M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Skema laras RC. Hardjosoebroto

Skema laras RC. Hardjosoebroto

Oleh: Hendra Santosa (Dosen PS Seni Karawitan)

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian Hibah bersaing yang berjudul Nawa Swara: Gamelan sistem 9 nada dalam satu gembyang.

RC.Hardjosoebroto telah membuat skema laras. Dalam paparannya tersebut terkandung bahwa: Laras salendro Padantara terjadi karena pergeseran kwint Musik dengan kempyung Pelog.  Dengan pembuktian seperti dibawah ini :

Sebelum membuktikan diatas, kita harus mencari rumus kempyung atau kwint dulu, dengan jalan mengadakan suara perbandingan antara interval kecil kita umpamakan X dan interval besar adalah Y dari pad interval-interval yang terdapat pada pelog sapta nada.

B   o     .    s     G     P    .    U    L      B

X      Y      X     X       Y      X      X

Rumus : Gembyang = 5 x + 2y = 1200 cent

Kempyung = 3x  + y

Dengan diketahui kempyungnya , kita akan dapat mencari x dan y  dari pad surupan. Misalnya diketahui besar kempyungnya hádala 680 cent , hitung  x dan y itu.

Rumus  : Gembyang  = 5x  +  2y  =  1200

Kempyung  = 3x  +  y   =     680  x  2

5x  +  2y  =  1200

6x  +  2y  =  1360 –

-x            =  -160

X            =   160

3x  +  y  =  680

3 (160)+  y  =  680

480 +  y  =  680

Y  =  680  –  480

Y  =  200

Maka interval-interval dari surupan yang berkempyung tersebut adalah

B       O    .     S       G        P   .    U       L        B

160      200    160     160    200    160    160

Skema laras RC. Hardjosoebroto selengkapnya

Gamelan Angklung Sidan, Gianyar: Kajian Musikalitas Dan Eksistensi

Gamelan Angklung Sidan, Gianyar: Kajian Musikalitas Dan Eksistensi

Oleh:

Nama                     : I Gusti Ngurah Nurada

Nim                       : 200602019

Program Studi       : Seni Karawitan

Penelitian ini adalah sebuah kajian seni karawitan yang bertujuan untuk mengetahui seluk beluk gamelan Angklung Sidan, Gianyar yang dilihat dari berbagai aspek-aspek yang sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sebagai acuan dalam penelitian ini akan difokuskan pada “Gamelan Angklung Sidan, Gianyar : Kajian Musikalitas dan Eksistensi. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah instrumentasi dan karakteristik tehnik permainan, tehnik tetekep dalam menabuh gamelan Angklung Sidan pada saat prosesi upacara Pitra Yadnya, dan eksistensi gamelan Angklung Sidan sampai sekarang.

Sebagai alat bedah untuk mengungkap permasalahan dalam penelitian ini, akan digunakan tiga buah teori, yaitu Teori Estetika yang digunakan untuk mengungkapkan identitas gamelan Angklung Sidan yang menyangkut keindahan, baik dari aspek ensamble, musikalitas, tata penyajian maupun simbol-simbol notasi. Teori Semiotika digunakan untuk mengkaji dan menganalisis ungkapan emosional dari pelaku seni yang diwujudkan dalam gamelan Angklung dengan mengungkap bahasa musik dan perkembangan makna. Teori Perubahan mengungkap eksistensi gamelan Angklung Sidan.

Data-data yang sudah dikumpulkan adalah hasil dari observasi, wawancara, studi dokumen, dan telaah kepustakaan. Data-data yang diperoleh di lapangan akan diolah dan dianalisis serta disusun sedemikian rupa sesuai dengan kaidah-kaidah dalam penulisan ilmiah.

Kata Kunci : Angklung, Instrumentasi, Tehnik Permainan, Tehnik Tetekep,Dan Eksistensi

Eksistensi Seni Pertunjukan Gambuh Di Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar

Eksistensi Seni Pertunjukan Gambuh Di Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar

Oleh:

Nama                     : I Wayan Sucipta

Nim                       : 200602002

Program Studi       : Seni Karawitan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Eksistensi Kesenian Gambuh di Desa Kedisan, 2) Bentuk Musikalitas serta lakon cerita Gambuh Kedisan, dan

3) Fungsi Kesenian Gambuh Kedisan.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, sejarah terbentuknya Kesenian Gambuh Kaga Wana Giri yang terdapat di Desa Kedisan, sejalan dengan terbentuknya Desa Kedisan. Datangnya I Gusti Kacang Dawa ke Desa Kedisan pada tahun Isaka Windhu Wisaya Warihing Prabu,(Windhu=0, Wisaya=5, Warih=4 dan Prabu=1) Isaka 1450 atau tahun 1528 Masehi. Kedatangan beliau di iringi dengan putra dari Ki Pasek Gelgel Aan yang bernama Ki Pasek Katrangan. Dimana dibekali Gelungan Panji (hiasan kepala), sebagai tanda kesaktian. Gelungan tersebut sampai sekarang ini masih di simpan dan disakralkan oleh warga Aan di Desa Kedisan. Karena I Gusti Kacang Dawa dan iringannya merasa aman berada di tempat itu akhirnya memutuskan untuk menetap. Sejarah Gambuh ini hanya di singgung dalam lontar Candarasangkala.

Gambuh Kedisan lebih banyak mengalami perubahan dari pada perkembangan. Anggota sekaa Gambuh Kedisan banyak ikut transmigrasi, yang mengakibatkan berkurangnya peran tari dalam pertunjukan. Sulitnya mencari generasi pengganti untuk penari dan penabuh Gambuh mengakibatkan mengalami kendala terhadap perkembangannya. Jumlah anggota yang tersisa dan aktif hanya 25 orang termasuk penari dan penabuh. Instrumentasi Gambuh Kedisan terdiri dari: 4 buah suling, sepasang kendang krumpungan, satu buah rebab, satu buah kajar, satu buah ceng-ceng ricik, satu buah klenang, satu buah Gumanak, satu buah gentorag, satu buah kenyur, dan satu buah gong. Tidak ada instrument kangsi dalam barungan ini. Tetekep yang di pergunakan memainkan suling terdiri dari Lebeng, Matah dan Lebeng Matah. Gending Gambuh hanyal tinggal 13 yaitu 2 gending petegak dan 10 iringan tari.

Fungsi Kesenian Gambuh Kedisan adalah untuk upacara yaitu: Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Untuk hiburan yaitu: secara tidak langsung sebagai bali-balihan, dan pariwisata.

Kata Kunci: Gambuh Kedisan, Eksistensi, Musikalitas dan Fungsi.

Tabuh Kreasi Pepanggulan Bentuk Komposisi “Baru“ Dalam Seni Karawitan Gong Kebyar

Tabuh Kreasi Pepanggulan Bentuk Komposisi “Baru“ Dalam Seni Karawitan Gong Kebyar

Oleh: I Gede Yudarta, Sskar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan

I. Pendahuluan

Berbagai upaya telah dilakukan oleh para seniman untuk menambah serta memperkaya khasanah seni karawitan Bali. Salah satunya adalah dengan memunculkan terminology “baru” bentuk komposisi karawitan yang saat ini popular dengan Tabuh Kreasi Pepanggulan. Dalam judul tulisan ini sengaja diberikan tanda kutip pada kata “baru”, yang mana dimaksudkan bahwa tabuh kreasi ini terkesan baru karena semenjak dimunculkan sebagai salah satu materi dalam FGK, banyak yang mengaku tidak mengerti akan maksud yang terkandung di dalamnya.

Materi ini mulai ditetapkan pada penyelenggaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XXIV tahun 2002 untuk menggantikan materi tabuh Lelambatan yang telah menjadi tradisi dari tahun–ketahun dalam kegiatan Festival Gong Kebyar (FGK) yang mana sebelumnya repertoar yang dipergunakan berupa tabuh Pisan, Tabuh Telu, tabuh Pat, Tabuh Nem maupun Tabuh Kutus. Tidak banyak yang mengetahui secara pasti mengapa materi ini dimunculkan kepermukaan. Apakah sudah bosan dengan pola Tabuh Lelambatan sebagai mana biasanya dipilih dari pola lelambatan klasik yang terkesan monoton atau menginginkan adanya suasana baru dalam mata sajian FGK pada saat itu.

Tabuh Kreasi Pepanggulan Bentuk Komposisi “Baru“ Dalam Seni Karawitan Gong Kebyar Selengkapnya

Kerajinan Pis Bolong di Kabupaten Klungkung

Kerajinan Pis Bolong di Kabupaten Klungkung

Oleh: I Made Berata (dosen PS Skriya Seni)

Menyimak  kata ”Pis Bolong” terasa aneh bagi kebanyakan orang, oleh karena ”pis bolong” adalah sebutan lain dari uang kepeng Cina dalam bahasa Bali. Pis berarti ”uang” dan ”Bolong” adalah lubang; maksudnya uang kepeng yang memiliki lobang segi empat. Uang kepeng ini merupakan pengaruh kebudayaan Cina, yang menjadi petanda hubungan Cina dengan Bali  pada zaman kekuasaan dinasti Ming dan dinasti Tang. Dalam kebudayaan Hindu uang kepeng Cina ini digunakan sebagai sarana upacara keagamaan, seperti arca yang merupakan pengejawantahan dewa Khayangan, wakul, pelengkap sesaji yang disebut sarin canang, dekorasi dan sebagainya.

Bermacam bentuk dekorasi dan arca sarana upacara keagamaan tersebut di atas, mengilhami inspirasi beberapa perajin di banjar Pande desa Kamasan mengembangkan seni kerajinan pis bolong. Seni kerajinan pis bolong atau uang kepeng adalah seni kerajinan yang menggunakan material uang kepeng sebagai bahan dasarnya.

Penggunaan Pis Bolong sebagai material seni kerajinan merupakan salah satu upaya konservasi dan pengembangan budaya Bali, serta mengantisipasi pis bolong asli (pis bolong dari Cina), yang keberadaannya semakin langka. Khususnya di  Bali,  pis bolong sangat diperlukan oleh masyarakat hindu untuk kepentingan upacara yadnya, karena hampir disetiap upakara mempergunakan pis bolong yang menurut keyakinan  masyarakat Hindu mengandung signifikansi simbolis.

Menurut tokoh  agamawan/sulinggih Ida Pedanda Sidemen menjelaskan, pada  masa  kedatangan   Majapahit  di Bali  beredar  pis  bolong asli dari Cina, yang

dipergunakan sebagai  alat  pembayaran  yang  sah (uang kartal)  dan digunakan untuk sarana upakara dalam pemujaan oleh umat Hindu. Ketika Belanda  mulai menguasai Bali yang ditandai dengan  jatuhnya kerajaan Buleleng  pis bolong tidak diberlakukannya lagi sebagai uang kartal, namun pis bolong ini tidak ditarik dari peredarannya, karena masyarakat hindu masih menggunakan sebagai sarana upakara (Sidemen, 2006: 51).

Perkembangan berikutnya, pis bolong ini digunakan untuk material seni kerajinan, bahkan setelah tahun 1970 an ketika meroketnya kunjungan wisatawan manca negara ke Bali, serta diperhatikannya sektor kerajinan oleh pemerintah (Michel Picard, 2006: 31), penggunaan pis bolong sebagai material seni kerajinan semakin meningkat pula. Dengan semakin banyak jumlah keteng pis yang diperlukan, sehingga keberadaan  pis bolong menjadi semakin berkurang, yang berakibat pada kesulitan  para perajin dalam mencari dan menyediakan material. Para seniman dan perajin dalam penggunaan pis bolong sebagai media karya seni, awalnya ada yang menggunakan pis bolong asli (Cina) dan ada pula perajin yang menggunakan pis bolong tiruan, sesuai dengan permintaan konsumen.

Kerajinan Pis Bolong di Kabupaten Klungkung Selengkapnya

Fungsi Wali Tari Rejang Sutri

Fungsi Wali Tari Rejang Sutri

Oleh: I Wayan Budiarsa Dosen PS Seni Tari

Salah satu sarana untuk mempertebal keyakinan dan menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa) adalah dengan cara berkesenian. Tari Rejang Sutri pada umumnya mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dalam rangkaian suatu upacara piodalan ( Dewa Yadnya). Karena agama Hindu dalam menghubungkan diri dengan Tuhan lebih banyak dengan menggunakan simbul-simbul, seperti halnya dengan sarana tulisan aksara suci, upakara/ banten, berkesenian ( tari ) dan lain sebagainya. Berbagai jenis tarian Bali menampakan adanya hubungan yang erat dengan aktivitas keagamaan dan juga berkembang menjadi tari-tarian yang dipentaskan di atas panggung.  Baik seni pertunjukan  sebagai sarana upacara atau ritual, sebagai hiburan  maupun sebatas penyajian estetis semata. Masyarakat Hindu di Bali dalam berkesenian akan dilengkapi pula pelaksanaan ritual dengan upacara sesajen ( banten) sesuai dengan adat daerahnya masing-masing, dimana upacara tersebut akan berpedoman pada filsafat konsep Tri Kona yaitu Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (kondisi/ keadaan). Seusai pertunjukan diharapkan mendatangkan kedamaian di dunia ini secara lahir bathin, makanya saat-saat tertentu dapat kita jumpai adanya pementasan tari Sanghyang, Rejang, Topeng, Barong, Baris Gede, Barong Ketingkling dan sebagainya.

Di Desa Pakraman Batuan tari Rejang Sutri mempunyai fungsi sebagai tari upacara ( ritual ), pada saat sasih kelima ( bulan Nopember ) sampai sasih kesanga ( bulan Maret ) tahun berikutnya yang di barengi dengan upacara Bhuta Yadnya. Kalau dilihat fungsi dari Rejang Sutri dapat dikategorikan sebagai tari sacral atau wali, tinjauan yang lain yaitu sebagai tari tolak bala dirunut dari saat dilaksanakan sampai prosesi upacara/ upakara yang gunakan. Rentetan upacara saat Rejang Sutri dilaksanakan adalah    pertama mengadakan upacara Dewa Yadnya yaitu melaksanakan upacara persembahyangan   di Pura Desa dan Puseh, Ratu Ngurah Agung, Ratu Saung, Ratu Pase Leb  ( matur piuning ) yang diantar oleh pemangku desa Batuan dengan sarana upakara pejati jangkep, canang sari, petabuh dan sebagainya. Sedangkan untuk masing-masing keluarga menghaturkan upakara pejati jangkep ke Pura Desa/ Puseh selanjutnya di upacarai oleh pemangku selanjutnya dibawa pulang untuk di tempatkan di pura keluarga ( sanggah,merajan) di sanggah kemulan. Setiap harinya menghaturkan upakara canang dan di lebar saat Rejang Sutri usai ( nyineb ). Kedua, mengadakan atau melaksanakan upacara mecaru ( bhuta yadnya) yang dilaksanakan di Pura Desa dan Puseh pada siang  hari sebelum nanti malamnya dilaksanakan Rejang Sutri, mecaru di tapal batas Desa Batuan yaitu di ujung banjar Dentiyis batas utara, di ujung banjar Jeleka batas barat, di ujung banjar Puaya simbul batas selatan, di ujung banjar Peninjoan sebagai simbul batas timur. Mecaru di masing-masing tapal batas desa Batuan  diantaranya menggunakan sarana boki diisi tapak dara, wastra poleng, kayu sakti ( carang dadap ) jeroan babi sebagai symbol pengamer-amer. Dilanjutkan mecaru di masing-masing banjar, kemudian di muka rumah masing-masing anggota masyarakat atau depan pintu masuk ( angkul-angkul) saat senja ( sandikala ), dan pada malam  harinya di laksanakan tari Rejang Sutri, yang sebelumnya diawali dengan menghaturkan sesajen berupa Pejati yang dihaturkan di Pura Desa dan di tempat pertunjukan. Pejati yang di haturkan di tempat pertunjukan yaitu di Sanggar Tawang wantilan Pura Desa di sudut timur laut ( Ersanya) yang dilakukan oleh Pemangku Desa. Sanggar Tawang tersebut merupakan tempat upakara sesaji/ banten, untuk setiap harinya sudah ada yang bertugas menghaturkan upacara, tempat berstananya Widyadara-widyadari, Bethara-Bethari, tempat pemujaan masyarakat Batuan saat Rejang Sutri dilaksanakan.

Fungsi Wali Tari Rejang Sutri selengkapnya

Loading...