by dwigunawati | Dec 15, 2011 | Berita, Galeri
Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, Wanita telah mengubah dirinya menjadi wanita yang penuh pesona , cantik, percaya diri, cerdas. Perubahan tersebut terjadinya karena gaya hidup, dimana gaya hidup saat ini membuat wanita harus pintar dalam berpenampilan, karena dengan berpenampilan menarik wanita dapat menampilkan citra dirinya.
Apa yang wanita lakukan dengan keinginannya untuk tampil sempurna dalam aktifitas sehari-harinya mulai cara duduk, cara berjalan, cara berbicara , cara berpenampilan, cara bergaul adalah agar dapat menyandang status sosial dan menampilkan citra dirinya dimata orang lain.
Derasnya informasi media massa seperti majalah, TV, radio, internet yang menyuguhkan iklan-iklan produk kecantikan yang ditawarkan . Keyakinan wanita akan produk kecantikan yang dapat membuat diri mereka cantik terkadang menjadi dampak yang tidak baik bagi wanita itu sendiri, sehingga dapat menyebabkan ketergantungan yang menyebabkan krisis identitas, konsumenrisme, terjadi kesenjangan sosial lainnya.
Apa yang wanita lakukan dengan keinginan berpenampilan sempurna dan cantik dalam kehidupan yang serba modern seperti sekarang ini wanita mengikuti trend, karena keinginan didalam dirinya. Keinginan tersebut menjadi dasar Fantasi hiperealitas. Didalam hiperealitas, kehidupan bergerak didalam suatu model yang disebut model simulasi (permainan). Dari problematika diatas, maka pencipta tertarik untuk membahas “ Kehidupan Wanita Modern “ dalam aktifitas keseharianya.
Kata Kunci : Aktifitas Kehidupan Wanita Modern dalam imajinasi.

by admin | Dec 15, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Nomor: 1476/IT5.1/DT/2011
Diberitahukan kepada Seluruh Dosen Pembimbing Akademik FSRD ISI Denpasar untuk mengisi Formulir Konseling sesuai dengan banyaknya mahasiswa yang dibimbing.
Form. Dapat didownload di sini (form bimbingan PA ), dan dikumpulkan paling lambat tanggal 29 Desember 2011.
Demikian kami sampaikan untuk dapat dilaksanakan. Terima kasih.
Denpasar, 15 Desember 2011
A.n. Dekan
Pembantu Dekan I,
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by dwigunawati | Dec 15, 2011 | Berita, Galeri
Kehidupan para lansia (lanjut usia) yang tinggal di sebuah panti jompo tidaklah sama dengan kehidupan yang dijalani oleh lansia yang tinggal dalam sebuah keluarga. Tidak banyak orang yang mengetahui dan memahami keberadaan lansia di panti jompo. Hanya segelintir kalangan yang bergerak di bidang sosial yang mampu memaknai keberadaan lansia tersebut. Seksi Penyantunan Lanjut Usia Wana Seraya yang berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial merupakan bukti nyata pergeseran nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat, terututama nilai sosial dalam sebuah keluarga di Bali.
Kehidupan para lansia penghuni panti jompo Wana Seraya beserta seluruh aktivitasnya merupakan hal yang menarik untuk diangkat dalam karya foto. Profil orang tua dengan usia lanjut, kulit yang keriput, rambut yang memutih serta gigi yang mulai sedikit dapat memberikan karakter klasik dalam foto. Suasana lingkungan Wana Seraya juga dapat digunakan untuk menambah informasi makna sebuah foto.
Fotografi dokumenter dipilih untuk menampilkan karya foto kehidupan penghuni panti Wana Seraya agar cerita mengenai aktivitas keseharian mereka dapat terangkum dengan jelas dalam karya visual, yang juga disertai dengan photo caption/cerita singkat mengenai tokoh dalam karya tersebut. Melalui karya foto yang dikemas dalam warna hitam putih, kesederhanaan bentuk kehidupan, penonjolan karakter, suasana yang dramatis, dan cerita di balik setiap karya foto, ditujukan untuk menampilkan sebuah karya yang menarik.
Setelah mematangkan ide, dilanjutkan dengan memilih lokasi, observasi lapangan, studi pustaka, pendekatan dan pemaparan teori untuk menganalisi karya. Dari elemen-elemen visual fotografi digunakan dalam perwujudan karya yakni dalam garis, bentuk, bidang/ruang, tekstur dan warna yang kemudian diorganisasikan dalam unsur komposisi, kesatuan, keseimbangan dan pusat perhatian dalam sebuah foto. Foto-foto yang terdokumentasikan kemudian dilanjutkan ke dalam proses pemilihan foto yang terbaik sesuai dengan ide, untuk selanjutnya diolah dengan menggukan software photoshop CS3 dalam editing foto dengan piranti komputer.
Dengan pemahaman yang baik tentang karakter, bentuk, posisi sinar, dan aktivitas para lansia yang tinggal di Wana Seraya, pemotret dapat mengembangkan imajinasi dan inspirasi untuk memvisualisasikan kehidupan orang tua penghuni panti jompo Wana Seraya ke dalam karya seni fotografi. Dengan demikian dapat dihasilkan karya foto yang memberi arti luas, lebih dari apa yang terekam dalam foto itu sendiri. Sebuah foto dapat menceritakan kisah yang panjang dari waktu pada saat dia terekam. Foto akan dapat menceritakan dirinya dan waktunya di saat yang akan datang.
Kata-kata Kunci : lansia, aktivitas, panti jompo, dan foto dokumenter.
by admin | Dec 14, 2011 | Artikel, Berita
oleh: Drs. I Made Jana, M.Sn., Dosen Kriya Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar
Membicarakan seni lukis Kamasan sebagai salah satu manifestasi percampuran antara seni lukis tradisi Indonesia dengan pengaruh Barat, tidak lepas dari perkembangan peradaban bangsa Indonesia itu sendiri. Berdasarkan catatan sejarah Indonesia menunjukan bahwa sebelum munculnya pengaruh Hindu di Bali, masyarakat Bali di masa lampau telah meletakan dasar yang kuat bagi perkembangan kebudayaan Bali selanjutnya dan ternyata telah turut memperkaya kebudayaan bangsa Indonesia. Untuk mengetahui dasar-dasar kebudayaan Bali, harus dicari kembali di dalam zaman prasejarah Bali yang merupakan awal sejarah masyarakat Bali selanjutnya.
Kalau pada zaman Dharmawangsa sampai zaman Majapahit berkembang sastra kekawin Mahabharata dan Ramayana serta kidung Panji, pada zaman raja-raja Bali kakawin dan kidung diperbanyak oleh pujangga Istana, termasuk terjadi transformasi sastra kekawin dan kidung menjadi sekar macepat, suatu pengalihan sastra kawi menjadi sastra Bali dalam bentuk puisi tembang. Diduga saat itulah muncul peparikan Adiparwa, Bharatayuda, Narasoma, dan Bomantaka yang diciptakan berdasarkan wiracarita Mahabharata.
Pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong, datanglah seorang pendeta dan sastrawan dari Majapahit, yang bernama; Danghyang Nirartha yang memperkenalkan arsitektur Pura (tempat persembahyangan ) dan Puri (sebagai Istana Raja). Selain itu Danghyang Nirartha telah meninggalkan sejumlah karya dalam bentuk lontar. Pertumbuhan dan perkembangan kesenian pada saat itu ditandai dengan tumbuhnya pusat kesenian di sekitar Istana. Seni yang muncul saat itu merupakan seni keagamaan (religi), dan seni untuk puri (seni keraton). Selain Penciptaan karya seni di atas, kemudian menjadi semakin kompleks, pada masa itu alat-alat perlenggkapan sesajen, seperti lamak, lis, tamiang, penjor, dan bentuk-bentuk jejahitan yang lain dibuat dari daun kelapa atau daun lontar yang ditata, dirangkai menjadi semakin rumit dan artistik. Upacara-upacara dibuat lebih besar untuk mengagungkan kekuasaan raja dan kemakmuran rakyat, termasuk pembuatan perlengkapan alat ngaben yang disebut petulangan, seperti; lembu, gajah, mina, singa, macan, bebean, geganjan, peti mas, bekang, dan bentuk binatang lainya, serta bade atau wadah (menara) dibuat sangat megah sebagai ekspresi karya seni yang bermutu. Bahan-bahannya dibuat dari bambu, kayu, kertas warna-warni, kertas mas dengan jenis-jenis ukiran yang menarik. Meninjau perkembangan seni lukis Bali pada masa kejayaan raja-raja Bali, dewasa itu muncul gaya Kamasan, karya lukis berbentuk ornamen dari wayang yang temanya diambil dari Mahabharata dan Ramayana. Teknik pemecahan ruang dan komposisinya menyerupai pertunjukan wayang kulit di atas kelir. Lukisan wayang ini berperan juga dalam bangunan pura dan puri sebagai penghias langit-langit, sebagai gambar dinding, atau sebagai lukisan alat ritual, seperti lelontek dan ider-ider.
Dalam perkembangan lebih lanjut, kontak Bali dengan dunia Barat, yang ditandai dengan jatuhnya Bali ke tangan Belanda pada tahun 1906-1908. Kedatangan Belanda telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Bali yang tadinya lamban, bersifat tradisional, dihadapkan kepada hal-hal yang sama sekali baru, cara berpikir rasional serba cepat. Dalam hal ini diperkenalkan sistem pendidikan, didirikan sekolah-sekolah, sistem pemerintahan, gedung perkantoran dengan gaya Belanda, serta muncul pula motif hias yang disebut patra Holanda.
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Bali, pada tahun 1930-an kesenian Bali, seni rupa khususnya mengalami perubahan bentuk dan isi. Apabila di zaman raja-raja Bali, pusat kesenian berada di Klungkung dan sekitarnya, pada masa pemerintahan Belanda pusat kegiatan seni rupa berpindah ke Ubud, Gianyar. Perpindahan ini membawa akibat perubahan gaya dan tema terhadap perkembangan seni rupa Bali. hal ini ditandai oleh kedatangan dua pelukis, Walter Spies yang berkebangsaan Jerman, dan Rudolf Bonnet, berkebangsan Belanda yang menetap di Ubud.
Berdasarkan perkembangan sejarah kebudayaan Bali, dari zaman pra-sejarah, zaman raja-raja di Bali, maupun pada zaman pemerinhan Belanda dapat memberikan gambaran kepada kita terkait dengan topik yang akan dibahas, dalam hal ini dapat ditelusuri bagaimana tradisi-tradisi kebudayaan Jawa Hindu dapat berkembang dengan baik ke dalam kebudayaan Bali, khususnya dalam bidang kesenian. Dan perkembangan lebih lanjut dengan datangnya dua tokoh seniman Barat, membuat kesenian Bali (seni rupa, seni pahat, seni lukis), menjadi lebih dinamis.
Seni lukis Kamasan Sebagai Salah Satu Manifestasi Percampuran Antara Seni Lukis Tradisi Indonesia dengan Pengaruh Barat selengkapnya