau tata busana merupakan salah satu bagian penting dalam penyajian sebuah garapan tari sebagai elemen pendukung tari, karena melalui kostum penikmat dapat menangkap kesan perwatakan dan karakter yang dibawakan sehingga penikmatnya dapat membedakan setiap garapan tari yang ditampilkan. Sebagai wahana intrinsik, penataan kostum atau tata busana dapat mempengaruhi nilai artistik suatu karya seni yang menunjang keberhasilan suatu pementasan. Maka dari itu, perlu dipikirkan mengenai pemilihan warna, dan desain kostum yang harus disesuaikan dengan tema, ide, konsep garapan, maupun efek tata lampu (lighting).

Penataan kostum tari kreasi Palegongan Kembang Ratna menggunakan ciri  kostum tari Legong yang telah ada. Pengembangan dalam kostum garapan disesuaikan dengan ide, konsep dan kebutuhan garapan dengan masih mempertahankan  penggunaan gelungan, bancangan, sesimping, lamak, dan properti kipas. Kostum garapan tari Kembang Ratna menggunakan konsep minimalis dengan didesain sesederhana mungkin tanpa menggunakan banyak aksen prada dan menggunakan perpaduan warna putih susu, ungu, serta hijau yang disesuaikan dengan efek lampu agar tidak terkesan glamour. Penggunaan warna ini didasarkan atas dua macam warna bunga ratna asli, yaitu bunga ratna berwarna ungu, dan bunga ratna berwarna putih, sedangkan warna hijau dapat dikatakan sebagai pemanis.

Adapun kostum yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut :

  • Hiasan Kepala

–          Gelungan yang sudah jadi dan terbuat dari kulit, terdiri dari krun, petitis, dan prakapat.

–          Bancangan dua buah dengan kombinasi bunga kamboja imitasi dan tiruan bunga ratna

–          Subeng

  • Hiasan Badan

–          Kain prada berwarna putih susu dengan tepi berwarna ungu

–          Baju lengan ¾ berwarna putih susu dengan tepi berwarna ungu

–          Angkin dengan kombinasi warna putih susu dengan ungu

–          Lamak kain berwarna hijau, dan ungu berisi hiasan tiruan bunga ratna

–          Sesimping kain berwarna ungu dengan tepi emas berisi glenter tiruan ratna

–          Ampokampok dari bahan kulit dengan kain berlapis pada bagian samping berwarna ungu dan hijau, yang berisi hiasan bunga ratna

–          Tutup dada berwarna ungu dengan hiasan emas

–          Gelang kana berwarna ungu dengan hiasan kulit.

Analisa Penyajian Garapan Kembang Ratna selengkapnya

WENARA KONYER

WENARA KONYER

 

Penata

Nama : I Putu Eka Wisnaya

Nim : 200701025

Program Studi : Seni Tari

 

 

Sinopsis :

Disaat pikiran manusia diselimuti oleh rasa mabuk, maka tubuhnya pun ikut mabuk. Ketika itu sifat wenara konyer merasuki jiwanya yaitu: banyak bicara, banyak tingkah, sombong dan merasakan dirinya paling kuat. Akan tetapi tubuh dan kekuatan fisiknya telah menurun tanpa dia sadari. Sering kali mendorong keinginannya untuk berbuat yang tidak sesuai dengan kemampuannya yang nantinya berakibat fatal bagi dirinya sendiri.

 

Penata Iringan : I Made Yogi Antara

Pendukung Iringan : Mahasiswa Jurusan Karawitan dan Tari Smtr. VI ISI Denpasar

 

 

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang, Bagian I

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang, Bagian I

Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan

Kata unsur artinya; bagian, elemen. Mistik yang dapat diartikan; kandungan sebagai penyebab olah rasa secara spontanitas mengalami perubahan. Jadi unsur-unsur mistik adalah bagian-bagian atau elemen-elemen yang mengandung sebagai penyebab olah rasa pada seseorang secara spontanitas mengalami perubahan disaat menyaksikan pertunjukan. Perubahan perasaan tersebut terdapat pada bagian-bagian tertentu di dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung yang meliputi :

a). Unsur Mistik Melalui Tabuh Iringan

Gamelan Semarandana sebagai musik pengiring pertunjukan Wayang Calonarang merupakan barungan gamelan, yang mengandung unsur magis ditinjau dari warna tabuh atau gending yang digunakan ajtuh pada nada deng. Menurut keterangan Alit Pustaka, hal seperti itu dapat kita lihat pada tabuh bebarongan, tabuh tunjang atau pengelinangkara Rangda, karena suara gamelan banyak jatuh pada nada E (deng), seperti halnya tabuh bebarongan yang digunakan disaat barong keluar menari-nari, begitu pula tabuh tunjang atau pengelinangkara digunakan saat Rangda keluar menari-nari. Kedua tabuh itu digolongkan sakral (gending tenget dalam Bahasa Bali), maksudnya gending tersebut tidak bisa digunakan pada sembarang tempat dan waktu, maka dari itu disebut gending pengaradan. Pada gending pategak sekar wangi yang diciptakan oleh I Wayan Pustaka Alit dibentuk dan tersusun sedemikian rupa, dengan diselipkan gending bebarongan bertujuan untuk membangkitkan aura magis pada pertunjukan.

Gending tunjang ini sering digunakan pada waktu ngereh Barong (Ratu Bagus) Rangda (Ratu Ayu) dan Rarung (Ratu Mas), yang diadakan di Kuburan (Pemuwunan Setra) disaat Kajeng Kliwon bulan mati (semalam bulan tidak tampak). Gending tunjang mampu mengundang (ngarad) para Bebutan (pengikut Betari Durga), maka gending tunjang akan dapat mempercepat prosesi ngereh. Di dalam pertunjukan Wayang Calonarang juga terdapat gending tunjang, yaitu disaat ngereh yang dilakukan di kuburan oleh Diah Padma Yoni (Walu Nata) dan Diah Ratna Menggali, dengan tujuan agar dapat mempercepat proses perubahan wujud yang diinginkan seperti Walu Nata menjadi Rangda, dan Diah Ratna Menggali menjadi Rarung. Ngereh pada pertunjukan Wayang Calonarang sering juga disebut ngelinting.

Tabuh bebarongan, tunjang, ngereh, dan saat klimak yaitu pertarungan antara barong dengan rangda. Itulah sebabnya setiap pelaksanaan ngereh diusahakan menggunakan musik iringan barungan Gong Semarandahana, juga bisa dipakai barungan gong semar pegulingan (sapta nada), setidak-tidaknya gong kebyar (panca nada), karena suaranya mengandung aura magis, yang akan dapat memperlancar proses ngereh.

b). Unsur Mistik Pada Penyacah

Pada penyacah kanda Calonarang juga disebut pangelengkara. Pangelengkara itu diucapkan oleh sang dalang setelah selesai Alas Arum (setelah wayang keluar dan duduk sesuai tempat tokoh masing-masing), disertai dengan meng-ayunkan blencong. Penyacah kanda Calonarang di atas, yang disusun oleh sang dalang dengan rangkaian kata-kata, sehingga membentuk suatu pola untuk mendatangkan aura mistis itu sendiri. Dengan keberanian sang dalang seperti itu sangat jelas, sang dalang telah memiliki kemampuan yang sangat mendalam tentang konsep Rwa-Bhineda, sehingga bisa menempatkan di dalam badan wadag (Bhuana Alit), mampu menyatukan isi buana agung di dalam buana alit sang dalang, itulah sebabnya sang dalang berani mengungkapkan keberadaan ilmu hitam dalam Ajian Calonarang. Menurut tingkatan ilmu yang dimiliki oleh Calonarang  sudah mencapai tingkat sangat tinggi yaitu tingkat sebelas (tumpang solas).

c). Unsur Mistik Pada Antawacana

Antawecana juga disebut dengan percakapan atau dialog Twalen dengan mredah, tokoh Twalen yang mewakili dalang itu sendiri secara langsung menantang orang yang memiliki ilmu hitam agar datang mencoba kemampuan dalang. Pada antawecana kedua punakawan, yang membicarakan tentang keadaan Kerajaan Kediri sedang dilanda wabah penyakit (grubug) karena ulah para pelaku pengiwa atau orang yang menganut ilmu hitam. Hal itu terlihat jelas ada unsur mistis yang terkandung, apalagi dengan melantunkan gending basur yang juga disebut gending pengaradan.

            Kutipan antawecana atau dialog Twalen dan Mredah seperti telah dijelaskan di atas, bahwa dengan menampilkan tokoh Twalen sebagai sosok dalang menantang orang-orang atau para pelaku pengiwa untuk mengadu kemampuan. Sang dalang berani melakukan hal tersebut, karena dia sudah mampu mengendalikan unsur negatif (magis) yang akan mengganggu.

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang Bagian I, selengkapnya

Wagub Sulteng Temui Rektor ISI Denpasar

Wagub Sulteng Temui Rektor ISI Denpasar

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H.Sudarta SH.M.Hum, didampingi Kadis Budpar  Suaib Djafar, Kabid Pengembangan Pariwisata Sulteng, Darmoli Daepatola  , staf Budpar Sulteng, Husen Umara mengunjungi ISI Denpasar,  Selasa   (21/09). Rombongan diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. didampingi Pembantu Rektor I Drs. I Ketut Murdana,M.Sn. serta Humas ISI Denpasar.

Adapun agenda dari pertemuan tersebut adalah membahas kembali persiapan dibukanya ISI Denpasar di Palu pada tahun 2012 nanti.  Seperti  diberitakan sebelumnya, ISI Denpasar  dan pemerintah Sulawesi Tengah telah siap untuk pelaksaan pendidikan di daerah dengan sumber daya alam terkenal berupa kakau ini. Wagub H.Sudarta mengatakan bahwa Sulawesi Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang sangat potensial yang akan berkembang dengan pesat dengan adanya kerja sama dengan ISI Denpasar, sehingga menghasilkan SDM berdaya saing.
“Kami memiliki kayu hitam jenis eboni yang dapat dikembangkan maksimal dengan sentuhan seniman ISI Denpasar dan SDM Sulteng di bidang patung. Kami sangat bahagia, ISI Denpasar berkenan menjalin kerja sama dengan kami dengan mewujudkan pendidikan seni di Palu,”ujarnya tersenyum,

Kunjungan Wagub ini serangkaian dengan acara “Launching Pesona Budaya Sulawesi Tengah”, yang berlokasi di jalan patih jelantik 200x Legian Kuta. Tujuan diadakannya acara tersebut adalah untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Tengah kepada wisatawan. Dalam acara tersebut, ISI Denpasar menampilkan  Tari Pendet dan Tari Oleg yang mendapat apresiasi menarik dari audiens.”Kami berupaya terbaik, dengan menerapkan kebijakan nasional dalam pelaksanaan pendidikan, dengan resource sharing, integrasi proses, serta pemanfaatan TIK (Tehnologi, Informasi dan Komunikasi), sehingga target yang kita canangkan dapat tercapai maksimal,”harap Prof. Rai ditemui seusai memantau kegiatan kampus bersama tamu Pemda Sulteng tersebut.

TAKDIR

TAKDIR

Penata

Nama                     : Eka Laksana S

Nim                       : 200701021

Program Studi       : Seni Tari

Sinopsis :

Gelap, malam adalah hidupku, menjadi seorang pemburu manusia adalah takdirku, dalam setiap waktu, tempat, ruang diantara gumpalan daging dan darah di dalam tubuh adalah kematian bagiku. Pertemuan diantara kita merupakan kutukan karena kau adalah mangsa bagi kaumku. Haruskah kau menjadi sepertiku agar kita dapat bersatu.

Pendukung Tari      :

1.Mahasiswa Jurusan Tari FSP ISI Denpasar

2.Mahasiswa IKIP PGRI Bali

3.Mahasiswa IHDN Denpasar

4.Siswa SMK Negeri 3 Sukawati

Penata Iringan       : I Wayan Ary Wijaya, S.Sn

Pendukung Iringan  : Palawara Music Company

 

Loading...