by admin | May 17, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Wardizal (dosen PS Seni Karawitan)
Minangkabau, sering dikenal sebagai bentuk kebudayaan dari pada sebagai bentuk negara yang perah ada dalam sejarah (Navis, 1984:1). Secara umum, perkataan Minangkabau mempunyai dua pengertian, pertama Minangkabau sebagai tempat berdirinya kerajaan Pagaruyung. Kedua, Minangkabau sebagai salah satu kelompok etnis yang mendiami daerah tersebut (Mansoer, 1970:58). Kerajaan Pagaruyung yang pada masa dahulu pernah menguasai daerah budaya Minangkabau, tampaknya tidak banyak memberikan atau meninggalkan pengaruh yang nyata terhadap budaya rakyat Minangkabau sampai sekarang. Dewasa ini, kharisma kerajaan Pagaruyung telah terlupakan begitu saja oleh masyarakat Minangkabau. Istilah Minangkabau tidak lagi mempunyai konotasi sebuah daerah kerajaan, akan tetapi lebih mengandung pengertian sebuah kelompok etnis atau kebudayaan yang didukung oleh suku bangsa Minangkabau (Hajizar, 1988:31).
Realias yang berkembang di tengah masyarakat (terutama orang luar Minangkabau), kata Minangkabau sering diidentikkan dengan kata Sumatera Barat pada hal secara subtantif keduanya mempunyai makna yang berbeda. Perkembangan sejarah menunjukkan, bahwa daerah geografis Minangkabau tidak merupakan bagian daerah propinsi Sumatera Barat (Mansoer, 1970:1). Sumatera Barat adalah salah satu propinsi menurut administratif pemerintahan RI, sedangkan Minangkabau adalah teritorial menurut kultur Minangkabau yang daerahnya jauh lebih luas dari Sumatra Barat sebagai salah satu propinsi (Hakimy, 1994:18).
Secara administratif, propinsi Sumetara Barat mempunyai 14 daerah tingkat II, terdiri dari 8 daerah tingkat II yang tercakup dalam kapupaten, dan 6 daerah yang tercakup dalam Kota Madya. Delapan (8) kabupaten terdiri dari kabupaten Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Pasaman, Solok, Pariaman, Sawah Lunto Sijunjung, 50 Kota, dan Padang Pariaman. Enam (6) Kota Madya terdiri dari Kota Madya Padang, Solok, Sawah Lunto, Payakumbuh, Padang Panjang dan Bukittinggi. Batas-batas propinsi yang berbatasan dengan Sumatera Barat Adalah: sebelah barat berbatasan dengan Samudra Indonesia; bahagian utara berbatasan dengan Sumatera Utara; sebelah selatan berbatasan dengan propinsi Bengkulu dan propinsi Jambi; dan sebelah timur berbatasan dengan propinsi Riau.
Minangkabau dalam pengertian sosial budaya merupakan suatu daerah kelompok etnis yang mendiami daerah Sumatera Barat sekarang, ditambah dengan daerah kawasan pengaruh kebudayaan Minangkabau seperti: daerah utara dan timur Sumatera Barat, yaitu Riau daratan, Negeri Sembilan Malaysia; daerah selatan dan timur yaitu; daerah pedalaman Jambi, daerah pesisir pantai sampai ke Bengkulu, dan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia (Couto dalam Arisman, 2001:56). Tidak ada yang dinamakan suku bangsa Sumatera Barat atau kebudayaan Sumatera Barat. Namun secara praktis pemerintah Daerah Tingkat I propinsi Sumatera Barat-lah yang menggerakkan kebudayaan Minangkabau. Boestanoel Arifin Adam mengatakan:
Pengertian Minangkabau selengkapnya
by admin | May 17, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Ida Ayu Gede Artayani, S.Sn, M.Sn., Dosen PS Kriya Seni
Usaha kerajina gerabah di Desa Binoh merupakan usaha industri rumah tangga yang sifatnya sudah turun-temurun. Pembuatan kerajinan ini merupakan mata pencaharian yang cukup mendapat perhatian dari para kaum wanita di desa ini. Usaha kerajinan ini ditekuni oleh mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang masih lajang. Sesuai dengan hasil surve yang diperoleh dilapangan, ada beberapa faktor pendorong dari kaum wanita untuk bekerja pada usaha kerajinan gerabah antara lain:
- Faktor Ekonomi
Pembangunan pertanian di Indonesia mampu meningkatkan pendapatan petani khususnya dan penduduk pedesaan pada umumnya. Ini terbukti dengan semakin kecilnya jumlah penduduk miskin di pedesaan. Disamping itu perlu diperhatikan masih banyaknya penduduk yang memusatkan bekerja di sektor pertanian.
Hal ini menyebabkan tambahan tenaga kerja disektor pertanian lebih besar dari kepemilikan lahan.
Lahan pertanian yang kian hari semakin sempit tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga petani yang bersangkutan. Hal ini berarti rumah tangga petani harus meningkatkan pendapatan mereka melalui kegiatan diluar sektor pertanian.
Pekerjaan-pekerjaan di luar sektor pertanian, seperti misalnya pekerjaan dalam industri rumah tangga atau industri kecil, sudah dikenal di daerah pedesaan sejak lama. Keberadaan pekerjaan di luar sektor pertanian ini penting artinya bagi rumah tangga petani. Hal ini berkaitan dengan sifat musim kegiatan di bidang pertanian. Pada umumnya keluarga petani membutuhkan pekerjaan di luar sektor pertanian untuk menambah penghasialannya. ( Mubyanto, 1985: 45).
Demikian pula halnya keadaan penduduk di Desa Binoh, kepemilikan lahan pertanian semakin sempit, berubah menjadi kawasan perumahan. Kepemilikan lahan rata-rata 0,16 Ha per kepala keluarga. Melihat kenyataan yang demikian, pendapatan dari sektor pertanian tidak memungkinkan lagi sebagai penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu bukan saja kaum laki-lakinya, kaum wanitanya pun dituntut untuk mencari nafkah di sektor lain. Menurut informasi yang diterima, kerajinan gerabah yang ada di desa ini sudah ada sejak dulu, mereka tidak bisa menyebutkan angka dan tahunnya, karena mereka mewarisi kerajinan ini sejak lahir. Hal ini memungkinkan para wanita di desa ini tidak banyak terlibat dalam pekerjaan pertanian sehingga mereka banyak mempunyai waktu luang setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hanya saja waktu itu pekerjaan mereka bersifat kecil-kecilan. Peralatan yang dipergunakan dalam pembuatan gerabah masih sangat sederhana, begitu pula bentuk-bentuk barang yang dibuat tidak banyak variasi dan pemasaarannya masih bersifat lokal.
Faktor – faktor Yang Mendorong Wanita Bekerja pada Usaha Kerajinan Gerabah Di Desa Binoh Kelurahan Ubung Kaja Denpasar selengkapnya
by admin | May 16, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan
Hasil wawancara dengan Wardizal dan Kadek Wahyu dengan I Wayan Sinti, MA, pada Hari Sabtu, 27 Oktober 2007
Secara mendasar, proses penciptaan gamelan Siwa Nada bertitik tolak dari gamelan Manika Santi. Pada barungan gamelan Manika Santi, hanya bisa dimainkan gendhing-gendhing gamelan Bali. Gamelan Manika Santi tidak bisa digunakan untuk memainkan musik-musik dari negara lain seperti musik Barat, China, India, Jepang, dan lain-lain karena masalah interval. Oleh karena itu, nada-nada yang terdapat dalam barungan gamelan Manika Santi tersebut dicoba ditata kembali, baik jumlah nada maupun interval. Karena secara prinsip musik Barat sudah mempunyai standar tuning, berbeda dengan musik tradisi pada umumnya. Melalui percobaan-percobaan yang tidak mengenal lelah, akhirnya terwujudlah satu bentuk barungan gamelan baru yang disebut Siwa Nada dengan harapan bisa dijadikan sebagai Ensiklopedi Musik Dunia. Dengan perkataan lain, sebuah bentuk/jenis gamelan yang bisa difungsikan untuk memainkan repertoar dari berbagai jenis musik dunia.
Secara filosofis, pemberian nama Siwa Nada pada barungan gamelan ini didasarkan atas keyakinan umat hindu di Bali bahwa Siwa adalah sebagai Dewa (pencipta). Gamelan Siwa Nada dapat diartikan sebagai gamelan yang mepergunakan nada-nada ciptaan Dewa Siwa. Secara spsifik, pemberian nama Siwa Nada lebih bersifat praktis dan pragmatis dimana, Si merupakan singkatan dari Sinti; Wa berarti Nawa (sembilan) atau Washington. Dengan demikian, Siwa nada dapat diartikan gamelan sembilan nada ciptaan Sinti di Washington. Ide penciptaan gamelan ini sudah pernah diekspos di koran Bali pada tahun 1998 untuk menciptakan tangga nada baru 9 atau 12, khususnya 9. Dalam perkembanganya kemudian, proses penciptaanya dilakukan Sinti ketika berada di Amerika (Washington). Proses penciptaan dilakukan pada tahun 2004 dan selesai (diupacarai) tepat purnama 17 Oktober 2005, lebih kurang 1 tahun 49 hari.
Secara umum instrumen gamelan Siwa Nada berbentuk bilah, kalau berbentuk pencon akan memakan waktu dan lebih rumit. Oleh karena di Amerika sulit mendapatkan kerawang, maka dipergunakan baja. Di samping itu, di Amaerika sulit mendapatkan bambu yang bagus, maka dipakai kayu (kayu padok) yang dibeli dari Ghana, Afrika. Setelah Sinti pulang ke Bali, kemudian dibuatkan istrumen dari kerawang. Dengan demikian, instrumen-instrumen yang terdapat dalam gamelan Siwa Nada merupakan kombinasi antara kerawang dan bambu. Barungan gamelan Siwa Nada sengaja dibuat dalam jumlah yang kecil, untuk dikombinasikan dengan vokal. Kalau barungannya lebih besar, akan bisa mengakibatkan vokal tenggelam. Jenis vokal yang dimaksud khususnya “Wirama”, dimana intervalnya sangat pendek-pendek. Kalaupun ada gamelan lain seperti gender wayang atau gong, hanya sebagai ilustrasi. Hal yang diinginkan adalah interlocking antara gamelan dan vokal.
Gamelan Siwa Nada selengkapnya
by admin | May 15, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Made Mertanadi, M.Si (Dosen PS Kriya Seni)
Ringkasan Penelitian
Masyarakat Hindu di Bali melaksanakan begitu banyak jenis kegiatan upacara yadnya, baik dalam rutin atau acara tertentu. Dalam setiap pelaksanaan upacara memakai sarana berbagai jenis banten. Akan tetapi dalam pelaksanaan yadnya ini masyarakat belum memahami sepenuhnya maksud dari upacara tersebut. Jadi apa yang dilakukan oleh masyarakat berkaitan dengan perilaku keagamaan tidak sepenuhnya dimengerti dan dipahami. Masyarakat Hindu di Bali pada umumnya menaruh perhatian yang sangat besar pada masalah yadnya, Mereka melaksanakan yadnya dengan penuh kesadaran dan beraktivitas sesuai dengan adat budaya setempat. Pemakaian jenis-jenis sarana serangkaian pelaksanaan yadnya disebut upakara. Adapun jenis sarana dalam upacara yadnya yaitu air dan api. Pengunaan air dan api sebagai sarana dalam suatau upacara yadnya memerlukan suatu tempat atau wadah yang disebut gerabah.
Penelitian ini pada prinsipnya hendak mengetahui dan mendiskripsikan gerabah dalam upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali dari dimensi bentuk, fungsi, dan makna. Teori yang digunakan, yakni untuk mengungkap bentuk digunakan teori Estetika, mengungkap fungsi digunakan teori Fungsionalisme Struktural, dan untuk mengungkap makna digunakan teori Simbol. Metode yang digunakan adalah (1) Pengumpulan data dengan Habermes, observasi, wawancara, dan analisis dokumen (2) Analisis data (3) Pengecekan dan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi.
Penelitian ini menemukan bahwa dalam upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali, bentuk gerabah yang digunakan antara lain coblong, caratan, pasepan, dandang, paso (pane), payuk pere (jun pere), payuk Siwa Budha, puluk-puluk ari-ari, puluk-puluk pedagingan (pendeman), sesenden, gentong, eteh-eteh pedudusan, dan kumbecarat. Fungsi gerabah adalah sebagai wadah air, api, bunga, biji-bijian, buah, dan daun. Makna gerabah terdiri dari makna relegi dan makna filosofis. Makna relegi yaitu sebagai simbol kumunikasi religius antara manusia dengan Tuhan, yang pada hakikatnya manusia dalam bertindak melaksanakan yadnya selalu memikirkan Tuhan. Makna filosofis yaitu bentuk gerabah dalam upacara yadnya bundar adalah simbol bumi (bhuana agung) dan segala bentuk isinya adalah simbol bhuana alit. Makna yang terkandung adalah sebagai simbol penyatuan wadah dengan isinya, yaitu penyatuan antara bhuana agung (alam makrokosmos) dan bhuana alit (alam mikrokosmos).
by admin | May 15, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Wayan Budiarsa
Dibiayai DIPA ISI Denpasar tahun 2009
Rejang Sutri adalah nama tarian yang yang terdapat di daerah Gianyar tepatnya di Desa Pakraman Batuan, Sukawati, Gianyar yang oleh masyarakat Batuan sangat di sakralkan keberadaanya. Rejang Sutri ditarikan oleh penari perempuan baik dari usia anak-anak, muda maupun tua. Dari sekian banyak tari rejang sakral yang ada di Bali, Rejang Sutri di desa Batuan memiliki keunikan atau gaya tersendiri yaitu mulai di tarikan/ ngawit masolah menurut sasih penanggalan kalender Bali yaitu sasih / bulan kelima ( lima) dengan mencari hari/rerahinan kliwon, kajeng kliwon, purnama ataupun tilem sesuai pawisik yang diterima oleh pemangku Desa Batuan, dengan mempersembahkan beberapa sarana upacara dan upakara. Kalau diperkirakan mulai sekitar bulan Nopember sampai bulan Maret (tahun berikutnya ), dan berakhir atau nyineb/ngeluhur pada saat sasih kasanga bertepatan dengan upacara malam Ngembak Geni sehari setelah Hari Raya Nyepi yang merupakan hari perayaan tahun baru Saka Agama Hindu. Jadi sekitar empat bulan kalender masehi, ini dilaksanakan setiap hari dengan cara bergiliran dari delapan banjar pangempon yaitu Banjar Puaya, Banjar Jeleka, Banjar Tengah, Banjar Pekandelan, Banjar Dentiyis, Banjar Delodtunon, Banjar Peninjoan, Banjar Jungut dan satu tempekan/ kelompok Tri Wangsa. Sebagai tarian Rejang yang disakralkan sudah barang tentu terkandung makna filosofis yang sangat kental. Untuk mengetahui sejarah timbulnya tari Rejang Sutri di desa Batuan sangatlah sulit, karena tidak adanya catatan-catatan, literatur, buku-buku yang menyebutkan tentang tari Rejang Sutri ini. Hanya keterangan secara lisan yang secara turun temurun telah dipercaya oleh masyarakat Batuan. Keterangan itu adalah berawal dari kekalahan Ratu Gede Mecaling (menguasai ilmu hitam ) atas I Dewa Babi mengakibatkan terciptanya tarian Rejang Sutri tersebut. Kejadian tersebut kira-kira terjadi pada abad ke 17 (1658 Masehi), saat kerajaan Sukawati dipegang oleh Ida Sri Aji Maha Sirikan yang bergelar I Dewa Agung Anom dan nama lainnya Sri Wijaya Tanu. Masyarakat Batuan percaya dengan keberadaan Ratu I Gede Mecaling dari Nusa Penida yang sekiranya sewaktu-waktu akan mengganggu ketentraman masyarakat desa Batuan. Dimana legenda/ mitos, kepercayaan ini telah dipercaya secara turun temurun dan telah berakar di hati masyarakat Batuan umumnya. Kepercayaan terhadap seorang tokoh I Gede Mecaling yang sangat sakti, tinggal di tegallinggah banjar Jungut Batuan melawan I Dewa Babi, kekalahan itu mengakibatkan I Gede Mecaling terusir dari Batuan dan akhirnya tinggal di Jungut Batu Nusa Penida Kabupataen Klungkung. Kekalahan tersebut membuat beliau murka dan ingin membalas dendam kepada keturunan I Dewa Babi, masyarakat Batuan serta siapa saja yang berani datang ke Nusa Penida akan mendapatkan celaka. Untuk mengalihkan kemarahan Gede Mecaling beserta pengikutnya akhirnya terciptalah tarian Rejang Sutri tersebut. Namun pada masa sekarang ini beberapa orang masyarakat batuan sudah sering melakukan persembahyangan ke Pura Dalem Peed Nusa Penida tempat berstananya Ratu Gede Mecaling, tetapi tidak terjadi apa-apa, dan mudah-mudahan beliau melupakan kejadian masa lalu dan memberikan keselamatan kepada kehidupan kita. Bahkan suatu kepercayaan bahwa pada mulai sasih kelima ( sekitar bulan Nopember) sampai sasih kesanga ( bulan Maret) tahun berikutnya dikenal masa berjangkitnya bermacam-macam penyakit ( wabah) dan dirasakan sebagai saat-saat sangat genting, kepercayaan masyarakat Desa Batuan saat inilah I Gede Mecaling sedang berkelana di Bali untuk mencari labaan ( tumbal ) dan menyebar gering/ penyakit. Maka, khususnya di Batuan menggelar pertunjukan Rejang Sutri untuk meminimalisir pengaruh negatif saat bulan-bulan tersebut.
by admin | May 14, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Hendra Santosa, dan Wardizal
Ringkasan Penelitian Hibah Bersaing 2007
Nada dan tangga nada, merupakan salah satu unsur yang paling mendasar dari sebuah musik. Nada dan tangga nada musi dari berbagai suku bangsa di dunia memiliki identitas, karakter, dan keunikan tersendiri. Ilmu pengetahun yang berkembang dewasa ini membedakan tangga nada musik menjadi dua yaitu pentatonis (lima nada) dan diatonis (7 nada). Secara umum, masing-masing tangga nada yang ada terdiri dari tujuh nada dalam satu oktaf. Jika dilakukan pengamatan secara cermat dan teliti, terdapat fakta dan kemungkinan lain dalam sebuah bentuk tangga nada terdiri dari sembilan nada dalam satu oktaf.
Konsep sembilan nada dalam satu oktaf pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, Nawa Swara (sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu oktaf); sebagai suatu bentuk penelitian terapan dilakukan.
Tujuan Jangka panjang penelitian ini adalah membuat sebuah model gamelan dengan sistem sembilan nada dalam satu oktaf. Jika penelitian dapat diwujudkan, akan memberikan kosntribusi yang sangat signifikan dalam menunjang kreativitas seniman karawitan. Penelitian ini diperkirakan akan memakan waktu antara tiga tahun dengan masing-masing capaian setiap tahunnya berupa sebuah model instrumen gamelan.
Penelitian terapan ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapangan untuk mencari nada dasar. Metode observasi kepustakaan untuk menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan interval nada. Metode observasi laboratorium yang menggunakan sofware Nuendo H2O serta Plug in RMIV untuk mencari sampler nada dan interval. Hasil yang didapat, kemudian direalisasikan dalam bentuk instrumen yang terbuat dari kayu, dan selanjutnya diujicobakan dalam bentuk praktis berkarawitan.
Pada tahun pertama penelitian ini telah dihasilkan sebuah model virtual nada-nada yang terdapat pada sistem sembilan nada dengan cara menaikan setengah nada pada interval panjang yang terdapat dalam gamelan Jawa laras pelog 7 nada, yaitu nada 3+ dan 7+, sehingga nada-nada yang terdapat dalam sistem sembilan nada berdasarkan notasi kepatihan adalah 1, 2, 3, 3+, 4, 5, 6 7, dan 7+. Penelitian pada tahun pertama ini telah ditemukan pula bukti baru tentang sistem laras 10 nada yaitu dengan cara menaikan setengah nada pada interval nada yang terdapat dalam gamelan Jawa laras slendro yaitu 1+, 2+, 3+, 5+, dan 6+, sehingga sistem 10 nada dalam laras selendro berdasarkan notasi kepatihan adalah 1, 1+, 2, 2+, 3, 3+, 5, 5+, 6, 6+.
Jika penelitian ini mendapat perpanjangan untuk tahun kedua dan ketiga, maka pada tahun kedua, akan diwujudkan dengan pembuatan model/prototipe gamelan 9 nada (Nawa Swara) yang dilanjutkan dengan berbagai percobaan memainkan ensambel gamelan untuk mencari teknik dan juga eksplorasi yang lebih jauh lagi. Pada tahun ketiga gamelan ini akan didesiminasikan dan ditawarkan ke sanggar-sanggar yang ada di Denpasar dan juga pada masyarakat luas untuk pengenalan dan penyebaran gamelan dengan sistem sembilan nada.