by admin | Nov 16, 2011 | Berita, pengumuman
Liat Pengumuman dan Lampiran Pengisian Kuisioner Monitoring Beasiswa PPA dan BBM = Klik Disni
PENGUMUMAN
Nomor : 3275/IT5.12.1/KM/2011
TENTANG
PENGISIAN KUISIONER MONITORING
PENERIMAAN BEASISWA PPA DAN BBM
TAHUN 2011
Diumumkan kepada mahasiswa ISI Denpasar penerima beasiswa PPA dan BBM tahun 2011 (nama-nama terlampir), untuk segera mengisi kuisener secara online di internet dengan mengaksesnya pada alamat http://simb3pm.dikti.go.id/mahasiswa/, sehingga muncul tampilan Formulir Kuisioner Monitoring.
dan setelah mengisi pertanyaan-tanyaan kuisionernya tekan tombol Simpan, dan di cetak/print untuk dikumpulkan ke Sub Bagian Kemahasiswaan ISI Denpasar paling lambat tanggal 18 Nopember 2011 .
Demikian untuk segera di tindaklanjuti.
Denpasar, 16 Nopember 2011
a.n. Rektor
Pembantu Rektor III
Drs. I Made Subrata, M.Si.
NIP. 195202111980031002
Tembusan :
1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar sebagai laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan untuk diketahui
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain untuk diketahui
by admin | Nov 16, 2011 | Berita
Kiriman Heri Budiana Staf FSRD ISI Denpasar
Gianyar- Sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan serta sebagai cermin kecerdasan dan ketangguhan mahasiswa dalam menyikapi budaya bersih, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar menggelar Kerja Sosial (Kersos) Mahasiswa yang dikemas dalam bentuk ‘Bakti Sosial’. Kersos Mahasiswa FSRD ISI Denpasar dilaksanakan pada tanggal 12 November lalu, diikuti oleh seluruh mahasiswa FSRD dengan didampingi dosen pembimbing bertempat di Mandala Wisata Wenara Wahana, Pura Dalem Agung Padang Tegal, Ubud -Gianyar. Dipilihnya Mandala Wisata Wenara Wana , Pura Dalem Agung Padang Tegal sebagai lokasi kersos, karena daerah ini sebagai salah satu objek wisata yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam pengembangan pendidikan seni. Selain itu tempat ini juga telah dirancang sebagai tempat untuk menggelar pameran sebagai hasil kerjasama yang dimotori oleh Pembantu Rektor III ISI Denpasar, Drs. I Made Subrata, M.Si yang juga sebagai seniman lukis.
Pembantu Rektor I, Drs.I Ketut Murdana, M.Sn. menyampaikan bahwa kegiatan dalam wujud bakti sosial ini dilandasi oleh pengalaman jucertape yaitu jujur, cerdas, tangguh dan peduli. “Dalam hal ini mahasiswa diharapkan dapat mewujudkan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan sebagai cermin kecerdasan dan ketangguhan mahasiswa dalam menyikapi budaya bersih” ungkap I Ketut Murdana. Bakti Sosial yang melibatkan 189 mahasiswa dan 20 dosen pembimbing serta dibantu jajaran Senat dan HMJ di lingkungan FSRD ISI Denpasar, merupakan program wajib sebagai wujud nyata dari pengamalan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Hal ini juga penting bagi mahasiswa karena kersos merupakan program wajib bagi mahasiswa yang tidak dapat digantikan dengan kegiatan lainnya bedasarkan pemberlakuan SKKM (Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa).
Kegiatan Bakti Sosial yang mengambil tema “Lingkungan Bersih, Sehat, Hijau dan Bebas dari Sampah Plastik Sebagai Wahana Dalam Mewujudkan Karakter Bangsa”, diawali dengan sembahyang bersama di Pura Dalem Agung Padang Tegal, dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan obyek Wisata Mandala Wenara Wana serta Menanam pohon untuk menunjang keasrian lingkungan wisata wilayah setempat. Dalam kesempatan tersebut FSRD ISI Denpasar juga memberikan sumbangan berupa tong sampah untuk penampungan sampah plastik di sekitar obyek wisata.
Dekan FSRD ISI Denpasar, Dra. Ni Made Rinu, M.Si menghaturkan rasa terima kasih kepada Lurah Ubud, Bendesa Adat Padang Tegal, Manager Mokey Forest serta masyarakat setempat atas dukungan dan kerjasamanya dalam melancarkan kegiatan kersos ini.
Sementara Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA, yang hadir ke lokasi kersos menyambut baik dan positif kegiatan bakti sosial ini, karena kegiatan kersos dengan cara bakti sosial membersihkan lingkungan merupakan salah satu upaya untuk mendukung program pemerintah yaitu “Bali Clean and Green”. “Ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap program pemerintah provinsi Bali untuk mewujudkan Bali bersih dan hijau. Semoga kegiatan serupa dapat dilakukan komponen masyarakat lain agar Bali tetap terjaga kebersihannya” ujar Prof. Rai dengan senyuman.
by admin | Nov 16, 2011 | Berita
Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar lomba karya cipta seni pertunjukan dari tanggal 10-12 November 2011. Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Denpasar, Prof.Dr. I Wayan Rai S.,M.A. di Gedung Natya Mandala,Kamis pagi (10/11). Lomba yang diikuti oleh SMU/SMK se-Bali ini adalah untuk yang pertama kali,mengingat tahun sebelumnya lomba serupa diadakan hanya secara interen.Adapaun tujuan dari lomba ini adalah untuk memberikan peluang ruang dan waktu kepada siswa-siswa SMU/SMK untuk meningkatkan kreativitas dan daya nalar dan juga hubungan timbal balik antara lembaga SMU/SMK se-Bali dengan ISI Denpasar , sehingga lulusan SMU/SMK yang ingin memperdalam bidang penciptaan dan pengkajian seni dapat melanjutkan perkuliahan di ISI Denpasar.
Lomba karya cipta seni pertunjukan ini pada hari pertama menampilkan para penari Oleg Tamulilingan dan Bondres, pada hari kedua adalah tari Kebyar Terompong, dan pada hari ketiga adalah Tari Wiranjaya dengan peserta khusus mahasiswa Jurusan Tari ISI Denpasar
‘Para dewan juri yang diundang dalam lomba ini telah melahirkan seniman yang ada d ISI Denpasar. Kami selaku Pimpinan mengucapkan terma kasih atas kesediaan Dewan Juri dalam lomba ini. Kepada Dekan FSP, untuk lomba berikutnya, kiranya dapat digelar lomba ‘Champion of the Champion’ untuk para seniman. Artinya, lomba diadakan dengan peserta yang sudah pernah mendapat juara,” ujar Prof Rai dalam sambutannya.
Dekan FSP, I Ketut Garwa yang ditemui di sela-sela acara mengatakan bahwa dalam lomba ini disediakan hadiah uang tunai senilai total dua belas juta rupiah, piagam, serta tropy. “Lomba ini merupakan salah satu penguatan akademik yang melibatkan Senat,BEM, HMJ FSP ISI Denpasar, dan terkait dengan publikasi, promosi untuk kegiatan ISI Denpasar yang mengacu pada Visi dan Misi FSP; menjadi pusat penciptaan, pengkajian, penyaji dan pembina seni pertunjukan yang unggul berwawasan kebangsaan demi memperkaya nilai-nilai kemanusiaan sesuai perkembangan zaman.
Adapun dewan juri dalam lomba ini adalah Ni Ketut Arini Alit,SST.,Dra. Gusti agung mas Susilawati, Ketut suarta SST. MM.. MSi., I Ketut Suanda,S.Sn., dan I Wayan Juana Adi Saputra,S.Sn.
Pemenang dari masing-masing lomba tahun ini adalah: Bondress dengan juara 1,2, dan 3 masing-masing SMKN 3 Sukawati, SMA Lab Undiksa Singaraja, dan SMAN4 Singaraja. Untuk Tari Oleg Tamulilingan SMAN 3 Denpasar keluar sebagai juara pertama, disusul SMKN 3 Sukawati di posisi kedua, dan SMAN 4 Denpasar di posisi ketiga. Untuk Tari Kebyar Terompong, juara pertama direbut oleh SMKN 3 Sukawati, SMAN 1 Denpasar sebagai juara kedua, dan juara ketiga adalah SMAN 3 denpasar.
Untuk lomba Tari Wiranjaya yang diikuti oleh peserta khusus ISI Denpasar, diraih oleh mahasiswa Jurusan Tari semester V sebagai juara pertama, disusul oleh mahasiswa Jurusan Tari semester I,dan juara ketiga adalah mahasiswa Jurusan Tari semester VII. Untuk lomba tata rias Tari Wiranjaya, diraih oleh mahasiswa Jurusan Tari semester I.
Setelah pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah kepada masing-masing pemenang, lomba karya cipta seni Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar tahun 2011 ini, ditutup secara resmi oleh Rektor ISI Denpasar.
by admin | Nov 16, 2011 | Agenda, Berita, pengumuman
Kerja sossial merupakan program wajib yang diikuti oleh seluruh mahasiswa FSRD ISI Denpasar terutama bagi mahasiswa baru, Kersos merupakan sebagai wujud nyata pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya Pengabdian Kepada Masyarakat.
Kerja Sosial kali ini dibuka sekaligus dilepas oleh Rektor ISI Denpasar yang diwakili oleh Dekan FSRD ISI Denpasar di Kampus ISI denpasar
Kersos pada periode tahun 2011 ini mengambil tema : ” Lingkungan Bersih, Sehat, Hijau, dan Bebas dari sampah Plastik Sebagai Wahana dalam Mewujudkan Karakter Bangsa” Tema ini bermakna untuk menyadarkan masyarakat dan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat akan bahayanya Sampah Plastik.
Kersos Tahun ini diadakan pada tanggal 12 Nopember 2011 di Obyek Wisata Wenara Wana dan Pura Dalem Agung Padang Tegal Ubud Gianyar, diikuti oleh 189 mahasiswa serta melibatkan 20 orang dosen sebagai pembimbing dan dibantu oleh jajaran Senat Mahasiswa dan HMJ di Lingkungan FSRD ISI Denpasar.


Dipilihnya Mandala Wisata Wenara wana, Pura Dalem Agung Padang Tegal sebagai lokasi Kersos mengingat daerah ini sebagai salah satu obyek pariwisata yang dapat dijadikan sbagai sumber inspirasi dalam pengembangan pendidikan seni dan bahkan telah dirancang untuk mengadakan Kerjasama (MOU) dalam bentuk pameran tetap.

Kersos Kali ini dikemas dalam bentuk “Bakti Sosial” dengan Kegiatan sebagai berikut :
1. Sembahyang bersama di Pura Dalem Agung Padang Tegal untuk memohon keselamatan
2. Membersihkan Lingkungan obyek wisata Mandala Wenara Wana dari sampah organik dan anorganik khususnya sampah plastik.
3. Penanaman pohon untuk menunjang keasrian lingkungan obyek wisata
4. Memberikan bantuan Tong Sampah untuk penampungan sementara sampah plastik yang di buang disekitar obyek wisata
by dwigunawati | Nov 16, 2011 | Berita, Galeri
Citra desain secara ideal bersifat kontekstual dalam arti ditentukan oleh ruang lingkup perancangan yang berkait dengan aspek pertimbangan desain (fungsi, struktur, dan estetika) dan aspek lingkungan. Begitu juga dengan perancangan Spa dan Salon kecantikan harus sesuai dengan fungsi dan unsur Estetika. Salon dan Spa adalah sebuah public service yang menyediakan kebutuhan penunjang, khususnya bagi para wanita. Adanya kelahiran sebuah salon dan spa dipengaruhi oleh adanya faktor gaya hidup dan trend mode yang berlaku pada masyarakat setiap tahunnya. Pada daerah pariwisata khususnya di Canggu Kuta utara Bali sangat cocok didirikan tempat relaksasi untuk masyarakat wisatawan mancanegara dan domistik karena daerah tersebut memiliki keindahan alam yang masih asri. Maka dari itu pada tugas akhir studio ini penulis mengambil kasus Desain Interior Puri Gading Spa and Beauty Salon. Pada Desain Spa dan Salon ini mengarah pada bagaimana merancang Salon dan Spa agar sesuai dengan lingkungan yang ada di Desa Canggu, dan tidak lepas dari kebudayaan Desa itu sendiri, dan memiliki gaya tarik bagi pengguna Spa dan Salon ini. Desain yang diterapkan pada kasus ini adalah desain yang memiliki konsep yang berkaitan dengan alam. Dalam merancang desain penulis melakukan survey lapangan dan mencari data-data yang berkaitan dengan studi kasus. Dari Desain Spa dan Salon ini, penulis mengambil Konsep Natural Terapi. Natural diterapkan pada desain ruang dan penggunaan bahan yang digunakan dalam desain interior ini. Dan unsur Terapi diterapkan dengan pemilihan warna hangat dan teduh yang secara psikologis dapat menciptakan suasana ruang yang nyaman bagi kejiwaan personal pengguna ruang tersebut. Dari pembuatan konsep lanjut ke pembuatan gambar kerja dan gambar detail. Bertujuan untuk mengetahui dimensi-dimensi dan bahan yang diterapkan pada konsep tersebut, agar desain yang dibuat dapat di wujudkan di lapangan.
Kata kunci : Desain, Spa, Salon, Natural, dan Terapi.

by admin | Nov 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Surya Peredantha, SSn., MSn, Alumni ISI Denpasar
Saniscara Kliwon, wuku Wayang, 29 Oktober 2011 merupakan hari piodalan di Pura Padma Nareswari kampus ISI Denpasar. Kampus yang terkenal sebagai “Kawah Candradimuka”-nya calon-calon seniman akademis nan unggul di Bali ini pun menggelar berbagai jenis pertunjukan tari dan tabuh, baik sebagai sarana upacara atau wali, sebagai bebali atau penunjang pelaksanaan upacara dan sekedar untuk memeriahkan suasana atau balih-balihan. Pergelaran kesenian ini pun melibatkan para mahasiswa dan dosen serta tidak lupa dimeriahkan oleh para mahasiswa asing yang tergabung dalam program pertukaran pelajar Dharmasiswa.
Dimulai dengan pementasan tari Rejang Dewa oleh mahasiswi semester satu yang baru bergabung dalam tahun ajaran baru di ISI Denpasar, antusiasme para pemedek mulai meningkat. Maklum, pemedek yang sebagian besar dosen dan pegawai serta mahasiswa ini ingin menyaksikan langsung bagaimana potensi mahasiswa baru yang menampilkan kebolehannya pada kesempatan tersebut. Sebagai catatan, merupakan sebuah kebiasaan di ISI Denpasar beberapa tahun ini untuk melibatkan mahasiswa baru sebagai penari wali dalam piodalan di kampus. Setelah pementasan tari Rejang Dewa tadi, dilanjutkan dengan pementasan tari Baris Gede, juga oleh anak-anak semester baru. Sejenak kemudian, pementasan dramatari topeng tak pernah absen menghiasi hingar binger suasana khusuk religius di kampus seni yang dulunya bernama ASTI serta STSI tersebut.
Beberapa saat setelah piodalan selesai dilaksanakan, pada malam harinya dipentaskan beberapa jenis tarian untuk menghibur pemedek yang baru datang. Ada tari Selat Segara ciptaan I Gusti Ayu Srinatih, SST., M.Si, dilanjutkan dengan tari Legong Keraton Lasem oleh para mahasiswa dari Jepang serta tari Satya Brasta karya I Nyoman Cerita SST., M.FA. Namun yang mengundang decak bagi penulis adalah penampilan dari para mahasiswa Jepang bernama Yasuda Sae, Ono Satomi dan Tashiro Cia dalam membawakan tari Legong Keraton Lasem.
Ada beberapa hal yang menurut penulis perlu diperhatikan dan dicermati dalam penampilan mereka. Yang pertama adalah antusiasme mereka untuk ikut serta melibatkan diri dalam berbagai pentas seni. Partisipasi mereka dalam meramaikan acara hiburan di areal luar Pura Padma Nareswari tersebut patut diapresiasi positif sebagai kelanjutan kelas program Dharmasiswa yang mereka ikuti di kampus. Sebagai seniman dari Bali, kita patut berbangga karena kesenian yang selalu kita lestarikan ini turut dipelajari dan disukai oleh orang asing.
Hal selanjutnya adalah keseriusan para mahasiswa asing (khususnya dari Jepang) dalam membawakan tari yang tergolong cukup rumit tersebut. Dengan beberapa penonton yang lain pun penulis sempat berdialog dan menanyakan komentarnya terhadap performa para mahasiswa asing ini dalam menari. Berbagai tanggapan positif dan kekaguman pun mencuat untuk mereka. Meskipun teknik tari tidak bisa seluwes para penari Bali yang sudah mahir, namun tetap saja penampilan mereka seolah menyiratkan bahwa mereka mengerti dan menjiwai setiap gerakan yang disajikan. Tidak kali ini saja penulis menyaksikan para mahasiswa asing membawakan tari-tari tradisional Bali yang notabene adalah budaya asli masyarakat Bali dan tentu saja hal baru bagi mereka. Penampilan prima hampir selalu mereka sajikan pada tiap kesempatan menari, entah disaksikan oleh ribuan penonton atau bahkan hanya disaksikan oleh belasan penonton.
Menyaksikan penampilan para mahasiswa asing yang demikian apiknya tidak saja membuat hati penulis berdecak bangga, namun juga membangkitkan kemirisan hati bilamana penulis mengingat beberapa pagelaran tari yang dibawakan oleh mahasiswa lokal ISI Denpasar sendiri. Pada beberapa kali kesempatan tampil dalam acara workshop (atau kunjungan tamu asing), ISI Denpasar selalu menyajikan beberapa materi tari sebagai sajian pementasan. Hal yang masih hangat dalam ingatan penulis, yang kebetulan sering dipercaya ikut mementaskan tari Oleg Tamulilingan saat workshop, menyaksikan langsung beberapa oknum mahasiswa lokal kita sangat relaks dan bahkan “terlalu relaks” dalam membawakan satu tarian. Sajian mereka di atas panggung pun menurut penulis tak lebih dari sekedar parodi bercanda yang sedikit “kelewatan”. Bagaimana tidak, sebuah tari yang serius, memerlukan penjiwaan yang dalam dibawakan seolah tanpa roh. Saling ejek dan beberapa tindakan jahil antar penari di atas panggung (saat sedang menari) seolah hal yang halal dilakukan oleh penari ISI Denpasar. Tidakkah mereka berpikir bilamana pencipta tari tersebut menonton pertunjukan mereka? Bagaimanakah perasaan mereka bila nanti tarian yang berhasil mereka ciptakan dengan penuh perjuangan dibawakan dengan asal-asalan (atau lebih tepat “dilecehkan”) sedemikian rupa? Pedulikah mereka akan komentar dan kesan penonton (yang mereka anggap “tidak mengerti” tari Bali) serta bagaimana citra lembaga setelah para tamu (yang ternyata “mengerti” tari Bali) meninggalkan kampus?
Hati ini semakin teriris dan bertanya-tanya saat melihat reaksi beberapa oknum penari sesaat setelah mereka selesai menari di atas panggung. Seolah ada rasa “kebanggaan” atas segala “kelucuan” (atau kekonyolan?) yang mereka pentaskan beberapa saat yang lalu yang ditunjukkan dengan tawa-tawa puas nan lantang. Keheranan ini bertambah ketika melihat beberapa rekan mereka justru mensuport dan berpotensi meniru tindakan-tindakan semacam itu kelak. Tidak ada indikasi kritik yang mengingatkan apalagi nasehat yang bersifat preventif dari orang-orang sekitar oknum penari tersebut. Pada saat inilah penulis rasa perlu ungkapkan sebuah gambaran hidup, bahwa sebelum merasa di atas angin, kita harus berusaha untuk bisa mengepakkan sayap dan terbang melewati banyak hal terlebih dahulu.
Sungguh hal yang kontradiktif melihat fakta ironis yang telah terjadi tersebut. Bagaimana tidak, budaya adiluhung bernama kesenian yang telah membawa ISI Denpasar serta Bali menjadi terkenal justru mulai mendapat rongrongan dari dalam. Meskipun masih bersifat kecil, bilamana tidak diingatkan akan menjadi sesuatu yang massif dan bersifat dekonstruktif. Rupanya isu kedisiplinan merupakan hal yang harus kita pelajari dari mahasiswa asing yang justru mengagungkan kesenian milik kita. Mereka begitu antusias dan bangga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan sekaligus pentas tari Bali. Berbeda dengan kita yang terkesan melecehkan kebanggaan kita sendiri. Terlebih setelah budaya atau kesenian kita diklaim bangsa lain, barulah ramai-ramai kebakaran jenggot. Maka jangan heran, rumput menjadi lebih subur di negeri tetangga karena perawatannya lebih baik, meski dari benih yang sama. Paradigma oknum mahasiswa di ISI Denpasar khususnya di Seni Tari yang bisa dikatakan memalukan tersebut harus segera diubah. Para pejabat struktural terkait, pembimbing akademik, para dosen pengajar harus selalu aktif melakukan pembinaan formal dengan pendekatan persuasif dan berkelanjutan. Di luar jam-jam belajar resmi, mahasiswa juga perlu diberikan pengertian bahwa tindakan-tindakan kurang baik seperti tersebut di atas adalah dapat dikatakan kurang menghargai hasil karya seseorang. Bahkan bila perlu, diajak untuk menonton video tari yang nyeleneh dalam arti para penarinya tidak memiliki keseriusan hati dalam menari sebagai pembanding atau cerminan dan memancing komentar mereka.
Pelecehan terhadap hasil karya menurut penulis juga merupakan sebuah pelanggaran disamping penjiplakan (plagiatisme) jika dikaitkan dengan pembelajaan HKI. Efek yang ditimbulkan dari sisi psikologis pun sama beratnya, yaitu merasa tersakiti secara emosional karena tidak adanya penghargaan atas karya yang telah tercipta. Tentu saja penulis berharap hal ini tak terjadi lagi untuk berbagai pementasan yang dilakukan oleh mahasiswa ISI Denpasar dalam kesempatan berikutnya. Banyak faktor terkait yang berpotensi dirugikan oleh tindakan semacam ini. Tulisan ini tidak lain adalah rasa jengah penulis terhadap pola pikir oknum mahasiswa terhadap keseniannya sendiri. Tiada pula tujuan untuk menyerang pribadi masing-masing. Sebelum hal ini menjadi “wabah” bagi perkembangan kesenian kita di ISI Denpasar dan Bali pada umumnya, mari berbenah diri sesegera mungkin.
“Si Jepang” yang Heboh dan “Si Bali” yang Emoh : Sebuah Kritik, Selengkapnya