by admin | May 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Ketut Partha, SSKar., M.Si. dan I Gede Mawan, S.Sn.
Dibiayai oleh DIPA ISI Denpasar Tahun 2009
Sinopsis Karawitan Tawur Agung
Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, pada hakikatnya untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini, memberikan energi kerahayuan kepada manusia dan seisi alam. Upacara Tawur Agung Panca Bali Krama adalah karya yang sedemikian “langka” karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu. Terispirasi dari hal tersebut, tergugah keinginan penata untuk merealisasikan “aktivitas dan suasana” Upacara Panca Bali Krama ke-dalam sebuah karya seni karawitan.
Sebagai sebuah hasil kreativitas seorang seniman, dalam arti enak disajikan dan enak untuk dinikmati, karya seni ini diwujudkan dalam komposisi yang diberi judul “Tawur Agung”. Tawur Agung merupakan komposisi karawitan sebagai sebuah ekspresi seni dan media instrospeksi untuk mewujudkan keseimbangan dalam menata kehidupan yang lebih harmonis. Penciptaan karya karawitan ini muncul dengan memanfaatkan suasana dalam upacara yang besar sebagai objek penciptaan, adalah sebuah gugahan untuk menghargai kebesaran Yang Maha Esa.
by admin | May 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Gede Yudartha, Dosen PS Seni Karawitan
I Nyoman Rembang memberikan beberapa ulasan tentang pengertian tabuh. Pertama, tabuh bila dilihat sebagai suatu estetika teknik penampilan adalah hasil kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu repertoir hingga sesuai dengan jiwa, rasa dan tujuan komposisi. Kedua, pengertian tabuh sebagai suatu bentuk komposisi didifinisikan sebagai kerangka dasar gending-gending lelambatan tradisional. Misalnya tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat dan sebagainya (Rembang, 1984/1985:8-9). Dari kedua pengertian di atas dapat disimak bahwa tabuh dalam konteks karawitan Bali memiliki pengertian yang sangat luas adakalannya tabuh juga dipergunakan untuk menunjukkan bentuk-bentuk komposisi lainnya diluar dari gending-gending lelambatan tradisional misalnya tabuh kreasi baru disini makna yang terkandung di dalamnya adalah suatu bentuk garapan komposisi karawitan yang di luar dari kaidah-kaidah tetabuhan klasik. Di samping itu kata tabuh juga dipergunakan untuk menyebutkan bentuk-bentuk komposisi dari berbagai jenis barungan gamelan seperti tabuh Smar Pagulingan, tabuh Gong Gede, tabuh Kekebyaran dan sebagainya.
Dilain pihak, pada buku terjemahan Prakempa pada bagian ke 35 berkaitan dengan tabuh ada disebutkan bahwa :
“…ini asal mula tabuh (lagu )dan nyanyian-nyanyian, karena nyanyian dan lagu sesungguhnya sama beda, karena ada tersebut nyanyian yaitu tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem dan tabuh kutus ini bukan tabuh namanya, sebenarnya angsel dan pepade, karena segala alat-alat nyanyian harus memakai kempli dan kempul. Bila nyanyian memakai kempli delapan kali dan juga kempul delapan kali itu yang bernama Asta pada….” (Bandem, 1985:63)
Kutipan di atas bila dikaitkan dengan keberadaan bentuk komposisi tabuh-tabuh Lelambatan, maka akan dapat dilihat bahwa dalam setiap komposisi tabuh seperti halnya tabuh kutus akan terdapat delapan kali angsel atau pepade pada bagian pengawak dan pengisepnya (main body) yang ditandai dengan jatuhnya pukulan kempur dan kempli.
Pengertian Tabuh Lelambatan Klasik Pegongan selengkapnya
by admin | May 7, 2010 | Artikel, Berita
Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan: Studi Kasus Dalang I Made Sidia Dalam Festival Wayang Internasional Pada PKB XXX
Oleh : Nyoman Lia Susanthi (Ketua), Ni Wy. Suratni (Anggota), dan I Dewa Ketut Wicaksana (Anggota)
Dibiayai DIPA ISI Denpasar 2009
Abstrak Penelitian
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Di era global ini, bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris, telah menjadi media yang sangat ampuh untuk penyebaran budaya ke seluruh dunia. Termasuk seni budaya pewayangan yang kini dikemas dengan beragam inovasi, termasuk menyelipkan bahasa Inggris dalam pementasannya. Hal ini tampak saat pelaksanaan Festival Wayang Internasional dalam PKB ke XXX. Selain untuk lebih menarik wisatawan berkunjung ke Bali, juga untuk dapat memberikan informasi dan berkomunikasi dengan wisatawan asing. Dengan demikian tampak sangat jelas bahwa bahasa Inggris sebagai media komunikasi memiliki peran yang sangat penting untuk desiminasi budaya.
Kata Kunci: bahasa Inggris, komunikasi, wayang, festival
by admin | May 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Nyoman Suardina
Makalah Seminar IMHERE 2009
Usaha kerajinan adalah suatu pilar perekonomian yang masih eksis menyangga kehidupan sebagian masyarakat Kabupaten Buleleng. Dengan demikian sektor kerajinan sampai sekarang masih tetap diusahakan sebagai mata pencaharian, baik dilakukan secara perorangan, maupun kelompok. Dalam bentuk usaha, ada yang dilakukan secara tradisional perorangan, kelompok masyarakat atau dengan manajemen yang lebih baik dalam bentuk perusahaan perorangan maupun asosiasi. Makin majunya dunia usaha serta taraf kehidupan masyarakat produsen maupun konsumen, tak pelak menuntut pencitraan bentuk-bentuk kerajinan, sehingga kerajinan dapat berkembang begitu dinamis. Tuntutan gaya hidup konsumen serta kemampuan desainer dalam merespon, dapat menyuburkan perkembangan mode kerajinan, dari waktu ke waktu.
Gambaran itu sangat jelas terbaca dalam peta perkembangan usaha kerajinan di daerah Buleleng saat ini. Bila di masa lalu kerajinan diusahakan sebagai pengisi waktu luang, dimana jiwa dan karakter pada setiap produk yang dihasilkan adalah penggambaran jiwa-jiwa sederhana, aplikatif sebagai kagunan dan milik masyarakat pendukungnya. Begitu pula usaha kerajinan itu sebagai anugerah potensi alamiah yang dimiliki masyarakat setempat, dan mencerminkan karakter masyarakat sebagai budaya lokal. Namun, ‘kerajinan’ yang tadinya berkonotasi pada proses pekerjaan, kini kata itu cukup menempel pada produknya saja. Sedangkan proses ‘kerajinan’ itu sudah menjelma menjadi; pekerjaan, usaha, komoditas melalui proses tersetruktur dalam aturan waktu maupun manajemen.
Seiring berkembangnya budaya global, perwajahan kerajinanpun mengalami perubahan. Beberapa idiom terkesan ‘memaksa’ hadir dalam keseharian masyarakat tradisional Buleleng. Dahulu masyarakat hanya akrab pada kata; sok, kukusan, sokasi/ keben, wanci/ dulang, saab, bokor, dan sebagainya. Kini dengan sangat fasih para perajin menyebut apa yang mereka kerjakan sebagai; box set, bath rack, box handle, coffee set tray, oval lamp set, table square, bambu bowl, lamp holder, CD cabinet, food accessories, dan sebagainya.
Makalah Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali selengkapnya
by admin | May 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si. (Ketua) I Nyoman Pasek, SSKar ., M.Si (Anggota)
Makalah Seminar Imhere 2009
Derasnya pengaruh modernisasi dan globalisasi dewasa ini mengancam keberadaan dan sendi-sendi kearifan lokal yang telah mengakar dalam tradisi dan budaya masyarakat Bali. Selama ini kearifan lokal masyarakat Bali diyakini memiliki nilai-nilai yang penting dalam menjaga kelangsungan tradisi dan budaya masyarakat Bali. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat di era modern, terjadi transformasi kehidupan masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang mana hal ini menyebabkan terjadinya penyusutan dalam memahami serta penerapan nilai-nilai kearifan tersebut dalam kehidupan masyarakat. Orientasi menuju kehidupan masyarakat modern mendominasi prilaku setiap individu sehingga nilai-nilai kearifan yang sebelumnya kental dalam sikap dan prilakunya mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup modern.
Perubahan masyarakat seperti ini sangat sulit untuk dihindari karena sebagaimana dikatakan Huntington, dalam tahapan menuju masyarakat modern, modernisasi sebagai sebuah proses transformasi, dalam mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai modern. Apa yang dikatakan sebagai tradisional tidak memiliki peran yang berarti dan bahkan dalam banyak hal tidak berguna sama sekali dan karena itu harus diganti (dalam Suwarsono, 1994:23).
Demikian pula halnya dengan arus globalisasi yang semakin mendesak merambah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dampak negatif dari adanya perubahan ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap nilai-nilai kearifan yang sebelumnya sangat mengakar di masyarakat. Proses modernisasi di era global, dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini upaya mempertahankan nilai-nilai kearifan tradisional menjadi sebuah tantangan bagi kelestarian kebudayaan Bali karena dampak era globalisasi tidak akan dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikatakan Titib (dalam Triguna, 2007:171), globalisasi ditandai dengan hilangnya batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Dalam situasi seperti ini budaya barat yang sekuler dan modern akan mudah diserap oleh bangsa-bangsa di Timur yang sedang berkembang menuju tahapan modernisasi. Bila tidak memiliki sistem proteksi dan kendali budaya yang baik, ditenggarai akan menghancurkan budaya dan peradaban bangsa-bangsa di Timur dimana sentuhan budaya global menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan atau kehilangan orientasi (disorientasi) dan dislokasi hampir di setiap aspek kehidupan. Masyarakat cenderung bersifat sekuler dan komersil karena uang dijadikan sebagai tolok ukur kehidupan.
Makalah Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar selengkapnya
by admin | May 6, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan
Totalitas Gusmiati Suid dalam berolah kreativitas seni, mendapat apresiasi dan pujian dari berbagai kalangan. Ratna Sarumpaet, dalam acara Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 mengemukakan, bahawa Gusmiati Suid adalah seorang seniman Indonesia yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar tradisi budaya Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, Gusmiti Suid telah mengukirkan kreativitasnya melalui karya-karya pertunjukan tari dan musik, yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang Maestro Tari Indonesia yang mendapat penghargaan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Gusmiati tidak banyak bicara apalagi berwacana. Wacana Gusmiati adalah gerak dan perjalanannya. Seorang perempuan Minang yang berani melangkah untuk mewujudkan kemauannya, meski di era itu adat dan tradisi yang berlaku dapat mengecam dan menjadikan sika dan pendiriannya sebagai pergunjingan kurang menyenangkan. Misteri Gusmiati tersimpan dalam suaranya yang tidak terlalu diperdengarkan. Karena dian itulah yang membuat orang tersentak begitu melihat panggung pergelarannnya. Pergelaran yang mengucapkan banyak hal, yang berbicara tentang banyak hal, yang memperdulikan dan prihatin pada banyak hal (Sarumpaet, 2004:2-3).
Pujian serupa juga dikemukan Edi Sedyawati kepada Gusmiati Suid, “sebuah hidup penuh karya; sebuah teladan mengenai keberanian hidup”. Sebagai wanita yang berperasaan halus ia adalah siganjua lalai, samuik tapijak indak mati (si cantik gemulai, semut terinjak tidak mati). Namun dalam berkarya tari dan dalam menghadapi permasalahan hidup, ia adalah representasi sisi lain dari gambaran perempuan Minang, yaitu alu tataruang patah tigo (alu tertabrak patah jadi tiga). Karya-karya Gusmiati Suid bahkan lebih ‘gegap gempita’, baik dalam penggarapan susunan gerak yang memerlukan banyak energi, maupun dalam tata rupa pentas yang ‘bergerak’ dan difungsikan sebagai penunjang perlambangan, dan bukan semata-mata dekoratif (Sedyawati, 2004:2).
Terhadap karya-karya tari yang telah dihasilkan oleh Gusmiati Suid, Sal Murgiyanto (kritikus tari) dalam pidato sambutanya pada Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 memberikan ulasan dan penilaian sebagai berikut:
Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II Selengkapnya