by admin | Oct 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Putu Gede Mertanaya, Mahasiswa PS. DKV ISI Denpasar.
Konsep merupakan kerangka atau menterjemahkan ide kedalam bentuk karya. Tanpa konsep, sebuah karya tidak akan mempunyai arti. Konsep merupakan dasar atau landasan dalam membuat desain, yang mudah dikomunikasikan atau disebarluaskan sehingga dapat dinikmati oleh orang banyak dengan memperhatikan konsep desain sehingga nantinya tidak bertolak belakang dari tujuan desain itu sendiri.
Agar desain yang nantinya akan ditampilkan memiliki kesan kreataif dan inofatif yang tentu saja tidak bertolak belakang dari criteria desain yang baik, dan tentunya mampu untuk menyampaikan pesan kepada khalayak sasaran sesuai tujuan maka dibutuhkan suatu konsep dasar desain. Jadi, konsep yang digunakan dalam mendesain media komunikasi visual ini adalah “simplicity” (kesederhanaan). Dalam arti kata simplicity diartikan yaitu penyampaian pesan yang tidak terlalu rumit, singkat, padat dan jelas. (Poerwadarminta, 2000:888). Konsep ini menampilkan gaya sederhana tetapi mampu menarik perhatian. Dalam tampilan visualnya hal yang lebih diutamakan adalah ilustrasi dari media-media yang didesain. Disini menggunakan ilustrasi sederhana yang mampu menyampaikan pesan tertentu yang tentu saja berkaitan dengan permasalahan yang diangkat. Ilustrasi menggunakan teknik gambar tangan manual yang diolah kembali menggunakan bantuan komputer.
Dalam penyajiannya, ilustrasi digunakan sebagai pusat perhatian dengan latar belakang sederhana yang mengunakan warna merah, kuning dan hitam. Beberapa ilustrasi menggunakan berbagai warna yang memberikan kesan solidaritas. Membentuk suatu komposisi yang baik dan tetap sederhana sesuai konsep, ruang-ruang kosong pada latar belakang akan diberikan effect warna yang tidak terlalu mencolok dan disertakan teks sebagai penjelas pesan.
Skema Pola Pikir
Konsep pola pikir yang dimaksud adalah langkah-langkah pemikiran dalam mendesain suatu media komunikasi visual antara komunikator dan komunikan guna memastikan pesan yang disampaikan tepat sesuai sasaran, adapun pola pikir dalam mendesain sebagai berikut;
Berdasarkan bagan diatas, dalam hal ini manusia sebagai mahluk yang mempunyai akal dan pikiran serta budi pekerti, secara ilmiah memiliki berbagai kebutuhan dan permasalahan dalam hidupnya, dan itu semua juga termasuk kebutuhan atau permasalahan untuk menjelaskan atau menginformasikan sesuatu kepada khalayak sebagai usaha untuk mempromosikan jasa / produk (yang dalam khasus yang diangkat penulis bertema sosial / layanan masyarakat). Berkaitan dengan penyampaian pesan ada tiga unsur yang berperan yaitu komunikator, desainer, dan komunikan, namun untuk menyampaikan pesan melalui media komunikasi visual tidak lain harus memiliki dasar aturan dan perundang-undangan dan batasan-batasan yang tepat, karena dasar dari aturan ini adalah norma-norma yang ada di dalam masyarakat, sedangkan batasan yang dimaksud adalah kriteria – kriteria suatu desain yang baik, agar desain tersebut bisa cepat bersosialisasi kepada masyarakat.
Disini komunikator harus benar – benar mengerti akan permasalahan manusia mengenai kurangnya informasi pencegahan HIV/AIDS, maka komunikator setidaknya harus memberikan informasi atau penjelasan secara rinci dan jelas terhadap seorang desainer tentang keperluan informasi dan data-data yang lengkap, dimana nanti dari data dan informasi tersebut akan dijadikan acuan dalam mendesain suatu desain yang nantinya diwujudkan kemudian akan dilihat atau disimak oleh komunikan yang singkatnya media yang akan diwujudkan akan ditujukan langsung terhadap si penerima pesan (komunikan), dan media yang akan dibuat oleh desainer untuk di tujukan kepada komunikan antara lain; poster, iklan surat kabar, stiker, brosur, flyer, stand banner, billboard, pin, T-shirt, dan katalog.
Skema Proses Desain
Proses terhadap suatu desain yang akan dibuat, diperlukan pula konsep pola desain. Dimana nanti dari skema pola Desain Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Informasi Pencegahan HIV/AIDS di Denpasar ini akan digunakan untuk mendukung pemecahan masalah secara lebih terperinci.
Untuk itu diperlukan pula data teori dan lapangan yang kemudian akan dilakukan suatu analisis berdasarkan metode pendekatan yang telah ditetapkan dan dipastikan untuk menghasilkan suatu sintesa. Setelah penulisan media dalam sintesa kemudian akan dilanjutkan dengan proses desain awal berupa gambar kasar atau sketsa yang untuk selanjutnya akan dipilih dan diwujudkan melalui proses cetak. Adapun skema proses desain adalah sebagai berikut :
Konsep Dasar DKV sebagai Sarana Informasi Pencegahan Hiv/Aids selengkapnya
by admin | Oct 13, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Nyoman Suyadnya, Mahasiswa PS Seni Rupa Murni ISI Denpasar
Kematian merupakan sebuah siklus yang terjadi pada setiap mahkluk di dunia ini, termasuk manusia. Kematian sesungguhnya adalah jembatan bagi manusia untuk lepas dari keterbatasan badan kasar (Stulasarira), kematian adalah juga pintu gerbang untuk memasuki alam halus (Sukmasarira), dan sesungguhnya ia adalah jalan yang akan dilalui oleh setiap mahluk hidup dalam proses evolusinya. Seperti seekor ulat yang kerap dipandang “menjijikkan” bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu, demikian juga manusia berevolusi dari bentuk kasar ke bentuk-bentuk yang lebih halus.
Kematian menjadi menakutkan karena kerap kali kematian itu diawali oleh “kesengsaraan” seperti misalnya sakit yang berkepanjangan dan hari tua yang secara perlahan mengurangi kinerja tubuh dan organ-organnya. Dilain pihak kematian juga terjadi lantaran kecelakaan, penganiayaan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sakit dan hari tua adalah sebuah proses yang secara kasat mata dianggap sebagai suatu bentuk kesengsaraan, sedangkan kecelakaan, penganiayaan, pembunuhan dan kematian yang tidak wajar lainnya dianggap sebagai kemalangan. Kali ini diperlukan pemikiran terbalik, bahwa kesengsaraan tadi adalah kesengsaraan fisik belaka. Melalui kesengsaraan dan kemalangan tersebut, roh sesungguhnya tercerahi, melalui sakit manusia mampu berfikir bahwa kematian adalah solusi terbaik, sedangkan melalui kemalangan, roh menyadari bahwa itu adalah pembayaran dari karma masa lalunya. Roh yang tercerahi memasuki alam kematian dengan mantap, sedangkan roh yang tidak tercerahi berusaha untuk menghindar dari gerbang akherat (Aryana, 2008:2-4).
Sejak manusia meninggal dunia sejak itu pula Atma atau Roh, dan kekuatan Panca Maha Bhutanya meninggalkan tubuh maka tubuh tersebut mulai disebut Jazad, serta Panca Maha Bhutanya di dalam Puja Pitra disebut dengan Pitra. Menurut keyakinan dan kepercayaan dari ajaran Agama Hindu yang berlandaskan ajaran “Panca Yadnya”, umat Hindu khususnya di Bali melaksanakan Upacara Pitra Yadnya, mempereteka orang yang telah meninggal, sebagai proses pengembalian Panca Maha Bhuta kepada sumbernya (Sudarsana,2003:10,20).
Umumnya dalam masyarakat Bali, badan kasar (Stulasarira) si meninggal terlebih dulu akan di tanam di kuburan, selanjutnya setelah cukup waktu barulah dilakukan pengangkatan jenazah untuk dikremasi (aben). Proses penguburan bisa saja ditiadakan, yakni jenazah boleh langsung dikremasi dengan prosesi yang lumrahnya di sebut dengan upacara ngaben.
Dalam dunia para yogi dan para waskita, diyakini bahwa sesungguhnya proses yang paling cepat untuk mengembalikan lima elemen dasar pembentuk badan fisik manusia (Panca Maha Bhuta) ke asal pembentuknya hanyalah dengan cara kremasi/membakar jenazah yang di Bali dikenal dengan istilah Ngaben (Aryana, 2008:31).
Memperhatikan kata ngaben sebagaimana disebutkan di atas, ngaben adalah melepaskan atma dari ikatan Stulasarira (Panca Maha Bhuta). Ngaben adalah mengupacarai orang yang telah mati. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa ada tiga pengertian mati, yaitu: mati menurut P.P. 18 tahun 1981, adalah orang yang disebut mati apabila otak dan batang otaknya sudah tidak berfungsi lagi. Dalam hubungan dengan hal ini ada juga istilah mati sel, artinya setiap orang yang mati itu/tubuh orang mati itu sudah mati mencapai mati sel tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Mati menurut Tattva yaitu orang disebut mati apabila atmanya terlepas dari Panca Maha Bhuta, dalam Vrhaspati Tattva disebut sebagai berikut: kala ikang pati ngarania wih, turun mapasah lawan Panca Maha Bhuta juga tekang atma ri sarira, ikang aganal juga hilang, ikang atma langgenag tan molah, apan ibek ikang rat kabeh dening atma. Artinya: pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya Panca Maha Bhuta dengan atma yang ada pada tubuhnya, hanya badan kasarnya saja yang lenyap sedangkan atmanya tetap tak berubah, sebab dunia in penuh dengan atma. Mati menurut upacara Agama yaitu: seperti halnya bangunan rumah, meskipun secara fisik telah selesai, kalau belum di upacarai seperti memakuh, melaspas, maka seluruh rumah itu belum selesai namanya.
Demikianpun orang mati menurut pandangan Agama Hindu sebelum selesai diupacarai, belumlah dia disebut mati. Disebutkan dalam lontar Pratekaning Wong Mati. Pertama-tama orang mati itu di upacarai, sebagaimana layaknya orang hidup, dimandikan dengan air biasa dan air bunga, makerik kuku, maitik-itik, masisig, makramas, dikeningnya ditaruh daun intaran, didada di letakkan daun gadung, dihidung pusuh menur, kedua mata diisi cermin. Kemaluan ditutupi dengan daun terung bagi laki-laki, dan daun tunjung bagi perempuan. Penyelenggaran memandikan mayat ini di Bali sangatlah bervariasi menurut desa, kala, patra. Tetapi yang terpenting disini, di dada, di kepala, hulu hati dan disetiap persendian diletakkan kewangen lambang pengurip-urip. Setelah upacara pemandian selesai barulah jazad kemudian digulung dengan kain kavan, kemudian ditaruh dalam peti mati. Kalau jazad telah digulung barulah dilanjutkan dengan upacara ngaben. Kemudian abu dari jazad tersebut di hanyut ke laut atau kesungai.Yang amat penting ditekankan disini adalah fungsi upacara ngaben sebagai upacara untuk melepaskan atma atau roh dari ikatan Panca Maha Bhuta (Wiana, 1998:33-34).
Dalam siklus kematian, pencipta merenungkan tentang perubahan-perubahan yang terjadi secara fisik, ketika kematian itu dialami oleh seseorang adalah yang terjadi, tubuh akan berada dalam posisi kematiannya yaitu terlentang mengikuti garis horizontal, dan mengikuti garis vertical dalam bentuk roh. Pencipta tertarik tentang bagaimana suasana hati pencipta menyaksikan segala situasi, mulai dari suasana di tempat orang mati, suasana penguburan, suasana pembakaran mayat, dan lain sebagainya. Hal itu terjadi berulang-ulang dalam hidup pencipta. Semua itu menimbulkan perasaan sedih dan kengerian, yang pencipta sering rasakan. Hal-hal seperti itu yang muncul pada perasaan pencipta dari melihat berbagai proses peristiwa upacara kematian. Semua hal tersebut sangat berpengaruh pada penciptaan karya ini.
Pencipta sebagai orang Bali yang berada di lingkungan Hindu melihat siklus kematian itu pada proses pengembalian tubuh pada alam, yang terlihat pada penguburan, pembakaran mayat, dan adanya upacara nganyud abu ke laut atau sungai.
Dari berbagai proses peristiwa kematian yang pencipta saksikan, pencipta melihat bahwa seperti sebuah rangkaian perjalanan tentang tubuh, atau jasad, jasad perlahan menghilang entah itu dikubur ataupun dikremasi, kemudian yang pencipta hayalkan setelah itu adalah roh. Tubuh mati menjadi jasad, dan akhirnya menyatu dengan alam (Panca Maha Bhuta). Namun roh dari tubuh itu pencipta yakini tetap hidup, dan tetap melakukan eksistensinya dalam alam niskala.
Semua itu menggugah bathin pencipta untuk merenungkan lebih dalam tentang kematian tersebut. Berdasarkan siklus kematian tersebut, muncul imajinasi dalam bathin pencipta untuk melukiskan tentang kematian dengan tubuh yang terlentang, tubuh yang tidak utuh yang merupakan sebuah wujud dari pemudaran fisik dalam proses penyatuan dengan alam (Panca Maha Butha). Dan tentang tubuh dengan wajah yang matanya selalu terpejam, merupakan gambaran tentang adanya sebuah kematian.
Imaji tentang roh yang terbentuk dalam visual dengan bentuk-bentuk figur seolah sedang pergi meninggalkan tubuh yang mati, yang akan diperlihatkan pada karya-karya pencipta yaitu adanya bentuk-bentuk kaki yang seolah terbang meninggalkan tubuh yang mati menuju pada alamnya. Alam dalam hal ini adalah ruang baru bagi roh dan tubuh yang mati, yaitu alam nyata (skala) dan alam tidak nyata (niskala). Dan semua unsur yang ada dalam tubuh akan hilang dan menyatu dengan Panca Maha Butha.
Awal ketertarikan pencipta mengangkat tema kematian didalam ciptaan ini adalah disebabkan oleh rasa yang terus menghantui pencipta tentang tubuh orang mati, tentang suasana-suasana kematian yang sering pencipta saksikan dalam lingkungan hidup pencipta. Seiring perjalanan waktu dengan terbiasa menyaksikan segala proses kematian tersebut, dan secara alami penciptapun akhirnya menyadari dari keseringannya melihat hal-hal tersebut telah terjadi endapan-endapan didalam bathin pencipta.
Imajinasi Kematian Sebagai Sumber penciptaan Seni Lukis selengkapnya
by admin | Oct 13, 2011 | Berita
Sejumlah 124 dosen, pegawai dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sore ini, Rabu (12/10) akan bertolak ke Solo, untuk menghadiri Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke VII dari tanggal 14-16 Oktober, dan akan dibuka secara resmi oleh Mendiknas pada tanggal 14 mendatang di ISI Surakarta. ISI Denpasar akan tampil pada acara pembukaan dengan gamelan Gong Gede, Semar Pegulingan Saih Pitu, Selonding, serta Pegambuhan. Selain itu ISI Denpasar, selain 6 Institusi Seni lainnya di Indonesia yang merupakan anggota dari BKS PTSI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indonesia) akan menampilkan tari Cak bertajuk “Cak-Cupak”
Tarian ini berkisah tentang kisah asmara Putri Raja Wiranantaja dari Kediri yang bernama Raden Galuh Laksmi. “Cak-Cupak” dibawah binaan Wayan Sudana, IB Mas, serta I Gede Oka Surya Negara ini menampilan mahasiswa dan dosen dari Fakultas Seni Pertunjukan yang ditata apik dan sangat menarik oleh ketiga seniman tersebut. Selain menampilkan tabuh dan Tari Cak, beberapa mahasiswa ISI Denpasar juga telah menghadiri workshop teater dan workshop kolaborasi sejak awal Oktober yang lalu, yang akan dipentaskan pada hari kedua dan ketiga FKI.
Rektor ISI Denpasar, Prof.Dr. I Waya Rai.S., M.A. yang juga menjabat sebagai Ketua BKSPTSI periode 2009-2011 akan tampil membawakan makalah dalam Seminar Internasional tentang Vokal. Selain Prof. Rai akan hadir Prof. Sri Hastanto dari ISI Surakarta, serta Edward Herbest dari USA. Seminar internasional tentang Film juga akan menghadirkan pembicara Philip Ceah dari Singapore serta Leo Hobaica dari USA.
Pada tanggal 15 dan 16 akan diadakan pertunjukan hasil workshop serta pameran seni rupa. Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama ISI Denpasar, I Wayan Suweca, S.Skar., M.Mus.yang memimpin langsung rombongan ISI Denpasar ke FKI VII, ditemui di sela-sela acara latihan persiapan FKI VII mengatakan bahwa persiapan ISI Denpasar sudah maksimal. “Persiapan dan latihan tekun yang telah dilaksanakan akan memberikan hasil pementasan yang maksimal juga. Kami atas nama Pimpinan sangat berterima kasih atas kerja keras dan semangat seluruh Dosen, Mahasiswa, dan pegawai untuk kesuksesan penampilan ISI Denpasar di FKI nanti,”pungkasnya.
by dwigunawati | Oct 13, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Made Yoga Semadi
NIM : 2007 02 049
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
Dalam perkembangan arus Globalisasi dewasa ini telah menyebabkan ketidak seimbangan pada aspek kehidupan masyarakat. Nilai-nilai Moral dan Etika telah mengalami pergeseran, yang menyebabkan krisis identitas dan pada akhirnya menimbulkan kegelisahan, keresahan Fsikologis. Yang berpengaruh pada penyimpangan perilaku yang meresahkan. Menurut ajaran Agama Hindu Fenomena kehidupan ini dapat diatasi dengan Ajaran Yoga yang bersumber dari Kitab Veda, sebagai penerangan rohani dalam menggapai kedamaian.
Terinspirasi dari Fenomena kehidupan tersebut, penata ungkapkan menjadi sebuah Karya Seni Karawitan Kreasi Pepanggulan yang tetap berpijak pada pola tradisi, yatu dengan mengolah unsur-unsur Karawitan seperti Melodi, Ritme, Tempo, Dinamika.
Pendukung Karawitan : Sekaha Gong Jenggala Gita Swara, Desa Adat Tegallalang, Gianyar.


by dwigunawati | Oct 12, 2011 | Berita, pengumuman

Kamis, 29 September 2011
NEW YORK, 28 September 2011 (ANTARA/PRNewswire-AsiaNet)
Platform yang Diperluas Menambahkan Galeri Baru, Artis, Media Sosial yang Diperkaya, Interaksi Mobile dan Partisipasi Museum
VIP Art Fair, pameran seni kontemporer pertama di dunia yang khusus digelar secara online, mengumumkan pameran keduanya, VIP2.0, tanggal 3-8 Februari 2012, di VIPArtFair.com [http://www.vipartfair.com ]. Galeri internasional terkemuka akan menawarkan karya seni bernilai mulai dari $500 hingga lebih dari $1M.
VIP Art Fair, yang diluncurkan pada bulan Januari 2011, memanfaatkan teknologi Internet untuk menciptakan pasar online langsung untuk melihat, mempelajari dan membeli karya-karya seni oleh para seniman terkemuka dari seluruh dunia.
Direktur pameran Noah Horowitz menjelaskan, “VIP mengambil model pameran seni fisik yang sukses dan memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas, dengan memberdayakan hubungan antara komunitas seni yang terlibat dan pedagang paling menonjol di dunia.”
Sebanyak 100 galeri dari 32 negara, termasuk tambahan dari Amerika Latin dan Timur Tengah, telah siap mengikuti pameran ini, jauh melampaui jumlah peserta pada tahun lalu. Galeri yang akan ikut serta termasuk Zwirner (NYC), White Cube (London), Pace (NYC, Beijing), Hetzler (Berlin), Ropac (Paris, Salzburg), Fraenkel (San Francisco), Goodman (NYC, Paris) dan Hyundai (Seoul). Daftar galeri dapat dilihat di VIPArtFair.com [http://www.vipartfair.com/galleries ].
Wakil Presiden bidang Teknik baru perusahaan ini, Severin Andrieu-Delille, menyatakan, “Pada pameran perdana kami, sistem jaringan Internet disibukkan oleh begitu banyaknya pengunjung dan situsnya mengalami masalah teknis. Mengatasi hal tersebut, kami telah menyelesaikan perbaikan besar-besaran, dengan menambahkan banyak server dan sumber daya bandwidth. Pengujian beban yang signifikan membuat kami yakin akan memenuhi permintaan tertinggi, dengan memberikan pengalaman kaya konten tanpa cela bagi peserta dan pengunjung pameran kami.”
Museum dan Ruang Edisi baru memungkinkan pengunjung membeli edisi dari lembaga internasional terkemuka. Integrasi media sosial yang ditingkatkan dengan Twitter [http://twitter.com/vipartfair ] dan Facebook [http://www.facebook.com/VIPArtFair ] mengajak para pengunjung mengikuti percakapan dan berbagi favorit. VIP2.0 mendukung semua web-browser, perangkat iPad dan ponsel serta mempertahankan fitur populer, termasuk Gerai interaktif dan VIP Lounge dengan fungsi Chat yang ditingkatkan.
Pameran seni semakin mengubah cara seni dijual. Demografi dari pameran perdana menunjukkan bahwa memindahkan pameran seni secara online merupakan inovasi yang dapat diterima; acara selama sepekan ini dihadiri oleh lebih dari 40.000 pengunjung dari 196 negara yang menghabiskan lebih dari satu jam di situs tersebut untuk melihat lebih dari 200 karya seni unik. Statistik dapat dilihat di VIPArtFair.com [http://www.vipartfair.com/private/presskit ].
Sebagai portal ke galeri seni kontemporer pertama di dunia, VIP Fair membangun teknologi bagi pedagang untuk menjalin hubungan dengan klien yang sudah ada, bagi calon kolektor untuk menemukan dunia seni, serta bagi mahasiswa, pendidik, kritikus dan kurator untuk mengakses seniman kontemporer. Keterangan lebih lanjut ada di VIPArtFair.com [http://www.vipartfair.com/about
sumber : antaranews.com
by admin | Oct 12, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
KEPADA MAHASISWA BARU FSRD ISI DENPASAR ANGKATAN 2011 DAN MAHASISWA LAMA YANG BELUM MENGIKUTI KERSOS DIWAJIBAKAN MENGIKUTI KERSOS PADA TANGGAL 6 NOPEMBER 2011.
PENDAFTARAN DIBUKA TANGGAL 17 – 28 OKTOBER 2011 DI LOKET AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN FSRD ISI DENPASAR.
BIAYA RP 100.000/MAHASISWA.
DEMIKIAN PENGUMUMAN INI DIBUAT UNTUK DILAKSANAKAN SEKIAN DAN TERIMAKASIH
DENPASAR, 12 OKTOBER 2011
KA. SUB. BAG. AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN
FSRD ISI DENPASAR
TTD
I KETUT SUWITRA, SE
NIP: 197904272001121003