M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Desa Tenganan Pegringsingan II

Desa Tenganan Pegringsingan II

Oleh: I Ketut Darsana, Dosen PS Seni Tari

Jika dilihat dari bentuk geografisnya, desa Tenganan Pegringsingan berbentuk persegi panjang yaitu memanjang dari selatan ke utara. Di desa ini terdapat empat pintu keluar masuk desa. Pintu yang terletak di bagian selatan merupakan pintu utama untuk keluar masuk desa terutama bagi orang dari luar desa.

Bagian selatan desa sekaligus juga dianggap sebagai bagian depan karena begitu keluar dari pintu desa kita akan langsung berada pada jalan yang menuju ke jalan raya.

Pintu kedua terletak di bagian timur. Melalui pintu ini penduduk bisa masuk ke hutan di bukit timur dan juga pintu ini merupakan pintu untuk ke kuburan.

Pintu ketiga berada pada bagian utara yang terletak bersebelahan dengan tempat pemandian umum. Melalui pintu utara biasanya pen-duduk pergi ke pegunungan yang merupakan sumber air bagi desa Te-nganan Pegringsingan. Lewat pintu ini juga warga desa menuju ke sawah yang mereka tanami padi sepanjang tahun.

Pintu keempat terletak di bagian sisi barat dengan jika keluar melalui pintu ini akan langsung menemukan sungai yang airnya sangat jernih dan di pinggir–pinggir sungai banyak terdapat mata air yang air-nya bisa diminum oleh masyarakat setempat. Dengan menyeberangi sungai ini warga desa menuju kebun dan ladang mereka yang ada di bukit kauh (barat).

Perlu diketahui bahwa keempat pintu yang terdapat di desa Tenganan Pegringsingan juga bisa mempunyai fungsi untuk membatasi mobilitas penduduk dan juga berfungsi sebagai sarana keamanan baik bagi desa maupun bagi ladang, kebun, dan hutan.Pintu ini ditutup dan dikunci pada malam hari sekitar pukul 10.00 Wita dan dibuka kembali pagi hari sekitar pukul 04.00 Wita.

Dilihat dari aspek pola pemukiman di desa adat Tenganan Pegring-singan cenderung mengikuti struktur geografis yang secara keseluruhan membentuk desa adat Tenganan. Pola pemukiman ini meliputi pola tem-pat tinggal yang berupa kaveling – kaveling tanah pekarangan yang kese-luruhannya ada 220 buah kaveling.

Desa Tenganan Pegringsingan II selengkapnya

Desa Tenganan Pegringsingan I

Desa Tenganan Pegringsingan I

Oleh: I Ketut Darsana, Dosen PS Seni Tari

Di Bali banyak ditemukan desa–desa unik, terutama sekali desa – desa yang jauh berada di pegunungan dan penduduknya berasal dari jaman Bali kuna, seperti Halnya desa Tenganan Pegeringsingan daerah Kabupaten Karangasem. Banyak keunikan–keunikan yang dimiliki oleh desa ini seperti halnya tempo dulu dikenal kawin masal, tradisi upacara, penguburan mayat, bentuk rumah, gotong–royong dan sebagainya.

Berdasarkan cerita rakyat dari desa Bedulu, Gianyar, bahwa Desa Tenganan Pegringsingan erat kaitannya dengan Desa Bedulu. Dikatakan sebagian besar penduduk yang ada di Tenganan Pegringsingan sekarang berasal dari Bedulu. Mereka mengungsi ke Tenganan yang sekarang ka-rena tahun 1343 masehi diserang oleh kerajaan Majapahit. Memang hu-bungan tersebut masih nampak sampai sekarang, bila ada piodalan di Bedulu, banyak warga Tenganan Pagringsingan yang melakukan persem-bahyangan ke sana, demikian juga sebaliknya.

Desa Tenganan Pegringsingan terletak pada ketinggian 70 meter dari atas permukaan air laut. Suhu rata – ratanya 28 Derajat Celsius pada musim kemarau. Desa ini termasuk Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dengan jarak lebih kurang 17 km dari kota Amlapura, dan 16 km dari kota Denpasar. Letak desa yang agak masuk ke dalam dari jalan raya memberi kesan desa yang terpencil dari keramaian lalu lintas. Na-mun demikian untuk masuk ke desa Tenganan Pagringsingan dapat dica-pai dengan segala jenis kendaraan bermotor, walaupun hanya sampai pada pinggiran desa.

Desa Tenganan Pegringsingan I Selengkapnya

Perkembangan World Musik III

Perkembangan World Musik III

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Harry Roesli dengan DKSB sampai saat ini masih tetap intens menggarap world music. Gerombolan musisi etnik Bandung juga terbilang tetap gigih berjuang sekian lama, dalam melakukan serangkaian proyek-proyek kontemporer diatonis-pentatonis. Salah satunya adalah nama Zithermania, juga Bandung Percussion Society. Ozenk percusions sebuah komunitas musik yang lahir dari latar belakang tradisional.

Perlu diketahui bahwa Discus bisa terbang ke North Carolina, AS ikut festival musik progresif, PROGDAY 2000 dan Zithermania ke Vancouver, Kanada, ikut festival musik kontemporer di sana, memang karena memiliki nafas world music. Di mana musik mereka sangat berbau musik tradisi kita. Atau jangan lupakan nama Deva Soenyoto, anak dari seniman musik kawakan, Gatot Soenyoto. Deva kini mengembara dengan ‘leluasa’, pentas ke pentas sambil studi terus di Australia. Ia cenderung menjadi perkusionis dan drummer aliran world music. Ada kabar, ia juga dijadwalkan tampil bersama grupnya menghibur atlet-atlet dunia peserta Olympiade 2000 di Sydney!

Debussy menikmati secara on the spot, Gamelan Jawa dan Bali tersebut dan sampai berani menyimpulkan, musik perkusi gamelan kita itu seakan membuat musik perkusi Perancis saat itu begitu primitif. Kita telah lewat 100 tahun dari masa Debussy, kita telah melihat bagaimana sebetulnya kekuatan tersembunyi dari musik-musik etnik kita yang sudah diakui dunia. Akhirnya, kita tinggal menunggu langkah-langkah lanjutan lagi yang sudah jauh ke depan. Ada peluang untuk sebuah trend baru, yang kelihatannya bagus betul karena mengandung bobot nasionalisme! Kesempatan terbuka, jangan sampai tercuri lagi, macam Eberhard yang mendahului Guruh atau Ray Manzarek membuat musik Bali lewat synthesizer, mengecoh Abadi Soesman yang menggarap hal yang sama untuk Anak Adam dari God Bless.

Perkembangan World Musik III selengkapnya

Perkembangan World Musik II

Perkembangan World Musik II

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Erwin Gutawa juga melakukannya dalam sejumlah kegiatan, antara lain bersama Aminoto Kosin  yang ini project officernya 2 Warna di RCTI. Erwin berkarya lewat album Chrisye, termasuk album Badai Pasti Berlalu. Erwin memakai alat musik tradisi, antara lain saluang dari Padang yang juga dimainkan oleh pemain Padang asli, didukung gendang Bali-nya Kompiang Raka di pergelaran Chrisye di JHCC awal tahun ini. Penggalian musik etnik Indonesia menurut Erwin merupakan hal penting, karena rasanya agak mustahil kita memainkan musik diatonis sebaik musisi penemunya, dalam hal ini orang Barat. Itu pula sebabnya, sewaktu Karimata mau berangkat ke North Sea Jazz Festival tahun 1987, Karimata perlu mempersiapkan diri melatih lagu fusion komposisi sendiri yang merupakan eksplorasi musik Barat dan etnik Indonesia, tapi memakai instrumen konvensional macam keyboards, bas, gitar, drum dan saxophone. Erwin beranpendapat bahwa eksplorasinya dalam album Jezz Karimata. Artinya Karimata Etnik,  sebuah band wakil ke North Sea Jazz tahun 1987. Karimata akhirnya merekam reportoar eksperimennya itu pada tahun 1988-1989, dengan bintang tamu musisi jazz dari GRP (Amerika), antara lain Lee Ritenour, Bob James, Dave Grusin, Phil Perry dan sejumlah nama tenar lainnya. Eksperimen Karimata pada saat itu terasa masih mentah, karena merupakan bagian dari persiapan ke North Sea saja. Tapi hal tersebut malah membuat kejutan, karena direspons positif oleh musisi dan gitaris Amerika sekaliber Lee. Dia memaminkan komposisinya berbasis musik Dayak. Arranger ini lantas berpendapat, idealnya melakukan eksplorasi memadukan musik Barat – Timur tak hanya lewat alat musik daerah aslinya, tapi juga bisa dimainkan lewat alat musik Barat, tapi ‘soulnya’ tetap dapat. Hal ini bisa didengar lewat album Yani, atau Kitaro. Mudah-mudahan hal yang sama juga terdengar waktu orang menikmati album Jezz Karimata untuk lagu Sing Ken-ken, Take Off to Padang atau yang bernuansa Sunda, Pady Field.

Perkembangan World Musik II selengkapnya

Wayang Kamasan I

Wayang Kamasan I

Oleh Drs. I Nyoman Nirma, Dosen PS Seni Rupa Murni

Desa Kamasan

Desa kamasan diperkirakan sudah  ada sejak pemerintahan raja-raja Bali Kuno.  Hal ini dibuktikan dengan hadirnya nama ‘kamasan’ dalam prasasti Anak Wungsu yang bertahun Saka 994 (1072 M) berarti benih yang bagus.  Kamasan merupakan desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali yang berjarak 42 kilometer ke timur kota Denpasar. Desa ini dikategorikan sebagai desa kecil karena wilayah dukungannya yang hanya seluas 249 hektar dengan jumlah penduduknya hanya sekitar 3.400 jiwa yang tersebar dalam 10 banjar adat atau 4 dusun desa dinas.  Desa Kamasan terhampar memanjang dari utara ke selatan dengan batasan-batasan sebagai berikut: di sebelah utara Desa Giliran; di sebelah selatan Desa Gelgel; disebelah Timur Desa Tangkas; disebelah barat Desa Jelantik.

Diwilayah Desa Kamasan  terdapat sungai Hee  sebagai anak sungai Unja yang mengalir sepanjang hari diperbatasan desa Kamasan. Kehadiran sungai ini menyebabkan sebagian matapencaharian masyarakanya adalah bertani.  Masyarakat desa Kamasan juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian sampingan.  Ini terjadi karena luas tanah pertanian  yang ada di desa ini tidak begitu banyak dan mereka kebanyakan bukanlah pula para petani pemilik sawah.   Pekerjaan-pekerjaan sampingan  yang dilakukannya antara lain: pedagang, buruh, pertukangan (pande besi, mas, perak, tembaga, tukang kayu dan pelukis wayang) dan lain-lain.  Dalam perkembangan selanjutnya, pekerjaan yang semula merupakan pekerjaan sampingan berubah menjadi pekerjaan pokok karena  hasil yang diperoleh cukup baik.  Bahkan tidak jarang pekerjaan petani ditinggalkannya beralih ke pekerjaan melukis wayang dan pande perak.    Dalam data statistik penduduk dikantor Kepala Desa Kamasan menunjukan bahwa warga yang paling banyak melakukan pekerjaan  melukis wayang  adalah dari Desa Sangging.  Para pelukis terdiri dari pria dan wanita, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga orang tua.  (Bagus DKK, 1981:10)

Di Tahun 2003 Monografi Desa Kamasan  mencatat tiga dusun di wilayah yang dimaksud kini tumbuh tiga jenis industri rumah tangga utama. Selain menggeluti  lukisan wayang, juga ada kerajinan perak dan emas, industri kerajinan kuningan dan selongsong peluru.

Desa Kamasan merupakan induk seni lukis wayang purwa di Bali.  Sejarah mencatat, desa Kamasan turut mewarnai perjalanan perkembangan seni lukis Bali. Desa ini bahkan dikenal sebagai “gudang”-nya karya seni lukis wayang klasik, hasil torehan para seniman yang terdiri dari warga kampung itu sendiri.

Wayang Kamasan I selengkapnya

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali IV

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali IV

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

4. Zaman Raja-raja Bali Kuno

Ditemukannya prasasti yang tertua di Bali yang berangka tahun 804 Saka, mulailah ada keterangan tentang Bali dari dalam (Bali). Prasasti tersebut disebut dengan Prasasti Sukawana yang berisi tentang perkenan raja bagi para biksu yaitu bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala dan Siwaprajna, untuk mendirikan asrama dan penginapan di daerah perburuan di bukit Kintamani. Prasasti tersebut memberikan keterangan tentang alat-alat musik yang termuat dalam lembar 2.a baris kedua yaitu parsangkha (orang-orang yang meniup Sangka), parpadaha (orang-orang yang menabuh kendang), balian (penonton), pamukul (penabuh gamelan). Prasasti ini tidak menyebutkan nama raja tetapi menyebutkan sebuah kota (keraton) yaitu Singamandawa dan beberapa senapati pejabat tinggi pemerintahan seperti Senapati Sarbwa, Senapati Digangga, Senapati Danda, dan beberapa pejabat rendahan. Prasasti lainnya yaitu prasasti Bebetin A I sama dengan prasasti Sukawana yang tidak menyebutkan nama raja melainkan keraton yang disebut dengan panglapuan di Singamandawa, menyebutkan tentang instrumen musik pada lembar 2 b, no 5 tertulis pamukul (penabuh gamelan), pagending (pesinden), pabunying (penabuh angklung),  papadaha (penabuh Kendang), parbhangsi (peniup Suling besar), partapukan (perkumpulan openg), parbwayang (dalang).

Menurut kronologi sejarah Bali, yang paling awal dan paling tua menyebut nama raja adalah Sri Kesari Warmadewa (835-837) dengan mengeluarkan 3 buah prasasti. Prasasti yang paling penting dan akan dibahas dalam sub bab kemudian adalah prasasti Blanjong yang didalamnya terdapat kata bheri yang diartikan sebagai alat bunyi-bunyian perang (gendang perang). Kemudian berselang dengan munculnya nama Sang Ratu Ugrasena (837-864 S). Dalam Purana Balidwipa, Sri Ugrasena bergelar Sri Ugrasena Warmadewa (864 S). Ugrasena mengeluarkan 8 prasasti dan empat buahnya mengungkap tentang pajak (tikasan) pemain gamelan, pajak peniup sangka sebesar dua piling.

Pada masa pemerintahan Sri Gunapriya Dharmmapatni yang merupakan putri dari Mpu Sendok dan Maharaja Sri Dharmmodhayana Warmadewa (911-923 S), mengeluarkan 10 buah prasasti. Empat buah prasastinya memuat tentang pengaturan kesenian dan membedakan pertunjukan puri dan pertunjukan ambaran, juga disebutkan tentang tikasan parsangkha atau pajak bagi peniup sangkha, yang termuat dalam prasati Buwahan A yang bertahun 916 S.  Pada masa pemerintahannya telah terjalin suatu hubungan politik dan keluarga antara Bali dan Jawa Timur.

Alur Perkembangan Kebudayaan Bali IV Selengkapnya

Loading...