M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Perkembangan Lagu Pop Bali Di Era Globalisasi

Perkembangan Lagu Pop Bali Di Era Globalisasi

Oleh: I Komang Darmayuda

Pop Bali dalam Acara Dies NatalisMenurut Setia (dalam Dharma Putra, 2004) pada artikelnya yang berjudul “Kecendrungan Tema Politik dalam Perkembangan Mutakhir Lagu Pop Bali”, dikatakan bahwa lagu pop Bali memasuki dunia rekaman pada awal tahun 1970-an, yang  dilakukan oleh Band Putra  Dewata pimpinan A.A. Made Cakra (almarhum). Judul album  pertamanya adalah Kusir Dokar yang rekamannya  dilakukan di Banyuwangi, karena kebutuhan  untuk studio rekaman di Bali pada saat itu belum ada (Dharma Putra, 2004: 92). Dalam album  tersebut A.A.  Made Cakra berhasil menampilkan identitas lagu Pop Bali dengan nuansa Balinya yang kental. Banyak tema-tema lagunya mengungkapkan tentang keadaan alam dan situasi kondisi masyarakat Bali saat itu. Sebagian besar melodi lagu-lagu ciptaan  A.A. Made Cakra menggunakan tangga nada pelog dan slendro, sehingga tembang atau melodinya sangat khas dengan  nuansa Bali. Pada saat itulah dapat dikatakan bahwa  identitas lagu Pop Bali berhasil diciptakan oleh A.A. Made Cakra. Hal ini juga dapat disimak dari rekaman album-album berikutnya yaitu, Galang Bulan, Dagang Koran dan seterusnya. Dari sekian banyak lagu ciptaannya,  A.A.  Made Cakra telah mampu mempertahankan identitas atau ciri khas lagu pop Bali, menggunakan bahasa Bali dengan baik, dan dengan nuansa Bali yang kenntal tanpa terpengaruh oleh nuansa lagu pop dari daerah-daerah lainnya, maupun nuansa lagu pop Indonesia atau pop Barat.

Pada perkembangan selanjutnya  di era 1980-an, nama seperti  Ketut Bimbo,  Yong Sagita, Yan Bero, Yan Stereo mulai populer dengan lagu-lagunya yang bertema jenaka, cinta, dan banyak mengetengahkan tema tentang fenomena-fenomena  aktual  yang sedang terjadi di masyarakat  saat itu. Kehadiran para pencipta sekaligus penyanyi  tersebut  cukup mampu mengubah selera pasar lagu pop Bali dengan berbagai gaya dan irama pop  yang ditawarkan. Bila disimak  dari iringan musiknya, banyak musisi yang sudah menggunakan  sistem  digital (MIDI), yakni dengan memprogram musik iringannya pada satu instrument yang disebut keyboard dengan dibantu oleh peralatan yang cukup canggih seperti MC (Miccrosoft Computer). Dengan peralatan seperti itu, iringan musik untuk lagu-lagu pop Bali sudah mulai dikerjakan oleh seorang programmer musik,  tanpa harus menggunakan alat-alat musik Band (gitar melodi, gitar bas, drum, dan keyboard) seperti yangdilakukan  pada era A.A. Made Cakra.

Malam Kesenian Dies NatalisDiakhir tahun 1990-an perkembangan lagu pop Bali semakin semarak  dengan hadirnya Widi Widiana. Lagu-lagunya banyak mengeksploitasi kisah cinta dengan irama musik yang melankolis dan mendayu-dayu.  Hadirnya para progremer dari luar Bali cukup memberi warna terhadap nuansa iringan musik pop Bali. Nuansa dan identitas lagu pop Bali yang sebelumnya sudah jelas diciptakan oleh Anak Agung Made Cakra belakangan menjadi sedikit  kabur. Di era ini, lagu pop Bali dipadukan dengan  nuansa-nuansa lain seperti ; nuansa Mandarin, Jawa Timuran, Sunda, Jawa dan lain-lainnya. Dengan demikian, seandainya lagu-lagu pop Bali dimainkan secara  instrumental (tanpa  vocal atau kata-kata), maka akan sulit membedakan antara lagu pop Bali dengan lagu pop daerah lainnya, seperti Sunda, Banyuwangi, Jawa Tengah, dan Mandarin.

Di tahun 2003, hadirlah Lolot N Band yang menawarkan pembaruan pada lagu pop Bali, dan memilih musik dengan irama yang menghentak (Rock Alternatif). Dengan sambutan yang positif dari masyarakat terhadap pembaruan oleh Lolot N Band, menjadikan lagu pop Bali tidak hanya beraliran pop, melainkan sudah merambah ke aliran-aliran  alternatif lainnya seperti ; reagge (Joni Agung  & Double T),  Rap  ( XXX ), Keroncong  (Agung Wirasutha), dan Rock Funky (Bintang Band).

Di era globalisasi yang disertai dengan kemajuan teknologinya, lagu pop Bali yang semula sudah jelas jati diri dan identitasnya,  cendrung  mengarah pada tren-tren musik  tertentu, dan penggunaan bahasa Bali cukup bebas. Sejalan dengan perubahan ini, kini telah terjadi interaksi budaya, terjadinya pembauran  seni  dalam nuansa  lagu pop Bali. Hal ini terjadi karena konsep globalisasi memberikan peluang yang cukup besar akan terjadinya pembauran seperti itu Pembauran terjadi dalam skala  yang berbeda-beda, baik dilaksanakan secara terencana  dengan konsep yang jelas maupun yang terjadi secara spontan tanpa didasari  oleh pemikiran yang matang, menyangkut berbagai aspek  terutama bentuk, isi, dan tata penyajian. Untuk melebur atau menyatukan nilai-nilai estetik yang terkandung di dalamnya diperlukan wawasan yang luas dan kematangan dalam diri seniman, sehingga tidak berdampak pada perusakan identitas yang ada. Pembauran seperti itu  patut  dicermati akan kemungkinan berdampak yang kurang baik terhadap kesenian Bali termasuk juga lagu pop Bali (Dibia, 2004 : 1).

Untuk itu diperlukan strategi untuk mempertahankan identitas dan jati diri lagu pop Bali, dengan jalan mendalami kembali  nilai-nilai, prinsip-prinsip dasar, dan roh budaya Bali dalam lagu pop Bali. Rasa  bangga terhadap budaya sendiri harus senantiasa ditingkatkan. Dengan rasa optimisme yang tinggi kita akan mampu mengembangkan lagu pop Bali tanpa meninggalkan  jati diri atau identitasnya.

Dari pemaparan tersebut, peneliti  akan memfokuskan penelitian terhadap  perubahan-perubahan yang dialami pada Perkembangan Lagu Pop Bal di Era Globalisasi. Perkembangan yang terjadi meliputi  pada penggunaan bahasa Bali, nuansa musikal, dan irama musik atau aliran musik yang digunakan.

Perkembangan Lagu Pop Bali Di Era Globalisasi, selengkapnya

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini

Oleh I Made Sumantra

Koleksi Kriya

Koleksi Kriya

Bidang ilmu kriya, jika diuraikan dari akar keilmuannya, masih terus menjadi perdebatan sengit dikalangan praktisi dan akademisi di bidang seni rupa. Bidang kriya, telah menjadi ajang perebutan antara masuk ke dalam disiplin ilmu seni atau ilmu disain.  Penulis  tidak ingin menambah kekusutan dari perang definisi yang ada. Seni kriya dapat berada dan mencangkup kedua ilmu tadi, seni dan disain sehingga memungkinkan muncul dua istilah seperti: kriya seni dan kriya disain, seni kriya dan disain kriya. Agar dapat lebih menjelaskan konsep ini, penulis mencoba mengambil contoh kasus objek ukir kayu yang berwujud sebuah lampu hias. Benda lampu hias ini akan memiliki penampilan, makna dan fungsi yang sangat berbeda tergantung di wilayah/ kubu mana ia berada. Barang-barang kriya dalam hal ini memiliki fleksibelitas yang tinggi, berada pada posisi di antara wilayah seni dan disain. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa seharusnya tidak ada definisi yang kaku dalam pengelompokan kriya, karena hal itu tergantung di wilayah mana secara esensial kriya itu sendiri beraktivitas.

Jika kriya telah menjadi barang-barang pesanan dalam jumlah besar, maka otomatis pertimbangan-pertimbangan teknik produksi, cost, dan nilai-nilai kepraktisan akan menjadi faktor yang penting. Barang-barang ini cenderung dikelompokan sebagai produk kriya disain. Sebagai kontrasnya, ada saatnya kriyawan membuat hanya satu buah karya, seperti lampu hias yang unik. Jelas disain, konsep berkarya kriyawan tersebut berasal dari keinginan membuat satu benda lampu hias, sehingga lebih dekat kepada pola-pola kerja seni murni yang menghasilkan objek tunggal. Persoalan apakah benda lampu hias tersebut dikemudian hari akan diproduksi kembali dalam jumlah tertentu adalah masalah lain. Yang pasti, konsep awal pembuatannya tidak didasari oleh kreteria-kreteria mass production. Bentuk kriya seperti ini lebih tepat jika masuk dalam wilayah produk kriya seni.

Mengkaji dan mengembangkan konsep kriya dalam Komperensi Kriya di Bandung, berdasarkan sifatnya, kriya di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Kriya Tradisional dan Kriya Modern/ Kontemporer (Konperensi Kriya, ”Tahun Kriya dan Rekayasa 1999” Institut Teknologi Bandung,

26 Nov” 99).  Kriya Tradisional adalah segala bentuk produk hasil kebudayaan materi tradisional masyarakat, tanpa mengalami perubahan-perubahan yang berarti pada masa kini. Sebagai contoh kriya kelompok ini adalah aneka perhiasan, benda-benda perlengkapan upacara/ religi, wayang kulit, senjata-senjata tradisional, seperangkat gamelan. Beberapa produk tradisional masih tetap diproduksi, terutama untuk kebutuhan pasar pariwisata.

Adapun Kriya Modern/ Kontemporer adalah produk-produk kriya  yang memiliki kebaruan-kebaruan dalam konsep pengembangan disain, teknik produksi dan perupaan. Bagaimanapun, Kriya Modern/ Kontemporer dapat tetap berbasis tradisional, dalam arti produk tersebut merupakan hasil pengembangan dari teknik-teknik lama dan bentuk–bentuk tradisional atau bermuatan nilai-nilai filosofis masa lalu.

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini, Oleh I Made Sumantra, selengkapnya

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si (Dosen PS. Seni Karawitan)

Gamelan Gong KebyarMengamati perkembangan seni karawitan Bali khususnya seni karawitan kekebyaran dewasa ini, telah terjadi pergeseran atau perubahan fungsi beberapa instrumen yang terdapat dalam barungan gamelan gong kebyar. Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkembangnya fungsi instrumen suling dalam barungan gamelan tersebut.

Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu (Banoe, 2003:). Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan (Suharta, 2005:16). Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling. Sedangkan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus (Sukerta, 2001:215). Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.

Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.

Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kekebyaran, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Sebagai salah satu contoh, dalam komposisi ”Kebyar Ding”, yang diciptakan pada tahun 1920-an tidak terdengar tiupan suling. Ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa pada awal munculnya gamelan gong kebyar, suling masih berfungsi sebagai instrumen sekunder dan belum menjadi bagian yang penting dalam sebuah komposisi.

Sebagai salah satu tonggak penting perkembangan fungsi suling dalam komposisi kekebyaran, dapat disimak dari salah satu komposisi yaitu Tabuh Kreasi Baru Kosalia Arini, yang diciptakan oleh I Wayan Berata dalam Mredangga Uttsawa tahun 1969, dimana dalam komposisi tersebut mulai diperkenalkan adanya penonjolan permainan suling tunggal. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Sebagaimana terjadi dalam perkembangan komposisi tabuh kekebyaran saat ini, suling memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan komposisi kekebyaran dimana melodi yang dimainkan tidak hanya terpaku pada permainan laras pelog lima nada, namun oleh para komposer sudah dikembangkan sebagai jembatan penghubung hingga mampu menjangkau nada-nada atau melodi menjadi lebih luas melingkupi berbagai patet seperti tembung, sunaren bahkan mampu memainkan nada-nada selendro. Dari pengembangan fungsi tersebut komposisi tabuh kekebyaran yang tercipta pada dua dekade belakangan ini menjadi lebih inovatif dan kaya dengan nada atau melodi.

Adanya pengembangan fungsi instrumen suling dalam komposisi kekebyaran terkadang menimbulkan fenomena yang lebih ekstrim dimana dalam sebuah karya komposisi instrumen ini muncul sebaga alat primer dan vital, tanpa kehadiran instrumen tersebut sebuah komposisi tidak akan dapat dimainkan sebagaimana mestinya.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Fenomena Dibalik Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Oleh: Pande Made Sukerta

Odalan GamelanDalam percaturan karawitan Bali, baik pertemuan yang berbentuk sarasehan maupun seminar atau yang sejenis, belum ada yang menjelaskan dimana dan kapan Gong Kebyar diciptakan. Memang selalu dikatakan bahwa Gong Kebyar dilahirkan di Buleleng yang informasinya merujuk dari tulisan Colin Mc Phee dalam bukunya Music In Bali (1966 : 328) mengatakan bahwa tahun 1915 Gong Kebyar digunakan mebarung di Desa Jagaraga, Buleleng. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai acuan dan malahan lebih dikembangkan lagi sehingga dikatakan bahwa Gong Kebyar muncul di Buleleng tahun 1915. Informasi yang lain dikatakan bahwa Gong Kebyar  lahir di Desa Bungkulan. Almarhum I Nyoman  Rembang (1977 : 4) juga mengatakan bahwa kemunculan Gong Kebyar sesudah zaman penjajahan, maka tidaklah mustail kalau ada kecenderungan para analisis berpendapat bahwa inspirasi yang membangkitkan ide Gong Kebyar ada hubungannya dengan masuknya kebudayaan yang dibawa masuk oleh penjajah. Tetapi benar atau tidaknya persoalannya demikian, belumlah dapat dipastikan. Dari beberapa informasi tersebut belum memberikan gambaran kapan dan dimana Gong Kebyar lahir. Informasi tentang kelahiran Gong Kebyar sangat perlu diinformasikan kepada masyarakat luas, meskipun belum selengkap seperti yang diharapkan.

Permasalahan yang lain adalah krisisnya kehidupan Gong Kebyar Gaya Buleleng saat sekarang. Pengamatan ini hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Buleleng khususnya dan Bali umumnya sehingga berdampak hilangnya gayagaya Gong Kebyar yang pernah hidup dan berkembang pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1970-an. Adanya krisis kehidupan Gong Kebyar di Bali, kemudian muncul  keseragaman yang dapat diamati pada setiap festival Gong Kebyar pada even  Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan setiap tahun sekali.  Berdasarkan analisa, munculnya keseragaman Gong Kebyar dalam Festival Gong Kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) disebabkan adanya pergeseran tuntutan seniman dan Pemerintah Daerah Buleleng untuk memperoleh juara dengan cara “apa pun”, di antaranya dengan menggunakan pelatih serta menyajikan karya-karya yang disusun seniman dari daerah lain yang sering memperoleh juara. Hal seperti ini patut disayangkan karena berdampak kurang menguntungkan bagi kehidupan kesenian di Bali. Sekeha-sekeha Gong Kebyar dari Buleleng yang tampil dalam PKB sebagai duta Kabupaten Buleleng tidak luput dari virus keseragaman ini. Munculnya keseragaman Gong Kebyar di Bali, kiranya tidak perlu menyalahkan perorangan, kelompok atau instansi yang penting bagaimana cara menyikapinya.

Kedua permasahan tersebut mempunyai sifat yang berbeda, yaitu permasalahan pertama merupakan informasi tentang kelahiran Gong Kebyar  yang diperoleh dari hasil penelitian. Dalam hal ini informasi kelahiran sangat penting diketahui bersama karena dengan memahami sejarah akan lebih mantap melakukan pelestarian. Permasalahan kedua merupakan masalah kehidupan yang dialami Gong Kebyar Gaya Buleleng yang sangat memprihatinkan sehingga perlu dicarikan solusinya. Dengan mengetahui perkembangan Gong Kebyar Gaya Buleleng juga akan lebih mantap melakukan pelestarian.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar : Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng, unduh selengkapnya.

Tri Hita Karana A Conception In Conducting Balinese Arts

By: I Made Marjaya

Art is one of seven culture elements that show the identity of a nation because it has special characteristic which is bringing an unique experience that improve by its own and stay save inside the artist that create it (Soedarso, 1990:63)

An art is also the ancestor’s idea, sense and intention results which are inherited from generation to generation since the human civilization exist. Balinese art that inspired by Hindu always improves in accordance to the development of the society that supports it. An art is created to keep the balance of live based on Hindu, and also convinced has power to attract every one to enjoy it. The basic power in conducting art thing is beauty or known as ethics. Every creation of art is always base on ethics (act value), logic (truth value), and aesthetics (beauty value). Also in creating an art thing must fulfill three elements which are satwam (truth), siwam (greatness) and sundaram (beauty).

Art is the expression of human soul which implemented in art form which are classified into four main groups which are art of performing, fine art, art of media recording and art of literature. The art of performing has meaning an art that the expression conducted by performing acts because the art moves on space and time. That is way it called only temporary art, an art that is not durable and gone when the art has already been performed. An art of performing covers art of dancing, art of music, martial art and art of drama. Fine art has meaning an art that the expression fall into two or three dimensions, and the art form has a visualization and static characteristic. Fine art included art of painting, sculpture, art of graphic, artistic skill, advertisement art, architecture art and decoration art. Art of media recording is audio-visual art and the realization is the existence of recording art. Media recording art covered film, video and audio computer art. Art of literature is writing work, if compared to other writing work, has various characteristics of superiority like authenticity, artistic, transferred in contents and the expression. Art of literature covers novel, short story, epic, lyrics and also recitation art (Bandem, 1996:1)

An art also has wide and limited meaning. In wide meaning it is an art that related to the human skill such as writing a poem, making shoes, or predict the incoming of sun eclipse. Further more the art in limited meaning is used in a special class of skill includes the product called the fine arts such as art of painting, art of music, art of dancing, shadow play puppetry art, architecture art etc (Marajaya, 2004:11)

For Balinese society, performing an art is a tribute (yadnya), which can be offered to the God (Ida Sanghyang Widi), and for the physical needs, so that through an art a person can be prosperous. Therefore wherever they are and whatever they do, the balance of live concept will always become the main basic. According to the philosophy and logical in prakempa manuscript, the human balance of live concept can be materialized into several dimensions such are:

(1) The human balance of live in single dimension, is the balance of live based on mokshartam jagaddhitaya ca iti dharma philosophy; (2) The human balance of live in dualistic dimension, which is believe of two massive powers like bad and good, night and noon, man and woman, north and south, real and illusion etc; (3) The human balance of live in third dimension, which is believe to the existence of three elements of life such as tri murti, tri loka, tri aksara, tri sakti etc; (4) The human balance of live in fourth dimension, which is believes to the four powers of life such as catur lokapala, catur asrama, catur purusa arta etc; (5) The human balance of live in fifth dimension, which is believes to the existence of five powers of life, panca mahabhuta, panca sradha, panca yadnya etc; (6) The human balance of live in sixth dimension such as sadripu, sad rasa etc; (7) The human balance of live in seventh dimension, which is the human balance of live that believed to the seven conceptions, such as sapta wara, sapta loka etc; (8) The human balance of live in eighth dimension, which is the human’s believe to the eight powers such as asta iswarya; (9) The human balance of live in ninth dimension, is that human must believe with the existence of nine elements in balance such as dewata nawa sanga; (10) The human balance of live in tenth dimension, which is believe to the existence of ten elements in balance such as dasa aksara (Bandem, 1986:11).

Tri Hita Karana A Conception  In Conducting Balinese Arts, download.

Musical Influence In Bali And Java

By I Nyoman Windha

The origins of Balinese gamelan are somewhat mysteries as there are few written records existing regarding very early forms of gamelan. From temple reliefs and existing ancient bronze drums, we can see strong early influences from China, mainland Southeast Asia and, in particular, India. In the first century A.D., Hinduism came to Java from India, along with Buddhism. These were the predominant religions in Java up to the fifteenth century, when Islam spread inland from the north coast, having traveled from Sumatra, where it had established its first strongest presence, dating back to the twelfth century A.D. To this day, Indonesian Islamic culture, particularly music, is strongest in Sumatra, particularly in the northernmost province of Aceh.

In Java persisting evidence of the path of adoption of Islam can be found in the fact that the strongest Muslim cultural layer of Central Java remains on the north coast. One popular musical genre there is the gambusan, in which four or more veiled girls sing Muslim songs, mostly in Arabic, accompanied traditionally by four tambourines, a flute (suling), and a small drum. Larger modern forms of this ensemble my additionally include four violins, a clarinet, an accordion and a gambus, which is a pear-shaped plucked lute said to have been brought long ago from the Persian-Arabic area to Pekalongan on the north coast, and to other strongly Muslim areas such as Minangkabau.

In Java, the Islamic influence on gamelan can be found in Gamelan Sekaten, the largest and loudest in Java. This ancient gamelan form is played once a year in an important ceremony. The gamelan is said to have been created by Java’s first Muslim prince in the early sixteenth century. He had built two enormous gamelan in the hope of attracting the largely Hindu population to the new Islamic faith. He ordered this large gamelan to play continuously for a week in his newly built court mosque, during the celebration of Mohammed’s birth, the Sekaten Festival. This festival still takes place every year with the gamelans at the great mosques of Surakarta and Yoygakarta.

Another important performing arts tradition descending from Arabic culture is the Qasidah. Qasidah is a classical Arabic word for epic religious poetry, traditionally performed by a storyteller-singer, accompanied by percussion and chanting. In Indonesia, Muslims practice their own versions of this by improvising lyrics in local languages that address contemporary moral issues and concerns. A modern version of Qasidah is popular. It is a pop-song form using modern western instruments, and rhythms and melodies from the popular Dangdut form which in turn borrows them from Arabic pop songs.

Current Balinese culture traces origins back through Java to India. In Java, the last great Hindu kingdom, called Majapahit, fell to Muslim rulers around 1500. Today, nearly ninety percent of Java’s population is Muslim, but the traditional arts of gamelan, dance, and theatre all have their roots in the older Hindu-Buddhist culture. In the late fifteenth century the Hindu Javanese Majapahit Empire fell to Muslim rulers. At this time, many of the Javanese princes fled eastwards across the narrow strait to Bali, taking with them their priests, dancers and musicians. To this day the Balinese religion is a unique blend of Hinduism and traditional Balinese beliefs.

In both Java and Bali gamelan music is inseparable from the arts of poetry, dance and drama. A gamelan player will be familiar with dance movements and poetry and many dancers are quite at home sitting in the gamelan. There is a very strong interrelation among different art forms, as exemplified by a tight interweaving with musical gesture and dance movement. This high degree of interrelation is signified further by the large amount of crossover for artists between different art forms. Beyond the fact that dancers and musicians can often perform competently, and even virtuosically, in either realm, musicians are often painters and wood carvers and the reverse is true also. The gamelan is rarely played on its own without accompanying dance or puppetry. Like many other Southeast Asian ensembles, it is closely linked to the theatre.

One of the most popular forms of theater in Java and Bali is wayang kulit. The wayang was originally associated with ancestor worship in the pre-Hindu era, but later adopted the Hindu stories of the Ramayana and Mahabharata, which have formed the basis of Javanese and Balinese dance and theatre for over a thousand years.

Loading...