by admin | Aug 27, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Ni Wayan Ardini, Dosen PS Seni Karawitan
Salah satu unsur penting dalam bernyanyi adalah pernafasan. Pernafasan perlu mendapat perhatian khusus, karena untuk memperoleh kemampuan pernafasan yang baik dalam bernyanyi memerlukan waktu yang relatif lebih lama. Pada waktu bernyanyi pernafasan harus di atur sedemikian rupa dengan cara mengambil udara sebanyak banyaknya dengan cepat, menahannya sejenak, kemudian mengeluarkannya dengan sangat hemat dan penuh kesadaran. Sebagaimana diketahui bahwa suara sebetulnya adalah nafas yang disuarakan. Oleh karena itu, penguasaan nafas merupakan syarat mutlak bagi seorang penyanyi.
Sesungguhnya tidak ada satupun yang misterius tentang cara-cara pernafasan dalam bernyanyi, karena tidak satupun cara yang libih baik daripada cara yang telah dikodratkan oleh Tuhan kepada manusia. Perhatikan proses pernafasan pada seorang bayi yang sedang tidur, tampak gerak naik turun pada bagian perut sebagai akibat dari kontraksi yang terjadi pada paru-paru.
Selain paru-paru, unsur lain yang sangat penting dalam penguasaan, baik dalam gerak-gerik waktu normal, maupun dalam keadaan menyanyi adalah: sekat rongga badan (diaphragma), yang letaknya di atas perut seperti piring terbalik. Sekat rongga badan merupakan alat penolak yang geraknya maju mundur dalam kontraksi pernafasan. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Hindarilah cara bernafas yang dengan sengaja mengangkat kedua bahu ke atas waktu mengambil nafas seperti seringkali dilakukan oleh orang yang sedang berolah raga.
b. Letakkan kedua tangan di atas perut. Hembuskan nafas dalam gaya mematikan menyalakan lilin. Akan terasa adanya tekanan kedalam pada tempat kita meletakkan tangan.
c. Ambillah beberapa nafas pendek dengan menirukan cara berbafas seekor anjing yang sedang lari, pasti akan terasa adanya gerakan-gerakan menonjol pada sekat rongga badan.
d. Ambilah beberapa nafas pendek dengan menggosokkan sekat rongga badan ke arah muka (depan), lalu hembuskan udara yang ditiup (dihisap) tadi dengan tekanan pendek dan cepat kearah belakang sambil membunyikan huruf S
e. Lakukan latihan dengan menggunakan huruf S ini berulang kali ssecara ritmis, sambil memperpanjang serta memperluas tarikan maupun pengeluaran nafas.
Cara Bernafas Dalam Bernyanyi, selengkapnya
by admin | Aug 26, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Gede Yudartha, Dosen PS Seni Karawitan
– Pakaad
Pakaad merupakan bagian terakhir dari struktur lagu lelambatan pagongan. Pakaad dalam bahasa Bali berasal dari kata dasar kaad yang hilang atau dalam konteks seni karawitan berarti bagian akhir.
Pada bagian terakhir dari struktur komposisi lelambatan pegongan biasanya ada dua bentuk yang biasa dipergunakan yaitu tabuh telu dan gilak. Kedua bentuk ini memiliki ciri-ciri dan karakter yang berbeda. Penggunaan salah satu diantaranya merupakan pilihan bagi para komposer sesuai dengan ide serta kreativitas yang diinginkan. Kebiasaan yang terjadi, apabila menginginkan bagian akhir yang lebih energik dan dinamis maka bentuk pekaad yang dipergunakan adalah gilak. Sedangkan apabila menginginkan suasana yang tenang bentuk pekaad-nya adalah tabuh telu. Perbedaan karakter tersebut karena adanya aksentuasi gong yang berbeda. Walaupun memiliki struktur yang sama, gilak memiliki ukuran yang lebih pendek yaitu 8 ketukan, sedangkan tabuh telu memiliki 16 ketukan dalam peniti penyacah. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Struktur Tabuh Lelambatan, Bagian III selengkapnya
by admin | Aug 25, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn
3 Konsep Ruang Swastika
Swastika berarti selamat atau sejahtera. Swastika merupakan simbol “gerak nan abadi”, yang berasal dari arah pergerakan “semu” matahari dari timur ke barat atau berputar dari kiri ke kanan (pradaksina). Sebagai simbol agama Hindu, Swastika memiliki makna perputaran dunia yang dijaga oleh manifestasi Kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa di delapan penjuru mata angin dan berpusat pada Siwa.
Jadi, Swastika merupakan simbol energi yang menggerakkan segala bentuk kehidupan di muka bumi. Konsep inilah yang menjadi dasar pertimbangan utama dalam meletakkan posisi bangunan pada rumah tinggal tradisional Bali Madya. Di utara (kaja) bangunan tempat tidur (Bale Daja/ Meten), di timur laut (kaja kangin) tempat suci (sanggah/ merajan), di timur (kangin) tempat balai upacara (Bale Dangin/ Bale Gede), di selatan (kelod) untuk dapur (paon) dan jineng (lumbung), dan di barat (kauh) tempat tidur anak muda atau tamu (Bale Dauh/ Loji).
Aplikasi konsep swastika pada rumah tinggal tradisional Bali Madya menggambarkan pusat swastika adalah di tengah-tengah halaman (natah) rumah. Penggambaran ini mengandung makna, bahwa pusat keselamatan berada di tengah-tengah rumah tinggal. Sedangkan unit-unit bangunan ditempatkan di sekeliling pusat perputaran, dari utara, timur, selatan dan barat. Dengan komposisi bangunan seperti ini, sirkulasi udara di semua area rumah tinggal menjadi baik.
Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya II selengkapnya
by admin | Aug 25, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Ni Wayan Ardini, Dosen PS Seni Karawitan
Di samping penguasaan teknik suara sebagai aspek utama dalam bernyanyi, ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu penguasaan unsur-unsur yang berkenaan dengan penyajian serta pembawaan sebuah lagu. Diantara teknik penyajian dan pembawaan yang harus dikuasai antara lain:
a. Teknik Frasering
Frasering adalah aturan pemenggalan kalimat bahasa atau kalimat musik menjadi bagian-bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan frasering aialah pemenggalan kalimat, baik kalimat bahasa maupun kalimat musik dapat lebih tepat sesuai dengan kelompok-kelompok kesatuan yang berarti. Untuk melakukan frasering dengan baik, perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut:
– Pelajari arti kalimat dan isi lagu secara utuh
– Temukan kalimat-kalimat musiknya secara lengkap
– Temukan frase-frase berdasarkan kalimat musik dengan tidak menghilangkan keutuhan arti kalimat lagu.
b. Teknik Penguasaan Isi Lagu
Penguasaan isi lagu berarti pembawaan dengan baik suatu lagu sesuai dengan jiwa dan makna lagu tersebut, misalnya lagu yang bersifat sedih, gembira, sehingga mampu menciptakan emosional dan daya imajinasi yang tepat.
c. Penguasaan tempat penyajian lagu
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penguasaan tempat penyajian lagu adalah, Posisi tubuh waktu berdiri:
Teknik PenyajianPembawaan Lagu selengkapnya
by admin | Aug 24, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
Kehidupan masyarakat di wilayah daerah Banyumas pada prinsipnya mengikuti sistem kekerabatan masyarakat Jawa. Dalam kehidupan keluarga, istilah kekerabatan ditunjukan dengan sistem klasifikasi berdasarkan angkatan-angkatan (Koentjaraningrat, 1984:330). Misalnya, kepada semua sodara kakak laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu, dipanggilnya sama yaitu dengan istilah uwa. Uwa lanang untuk panggilan kepada sodara tua atau kakak laki-laki dari ayah dan ibu, sedangkan istilah uwa wadon untuk sodara perempuan yang lebih tua dari ayah dan ibu. Bedanya untuk sodara yang lebih muda atau adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan menjadi dua yang tergatung menurut jenis kelamin, jika laki-laki dipaggil dengan istilah paman atau pak lik dan jika sodara perempuan dipanggil dengan istilah bibi. Bagi sebagian besar masyarakat Banyumas secara akrab cukup dengan memanggil “uwane” atau “bibine”.
Untuk memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, hubungan antar warga untuk menunjang semangat gotong-royong juga merupakan prinsip dalam pola kekerabatan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas. Wujud dari semangat gotong royong merupakan konsep kerja sama yang dijunjung tinggi, hal ini sangat agrab dengan kehidupan masyarakat petani-agraris. Wujud dari semangat gotong-royong merupakan pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi atau menambah kekurangan tenaga pada saat sibuk (Koentjaraningrat, 2002:56-7). Contoh kongkrit dalam masyarakat pedesaan di Banyumas adalah kesambat pada saat membuat batur rumah (dari tanah), atau mendirikan rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu. Kesambat merupakan bantuan tenaga dari sanak saodara atau dari tetangga-tetangga dekat untuk meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu keperluan tertentu.
Tempat tinggal warga yang ada didusun-dusun kebanyakan masih sangat sederhana, ada yang rumahnya masih menggunakan atap alang-alang atau daon (tetapi sekarang ini kebanyakan seng dan genteng), lantainya masih dari tanah, dan dindingnya gedek bambu atau dari papan kayu “belabak”. Bagi warga yang dianggap kaya biasanya rumahnya besar dan masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah “rumah bandung” (mirip dengan rumah joglo) sepeti rumah-rumah milik kepala desa atau lurah. Selain itu, kebanyakan rumah-rumah di dusun-dusun tidak diberi pembatas pagar, hanya saja batas pekarangan milik antar warga biasanya menggunakan “telajak” pagar dari tanaman.
Pola kekerabatan juga terjadi karena perkawinan, maka perkawinan merupakan seuatu yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya. Bagi masyarakat Banyumas, perkawinan tidak hanya dimaknai dengan menyatukan dua individu laki-laki dan perempuan menjadi satu yang disebut keluarga, akan tetepi lebih dari itu bahwa perkawinan bisa dimaknai sebagai penyatuan atau ikatan silaturahmi antar keluarga.
Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas Selengkapnya
by admin | Aug 24, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian tentang desain interior rumah tingal era Bali Madya di lapangan, maka sebagian besar konsep ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya berdasarkan pola-pola ruang sanga mandala, swastika, serta mengadaptasi konsep pempatan agung atau catuspatha. Aplikasi filosofi Trihitakarana pada konsep ruang rumah tinggal tradisional Bali Madya, sangat jelas memperlihatkan pembagian area: Parahyangan untuk tempat suci (sanggah/ merajan); Pawongan untuk bangunan dan bale-bale; dan Palemahan untuk kebun/ teba. Bebagai aktivitas keluarga dilakukan di dalam satu area atau ruang yang dibatasi tembok pembatas atau penyengker. Berbagai jenis bale-bale berada di dalam tembok pembatas/ penyengker, seperti bangunan Bale Dauh, Paon (dapur) dan Jineng (lumbung). Area khusus untuk tempat suci (sanggah/ merajan) keluarga, terletak di area timur laut.
1. Orientasi Ruang
Orientasi ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya nampak mengacu pada konsep Andabhuwana (bumi), berarti konsep ruang yang berorientasi pada potensi alam setempat (local oriented). Orientasi ruang ini mengacu pada arah: Gunung-laut (arah: kaja – kelod); Terbit-terbenamnya matahari (arah: kangin – kauh). Berdasarkan konsep ini kemudian ditetapkan area/ zona yang paling suci sampai area/ zona yang paling provan, sehingga unit-unit bangunan ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Ruang paling suci adalah di timur laut (kaja kangin) untuk tempat suci, area utara (kaja) untuk tempat tidur (Bale Daja/ Bale Meten), area timur (kangin) untuk balai upacara (Bale Dangin/ Bale Gede), area barat untuk bangunan anak remaja/ tamu (Bale Dauh/ Loji), sedangkan area selatan untuk lumbung dan dapur. Selanjutnya orientasi ruang pada desain interiornya juga menyesuaikan, sehingga hulu ruang balai upacara mengarah ke timur (kangin) dan hulu ruang tidur mengarah ke utara (kaja).
Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I Selengkapnya