by admin | Apr 29, 2010 | Artikel, Berita
oleh: I Made Arnawa, SSKar., M.Sn. dan Tri Haryanto, S.Kar., M.Si.
Pendro II, merupakan pengembangan dari Pendro I, hasil dari karya Pendro I memberikan inspirasi baru tentang hasil Tone yang merupakan penggabungan dari gamelan yang berlaras Pelog dan Slendro. Dari hasil Tone tersebut telah dibuatkan satu gamelan baru yang disebut dengan gamelan Pendro, dengan gamelan baru ini penata mempergunakannya untuk membuat karya baru dengan judul Pendro II.
Dari hasil karya-karya sebelumnya, masih menggunakan dua gamelan yang berbeda dalam satu sajian karya, seperti karya yang berjudul “Merajut Tali Keragaman”, menggunakan berbagai gamelan, namun tidak dapat menyatu dalam penyajiannya. Dari fungsi gamelan masih menunjukkan karakteristik gamelan dari masing-masing barungan itu sendiri. Kemudian dalam Pendro I telah dicoba untuk menggabungkan dua gamelan yang berbeda laras dengan satu kesatuan karya, hasil dari penggabungan itu muncul laras (Tone) baru, dan hasil Tone baru itu telah kami buat gamelan baru dengan Tone yang dihasilkan tersebut. Dari gamelan baru ini diharapkan dapat memberikan nuansa musikal baru, dengan menggunakan berbagai teori estetika yang baru pula memungkinkan muncul karya-karya baru yang lebih inovatif.
Dasar dari penciptaan ini, selain dari pengalaman penata dalam berkarya, juga dari berbagai acuan karya yang seirama dengan konsep karya Pendro II yaitu Rekaman CD “Pendro I” karya I Made Arnawa (2004). “Clapping Music” (1972) dan “Tehilim” (1979) karya Steve Reich.
Wujud garapan di sajikan dalam bentuk dan struktur serta Tekstur. Bentuk dan struktur masih ada kaitannya dengan bentuk struktur tradisi. Kemudian untuk bahasa musikalitasnya disebut dengan tekstur. Tekstur yang penata maksudkan dalam garapan Pendro II adalah bahasa musikalitas yang terbentuk dari konsep Mayatupatus. Mayatupatus adalah angka-angka yang tertera dalam Pengider Bhuwana sebuah lontar gamelan Bali yang sudah dialihbahasakan oleh I Made Bandem. Ma= lima (5), Ya= sanga (9), Tu= pitu (7), Pa= papat (4), Tus = kutus (8). Angka-angka 59748 inilah yang menjadi roh garapan Pendro II.
Untuk penotasian, kami buat dengan sistem notasi yang telah biasa dipergunakan dalam sistem penotasian di Bali, yaitu menggunakan simbol penganggen aksara Bali. Notasi Bali (ding-dong) pelog tujuh nada disejajarkan dengan Notasi Kepatihan (Jawa/Surakarta) dan Notasi Diatonis seperti dalam tabel berikut.
Pada gamelan Pendro, hanya terdapat empat nada yaitu nada 4 (dong), 5 (deng), 7 (dung), dan 1 (dang). Perlu disampaikan di sini bahwa laras dalam gamelan Pendro terdiri dari laras pelog (dung dan dang) dan slendro (dong dan deng) yang terbagi dalam empat nada.
Kata Kunci: Pendro, Bentuk dan Struktur, Tekstur
Pendro II Selengkapnya
by admin | Apr 29, 2010 | Artikel, Berita
Studi Pemanfaatan Karya Seni Lukis Sebagai Penunjang Pembelajaran Bahasa Inggris Yang Efektif Dan Efisien Di Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar
Oleh: Ni Kadek Dwiyani
Dibiayai Oleh DIPA ISI Denpasar 2009
Abstrak: Dalam proses belajar mengajar yang efektif dan efisien dalam pengajaran Bahasa Inggris perlu diperhatikan pengunaan alat-alat bantu dalam menyampaikan materi yang agak kompleks dalam penyajian sehingga peserta didik dalam ini mahasiswa akan lebih tertarik mengikuti proses perkuliahan.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah keberadaaan peserta didik yang memiliki latar belakang pengetahuan seni akan lebih mudah jika menggunakan alat bantu yang dipergunakan menggunakan media terdekat yang mereka ketahui, sehingga dalam melakukan analisis akan karya seni, mereka tidak merasa terlalu asing dengan alat bantu yang ada. Khususnya dalam penelitian tindakan kelas untuk pembelajaran bahasa Inggris seni, frekuensi pemberian bahan latihan yang lebih banyak akan mendorong mahasiswa peserta didik terbiasa untuk mengembangan kemampuannya berbahasa, terutama dalam meningkatkan penguasaan tata bahasa dan juga perbendaharaan kata/ kosakata, sehingga mereka akan menjadi lebih aktif dalam menyampaikan ide dan gagasan mereka baik dala bahasa tulisan maupun bahasa lisan.
Proses penelitian mengenai studi pemanfaatan karya seni lukis sebagai penunjang pembelajaran Bahasa Inggris yang efektif dan efisien di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar dilakukan melalui dua tahap pelaksanaan peneltian tindakan kelas yang dibagi dalam waktu 3 bulan untuk setiap tahapan dengan melaksanakan kombinasi antara 4 kemampuan dasar dalam bahasa Inggris yang dikenal dengan istilah speaking (keterampilan membaca), reading (keterampilan membaca), listening (keterampilan mendengar), dan writing (keterampilan menulis). Proses pembelajaran dengan menggunakan metode penggabungan keempat dasar keterampilan bahasa Inggris ini disebut dengan Integrative Skills.
by admin | Apr 29, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan
Gusmiati Suid, lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di dusun Parak Jua Batu Sangkar, Sumatera Barat. Tumbuh dan dibesarkan oleh pasangan guru sekolah dalam alam dan adat Minang serta ajaran Islam yang kokoh. Sejak usia 4 tahun, Gusmiati Suid sudah harus berlatih fisik dengan keras dan disiplin diri yang tinggi, karena ia satu-satunya turunan untuk meneruskan garis Silat Kumango supaya tidak punah. Berlatih keras dengan disiplin tinggi adalah sebuah keharusan dalam silat. Manakala Gusmiati lalai, ia harus rela berjam-jam berdiri di tengah empang keluarga. Pada suatu ketika diceritakan, Gusmiati cilik baru saja pulang dari menjenguk keluarga di kampung sebelah. Tiba di rumah sang mamak (paman) galak bertanya, “berapa banyak pohon yang ia lalui di jalan?”. Gagap menjawab pertanyaan pelik itu, Gusmiati cilik tahu apa yang harus ia lakukan; berjam-jam menempatkan diri di tengah empang. Begitulah sang mamak mengajarkan sari ajaran “Alam Takambang Jadi Guru,” mengenali lingkungan dengan teliti, bekerja keras dan membentuk disiplin diri. Bagi Gusmiati, tak pernah ada jalan pintas, tak ada anugerah yang jatuh dari langit. Setiap prestasi dan keberhasilan, hanya bisa diperoleh dengan kerja keras, perjuangan tak henti, dan disiplin diri yang tinggi.
Sebagaimana gadis desa di Minang pada umumnya, sejak kecil Gusmiati rajin pergi ke surau (tempat ibadah) untuk belajar mengaji, bersembahyang, memperdalam pengetahuan dan pemahamannya akan hukum dan ajaran Islam. Ketika tumbuh menjadi remaja, Gusmiati mulai belajar tari Melayu dan menjadi guru. Bergabung dengan Hoeriah Adam (pembaharu tari Minang), serta melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang. Tetapi, komitmenya kepada silat, tari Minang, dan nilai-nilai tradisi tak pernah pudar. Gusmiati mencintai tradisi tetapi tidak melihatnya sebagai barang mati. Tradisi itu baginya tumbuh dan berkembang sesuai dengan tempat dan masanya, sesuai dengan petuah Minang Alam Takambang Jadi Guru, Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung, atau Sakali Aia Gadang Sakali Tapian Barubah. Melalui perjuangan keras dan keyakinan diri, puteri Asiah dan Said Gasssim itu berhasil membentuk diri menjadi penata tari yang handal dan memiliki harga diri dengan rasa cinta yang mendalam kepada bangsa, negeri dan kemanusiaan, bukan hanya ditingkat nasional tetapi juga dalam pergauluan antar bangsa.
Gusmiati Suid Sang Maestro Tari I selengkapnya
by admin | Apr 28, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Ni Ketut Pande Sarjani, S.Sn
Dibiayai Dipa ISI Denpasar 2009
Ringkasan Penelitian
Komputer pribadi mulai banyak digunakan sebagai alat bantu menulis sekitar tahun 80-an, perkembangan perangkat kumputer dari berbagai produsen semakin pesat. Ini terjadi kerena komputer dapat meringankan dan mempercepat pekerjaan manusia. Mulai dari pekerjaan sederhana seperti pengetikan naskah sampai pada pekerjaan yang rumit menjadi lebih cepat dan mudah bila diselesaikan dengan komputer. Produsen merek-merek terkenal semakin gencar mencari temuan-temuan dan terobosan-terobosan baru dalam rangka peningkatan kwalitas dan keunggulan produknya. Berbagai media promosi pun digunakan untuk memperkenalkan produk mereka, salah satunya adalah iklan pada media cetak. Pemasangan sebuah iklan suatu produk pada perinsipnya adalah suatu pengenalan dari produsen ke konsumen tentang keunggulan produknya, untuk dapat merangsang atau mempengaruhi sikap konsumen agar membeli produk yang ditawarkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, yang menjadi ukuran keberhasilan marketing melalui sebuah iklan adalah banyaknya jumlah konsumen yang terpengaruh dan terangsang untuk membeli produk yang ditawarkan. Untuk mendukung keberhasilan ini dibutuhkan sebuah iklan yang mengandung nilai “Komunikatif”. Usaha produsen dalam mempengaruhi konsumen agar membeli suatu produk melalui sebuah iklan dalam media cetak pada prinsipnya memanfaatkan pesan verbal dan nonverbal. Pesan verbal menggunakan kata-kata yang mempresentasikan berbagai aspek realitas, sedangkan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Kehadiran pesan nonverbal dalam sebuah iklan sangat membantu produsen dalam menyampaikan keunggulan produknya ke konsumen, merangsang konsumen untuk tertarik dan membeli produk yang ditawarkan. Pesan nonverbal pada sebuah iklan sebagian besar disampaikan dengan bahasa objek berupa gambar atau ilustrasi. Pesan nonverbal yang diungkapkan dalam sebuah iklan dapat berfungsi untuk mengulangi ungkapan dari pesan verbalnya serta bersifat melengkapi arti pesan verbal. Pesan verbal akan kurang komunikatif jika tanpa ada sebuah gambar yang mendukung atau memeperjelas ungkapan pesan verbal dalam sebuah iklan. Dan pesan nonverbal pada iklan jelas sekali terasa peranannya. Melalui pengulangan (repetisi) dan penegasan oleh pesan nonverbal, melahirkan iklan yang komunikatif dan mampu membangkitkan keinginan konsumen untuk membeli suatu produk yang ditawarkan..
by admin | Apr 28, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn, dan Nyoman Larry Julianto, S.Sn
dosen PS Desain Komunikasi Visual,
Ringkasan Penelitian Dibiyayai Dipa.Isi. Denpasar
Bali kaya akan keaneka ragaman seni dan budayanya berupaya untuk selalu dapat bersaing dikancah dunia pariwisata baik lokal maupun internasional. Dimana salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Pariwisata Bali, dengan mengapresiasikan salah satu kearifan lokal budaya Bali berupa tagline “ Bali Shanti, Shanti, Shanti ” yang mengandung arti damai dalam bentuk logo branding Bali sebagai destination branding ditengah gempuran brand dari kompetitor (daerah-daerah di Indonesia maupun negara-negara di Dunia) yang menawarkan sesuatu yang artifisial, namun branding Bali menggali dari kristalisasi kearifan lokal nilai-nilai kehidupan masyarakat Pulau Dewata Bali, dimana dalam kehidupan ini sejatinya kita semua hanya ingin mencapai Shanti yaitu kedamaian. Inilah sejatinya roh spritual -magis masyarakat Bali dengan harapan global agar perdamaian Bali tergema di seluruh penjuru Dunia. Dengan kearifan lokal yang bervisi global itulah diharapkan branding Bali mampu sebagai pendorong daya tarik bagi wisatawan dan investor untuk datang ke Bali. Ketika wisatawan dan investor datang ke Bali, mereka merasakan kedamaian, baik dalam menikmati keindahan alam, seni budaya, maupun spiritual, dan juga kedamaian investasi. Sehingga secara umum branding Bali diharapkan akan meningkatkan daya saing Bali. Pada titik inilah branding Bali bukan hanya untuk pariwisata melainkan diharapkan mampu menginspirasi semua elemen masyarakat Bali agar bisa satu visi dan misi dalam membangun Bali ke depan. Bali bukan untuk pariwisata tapi pariwisata itulah untuk Bali. Dimana konsep ini dituangkan pada berbagai wujud media promosi yang digunakan oleh pemerintah untuk mempromosikan Bali kepada wisatawan, melalui penerapan elemen – elemen layout yang terdiri dari elemen visual, elemen teks, dan invisible elemen ilustrasi, kedalam sebuah lay out dengan mengacu pada prinsip layout yang mampu mewakili makna yang dikandung dalam konsep logo branding Bali.
Kata Kunci : Media Promosi, Logo Branding Bali, elemen dan prinsip layout
by admin | Apr 28, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si. dan Wahyu Sriwiyati. S.Sn. (Anggota)
Ringkasan Penelitian Dosen Muda Dibiayai DIPA ISI Denpasar 2009
Dalam rangka mendukung kebijakan Keputusan Mendiknas Nomor 125/U/2002 Tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di Sekolah diperlukan kegiatan Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) dalam upaya mengembangkan pendidikan anak seutuhnya, dirasa perlu dilakukan pembinaan kesenian di SD melalui menyanyikan lagu wajib nasional merupakan bagian kegiatan pembinaan kesenian di sekolah.
Mencermati hal tersebut, Secara umum praktik menyanyikan lagu-lagu wajib nasional bagi siswa tingkat SD masih sangat kurang maksimal dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, pelatihan lagu-lagu wajib nasional sangat tepat diberikan pada guru dan selanjutnya agar bisa diterapkan pada siswa di sekolahnya masing-masing. Hal ini juga untuk mengantisipasi menurunnya semangat nasionalisme yang indikasinya dapat dilihat dari semakin berkurangnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan terkait dengan peringatan hari-hari nasional Bangsa Indonesia.
Sesuai dengan kebijakan tersebut di atas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar, bahwa seni budaya harus tetap dipelihara dan dikembangkan, sejak tahun 2006 instansi ini secara rutin telah menyelenggarakan Pelatihan lagu-lagu Wajib Nasional yang diikuti oleh para guru Kesenian SD se kota Denpasar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta memantapkan kepribadian dalam bidang seni maka dirasa perlu untuk mengembangkan kemampuan guru/siswa dalam menyanyikan lagu-lagu wajib nasional sehingga proses belajar mengajar siswa dapat lebih menyenangkan.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka penelitian ini penting dilakukan untuk membenahi dan meningkatkan penguasaan lagu melalui kebenaran dalam membunyikan notasi lagu-lagu wajib nasional serta dapat mengetahui bentuk penerapan penguasaan lagu-lagu wajib nasional di SD 4 Saraswati Denpasar. Dalam kegiatan ini guru lebih banyak mengajak siswa praktek menyanyikan lagu-lagu wajib nasional, di samping pahan dan menguasai secara baik dan benar dalam penguasaan pegang nada dengan intonasi yang tepat juga penerapan pada penguasaan syair, teknik penjiwaan lagu. Sebelum siswa diberikan materi lagu, guru pembina menjelaskan beberapa aspek pendukung, seperti: penguasaan dasar-dasar teori musik, cara bernyanyi yang baik dan benar, Dapat memahami jenis-jenis suara manusia, cara bernafas yang baik dalam bernyanyi, Pembentukan huruf vokal dan konsonan, membidik suara, latihan suara panjang, suara lentur, teknik penyajian/pembawaan lagu, teknik mendireksi, dapat mengetahui bahan materi lagu yang harus di praktekkan di sekolah.
Lagu wajib nasional sebagai salah satu jenis musik yang telah menyatu dengan jiwa masyarakat Indonesia memiliki fungsi yang kompleks dalam aktivitas budaya masyarakat. Lagu wajib nasional merupakan salah satu produk atau hasil karya cipta budaya masyarakat Indonesia di bidang musik. Sebagai salah satu ikon budaya masyarakat Indonesia, kesenian ini mempunyai fungsi dalam berbagai aktivitas kehidupan sosial masyarakat. Ada beberapa fungsi yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat diantaranya: Fungsi pendidikan, fungsi sosial, fungsi pekestarian dan fungsi propaganda.
Salah satu foktor penting dalam program penerapan penguasaan lagu-lagu wajib di lingkungan Sekolah Dasar adalah peran seorang guru. Guru adalah sosok yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar di tingkat Sekolah Dasar. Sukses dan tidaknya sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada bagaimana seorang guru melaksanakan peranannya dalam memanage sebuah pembelajaran. Terkait dengan peran tersebut, sebagaimana dikatakan Soekanto (1982:268), peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran.
Terkait dengan aktivitas sebagaimana dimaksud di atas, dalam penerapan penguasaan lagu-lagu wajib seorang guru hendaknya memiliki kecakapan dan penguasaan terhadap materi tersebut serta memiliki program yang jelas agar materi yang diajarkan dapat ditangkap dipahami oleh para siswa. Kemampuan mengajar perlu dimiliki agar guru mantap dalam mengelola belajar-mengajar, percaya diri, kreatif dan proaktif sehingga pembelajaran yang dilaksanakan meraih hasil yang memuaskan.. Adapun aspek-aspek yang diajarkan diantaranya: teori dasar musik, teknik dasar menyanyi, sistem notasi lagu, teknik penyajian sebuah lagu.