M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kebhinekaan Tari Payung Minangkabau Dalam Perubahan Dan Akulturasi

Kebhinekaan Tari Payung Minangkabau Dalam Perubahan Dan Akulturasi

Oleh : Yulinis, SST., M.Si., Jurusan Tari, FSP, DM. Pusat 2007

Abstract penelitian

Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadi icon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau. Keberagaman tersebut hanyalah varian dari tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Sikap ini penting diambil untuk kita tidak terjebak dengan penilaian bahwa varian tari yang satu menyalahi yang lainnya. Sejauh tri terseut tidak melenceng dari akar tradisinya, maka kreasi menjadi alat kreativitas seniman dalam menyikapi budaya yang sedang berkembang.

Penelitian ini memakai teori perubahaan yang dikembangkan oleh Herbert Spencer. Teori perubahan akan dipakai untuk melihat perkembangan yang terjadi pada tari payung. Teori lain yang akan mendukung adalah teori akulturasi yang dikembangkan oleh Koentjaraningrat dan GM. Foster. Teori ini dipakai untuk melihat budaya apa saja yang mempengaruhi perkembangan tari payung dari dulu hingga sekarang. Jumlah penari dalam tari payung selau genap dan selalu berpasangan, bisa tiga atau empat pasang. Kalaupun ada gerakan lelaki berpindah pasangan, bukan berarti hatinya terbagi dua atau lebih, akan tetapi hanya wujud dari kreasi yang dimainkan. Pada hakekatnya mereka hanya satu pasang, tetapi divisualkan dalam bentuk banyak. Hal ini bisa dlihat dari kostum yang dimainkan, dimana seluruh penari permpuan berpakaian sama, begitu dengan penari laki-laki yang semuanya juga sama. Payung yang dimainkan juga berbentuk sama. Tari Payung sejak mulanya telah mengalami  perkembangan yang sangat berarti terutama oleh seniman-seniman muda Minagkabau. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh tingkat keilmuan yang sudah beragam. Pengaruh gaya dari mana saja msuk menyentuh wilayah seni, tidak terkecuali tari payung. Melayu merupakan unsur utama dalam mempengaruhi gerak tari payung. Begitu juga dengan pola gerak barat, sedikit banyak menyentuh wilayah ini. Senian pembaharu tari payung menjadikan fungsi seni tari itu bergeser dari ritual adat menjadi seni untuk profan yang perkembangannya sangat pesat.Fungsi seni ritual tidak mengalami perkembangan yang berarti, karean seni ritual didukungh oleh pakem-pakem yang jelas dan sulit untu diubah, bahkan tidak mungkin untuk diubah, karena dia berkaitan dengan persolan adat yang memiliki hukum-hukum yang jelas. Berkaitan dengan hal itu, seniman pebaharu tari payung memasuki gerak-gerak yang inovatif supaya bisa menyeimbangkan antara seni profan dengan seni ritual. Mereka hanya memasuki wilayah seni profan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan dijual untuk masyarakat luas.

Seniman pembaharu tari payung melakukan tindakan dalam membentuk gaya baru dalam tyari payung agar keteraturan dan arah yang diinginkan dalam dunia kreativitas bisa terjaga dengan baik tanpa adanya konflik yang merusak sosial itu sendiri. Sistem sosial di Minangkabau memiliki sebuah tipe tertentu yang berbeda dengan sistem sosial yang lain.

Joged Bumbung Blahkiuh Sebagai Seni Pertunjukan Hiburan Masa Kini

Joged Bumbung Blahkiuh Sebagai Seni Pertunjukan Hiburan Masa Kini

Oleh : I Gst. Ngr. Sudibya, SST., Jurusan Tari, FSP, DM., Pusat 2007

Abstract penelitian

Karya Ujian TA Seni TariPenelitian ini mengkaji tentang pertunjukan Joged Bumbung Blahkiuh. Dimana perkembangannya lebih mengarah kepada unsur-unsur gerakan erotis yang cendrung melanggar nilai-nilai etika, susila, dan estetika dalam ajaran agama.

Sebagai kajian kualitatif maka yang menjadi pokok permasalahan pertama adalah Bagaimana bentuk Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini; kedua, Unsur-unsur apa yang menjadikan Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini.Teori yang digunakan untuk membedah adalah (1) Teori Komodifikasi yaitu teori yang mengkaji bentuk yang dapat menghibur masyarakat pada masa kini. (2) Teori Estetika yang dapat dimanfaatkan untuk melihat unsur-unsur kreativitas dalam petunjukan joged bumbung Blahkiuh. Sebagai penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Kehadiran Joged Bumbung Blahkiuh mampu menyuguhkan hiburan kepada masyarakat. Dan faktor-faktor yang seperti ekonomi, kebersamaan, gotong royong, individu dan faktor hiburan juga sangat berperan. Selama ini kreatifitas Joged Bumbung Blahkiuh menyajikan bentuk yang tidak lepas dari tradisi, namun lebih mengutamakan unsur-unsur baru /kekinian yag kelewat menantang terutama goyang pinggulnya desenangi masyarakat penggemarnya.

Studi Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Age (Bali Pegunungan)

Studi Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Age (Bali Pegunungan)

Oleh : Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn., Jurusan Desain., FSRD., DM Pusat 2007

Abstract penelitian

Desain interior adalah bidang ilmu baru yang sedang berkembang dan memiliki prospek yang cukup luas pada era modern ini. Semakin modern perkembangan budaya dan kehidupan maka bidang ini akan semakin diperlukan. Akhir-akhir ini pembangunan dan renovasi rumah tinggal cendrung mengabaikan kaidah-kaidah estetika (tujuan akhir dalam bidang seni rupa dan desain). Hal tersebut terlibat pada penurunan derajat keberaturan unsur-unsur desain pada setiap desain interior banguan baik yang direnovasi maupun pada bangunan baru. Untuk meningkatkan derajat keberaturan dalam bidang desain interior ini dapat dicapai dengan meningkatkan derajat repetisi, redundansi, reduksi, simetri disamping menerapkan dasar-dasar desain secara umum. Apabila pengolahan derajat keberaturan keempat unsur ini maksimal, maka desain tersbut akan memiliki kualitas estetika yang baik.

Kosep ruang tradisional Bali age adalah konsep ruang sederhana yang diterapkan dengan mengutamakan fungsi dan lingkungan, Fungsi-fungsi ruangnya mengacu pada situasi dan kondisi aktivitas penghuni pada saat itu sehingga melahirkan konsep ruang seperti yang diwarisi sekarang. Cukup banyak Desa yang dapat dijadikan subyek penelitian seperti di daerah Sidatapa, Tigawasa, Sembiran, Julah, Sukawana, Tenganan, Bugbug, Penglipuran, Binyan, dan Pengotan. Namun keterbatasab waktu untuk melakukan penelitian maka sesuai dengan metode yang digunakan (purposive sample) maka Desa-desa yang dipilih adalah Sidatapa, Julah, Tenganan, Bugbug dan Pengotan. Desa-desa ini ada yang telah dikenal luas seperti enganan, namu ada juga yang belum dikenal secara luas Desa Pengotan.

Desain interior rumah tinggal tradisional Bali Age menggunakan pola-pola yang sederhana, dengan jenis banguan yang sederhana pula. Bangunannya hanya terdiri dari 1-6 masa bangunan dengan interior yang tidak memiliki banyak level. Lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk segi empat dan tidak ditemukan adanya bentuk-bentuk  lingkaran seperti yang dipoergunakan pada desain interior yang berkonsep geosentris.. Konsep rumah tinggal Bali Age pada umumna menggunakan konsep linear dan grid atau telah berkonsep kombinasi antara keduanya. Konsep ini mengacu pada konsep ruang abad pertengahan dengan pola segi empat. Sebagain besar menggunakan konsep HuluTeben atau dikenal dengan konsep Kaja-Kelod (gunug-laut). Rempat yang lebih suci berada di hulu sedangkan tempat yang lebih kotor ditempatkan pada daerah teben. Bentuk Desain interior rumah tinggal tradisional Bali Age adalah menggunakan bentuk –bentuk segi empat dan segi empat panjang. Kosep Modern saat ini lebih banyak menggunakan konsep minimalis pada pengembangannya. Konsep ini mengutamakan funsi dan efisiensi ruang untuk memudahkan  perawatan dan meminimalisir biayanya. Model rumah tinggal tradisional Bali Age memiliki tuntutan ruang  yang diperlukan pada era modern ini

Pengolahan Bambu Sebagai Produk Kerajinan Ditengah Lesunya Kepariwisataan Di Bali

Pengolahan Bambu Sebagai Produk Kerajinan Ditengah Lesunya Kepariwisataan Di Bali

Oleh : Drs. I Made Jana,Jurusan Kriya, FSRD, DM., Pusat 2007

Abstract

Ujian TA Kriya Seni 2009Penelitian ini tewrmasuk penelitian deskriptif-kualitatif, yaitu bertujuan mendeskrifsikan Pengolahan Bambu sebagai Produk Seni Kerajinan ditengah Lesunya Kepariwisataan di Bali. Metode pengambilan data dilakukan secara acak/random. Pengambilan sample lebih ditekankan pada lokasi-lokasi pasar, tempat pameran , acara –acara tertentu yang menyertakan kerajinan Bambu di Bali, dan beberapa perajin bambu di Bali. Lokasi pengambilan sample dilakukan di Pasar Sukawati Seni Gianyar, Pasar Seni Kuta, Pasar Kota bangli, Pasar Seni Satria, di Art Centre pada Pesta Kesenian Bali 2007. Pengambilan data juga dilakukan di internet. Waktu pengambilan data dilakukan dari bulan Juni-Nopember 2007. Dari obyek penelitian yang diajukan dapat dijelaskan sebagai berikut. Proses pengolahan bambu sebagai produk kerajinan ditenagh lesunya kepariwisataan di Bali yang terlihat menonjol adalah arah pasar lebih terkonsentrasi pada pasar lokal yaitu masyarakat Bali. Dari lokasi pengambilan  data seperti yang disebutkan di atas didapatkan benda-benda kerajinan bambu untuk kepentingan masyarakat lokal seperti keben/sokasi. Benda ini sangat dibutuhkan masyarakat Bali kaitannya upacara agama sebagai tempat sesajen. Benda ini cukup diminati masyarakat, karena tampilannya yang menarik, walaupun bentuknya hampir sama. Sedangkan pasar luar negeri hanya bisa digarap oleh perajin-perajin yang telah mempunyai buyer luar sebelum terjadinya bom Bali. Jenis produk bambu yang dieksport berupa barang fumiture dan produk kerajinan bambu lainnya. Disamping kemampuan untuk mengakses pasar luar negeri lemah dari berbagai bidang. Namun dilihat dari kreatifitas perajin nampak beberapa pengembangan desain-desain baru.

Teknik pengolahan bambu sebelum digunakan sebagai benda kerajinan hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya misalnya dikeringkan, direndam dan disemprot dengan cairan pestisida. Proses ini termasuk pengolahan awal untuk menghindari bambu dari serangan sehingga produk yang dihasilkan lebih awet. Konsumen umumnya meminta penggunaan bahan pengawet ini adalah bahan yang ramah lingkungan. Teknik pembuatan kerajinan bambu ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu dianyam, non anyaman (dipotong, dibelah, dan dilobangi dsb), dan gabungan dianyam dan no anyaman. Jenis-jenis produk bambu yang dibuat oleh perajin di Bali adalah benda-benda yang berfungsi pakai artinyabenda tersebut memiliki fungsi praktis, dengan sentuhan seni baik dengan motif anyaman, jenis dekorasi, pengolahan bentuk dan finishing sesuai dengan bentuk dan fungsi benda tersebut. Dalam penelitianini tidak ditentukan benda kerajinan bambu yang khusus berfungsi hias, maksudnya adalah benda tersebut khusus diciptakan berfungsi menghias seperti menghias ruangan,  menghias dinding dan sebagainya. Jenis-jenis produk yang dibuat ini dapat dikelompokkan berdasaran teknik pembuatannya, berdasarkan fungsinya, dan berdasarkan sasran pasarnya. Teknik pengawet bendayang sudah jadi lebih banyak dilakukan dengan cara finishing, artinya finishing (penyelesaian akhir merupakan bagian dari pengawetan). Proses ini dilakukan dengan cara melapisi benda kerajinan bambu dengan bahan pernis diornamen dengan cat minyak atau bahan lainnya yang sejenis. Dengan kondisi pasar yang kurang baik, bahan bambu masih bisa dipenuhi dari bambu-bambu lokal, berbeda dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya jika pesanan banyak bambu didatangkan dari luar Bali.

Kidung Manusa Yadnya: Dan Konteksnya Dalam Masyarakat Hindu Di Bali

Kidung Manusa Yadnya: Dan Konteksnya Dalam Masyarakat Hindu Di Bali

Oleh : Desak Made Suarti Laksmi, SSKar.,MA., Jurusan Karawitan, FSP, DM., Pusat 2007

Abstract

Ujian TA Seni Karawitan 2009Kidung Manusa Yadnya merupakan nyanyian suci keagmaan yang keberadaannya diakui oleh penganut agama Hindu terlebih pada masyarakat Hindu di bali. Kehidupan beragama serta pelaksanaan upacara menuntut kehadiran kidung hampir disetiap upacara keagamaan. Pelaksanaan upacara Manusa Yadnya satu diantaranya memiliki rentang upoacara yang sangat panjang dan beragam. Dimualai sejak seorang ibu mengandung seorang bayinya, sudah diupacarai dengan upacara yang dinamai upacara pagedong-gedongan. Upacara pendahuluan ini diikuti dengan beberapa jenis upacara berikut nya seperti: bulanpitung dina (upacara satu bulan tujuh hari), nelu bulanin (upacara tig bulanan), ngotonin (upacara saat anak berusia enam bulan), metatah/ mepandes (upacara potong gigi) dan upacara yang terkhir adalah pawiwahan (upacara pernikahan).  Pasangan yang baru menikah ini akan memulai kehidupan baru yang merupakan sebuah pertanda dimulainya sebuah proses ritual yang harus ditaati dan menjadi beban tanggung jawab setiap pasangan baru. Sklus ini berjalan secara alami dan turun temurun secara terus menerus sepanjang kehidupan keagamaan ini bisadipertahankan oleh keturunan atau ahli waris dari sebuah keluarga Hindu.Keseluruhan upacara tersebut merupakan tanggung jawab orang tua sebagai implementasi dari pelaksanaan Tri Rna dimana perhitungan bulan dalam setiap pelaksanaan upacara berlaku menurut perhitungan sisitim kalender Bali. Berbagai jenis kidung bisa dinyanyikan untuk menunjang kelengkapan maupun menambah kehidmatan sebuah hajatan yang bersifat ritual ini. Kidung-kidung tersebut disesuaikan peruntukan dengan jenis dan alur melodinya dengan mempertimbangkan isi syair dan kaitannya dengan jenis upacara yang sedang dilaksanakan. Dari beberapa kidung yang biaa dinyanyikan dalam upacara  tertentu kiranya masih banyak yang layak difungsikan namun tidak mendapat perhatian yang sama dengan kidung-kidung yang sudah terbiasa dinyanyikan. Nilai budaya kidung ini perlu dikembangkan sejalan dengan kwantitas upacara yang demikian variatifnya dengan memperhatikan teks dan konteksnya, sehingga upacara yang digelar menjadi semakin bermakna.

Kajian Foto Jurnalistik Pada Harian Bali Post Terbitan Tahun 2006-2007

Kajian Foto Jurnalistik Pada Harian Bali Post Terbitan Tahun 2006-2007

Oleh: A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si., Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2007

Abstract penelitian

Merekam suatu peristiwa dengan menggunakan alat kamera sejak dahulu sudah dikenal oleh nenk moyang kita baik itu merekam peristiwa pribadi maupun peristiwa umum. Dewasa ini kamera telah mengalami perubahan yang sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Fotografi saat ini dimanfaatkan pula oleh banyak kalangan mulai dari foto dokumentasi sampai pada foto untuk kebutuhan khalayak umum. Sebagai salah satunya adalah media surat kabar yang paling banyak memekai jasa fotografi sebagai ilustrasi berita. Foto jurnalistik dimata seorang fotografer adalah sustu tantangan dan merupakan alat komunikasi ampuh untuk mengubah suatu keadaan buruk menjadi lebih baik. Penyajian foto yang akurat mengenai suati peristiwa, dan secepatnya dapat diterbitkan serta yang lebuh penting adalah mengenai prinsip dasar dalam penerbitan foto adlah isi, bentuk dan artistik.

Berdasarkan atas latar belakang tersebut maka diajukan beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) Apakah foto-foto yang tersaji pada harian surat kabar Bali Post telah menyajikan foto yang aktual sesuai dengan konteks permasalahan pada masa itu ? (2) Apakah penyajian foto-fotonya telah memenuhi kriteria, isi, teknik, artistik ?. (3) Bagaimana harian surat kabar Bali Post menempatkan foto-foto yang bersifat aktual serta bagaimana pula penempatan foto-foto lainnya sebagai pendukung pemberian lainnya.

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian bersifat “deskriptif” dengan cara menginterpretasikan foto-foto yang yang diterbitkan pada harian Bali Post masa sekarang serta mengidentifikasikan berdasarkan pada teori estetika dan desain. Foto berita dapat dikatagorikan menjadi 8 yaitu : Spot new, news Features, potret olah raga, kesenian dan sains, peristiwa ceria alam lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Namun ada pula yang menambahkannya yaitu dengan istilah human interest.

Sedangkan fotografi pers di Indonesia, juga dikenal dengan beberapa katagori seperti menyangkut dunia politik/diplomat, dunia kriminal, perang, kecelakaan, bencana alam, olah raga, peristiwa kesenian, tentang upacara, tokoh dan dunia para bintang, hukum dan konsumerisme. Dengan berdasarkan hasil analisa yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa foto-foto pada halaman satu yang dimaksudkan pula sebagai daya tarik perwajahan, memuat foto-foto yang bersifat aktual, tajam, dan menarik sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi masa itu, baik dilihat dari segi isi serta tekniknya. Dari segi artistik foto yang termasuk katagoriSprot News Feature kurang menampilkan keindahan, karena foto pada katagori diatas lebih mementingkan isi serta rekaman peristiwa yang betul-betul hangat untuk segera dapat disampaikan kehadapan pembaca. Foto jurnalistik lebih mengutamakan isi serta kekuatan peristiwanya, hal ini karena subyek maupun obyeknya tidak dapat diatur sesuai keinginan dal mpengambilan gambarnya.

Kata Kunci: Fotografi pers di Indonesia, aktual, tajam, news features, potret, olah raga, kesenian, peristiwa ceria, alam lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

Loading...