by admin | Oct 4, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Nyoman Lia Susanthi, Dosen PS Seni Pedalangan ISI Denpasar.
Keberadaan budaya sangat menentukan keberhasilan dalam berkomunikasi. Budaya merupakan cara hidup atau cara berperilaku yang didasarkan atas norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati untuk mengatur kehidupan bersama dalam sebuah entitas kehidupan. Dunia tersebar dengan beragam budaya yang berbeda yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing negara. Setiap budaya memberi identitas kepada sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam masing-masing budaya tersebut paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya tersebut. Identitas dapat dilihat dari elemen budaya yang tidak terhitung jumlahnya. Elemen budaya yang penting antara lain terlihat pada sejarah, agama, nilai, organisasi sosial dan bahasa.
Perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal dalam komunikasi. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan memahami prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya yang lain. Oleh karena itu, perlu memahami budaya sebagai konstruksi teori komunikasi.
Dalam artikel ini penulis mencoba untuk menguraikan bagaimana perbedaan budaya antara Amerika dan Indonesia disikapi oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Hussein Obama bersama istri saat berkunjung ke Indonesia. Dalam menganalisisnya penulis menggunakan pendekatan pada salah satu teori komunikasi lintas budaya yaitu Communication Accomodation Theory (CAT). Teori ini menjelaskan proses bagaimana identitas dapat mempengaruhi perilaku komunikasi agar individu termotivasi untuk mengakomodasi (bergerak menuju atau menjauh dari orang lain) dengan menggunakan bahasa, perilaku nonverbal, dan parabahasa. Dalam hubungan transaksional antara komunikasi dan identitas menunjukkan bagaimana identitas mempengaruhi komunikasi, dengan tindakan konvergensi dan divergensi. Konvergensi menggambarkan proses dimana individu mengakomodasi dengan interaksi menjadi lebih dekat bahkan menyerupai pola individu lain. Sementara divergensi kebalikannya, yaitu individu menonjolkan perbedaan linguistik antara ingroup dan outgroup dengan individu lain dalam rangka mempertahankan identitasnya.
Dalam kunjungan yang berlangsung dua hari pada bulan November 2010 lalu, penulis hanya mengkaji kunjungan Presiden Obama dan istri ke masjid terbesar di Asia Tenggara yaitu Masjid Istiqlal Jakarta. Kunjungan Presiden Obama bersama istrinya ke masjid melahirkan berbagai spekulasi dan persepsi. Namun ada keunikan tersendiri dalam kunjungan yang berlangsung selama 25 menit di Masjid Istiqlal. Obama sebagai penguasa negara adidaya mampu beradaptasi lewat komunikasi verbal dan non verbal yang ditunjukkannya.
Komunikasi verbal digambarkan pada bahasa yang Obama gunakan selama kunjungan berlangsung. Memasuki Masjid Istiqlal, Obama dan istri disambut oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. dan Obama langsung mengucapkan salam dengan “Asalamualaikum” yang langsung dijawab oleh Imam Ali dengan “Waalaikum salam dan selamat datang di tanah air Anda yang kedua”. Walaupun hanya satu kata yang diucapkan Obama, namun membawa dampak yang luar biasa, karena makna ‘Assalaamualaikum’ ialah semoga Allah menyelamatkan dan memberikan kesejahteraan atas kamu. Salam dalam bentuk ucapan adalah ungkapan yang bersifat amalan digunakan untuk memperkenalkan diri atau menyapa orang lain.
Mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya, yaitu bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual dan sebagainya), namun juga melalui prilaku non verbalnya. Komunikasi non verbal memiliki muatan emosional yang lebih dibandingkan komunikasi verbal. Klasifikasi bahasa non verbal diantaranya bahasa tubuh, orientasi ruang dan jarak pribadi, diam, sentuhan, penampilan, konsep waktu dan yang lainnya. Dalam kunjungan singkatnya, Obama dan istri juga menunjukkan komunikasi non verbal yang lebih cenderung pada klasifikasi bahasa tubuh dan penampilan. Busana dapat menunjukkan nilai-nilai agama, kebiasaan, tuntutan lingkungan, yang semua sangat dipengaruhi oleh respon kita terhadap lingkungan. Dalam kunjungannya, istri Obama, Michelle mengkombinasikan busana yang dikenakan saat berkunjung ke masjid dengan pakaian jas formal berwarna hijau, dengan balutan kerudung. Subkultur atau komunitas menggunakan busana yang khas sebagai simbol keanggotaan mereka dalam kelompok. Di Indonesia orang menggunakan kerudung, jubah atau jilbab sebagai tanda keagamaan dan keyakinan mereka. Komunikasi non verbal yang ditunjukkan Micchelle melalui busana mencerminkan kepribadian dan citra yang dia miliki. Miishelle yang bukan muslim sangat terbuka terhadap agama lain dan menerima perbedaan untuk tujuan perdamaian. Komunikasi non verbal lainnya yang ditunjukkan Obama dan istri adalah dengan melepas alas kaki saat memasuki areal masjid. Adat ketimuran menunjukkan sopan dan santun saat memasuki tempat ibadah adalah dengan melepas alas kaki. Sebagai bentuk penghormatan dan menghargai sesama, Obama dan istri juga melakukan hal yang sama.
Dari gambaran tersebut terlihat jelas bahwa Presiden Obama beserta istri, saat melakukan kunjungan ke Indonesia khususnya ke Masjid Istiqlal, melakukan upaya konvergensi. Presiden Obama mengakomodasi dengan mendekati lawan bicara melalui penggunakan bahasa seperti menyampaikan salam “Asalamualaikum”. Konvergensi lainnya yaitu dengan menggunakan prilaku non verbal dari gaya berpakaian dan sikap non verbal yang bergerak mendekati daerah adaptasinya.
Kunjungan 25 Menit Obama dan Istri ke Masjid Istiqlal JakartaDalam Kajian Komunikasi Lintas Budaya selengkapnya
by admin | Oct 3, 2011 | Berita
Bertempat di gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Senin (3/10) President Suan Sunandha Rajabhat university Thailand,Assoc. Prof. dr. Chuangchote Bhuntuvech beserta 11 orang anggota lainnya mengadakan lawatan ke kampus ISI Denpasar dengan agenda utama penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara kedua Institusi Seni ini, yang diantaranya menyoal tentang pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, kolaborasi pementasan, serta kolaborasi penelitian akademis.
Rombongan diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar, para pembantu rector, Dekan kedua fakultas beserta jajarannya, pejabat structural, serta mahasiswa ISI denpasar. Sebelum acara penandatanganan, rombongan disambut dengan tari Selat Segara, serta tari Satya Brastha, yang sekaligus menuntun Presiden SSRU Thailand beserta Rektor ISI Denpasar menuju meja penandatanganan MoA.
Prof. Chuangchote mengatakan bahwa pihaknya sangat bangga dan kagum akan kampus ISI Denpasar yang telah terkenal di dunia, dan berharap MoA antara SSRU dan ISI Denpasar dapat diimplementasikan kedalam bentuk kegiatan yang dapat memajukan kedua kampus ini.”Sebagai wujud implementasi dari MoA,kami akan mengundang ISI Denpasar ke SSRU pada tangga;l 22-26 Desember mendatang untuk mengikuti acara Faculty Collaboration,”ujarnya tersenyum.
Selain menandatangani MoA, rombongan juga membuka pameran bersama antara ISI Denpasar dan SSRU Thailand dengan tajuk The Culture Bridge for Relationship and Peace yang diadakan di Gedung Kriya Asta Mandala, menyaksikan pertunjukan wayang, serta meninjau kegiatan belajar mengajar di kedua fakultas.
“Kami sangat bangga dengan penandatanganan MoA ini, yang menjadi bukti kecintaan dunia internasional pada ISI Denpasar. Terima kasih kepada seluruh dosen, pegawai serta mahasiswa ISI denpasar yang selalu bekerja keras untuk kesuksesan serta kemajuan kampus kita. MoA ini akan diimplementasikan dalam berbagai kegiatan akademis, dan telah kami laporkan kepada Mendiknas dan Dirjen Dikti,” pungkas Rektor ISI Denpasar, Prof. Rai.
by admin | Oct 3, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ni Nyoman Dinna Arwati, Mahasiswa PS Seni Rupa Murni ISI Denpasar.
Disamping peranan aspek ideoplastis berupa ide, pendapat atau gagasan dan aspek fisikoplastis yang menyangkut masalah tehnik dan pengorganisasian elemen-elemen seni rupa, terwujudnya sebuah karya juga tidak lepas dari peranan unsur keindahan yang lainnya seperti komposisi, kesatuan, pengulangan, ritmis, klimaks, keseimbangan dan proporsi.
- Komposisi
Komposisi adalah penyusunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur seni rupa. (Sidik, 1981 : 44) Komposisi merupakan suatu cara pengorganisasian untuk menyusun bagian keseluruhan di dalam mendapatkan suatu wujud. (Poerwadarminta, 1976 : 17).
Dalam urian di atas memperjelas bahwa komposisi dapat dicapai melalui
pengaturan atau penyusunan unsur-unsur seni rupa baik berupa garis, warna, bidang, ruang dan tekstur secara bertumpukan dan kedinamisan dalam suatu karya.
Kesatuan
Berarti estetis itu tersusun secara baik ataupun sempurna bentuknya dan memiliki suatu kesatuan bentuk, antara bagian-bagian sampai keseluruhan. (The Liang Gie, 1976 : 48). Pendapat lain menyebutkan kesatuan atau unity adalah penyusunan atau pengorganisasian dari elemen-elemen seni demikian rupa sehingga menjadi kesatuan organik dan harmoni antara bagian-bagian dengan keseluruhan. (Sidik, 1981 : 47) Jadi kesatuan merupakan penyusunan dari elemen-elemen seni rupa sehingga tiap-tiap bagian-bagian yang tersusun tidak terlepas dengan bagian lainnya disamping itu untuk memperoleh kesatuan bentuk dan keharmonisan di antara semua elemen.
Kontras
Kontras menghasilkan vitalitas. Hal ini mungkin muncul dikarenakan adanya warna komplementer, gelap dan terang, garis lengkung dan garis lurus. Objek yang dekat dan jauh bentuk-bentuk vertikal dan horisontal, tekstur kasar dan halus, area rata dan berdekorasi, kosong dan padat, kalau tidak kontras akan timbul kegersangan, sebaliknya jika hanya terdapat kontras saja maka akan terjadi kontradisi. Untuk menghindari terjadinya hal itu diperlukan transisi atau peralihan guna mendamaikan kontras tersebut. (Sidik, 1981 : 47)
Jadi dengan kontras akan dapat menghasilkan perubahan dan perbedaan dari garis, warna dan bidang serta yang lainnya sehingga karya tidak terkesan monoton.
Irama
Irama adalah perubahan-perubahan bunyi, warna, gerak dan bentuk tertentu secara teratur yang terjadi. (Bastomi, 1992 : 72) Dalam seni rupa, irama adalah aturan atau pengulangan yang teratur dari suatu bentuk atau unsur-unsur. Bentuk-bentuk pokok irama adalah berulang-ulang (repetitive), berganti-ganti (alternative), berselang-seling (progressive), dan mengalir (flowing) (Supono, 1983 : 70). Irama akan memberikan pengulangan secara terus menerus daripada elemen-elemen seni rupa. Pencipta dalam pemanfaatan irama dalam karya seni lukis melalui adanya perbedaan ukuran bentuk dan perbedaan tebal tipisnya garis.
Klimax / Dominasi
Dominasi adalah factor atau unsur seni yang paling kuat. Dominasi dimaksud untuk menonjolkan inti atau puncak seni, oleh karena itu dominasi seni disebut pula klimaks seni. (Bastomi, 1992 : 70)
Pusat perhatian juga disebut dominasi yang merupakan focus dari susunan, suatu pusat perhatian di sekitar elemen-elemen lain bertebaran dan tunduk membantunya sehingga yang kita fokuskan menonjol, tetapi tidak lepas dengan lingkungannya. (Supono, 1983 : 69). Klimaks / dominan sangat berperan dalam karya pencipta dimana memberikan suatu fokus atau pusat perhatian dari keseluruhan karya. Pusat perhatian ini dibuat dengan perbedaan bentuk, kontras, warna melalui tempat dan sebagainya sehingga pengamat ketika pertama kali melihat lukisan penglihatannya jatuh pada pusat perhatian tersebut.
Keseimbangan ( balance )
Dengan singkat dapat dikatakan balance adalah seimbang atau tidak berat sebelah. Keseimbangan adalah suatu perasaan akan adanya kesejajaran, kestabilan, ketenangan dari kekuatan suatu susunan.
(Suryahadi, 1994 : 11) Keseimbangan dapat bersifat simetris maupun asimetris. Dalam hal seni rupa, berat yang dimaksud lebih cenderung pada berat visual dari pada berat arti fisik. Unsur-unsur visual yang berpengaruh pada berat visual ialah ukuran, warna, serta penempatannya (lokasi). (Supono, 1983 : 69)
Keseimbangan merupakan kepekaan perasaan terhadap suatu unsur dalam seni lukis yang memberikan kesan stabil dalam suatu susunan, baik yang bersifat simetris / formal maupun asimetris / informal. Keseimbangan formal memberikan kesan statis pada suatu susunan sedangkan keseimbangan informal memberikan kesan dinamis pada suatu susunan. Demikian juga dengan karya pencipta, keseimbangan yang dimunculkan adalah keseimbangan informal dimana keseimbangan ini memberikan gerakan dinamis pada wujud karya.
Harmoni
Harmoni atau keserasian adalah timbul dengan adanya kesamaan, kesesuaian dan tidak adanya pertentangan. Dalam seni rupa prinsip keselarasan dapat dibuat dengan cara menata unsur-unsur yang mungkin sama, sesuai dan tidak ada yang berbeda secara mencolok.
Prinsip Prinsip Penyusunan Karya Seni Lukis selengkapnya
by dwigunawati | Oct 3, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Nyoman Sukarnata
NIM : 2006.02.040
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
“Ngumbang” berarti mengembara, merupakan suatu proses pencarian jati diri penggarap dengan menggunakan daya imajinasinya untuk mengembara, menjelajahi setiap untaian nada-nada dari gamelan Gong Kebyar guna menemukan hal-hal yang baru. Sehingga terciptalah garapan yang memadukan unsur-unsur musik dengan permainan melodi, tempo, dinamika dan penyiasatan nada-nada dalam bingkai gamelan Gong Kebyar dengan wujud Tabuh Kreasi Pepanggulan.
Pendukung Karawitan : Sekaha “ Dharma Kusuma “ Br. Pinda, Saba, Blahbatuh, Gianyar.



by admin | Oct 2, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Nyoman Lia Susanthi, Dosen PS Seni Pedalangan ISI Denpasar.
Demam Korea (Korean wave) saat telah merajai negeri Indonesia. Hal itu diakibatkan karena penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia, terutama melalui produk-produk budaya populer. Film, drama, musik dan pernak-pernik merupakan contoh dari produk budaya popular. Elemen-elemen budaya populer Korea ini menyebarkan pengaruhnya di negara-negara Asia salah satunya Indonesia. Di Indonesia, penyebaran budaya popular dari negeri gingseng ini dilihat sekitar tahun 2002 dengan tayangnya salah satu ikon budaya popular berbandrol drama seri berjudul ‘Autumn in My Heart’ atau ‘Autumn Tale’ yang lebih popular dengan judul ‘Endless Love’, ditayangkan stasiun TV Indosiar. Keberhasilan drama seri Korea tersebut yang dikenal dengan Korean drama (K-drama) diikuti oleh Koean drama lainnya. Tercatat terdapat sekitar 50 judul K-drama tayang di tv swasta Indonesia.
Populernya K-drama membuat rasa ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea meningkat. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa pemeran drama Korea juga berprofesi sebagai penyanyi, sehingga menjadi idol bagi masyarakat. Contohnya drama Korea Athena yang melibatkan boyband Super Junior, atau drama Korea berjudul Full House menjadikan Rain yang juga sebagai penyanyi, memperkenalkan musik Korea di Indonesia. Sehingga membuat musik Korea marak menjajal Indonesia. Korean pop atau K-pop mulai menggurita di kancah musik Indonesia. Terlebih lagi pada tanggal 4 Juni lalu Indonesia dihebohkan dengan sebuah festival bernama ‘KIMCHI K-POP’ (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia). Bertempat di Istora Senayan Jakarta Super Junior (Suju) tampil yang juga menghadirkan bintang tamu lain dari Korea yaitu Park Jung Min, The Boss, Girl’s Day dan X-5.
Terinspirasi dengan boys band dan girls band Korea, lahirlah banyak boys band dan girls band Indonesia, diantaranya Sm*sh, Max 5, 7 Icons atau pun MR. Bee. Acara-acara televisi pun mulai mengemas program acaranya dengan kesan Korea. Salahsatunya sinetron yang dibuat Trans Tv berjudul Cinta Cenat Cenut. Melibatkan Sm*sh sebagai pemeran utama dalam sinetron tersebut menggambarkan bagaimana gaya rambut, dandanan, fashion dan pernak-pernik Korea menjadi muatan penting dalam garapan sinetron tersebut. Tidak ketinggalan iklan televisi pun ikut bermain dengan melirik kesan Korea dalam tayangan iklan di televisi.
Tentunya ini bukan hal yang seluruhnya buruk karena rasa ketertarikan dapat memberikan nilai yang positif pada hubungan antar negara, namun harus diperhatikan lagi bahwa ketertarikan ini menyebabkan masyarakat, terutama kalangan muda lebih tertarik dengan budaya Korea daripada budaya Indonesia sendiri. Pengaruh kebudayaan Korea yang disebarkan melalui media massa sudah merasuk di berbagai segi kehidupan masyarakat Indonesia. Media massalah yang erat berperan memberikan akses mudah untuk menikmati segala suguhan berbau Korea. Karena itu, dalam tulisan ini penulis berupaya untuk menguraikan bagaimana penyebaran budaya Korea di Indonesia.
- Korean Drama (K Drama)
Drama Korea adalah produk Korea pertama yang berhasil masuk menguasai pasar Indonesia. Drama Korean pertama hadir di layar kaca Indosiar pada tahun 2002 dengan drama Korea pertama berjudul Endless Love. Masuknya produk Korea lewat drama ini diawali dengan keberanian Indonesia yang melakukan liberalisasi pada tahun 1990-an. Selain itu, krisis ekonomi Asia pada akhir 1990-an membawa sebuah situasi di mana pembeli Asia lebih menyukai program acara Korea yang lebih murah. Korea menawarkan harga drama televisi lebih murah seperempat dari harga Jepang, dan sepersepuluh dari harga drama televisi Hong Kong di tahun 2000. Angka ekspor program televisi Korea meningkat secara dramatis, pada tahun 2007 mencapai US $ 150.950.000, dari US $ 12,7 juta pada tahun 1999. Hingga tahun 2011 terdapat sekitar 50 judul drama Korea telah tayang di layar kaca Indonesia. Dari sekian banyak televisi yang ada di Indonesia, perusahaan televisi Indosiarlah yang paling sering menayangkan drama Korea. Hingga saat tulisan ini dibuat, dari pengamatan penulis terdapat 3 drama Korea tayang di Indosiar, yang dimulai dari pukul 12.00 Wib. mengisahkan kerajaan korea, pukul 13.30 Wib terdapat drama Korea berjudul ‘Naughty kiss’ disusul pukul 16.00 Wib. hadir drama Korea berjudul ‘You are My Destiny.’
- Korean Pop (K Pop)
Setelah keberhasilan menguasai pasar Indonesia dengan dramanya, Korea pun mulai menguasai Indonesia dengan tampilan musik Korea. Korean Pop (Musik Pop Korea) disingkat K-pop, adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara. Musik pop Korea pra-modern muncul pertama kali pada tahun 1930-an yang dipengaruhi oleh masuknya musik pop Jepang. Tidak hanya budaya pop Jepang, pengaruh musik pop barat mulai menjajah Korea sekitar tahun 1950-an dan 1960-an. Awalnya berkembang musik bergenre “oldies”, kemudian tahun 1970-an, musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Muncul kemudian genre musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang.
Tahun 1992 merupakan awal mula musik pop modern di Korea, yang ditandai dengan kesuksesan grup Seo Taiji and Boys diikuti grup musik lain seperti Panic, dan Deux. Tren musik ini turut melahirkan banyak grup musik dan musisi berkualitas lain hingga sekarang.
Di tahun 2000-an mulai bermunculan artis dengan aliran musik yang berkiblat ke Amerika seperti aliran musik R&B serta Hip-Hop. Mereka adalah MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Selain genre musik sebelumnya bertahan, lahir kembali jenis musik techno memberi nuansa modern.
‘Gurita’ Budaya Populer Korea Di Indonesia selengkapnya
by dwigunawati | Oct 1, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : Luh Putu Yuly Suasrini
Nim : 200701004
Program Studi : Seni Tari
Sinopsis :
Perilaku yang didasari dengan rasa emosi, akan menghasilkan suatu kegagalan dan penyesalan bagi dirinya sendiri. Disinilah rasa tenang dan sikap yang rendah hati, begitu berarti dalam menyikapi suatu masalah. Hal inilah yang dialami oleh Dewi Srikandi, saat perang tandingnya melawan Dewi Larasati dalam mengadu keahliannya memanah satu helai rambut. Dewi Srikandi mengalami kegagalan atas rasa emosi yang berlebihan saat melawan Dewi Larasati.
Penata Iringan : I Putu Putrawan
Pendukung Tari : Ni Kadek Diah Kartini Dewi
Pendukung Karawitan : Sanggar Tripitaka, Desa Munduk, Kabupaten Buleleng.

