M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Karakteristik Akustika Gamelan Selonding

Karakteristik Akustika Gamelan Selonding

Kiriman: I Wayan Ekajaya Suputra, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar

Gambelan Selonding adalah merupakan peninggalan historis dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam. Gambelan Selonding merupakan salah satu contoh mengenai Local Genius dari lelhur, yang mampu mengantarkan kita kepada suatu jenjang puncak budaya, sehingga keberadaannya masih eksis sampai saat ini. Peninggalan historis tersebut masih mampu menjembatani suatu masa ribuan tahun yang lalu dengan masa kini.

Gambelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.

Pada dasarnya gambelan Selonding yang lahir dari hasil, cipta, rasa, dan karsa nenek moyang, itu adalah sebagai perwujudan dari pengalaman estetis dikala keadaan jiwa sedang mengalami kedamaian dan kesucian. Pendakian ini hanya mungkin dapat dicapai dengan penghayatan dan pengalaman yang immanent dari ajaran agama hindu. Rupa-rupanya gambelan Selonding tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kultur religius, sehingga dapat dipahami bahwa gambelan Selonding banyak terdapat dipusat-pusat keagamaan pada zaman Bali kuno yang oleh R. Goris disebut sebagai basis kebudayaan Bali Kuno. Dapat dimengerti, mengapa gambelan Selonding yang pernah ada di Jawa Timur pada zaman Kediri kini sudah lenyap (Tusan, 2001 : 2).

Gambelan Selonding bukanlah segugusan instrumen primitif yang kosong tanpa makna. Gambelan ini banyak tercatat dalam prasasti raja-raja Bali Kuno dari babakan pemerintah Maharaja Sri Jaya Sakti sampai dengan awal pemerintahan Majapahit di Bali. Dan juga sejumlah karya sastra para pujangga dari zaman Kediri sampai Babakan zaman Majapahit akhir. Seperti Kekawin Bharata Yudha, Hari Wangsa, Gatot Kaca Sraya, Sumana Santaka, Wrttasancaya, Wrttayana, dan Rama Parasu Wijaya, banyak merekam nuansa keindahan gambelan Selonding yang masih dapat diwarisi sampai sekarang.

Istilah Selonding yang kemudian dikenal dengan nama Selonding di Bali, berdasarkan temuan dalam sebuah lintar kuno yaitu Babad Usana Bali yang menyebutkan seorang raja besar di zaman dahulu yang bergelar Sri Dalem Wira Kesari yang bertahta di lereng gunung Tolangkir (Gunung Agung) (Tusan, 2001 : 12)

Bila dirunut asal muasal kosa kata Selonding itu berasal dari kata Salunding. H.N. der Tuuk dalam bukunya Kawi Balineesch-Nederlandsch-1984, menyebutkan bahwa Salunding itu identik dengan gambelan gender.C.F. Winter SR menyebutkan Salunding adalah gambelan Saron.Wayang Warna menyebutkan kosa kata Salunding adalah nama gambelan yang suci yang ditabuh pada upacara tertentu.

Guru-guru Kokar pada waktu mengadakan penelitian di Tenganan (1971) mengemukakan bahwa Selonding berasal dari kata Salon + Ning yang diartikan tempat suci. Karena gambelan Selonding itu dikenal sebagai perangkat gambelan yang disucikan dan disakralkan oleh masyarakat pendukungnya.

Gambelan Selonding adalah salah satu gambelan kuno yang masih dapat diwarisi sampai sekarang di Bali. Gambelan ini semula dikenal pada masa pemerintahan Sri Jaya Bawa di Kediri yang berlanjut sampai pada zaman Majapahit.

Di Bali gambelan Selonding telah dikenal pada pemerintahan Sri Maharaja Jaya Sakti (1052-1071 C), merupakan suatu kesenian yang populer pada zamannya, mengingat kewajiban-kewajiban berupa pajak yang dikenakan yang merupakan pajak tertinggi diantara kesenian lainnya.

Pada zaman pemerintah Sri Maharaja Bhatara Guru Sri Adikutiketana pada tahun 1126 C, kesenian Selonding ini akhirnya dibebaskan dari segala macam pajak, karena telah menjadi kesenian untuk mengiringi upacara keagamaan sampai dewasa ini. Gambelan Selonding tersebut masih sangat disakralkan sebagai sarana upacara keagamaan di Bali, seperti yang terdapat di Tenganan, Bungaya, Asak, Timbrah, Bugbug, Ngis, Trunyan, Kedisan ,Batur, Bantang, Manikliyu, dan Tigawas.

 Jumlah

Satuan Ciri-ciri Instrumen
8 tungguh berisi 4 buah bilah
6 tungguh masing-masing berisi 4 buah bilah
2 tungguh berisikan 8 buah bilah

 Karawitan Bali mencatat bahwa instrumentasi dari gambelan Selonding, yaitu :

Jumlah Satuan Instrumen
2 tungguh gong
2 tungguh kempul
1 tungguh peenem
1 tungguh petuduh
1 tungguh nyongnyong alit
1 tungguh nyongnyong ageng

 Tabuh-tabuh yang dimainkan dengan patet yang berbeda-beda, dapat dikelompokkan menjad:

Karakteristik akustika dari gambelan selonding selengkapnya

Fenomena Sosial Budaya Menjadi Inspirasi Dalam Berkarya Seni Lukis

Fenomena Sosial Budaya Menjadi Inspirasi Dalam Berkarya Seni Lukis

Kebudayaan adalah hasil hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Kehidupan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan, kelahirannya dilatarbelakangi oleh norma-norma agama, adat kebiasaan setempat dan dilandasi oleh keadaan alam setempat. Karena budayalah kita setiap saat cenderung mengalami perubahan-perubahan yang sering disebut modernisasi. Terlihat jelas bahwa kebudayaan selalu melatarbelakangi setiap fenomena sosial dan sering menimbulkan dilema antara tradisi yang cenderung bertahan dan modernisasi yang cenderung merombak dengan membawa nilai-nilai baru. Masyarakat Bali kini dihadapkan dengan budaya luar, karena mereka setiap saat berinteraksi dan berhadapan langsung dengan wisatawan asing dan pergeseran budaya pun terjadi tanpa disadari. Pengaruh-pengaruh luar ada berbagai macam dan bentuknya antara lain : teknologi, ekonomi, agama, pendidikan,gayahidup dan beberapa pengaruh lainnya yang membawa nilai-nilai pembaruan.

Untuk mendapatkan ide dilakukan dengan observasi, dan melihat aktivitas soaial masyarakat saat ini. Sehingga dilakukan suatu eksperimen dengan alat dan bahan. Dengan eksperimen tersebut dilakukan suatu proses pembentukan, dengan prinsip-prinsip penyusunan karya seni lukis. Melalui tahap finishing yang merupakan evaluasi terakhir terciptalah karya seni yang biasa diapresiasikan ke masyarakat.

Untuk memberikan gambaran kepada masyarakat tentang fenomena sosial budaya yang sedang terjadi, pencipta menggunakan media seni lukis dengan cara ungkap realis dan dengangayayang mengarah pada karya-karya pop art. Dalam hal ini pencipta menghasilkan karya seni lukis sebanyak 12 karya.

Kata kunci : Budaya, Tradisional, Wisatawan,  Sosial, Modernisasi.

Jes Gamelan Fusion

Jes Gamelan Fusion

Kiriman: I Wayan Eris Setiawan, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar.

            Jes Gamelan Fusion merupakan sebuah group musik yang dibentuk oleh I Nyoman Windha pada tanggal 31 Januari 2006. Group musik ini terlahir dari adanya kegelisahan dan kepedulian Windha terhadap kesenian Bali di masa-masa yang akan datang. Darikegelisahannya itulah memunculkan keinginan untuk mewujudkan sebuah gagasan yang mungkin bisa dikatakan agak radikal yang sebenarnya semata-mata sebagai ekspresi yang meluap betapa ia mencintai Bali. Ide ini lahir dari rasa peduli dan pengamatannya meneropong dan menyayangi Bali dari jauh yang juga didukung oleh pengalamannya mengajar di beberapa group gamelan dan tari Bali di Amerika Serikat serta kontribusi penempaan dan pengalamannya belajar komposisi musik di Mill College. Disamping itu ia juga mengakui bahwa pengalamannya berkolaborasi dengan Indra Lesmana dalam konser kolosal Megalitikum Kuantum (2005) telah memberikan motivasi yang kuat buat Windha untuk membentuk group musik Jes Gamelan Fusion ini.

Fusi dari gamelan yang terbuat dari bambu dan tembaga ini diintegrasikan menjadi sebuah barungan gamelan yang sistem nadanya dilaras mendekati tangga nada diatonis. Sejalan dengan konsep fusion yang diungkapkan Windha, dalam Jes Gamelan Fusion ini ia juga juga menggunakan beberapa instrument gamelan Jawa seperti kendang Ciblon dan sitar Jawa; alat-alat musik barat seperti biola, keyboard, bas gitar, drum set, saxsophone dan alat-alat musik non gamelan lainnya seperti djembe, dan tabla.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa gamelan Jegog adalah salah satu jenis perangkat gamelan yang menjadi ciri khas daerah Jembrana. Sebuah karya seni yang lahir di bumi makepung ini banyak memiliki kekhasan yang yang dapat membedakannya dengan ensambel gamelan lainnya di Bali. Kekhasan itu dapat diamati dari sistem pelarasannya yang menggunakan laras pelog empat nada, penampilannya yang selalu enerjik. Demikian juga halnya dengan gamelan Semar Pagulingan yang sudah memiliki kekhasan yaitu memakai laras pelog tujuh nada. Lalu kenapa Windha memilih kedua ensambel ini untuk digabungkan dan dirubahnya sistem pelarasan yang sudah mentradisi dari kedua ensambel tersebut mendekati tangga nada diatonis? Apakah ia tidak akan merusak dari khasanah budaya yang sudah ada?

Menurut Windha, aspek musikal Jes Gamelan Fusion dibentuk atas dasar pertimbangan konsepsi musikal yang telah diperhitungkan dengan masak-masak. Pengabungan Jegog dengan Semar Pagulingan tidak semata-mata digabung begitu saja, namun berangkat dari aspek estetik-musikal yang cermat dan atas pertimbangan yang jeli dalam hal pemilihan nada dasar yaitu mengambil tonika nada diatonis untuk digunakan dalam kedua ensambel itu. Dengan tonika nada diatonis tersebut, secara praktis akan membuat kedua ensambel ini akan lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan instrument musik Barat. Pembuatan nada yang tidak sama dengan aslinya juga dilakukan atas dasar pertimbangan model atau jenis musik yang akan dihasilkan. Windha menambahkan bahwa dengan memakai media ini ia akan coba menggarap komposisi musik dengan menggunakan konsep-konsep musik jazz.

Inovasi yang dilakukannya terhadap gamelan Jegog dan Semar Pagulingan tidak membuatnya menjadi khawatir akan pertanyaan apakah perbuatannya itu dapat dikatakan merusak dari kesenian tradisi atau tidak. Justru Windha memberi jawaban dengan memberi pertanyaan ”apakah kemunculan gamelan seperti Semarandhana yang juga merupakan penggabungan dari gamelan Gong Kebyar dan Semar Pagulingan akan merusak dari keberadaan gamelan lainnya di Bali?” Windha menegaskan bahwa apa yang ia perbuat sekarang justru akan menambah keragaman seni yang di miliki Bali dan ini merupakan sebuah usaha yang dilakukannya untuk dapat dipersembahkan kepada tanah kelahirannya

Instrumentasi dan Jumlah Instrument

            Media ungkap yang digunakan oleh I Nyoman Windha adalah Jes Gamelan Fusion. Jes adalah singkatan dari Jegog dan Semar Pagulingan, serta gamelan fusion didefinisikan sebagai sebuah perpaduan gamelan. Intrumen gamelan Jegog dan Semar Pagulingan yang dipakai disini tidaklah komplit, namun yang dipakai hanya beberapa instrument saja yang diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan garap.

            Gamelan Jegog yang digunakan disini adalah gamelan Jegog Tingklik. Jegog Tingklik adalah bentuk lain dari Gamelan Jegog Jembrana dimana alatnya berbentuk Jegog bilah/daun yang menggunakan resonator lepas, namun hanya instrument Jegognya saja yang memakai resonator yang menyatu dengan sumber getarnya. Adapun intrumen yang digunakan yaitu:

  1. Sepasang instrumen barangan yang berdaun 10;
  2. Sepasang instrumen undir yang berdaun 10;
  3. Sepasang instrument jegog berdiri yang berdaun  10;

Mengenai gamelan semar Pagulingan, instrument yang digunakan disini yaitu:

  1. satu tungguh instrument trompong;
  2. Sepasang gangsa pemade yang berdaun 14;
  3. Sepasang instrumen jublag yang berdaun 10;
  4. Sepasang instrumen jegogan yang berdaun 7;
  5. Sebuah instrumen gentorag;
  6. sebuah instrumen rebab;
  7. Sepasang instrumen gong (lanang wadon);
  8. Sebuah instrument ceng-ceng gecek (ceng-ceng kecil);
  9. Sepasang instrument kendang cedugan (lanang wadon);
  10. Sepasang kendang krumpungan/kendang palegongan (lanang wadon).

Jes Gamelan Fusion Selengkapnya

Fenomena Kehidupan Perempuan Tua Sumber Inspirasi Dalam Penciptaan Karya Seni Lukis

Fenomena Kehidupan Perempuan Tua Sumber Inspirasi Dalam Penciptaan Karya Seni Lukis

Skrip karya  ini mengambil tema “ Fenomena Kehidupan  Perempuan Tua Sebagai Sumber Inspirasi  Dalam Penciptaan Karya Seni Lukis”. Berawal dari melihat dan memperhatikan  tentang kehidupan perempuan tua  yang menyentuh perasaan  yang mengarah pada filosofi tentang hakekat kehidupan, ketika perempuan mulai tua ia akan semakin berpegang teguh pada  perbuatan dan tingkah laku yang bijak  kesopanan dan kerendahan hati. Dari sudut pandang itulah menjadikan dorongan untuk pencipta  mengangkat perempuan tua sebagai sumber inspirai dalam penciptaan karya seni lukis.

Untuk mempermudah proses perwujudan karya diperlukan kajian sumber sebagai referensi di dalam pencipta berkarya. Adapun kajian yang diterapkan dalam penciptaan ini adalah melalui  pengamatan obyek, pengamatan karyadari seniman lain, dari media komunikasi dan media cetak lainnya, yang kemudian diteruskan pada proses penciptaan melalui tahap penjelajahan, tahap eksperimen, dan tahap pembentukan, sehingga terwujud karya yang sesuai tema yang diinginkan.

Akhirnya dapat disimpulkan terkait dengan tema bahwa sosok kehidupan perempuan tua mempunyai permasalahan yang komplek dan terkadang sangat sulit untuk dipecahkan, sehingga mampu mebangkitkan inspirasi seni  yang mendorong munculnya ide-ide pencipta untuk merealisasikan semua itu kedalam karya seni lukis. Dalam visual karya  pencipta menggunakan teknik dusel, dan teknik kerok.

Kata kunci : Fenomena Perempuan Tua, penciptaan seni lukis

  

Genggong

Genggong

Kiriman: I Made Budiarsa, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Genggong merupakan sebuah instrument musik yang sudah kita warisi sejak zaman yang lampau. Sebagai instrumen musik tua, Genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian, alat music ini memiliki teknik yang cukup rumit. Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah- tengahnya sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain. Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah, kadang- kadang di mainkan di rumah, bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan maksud menarik perhatian wanita (kekasihnya), sebagaimana halnya dilakukan dengan instrumen suling. Hanya saja dengan adanya parkembangan dunia yang sangat pesat dewasa ini, kebiasaan untuk menarik perhatian wanita dengan menggunakan genggong semakin jarang kita jumpai.

            Jumlah tungguhan dalam satu perangkat gambelan genggong, pada masing-masing sekha didapatkannya adanya jumlah maupun jenis tungguhan yang berbeda-beda. Perbedaan penggunaan tungguhan-tungguhan dalam satu perangkat merupakan hal yang umum di kalangan karawitan bali.

Jumlah Instrumentasi

Instrumen utama yaitu Genggong yang terbuat dari Pugpug terdiri dari dua jenis yaitu:

Beberapa buah Genggong yang bertugas membentuk jalinan-jalinan.

Seperti dari apa yang telah dijelaskan diatas bahwa alat music ini terbuat dari pelepah enau (Bahasa Bali Pugpug), berbentuk segi empat panjang dengaan ukuran panjang kurang lebih 16 cm dan lebar 2 cm. Ditangah-tengahnya terdapat sebuah pelayah sepanjang kurang lebih 12 cm; pada ujung kanan di buat lubang kecil tempat benang itu diikatkan pada sebuah potongan bambu kecil sepanjang 17 cm, sedangkan pada ujung kirinya diikatkan kain sebagai tempat pegangan ketika bermain.

Alat yang disebut Sompret. Dimana suara yang ditimbulkan menyerupai suara katak.

Alat ini pula sama bahannya terbuat dari pelapah enau (Pupug dalam bahasa Bali). Tungguhan ini tidak memiliki ikuh capung seperti pada gambar diatas, namun hanya memiliki sebuah pelayah sebagai sumber bunyinya.

Selain dari dua yang telah disebutkan diatas terdapat beberapa instrument lain, diantaranya :

Sepasang kendang krumpungan.

Nama dari salah satu tungguhan yang bahan utamanya terdiri dari kayu dan kulit. Kayu digunakan pada bagian bantang sedangkan kulit digunakan pada bagian penukub. Kendang krumpungan dimainkan dengan tehnik mamukul dengan tangan (tanpa menggunakan panggul), seperti kendang kekebyaran. Perbedaan pada kendaang kekebyaran dengan kendang krumpungan terletak pada ukurannya serta cara menabuhnya. Pada kendang krumpungan, tebokan yang kedil dipukul pada bagian atasnya dengan jari-jari, sehingg amenimbulkan bunyi “teng” dan “tong”. Kendang krumpungan selalu dimainkan dengan cara berpasangan (tidak ada kendang tunggal).

Satu buah Plentit.

Tungguhan iini terbuat dari potongan bamboo dengan lubang yang menganga pada bagian atasnya berfungsi sebagai resonator. Pada bagian sisi dari lobang tersebut ditancapkan besi kecil dimana nantinya bilah yang akan dipukul ditancapkan. Perlu diingat Pada bagian pangkal besi diisi karet agar suara yang dihaslkan dari bilah tersebut dapat optimal.

Satu buah Gong Pulu.

Gong pulu menggunakan dua buah bilah, satu dengan yang lainnya mempunyai nada yang sama dengan sedikit perbedaan frekwensi, sehingga menimbulkan efek ombak. Stik atau panggul yang dipergunakan mirip dengan panggul jegog hanya yang membedakannya adalah berbentuk huruf V, dimana dua panggul dikaitkan menjadi satu.

  1. Tungguhan Tawa-tawa (tambur)

Salah satu tungguhan sejenis kajar dibuat dari perunggu, berbentuk bundar dengan ukuran garis tengah sekitar 31 cm. tungguhan tawa-tawa tidak menggunakan tatakan seperti tungguhan kajar atau ceng-ceng. Tungguhan tawa-tawa ditabuh dengan cara meletakkannya di atas tekukan tangan kiri dan dipegang pada bagian batis. Tungguhan ini ditabuh dengan satu orang dengan menggunakan sebuah panggul terbuat dari kayu dimana pada bagian ujungnya dibungkus dengan kain agar dapat menimbulkan bunyi yang empuk. Saat menabuhnya tidak disertai dengan tutupan seperti pada tungguhan kajar. Namun dalam peranannya dalam genggong tungguhan ini biasanya diletakkan diatas paha saat dalam posisi bersila.

beberapa buah suling kecil dan menengah

Suling merupakan alat musik tiup dengan tehnik pernafasan tanpa terputus-putus (Ngunjal Angkihan). Secara suling di Bali terbuat dari bamboo. Dilihat dari cara memainkannya suling, jenis suling terdapat dua macam, yaitu suli yang ditiup pada bagian ujung dan suling yang ditiup pada bagian atas. Suling yang ditiup pada bagian atas biasanya menggunakan suwer dengan lubang pada bagian bawahnya. Saat memainkannya, jenis suling ini berada di depan pemain. Suling dalam hal ini biasanya bermain menyajikan bantang gending atau lagu pokok.

Genggong Selengkapnya

Loading...