by admin | Dec 8, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Wayan Ekajaya Suputra, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar
Gambelan Selonding adalah merupakan peninggalan historis dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam. Gambelan Selonding merupakan salah satu contoh mengenai Local Genius dari lelhur, yang mampu mengantarkan kita kepada suatu jenjang puncak budaya, sehingga keberadaannya masih eksis sampai saat ini. Peninggalan historis tersebut masih mampu menjembatani suatu masa ribuan tahun yang lalu dengan masa kini.
Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.
Pada dasarnya gambelan Selonding yang lahir dari hasil, cipta, rasa, dan karsa nenek moyang, itu adalah sebagai perwujudan dari pengalaman estetis dikala keadaan jiwa sedang mengalami kedamaian dan kesucian. Pendakian ini hanya mungkin dapat dicapai dengan penghayatan dan pengalaman yang immanent dari ajaran agama hindu. Rupa-rupanya gambelan Selonding tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kultur religius, sehingga dapat dipahami bahwa gambelan Selonding banyak terdapat dipusat-pusat keagamaan pada zaman Bali kuno yang oleh R. Goris disebut sebagai basis kebudayaan Bali Kuno. Dapat dimengerti, mengapa gambelan Selonding yang pernah ada di Jawa Timur pada zaman Kediri kini sudah lenyap (Tusan, 2001 : 2).
Gambelan Selonding bukanlah segugusan instrumen primitif yang kosong tanpa makna. Gambelan ini banyak tercatat dalam prasasti raja-raja Bali Kuno dari babakan pemerintah Maharaja Sri Jaya Sakti sampai dengan awal pemerintahan Majapahit di Bali. Dan juga sejumlah karya sastra para pujangga dari zaman Kediri sampai Babakan zaman Majapahit akhir. Seperti Kekawin Bharata Yudha, Hari Wangsa, Gatot Kaca Sraya, Sumana Santaka, Wrttasancaya, Wrttayana, dan Rama Parasu Wijaya, banyak merekam nuansa keindahan gambelan Selonding yang masih dapat diwarisi sampai sekarang.
Istilah Selonding yang kemudian dikenal dengan nama Selonding di Bali, berdasarkan temuan dalam sebuah lintar kuno yaitu Babad Usana Bali yang menyebutkan seorang raja besar di zaman dahulu yang bergelar Sri Dalem Wira Kesari yang bertahta di lereng gunung Tolangkir (Gunung Agung) (Tusan, 2001 : 12)
Bila dirunut asal muasal kosa kata Selonding itu berasal dari kata Salunding. H.N. der Tuuk dalam bukunya Kawi Balineesch-Nederlandsch-1984, menyebutkan bahwa Salunding itu identik dengan gambelan gender.C.F. Winter SR menyebutkan Salunding adalah gambelan Saron.Wayang Warna menyebutkan kosa kata Salunding adalah nama gambelan yang suci yang ditabuh pada upacara tertentu.
Guru-guru Kokar pada waktu mengadakan penelitian di Tenganan (1971) mengemukakan bahwa Selonding berasal dari kata Salon + Ning yang diartikan tempat suci. Karena gambelan Selonding itu dikenal sebagai perangkat gambelan yang disucikan dan disakralkan oleh masyarakat pendukungnya.
Gambelan Selonding adalah salah satu gambelan kuno yang masih dapat diwarisi sampai sekarang di Bali. Gambelan ini semula dikenal pada masa pemerintahan Sri Jaya Bawa di Kediri yang berlanjut sampai pada zaman Majapahit.
Di Bali gambelan Selonding telah dikenal pada pemerintahan Sri Maharaja Jaya Sakti (1052-1071 C), merupakan suatu kesenian yang populer pada zamannya, mengingat kewajiban-kewajiban berupa pajak yang dikenakan yang merupakan pajak tertinggi diantara kesenian lainnya.
Pada zaman pemerintah Sri Maharaja Bhatara Guru Sri Adikutiketana pada tahun 1126 C, kesenian Selonding ini akhirnya dibebaskan dari segala macam pajak, karena telah menjadi kesenian untuk mengiringi upacara keagamaan sampai dewasa ini. Gambelan Selonding tersebut masih sangat disakralkan sebagai sarana upacara keagamaan di Bali, seperti yang terdapat di Tenganan, Bungaya, Asak, Timbrah, Bugbug, Ngis, Trunyan, Kedisan ,Batur, Bantang, Manikliyu, dan Tigawas.
Jumlah
|
Satuan |
Ciri-ciri Instrumen |
| 8 |
tungguh |
berisi 4 buah bilah |
| 6 |
tungguh |
masing-masing berisi 4 buah bilah |
| 2 |
tungguh |
berisikan 8 buah bilah |
Karawitan Bali mencatat bahwa instrumentasi dari gambelan Selonding, yaitu :
| Jumlah |
Satuan |
Instrumen |
| 2 |
tungguh |
gong |
| 2 |
tungguh |
kempul |
| 1 |
tungguh |
peenem |
| 1 |
tungguh |
petuduh |
| 1 |
tungguh |
nyongnyong alit |
| 1 |
tungguh |
nyongnyong ageng |
Tabuh-tabuh yang dimainkan dengan patet yang berbeda-beda, dapat dikelompokkan menjad:
Karakteristik akustika dari gambelan selonding selengkapnya
by dwigunawati | Dec 8, 2011 | Berita, Galeri
Kebudayaan adalah hasil hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Kehidupan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan, kelahirannya dilatarbelakangi oleh norma-norma agama, adat kebiasaan setempat dan dilandasi oleh keadaan alam setempat. Karena budayalah kita setiap saat cenderung mengalami perubahan-perubahan yang sering disebut modernisasi. Terlihat jelas bahwa kebudayaan selalu melatarbelakangi setiap fenomena sosial dan sering menimbulkan dilema antara tradisi yang cenderung bertahan dan modernisasi yang cenderung merombak dengan membawa nilai-nilai baru. Masyarakat Bali kini dihadapkan dengan budaya luar, karena mereka setiap saat berinteraksi dan berhadapan langsung dengan wisatawan asing dan pergeseran budaya pun terjadi tanpa disadari. Pengaruh-pengaruh luar ada berbagai macam dan bentuknya antara lain : teknologi, ekonomi, agama, pendidikan,gayahidup dan beberapa pengaruh lainnya yang membawa nilai-nilai pembaruan.
Untuk mendapatkan ide dilakukan dengan observasi, dan melihat aktivitas soaial masyarakat saat ini. Sehingga dilakukan suatu eksperimen dengan alat dan bahan. Dengan eksperimen tersebut dilakukan suatu proses pembentukan, dengan prinsip-prinsip penyusunan karya seni lukis. Melalui tahap finishing yang merupakan evaluasi terakhir terciptalah karya seni yang biasa diapresiasikan ke masyarakat.
Untuk memberikan gambaran kepada masyarakat tentang fenomena sosial budaya yang sedang terjadi, pencipta menggunakan media seni lukis dengan cara ungkap realis dan dengangayayang mengarah pada karya-karya pop art. Dalam hal ini pencipta menghasilkan karya seni lukis sebanyak 12 karya.
Kata kunci : Budaya, Tradisional, Wisatawan, Sosial, Modernisasi.

by admin | Dec 7, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Wayan Eris Setiawan, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Jes Gamelan Fusion merupakan sebuah group musik yang dibentuk oleh I Nyoman Windha pada tanggal 31 Januari 2006. Group musik ini terlahir dari adanya kegelisahan dan kepedulian Windha terhadap kesenian Bali di masa-masa yang akan datang. Darikegelisahannya itulah memunculkan keinginan untuk mewujudkan sebuah gagasan yang mungkin bisa dikatakan agak radikal yang sebenarnya semata-mata sebagai ekspresi yang meluap betapa ia mencintai Bali. Ide ini lahir dari rasa peduli dan pengamatannya meneropong dan menyayangi Bali dari jauh yang juga didukung oleh pengalamannya mengajar di beberapa group gamelan dan tari Bali di Amerika Serikat serta kontribusi penempaan dan pengalamannya belajar komposisi musik di Mill College. Disamping itu ia juga mengakui bahwa pengalamannya berkolaborasi dengan Indra Lesmana dalam konser kolosal Megalitikum Kuantum (2005) telah memberikan motivasi yang kuat buat Windha untuk membentuk group musik Jes Gamelan Fusion ini.
Fusi dari gamelan yang terbuat dari bambu dan tembaga ini diintegrasikan menjadi sebuah barungan gamelan yang sistem nadanya dilaras mendekati tangga nada diatonis. Sejalan dengan konsep fusion yang diungkapkan Windha, dalam Jes Gamelan Fusion ini ia juga juga menggunakan beberapa instrument gamelan Jawa seperti kendang Ciblon dan sitar Jawa; alat-alat musik barat seperti biola, keyboard, bas gitar, drum set, saxsophone dan alat-alat musik non gamelan lainnya seperti djembe, dan tabla.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa gamelan Jegog adalah salah satu jenis perangkat gamelan yang menjadi ciri khas daerah Jembrana. Sebuah karya seni yang lahir di bumi makepung ini banyak memiliki kekhasan yang yang dapat membedakannya dengan ensambel gamelan lainnya di Bali. Kekhasan itu dapat diamati dari sistem pelarasannya yang menggunakan laras pelog empat nada, penampilannya yang selalu enerjik. Demikian juga halnya dengan gamelan Semar Pagulingan yang sudah memiliki kekhasan yaitu memakai laras pelog tujuh nada. Lalu kenapa Windha memilih kedua ensambel ini untuk digabungkan dan dirubahnya sistem pelarasan yang sudah mentradisi dari kedua ensambel tersebut mendekati tangga nada diatonis? Apakah ia tidak akan merusak dari khasanah budaya yang sudah ada?
Menurut Windha, aspek musikal Jes Gamelan Fusion dibentuk atas dasar pertimbangan konsepsi musikal yang telah diperhitungkan dengan masak-masak. Pengabungan Jegog dengan Semar Pagulingan tidak semata-mata digabung begitu saja, namun berangkat dari aspek estetik-musikal yang cermat dan atas pertimbangan yang jeli dalam hal pemilihan nada dasar yaitu mengambil tonika nada diatonis untuk digunakan dalam kedua ensambel itu. Dengan tonika nada diatonis tersebut, secara praktis akan membuat kedua ensambel ini akan lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan instrument musik Barat. Pembuatan nada yang tidak sama dengan aslinya juga dilakukan atas dasar pertimbangan model atau jenis musik yang akan dihasilkan. Windha menambahkan bahwa dengan memakai media ini ia akan coba menggarap komposisi musik dengan menggunakan konsep-konsep musik jazz.
Inovasi yang dilakukannya terhadap gamelan Jegog dan Semar Pagulingan tidak membuatnya menjadi khawatir akan pertanyaan apakah perbuatannya itu dapat dikatakan merusak dari kesenian tradisi atau tidak. Justru Windha memberi jawaban dengan memberi pertanyaan ”apakah kemunculan gamelan seperti Semarandhana yang juga merupakan penggabungan dari gamelan Gong Kebyar dan Semar Pagulingan akan merusak dari keberadaan gamelan lainnya di Bali?” Windha menegaskan bahwa apa yang ia perbuat sekarang justru akan menambah keragaman seni yang di miliki Bali dan ini merupakan sebuah usaha yang dilakukannya untuk dapat dipersembahkan kepada tanah kelahirannya
Instrumentasi dan Jumlah Instrument
Media ungkap yang digunakan oleh I Nyoman Windha adalah Jes Gamelan Fusion. Jes adalah singkatan dari Jegog dan Semar Pagulingan, serta gamelan fusion didefinisikan sebagai sebuah perpaduan gamelan. Intrumen gamelan Jegog dan Semar Pagulingan yang dipakai disini tidaklah komplit, namun yang dipakai hanya beberapa instrument saja yang diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan garap.
Gamelan Jegog yang digunakan disini adalah gamelan Jegog Tingklik. Jegog Tingklik adalah bentuk lain dari Gamelan Jegog Jembrana dimana alatnya berbentuk Jegog bilah/daun yang menggunakan resonator lepas, namun hanya instrument Jegognya saja yang memakai resonator yang menyatu dengan sumber getarnya. Adapun intrumen yang digunakan yaitu:
- Sepasang instrumen barangan yang berdaun 10;
- Sepasang instrumen undir yang berdaun 10;
- Sepasang instrument jegog berdiri yang berdaun 10;
Mengenai gamelan semar Pagulingan, instrument yang digunakan disini yaitu:
- satu tungguh instrument trompong;
- Sepasang gangsa pemade yang berdaun 14;
- Sepasang instrumen jublag yang berdaun 10;
- Sepasang instrumen jegogan yang berdaun 7;
- Sebuah instrumen gentorag;
- sebuah instrumen rebab;
- Sepasang instrumen gong (lanang wadon);
- Sebuah instrument ceng-ceng gecek (ceng-ceng kecil);
- Sepasang instrument kendang cedugan (lanang wadon);
- Sepasang kendang krumpungan/kendang palegongan (lanang wadon).
Jes Gamelan Fusion Selengkapnya
by dwigunawati | Dec 7, 2011 | Berita, Galeri
Skrip karya ini mengambil tema “ Fenomena Kehidupan Perempuan Tua Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Penciptaan Karya Seni Lukis”. Berawal dari melihat dan memperhatikan tentang kehidupan perempuan tua yang menyentuh perasaan yang mengarah pada filosofi tentang hakekat kehidupan, ketika perempuan mulai tua ia akan semakin berpegang teguh pada perbuatan dan tingkah laku yang bijak kesopanan dan kerendahan hati. Dari sudut pandang itulah menjadikan dorongan untuk pencipta mengangkat perempuan tua sebagai sumber inspirai dalam penciptaan karya seni lukis.
Untuk mempermudah proses perwujudan karya diperlukan kajian sumber sebagai referensi di dalam pencipta berkarya. Adapun kajian yang diterapkan dalam penciptaan ini adalah melalui pengamatan obyek, pengamatan karyadari seniman lain, dari media komunikasi dan media cetak lainnya, yang kemudian diteruskan pada proses penciptaan melalui tahap penjelajahan, tahap eksperimen, dan tahap pembentukan, sehingga terwujud karya yang sesuai tema yang diinginkan.
Akhirnya dapat disimpulkan terkait dengan tema bahwa sosok kehidupan perempuan tua mempunyai permasalahan yang komplek dan terkadang sangat sulit untuk dipecahkan, sehingga mampu mebangkitkan inspirasi seni yang mendorong munculnya ide-ide pencipta untuk merealisasikan semua itu kedalam karya seni lukis. Dalam visual karya pencipta menggunakan teknik dusel, dan teknik kerok.
Kata kunci : Fenomena Perempuan Tua, penciptaan seni lukis

by admin | Dec 6, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Made Budiarsa, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Genggong merupakan sebuah instrument musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat music ini memiliki teknik yang cukup rumit. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah- tengahnya sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain. Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah, kadang- kadang di mainkan di rumah, bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan maksud menarik perhatian wanita (kekasihnya), sebagaimana halnya dilakukan dengan instrumen suling. Hanya saja dengan adanya parkembangan dunia yang sangat pesat dewasa ini, kebiasaan untuk menarik perhatian wanita dengan menggunakan genggong semakin jarang kita jumpai.
Jumlah tungguhan dalam satu perangkat gambelan genggong, pada masing-masing sekha didapatkannya adanya jumlah maupun jenis tungguhan yang berbeda-beda. Perbedaan penggunaan tungguhan-tungguhan dalam satu perangkat merupakan hal yang umum di kalangan karawitan bali.
Jumlah Instrumentasi
Instrumen utama yaitu Genggong yang terbuat dari Pugpug terdiri dari dua jenis yaitu:
Beberapa buah Genggong yang bertugas membentuk jalinan-jalinan.
Seperti dari apa yang telah dijelaskan diatas bahwa alat music ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah-tengahnya terdapat sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain.
Alat yang disebut Sompret. Dimana suara yang ditimbulkan menyerupai suara katak.
Alat ini pula sama bahannya terbuat dari pelapah enau (Pupug dalam bahasa Bali). Tungguhan ini tidak memiliki ikuh capung seperti pada gambar diatas, namun hanya memiliki sebuah pelayah sebagai sumber bunyinya.
Selain dari dua yang telah disebutkan diatas terdapat beberapa instrument lain, diantaranya :
Sepasang kendang krumpungan.
Nama dari salah satu tungguhan yang bahan utamanya terdiri dari kayu dan kulit. Kayu digunakan pada bagian bantang sedangkan kulit digunakan pada bagian penukub. Kendang krumpungan dimainkan dengan tehnik mamukul dengan tangan (tanpa menggunakan panggul), seperti kendang kekebyaran. Perbedaan pada kendaang kekebyaran dengan kendang krumpungan terletak pada ukurannya serta cara menabuhnya. Pada kendang krumpungan, tebokan yang kedil dipukul pada bagian atasnya dengan jari-jari, sehingg amenimbulkan bunyi “teng” dan “tong”. Kendang krumpungan selalu dimainkan dengan cara berpasangan (tidak ada kendang tunggal).
Satu buah Plentit.
Tungguhan iini terbuat dari potongan bamboo dengan lubang yang menganga pada bagian atasnya berfungsi sebagai resonator. Pada bagian sisi dari lobang tersebut ditancapkan besi kecil dimana nantinya bilah yang akan dipukul ditancapkan. Perlu diingat Pada bagian pangkal besi diisi karet agar suara yang dihaslkan dari bilah tersebut dapat optimal.
Satu buah Gong Pulu.
Gong pulu menggunakan dua buah bilah, satu dengan yang lainnya mempunyai nada yang sama dengan sedikit perbedaan frekwensi, sehingga menimbulkan efek ombak. Stik atau panggul yang dipergunakan mirip dengan panggul jegog hanya yang membedakannya adalah berbentuk huruf V, dimana dua panggul dikaitkan menjadi satu.
- Tungguhan Tawa-tawa (tambur)
Salah satu tungguhan sejenis kajar dibuat dari perunggu, berbentuk bundar dengan ukuran garis tengah sekitar 31 cm. tungguhan tawa-tawa tidak menggunakan tatakan seperti tungguhan kajar atau ceng-ceng. Tungguhan tawa-tawa ditabuh dengan cara meletakkannya di atas tekukan tangan kiri dan dipegang pada bagian batis. Tungguhan ini ditabuh dengan satu orang dengan menggunakan sebuah panggul terbuat dari kayu dimana pada bagian ujungnya dibungkus dengan kain agar dapat menimbulkan bunyi yang empuk. Saat menabuhnya tidak disertai dengan tutupan seperti pada tungguhan kajar. Namun dalam peranannya dalam genggong tungguhan ini biasanya diletakkan diatas paha saat dalam posisi bersila.
beberapa buah suling kecil dan menengah
Suling merupakan alat musik tiup dengan tehnik pernafasan tanpa terputus-putus (Ngunjal Angkihan). Secara suling di Bali terbuat dari bamboo. Dilihat dari cara memainkannya suling, jenis suling terdapat dua macam, yaitu suli yang ditiup pada bagian ujung dan suling yang ditiup pada bagian atas. Suling yang ditiup pada bagian atas biasanya menggunakan suwer dengan lubang pada bagian bawahnya. Saat memainkannya, jenis suling ini berada di depan pemain. Suling dalam hal ini biasanya bermain menyajikan bantang gending atau lagu pokok.
Genggong Selengkapnya
by admin | Dec 6, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Surya Peradantha, SSn., MSn
Pembahasan tentang indera penciuman ini terdapat pada bab VII dari buku yang berjudul “Tubuh Sosial” karangan dari penulis Anthony Synnott. Penciuman merupakan indera yang sebenarnya memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia berperan begitu vital dalam setiap interaksi sosial, seperti soal makanan dan minuman, terapi, agama, industri, relasi klas etnik sosial, (dan bahkan ke dalam ranah seni), bau-bauan ada di mana-mana dan memiliki fungsi yang sangat beragam.
Ada tiga jenis bau-bauan yang bisa dibedakan, yaitu :
- bau-bauan alami : contohnya bau-bauan tubuh
- bau-bauan pabrik : contohnya parfum, polusi, limbah pabrik,
- bau-bauan simbolik : contohnya metafor-metafor bebauan.
Tiga jenis bebauan ini tidak sepenuhnya terpisah, karena dalam situasi apapun, ketiganya hadir berpadu bersama. Namun secara konseptual, ketiganya sesungguhnya terpisah.
Largey & Watson ( 1972 ) dalam artikelnya yang berjudul “ The Sociology of Odours “ menegaskan : Bebauan memiliki banyak sisi ; penanda ikatan, simbol status, penjaga jarak, suatu teknik manajemen kesan, lelucon, atau protes anak sekolah dan sinyal bahaya dan di atas semuanya, bebauan adalah pernyataan mengenai sesorang, siapapun dia. Artinya disini bahwa penciuman bisa mendefinisikan individu ataupun kelompok, sebagaimana indera yang lain, dan penciuman juga bisa menjadi perantara bagi interaksi sosial.
Kontradiktif terhadap beberapa pernyataan di atas bahwa secara mengejutkan, 57% dari total 182 sampel mahasiswa menyatakan lebih memilih kehilangan indera penciuman mereka dibanding indera yang lainnya. Beragam alasan pun diberikan, mulai dari penciuman relative tidak penting, kecuali menginformasikan bau roti gosong, penciuman terkait dengan alergi, sinus dan sebagainya, sehingga tidak merasa begitu kehilangan jika indera ini tak ada.
Di samping itu pula, organ penciuman dipandang rendah oleh karena sedikitnya kosakata yang khusus bagi penciuman. Penciuman hanya mengenal kosakata enak atau tidak enak, harum atau bau dan juga netral. Bila kita bandingkan dengan indera pengelihatan, ia akan tergantung dari intensitas cahaya yang masuk ke retina, sehingga bisa membedakan warna. Indera pengecapan memiliki 4 bentuk rasa yaitu : manis, asam, asin , pahit. Indera suara memiliki satuan ukuran kencang rendahnya suara, tergantung vibrasi yang tercipta dari sumber bunyi, yang disebut Decibel (db). Indera sentuhan ditentukan oleh temperatur, ambang rasa sakit, tekanan, dan respon kulit terhadap listrik dan variabel lainnya. Namun, tentang indera penciuman, tidak ada konsesnsusnya. Yang dibutuhkan disini hanyalah penghayatan semata.
Jika kita melihat ke belakang, maka tidaklah mengherankan apabila sebagian orang memandang remeh indera penciuman ini. Aristoteles, pada jaman dahulu telah mengembangkan suatu hierarki indera yang sangat jelas :
“di bagian atas terdapat indera pengelihatan dan pendengaran, karena bisa melihat kecantikan dan mendengar musik yang dapat membimbing menuju Allah.
di bagian bawah terdapat indera cita rasa dan sentuhan hewani, yang kerap kali disalah gunakan oleh kerakusan dan nafsu yang menjauhkan manusia dengan Tuhan.
penciuman berada di antara kedua bagian ini. Ia tak dapat disalahgunakan, juga tak dapat memimpin menuju Tuhan.”
Masih cukup banyak beberapa tokoh pada jaman dahulu yang menolak dan meremehkan keberadaan indera penciuman. Termasuk Helen Keller yang sejak usia 19 bulan mengalami buta tuli. Ia menyatakan indera penciuman sebagai “malaikat jatuh”, tetapi menekankan “keagungan indera yang telah kita tolak dan remehkan ini”. Mengapa malaikat jatuh, mungkin saja dapat diartikan sebagai anugerah Tuhan kepada dirinya untuk dapat melanjutkan hidup, dan selanjutnya ditolak atau diremehkan. Tetapi, mau tidak mau, penciuman itulah aset “berharga” yang ia miliki selain mungkin sentuhan untuk dapat memaknai segala yang terjadi di sekitarnya.
Secara fisiologis, penciuman adalah indera yang sangat kuat. Dengan latihan, seseorang yang sehat akan mampu mendeteksi antara 10 sampai 40.000 bau yang berbeda. Sementara para ahli seperti ahli parfum atau pencampur whiski, dapat membedakan hingga 100.000 bau. Statistic ini memang tidak mutlak dan sulit dibuktikan kebenarannya. Bagaimanapun juga, dari sana dapat dilihat betapa penciuman pun memiliki peranan penting secara fisiologis, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk meniadakan indera yang satu ini.
Penciuman juga sering diasosiasikan dengan memori. Pengalaman–pengalaman yang terjadi pada masa lalu sering kali terbangkit ketika seseorang mencium bau yang khas. Dan sebaliknya pula, ketika seseorang mencium sesuatu, memorinya akan jauh melenggang ke masa lalu dimana bau-bauan itu pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti yang dialami oleh Gilbert dan Wycoski ( 1987 : 524 ), salah satu penciuman favoritnya adalah bau pupuk kotoran sapi. Bau tersebut membawanya pada liburannya yang indah di tempat sang bibi di Ohio selatan saat masa kanak-kanak dulu. Mungkin inilah yang oleh Hellen Keller dikatakan sebagai “penyihir kuat” karena mampu membawa kita melintasi ribuan mil dan tahun-tahun yang telah dilewati karena teringat dengan bebauan tadi.
Ada satu hal menarik yang dapat dipetik dari pernyataan Gilbert dan Wycoski, dimana bau pupuk kotoran sapi itu menurut mereka harum karena menimbulkan memori yang indah. Ini menunjukkan bahwa bau fisik dan realitas metafisik secara simbolis saling timbal balik, dimana saat-saat yang baik sama dengan bau-bauan yang enak. Karena itu, bau-bauan sering kali dievaluasi sebagai positif atau negatif berdasarkan konteks yang diingat. Dengan demikian, makna dari bau-bauan ekstrinsik dan terkonstruksi secara individual atau sosial.
Indera Penciuman dalam Dunia Seni, sebuah resensi selengkapnya