M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Prinsip-Prinsip Penyusunan Karya Seni Lukis

Prinsip-Prinsip Penyusunan Karya Seni Lukis

Kiriman: Ni Nyoman Dinna Arwati, Mahasiswa PS Seni Rupa Murni ISI Denpasar.

Disamping peranan aspek ideoplastis berupa ide, pendapat atau gagasan dan aspek fisikoplastis yang menyangkut masalah tehnik dan pengorganisasian elemen-elemen seni rupa, terwujudnya sebuah karya juga tidak lepas dari peranan unsur keindahan yang lainnya seperti komposisi, kesatuan, pengulangan, ritmis, klimaks, keseimbangan dan proporsi.

  1. Komposisi

Komposisi adalah penyusunan atau pengorganisasian dari unsur-unsur seni rupa. (Sidik, 1981 : 44) Komposisi merupakan suatu cara pengorganisasian untuk menyusun bagian keseluruhan di dalam mendapatkan suatu wujud. (Poerwadarminta, 1976 : 17).

Dalam urian di atas memperjelas bahwa komposisi dapat dicapai melalui

pengaturan atau penyusunan unsur-unsur seni rupa baik berupa garis, warna, bidang, ruang dan tekstur secara bertumpukan dan kedinamisan dalam suatu karya.

Kesatuan

Berarti estetis itu tersusun secara baik ataupun sempurna bentuknya dan memiliki suatu kesatuan bentuk, antara bagian-bagian sampai keseluruhan. (The Liang Gie, 1976 : 48). Pendapat lain menyebutkan kesatuan atau unity adalah penyusunan atau pengorganisasian dari elemen-elemen seni demikian rupa sehingga menjadi kesatuan organik dan harmoni antara bagian-bagian dengan keseluruhan. (Sidik, 1981 : 47) Jadi kesatuan merupakan penyusunan dari elemen-elemen seni rupa sehingga tiap-tiap bagian-bagian yang tersusun tidak terlepas dengan bagian lainnya disamping itu untuk memperoleh kesatuan bentuk dan keharmonisan di antara semua elemen.

Kontras

Kontras menghasilkan vitalitas. Hal ini mungkin muncul dikarenakan adanya warna komplementer, gelap dan terang, garis lengkung dan garis lurus. Objek yang dekat dan jauh bentuk-bentuk vertikal dan horisontal, tekstur kasar dan halus, area rata dan berdekorasi, kosong dan padat, kalau tidak kontras akan timbul kegersangan, sebaliknya jika hanya terdapat kontras saja maka akan terjadi kontradisi. Untuk menghindari terjadinya hal itu diperlukan transisi atau peralihan guna mendamaikan kontras tersebut. (Sidik, 1981 : 47)

Jadi dengan kontras akan dapat menghasilkan perubahan dan perbedaan dari garis, warna dan bidang serta yang lainnya sehingga karya tidak terkesan monoton.

Irama

Irama adalah perubahan-perubahan bunyi, warna, gerak dan bentuk tertentu secara teratur yang terjadi. (Bastomi, 1992 : 72) Dalam seni rupa, irama adalah aturan atau pengulangan yang teratur dari suatu bentuk atau unsur-unsur. Bentuk-bentuk pokok irama adalah berulang-ulang (repetitive), berganti-ganti (alternative), berselang-seling (progressive), dan mengalir (flowing) (Supono, 1983 : 70). Irama akan memberikan pengulangan secara terus menerus daripada elemen-elemen seni rupa. Pencipta dalam pemanfaatan irama dalam karya seni lukis melalui adanya perbedaan ukuran bentuk dan perbedaan tebal tipisnya garis.

Klimax / Dominasi

Dominasi adalah factor atau unsur seni yang paling kuat. Dominasi dimaksud untuk menonjolkan inti atau puncak seni, oleh karena itu dominasi seni disebut pula klimaks seni. (Bastomi, 1992 : 70)

Pusat perhatian juga disebut dominasi yang merupakan focus dari susunan, suatu pusat perhatian di sekitar elemen-elemen lain bertebaran dan tunduk membantunya sehingga yang kita fokuskan menonjol, tetapi tidak lepas dengan lingkungannya. (Supono, 1983 : 69). Klimaks / dominan sangat berperan dalam karya pencipta dimana memberikan suatu fokus atau pusat perhatian dari keseluruhan karya. Pusat perhatian ini dibuat dengan perbedaan bentuk, kontras, warna melalui tempat dan sebagainya sehingga pengamat ketika pertama kali melihat lukisan penglihatannya jatuh pada pusat perhatian tersebut.

Keseimbangan ( balance )

Dengan singkat dapat dikatakan balance adalah seimbang atau tidak berat sebelah. Keseimbangan adalah suatu perasaan akan adanya kesejajaran, kestabilan, ketenangan dari kekuatan suatu susunan.

(Suryahadi, 1994 : 11) Keseimbangan dapat bersifat simetris maupun asimetris. Dalam hal seni rupa, berat yang dimaksud lebih cenderung pada berat visual dari pada berat arti fisik. Unsur-unsur visual yang berpengaruh pada berat visual ialah ukuran, warna, serta penempatannya (lokasi). (Supono, 1983 : 69)

Keseimbangan merupakan kepekaan perasaan terhadap suatu unsur dalam seni lukis yang memberikan kesan stabil dalam suatu susunan, baik yang bersifat simetris / formal maupun asimetris / informal. Keseimbangan formal memberikan kesan statis pada suatu susunan sedangkan keseimbangan informal memberikan kesan dinamis pada suatu susunan. Demikian juga dengan karya pencipta, keseimbangan yang dimunculkan adalah keseimbangan informal dimana keseimbangan ini memberikan gerakan dinamis pada wujud karya.

Harmoni

Harmoni atau keserasian adalah timbul dengan adanya kesamaan, kesesuaian dan tidak adanya pertentangan. Dalam seni rupa prinsip keselarasan dapat dibuat dengan cara menata unsur-unsur yang mungkin sama, sesuai dan tidak ada yang berbeda secara mencolok.

Prinsip Prinsip Penyusunan Karya Seni Lukis selengkapnya

‘Gurita’ Budaya Populer Korea Di Indonesia

‘Gurita’ Budaya Populer Korea Di Indonesia

Kiriman: Nyoman Lia Susanthi, Dosen PS Seni Pedalangan ISI Denpasar.

Demam Korea (Korean wave) saat telah merajai negeri Indonesia. Hal itu diakibatkan karena penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia, terutama melalui produk-produk budaya populer. Film, drama, musik dan pernak-pernik merupakan contoh dari produk budaya popular. Elemen-elemen budaya populer Korea ini menyebarkan pengaruhnya di negara-negara Asia salah satunya Indonesia. Di Indonesia, penyebaran budaya popular dari negeri gingseng ini dilihat sekitar tahun 2002 dengan tayangnya salah satu ikon budaya popular berbandrol drama seri berjudul ‘Autumn in My Heart’ atau ‘Autumn Tale’ yang lebih popular dengan judul ‘Endless Love’, ditayangkan stasiun TV Indosiar. Keberhasilan drama seri Korea tersebut yang dikenal dengan Korean drama (K-drama) diikuti oleh Koean drama lainnya. Tercatat terdapat sekitar 50 judul K-drama tayang di tv swasta Indonesia.

Populernya K-drama membuat rasa ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea meningkat. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa pemeran drama Korea juga berprofesi sebagai penyanyi, sehingga menjadi idol bagi masyarakat. Contohnya drama Korea Athena yang melibatkan boyband Super Junior, atau drama Korea berjudul Full House menjadikan Rain yang juga sebagai penyanyi, memperkenalkan musik Korea di Indonesia. Sehingga membuat musik Korea marak menjajal Indonesia. Korean pop atau K-pop mulai menggurita di kancah musik Indonesia. Terlebih lagi pada tanggal 4 Juni lalu Indonesia dihebohkan dengan sebuah festival bernama ‘KIMCHI K-POP’ (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia). Bertempat di Istora Senayan Jakarta Super Junior (Suju) tampil yang juga menghadirkan bintang tamu lain dari Korea yaitu Park Jung Min, The Boss, Girl’s Day dan X-5.

Terinspirasi dengan boys band dan girls band Korea, lahirlah banyak boys band dan girls band Indonesia, diantaranya Sm*sh, Max 5, 7 Icons atau pun MR. Bee. Acara-acara televisi pun mulai mengemas program acaranya dengan kesan Korea. Salahsatunya sinetron yang dibuat Trans Tv berjudul Cinta Cenat Cenut. Melibatkan Sm*sh sebagai pemeran utama dalam sinetron tersebut menggambarkan bagaimana gaya rambut, dandanan, fashion dan pernak-pernik Korea menjadi muatan penting dalam garapan sinetron tersebut. Tidak ketinggalan iklan televisi pun ikut bermain dengan melirik kesan Korea dalam tayangan iklan di televisi.

Tentunya ini bukan hal yang seluruhnya buruk karena rasa ketertarikan dapat memberikan nilai yang positif pada hubungan antar negara, namun harus diperhatikan lagi bahwa ketertarikan ini menyebabkan masyarakat, terutama kalangan muda lebih tertarik dengan budaya Korea daripada budaya Indonesia sendiri. Pengaruh kebudayaan Korea yang disebarkan melalui media massa sudah merasuk di berbagai segi kehidupan masyarakat Indonesia. Media massalah yang erat berperan memberikan akses mudah untuk menikmati segala suguhan berbau Korea. Karena itu, dalam tulisan ini penulis berupaya untuk menguraikan bagaimana penyebaran budaya Korea di Indonesia.

  1. Korean Drama (K Drama)

Drama Korea adalah produk Korea pertama yang berhasil masuk menguasai pasar Indonesia. Drama Korean pertama hadir di layar kaca Indosiar pada tahun 2002 dengan drama Korea pertama berjudul Endless Love.  Masuknya produk Korea lewat drama ini diawali dengan keberanian Indonesia yang melakukan liberalisasi pada tahun 1990-an. Selain itu, krisis ekonomi Asia pada akhir 1990-an membawa sebuah situasi di mana pembeli Asia lebih menyukai program acara Korea yang lebih murah. Korea menawarkan harga drama televisi lebih murah seperempat dari harga Jepang, dan sepersepuluh dari harga drama televisi Hong Kong di tahun 2000. Angka ekspor program televisi Korea meningkat secara dramatis, pada tahun 2007 mencapai US $ 150.950.000, dari US $ 12,7 juta pada tahun 1999. Hingga tahun 2011 terdapat sekitar 50 judul drama Korea telah tayang di layar kaca Indonesia. Dari sekian banyak televisi yang ada di Indonesia, perusahaan televisi Indosiarlah yang paling sering menayangkan drama Korea. Hingga saat tulisan ini dibuat, dari pengamatan penulis terdapat 3 drama Korea tayang di Indosiar, yang dimulai dari pukul 12.00 Wib. mengisahkan kerajaan korea, pukul 13.30 Wib terdapat drama Korea berjudul ‘Naughty kiss’ disusul pukul 16.00 Wib. hadir drama Korea berjudul ‘You are My Destiny.’

  1. Korean Pop (K Pop)

Setelah keberhasilan menguasai pasar Indonesia dengan dramanya, Korea pun mulai menguasai Indonesia dengan tampilan musik Korea. Korean Pop (Musik Pop Korea) disingkat K-pop, adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara. Musik pop Korea pra-modern muncul pertama kali pada tahun 1930-an yang dipengaruhi oleh masuknya musik pop Jepang. Tidak hanya budaya pop Jepang, pengaruh musik pop barat mulai menjajah Korea sekitar tahun 1950-an dan 1960-an. Awalnya berkembang musik bergenre “oldies”, kemudian tahun 1970-an, musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Muncul kemudian genre musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang.

Tahun 1992 merupakan awal mula musik pop modern di Korea, yang ditandai dengan kesuksesan grup Seo Taiji and Boys diikuti grup musik lain seperti Panic, dan Deux. Tren musik ini turut melahirkan banyak grup musik dan musisi berkualitas lain hingga sekarang.

Di tahun 2000-an mulai bermunculan artis dengan aliran musik  yang berkiblat ke Amerika seperti aliran musik R&B serta Hip-Hop. Mereka adalah MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Selain genre musik sebelumnya bertahan, lahir kembali jenis musik techno memberi nuansa modern.

‘Gurita’ Budaya Populer Korea Di Indonesia selengkapnya

Wujud Garapan Pustaka Tarka

Wujud Garapan Pustaka Tarka

Kiriman I Made Darma, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan ISI Denpasar.

Kelir

Kelir merupakan media untuk menampilkan bayangan dalam pertunjukan wayang kulit. Dalam garapan ini penulis menggunakan sebuah kelir yang berukuran :

–            Panjang  : 2,5 meter

–            Lebar     : 1,5 meter

Pemakaian kelir dengan panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter tersebut bertujuan untuk memudahkan untuk memainkan wayang melalui pencahayaan lampu listrik dan LCD.

Wayang

Wayang di bali  pada umumnya terbuat dari bahan kulit sapi yang ditatah, kemudian diberi warna dan atribut sesuai dengan karakternya masing-masing. Wayang yang dipakai dalam pakeliran yang berjudul Pustaka Tarka ini kurang lebih sebanyak 25 buah diantaranya:

–            Satu buah kayonan adalah wayang yang keluar pertama yang melambangkan dunia dalam pewayangan

–            Gana kumara adalah wayang berwujud gana, putra dari Dewa Siwa.

–            Dewa Brahma adalah wayang berwujud Dewa Brahma.

–            Dewa Siwa adalah wayang yang berwujud Dewa Siwa.

–            Dewa Wisnu adalah wayang yang berwujud Dewa Wisnu.

–            Begawan Asmaranata adalah Wayang berwujud Begawan sebagai pemimpin pesraman kasurgwarena.

–            Twalen adalah wayang panakawan dari pihak kanan dalam pewayangan.

–            Merdah adalah wayang panakawan dari pihak kanan dalam pewayangan

–            Delem adalah wayang panakawan dari pihak kiri dalam pewayangan.

–            Sangut adalah wayang panakawan dari pihak kiri dalam pewayangan

–            Empat buah tokoh raksasa adalah wayang yang berbentuk wujud raksasa.

–            Lima buah bala-bala adalah wayang sebagai rakyat atau prajurit.

–            Lima tokoh dewata (panca dewata) adalah wayang yang berbentuk dewa-dewa.

Iringan

Iringan merupakan bagian yang sangat penting di dalam suatu pementasan, begitu juga pada garapan pakeliran. Karena iringan tersebut berfungsi memberikan aksen-aksen pada setiap adegan yang akan digunakan dalam suatu pementasan.

Di dalam garapan ini, penulis menggunakan iringan Gamelan Semaradana, karena dengan menggunakan gamelan Semaradana akan bisa dibuat aksen yang lebih mantap maupun gending-gnding wayang agar sesuai dengan cerita yang penulis garap. Garapan ini diharapkan nantinya dapat memberikan kesan sesuai dengan yang saya inginkan melalui suasana yang ditampilkan didalam pementasan. Adapun barungan gamelan Semarandhana yang dipakai adalah sebagai berikut :

–            Dua buah gender rambat,

–            Dua buah gangsa,

–            Dua buah kantil,

–            Dua buah jublag,

–            Dua buah kendang,

–            Satu buah tawa-tawa,

–            Satu buah cengceng ricik,

–            Satu buah klentong,

–            Satu buah klenang,

–            Satu buah kempur,

–            Satu buah kajar,

–            Satu buah gong,

–            Dua buah suling, dan

–            Satu buah rebab.

Susunan Pepeson

Babak I

–            Kayonan,

–            Prolog dengan vocal dan iringan,

–            Dialog gana Kumara dengan begawan Asmaranata.

–            Di artikan oleh Twalen dan Merdah.

–            Gana Kumara memimpin pesraman Kasurgwarene.

–            Twalen menjadi peramal gadungan yang di bantu oleh Merdah.

Babak II

–            Kayonan

–            Narasi dalang dengan iringan.

–            Dewa Wisnu datang kepada Gana Kumara dengan tujuan untuk diramal

–            Adegan ini memakai peran orang.

Babak III

–            Di alog Delem dan Sangut.

–            Dewa Brahma datang kepada Gana Kumara dengantujuan untuk di ramal.

–            Di alog Gana Kumara dengan Dewa Brahma yang di artikan Twalen, Merdah dan Delwm Sangut.

–            Konplik terjadi antara Gana Kumara dengan Dewa Brahma.

–            Gana Kumara di bantu oleh Dewa Siwa.

–            Perang antara kekuatan Dewa Brahma dengan kekuatan Dewa Siwa.

–            Dewa Brahma mengeluarkan seratus delapan raksasa dari dalam tubuhnya.

–            Dewa Siwa mengeluarkan panca dewata dari dalam tubuhnya.

–     Para raksasa dapat di taklukan oleh Panca Dewata

Tata Cahaya

Di dalam penataan cahaya garapan ini memakai pencahayaan lampu listrik. Dalam garapan ini dipakai satu buah LCD,selain itu garapan ini akan memakai lampu efek seperti lampu warna-warni (torbo ) dengan harapan untuk dapat memberikan aksen-aksen tertentu dalam garapan ini.

Pembabakan Lakon

–      Babak I

Gana kumara menghadap Begawan Asmaranata, berbincang-bincang mengenai keberadaan pesraman Kasurgwarena.Karena Gana kumara sudah mendapat panugrahan Pustaka Tarka oleh Dewa Siwa, maka Gana kumara di serahkan untuk memimpin pesraman Kasurgwarena. Yang di bantu oleh Twalen dan Merdah. Dalam kesempatan ini Twalen menjadi peramal gadungan yang di bantu oleh Merdah.

–      Babak II

Di ceritakan dewa Wisnu dan dewa Brahma cemburu sosial melihat Gana kumara di beri penugrahan Pustaka Tarka oleh Dewa Siwa. Dewa Wisnu datang kepada Gana kumara dengan tujuan untuk meramal dirinya. Dalam adegan ini memakai peran orang. Waktu Gana keluar klir gelap.

–      Babak III

 Menyusul kedatangan Dewa Brahma dengan tujuan akan memuji kemampuan Gana Kumara. Dewa Brahma meminta kepada Gana Kumara supaya di ramal. Berapa sebenarnya Dewa Brahma mempunyai kepala. Sedangkan satu kepalanya sudah disembunyikan di dalam perutnya.Hal itu di ketahui oleh Dewa Siwa, kepala Dewa Brahma yang di simpan dalam perutnya, di ambil oleh Dewa Siwa dengan tangan ajaibnya. Setelah diramal oleh Gana Kumara Dewa Brahma di katakana mempunyai empat kepala dan akan menjadi catur muka. Dewa Brahma sangat marah terhadap Gana Kumara. Dewa Brahma mengeluarkan seratus delapan raksasa dari dalam tubuhnya, yang akan menyerang Gana Kumara. Gana Kumera di bantu oleh Dewa Siwa. Dewa Siwa mengeluarkan Panca Dewata dari dalam tubuhnya. Terjadilah perang antara Panca Dewata dengan para raksasa. Yang di menangkan oleh Panca Dewata.

Wujud Garapan Pustaka Tarka selengkapnya

Pakem Pertunjukan Wayang Garapan Pakeliran Jaya Tiga Sakti

Pakem Pertunjukan Wayang Garapan Pakeliran Jaya Tiga Sakti

Kiriman I Gusti Ngurah Nyoman Wagista, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan ISI Denpasar.

Pakeliran “Jaya Tiga Sakti” adalah sebuah garapan pakeliran dengan cerita babad yang diambil dari Babad Usana Pulina Bali. Garapan ini menceritakan tiga kesatria sakti atau jaya, kesatria Jawa yaitu Patih Gajah Mada, kestria Bali yaitu Ki Pasung Grigis dan kesatria Sumbawa yaitu Dedela Nata. Pakeliran ini mengisahkan gugurnya Ki Pasung Grigis dalam pertempuran melawan Raja Dedela Natha. Pakeliran “Jaya TIga Sakti” merupakan garapan inovasi yang memadukan teater dengan wayang layar lebar yang diiringi oleh seperangkat gambelan semarapegulingan, beberapa alat gambeln gong jawa, dan rebana.

            Kesan yang ditampilkan dalam pertunjukan ini adalah kesan kesatria dan sarat dengan makna filsafat. Sedangkan pesan yang akan disampaikan adalah kita harus selalu mawas diri dan pengendalian diri untuk mencapai kedamain serta pengorbanan untuk menegakan dan menjalankan kewajiban seorang kesatria (dharmaning kesatria). Tuntunan dan nilai-nilai yang dapat diambil dari garapan ini adalah nilai-nilai luhur perjuangan seorang kesatria, nilai-nilai patriotism, serta nilai kemanusiaan.

Pakem / Teks Pertunjukan Wayang

Babak I :

Tarian kayonan di depan layar(teater), tarian kayonan di layar.

Panglengkara   : Om…Pengaksaman ingulun ring Paduka Bhatara Hyang Mami

                        Mwang ring Sang sida karuhun

                        Sang sampun amoring acintya.

                        Tan katamanin ingulun upadrawa

                        Kawinursita…….

Mangke balanira sira Dedela Nata, sedeng awijah- wijah. Sawetning tan arep tinitah tekapning wilwatikta prabu.

Sira wateking wong-wong Sumbawa, pretania Dedela Nata asuka-suka, amangan, anginum. Samangkana………

Dalang             : kawinursita mangke marikanang Sumbawa. Wateking balanira Dedela nata lwir asuka-suka, anginum, amangan, apesta.

(tarian rakyat Sumbawa di depan layar. Dan wayang ketua suku di layar)

Ketua suku      : ha..ha..ha..beta merdeka…tidak mau tunduk dibawah kekuasaan majapahit. Mari ko semua…. Bersenang-senang, apa mau dipikir ?

                        Ayo pesta bersama sa….

Rakyat             : makan seenak, minum seenak,…ko jangan sedih, ko bebas…ko merdeka….! Mari ko menari-nari bersama sa…

Rakyat             : ha…ho…ha…ho…suka ria…,pesta, minum sampe teller…

(rakyat menari di layar dan panggung)

Ketua suku      : hai ko semua….., paduka raja datang…. Mari,mari kita sambut…

Dedela Nata    : ha….ha..ha….kamu..kamu pretan sa kabeh. Sa raja diraja…..enak mangke amangan angosti. Syapa tan saeka budi….satru ye…pejahan…..!!

Patih                : singgih……panembahan. Mabener kadi sadnya panembahan ingulun. Aja wedi…..aja kagiri-giri…ri swabawaning majapahit……

                        Enak amangan, anginum, awijah- wijah, angupit-upit.

Dedela Nata    : hah…yan samangkana enak pada lumaku apesta…

                        Pretan sa kabeh…enak pada amangan….

Dalang             : Sigra….

                        (Dedela Nata, patih dan rakyat menari)

Ketua suku      : ha….ha..ha…mari kita hepi….

Rakyat             : mari beruka –suka….jangan berpikir ruwet.

Babak II         :

Babat kayonan            : Ndatatita sumbawa raja….

                         Gumanti tojara mangke, ri belahaning jawa wetan…

                        Wilwatikta nirakara ning rat.

                        Samangkana……

Sidang di pendopo wilwatikta antara Mahapatih Gajah Mada dan Ratu Tribuana Tunggadewi.( diiring tandak dan iringan tabuh yang lembut)

Tandak                        : Pepek mantrine kaseba

                        Para bujangga rsi aji

                        Asta seni munggwing arsa

                        Tinon kadi prahu manic

                        Masegara madu gendis

                        Mabendera sutra alus

                        Menyanding jukung mangambyar

                        Kudyang tani katon luih

                        Ban panyaluk busanane sarwa prada.

Gajah Mada    : Singgih…. Inganika mahadewi.

 Yogiswari tan pepada dibya marikanang rat.

Lwir sinaut dening ula tanpa wisa pinangan mong lepas.

Teja-teja….rimrim ikanang wedana, menawa sinaputaning wicara,

Yan kapinnaning dadi, lungsur wecana inganika.

Dalang             : Rimangkana saturan nira Dwirata Mada, antyan masabda ris mardawa sojar sira mahadewi.

Ratu Tribuana: Uduh….. rarkyan….

                        Mapan karya ana….

                        Ribelahaning antara nusa wetan, Sumbawa dedela nata…..

                        Awangsul tan matwang ingulun. Enak inirayana pepareng.

Gajah Mada    : Singgih… inganika Mahadewi. Sampun…sampun inirayana de patik Mahadewi. Yayateki Arya Tengkulak wenang makusara tadahari kalaning baya.

                        Hah…hah…ha…wateking bayangkara, enak gawa sira Arya Tengkulak merangke.

( Ki Pasung Grigis menghadap ke pendopo diiringi prajurit wilwatikta)

Gajah Mada    : Singgih…kaka Arya Tengkulak. Apan yeki hana Dedela Nata Sumbawa Raja, pramada lawan Majapahit. Tan ana len maka sarining ikang pagundem, inganika kayoga menggaleng Sumbawa…mamidanda sira Dedela Nata.

Pakem Pertunjukan Wayang Garapan pakeliran Jaya Tiga Sakti selengkapnya

Klasifikasi Nilai Sosial

Klasifikasi Nilai Sosial

Kiriman: Lintang Arzia Nur Rachim, Siswa SMAN 1 Kuta Utara

Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

Nilai dominan

Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Ukuran dominan tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut.

  • Banyak orang yang menganut nilai tersebut. Contoh, sebagian besar anggota masyarakat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik di segala bidang, seperti politik, ekonomi, hukum, dan sosial.
  • Berapa lama nilai tersebut telah dianut oleh anggota masyarakat.
  • Tinggi rendahnya usaha orang untuk dapat melaksanakan nilai tersebut. Contoh, orang Indonesia pada umumnya berusaha pulang kampung di hari-hari besar keagamaan, seperti Lebaran atau Natal.
  • Prestise atau kebanggaan bagi orang yang melaksanakan nilai tersebut. Contoh, memiliki mobil dengan merek terkenal dapat memberikan kebanggaan atau prestise tersendiri.

Nilai mendarah daging (internalized value)

Nilai mendarah daging adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui prosespertimbangan. Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seseorang masih kecil. Umumnya bila nilai ini tidak dilakukan, ia akan merasa malu, bahkan merasa sangat bersalah. Contoh, seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah kepada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab

Bagi manusia, nilai berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang dalam masyarakat.

d. Peran Nilai Sosial

1) Alat untuk menentukan harga sosial, kelas sosial seseorang dalam struktur stratifikasi sosial, misalnya kelompok ekonomi kaya, kelompok masyarakat menengah dan kelompok masyarakat kelas rendah.

2) Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

3) Memotivasi dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh peran-perannya dalam mencapai tujuan.

4) Alat solidaritas atau mendorong masyarakat untuk saling bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri.

5) Pengawas, pembatas, pendorong dan penekan individu untuk selalu berbuat baik.

Fungsi dari nilai sosial

Secara umum nilai social mempunyai fungsi sebagai berikut :

1)      Nilai berfungsi sebagai petunjuk arah dan pemersatu.

Cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat umumnya diarahkan oleh nilai – nilai sosial yang berlaku. Pendatang baru pun secara moral diwajibkan mempelajari aturan – aturan sosial budaya masyarakat yang didatangi, mana yang dijunjung tinggi dan mana yang tercela. Dengan demikian, dia dapat menyesuaikan diri dengan norma, pola pikir, dan tingkah laku yang diinginkan, serta menjauhi hal – hal yang tidak diinginkan masyarakat.

2)      Nilai berfungsi sebagai pemersatu yang dapat mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu atau masyarakat. Dengan kata lain, nilai sosial menciptakan dan meningkatkan solidaritas antarmanusia. Contohnya nilai ekonomi mendorong manusia mendirikan perusahaan – perusahaan yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

3)      Nilai berfungsi sebagai benteng perlindungan. Daya perlindungannya begitu besar, sehingga para penganutnya bersedia berjuang mati – matian untuk mempertahankan nilai – nilai itu. Nilai – nilai Pancasila seperti sopan santun, kerja sama, ketuhanan, saling menghormati dan menghargai merupakan benteng perlindungan bagi seluruh warga negara Indonesia dari pengaruh budaya asing yang merugikan.

4)      Nilai berfungsi sebagai alat pendorong atau motivator.

Nilai juga berfungsi sebagai alat pendorong dan sekaligus menuntun manusia untuk berbuat baik. Karena ada nilai sosial yang luhur, muncullah harapan baik dalam diri manusia. Berkat adanya nilai – nilai sosial yang dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai cita – cita manusia yang berbudi luhur dan bangsa yang beradab itulah manusia menjadi manusia yang sungguh – sungguh beradab.

Menurut Kluckhohn, semua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya mencakup lima masalah pokok berikut ini.

1) Nilai mengenai hakikat hidup manusia. Misalnya, ada yang memahami bahwa hidup itu buruk, hidup itu baik, dan hidup itu buruk tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik.

2) Nilai mengenai hakikat karya manusia. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia berkarya untuk mendapatkan nafkah, kedudukan, dan kehormatan.

3) Nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu. Misalnya, ada yang berorientasi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan.

4) Nilai mengenai hakikat manusia dengan sesamanya. Misalnya, ada yang berorientasi kepada sesama, ada yang berorientasi kepada atasan, dan ada yang menekankan individualisme.

5) Nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia tunduk kepada alam, menjaga keselarasan dengan alam, atau berhasrat menguasai alam.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam masyarakat yang terus berkembang nilai senantiasa akan ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal akan mempengaruhi perubahan tatanan sosial yang ada. Nilai merupakan bagian yang terpenting dari kebudayaan karena suatu tindakan dianggap sah artinya secara moral dapat diterima kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat. Jadi, nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia karena nilai-nilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Kalau nilai-nilai sosial itu lenyap dari masyarakat, maka seluruh kekuatan akan hilang dan derap perkembangan akan berhenti.

dirangkum dari berbagai sumber

Klasifikasi Nilai Sosial Selengkapnya

Penyajian Garapan Kembang Ratna

Penyajian Garapan Kembang Ratna

Kiriman Ni Luh Lisa Susanti Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar

Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna disajikan ke dalam bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh tujuh orang penari putri, yang bertemakan perputaran hidup, karena bunga ratna juga melalui suatu proses dalam kehidupannya sebagai tumbuhan. Garapan tari Kembang Ratna menampilkan wujud dan karakter bunga ratna. Karakter dari bunga ratna yang agung, sederhana, dan indah. Sedangkan wujud bunga ratna, yaitu bunga ratna memiliki bentuk yang kecil, namun dapat tumbuh subur di tengah-tengah tumbuhan lainnya, serta dapat layu dan rapuh seiring berjalannya waktu. Durasi yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah kurang lebih 12 menit, dengan struktur garapan terdiri dari 6 bagian, yang diharapkan mampu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat terwujud karya seni yang berkualitas.

Tempat Pertunjukan

Ujian Tugas Akhir Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar diadakan di stage prosenium, gedung Natya Mandala, ISI Denpasar. Garapan tari kreasi Palegongan Kembang Ratna dipentaskan pada tanggal 26 Mei 2010. Penataan pola lantai biasanya disesuaikan dengan keadaan stage yang berbentuk prosenium tersebut, dan penikmat karya seni hanya dapat menyaksikan pertunjukan dari arah depan saja. Suasana yang ditampilkan pada garapan Kembang Ratna didukung dengan tata lampu (lighting), serta penggunaan layar yang memang sesuai dengan kostum dan kebutuhan garapan. Berikut adalah gambar stage prosenium gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, yang dilengkapi dengan pembagian ruang lantai dan arah hadap penari.

Kostum/Tata Busana

Kostum atau tata busana merupakan salah satu bagian penting dalam penyajian sebuah garapan tari sebagai elemen pendukung tari, karena melalui kostum penikmat dapat menangkap kesan perwatakan dan karakter yang dibawakan sehingga penikmatnya dapat membedakan setiap garapan tari yang ditampilkan. Sebagai wahana intrinsik, penataan kostum atau tata busana dapat mempengaruhi nilai artistik suatu karya seni yang menunjang keberhasilan suatu pementasan. Maka dari itu, perlu dipikirkan mengenai pemilihan warna, dan desain kostum yang harus disesuaikan dengan tema, ide, konsep garapan, maupun efek tata lampu (lighting).

Penataan kostum tari kreasi Palegongan Kembang Ratna menggunakan ciri  kostum tari Legong yang telah ada. Pengembangan dalam kostum garapan disesuaikan dengan ide, konsep dan kebutuhan garapan dengan masih mempertahankan  penggunaan gelungan, bancangan, sesimping, lamak, dan properti kipas. Kostum garapan tari Kembang Ratna menggunakan konsep minimalis dengan didesain sesederhana mungkin tanpa menggunakan banyak aksen prada dan menggunakan perpaduan warna putih susu, ungu, serta hijau yang disesuaikan dengan efek lampu agar tidak terkesan glamour. Penggunaan warna ini didasarkan atas dua macam warna bunga ratna asli, yaitu bunga ratna berwarna ungu, dan bunga ratna berwarna putih, sedangkan warna hijau dapat dikatakan sebagai pemanis.

Adapun kostum yang digunakan dalam tari kreasi Palegongan Kembang Ratna adalah sebagai berikut :

  • Hiasan Kepala

–          Gelungan yang sudah jadi dan terbuat dari kulit, terdiri dari krun, petitis, dan prakapat.

–          Bancangan dua buah dengan kombinasi bunga kamboja imitasi dan tiruan bunga ratna

–          Subeng

  • Hiasan Badan

–          Kain prada berwarna putih susu dengan tepi berwarna ungu

–          Baju lengan ¾ berwarna putih susu dengan tepi berwarna ungu

–          Angkin dengan kombinasi warna putih susu dengan ungu

–          Lamak kain berwarna hijau, dan ungu berisi hiasan tiruan bunga ratna

–          Sesimping kain berwarna ungu dengan tepi emas berisi glenter tiruan ratna

–          Ampokampok dari bahan kulit dengan kain berlapis pada bagian samping berwarna ungu dan hijau, yang berisi hiasan bunga ratna

–          Tutup dada berwarna ungu dengan hiasan emas

–          Gelang kana berwarna ungu dengan hiasan kulit.

Analisa Penyajian Garapan Kembang Ratna selengkapnya

Loading...