M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Korelasi Antara Kemampuan Menghayati Unsur-Unsur Intrinsik Karya Sastra Dengan Kemampuan Mengapresiasikan Karya Seni Mahasiswa Isi Denpasar

Korelasi Antara Kemampuan Menghayati Unsur-Unsur Intrinsik Karya Sastra Dengan Kemampuan Mengapresiasikan Karya Seni Mahasiswa Isi Denpasar

Oleh : ( Drs. I Wayan Mardana, Jurusan Pedalangan, FSP, DIPA, 2006)

Abstrak Penelitian

RamaPenghayatan  karya sastra apresiasi seni adalah mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Tjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denpasar. Proses Penelitian ini terlebih dahulu melakukan dengan pengumpulan data dari nilai penghayatan karya sastra dan nilai apresiasi seni ISI Denpasar. Data dari 50 orang tersebut merupakan sampel penelitian yang mewakili seluruh mahasiswa ISI Denpasar sebagai populasi penelitian. Selanjutnya nilai penghayatan sastra sebagai variabel bebas dan apresiasi karya seni sebagai variabel terikat, dianalisis menggunakan analisis statistik. Teknik uji hipotesis dalam statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi produk momen pearson. Koefisien korelasi dalam perhitungan keduanya lebih besar, berarti hipotesis penelitian yang berupa alternatif adalah signifikan. Sebagai kesimpulan penelitian bahwa ada korelasi yang positif antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denmpasar.

Profil Pemanfaatan Media Pembelajaran Dalam Mewujudkan Perkuliahan Yang Kondusif Pada FSP ISI Denpasar

Profil Pemanfaatan Media Pembelajaran Dalam Mewujudkan Perkuliahan Yang Kondusif Pada FSP ISI Denpasar

Oleh : (Drs. I Nengah Sarwa, Jurusan Karawitan, FSP, DIPA 2006)

Abstrak Penelitian

Tantangan berat pendidikan nasional dewasa ini antara lain berkaitan dengan peningkatan kualitas dan relevansi. Berdasarkan konsep bahwa makin nyata pengalaman yang diperoleh peserta didik akan makin mudah untuk diingat, dipelajari dan ditirukan. Begitu pula makin banyak indra yang terlibat, informasi pengetahuan atau pengalaman makin mudah untuk diingat, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas keluaran adalah dengan meningkatkan proses pembelajaran melalui pemanfaatan media pembelajaran.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap (1) jenis media pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan, (2) relevansi pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (3) kuantitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (4) kualitas p[emanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Penetian ini merupakan jenis penelitian Deskriptif. Sebagai populasi adalah penggunaan media pembelajaran dalam perkuliahan baik teori maupun praktek program S1 Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar pada semester ganjil tahun 2006/2007. Sampel diambil secara purposif random sampling yang berada pada tiga jurusan/program studi. Kegiatan penelitian dilakukan dengan langkah-langkah (1) penyusunan instrumen penelitian berupa angket melalui proses validasi sejawat sesuai dengan jenis data yang digali, (2) menggali data dari sumber data yaitu mahasiswa dengan menggunakan angket yang telah disusun, dan (3) melakukan tabulasi, analisis data dan pemaknaan hasil analisis data. Hasil penelitian menunjukan beberapa kesimpulan seperti berikut ini

Pertama, jenis media yang digunakan dalam pengajaran oleh dosen berturut-turut OHP adalah yang paling sering digunakan, disusul pemanfaatan jenis media diktat (buku khusus), media alat peraga dan LCD.

Kedua, relevansi, pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Seni Indonesia Denpasar, masuk pada katagori baik.

Ketiga, dilihat berdasarkan kuantitas, pemanfatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen  di Fakultas Seni Pertunjukan Insitut Seni Indonesia Denpasar masuk pada kategori baik.

Keempat, kualitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahaan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, masuk pada kategori sedang.

Perkembangan Ornamen Bali

Perkembangan Ornamen Bali

OLEH : (Drs. I Made Jana, Jurusan Kriya Seni FSRD, DIPA Pusat 2006)

Ornamen merupakan salah satu cabang seni rupa, telah ada sejak jaman prasejarah. Adapun seni yang diciptakan atas dasar dorongan kreativitas budia daya manusia untuk memenuhikebutuhan material dan spiritual serta kebutuhan ritual magis menurut kepercayaan masyarakat pada zaman itu. Hasrat untuk memenui kebutuhan batin menimbulokan ciptaan-ciptaan. Segala ciptaan manusia itu sesungguhnya merupakan hasil husahanya untuk merubah dan memberi bentuk dari susunan pemberian alam sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dalam perkembangan berikutnya, sehubungan dengan kebutuhan tersebut, sesungguhnya ornamen Bali tidak dapat dipisahkan dengan adanya banguan suci, (pura, candi, wihara). Ornamen Bali berfungsi sebagai penghias atau dekorasi untuk menambah keindahan bangunana suci itu. Demikian pula seni pahat patung, relief berfungsi sebagai simbol yang berhubungan dengan mitologi. Disamping itu dapat pula berfungsi sebagai media pengungkap sejarah atau kejadian masa lampau yang dapat menggugat semangat dan membangkitkan apresiasi yang tinggi bagi generasi mendatang.

Ornamen yang terdapat pada bangunan pura mempunyai hubungan dengan agama Hindu di Bali, oleh karena itu pura tidak hanya merupakan tempat persembahhyangan saja, melainkan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan moral, estika, estetika ditinjau dari aspek seni rupa dan agama melalui tema-tema yang dipahatkan misalnya cerita Mahabarata, Ramayana, Tantri dan lain-lainnya.

Dalam hal ini, agama sebagai sumber inspirasi lahirnya seni budaya yang didasari oleh ajaran yang disebut “Catur Marga”. Konsep ajaran ini menekankan rasa cinta dan kasih sayang, getaran rasa cinta an kasih sayang menggerkaknan manusia untuk berkorban. Rasa cinta melahirkan keihlasan untuk berkorban dan rasa cinta melahirkan seni, waktu berjalan terus dan perubahan pun telah terjadi atas pengaruh kebudayaan. Begitu bangsa Belanda menanamkan cara-cara berpikir dalam kecerdasan otak rasa individualisme serta pengenalan kemahiran teknik kepada masyarakar Bali mengakibatkan kesenian yang berkembang mengarah kepada bentuk dan tema-tema yang dianggap praktis dan modern. Konsepsi perubahan budaya telah disadari benar oleh masyarakat Bali, dengan adasiumnya yang dikenal yaitu : Desa,kala ,patra, segala sesuatu akan berubah seljalan  dengan tempat, waktu dan kemauan manusia. Dalam hal ini dapat kit lihat keunggulan seni budaya Bali adalah terletak pada keadaan Manusia Bali mengkondisi karakter potensi alamnya. Faktor alam dan alat dikondisi oleh logika kecendrungan manusia yang terlibat didalamnya shingga menghasilkan karya-karya sni/ornamen yang berjalan sesuai dengan tuntutan  masyarakat dan jamannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh pariwisata terkait dengan sni dan ekonomi. Seno dan ekonomi adalah dua hal yang menjadi kehidupan kepariwisataan di Bali yang diikrarkan sebagai pariwisata budaya, kesenian sebagai salah satu komponen penunjagnya.

Karya seni (ornamen) yang berhubungan dengan arsitektur ada pergeseran sikap yang mengangkat majemuknya kegiatan dan kebutuhan masyarakat yang sebagian besar dapat dipenuhi dalam waktu yang relatif cepat. Dalam hal ini keindahan secara intergral yang mengandung arti kebahagiaan dan kedamaian hidup lahir bhatin mulai tergeser menjadi kepuasan dan kenikmatan yang bersifat lahiriah/jasmaniah bersamaan denga nini, kota-kota di Bali muncul bangunan-bangunan baru yang merupakan pengembangan kreatifitas para spikulan untuk memanfaatkan berbagai peluang dan kesempatan yang ada. Dalam kesempatan inilah ditawarkan penemuan-penemuan baru dalam bidang arsitektur termasuk penerapan dan pengembangan bentuk motif ornamen dari berbagai gaya, dan berbagai macam jenis bahan yang keras, antara lain : batu hitam (gunung, batu granit, marmer, batu padas putih dan bahan lain yang didukug oleh teknilogi dengan perlatan mesin canggih.

Analisis Unsur Humorik Pada Lukisan I Wayan Asta

Analisis Unsur Humorik Pada Lukisan I Wayan Asta

Oleh : (Drs. I Ketut Karyana, PS. Seni Rupa Murni,  FSRD, DIPA Pusat 2006)

Pameran Seni rupa MahasiswaTulisan ini hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui daya kreatifitas seniman I wayan Asta dari segi konsep pemikiran-pemikiran yang membawa perubahan baru dalam seni lukis pedsaan “tradisional” Bali baik pengembangan teknik, tema dan kontinuitasnya dalam berkarya dan untuk mendapatkan informasi-informasi deskrftif baik informasi internal maupun eksternal dari lukisan I Wayan Asta. Yang nantinya berkotribusi dapat diproleh pengetahuan yang lebih luas dan mendalam tentang kesenirupaan khususnya yang menyangkut hasil karya seniman tradisional Bali. Juga dapat membantu pemerintah dalam ikut melestarikan seni tradisional dan mengembangkan menjadi karya-karya kreasi baru yang bernafaskan  Bali. Diharapkan dapat dijadikan bahan studi perbandingan serta berguna bagi penyebaran informasi tentang keberadaannya. Juga melalui penelitian ini dapat diketahui pemikiran serta konsep seniman I Wayan Asta, karena karya yang dihasilkan merupakan salah satu macam dari transformasi simbolik pengalaman manusia.

Kesimpulan dari penelitian ini dapat dinyatakan bahwa hal-hal humorik memang sangat inspiratif bagi Wayan Asta, di jadikan sebagai sumber inspirasi untuk titik tolak dal mmelahirkan karya-karya lukisan. Ia secara sadar atau tidak sadar mencerap dan mereinterpretasi warisan tradisional kemudian dikembangkan tema dan visual melalui proses modifikasi dan deformasi. Di sini humor mampu memberikan identitas, dukungan dan penjiwaan pada karyanya. Pertimbangan mempertahankan seni lukis tradisi dengan melakukan inovasi agar terbuka bagi perkembangan lebih lanjut.

Karakteristik sifat kreatif Wayan Asta ditandai adanya sifat orisinalitas, spontanitas, dan produktivitas, dalam menghasilkan karya seni. Talenta Wayan Asta terutama nampak pada lukisannya, walaupun tetap bercerita dalam gambar tradisi, namun narasinya bukan lagi pewayangan dengan tema an pola yang sudah jadi melainkan suattu narasi polos tentang dunia di sekitarnya. Pemaknaan terhadap teknik-teknik dasar seperti kelucuan dalam bentuk, kelucuan dalam logika dan kelucuan dalam bahasa mengarahkan kita untuk mengamati bagaimana humor itu ternbentuk. Permainannya adalah menemukan sesuatu yang bisa di mengerti, tetapi tidak terlalu umum.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Wayan Asta sehingga mampu melahirkan karya-karya lukis yang khas sebagai sosial kepribadiannya adalah sosial dalam dan sosial luar. Sosial dalam adlah bagian instrinsik dari pembawaan lahiriah karena kebetulan ia lahir di tengah keluarga senian. Faktor luar yaitu pergaulan dengan para pelukis di Ubud menjadi pembangkit seni yang mengendap dalam dirinya.

Keberadaan Tari Sanghyang Janger Maborbor Di Desa Yangapi- Kabupaten Bangli

Keberadaan Tari Sanghyang Janger Maborbor Di Desa Yangapi- Kabupaten Bangli

Oleh : (Ni Wayan Parmi,SST., M.Si, Jurusan Tari, FSP,DIPA 2006)

Dalam budaya Bali, kesenian dan keagamaan yang saling berkaitan. Peristiwa sering kali sulit untuk dipisahkan dengan peristiwa keagamaan. Masyarakat Bali memiliki bermacam-macam jenis seni pertunjukan yang berakar pada agama dan budaya Hindu yang telah tumbuh dan berkembang sebagai ciri khas masyarakat Bali.Sebagaian besar seni pertunjukan tradisional Bali yang ada hinggakini berfungsi untuk ritual keagamaan yang penyelenggaraannya selalu jatuh pada waktu terpilih yang sakral serta diselenggarakan di tempat yang terpilih, dan bahkan ada seni pertunjukan yang hanya diselengagarakan apabila sebuah desa terserang wabah penyakit.

Tari Sanghyang Janger Maborbor adalah  salah satu jenis pertunjukan tradfisional yang diseloenggarakan atau dipertunjukan pada saat desa diserang wabah penyakit yang menyerang manusia maupun hama penyakit yang menyerang tumbuhan. Di samping itu tari Sanghyang Janger Maborbor ini juga dipentaskan berkaitan dengan upacara keagmaan di Pura Masceti maupun pura-pura lainnya yang ada di Desa Yangapi. Bahkan pada era globalisasi ini tari Sanghyang Janger Maborbor ini dipestaskan berkaitan dengan hiburan dan tontonan untuk  wisatawan. Penelitian ini dilakukan kareana alasan tersebut di atas dan pertunjukan tari Sanhyang Janger Maborbor mengandung nilai-nilai etika dan estetika. Bahkan tari Snghyang Janger Maborbor ini juga dijadikan obyek penelitian.

Penelitian ini ditelaah melalui  analisis kajian budaya, yang mengangkat tiga permasalahan yakni : (1) Bagaimana bentuk pertunjukan tari Sanghyang Janger Maborbor di Desa Yangapi Bangli. Untuk memecahkan masalah ini dipakai sejumlah pendapat dan pandangan yang termuat dalam pustaka (buku(, majalah, koran, jurnal, dan sebagainya) yang dugunakan untuk melengkapi dan menganalisa data dan fenomena yang ada pada tari Sanghyang Janger Maborbor. Dalam menganalisa bentuk tari Sanghyang Janger Maborbor dipergunakan sebuah model klasifikasi struktur pementasan tari Janger dari Dibia yang antara lain mengandung unsur : pembukaan, pepeson, pajangeran, lakon dan penutup. Aparatus / elemen-elemen pertunjukan tari Sanghyang Janger Maborbor tidak jauh berbeda dengan pertunjukan janger secara umum yakni ditarikan oleh sekelompok penari laki-laki yang disebut Kecak dan sekelompok penari perempuan yang disebut janger. Elemen-elemen yang membentuk Tari Sanghyang Janger Maborbor ini terdiri dari gerak tari, lagu vokal yang disebut sekar rare, rias busana, musik, tempat pementasan (kalangan) dan lampu sebagai penerangan yang dipakai oleh penari tari Sanghyang Janger Maborbor adalah tata rias dan busana adat bali yang dipakai sembahyang oleh umat Hindu di Bali. Pementasan diaadakan di tempat terbuka yangdisebut kalangan. Tempat keluar masuk penari dibatasi dengan selembar kain  (langse). Sebagai penerangan digunakan lampu listrik.  Sesajen/ banten juga merupakan peranan penting dalam bentuk pementasan. Dilihat dari fungsinya tari Sanghyang Janger Maborbor sebagai seni pertunjukan mengandung berbagai fungsi bagi masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat di Desa Yangapi Khususnya dan masyarakat Bangli pada umumnya yakni fungsi ritual, fungsi sosial, fungsi estetika. Fungsi ritual yang terkait dengan tari Sanghyang Janger Maborbor dilakukan pada saat “odalan” di pura Masceti dan di  pura lainnya yang ada di Desa Yangapi, sebagai penolak wabah, sebagai tari kesuburan, berfungsi untukmembayar kaul. Fungsi social, keudukan tari Sanghyang Janger Maborbor dalam agama yakni sosial budaya, sosial etika. Pada akhirnya bentuk, dan fungsinya Sanghyang Janger Maborbor menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan secara fungsional, dan saling berkaitan, selaras, serasi sebagai bentuk pertnukan yang bernama tari Sanghyang Janger Maborbor.

Topeng Modern Karya I Wayan Sukarya

Topeng Modern Karya I Wayan Sukarya

Oleh : (Drs. I Ketut Muka P., M.Si., Jurusan Kriya, FSRD, DIPA 2006)

Abstrak penelitian

Penelian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang topeng modern yang ada di Bali, khususnya di Kabupaten Gianyar, karena tidak banyak seniman, perajin, kriyawan di Bali berkarya dujalur topeng modern. Hal ini penting karena karya-karya modern selama ini lebih akrab terkait dengan karya-karya seni lukis. Namun faktanya hal ini dapat juga terjadi pada karya topeng. Maka dari itu kami menetapkan karya Bapak I Wayan Sukarya sebagai sumber kajian dalam penelitian ini. Alasan penetapan ini adalah karya-karya I Wayan Sukarya adalah karya-karya topeng modern dengan kualitas baik karena proses pengerjaannya sama dengan proses pembuatan topeng tradisional Bali mulai dari proses pembentukan sampai pada pewarnaan / pengecatan. Alasan lain adalah ingin mendokomentasikan karya-karya I Wayan Sukarya, karena selama ini karya-karyanya banyak yang tidak terdokumentasikan dengan baik, sehingga sulit melacak karya-karya sebelumnya walaupun hanya dalam bentuk foto.

Penelitian ini dilakukan dengan model diskriptif, mencoba menjelaskan tentang bentuk, ide penciptaan, proses perwujudan, pewarnaan, penjualan serta makna yang terkandung dalam masing-masing karya topeng modern karya I Wayan Sukarya. Sumber data diambil semua karena jumlahnya terhitung sekitar 25 sumber data karya-karya 2006 ditambah sebagaian kecil karya-karya 2005.

I Wayan Sukarya, lahir di Banjar Mukti Desa Singapadu Gianyar, seorang pembuat topeng dan juga melukis, sebagai Dosen Jurusan Seni,Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Beliau menamatkan pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar dan ISI Jogyakarta. Keahlian membuat topeng didapat dari orang tuanya yaitu Bapak I Wayan Tangguh, tahun 2006 ini berusia sekitar delapanpuluhan, salah satu pembuat topeng tradisi berkualitas tinggi yang masih aktif sampai saat ini. Topeng-topeng yang dibuat lebih banyak untuk keperluan pementasan budaya dan seni terkait dengan Hindu di Bali.

Latar belakang pendidikan diakuinya sebagai dasar pemikiran I Wayan Sukarya berkarya pada jalur topeng-topeng modern. Dalam berkarya ia mengolah gambar/ desain pemesan dipadukan dengan idenya sendiri. Gambar-gambar topeng kemudian dikaji dan dipikirkan bagaimana bentuk tiga dimensinya, bahannya, proses perwujudannyapemesan tidak tahu wujud akhirnya, karena desain yang diberikan kepada pembuatanya ini kurang sempurna, tidak sesuai dengan bahan dan teknik pembentukan topeng. Pemesan biasanya lebih memfokuskan pada makna yang harus disampaiakan pada karya tersebut. Pesanan yang diterima sering hanya berupa pernyataan makna namun tidak ada desainnya. Disinilah diperlukan kepintaran seorang seniman dalam menterjemahkan makna tersebut. Dapat dikatakan 50 % lebih proses perwujudan karya tersebut merupakan hasil ide kreatifnya sendiri. Jadi bukan total merupakan ide pemesan.

Secara umum karya-karya I Wayan Sukarya, menggambarkan prilaku manusia di masyarakat. Sifat dasar manusia yang sering muncul dalam karya-karyanya adalah sifat baik dan buruk, perwujudannya tercermin dalam berbagai tindakan manusia. Makna-makna yang mncul dalam karya topeng tersebut banyak yang sulit untuk diresapi, maka dari itu perlu penjelasan dari pembuat makna topeng tersebut. Ada beberapa unsur-unsur rupa dalam topeng mudah dibaca namun sulit diresapi maknanya secara utuh.

I Wayan Sukarya telah menyelesaikan banyak karya topeng, namun jumlahnya tidak tercatat. Permintaan datang tiap tahun dengan jumlah sekitar 10-15 biji dengan ukuran bervariasi, tinggi 50-70cm dan lebar 40-60cm. Harga yang dipasang juga bervariasi mulai dari Rp. 3.000.000. sampai Rp. 6.000.000. Pemesan topengnya lebih banyakdatang dari luar negeri terutama dari Itali.

Loading...