M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Oleh :  I Komang Arba Wirawan, S.Sn., Jurusan Fotografi, FSRD, Penciptaan DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Laporan penciptaan ini terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab menguraikan berbagai matei dan proses penciptaan tersebut.

Bab I Menguraikan tentang latar belakang penciptaan yaitu dari mana sumber inspirasi sehigga menimbulkan ide penciptaan dengan judul “ Implementasi Tri Hita Karana di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber penciptaan Karya Fotografi Seni “. Perumusan tema penciptaan yaitu konsep dan makna dari tema yang ada. Tujuan dan manfaat penciptaan yaitu sasaran yang ingin dicapai serta manfaat penciptaan bagi masyarakat akademik maupun masyarakat umum.

BAB II Konsep penciptaan yaitu menguraikan tentang beberapa sumber refrensi yang mendukung konsep penciptaan. Menguraikan beberapa teori serta pendapat para ahli untuk menjamin validitas penciptaan.

BAB III Proses penciptaan yaitu menguraikan tentang proses timbulnya inspirasi penciptaan. Proses penciptaan teridri dari : Eksplorasi yaitu proses penjajagan pada obyek, Eksperimen yaitu hasil eksplorasi diolah denan mengadakan penagamatan yang mendalam,Perwujudan yaitu hasil foto diolah dan diwujudkan dalam bentuk karya. Dalam bab ini juga menguraikan tentang proses kerja, alat dan kamar terang, finishing serta display.

BAB IV Uraian karya yaitu pembahasan berbagai karya yang telah jadi. Judul karya, bahan, ukuran, konsep karya serta makna yang dikandung dalam karya tersebut.

BAB V Penutup aitu menyimpulkan hasil penciptaan baik konsep maupun karya visual. Juga saran-saran berkaitan dengan budaya asli yang perlu dipertahankan dan dilestarikan.

Visualisasi Image “Men Brayut” Pada Patung Keramik

Visualisasi Image “Men Brayut” Pada Patung Keramik

Oleh : Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.,Jurusan Kriya Seni, FSRD, Penciptaan DIPA 2008

Abstrak penelitian

Penciptaan ini menggunakan pendekatan eksperimen. Konsep perwujudan dilakukan tidak realis, namun pada bagian-bagian tertentu didistorsi disesuaikan dengan kemampuan bahan. Pada dasarnya untuk menyampaikan sosok Men Brayut selalu ditampilkan seorang ibu dengan tiga sampai enam anak bahkan lebih pada setiap karya. Komponen ibu dan anak sebagai perwujudan image tokoh Men Brayut dibuat menyatu. Hal ini merupakan teknik dalam pembuatan patung keramik sehingga hasilnya menjadi lebih kuat. Tujuan utama yang mau ditampilkan dalam setiap karya adalah sifat humoris, sehingga karya tersbut diharapkan menjadi unik dan menarik. Karya i8ni dibuat dengan teknik pinching, slab dan coil. Judul-judul karya yang dibuat anatara lain: Brayut Optimis, Brayut Tegar, Brayut Merenung, Brayut Sayang Anak, Brayut Berpose, dan Brayut Beranak Tiga. Finishing karya dilakukan tanpa glasir sebagai upaya untuk memperhatikan detail karya menjadi tetap utuh. Pada setiap karya menampilkan makna-makna yang relevan dengan kehidupan saat ini.

Ogoh-Ogoh Sumber Penciptaan Seni Lukis Akademik

Ogoh-Ogoh Sumber Penciptaan Seni Lukis Akademik

Oleh : Prof. Drs. A.A. Rai Kalam, Jurusan Lukis,FSRD,  Penciptaan, DIPA 2008

Abstrak penelitian

Ogoh-ogoh dapat diartikan sebagai bagian wujud visual yang digolongkan dalam “bentuk patumng berkualitas seni di Bali” umumnya tidak dipahat, berwujud makhluk-makhluk menyeramkan,  rangkanya dibuat dari bambu, lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagain tertentu. Penampilan komposisi warnanya disesuaikan dengan visualisasi wajah-wajah makhluk yang diinginkan (Bali Art Festival, 1987). Bentuk perwujudan Ogoh-Ogoh unik ini, oleh perupa seni lukis akademik ini dimanfaatkan sebagai unsur-unsur penciptaan karya seni,  terutama berperan penting dalam mengkomunikasikan ide-ide, gagasan dan fungsi dalam wujud seni lukis akademik. Kehadiran Ogoh-Ogoh selalu terkait dan tidak terlepas dari aktualitas ritual, sebagai upacara “Bhuta-Yadnya”, upacara korban suci bermakna untuk menyicikan ,keslamatan alam semesta……., ditampilkan pada hari raya “Nyepi”. Utamanya Ogoh-Ogoh akan dihadirkan, diarak segera oleh warga desa setelah usai pelaksanaan upaara. Disertai suara gambelan……musik tradisional…….bertalu-talu, dengan tingkah riuk sorak pengarak yang mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari wilayah desa bersangkutan.

Profil ogoh-ogoh pun dibuat bermacam-macam umumnya menyeramkan dan menakutkan seperti penampilan ogoh-ogoh Duara-pala, profilnya berwujud menyeramkan, perutnya bucit, mata mendekati bentuk busur, taringnya mencuat dan berambut gondrong.

Data jumlah Ogoh-Ogoh dari 3 (tiga) tahun teakhir, tercatat meningkat rata-rata 500-1000 buah pertahun. Data terakhir tercatat di Polda Bali jumlah Ogoh-ogoh pada malam hari Pengerupukan Nyepi tanggal 6 Maret 2008 mencapai 4.036 buah ogoh-Ogoh (Kompas, 6 Maret 2008). Data pencermatan di ketahui bahwa bentuk Ogoh-ogoh sebagai perwujudan Bhuta-Kala jumlah dan jenisnya sangat beragam, setiap Bhuta Kala memiliki fungsi atau tugas berbeda antara satu dengan yang lain. Ukuran , bentuk, warna, gayanyapun ditampilkan dalam bahasa rupa, desain yang unik. Pada intinya ogoh-Ogoh Bhuta Kala tersebut diyakini masyarakat ada di Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Agar para Bhuta Kala tersebut tidak sampai mengganggu kehidupan serta lingkungan desa dan sebagainya, maka diberikan berupa sesaji atau simbol persembaha dengan melaksanakan kegiatan penyajian upacara “Segeh Agung sebalum Ogoh-Ogoh di arak keliling di lingkungan desa. Aktivitas dan penampilan arak-arakan Ogoh-Ogoh ini dipandang sebagai karya seni patung unik, dapat disajikan sumber penciptaan, khusunya sebagai Sumber Penciptaan Seni Lukis Akademik. Pencipta Seni Lukis Akademik yang dimaksud adalah pencipta profesional dalam proses seni lukis akibat adanya pendidikan bidang seni rupa yang menerima perubahan ,terdidik, inovatif, mengikuti perkembangan IPTEKS, dalam pengmbangan ide-ide, maupun kosep-konsep dalam mewujudkan ciptaan baru karya seninya.

Kesimpulan bahwa penghayatan Ogoh-Ogoh sebagai bentuk patung menyajikan sibol-simbol yang bersifat menyeramkan, memiliki karakter, bentuk,gaya, warna yang bervariasi menarik dijadikan sumber penciptaan ditunjukan dengan munculnya diversifikasi karya seni lukis akademik dengan ide dan kosep-konsep baru.

Kajian Dramatari Wayang Wong Di Desa Mas Ubud Gianyar

Kajian Dramatari Wayang Wong Di Desa Mas Ubud Gianyar

Oleh : Ni Nyoman Kasih, SST., M.Si. Jurusan Tari,FSP, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Agama Hindu merupakan sebuah agama yang mempunyai unsur ritual, emosional, kepercayaan dan rsional. Melalui dua unsur yang pertama yaitu ritual,  dan emosional agama Hindu dan kesenian (tari-tarian) Bali, satu sama lain saling berkaitan. Mengadakan pertunjukan kesenian, baik tari atupun karawitan (gamelan) merupakan ungkapan pengabdian yang tinggi nilainya untuk menghormati bhatara-bhatari, sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Melakukan berbagai seni kerajinan yang berkaitan dengan upacara keagamaan adalah ungkapan “bhakti dan karma marga” untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap berlangsungnya upacara keagamaan (proses ritual dalam agama Hindu), umat Hindu berlomba-lomba berbuat sesuatu, baik berupa pertunjukantari dan karawitan, maupun pekerjaan yang lain yang berhubungan dengan upacara tersebut. Mereka ingin “ngayah” (mengabdi) menunjukan keterampilan mereka untuk menyukseskan upacara agama.

Wayang Wong adalah nama sebuah drama tari yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Wayang Wong adalah cabang seni tari klasik, suatu pertunjukan pawayangan yang pelaku-pelakunya manusia, merupakan integrasi antara tari, tabuh, tembang dan drama. Di Bali, Wayang Wong merupakan drama tari bertopeng yang menggunakan dialog bahasa Kawi dan terdiri dari dua jenis,yaiotu Wayang Wong Parwa dan Wayang Wong Ramayana. Dramatari Wayang wong yang disakralkan adalah sebagai sarana upacara keagamaan. Sebagai sarana upacara agama dalam kegiatannya penuh mengandung arti simbolis, yang mana bila dkupas lebih jauh akan mengandung makna filosofis tertentu. Salah satu kegiatan Dramatari Wayang Wong yang disakralkan khusunya Wayang Wong di desa Mas Ubud Gianyar yakni pementasannya dilaksanakan padahari Raya Kuningan.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan asal mula Dramatari Wayang Wong di Desa Mas Ubud Gianyar, (2) Mendeskripsikan fungsi Dramatari Wayang Wong pada upacara hari raya Kunigan di Dsa Mas Ubud Gianyar, (3)  Mendeskripsikan tentang persepsi masyarakat desa Mas Ubud Gianyar terhadap keberadaan Dramatari Wayang Wong di desa Mas Ubud Gianyar.

Penelitian Dramatari Wayang Wong ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data; (1) Wawancara mendalam (indepth interviw), (2) Observasi partisipan (participant observation), (3) Angket dan analisis datanya menggunakan analisis deskriptif yang dilakukan melalui tiga jalur kegiatan yang merupakan satu kesatuan (saling berkait) yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verivikasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa timbulnya dramatari Wayang Wong di desa Mas sudah ada yaitu sekitar abad ke XVIII. Hubungan Wayang Wong di Mas dengan upacara di Pura Taman Pule sangat erat dengan upacra Dewa Yadnya, sehingga Wayang Wong ini dapat digolongkan  sebagai tari Wali. Bentuk gerak yang dipakai oleh dramatari Wayang Wong di desa Mas kebanyakan diambil dan gerak tari gambuh. Gambelan batel pewayangan digunakan mengiringi dramatari Wayang Wong di Mas ini dan alat-alatnya terdiri dari dua buah kendang kekrumpungan, empat buah gender wayang, satu buah, kajar , sebuah kempur dan satu tungguh ceng-ceng.

Persepsi Masyarakat Desa Mas Ubud Gianyar Terhadap Keberadaan dramatari Wayang Wong di desa Mas Gianyar adalah tingkat pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan  dramatari Wayang Wong di desa Mas Gianyar rata-rata ada pada rentangan 100%. Ini berarti pengetahuan masyarakat desa Mas Gianyar terhadap keberadaan dramatari Wayang Wong sangat tinggi. Sedangkan kemampuan masyarakat untuk mempelajari dan menarikan Wayang Wong sangat tinggi. Hal ini ditunjukan dengan angka persenase rata-rata 100%. Ini berarti pembinaan dramatari Wayang Wong lewat pelatihan perlu terus diadakan. Pelestarian dramatari Wayang Wong sangat didukung oleh masyarakat desa Mas, sedangkan pelatihan pemerintah terhadap pembinaan masih kurang, begitu pula bantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah TK I dan II terhadap dramatari Wayang Wong perlu ditingkatkan. Pementasan dramatari Wayang Wong di luar upacara agama belum mendapat dukungan ari masyarakat dan musik iringandramatari Wayang Wong masih banyak yang mendukug digunakannya gambelan batel pewayangan.

Rerajahan

Rerajahan

Oleh : Drs. A.A. Gde Ngurah T.Y., M.Si., Jurtusan Seni Murni, FSRD, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Latar belakang dan daya tarik memilih topik penelitian TRANSPORMASI RERAJAHAN SENI LUKIS BALI MODERN adalah karena penulis melihat banyaknya muncul lukisan-lukisan Bali modern yang memakai tema-tema rerajahan. Ketika memasuki tengah abad ke 21, telah terjadi perubahan-perubahan, terutama dalam seni lukis Bali modern, dalam irama penuh kreasi, ide, dan kreatifitas senimannya yang bersumber pada “rerajahan”. Rerajahan pada hekekatnya merupakan budaya Hindu Bali, sebagai suatu produk lokal genius. Hal ini dapat dilihat pada upakara panca yadnya, sarana pengobatan, ilmu penengen dan ilmu pengiwa. Antara rerajahan, tantra, dan mantram memiliki suatu keterpaduan yang sangat erat dan saling mendukung di dalam membangkitkan kekuatan magis sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Bali. Transformasi Rerajahan Seni Lukis Bali Modern pada dasarnya telah dimlai sejak masuknya pengaruh budaya luar. Rudolf Bonnet dan Walter Spioes memberikan pengaruh kepada kehidupan seniman Bali untuk mengungkapkan ide –idenya secara bebas. Transpormasi rerajahan telah diawali pada zaman Pitha Maha, perubahan dan pembaharuan terjadi karena transformasi melalui akulturasi dan asimilasi yang berkaitan erat dengan penemuan baru. Rerajahan sebagai subyek mater diolah dan dilebur menjadi bentuk, fungsi dan makna baru, pada seni lukis Bali modern. Meskipun demikian Rerajahan yang erat hubungannya denag nAgama Hindu tetap disakralkan. Metode transpormasi dapat memberikan penghayatan ide-ide terhadap pelukis, melalui; Adopsi, Deprmasi, Abstraksi dan Setelirisasi rerajahan, sehingga terwujudlah suatu karya sni Bali modern yang berkepribadian, original dan segar.

Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah; untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam dan jelas mengenai traspormasi rerajahan dalam kontek perubahan bentuk, fungsi dan makna, pada seni lukis ali modern. Penelitian ini menggunakan kerangka teori; estetika, yang menitik beratkan pada bentuk yang berhubungan dengan keindahan, teori struktural fungsional, untuk mengetahi fungsu suatu rangkaian kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupan, teori semiotika, untuk membedah makna.

Metode yang digunakan adalah; dengan pendekatan kualitatif dengan mengidentifikasi obyek transpormasi rerajahan pada seni lukis Bali modern secara langsung. Data dipisahkan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari pelukisnya dan data sekunder didapat dari buku-buku refrensi yang relevan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Selanjutnya dilakukan pengkajian yang cermat, akurat terutama terhadap penyajian bentuk, fungsi dan makna transformasi rerajahan seni lukis Bali modern.  Hasil analisis ditemukan, keberadaan rerajahan pada hakekatnya telah menunjukan perannya sebagai sumber inspirasi, sehingga adanya pergerakan perubahan budaya dari transformasi rerajahan menjadi suatu tema-tema atau bentuk baru, dari bentuk baru ke fungsi estetis dan dari fungsi estetis ke makna.

Dari perubahan dan pengaruh yang terjadi, transformasi rerajahan seni lukis Bali modern telah terhegemoni oleh pariwisata, art shop dan kolektor seni. Transformasi merupakan salah satu cara untuk mengekpresikan ide-idenya atau imaginasinya melalui bentuk-bentuk rerajahan, Dalam transpormasi tersebut unsur-unsur internal rerajahan, seperti nilai-nilai agama dan adat dilebur menjadi satu dengan disertai oleh pengaruh modern berupa olahan ide, teknik serta pengungkapan karya seni, memunculkan seni lukis bali modern yang bersifat individualistik dan mengandung nilai-nilai komersial.

Kajian Patung Kreatif Karya Ida Bagus Putu Gede Sutama

Kajian Patung Kreatif Karya Ida Bagus Putu Gede Sutama

Oleh : I Made Sumantara, S.Sn., Jurusan kriya, FSRD, DIPA 2008

Abstrak penelitian

Penelitian merupakan penelitian kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek  penelitiannya adalah Patung Kreatif Karya Ida Bagus Putu Gede Sutama. Pematung ini lahir di Banjar Taman Sari Desa Sanuir Denpasar, tanggal 21 Juli 1957. Bahan-bahan yang dipakai berkarya adalah kayu,batuan, dan benda-benda temuan laninnya yang dianggap tidak berguna sesuai peruntukannya. Bahan-bahan tersebut dapat ditemui dalam bentuk benda bekas seperti alat bajak petani disawah, perahu, sampan, kayu bekas bangunan, batu karang dengan berbagai tekstur, potongan kayu yang kualitasnya masih baik tetapi bentuknya kurang baik, sampai kayu yang mulai lapuk dan lain-lain. Sedangkan alat yang dipakai dalam berkarya adalah pahat, gergaji, kapak, dan lain-lain. Proses  berkarya diawali dengan pemahaman terhadap struktur artistik alami bahan-bahan yang digunakan. Prose ini sebetulnya telah dimulai sejak bahan tersbut diperoleh ayau ditemukan. Bahan tersebut direnungkan dalam pikiran tentang kedalam bentuk apa bahan tersebut dapat diwujudkan. Setelah proses ini matang dan ada ketetapan, maka tahapan selanjutnya adalah mencari hari baik untuk memulai memvisualisasikan ide tersebut kedalam bentuk karya patung.

Tema-tema yang diungkapkan disesuaikan dengan bentuk material yang digunakan, karena bentuk yang diwujudkan mengikuti bentuk bahan. Sebagai orang Bali, kebaliannya muncul pada karya-karyanya dengan mengangkat nilai-nilai tradisi masyarakat Bali. Karya-karya pematung ini dikatagorikan sebagai patung kreatif karena mampu menampilkan karya-karya berkualitas dengan bahan yang tidak lasim dipergunakan oleh pematung pada umumnya. Karya pematung ini dapat dilihat dalam dua kelompok yaitu pertama dalah kelompok yang termasuk bentuk abstraktif filosfis karena bentuknya dideformasi atau disederhanakan (kelainan bentuk) dan distorsi (kelainan proporsi). Sedangkan pesan yang dapat disimak dari karya-karya pematung ini adalah ada yang hanya sekedar menyampaikan ikon benda yang menjadi sumber inspirasinya dan ada juga menyampaikan makna-makna tertentu yang bersifat pembelajaran, kritik sosial dan kebedaan manusia dengan berbagai fenomena kehidupannya. Keberhasilan  pemahaman makna tersebut oleh masyarakat sangat  tergantung dari tingkat kemampuan dan pengalaman masyarakat. Sikap seniman yang peduli terhadap benda-benda yang dianggap second hand sebagai karya perlu di apresisi dan sebagai sumber belajar. Karena ini berarti peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Hal ini perlu terus didesiminasikan baik terhadap seniman maupun masyarakat luas.

Loading...