M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Indera Penciuman dalam Dunia Seni, sebuah resensi

Indera Penciuman dalam Dunia Seni, sebuah resensi

Kiriman: Ida Bagus Surya Peradantha, SSn., MSn

            Pembahasan tentang indera penciuman ini terdapat pada bab VII dari buku yang berjudul “Tubuh Sosial” karangan dari penulis Anthony Synnott. Penciuman merupakan indera yang sebenarnya memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia berperan begitu vital dalam setiap interaksi sosial, seperti soal makanan dan minuman, terapi, agama, industri, relasi klas etnik sosial, (dan bahkan ke dalam ranah seni), bau-bauan ada di mana-mana dan memiliki fungsi yang sangat beragam.

            Ada tiga jenis bau-bauan yang bisa dibedakan, yaitu :

  • bau-bauan alami               :  contohnya bau-bauan tubuh
  • bau-bauan pabrik             : contohnya parfum, polusi, limbah pabrik,
  • bau-bauan simbolik          :  contohnya metafor-metafor bebauan.

Tiga jenis bebauan ini tidak sepenuhnya terpisah, karena dalam situasi apapun, ketiganya hadir berpadu bersama. Namun secara konseptual, ketiganya sesungguhnya terpisah.

            Largey & Watson ( 1972 ) dalam artikelnya yang berjudul “ The Sociology of Odours “ menegaskan : Bebauan memiliki banyak sisi ; penanda ikatan, simbol status, penjaga jarak, suatu teknik manajemen kesan, lelucon, atau protes anak sekolah dan sinyal bahaya dan di atas semuanya, bebauan adalah pernyataan mengenai sesorang, siapapun dia. Artinya disini bahwa penciuman bisa mendefinisikan individu ataupun kelompok, sebagaimana indera yang lain, dan penciuman juga bisa menjadi perantara bagi interaksi sosial.

            Kontradiktif terhadap beberapa pernyataan di atas bahwa secara mengejutkan, 57% dari total 182 sampel mahasiswa menyatakan lebih memilih kehilangan indera penciuman mereka dibanding indera yang lainnya. Beragam alasan pun diberikan, mulai dari penciuman relative tidak penting, kecuali menginformasikan bau roti gosong, penciuman terkait dengan alergi, sinus dan sebagainya, sehingga tidak merasa begitu kehilangan jika indera ini tak ada.

            Di samping itu pula, organ penciuman dipandang rendah oleh karena sedikitnya kosakata yang khusus bagi penciuman. Penciuman hanya mengenal kosakata enak atau tidak enak, harum atau bau dan juga netral. Bila kita bandingkan dengan indera pengelihatan, ia akan tergantung dari intensitas cahaya yang masuk ke retina, sehingga bisa membedakan warna. Indera pengecapan memiliki 4 bentuk rasa yaitu : manis, asam, asin , pahit. Indera suara memiliki satuan ukuran kencang rendahnya suara, tergantung vibrasi yang tercipta dari sumber bunyi, yang disebut Decibel (db). Indera sentuhan ditentukan oleh temperatur, ambang rasa sakit, tekanan, dan respon kulit terhadap listrik dan variabel lainnya. Namun, tentang indera penciuman, tidak ada konsesnsusnya. Yang dibutuhkan disini hanyalah penghayatan semata.

            Jika kita melihat ke belakang, maka tidaklah mengherankan apabila sebagian orang memandang remeh indera penciuman ini. Aristoteles, pada jaman dahulu telah mengembangkan suatu hierarki indera yang sangat jelas :

            “di bagian atas terdapat indera pengelihatan dan pendengaran, karena bisa melihat kecantikan dan mendengar musik yang dapat membimbing menuju Allah.

             di bagian bawah terdapat indera cita rasa dan sentuhan hewani, yang kerap kali disalah gunakan oleh kerakusan dan nafsu yang menjauhkan manusia dengan Tuhan.

             penciuman berada di antara kedua bagian ini. Ia tak dapat disalahgunakan, juga tak dapat memimpin menuju Tuhan.”

Masih cukup banyak beberapa tokoh pada jaman dahulu yang menolak dan meremehkan keberadaan indera penciuman. Termasuk Helen Keller yang sejak usia 19 bulan mengalami buta tuli. Ia menyatakan indera penciuman sebagai “malaikat jatuh”, tetapi menekankan “keagungan indera yang telah kita tolak dan remehkan ini”. Mengapa malaikat jatuh, mungkin saja dapat diartikan sebagai anugerah Tuhan kepada dirinya untuk dapat melanjutkan hidup, dan selanjutnya ditolak atau diremehkan. Tetapi, mau tidak mau, penciuman itulah aset “berharga” yang ia miliki selain mungkin sentuhan untuk dapat memaknai segala yang terjadi di sekitarnya.

            Secara fisiologis, penciuman adalah indera yang sangat kuat. Dengan latihan, seseorang yang sehat akan mampu mendeteksi antara 10 sampai 40.000 bau yang berbeda. Sementara para ahli seperti ahli parfum atau pencampur whiski, dapat membedakan hingga 100.000 bau. Statistic ini memang tidak mutlak dan sulit dibuktikan kebenarannya. Bagaimanapun juga, dari sana dapat dilihat betapa penciuman pun memiliki peranan penting secara fisiologis, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk meniadakan indera yang satu ini.

            Penciuman juga sering diasosiasikan dengan memori. Pengalaman–pengalaman yang terjadi pada masa lalu sering kali terbangkit ketika seseorang mencium bau yang khas. Dan sebaliknya pula, ketika seseorang mencium sesuatu, memorinya akan jauh melenggang ke masa lalu dimana bau-bauan itu pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti yang dialami oleh Gilbert dan Wycoski ( 1987 : 524 ), salah satu penciuman favoritnya adalah bau pupuk kotoran sapi. Bau tersebut membawanya pada liburannya yang indah di tempat sang bibi di Ohio selatan saat masa kanak-kanak dulu. Mungkin inilah yang oleh Hellen Keller dikatakan sebagai “penyihir kuat” karena mampu membawa kita melintasi ribuan mil dan tahun-tahun yang telah dilewati karena teringat dengan bebauan tadi.

            Ada satu hal menarik yang dapat dipetik dari pernyataan Gilbert dan Wycoski, dimana bau pupuk kotoran sapi itu menurut mereka harum karena menimbulkan memori yang indah. Ini menunjukkan bahwa bau fisik dan realitas metafisik secara simbolis saling timbal balik, dimana saat-saat yang baik sama dengan bau-bauan yang enak. Karena itu, bau-bauan sering kali dievaluasi sebagai positif atau negatif berdasarkan konteks yang diingat. Dengan demikian, makna dari bau-bauan ekstrinsik dan terkonstruksi secara individual atau sosial.

Indera Penciuman dalam Dunia Seni, sebuah resensi selengkapnya

 

Desain Media Komunikasi Visual Promosi Album Let’s turn on a fire Band Scared Of Bums

Desain Media Komunikasi Visual Promosi Album Let’s turn on a fire Band Scared Of Bums

Musik bagi sebagian orang merupakan sebuah kebutuhan pokok yang wajib mereka konsumsi setiap harinya. Tanpa musik dunia mungkin terasa kurang berwarna, bahkan ada yang menjadikan musik itu sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi hidup mereka. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau musik pada zaman ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari berbagai belahan dunia setiap harinya muncul begitu banyak musisi dalam format yang berbeda – beda dan aliran yang sangat beragam. Media komunikasi visual yang tepat guna memiliki peran yang sangat penting bagi para musisi dan pelaku bisnis di industri musik untuk mempromosikan produk mereka, tanpa mengesampingkan kualitas musikalitas yang mereka tawarkan dari produk mereka itu sendiri.

Scared of Bums adalah nama salah satu band indie bali yang sudah menapaki karier musiknya sejak tahun 2003. Untuk menunjukkan eksistensi mereka , band ini akan segera merillis album ke dua mereka.  Guna mendukung penjualan album ini, maka diperlukan media komunikasi visual yang tepat guna sebagai sarana promosi album tersebut. Perancangan ini bertujuan untuk memperoleh media komunikasi visual yang efektif sesuai dengan teori, konsep dan keadaan di lapangan. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian, wawancara, dan data teoritis diolah melalui analisis dan sintesa sehingga diperoleh konsep perancangan sebagai dasar merancang media komunikasi visual yang sesuai dengan kriteria desain.

Konsep dasar perancangan yang digunakan adalah propaganda yang disesuaikan dengan judul album ke dua Scared of bums band yang bertajuk Let’s turn on a fire yang memiliki makna ayo kobarkan semangatmu . visualisasi desain menampilkan suasana penuh semangat dengan ilustrasi yang mengindikasikan ikon api dan kepalan tangan sebagai simbol semangat. Dalam proses perancangan media telah ditentukan media yang tepat dan sesuai yaitu kemasan compact disc, iklan majalah, poster, x-banner, stiker, baliho, goody bag, banner, t-shirt dan katalog sehingga, nantinya dapat menunjang penjualan album ke dua Scared of bums band.

Kata Kunci  : Perancangan, Media Komunikasi Visual, Promosi, Album Let’s turn on a fire band Scared of bums.

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I

Oleh: I Dewa Ayu Sri Suasmini, S.Sn,. M. Erg. Dosen Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar

PENDAHULUAN

Dewasa ini  komputer adalah  suatu sarana yang sangat penting dalam dunia kerja, hampir setiap kantor baik pada kantor pemerintah atau kantor swasta, lembaga pendidikan, tingkat rumah tangga atau dunia usaha pasti dijumpai komputer. Pada awal munculnya alat ini, komputer hanya digunakan sebagai sarana untuk pengolahan data. Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang ini komputer juga mengalami kemajuan, yaitu sebagai sarana informasi yang sangat cepat, murah, dan mudah yang tidak dimiliki oleh fasilitas informasi lainnya seperti telepon, fax maupun via pos. Dapat dikatakan bahwa komputer adalah suatu sarana yang dapat mempermudah manusia dalam beraktivitas baik dalam menyelesaikan tugas (mengolah data) maupun   untuk memperoleh informasi.

Seperangkat komputer yang paling sederhana terdiri dari Layar Monitor, CPU, Keyboard, Mouse, dengan seperangkat unit ini kita sudah bisa melakukan aktivitas mengetik. Untuk bisa mengunakan seperangkat komputer tersebut dengan nyaman dan aman maka letak dari bagian-bagian komputer ini harus diatur sesuai dengan fungsi dan disesuaikan juga dengan pengguna atau operator. Desain workstasion VDU yang ergonomi atas dasar ukuran antropometri pemakai akan dapat menurunkan keluhan Occupationl Ceruicobbrachial Syndrome (OCS) yang biasanya dialami para penguna komputer termasuk mereka yang memakai kacamata bifokal. Keluhan lain yang biasa digunakan oleh pengguna komputer adalah kelelahan pada mata akibat dari lamanya menatap layar monitor atau bisa juga akibat dari posisi monitor yang tidak sesuai kondisi dengan pemakai.

Posisi ketinggian monitor yang baik adalah sejajar garis mata dengan sudut penglihatan 200. Penelitian Ardana (2005) menyatakan bahwa penggunaan monitor di bawah meja menyebabkan kelelahan mental dan keluhan muskuloskeletal operator komputer lebih berat daripada monitor di atas meja. Hal ini dapat dijelaskan bahwa penggunaan monitor yang sejajar dengan garis mata dapat mengurangi keluhan yang biasa dialami operator. Para pemakai kacamata bifokal juga menggunakan posisi monitor yang sejajar dengan garis mata sehingga pada saat melihat ke layar monitor posisi kepala diangkat ke atas dan mendongak. Sikap ini dilakukan karena untuk melihat ke monitor lensa yang digunakan adalah lensa plus yang posisinya berada di bawah.

Sikap kerja para pemakai kacamata lensa bifokal yang melakukan aktivitas mengetik dengan posisi monitor sejajar garis mata dan saat melihat ke layar monitor posisi kepala mendongak, dan  sikap seperti ini dilakukan selama mengetik.   Dengan sikap kerja yang demikian maka akan dapat menimbulkan suatu masalah akibat dari peralatan atau sarana  tidak sesuai dengan kondisi manusia sebagai pengguna. Apabila dilakukan dalam kurun waktu lama  akan menimbulkan kelelahan dan apabila dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan stress. Untuk menghindari kelelahan akibat dari sikap yang tidak alamiah tersebut,  maka peralatan tersebut harus diatur sesuai dengan kebutuhan dan tubuh manusia.   Bekerja dengan sikap yang tidak ergonomis dapat menimbulkan berbagai keluhan diantaranya adalah timbulnya berbagai keluhan, kelelahan, bahkan kecelakaan. Menurut Carayon (1995), untuk mengurangi keluhan–keluhan dari penguna komputer, dapat dilakukan dengan memperbaiki desain kerja, memperbaiki penampilan sistem komputer.

Dari pengamatan pendahuluan yang dilakukan terhadap pengguna komputer yang memakai kacamata lensa bifokal dan yang sudah biasa melakukan aktivitas mengetik dengan komputer dengan posisi monitor sejajar dengan garis mata, sehingga posisi kepala saat melihat ke layar monitor mendongak. Setelah melakukan aktivitas mengetik dalam waktu yang cukup lama banyak yang mengeluhkan pegal pada leher belakang. Hal ini diakibatkan saat melihat ke layar monitor dengan ketinggian monitor sejajar dengan garis mata sehingga untuk melihat ke layar monitor  leher diangkat sehingga mendongak, karena lensa yang biasa dipergunakan untuk melihat layar monitor berada di bagian bawah. Untuk memperbaiki sikap tersebut maka salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menyesuaikan posisi ketinggian layar monitor. Dalam penelitian ini dilakukan perbaikan dengan menurunkan posisi ketinggian monitor dari posisi standar yaitu berada di bawah garis mata dengan cara melepaskan bagian bawah atau poros dari komputer. sehingga posisi monitor berada dibawah garis mata operator. Dari perbaikan ini  hasil yang diperoleh diharapkan dapat mengurangi keluhan subjektif para pengguna komputer yang menggunakan kacamata lensa bifokal.

METODE

Observasi: dengan mengamati langsung para penggunaan komputer yang menggunakan kacamata bifokal.

Untuk mengetahui keluhan subjektif : diberikan  kuesioner kelelahan mata modifikasi yang terdiri dari 10 item  dengan menggunakan empat skala likert.

Untuk mengetahui keluhan muskoloskleletal diberikan kuesioner Nordic Body Map modifikasi empat skala likert.

PEMBAHASAN

Tinjauan Ergonomi

Ergonomi adalah suatu ilmu, teknologi, dan seni untuk menyerasikan peralatan, mesin, pekerjaan, sistem,organisasi dan lingkungan dengan kemampuan, keahlian dan keterbatasan manusia sehingga tercapai suatu kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, nyaman, aman, efisien dan produktif dengan memanfaatkan tubuh manusia secara optimal dan maksimal (Manuaba, 2000).

Terdapat tiga hal penting yang mendasar untuk mencapai kondisi kerja yang ergonomi yaitu:

  1. Ergonomi menitik beratkan manusia sebagai center (human-centered), yaitu dalam ergonomi manusia merupakan fokus/ hal utama yang harus diperhatikan, akan mesin atau peralatan. Dalam mendisain atau redesain suatu peralatan, harus selalu mempertimbangkan manusia sebagai pengguna peralatan tersebut.
  2. Ergonomi membutuhkan bangunan sistem kerja yang terkait dengan pengguna. Dalam hal ini bahwa mesin dan peralatan yang merupakan fasilitas kerja harus disesuaikan dengan performen manusia.
  3. Ergonomi memfokuskan pada perbaikan sistem kerja. Dimana dalam suatu proses disain atau redesain harus disesuaikan dengan perbedaan kemampuan dan kelemahan masing-masing individu.

Dalam pendekatan ergonomi yang diutamakan adalah keseimbangan antara kemampuan tubuh manusia dan tugas kerja. Kemampuan tubuh seseorang tergantung dari karakteristik seseorang (yang berkaitan dengan faktor-faktor usia, jenis kelamin antropometri, pendidikan, pengalaman, status, agama/ kepercayaan, status kesehatan, kesegaran tubuh).

Faktor-faktor tuntutan tugas antara lain meliputi:

Dalam perancangan stasiun kerja dengan mempergunakan komputer maka penerapan ergonomi sangat diperlukan sehingga tercipta keserasian antara manusia dengan sistem kerja, agar tidak terjadi suatu sikap paksa atau tidak alamiah.

Peralatan Komputer

Komputer adalah seperangkat peralatan yang terdiri dari monitor, CPU, Keyboard, dan mouse. Peralatan kerja ini termasuk paling minimal yang sudah bisa dipergunakan untuk mengetik. Pada saat mengetik pemakai selalu berhadapan dengan layar komputer. Monitor merupakan display yang ditampilkan yaitu berupa sumber informasi sesuai dengan kontrol yang diinginkan atau ditekan oleh pemakai. Menurut Jaschinski-Kruza, 1991, penggunaan layar monitor pada pekerja dengan Visual Display Unit biasanya memerlukan jarak pandang yang berkisar pada jarak 50 cm sampai 90 cm (rata-rata 74cm) untuk kenyamanan operator sendiri.

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I, selengkapnya

Desain Media Komunikasi Visual Kampanye Pencegahan Rabies

Desain Media Komunikasi Visual Kampanye Pencegahan Rabies

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Di provinsi Bali khususnya kota Denpasar, umumnya penyakit Rabies biasanya diderita seseorang akibat gigitan anjing liar. Pada tahun 2008 hingga 2011, tercatat 10 orang telah menjadi korban keganasan penyakit Rabies ini.

Kampanye pencegahan Rabies sesungguhnya dilakukan berkali-kali oleh pemerintah kota Denpasar melalui media-media komunikasi visual. Beberapa media tersebuat adalah brosur dan spanduk. Direktur Kesehatan Hewan Deptan, Agus Wiyono mengatakan bahwa di Bali, masyarakatnya dikenal sebagai penyayang binatang, namun kesadaran dan tanggung jawab untuk memvaksin hewan peliharaan dan merawatnya dengan baik masih rendah. Maka dapat disimpulkan, kampanye yang sudah dilakukan oleh pemerintah belum menunjukkan hasil yang baik.

Oleh karena belum efektifnya media-media yang dirancang oleh pemerintah kota Denpasar, maka perlu adanya rancangan dan konsep desain yang baru dan baik. Konsep desain sederhana dan menarik dipilh karena dengan kesederhanaan, pesan dapat disampaikan lebih jelas dan menarik. Selain itu, media-media yang dirancang harus dapat mengajak semua masyarakat untuk memvaksinasi hewan yang mereka pelihara secara teratur.

Sesuai tujuan media yang akan dirancang dan konsep desainnya, media-media yang akan dipilh adalah Pin, stiker, poster, web banner, mug, mini x-banner, baliho, billboard, t-shirt dan katalog. Diharapkan, melaui proses desain yang tepat media-media tersebut dapat berfungsi dengan efektif.

Kata Kunci : kampanye pencegahan rabies, media komunikasi visual, desain

   

Desain Media Komunikasi Visual Sarana Promosi Meazza Soccer Dome

Desain Media Komunikasi Visual Sarana Promosi Meazza Soccer Dome

Futsal merupakan olah raga sepak bola dalam ruangan yang mulai di gemari oleh masyarakat khususnya di Denpasar dalam 4 tahun terakhir ini, padahal olah raga futsal sudah ada sejak 1930 dan telah menyelenggarakan 8 kali Piala Dunia Futsal. Olah Raga Futsal bagi masyarakat merupakan permainan yang menyenangkan, karena tanpa harus berpanas panasan dan kehujanan, berbeda dengan sepakbola luar ruangan lapangan futsal hanya berukuran sepertiganya saja dan membutuhkan pemain hanya 5 orang. Bagi masyarakat Denpasar olah raga futsal merupakan olahraga baru yang di masa mendatang akan menjadi prospek baik bagi bidang olahraga di Denpasar. Salah satu futsal center di Denpasar yang memliki fasilitas dan kenyamanan yang memadai adalah Meazza Soccer Dome.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah survei, wawancara, observasi, dokumentasi, metode kepustakaan. Sedangkan metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan deskriptif komperatif. Untuk mendukung pengerjaan digunakan teori semiotika yaitu tentang ikon, indeks dan simbol. Konsep pada perancangan kali ini adalah ”Spirit Futsal”, dimana spirit berarti semangat yang menggambarkan bahwa desain yang akan dibuat mampu memberikan dan membangkitkan semangat berolah raga dan berkompetisi. Sedangkan futsal merupakan cabang olahraga sebagai aktifitas dari tempat yang akan dipromosikan, serta menjadi acuan dalam ilustrasi yang digunakan pada media promosi yang akan dibuat.

Sehingga bila diterapkan pada perancangan media yaitu menampilkan desain yang mencerminkan olahraga futsal dengan penuh semangat. Bila dikaitkan dengan media promosi yang akan dirancang, maka konsep ini dimaksudkan bagaimana mengajak atau mempengaruhi masyarakat sebagai khalayak sasaran, agar tertarik untuk bermain futsal di Meazza Soccer Dome.

Kata Kunci : Media Komunikasi Visual, Futsal, Meazza Soccer Dome.

Desain Komunikasi Visual Sarana Promosi Estadio Futsal

Desain Komunikasi Visual Sarana Promosi Estadio Futsal

Salah satu aspek desain komunikasi visual adalah mempromosikan barang dan jasa secara komersil melalui media komunikasi visual untuk mencapai tujuan dari perusahaan. Estadio futsal beralamat di jalan Keboiwa Selatan Denpasar. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2010 berkecimpung dalam penyediaan jasa Penyewaan lapangan futsal indoor. Melihat jasa Penyewaan lapangan futsal indoor di Denpasar yang berkembang pesat, pesaing-pesaing bermunculan maka perlu usaha kreatif untuk melakukan promosi dari Estadio, sejauh init media promosi yang ada pada Estadio hanya sebatas logo dan Flyer saja. Maka timbul pertanyaan bagaimana membuat Estadio lebih dikenal melalui pecancangan media komunikasi visual yang sesuai dengan kreteria desain? melalui media komunikasi visual yang dirancang masyarakat akan lebih mengenal keberadaan Estadio dan mau memanfaatkan jasa yang ada.

Metode yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data pengumpulan data, terdiri dari metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan metode  semiotika dan swot .

Media yang dibuat untuk mempromosikan Estadio terdiri dari Poster, Flyer, Mug, Papan Nama, Umbul-umbul, X-Banner, T-shirt, Stiker,  Gantungan kunci, dan Katalog. Dengan konsep dasar perancangan “Spirit Urban” menonjolkan gaya desain urban art sebagai kiblat dalam perancangan desain sehingga memberikan kesan bebas berekspresi dan memberi daya tarik tersendiri.

Kata Kunci : Desain, Komunikasi Visual, Promosi, Estadio Futsal.

  

Loading...